[FICLET] Pregnant

unnamed.gif

Pregnant
by PinkCherry

Park Jiyeon & Choi Minho

Comedy | G | Ficlet

Happy Reading

.

“Jiyeon-ah, ayolah!”

“Aish, oppa! Kau ini benar-benar memalukan!”

Please, kumohon! Katakan padanya,”

“Ck, arraseo!”

<><><>

Jiyeon membanting tubuhnya di sofa tetangga sekaligus sahabatnya, Choi Minho. Wanita cantik itu menutup matanya dan mengusap wajahnya frustasi, membuat sang tuan rumah mengerutkan keningnya bingung.

“Jiyeon-ah, ada apa? Kau seperti baru saja di perkosa oleh preman pinggir jalan,” celetuk Minho asal. Ia ikut mendudukan tubuhnya di sofa sebelah Jiyeon.

Jiyeon membuka matanya dan menatap Minho. Wajahnya terlihat lesu dan pucat, membuat Minho cukup cemas dengan keadaannya.

Jiyeon menarik nafasnya, hendak bercerita.

“Minho-ya, aku hamil,” cerita Jiyeon cepat, pandangannya sayu.

Minho mengangguk, ia sudah tahu tentang keberadaan janin di perut Jiyeon yang masih datar, buah dari pernikahannya dengan sahabatnya yang lain, Kim Myungsoo. Tapi, kenapa Jiyeon memberi tahunya kembali?

“Tapi,”

“Ya?”

“Kupikir bukan hanya aku yang hamil,”

“Eeeh?”

“… Myungsoo juga sepertinya hamil sepertiku,”

Ukh, Minho lantas meledakkan tawanya mendengarnya. Myungsoo hamil? Astaga! Lelucon dari mana itu?

“Hahahaha, pria itu hamil? Apa dia baru saja di perkosa oleh wanita-wanita di club malam? Kkk~, kurasa suamimu itu sudah gila Park Jiyeon!” ungkap Minho memegangi perutnya yang melilit sakit karena terlalu banyak tertawa.

Jiyeon menghela nafasnya melihat reaksi menyebalkan Minho. Ia menggertakan high heels nya ke ubin lantai rumah Minho dengan wajah tertekuk. Sungguh, ia tidak bercanda. Tapi kenapa orang idiot di depannya ini justru tertawa?

“Yak, Choi Minho! Aku tidak bercanda idiot, aku serius! Tapi kau benar jika pria itu memang sudah gila, aku bahkan bingung dimana dia meninggalkan harga diri yang dia agungkan itu,” kesal Jiyeon. Matanya melotot ke arah Minho yang masih terpingkal di lantai.

“Baiklah, baiklah, aku berhenti,” akhirnya Minho menghentikan tawanya dan kembali duduk di sofa, meskipun batinnya masih tertawa keras meledek pria bermarga Kim itu.

Jiyeon mendengus. Ia melipat kedua tangannya di dada dengan perasaan kesal.

“Jadi apa yang membuatmu berprasangka seperti itu pada Myungsoo?” tanya Minho berusaha serius. Sungguh, ia benar-benar penasaran bagaimana bisa Jiyeon menafsir bahwa Kim Myungsoo yang menjunjung tinggi harga diri serta nama baik namanya itu tiba-tiba membuat namanya tercemar oleh kata ‘hamil’ yang di lontarkan Jiyeon.

Jiyeon kembali memasang wajah lesu. Wanita cantik itu menundukkan kepalanya, menatap kedua kakinya yang di goyangkan ke depan dan ke belakang, membuat suasana semakin dramatis, bahkan Minho ingin menangis saat itu juga melihat pose frustasi Jiyeon.

“Dia mengidam,” jawab Jiyeon menghela nafasnya. “… menurutmu bagaimana Minho-ya,”

Jiyeon mendongak, membuatnya melihat tampang Minho yang sedang menahan tawanya setengah mati dengan ekspresi super konyol. Menggigit bibirnya hingga memperlihatkan kedua gigi depannya, wajahnya sudah memerah tomat saking berusaha menahan tawanya, membuat karisma yang melekat pada dirinya hilang begitu saja.

“Huahahahahahaha!”

Lagi, Minho kembali terpingkal di lantai, mengabaikan Jiyeon yang mendengus kesal melihatnya. Tolong, berikan ia waktu beberapa menit saja untuk tertawa, ia tidak bisa menahannya lagi, sungguh!

“Aduh, perutku,” ringis Minho memegangi perutnya yang sakit, namun ia tetap tertawa keras, bahkan hingga membuat ikan di akuarium besar di ruang tamu kaget.

“Tertawalah! Tertawalah sepuasmu Choi Minho!” kesal Jiyeon mendengus. Bibirnya mengerucut melihat reaksi Minho yang lagi-lagi mengabaikannya. Ia melipat kedua tangannya di dada dan menggerutu kesal.

“Ah, unnie, kau disini?”

Tiba-tiba sebuah suara membuat Jiyeon menolehkan kepalanya. Ia melambaikan tangannya kepada pemilik suara yang sedang berdiri di ambang pintu masuk yang sedang menatap Minho bingung.

Annyeong, Suzy-ya. Selamat datang,” sambut Jiyeon tersenyum paksa, berusaha memberikan kesan ramah kepada adik Minho yang masih duduk di bangku senior high school itu.

Suzy mengangguk, ia menatap Minho dengan mengerutkan keningnya.

Oppa kau kenapa?” tanyanya polos.

Minho sama sekali tidak menyahut, ia asik tertawa hingga tidak mempedulikan adiknya yang sedang bertanya, membuat Jiyeon kesal.

Oppa-mu sedang sakit Suzy-ah. Kupikir ia baru saja tertabrak meteor dari langit sehingga menjadi sedikit gila. Kau masuklah ke kamar, aku akan mengurusnya,” ucap Jiyeon.

Suzy mengangguk ragu. Tetapi akhirnya ia melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamarnya, mengabaikan kakaknya dan juga sahabatnya yang menurutnya tidak beda, sama-sama freak, dan dari pada nantinya tertular, bukankah lebih baik jika menghindar terlebih dahulu?

Setelah bayangan Suzy menghilang di anak tangga, pandangan Jiyeon beralih menatap Minho dengan tatapan super kesal. Matanya berkilat menunjukan petir yang siap menyambar Minho kapanpun ia mau.

“Choi Minho berhenti tertawa!!! Ini benar-benar tidak lucu!” pekik Jiyeon kesal, dengan kejam ia menendang kaki Minho yang sedang bergerak-gerak di lantai bak cacing kepanasan.

“Hahahaha, baiklah, baiklah, aku mengerti. Tetapi itu sungguh lucu, apa dia baru saja terjungkal ke sumur?” ucap Minho merangkak ke sofa. Ia akhirnya duduk dengan sempurna meskipun sesekali bibirnya mwlontarkan tawa.

“Lalu apa yang harus ku lakukan?” tanya Minho.

“Membantuku, tentu saja,” sahut Jiyeon cepat.

“Membantu apa?” tanya Minho mengerutkan keningnya.

Jiyeon diam sejenak, ia memainkan kuku-kukunya dan menatap Minho memelas, penuh harap.

“Uhm, sebenarnya permintaannya berhubungan denganmu,” ucap Jiyeon ragu.

Minho menaikkan alisnya, bulu kuduknya tiba-tiba berdiri. Firasat buruk.

“Apa itu?”

Jiyeon mendesah mendengar pertanyaan Minho.

“Kau mau mengabulkannya atau tidak?”

“Apa dulu permin—”

“Iya atau tidak?” potong Jiyeon cepat.

Minho diam, rasa penasaran menggebu-gebu di hatinya namun ia ‘agak’ takut menjawab ‘iya’. Tetapi ia tetap menganggukan kepalanya.

“Ya,”

Jiyeon lantas tersenyum senang, matanya berbinar.

“Benarkah?” tanyanya memastikan. Raut wajahnya seperti orang yang baru saja mendapatkan hadiah mobil dari sebuah iklan di televisi.

Minho mengangguk ragu.

“Memang apa permintaannya?”

“Dia meminta untuk

.

.

.

… menciummu,”

END

PARK CHERRY!!! KAMU SAKIT APA SIH?!! KENAPA KAMU SELALU MENISTAKAN URI BABY LOVELY MYUNG??!! KENAPA KAMU SELALU MEMBERIKAN MYUNGSOO PERAN ANEH DALAM FANFICTION-MU?!!

Hahahaha, entah kenapa lagi suka membuat Myungie ternistakan /di gaplok Myungsoo/ *peluk Minho* #abaikan. Tempo hari di ‘Closer’ Cherry bikin Myungsoo langsung serobot Jiyeon, di Wedding Day kemarin Cherry bikin Myungsoo jahat kejam dan nyebelin, dan sekarang Cherry bikin Myungsoo jadi idiot dan ngawur meskipun peran utama Minho.

No sequel, yahh ^~^ Maaf maaf maaf, tapi Chery akan fokus buat menyelesaikan Wedding Day juga 2 mulchap yang bakal di rilis dalam waktu dekat ini, di selingi beberapa ficlet atau drabble.

Salam,
Cherry

24 responses to “[FICLET] Pregnant

  1. gubrak,kirain minji tapi ujungnya myung kwkwjw..
    kenapa aneh myung ngidam cium di pipi kan pokoknya cium jadi di pipi aja..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s