[CHAPTER – PART 12] Skinny Love

litlethief-order-skinny-love

Skinny Love by Little Thief

Cast: Park Jiyeon, Kim Myungsoo

Other cast: Park Sooyoung (Joy), Choi Minho and Lee Jieun (IU), etc

Genre: romance, little bit angst

Rating: PG-13

Length: Chaptered

Lagu yang direkomendasikan saat baca chapter ini: Ed Sheeran – All of the Stars😀 Enjoy reading, guys!

Malamnya, Jiyeon menghitung kira-kira uang yang dia butuhkan untuk dua bulan ke depan demi membayar pertukaran pelajar adiknya. Walaupun gaji per minggu ini dibilang lebih dari cukup, tentu saja ada hal tambahan.

Berdasarkan surat yang baru saja dia baca dari adiknya, bebannya memang agak berkurang. Jiyeon tak perlu membayar transportasi pulang dan pergi, yang baginya itu sangat membantu. Namun, dia gigit jari waktu melihat uang saku rata-rata yang wajar bila Sooyoung akan pergi ke sana.

Jelas saja jumlahnya tidak sedikit. Sooyoung akan berada di sana dalam waktu yang cukup lama, yaitu selama musim panas tahun ini sampai musim panas tahun depan. Belum lagi taraf hidup di sana tinggi. Ketika menghitung-hitung, dia mendecak begitu mengetahui dia masih kurang sekitar beberapa dollar lagi.

“Aku harus jual sesuatu lagi?” tanyanya pasrah. Pikiran untuk meminta gaji lebih kembali terlintas. Oh, tidak, tidak. Myungsoo benar-benar terlampau baik untuk hal ini. Dia jelas tak bisa seenaknya minta tambahan lagi.

Oke. Dia harus berusaha sendiri.

Perlahan Jiyeon mengedarkan pandangan ke seluruh isi kamar. Mencari sesuatu yang mungkin bisa digadaikan. Puh, lama-lama kamarnya ini bisa jadi lengang.

***

Ketika Park Sooyoung pulang dari sekolah, melepas sepatu dan berjalan menuju rumah, dia mengembuskan napas kelelahan. Gadis muda itu melirik jam dinding di ruangan yang berdetak memecah kesunyian. Jam sebelas malam. Perjuangan belajarnya memang begitu luar biasa. Luar biasa keras dan melelahkan.

Dia baru saja pulang dari perpustakaan umum mulai dari bubar sekolah pukul tujuh, makan sebentar dengan teman-temannya hingga pukul delapan, dan sisanya menghabiskan diri di perpustakaan. Mencatat segala pelajaran dan informasi yang dia butuhkan, juga kadang mensurvei. Dia sudah menyandang sebagai jabatan anak yang sangat terpilih, jadi dia harus memperjuangkannya di pundak.

Pikiran Sooyoung terbersit untuk melihat keadaan kakaknya yang mungkin jauh lebih lelah daripada dirinya. Dia kasihan melihat kakaknya seperti itu. Berangkat jam setengah enam pagi, lalu baru pulang pukul sepuluh. Kantung mata yang dulu ada kini semakin terlihat menyeramkan, seolah mengambil alih separuh dari mata Jiyeon.

Maka dengan inisiatif dia membuka pintu kamar dengan perlahan. Berusaha mungkin tidak menimbulkan derit yang mengganggu. Rahang Sooyoung terjatuh sewaktu melihat Jiyeon tidur di lantai, hanya beralaskan selimut tipis dan sebuah bantal juga guling.

Tempat tidur dan kasurnya yang biasa ada kini tidak terlihat sama sekali. Sooyoung mulai panik. Dia langsung heboh berjongkok di sebelah Jiyeon, mengguncang-guncang tubuh kakaknya.

Unnie!” panggilnya lantang. Jiyeon malah berbalik badan, dan menggumam tidak karuan.

Unnie! Mana kasur dan tempat tidurnya?!” tanyanya semakin histeris. “Kenapa kau tidur hanya beralaskan selimut begini?”

“Apa? Ada semut?” Jiyeon mulai mengigau.

“Selimut!”

Dengan sangat terpaksa, Jiyeon membuka mata. Dia sedang mimpi indah sekali. Dia sedang bermimpi mengambil alih jabatan Myungsoo sebagai pemilik kafe. Lalu, dia membuat kafe itu sesuai dengan apa yang dia mau. Tidak berinterior membosankan seperti yang Myungsoo desain. Dia menatap Sooyoung dengan nanar.

“Apa?”

“Kenapa unnie tidur hanya dengan selimut begini? Ke mana tempat tidurnya?” tanya Sooyoung, masih dengan sisa kepanikan.

“Sudah kujual,” balas Jiyeon cuek, kembali memeluk gulingnya dan berbalik badan.

“Serius?” tanya Sooyoung, terkaget. “Untuk apa?”

“Amerika!” Jiyeon memberi nada jengkel seolah mengisyaratkan ‘kau-tahu-jawabannya’. “Apa lagi?”

“Seharusnya kau tak melakukan itu…” Sooyoung berkata dengan nada bersalah di tiap suku katanya.

“Aku tak bisa mencari uang hanya mengandalkan tubuhku yang lemah,” abai Jiyeon. “Ada suatu barang yang harus bisa kukorbankan.”

Melihat perjuangan kakaknya itu, Sooyoung terharu. Dia mulai berinisiatif, apapun itu dia tak akan mengecewakan kakaknya. Agar seluruh kerja keras yang sudah ia lakukan tak sia-sia. Dia harus terus belajar, kerja keras, walaupun harus merelakan seluruh waktu tidurnya. Perlahan, dipeluknya Jiyeon.

Unnie, terimakasih,” isaknya, dengan suara lirih. “Kau kakak paling baik yang pernah ada.”

***

Dengan semangat, Myungsoo melangkahkan kaki menuju ke arah kafe miliknya. Dia sudah siap. Semalam, karena perasaan senang, dia tidur jam sepuluh malam. Sesuatu yang cukup langka, karena sejak menjadi pemilik, dia hanya bisa tidur pada waktu jam dua belas hingga dua pagi. Jadi, tak heran Myungsoo terlihat begitu segar hari ini.

Namun ekspresinya langsung berubah ketika melihat pintu masih ditutup. Di mana Anak-Bawang itu? Batinnya, sambil celingukan ke segala arah. Bisa-bisanya dia terlambat. Kalau Myungsoo punya hati yang keras, kejadian seperti ini mengharuskan dia memotong separuh gaji Jiyeon.

Tapi Myungsoo punya hati yang lembut, jadi dengan sangat bersabar dia menunggu Jiyeon, si Penjaga Kafe itu, datang. Lima belas menit kemudian, ketika Myungsoo nyaris tidur lagi dengan bersandar dalam posisi berdiri di depan pintu, dia terkaget. Bunyi klakson berentetan di jalan raya di depannya. Dia membuka mata.

Matanya melebar ketika melihat alasan orang-orang mengklakson adalah seorang gadis dengan rambut pendek di tengah jalan, tampak menggunakan tangannya untuk meminta maaf dan meminta mobil lain berhenti. Semua orang yang memakai kendaraan tampak kesal.

Gadis berambut pendek itu tentu saja Jiyeon.

Dengan tatapan mengantuk, setelah kekacauan di jalan raya itu reda, Jiyeon berlari menuju kafe. Dia menatap Myungsoo seperti orang baru mabuk minum soju.

“Maaf. Tadi kacau. Tiba-tiba aku memejamkan mataku. Aku tak kuat bangun…” celetuk Jiyeon sambil nyengir tak berdosa, tak memperhatikan tatapan Myungsoo yang mendingin. Pria itu melipat kedua tangan di depan dada, menatapnya tajam.

“Cepat buka pintunya,” cibirnya tegas. “Dan tolong cuci mukamu.”

Jiyeon mengangguk. Dia mengambil sebuah tali yang berisi sekitar lima kunci di situ. Namun, karena terlalu mengantuk, Jiyeon salah memasukan kunci. Dia memasukan kunci kamar Myungsoo di pintu masuk.

“Salah,” Myungsoo mengoreksi, terlihat sabar sekali. “Itu kunci kamarku.”

“Oh, iya.” Ralat Jiyeon dan segera menggantinya dengan kunci yang benar.

Mereka masuk ke dalam. Myungsoo sudah bersiap mengomeli karyawannya itu. Namun Jiyeon terus berceloteh, “Sudah cuci muka…berkali-kali, tapi aku tetap mengantuk.”

Gadis itu kemudian duduk di salah satu kursi dan menelungkupkan kepalanya di meja dengan kedua tangan terlipat. Myungsoo hendak mengeluarkan rentetan kata-kata bahwa Jiyeon sangat tidak sopan dengan statusnya sebagai karyawan, ketika dia mendengar dengkuran kecil.

Jelas saja, mau seberisik apapun Myungsoo memarahinya, gadis itu tidak akan mendengarnya.

Myungsoo mengacak rambutnya frustrasi. Orang ini memang benar-benar unik. Dengan berat dia menghela napas. Kalau begini, dia tak bisa mengganggu. Dia harus membawa Jiyeon ke kamarnya agar bisa tidur lebih nyenyak.

***

Belum pernah Jiyeon tertidur selelap itu.

Ketika terbangun, dia menggeliat. Tubuhnya benar-benar sangat segar daripada biasanya. Dia menguap kembali, dan membuka mata. Sinar lampu memenuhi mata cokelatnya. Lantas Jiyeon melirik jam dinding.

Jam sebelas siang.

Dia tidak panik. Sungguh. Sebetulnya, dia memang sudah agak demam sejak berangkat tadi. Tadinya ia ingin absen kerja saja. Namun sadar bisa jadi gajinya terpotong, dia memaksakan diri.

“Kau baik-baik saja?”

Kali ini suara itu menyapanya dengan ramah. Berbeda dengan kejadian yang sama sebelumnya, yaitu saat dia juga tertidur di ruang yang sama ini. Penuh dengan gurat khawatir.

Ketika melirik ke sebelah kiri tempat tidur, Myungsoo tengah menatapnya dari sofa abu-abu sambil melipat dada dan menyilangkan kaki. Walaupun menyeringai, Myungsoo jelas khawatir.

“Memangnya aku kenapa?”

“Ehm, tadi aku meminta Minho membawamu ke sini. Dia bilang badanmu sedikit…demam.”

“Oh, iya,” balas Jiyeon linglung. Ingin tidur lagi.

“Nah, kau baik-baik saja atau tidak?”

“Tidak,” Jiyeon menatap Myungsoo. “Tadi, aku begitu kelelahan hingga tak sanggup berdiri.”

“Apa kau mau pulang ke rumah dan beristirahat di sana?” kali ini Myungsoo menawarkan. “Kau akan tetap kuhitung masuk kerja.”

“Sejujurnya, aku lupa jalan menuju rumahku,” timpalnya cuek. Jiyeon membalikkan badan, memejamkan mata dan berusaha untuk tidur kembali. Ketika dia bergerak, kepalanya berdenyut pusing karena gerakannya yang mendadak itu.

Dia sudah tak peduli ada di mana dan pukul berapa. Tubuhnya tidak enak. Semalam, karena menjual tempat tidurnya, dia tidur di lantai hanya beralaskan selimut tipis yang tak membantu. Tubuhnya menyerap dinginnya lantai rumah, membuat dia pusing-pusing sekarang. Tidurnya tak nyenyak sejak semalam.

Bahkan untuk mengusap keringat di dahi, rasanya Jiyeon butuh tenaga lebih banyak lagi.

***

Kali ini, Jiyeon bermimpi lagi. Dia bermimpi sebagai Putri Tidur, dongeng kesukaan yang suka dibacakan ibunya saat ia masih kecil. Dia juga pernah menonton filmnya. Dia adalah Putri Tidur yang ceria dan atraktif.

Jiyeon bertemu seorang pangeran di hutan. Mereka menari bersama, dan sesingkat itu mereka jatuh cinta. Namun, pangeran itu mengenakan topeng sehingga Jiyeon tak bisa melihat wajahnya, sedangkan pria itu bisa melihat Jiyeon.

Mereka berpisah. Lalu, kutukan itu datang. Jiyeon tertidur pulas di kamarnya. Kemudian, pangeran bertopeng itu datang dan menciumnya. Jiyeon terbangun, dan tersenyum menyadari pria bertopeng tersebut. Ketika dia memintanya membuka topeng, pangeran itu membuka penutup wajahnya.

Lalu Jiyeon membelalak ketika menyadari pria bertopeng itu Myungsoo.

Dia langsung tersedak dalam tawa, menertawakan kekonyolan yang terjadi di mimpinya. Hingga dia sadar, tawa itu membuatnya bangun dan langsung terduduk. Dia menatap ke benda di depannya dan menyadari, masih berada di ruang kerja Myungsoo yang nyaman.

“Kau baik-baik saja?” tanya suara itu lagi. Myungsoo terduduk di depan komputernya, entah mengecek rekaman CCTV atau mungkin bermain game.

“Ya,” balas Jiyeon singkat. “Kenapa?”

“Tidak, kau tiba-tiba saja terbangun dengan tawa sekeras itu,” kekeh Myungsoo. “Aku khawatir sakitmu ini merusak sistem otakmu.”

“Pukul berapa sekarang?”

“Dua siang.”

“Wah, lama benar, ya, aku tertidur?” Jiyeon kembali membaringkan diri di tempat tidur Myungsoo, seolah sudah jadi miliknya sendiri. “Rasanya indah sekali kalau bisa tidur selama ini…”

“Berterimakasihlah padaku,” Myungsoo tertawa geli. “Kau sudah bisa bekerja atau tidak?”

“Tidak!” Jiyeon langsung berseru lantang. “Kalau mereka tahu aku tidur di sini sejak matahari terbit sampai pukul dua, aku bisa mati karena malu ditertawakan…”

“Tenang saja. Minho yang membawamu ke sini, jadi dia tak akan menertawakanmu seperti waktu lalu,” tutur Myungsoo, menatap Jiyeon. “Kurasa yang lain juga sudah tahu. Kau memang kelelahan.”

“Akhirnya kau tahu juga.” Jiyeon nyengir. “Yah, terimakasih, Myungsoo. Aku akan segera bekerja.”

Jiyeon berguling, bangkit dari tempat tidur dan menuruni tangga. Selagi punggung gadis itu menghilang ketika dia mencapai dasar tangga, Myungsoo tak bisa menahan seulas senyum tipis di bibir.

“Dasar manusia aneh,” gumamnya. “Tapi cantik.”

***

“Wah, kau sudah kembali!” sapa Minho riang ketika dia keluar dari pintu ruang kerja. Jiyeon tersenyum kecil menyambut keramahan itu.

“Apa ada masalah selagi aku tertidur pulas di sana?” tanyanya.

“Banyak.” Minho nyengir lebar. “Beberapa mengeluh, mereka sudah tak terbiasa membersihkan kafe karena tugasnya diambil alih olehmu. Dasar manja. Tapi kau baik-baik saja, kan?”

Jiyeon mengangguk kencang demi meyakinkan Minho. Ia kembali pada pekerjaannya, di kasir, dan seperti biasa, Jieun kembali menyapanya.

“Kau tahu, tidak,” temannya itu membuka topik setelah berbasa-basi menanyakan kabarnya. “Sekarang Myungsoo sudah menetapkan karyawan paruh-waktu.”

“Oh ya?” tanyanya antusias. “Dari dulu pun aku selalu heran kenapa kalian bekerja di sini seperti orang kantoran. Dari pagi hingga siang.”

Jieun terkikik geli. “Kalau yang kudengar, ya memang sengaja begitu. Dia menguji kerja keras kita dengan bekerja sepanjang waktu, baru dia memberi kita kebebasan waktu yang lebih banyak. Aku senang dengan prinsipnya.”

“Kau sendiri, akan ikut paruh waktu?”

“Tentu saja!” balas Jieun bersemangat. “Kenapa tidak? Walaupun gaji di sini lumayan untuk hitungan bekerja sepanjang waktu, aku ingin mencari lagi di tempat lain. Rencananya, aku akan ikut paruh waktu siang. Ataupun sore. Malam juga bisa. Disesuaikan saja.”

“Oh, itu bagus sekali,” gumam Jiyeon tidak jelas. Dia berniat mau ambil paruh-waktu, maka mungkin dia bisa menawarkan ke universitasnya dulu agar bisa belajar lagi di sana. Tapi nanti si bos akan memotong gajinya secara besar-besaran, oh tidak…

Tapi perasaannya lagi-lagi dibuncahkan oleh amplop cokelat yang diberikan Myungsoo. Yah, mungkin bosnya ini mengerti kebutuhannya, dia tidak akan memotong gajinya sebegitu cepat…

Berusaha tidak memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu, Jiyeon memutuskan sepanjang hari untuk bekerja sekeras yang dia bisa. Rasanya dia menguasai hampir separuh kafe sepanjang hari itu. Bahkan gara-gara dirinya, Jongin hanya bisa melindur di sudut dapur, mendengarkan musik. Sebab tiap dia ingin membuatkan pesanan, Jiyeon selalu bisa menyelanya.

“Aku mau kerja!” sungutnya, ketika untuk yang keenam kalinya, Jiyeon menyela kopi yang akan dibuatkannya. Namun gadis berambut pendek itu malah nyengir sangat lebar.

“Ini namanya persaingan kerja,” kata Jiyeon tenang. “Kau tidak cepat, kau ketinggalan.”

Namun Jongin sudah keburu kesal, dia kembali berbalik ke sudut dan mengeluarkan perangkat musiknya, dan menyalakan earphone hingga ke volume paling keras. Jiyeon bisa mendengar nada alunan lagu itu walaupun samar.

“Jong! Kau bisa tuli!” pekik Yerin, yang masuk ke dapur untuk mengambil air minum. “Tak heran kau tak menjawab bila dipanggil ratusan kali. Membuat orang lain kesal saja.”

Namun pria itu mencibir tidak peduli. “Kau jauh lebih membuatku kesal,” kata Jongin keras, membuat ekspresi Yerin langsung menciut. Dia mengambil botol minum, dan melangkah dengan anggun kembali ke meja kasirnya. Di belakang punggungnya, Jongin kesal sendiri.

“Urusi meja kasirmu sana, dia lebih penting daripada aku. Apa menariknya sih meja kayu, aku jauh lebih menarik, meja kayu tidak bisa bicara, aku bisa ajak kau bicara sampai mulutmu berbusa…”

“Dia mulai gila, ya?” tanya Jiyeon pada Minho, setelah tertawa melihat kejadian Yerin dan Jongin itu. “Kurasa mood-nya sudah buruk sebelum aku menyela pekerjaannya terus…”

“Oh, itu,” kata Minho, mengerling Jongin. Ekspresinya menunjukkan dia ingin sekali tertawa terbahak, namun dia sudah terlalu sering melakukannya hingga bosan mendengar tawanya sendiri. “Jongin naksir Yerin, padahal mereka beda tiga tahun. Dia mengajaknya kencan seminggu lalu, tapi kau tahu Yerin, kan. Dia sudah punya pacar orang asal Inggris itu.”

Jiyeon mengerling ke arah Jongin, memandangnya cemas, seolah takut pria itu bisa kena serangan gangguan jiwa kapan saja. Dan dugaannya nyaris benar. Jongin hanya mendengarkan musik dengan tatapan melamun yang sangat kosong. Tampaknya penolakan Yerin berdampak besar baginya.

“Begitu, deh, orang kasmaran,” komentarnya singkat.

“Bagaimana hubunganmu dengannya?” tanya Minho tiba-tiba.

“Hubungan siapa?” Jiyeon balas bertanya dengan bingung.

Minho mendecak tidak sabar. “Si Bos. Myungsoo. Kau sendiri, hubunganmu dengannya bagaimana?”

“Hubungan apa dengan siapa? Aku dan dia baik-baik saja. Hanya sebatas bos dengan karyawan. Ada apa, memangnya?” Jiyeon merasa wajahnya panas ditanyai begitu, seolah mereka punya hubungan spesial saja.

“Menurutku, sih, lebih,” Minho menyeringai sangat lebar. “Kau masih ingat Tae Go dan kawan-kawan? Mereka membuatnya jadi tersipu malu karena membandingkan Myung denganmu. Benar-benar aneh, deh, adikku yang satu itu. Kau tak memperhatikannya, ya?”

“Jelas malu, aku ini hanya cewek biasa yang tidak pantas bersanding dengannya,” sahut Jiyeon tak sabar, meskipun ucapan itu membuat jantungnya berdetak tanpa kendali. “Jangan tanya yang aneh-aneh padaku, hari ini aku hanya mau fokus kerja.”

Dia menjulurkan lidah pada Minho dan keluar. Hendak membeli makan siang di restoran sebelah, sadar bahwa pukul empat sore ini, dia belum makan apa-apa sejak pagi. Jiyeon dengan langkah cepat menuju ke arah restoran jajangmyeon yang terkenal murah di sini. Dia duduk sendirian, dan memesan menu yang paling biasa.

Namun tidak disangkanya, ternyata Minho ikut menyusul, kali ini menggenggam tangan Jieun dengan erat. Jiyeon mendengus dan pura-pura tak kenal mereka yang suka mengumbar kemesraan itu. Padahal resmi kencan mereka tidak lama, baru beberapa minggu lalu.

“Tak ada gunanya tak kenal kami,” kata Jieun, duduk di hadapan Jiyeon yang wajahnya sekeras batu. “Kau butuh teman makan siang juga, jadi jangan berharap kami mau enyah dari pandanganmu. Yah, walaupun tadi siang sudah makan, tapi tak ada salahnya menggemukkan badan sedikit…”

“Oke juga,” gumam Jiyeon tidak jelas. Untung saja keadaan badmood itu diselamatkan ketika mangkuk pesanannya datang. Dia segera memakannya, tidak memandang sepasang kekasih di depannya.

“Makanmu lahap juga,” komentar Minho setelah memesan menu yang sama dengan Jiyeon pada pelayan. Gadis itu memberi tatapan tajam, dengan gulungan mi mash menjuntai di mulut.

“Aku kurang gizi,” katanya dengan mulut penuh makanan. Dia kesal karena Minho menyemprotnya sembarangan di dapur tadi. Yah, walaupun tidak dipungkiri, perkataan itu membuat hatinya membuncah senang, tapi kan tetap saja…menyebalkan.

Mereka berdua hanya bisa tertawa. Pesanan mereka datang tak lama kemudian. Mereka makan dengan tenang. Sesekali dengan romantis. Minho menyuapi Jieun dengan sumpitnya. Jiyeon mau muntah saja melihatnya.

Dia selesai ketika Minho dan Jieun baru makan kira-kira sepuluh menit, dan itu bahkan belum habis setengahnya. Dengan jengkel dia meminum air minum dari botol, dan tanpa ba-bi-bu langsung berdiri.

“Aku duluan. Kalian berdua lebih baik senang-senang,” katanya angkuh, dan dengan langkah menghentak berjalan ke kasir untuk membayar, dan berjalan keluar dari pintu restoran.

Dia menyusuri jalan. Merasa pengap berada di kafe sepanjang hari, Jiyeon menghela napas dan menyandarkan punggung di dinding salah satu bangunan yang berada persis di seberang kafe. Harusnya dia tidak marah sepert itu, dia malah mau saja disandingkan dengan Myungsoo. Secara, pria itu tampan, berkharisma, matang, pintar, dan luar biasa baik…

Jiyeon menghela napas. Dia tahu telah jatuh cin—baik, dia mulai mau mengaku pada dirinya sendiri sekarang—dia sudah jatuh cinta pada bosnya yang baik itu. Tapi bukan berarti Minho dengan bodoh bisa menyembur pertanyaan itu seenaknya…dia bukan anak remaja yang akan senang bila disandingkan dengan orang yang ditaksirnya…dia jelas tidak punya hubungan apa-apa…

Dia lantas sendiri kenapa jadi marah-marah begitu, dan lalu malu pada dirinya sendiri. Jiyeon mengacak rambutnya kesal sekali.

Di meja kerjanya, Myungsoo yang saat itu tengah melamun menatap keramaian jalan, terkaget. Dia mendapati sosok kecil Jiyeon bersandar di dinding bangunan tua besar. Tampak bengong, lalu kemudian mengacak rambut sendiri dengan kesal, dan berjalan masuk ke kafe dengan sangat berang.

Myungsoo tertawa lirih. Dia belum pernah bertemu gadis selucu itu, bahkan saat dia tidak berkata apa-apa. Belum pernah ada yang membuatnya begitu—bahkan Soojung pun tidak. Myungsoo merasa bahagia. Namun, kali ini bahagia dengan sensasi yang berbeda.

Bahagia yang membuatnya sehangat saat musim gugur tiba…

***

“Selamat malam.”

“Selamat malam.”

“Besok jangan telat.”

“Eh, aku kan mulai paruh waktu besok?”

“Oh, iya, lupa. Ya sudah, tetap kerja keras!”

“Tidur yang nyenyak, Teman-Teman.”

“Jangan lupa matikan lampu.”

“Tenang, kan, ada Jiyeon. Dia akan piket di sini sampai malam.”

Gadis dengan tampang mengantuk itu mendengus mendengar namanya disebut. Jelas semua orang kini tampaknya tak perlu kerja lagi karena dia yang mengambil alih. Setelah menyelesaikan kerjaan mengepel, dia menyeka keringat dengan punggung tangan.

Dia memutuskan menyalakan lampu bagian meja kasir, membuat meja panjang itu bersinar keemasan di bawah cahaya lampu. Jiyeon duduk di kursi Yerin, sendirian, karena teman kerjanya yang lain sudah pulang. Dia menatap nanar ke jalanan yang terlihat dari dinding kaca, meja-meja dan kursi, dan kemudian memejamkan mata. Dia hendak tidur sebentar saja.

Namun tidurnya diusik saat sebuah tangan mengguncang pundaknya pelan. Dia hampir saja mengumpati orang itu, dan mengerang. “Jangan tagih hutang, aku sedang tidur,” kata Jiyeon mengigau, mengira orang yang membangunkannya adalah seorang pria pedagang tua yang dulu suka ia curi barang dagangannya untuk jajan. Dia sedang memimpikannya.

Tawa berderai muncul dari mulut salah satu seseorang. Tawa yang menenangkan. Jiyeon terbelalak bangun dan menyadari yang tadi membangunkan dia adalah Myungsoo. “Eh, maaf, Bos, kukira aku capek. Baik, aku akan pulang. Kau juga, kan? Kalau begitu pulang duluan sana, aku menyusul…”

“Tidak,” kata Myungsoo tegas, masih tersenyum. “Aku juga akan jaga malam di sini. Eh—kau kelihatan capek, aku minta maaf.”

“Tidak, tidak sama sekali!” ucap Jiyeon berbohong, dibarengi menguap yang membuat ucapannya tentu saja bohongan. “Kau jangan cemaskan aku…”

“Ehm, mungkin kau bisa ke kamarku sebentar. Aku punya dua cangkir cokelat panas, mungkin enak untuk meredakan lelah.”

Namun mata Jiyeon langsung melotot tajam, emosinya memuncak lagi. “Ke kamarmu di tengah malam begini, berduaan? Jangan macam-macam, ya. Kau pikir aku ini gadis apa?”

“Aku tidak mengajakmu yang aneh-aneh!” gertak Myungsoo sama galaknya. “Aku akan menunjukkanmu sesuatu. Ayo.”

Mata Jiyeon sempat memandang Myungsoo dengan nyalang, sebelum akhirnya dia bangkit berdiri dan masuk ke dapur, kemudian menaiki tangga ke kamar kerja Myungsoo. Kamar itu tetap semanis biasanya.

Myungsoo menunduk ke laci meja, mengeluarkan dua cangkir cokelat panas. “Nih, buatmu. Sudah tidak panas lagi, jadi sekarang kita sebut saja cokelat, tak ada panasnya.”

Mendengarnya, entah mengapa, Jiyeon tertawa. Dia segera menyeruput cangkir yang disajikan. Myungsoo juga ikut menyeruputnya, namun matanya terpaku pada Jiyeon.

Setelah selesai menyelesaikan cokelat panas yang lebih terasa seperti susu itu, Myungsoo berjalan ke salah satu sudut ruangan. Rupanya, dia mengambil sebuah tangga lipat yang sama sekali tak disadari Jiyeon sebelumnya. Dia mendirikan tangga, menaikinya, kemudian menarik suatu tali dari langit-langit. Tiba-tiba saja sebuah papan di langit-langit terbuka, menampilkan langit biru gelap malam yang ada di luar. Jiyeon tercengang.

“Jalan menuju atap,” kata Myungsoo nyengir dari atas tangga. “Kau mau ikut? Atapnya tidak begitu curam. Malam-malam begini paling enak menikmati langit di rooftop.”

Jiyeon mengangkat alis. Namun, Myungsoo tidak memedulikan. Dia segera memanjat melalui tepi lubang langit-langit, dan dengan gesit sudah berada di atas atap kafe. Jiyeon mendekati tangga dengan hati-hati, dan Myungsoo tersenyum meyakinkan dari atap.

“Percaya padaku,” gumam Myungsoo. Maka Jiyeon memanjat, dan kemudian sudah bergabung dengan Myungsoo di atas atap.

Maka sepuluh menit dia habiskan untuk tidur bersandar pada atap, menjadikan rambut sebagai alas kepala, Myungsoo di sebelahnya, jarak mereka cukup dekat. Dia menatap langit biru gelap bertabur bintang.

“Langit yang tanpa batas mengingatkanku pada simbol kebahagiaan dan keabadian,” kata Jiyeon akhirnya.

“Maksudmu?”

“Aku sedang memikirkan Sooyoung yang akan pergi ke Amerika sebentar lagi,” desah Jiyeon panjang. “Dia pasti memandang langit yang sama seperti kita nanti, namun bedanya, langitnya cerah dan berawan, sedangkan kita gelap berbintang. Pasti enak jadi awan, bisa ke manapun mereka mau pergi.”

“Tapi awan langsung luruh jadi hujan,” sambung Myungsoo, tersenyum. “Kenapa, sih, tidak kau pikirkan saja hal baik-baik di kepalamu? Jangan hal sok bijak macam itu.”

“Kau sendiri, sedekat apa kita berdua sampai kau mengajakku pergi ke atap begini?” Jiyeon menoleh ke pria di sebelahnya. “Aku jelas hanya orang biasa di dekatmu.”

Mendadak, Myungsoo langsung terbayang perkataan John dan Tae Go tempo lalu, ‘kau harus nyatakan cinta padanya Myungsoo!’ Dan Jiyeon seakan telah membantunya dengan memberi pertanyaan itu. Namun dia menelan ludah, dan berkata, berusaha dengan suara setenang mungkin. “Karena kau telihat kesepian dan menyedihkan. Tak ada salahnya, kan, kuajak ke sini?”

Jiyeon mencibir. Dia kembali menatap langit biru. Namun Myungsoo tiba-tiba mengeluarkan kamera digital, membidiknya ke arah langit yang biru bertabur bintang. Dia mencondongkan kameranya untuk diberikan kepada Jiyeon.

“Bagus, kan?” tanyanya, setelah Jiyeon meneliti foto hasil jepretannya barusan. “Akan lebih bagus kalau kau juga aku ikutkan di foto ini.”

Wajah Jiyeon langsung memerah, maka dia langsung memalingkan muka. Merasa tidak enak dengan kecanggungan yang tadi Myungsoo buat, Jiyeon langsung duduk dan berdiri, hendak kembali ke bawah. Dia merasa ingin segera cepat menghilang dari pandangan pria itu.

“Mau ke mana?” tanya Myungsoo, juga ikut duduk tegak. Dia tidak ingin kebersamaan ini cepat berakhir, walau harus melewatkannya dalam diam.

“Pulang,” balas Jiyeon, mulai menuruni atap menuju lubang kotak. “Kau akan pulang belakangan, kan? Kau kunci pintunya, ya. Aku akan kembali besok ke sini, seperti biasa. Dah.”

Gadis itu bahkan tidak menoleh ke belakang saat mulai menuruni tangga lipat. Myungsoo membuka mulut, “Ji,” namun gadis itu sepertinya tidak mendengar. Terdengar langkah debam berlarian di tangga, menuruni tangga dengan kayu. Jiyeon sudah pergi ke bawah.

Myungsoo menghela napas pasrah, kemudian memejamkan mata dan sebuah senyum tipis terbit di wajahnya. “Jiyeon,” bisiknya, dengan suara seperti seorang pendoa yang putus asa. “Aku benar-benar menyukaimu.”


Gila! Akhirnya setelah draft ini kutelantarkan berbulan-bulan, aku berhasil melanjutkannya. Maaf buat para readers SL yang menunggu! Aku minta maaf sekali. FF ini menyenangkan sekali ditulis, tapi aku merasa tidak bergairah untuk menulisnya secara rutin.

Nah, seperti biasa, aku mengimbau untuk yang tahu judul Skinny Love tapi lupa cerita di chapter sebelumnya (karena kelamaan gak update), kalian bisa klik profil authorku di situs HSF, atau ke sini

Dan untuk bocoran, FF ini akan selesai sampai 28 bagian (epilog+prolog sudah termasuk). Jadi secara teknis, kita belum sampai ke setengah bagian. Wah, lama sekali, ya! Doakan saja semoga author Little Thief mau menyelesaikannya.

Terimakasih dan have a nice day! Semoga cerita ini menghibur kalian semua. Salam cinta dari Myungsoo dan Jiyeon.

With regards,

Nadia.♥

25 responses to “[CHAPTER – PART 12] Skinny Love

  1. Jiyi jiyi. KAsian x dirimu.
    Aaaa, myung lamban, tegas donk myung.
    Noh jiyi x keburu pergi kan.
    Aishhh.
    Lebih usaha lg myung.ayoooo myung

  2. Terima kasih atas updatenya. Begitu besar skali pengorbanan jiyeon utk adiknya. Dan myungsoo knp lembab sgt ingin mengatakn cintanya pada jiyeon? Haha!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s