[CHAPTER-PART 3] Everglow

(FF-poster) Everglow

Author  : Agnes Febiola

Main Cast : Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Bae Suzy, Choi Minho

Additional Cast : … find it yourself, eoh? Kkk😉

Genre : Romance

Rating : G

 (Part-1) (Part-2)

EVERGLOW

Part 3 : “I’m so sorry…”

Myungsoo’s POV

Aku masih memeluknya dalam ketidakpercayaan. Park Jiyeon… sekarang menjadi milikku? Aku namjanya? Entah kenapa, hal ini tidak semenyenangkan yang aku bayangkan sebelumnya.

Ehm, bukan berarti aku tidak senang menjadi pacarnya. Tapi aku sedih melihatnya dalam keadaan seperti ini. Kalau bisa, aku lebih memilih saat di mana aku belum menjadi pacarnya. Saat di mana Park Jiyeon adalah yeoja yang kuat.

Kutukan? Aku tidak pernah percaya dengan hal-hal takhayul seperti itu. Aku adalah orang yang selalu tertawa mendengar hal yang menurutku konyol itu. Tapi tidak mungkin aku menertawakan Jiyeon. Bagaimanapun dia terlihat serius. Aku harus membantunya melewati semua ini.

“Jiyeon-ah, kita kembali ke rumah nenek ya? Mandi, ganti baju. Nanti malam kita kembali ke sini. Hmm?”

Ku hapus sisa air mata di pipinya. Sorot matanya masih sangat lemah. Dia hanya membalasku dengan senyuman dan anggukan kecil.

*—*—*—*—*

Nenek menyambut kami dengan raut khawatir.

“Ada apa, nek?”

“Kalian malam ini akan menginap kan?”

Aku dan Jiyeon mengangguk bersamaan.

“Anu… Myungsoo-ya… kamarnya…”

Kamar? Oh. Rumah nenek memang hanya memiliki dua kamar. Satu kamar yang nenek gunakan bersama kakek dulu, dan satunya kamar tamu. Semenjak kepergian kakek, nenek kesulitan untuk tidur bersama orang lain, apalagi orang asing. Nenek lebih suka tidur di kamar itu, sendiri. Kalau begitu, sisa kamar tinggal kamar tamu. Tentu saja Jiyeon yang akan tidur di sana.

“Biar aku nanti tidur di depan tv, nek,” saranku.

Andwae! Kau bisa masuk angin.”

“Terus bagaimana, nek? Tidak mungkin Jiyeon yang tidur di depan tv kan? Aku tidak mau dia masuk angin.”

Tanpa sadar tangan Jiyeon telah berada dalam genggamanku. Mungkin ini yang dibilang orang masih ‘hangat-hangat’ nya. Hahaha.

Nenek terlihat dilema. Dan melihat genggaman tangan kami, sepertinya nenek mendapatkan solusi.

“Nak Jiyeon… tidak keberatan kalau sekamar dengan Myungsoo?”

Mwo?

“Dengan begini nenek tidak akan kepikiran salah satu dari kalian akan masuk angin karena harus tidur di depan tv. Nenek percaya Myungsoo tidak akan melakukan hal macam-macam. Atau kalau nak Jiyeon ragu, pintunya bisa dibuka,” lanjut Nenek.

Aku tak sanggup untuk melihat reaksi Jiyeon. Pasti dia akan mengira aku telah bersekongkol dengan nenek. Bagaimana kalau aku diputusi di hari pertama?

“Tidak apa-apa, nek.”

MWO??

Aku menatap Jiyeon tidak mengerti. Dia hanya tersenyum kecil sambil mengangkat bahunya. Aku berusaha mencari keterpaksaan maupun kemarahan di wajahnya, tapi yang kutemui adalah… kelegaan.

Dia mengarahkan pandangan pada genggamanku. “Lepaskan. Aku mau mandi.”

*—*—*—*—*

Dan di sini… aku merebahkan diri di kasur kamar tamu. Gemericik suara shower yang berasal dari kamar mandi yang memang berada dalam kamar. Ku rasakan wajahku memanas. Aku seperti pengantin baru yang sedang menunggu sang istri mandi. Gila! Kim Myungsoo, kau benar-benar sudah gila!

Segera ku hapus pikiran konyol itu. Mau tidak mau aku berterima kasih juga pada nenek. Jujur, aku senang bisa sekamar dengan Jiyeon. Aku bisa memandanginya semalaman. Aku..

Pikiran konyol itu datang lagi. Sadarlah, Kim Myungsoo.

Sebuah buku kecil berwarna pink mencuat dari tas Jiyeon. Buku diary? Tapi terlalu kecil.

Aku ingin membacanya tapi aku tak mau dianggap lancang.

Tapi aku penasaran.

“Myungsoo-ya?”

Suara Jiyeon mengagetkan tanganku yang hampir saja meraih buku itu. Ku lihat pintu kamar mandi masih tertutup.

“Myungsoo-ya?”

Oh, Jiyeon masih di dalam.

“Kenapa, Ji?”

Aku tersenyum sendiri mendengar kata ‘Ji’. Aku merasa ‘Ji’ adalah panggilan kesayanganku pada Jiyeon. Sepertinya belum pernah ada seorang pun yang memanggil Jiyeon dengan ‘Ji’.

“Kau masih di situ kan?”

“Eoh.”

“Jangan pergi sebelum aku selesai mandi ya?” suaranya terdengar setengah memohon. Jangan bilang Jiyeon takut. Apa memang Jiyeon sebenarnya seorang penakut?

“Oke. Ji? Boleh aku baca buku berwarna pink di dalam tasmu?”

Suara shower berhenti. “Ha?”

“Buku pink… aku boleh membacanya?”

“Silahkan saja.”

Ku raih buku itu dan mulai membacanya.

Bucket list?

Jiyeon benar-benar memikirkan hal apa yang ingin dia lakukan sebelum meninggal. Aku tahu semua orang akan meninggal. Tapi aku yakin Jiyeon tidak akan meninggal dalam waktu dekat. Apalagi penyebabnya adalah kutukan? Konyol.

Tenang saja, Ji. Aku akan menjagamu.

Tawaku hampir meledak melihat hal-hal yang ditulis Jiyeon. Jatuh cinta, pacar pertama, ciuman pertama, ke pantai, dll. Sepertinya selama ini Jiyeon benar-benar hanya belajar, belajar, dan belajar.

Pantas saja dia tadi langsung menyetujui ajakanku ke sini.

List no.22 , aku bisa mengenali ini adalah tulisan Suzy. Tidur sekamar dengan namja (Myungsoo).

Oke, kini tawaku pecah.

“Selucu itu?”

Jiyeon telah berkacak pinggang di hadapanku.

“Ji, kalau dipikir-pikir, aku telah mengabulkan hampir sebagian besar yang ada dalam list-mu ya?”

Mukanya memerah. Dia duduk di pinggiran kasur sambil merebut buku yang ada ditanganku. Tetesan air jatuh dari ujung rambutnya.

Jantungku mulai berdebar tidak karuan. “Ji, aku mandi dulu.”

*—*—*—*—*

Pantai telah ramai dengan orang-orang yang juga ingin merayakan malam tahun baru. Segerombolan anak kecil pun terlihat sangat gembira bermain kembang api. Banyak pula pasangan seperti aku dan Jiyeon. Aku bersyukur tidak ke sini sendirian.

Tatapan Jiyeon terpaku pada anak kecil yang bermain kembang api itu.

“Kau mau main kembang api juga?” tawarku.

Dia menggeleng. “Myungsoo-ya, aku ingin cokelat hangat saja,” dia menunjuk sebuah kedai yang menjual berbagai macam makanan dan minuman.

Setelah memesan cokelat hangat, kami memilih di tempat paling ujung. Paling dekat dengan pantai.

Jiyeon kembali memandangi anak kecil dengan kembang api di tangannya. Sepertinya dia benar-benar ingin bermain kembang api, tapi gengsi untuk mengatakannya padaku.

“Aku benar-benar tidak ingin bermain kembang api,” ucapnya seolah bisa membaca pikiranku. “Aku hanya teringat oppa-ku. Dulu aku dan dia sering bermain kembang api juga.”

Oppa? Dia punya oppa? Oppa kandung atau…

“Oppa kandung,” jawabnya tanpa disuruh. Jangan-jangan di memang benar bisa membaca pikiranku?

“Myung, foto yuk,” dia mengarahkan kamera ponselnya ke arah kami berdua.

Myung? Itu panggilanku? Panggilan kesayangan? Hal itu membuatku tersenyum sendiri.

“Myung, ayooo.”

Berfoto bersama Jiyeon saja membuat jantungku berdebar. Semua ini memang nyata.

Setelah berfoto denganku, Jiyeon mulai memotret pemandangan pantai yang memang indah.

Cokelat hangat yang kami pesan tiba.

Aku melirik Jiyeon yang sedang membuka aplikasi… instagram?

“Kau punya instagram?” tanyaku heran. Yeoja yang hanya kerjaannya belajar ini juga aktif di media sosial?

“Tentu saja.”

Aku mengecek akun instagramnya lewat ponselku. Wah, Jiyeon benar-benar populer. Tidak sedikit pula namja-namja yang meninggalkan komentar di setiap post nya.

Aku benar-benar belum mengenal Jiyeon sepenuhnya. Hari di mana Jiyeon pingsan kembali teringat. Pantas saja dia berkata aku tidak tahu apapun tentangnya.

“Myung, bagus foto yang ini atau ini?”

Dia menunjukkan foto pemandangan malam ini yang menurutku dua-duanya sama-sama bagus. “Bagus semua, Ji.”

“Pilih satu.”

“Mau kau apakan?”

“Aku upload di instagram.”

“Ji… daripada foto itu kenapa tidak kau upload foto denganku?” tawarku. Ya, biar namja-namja di instagram Jiyeon tahu. Mungkin aku terdengar sedikit posesif. Tapi kalau kalian tahu rasanya punya pacar seperti Jiyeon. Rasanya kapan saja seseorang siap mengambilnya.

“Oke, kalau kau tidak keberatan, Myung.”

“Aku keberatan? Mana mungkin.”

Sebuah notif muncul di ponselku. Sebuah tag dari Jiyeon. Ku lihat sebuah posting fotoku dengannya, plus caption singkat : ❤.

Aku tersenyum puas.

Tunggu.

“Ji, kau tahu instagramku?”

Dia hanya mengangguk sambil meminum cokelat hangatnya. “Aku bahkan mem-follow mu, Myung.”

“Iya? Wah, jadi diam-diam kau memperhatikanku ya?” godaku.

“Potretanmu bagus, Myung. Aku suka. Tidak sia-sia kau masuk klub fotografi. Kau berbakat.”

Pujian Jiyeon membuatku melayang.

Banyak pesan dan missed call di ponsel yang memang aku silent. Salah satunya dari Jongin. Ku telpon balik Jongin.

Wae?”

“Kau jadian dengan Jiyeon?”

“Hah? Bagaimana kau tahu?”

“Semua sudah tahu.”

“Hah? Semua siapa?”

“Satu sekolah sekarang sudah heboh. Coba kau buka grup angkatan kita. Semua heboh gara-gara foto yang diposting Jiyeon.”

“Kau sudah seperti artis saja, Myungsoo-ya,” suara Sehun mengambil alih. Dua anak ini memang tidak bisa dipisahkan. “Siap-siap saja kau saat masuk sekolah nanti.”

Aku meringis ngeri.

“Kim Myungsoo, sebaiknya kau posting foto yang sama dengan Jiyeon. Banyak yeoja yang meninggalkan komentar di postingan Jiyeon, para fansmu itu tidak sedikit yang meninggalkan komentar buruk. Mereka mengira foto Jiyeon adalah editan. Ya ampuuun.”

“Eh? Arasseo.”

“Jangan lupa traktirannyaa!” teriak mereka bebarengan.

Baru saja kututup telepon dengan Jongin. Telepon masuk dari Naeun masuk.

Wae, Naeun-ah?”

“Oppaaaa, kau jadian dengan Jiyeon?”

“Iya.”

“Oppaa kau tegaaaaa.”

Mianhae, Naeun-ah.”

Aku segera menuruti saran Jongin untuk memposting di instagram juga. Kali ini kuberi caption : ❤❤❤ .

“Ck.. playboy…”

“Ji… kali ini kau harus mendengarkan penjelasanku. Karena aku pacarmu, oke?”

Aku mulai memberikan penjelasan yang tertunda sejak dulu. Jiyeon mendengarkan dengan seksama.

“Aku percaya padamu, Myungsoo-ya. Tapi tetap saja aku tidak suka kau dekat dengan banyak yeoja.”

“Baiklah, aku akan berubah, Ji.”

“Berubahlah demi dirimu sendiri, jangan karena perkataanku.”

Arasseo.”

“Ji… sebenarnya…”

“Hmm?”

“Aku tidak suka kau berada di dekat banyak namja, seperti di kantin tempo hari. Kecuali namja itu Jongin dan Sehun. Tapi ini bukan berarti kau tidak boleh berteman dengan namja. Aku hanya…”

“Oke, aku paham.”

“Aku juga minta maaf kalau aku sering sok tahu. Aku memang belum mengenalmu sepenuhnya. Tapi, mulai saat ini aku akan mengenalmu, Ji. Waktu itu juga aku sok tahu dengan membelikanmu roti stroberi.”

Jiyeon tersenyum geli. “Aku memang suka roti stroberi.”

“Mwo? Tapi…”

“Aku berkata bahwa aku tidak suka roti stroberi karena aku kesal Yeri sampai datang mencarimu ke uks,” tuturnya jujur.

“Kau cemburu, Ji?”

“Entahlah,” dia hanya mengangkat bahunya.

Terdengar teriakan orang sekitar menghitung mundur. Waktu memang tidak terasa saat aku bersama Jiyeon.

Aku menariknya untuk berdiri.

Tiga… dua… satu…

Terlihat banyak kembang api pecah di langit.

Dia tersenyum “Bagus ya, Myung?”

Aku memandangnya lekat. Ingin rasanya aku menci…

Ah tidak. Terlalu cepat. Bagaimanapun juga ini masih hari pertama… err… masuk hari kedua aku jadian dengannya.

Ku dekap Jiyeon. “Make a wish, Ji.”

*—*—*—*—*

“Selamat tahun baru, nek,” ucapku kepada nenek yang sudah tertidur. Ku tutup pintu kamar nenek hati-hati agar tidak membangunkannya.

Sekarang sudah pukul dua dini hari. Saat aku kembali ke kamar, Jiyeon masih belum tidur.

“Ji, pintunya dibuka atau ditutup?”

“Tutup saja, Myung.”

“Kau tidak takut aku apa-apakan?”

“Tidak. Aku percaya padamu.”

Mungkin hari ini kepalaku telah membesar beberapa kali lipat. Pujian Jiyeon. Kepercayaan Jiyeon.

“Buat apa?” tanya Jiyeon saat aku mengeluarkan alas tidur dari dalam lemari.

“Tidur.”

“Kau mau tidur di bawah?”

“Eoh.”

Dia menepuk bagian kasur di sebelahnya. “Tidur sini saja, Myung. Apa bedanya kau tidur di bawah dengan tidur di depan tv? Sama seperti nenekmu, aku tidak mau kau masuk angin.”

Tanpa pikir panjang tentu saja aku menyetujuinya.

Beberapa saat kemudian yang kami lakukan hanya saling pandang. Aku melemparkan senyum padanya. Dia tersenyum balik. Aku bisa gilaaaa.

Jiyeon meraih tanganku. “Jalja, Myung.”

Debaran jantungku makin tidak karuan. Yeoja di hadapanku telah tertidur. Wajah seseorang memang terlihat polos saat tidur. Anak bengan seperti Jongin-Sehun saja polos saat tidur, apalagi Jiyeon.

Kukecup bibirnya pelan.

Jaljayo, Ji. Happy new year.

*—*—*—*—*

Sepertinya nenek tidak menceritakan perihal Jiyeon pada eomma-appa. Mereka tidak bertanya apapun padaku hingga pagi ini. Pagi di mana aku harus kembali masuk sekolah.

“Myungsoo-ya, kau boleh menggunakan motormu.”

Appa menyodorkan kunci motorku. Aku tersedak mendengarnya.

“Pelan-pelan makannya,” ujar eomma. Disodorkannya segelas air putih yang segera kuminum dengan kalap.

“Benar, appa?”

Appa mengangguk.

“Tapi… kenapa?”

“Kalau tidak mau ya sudah.”

Buru-buru ku ambil kunci motor tersebut sebelum ditarik kembali oleh appa.

“Eomma, aku perlu ke rumah nenek lagi?”

Aku tidak mau terlalu senang dulu. Tapi, eomma menggeleng.

“Sepertinya kau membutuhkan motor itu, Myungsoo-ya.”

“Untuk apa, eomma?”

“Untuk menjemput Park Jiyeon. Huahahaha,” yang menjawab malah Jongin-Sehun. Duo tengil yang datang untuk sarapan bersama. Seperti biasa.

“Kalian langsung dari SM ke sini?” tanya eomma prihatin. Eomma telah menyendokkan nasi untuk mereka berdua.

“Hati-hati saat membawa motormu. Jangan ngebut. Nanti Jiyeon kenapa-kenapa,” pesan appa.

“Sejak kapan eomma, appa, tahu?”

“Nenekmu langsung menelepon eomma begitu kau datang ke sana membawa seorang yeoja. Lalu malamnya Jongin dan Sehun mengirimi eomma fotomu dan Jiyeo itu.”

Dua bengal itu hanya cengengesan tidak bersalah.

“Jiyeon cantik, ya Oom? Tante?”

“Jiyeon juga pintar. Bahkan lebih pinta dari Myungsoo.”

Mukaku saat ini pasti sangat merah membicarakan Jiyeon di depan orang tuaku. Awas saja kau, Kim Jongin, Oh Sehun.

Appa menyeletuk. “Kapan-kapan kau bawa ke sini, Myungsoo-ya.”

“Tanya makanan favoritnya apa, nanti eomma masakkan kalau dia main ke sini,” tambah eomma.

“Hahaha, Myungsoo-ya, telingamu memerah.”

“Mukanya juga merah. Hahaha,” Sehun menimpali.

“Tante… tambah…” dengan tidak tahu malunya Jongin menyodorkan piringnya yang telah bersih.

*—*—*—*—*

Jiyeon yang telah menungguku di kursi depan rumahnya menatapku heran.

“Bukannya kita akan naik bus?” tanya Jiyeon sambil membuka pagar.

“Ceritanya panjang. Mulai saat ini aku akan mengantar jemputmu naik motor ini.”

“Tunggu, aku ambil helm.”

“Tidak usah, Ji. Nih,” kosodorkan helm putih padanya.

“Ini helm siapa?”

“Milikmu. Hadiah dari eomma.”

“Eomma? Eomma mu?” matanya terlihat berbinar menerima helm itu. “Sampaikan salamku pada eomma mu, Myung. Terima kasih.”

Jiyeon segera melompat ke belakangku. “Yuk, berangkat,” ujarnya riang.

“Kita tidak perlu pamit pada orang rumahmu?”

“…”

“Ji?”

“Eh? Tidak perlu, Myung. Ayo, berangkat. Nanti kita telat.”

*—*—*—*—*

Aku memang sudah siap mendapat ‘sambutan’ saat masuk sekolah. Tapi ini lebih buruk dari yang aku bayangkan. Bahkan sejak pagi, saat aku datang ke sekolah bersama Jiyeon, semua mata memandang. Banyak celotehan-celotehan riuh.

Niat untuk menggandeng tangan Jiyeon pun ku urungkan. Aku tidak mau menambah heboh suasana. Aku juga tidak mau Jiyeon merasa risih.

“Kau tidak apa-apa, Ji?”

Jiyeon terlihat santai. “Sudah konsekuensi pacaran dengan playboy sepertimu.”

“Kan sudah aku jelaskan aku bukan…”

Dia meleletkan lidahnya menggodaku. Ku acak-acak rambutnya dengan gemas.

Ku rasa hanya sekolahku yang memiliki berbagai macam mading, salah satunya mading yang berjudul “Hot Couple”. Mading ini berisi pasangan-pasangan di sekolah. Hah, sungguh kreatif.

Dan kini wajahku dan Jiyeon ada di dalam mading tersebut. Tentu saja foto yang ditempel adalah foto yang malam itu kami upload ke instagram. Dan di sisi kanan mading memang disediakan space untuk meninggalkan testimoni yang ditulis di sticky note. Cukup banyak yang telah meninggalkan komentar.

“Myung, lihat ini,” tunjuk Jiyeon pada sticky note berwarna kuning. Tulisannya susah dibaca. Tunggu, tulisan ini..

“Pak Sukjin?” ucapku tidak percaya. Pak Sukjin adalah guru sejarah yang killer dan tulisannya susah dibaca.

“Katanya, ‘Jangan lupa belajar!’ huahahaha.”

Aku memandang Jiyeon kagum. Memang hanya dia, dan Pak Sukjin sendiri yang bisa membaca tulisan itu. Tidak heran kalau sehabis pelajaran sejarah, anak-anak akan meminjam catatan Jiyeon.

“Ji, nanti jadi ke rumah sakit ya?”

Wajahnya mendadak mendung.

Gwaenchana.”

“Kamu temani kan?”

“Tentu saja.”

*—*—*—*—*

Keringatku terus mengucur meskipun AC ruangan ini menyala dengan baik. Aku terlihat sangat cemas, sementara Jiyeon terlihat sangat tenang. Malah Jiyeon yang menenangkanku.

“Bagaimana, Dok?” tanyaku pada dokter yang telah menerima hasil tes Jiyeon dari suster.

“Stadium dua ya?”

Jiyeon tersenyum kecil, mengangguk.

“Masih bisa sembuh kan, Dok?”

“Tentu saja.”

Kemudian dokter tersebut menjelaskan prosedur-prosedur penyembuhan Jiyeon. Dokter pun menuliskan resep obat yang harus diminum, dalam masa persiapan operasi.

“Tingkat kesuksesan operasinya bagaimana, Dok?”

Demi Tuhan, sejak tadi yang bertanya pada si dokter hanya aku. Mungkin dokter itu bingung sebenarnya yang sakit siapa. Aku atau Jiyeon. Tapi aku tidak bisa menutup rasa khawatirku.

“99-100 persen. Tenang saja, Nak Myungsoo. Sepertinya Jiyeon pandai mencari pacar.”

Aku hanya menggaruk kepala yang tidak gatal dengan malu.

“Benar kan, Ji? Kau akan sembuh. Sekarang kau tidak perlu khawatir mengenai kutukan itu,” ujarku lega saat kami telah keluar dari ruangan dokter.

Jiyeon menggamit lenganku. “Terima kasih, Myungsoo-ya.”

Saranghae,” bisiknya pelan.

Eh?

“Ha? Kau bilang apa, Ji?”

Aku masih dan selalu tidak percaya dengan pendengaranku.

“Kau selalu tuli di saat yang tidak tepat,” ujarnya kesal.

“Ji, ulangi…” pintaku.

“Tidak ada siarang ulang. Jadi sambil membeli obatku, bagaimana kalau sekalian membeli obat untuk telingamu?”

*—*—*—*—*

“Ji,” panggilku padanya yang telah siap membuka pagar.

“Apa lagi?” dia berbalik dengan muka kesal. Sepertinya dia masih kesal dengan kejadian tadi. Haha.

Nado saranghae,” ucapku.

Jiyeon tertegun. “Jadi kau mendengarnya?”

“Tentu saja.”

Kubuka helm ku dan turun dari motor untuk menghampirinya.

Kucium puncak kepalanya. “Obatnya jangan lupa diminum.”

“Orang rumah ke mana, Ji?” tanyaku yang telah beberapa kali ke sini, tapi rumah ini selalu sepi.

“…”

“Kalau kau tidak mau bercerita tentang keluargamu, tidak apa-apa. Aku tidak memaksa.”

Dia mendongak menatapku. “Singkatnya, eomma-appa ku cerai. Aku ikut eomma. Oppa ku ikut appa. Dan saat ini eomma ku sedang mengurus cabang perusahaannya di Singapore.”

“Jadi kau sendirian?”

“Tidak juga. Ada ahjumma yang tinggal di rumahku. Biasanya dia akan bersih-bersih dan memasak.”

Aku mengangguk mengerti. Tapi tetap saja Jiyeon pasti merasa kesepian.

“Besok kau mau main ke rumah?”

“Memangnya tidak apa-apa?”

Bukannya tidak apa-apa lagi. Eomma-appa pasti sangat senang. Semoga saja besok duo bengal tidak mampir ke rumah.

“Tentu saja. Makanan favoritmu apa? Eomma ku akan memasakannya untukmu.”

Samgyupsal?”

“Oke.”

“Myung…”

“Eoh?”

Dia berjinjit sedikit. Dan mengecup bibirku singkat.

“Ah first-kiss ku,” nadanya terdengar menyesal.

“Bukan first-kiss, Ji. Tapi second-kiss,” ralatku.

“Mwo?”

Gawat. Aku keceplosan.

Segera aku kembali ke atas motor.

“Myung? Mwoyaa?”

“Good night, Ji.”

“Ya! Kim Myungsoo!”

*—*—*—*—*

Ketika satu masalah pergi. Masalah lain datang.

Setidaknya tentang kutukan itu terlewati. Jiyeon akan baik-baik saja. Kali ini, masalah berasal dari Suzy. Sudah tiga hari Suzy tidak ada kabar. Tim basket kami berhasil menyabet juara satu. Dan terkakhir kali anak basket melihat Suzy saat pesta untuk merayakan kemenangan tersebut. Setelah itu tidak ada yang tahu kabar Suzy.

Selain orang tuanya, orang yang paling kelimpungan mengkhawatirkan Suzy siapa lagi kalau bukan Jiyeon.

“Sudahlah, Ji. Pasti Suzy akan memberi kabar.”

“Kalau ada apa-apa dengan dia bagaimana, Myung?”

Suaranya mulai serak.

Sebuah pesan masuk di ponselku. Suzy?

: Myungsoo-ya, aku ada di parkiran sekolah. Bisa kau ke sini sebentar? Jangan beritahu Jiyeon, eoh? Please…

“Ji, kau mau ku belikan makan atau minum di kantin?”

“Kau mau ke kantin? Aku ikut saja, Myung.”

“Eh? Err… kau di sini saja, Ji. Jangan kemana-mana. Aku cuma sebentar, oke? Tunggu situ, Ji.”

*—*—*—*—*

“Myungsoo-ya…”

Tangis Suzy pecah begitu saja saat melihatku. Mungkin aku memang bukan sahabatnya. Tapi aku paham kenapa Suzy memanggilku. Bagaimanapun, orang satu-satu nya di sekolah ini yang paling tahu dia adalah aku. Aku selalu satu sekolah dan satu kelas dengannya sejak sekolah dasar.

“Jangan menangis, Suzy-ah. Wae? Ceritakan padaku pelan-pelan.”

Suzy kembali menangis tanpa suara.

Dulu pernah saat SMP, Suzy juga menangis seperti ini. Saat appa-nya meninggal. Kalau dulu aku bisa saja memeluknya. Tapi kini aku menghormati Jiyeon. Yang bisa kulakukan hanya menunggunya berhenti menangis. Dan menepuk-nepuk pundaknya pelan.

Suzy mengeluarkan dua buah foto dari dalam tasnya. Satu foto berisi seorang namja yang tidak asing bagiku.

“Ini…” aku berusaha mengingat namja ini. “Minho. Choi Minho, mantan kapten basket SMA Incheon itu kan? Yang sekarang kuliah di Universitas Konkuk?”

Suzy mengangguk pelan.

Lalu aku memandang foto kedua. Ini bukannya foto ultrasonografi? Bukannya foto ini untuk mengecek perkembangan janin? Tunggu. Janin?

“Suzy-ah… kau?”

Tidak mungkin. Ini tidak mungkin.

“Myungsoo-ya… aku harus bagaimana?”

“Kau… dengan Minho?”

“Rahasiakan ini dari Jiyeon, Myungsoo-ya.”

“Bagaimana mungkin? Jiyeon adalah sahabatmu, Bae Suzy.”

“Jiyeon paling benci dengan orang yang hamil di luar nikah,” yeoja ini mulai terisak. “Jiyeon pasti akan sangat marah padaku. Aku takut dia tidak mau bersahabat denganku lagi.”

“Jiyeon pasti mengerti, Suzy-ah.”

“Kalau siap nanti aku akan menceritakan sendiri pada Jiyeon. Kau janji, untuk sementara ini rahasia, eoh?”

“Lalu sekarang si Minho itu ke mana?”

“Dia menghilang…”

Mwo? Dasar pengecut, tidak bertanggung jawab!”

“Dia bertanggung jawab, Myungsoo-ya. Dia tahu tentang kehamilanku.”

“Lalu sekarang dia ke mana?”

Suzy menggeleng lemah.

“Suzy-ah, sebaiknya kau pulang ke rumah. Eomma mu sangat khawatir. Kau bicarakan baik-baik dengan eomma mu. Beliau pasti mengerti. Atau kalau kesulitan kau bisa menghubungiku, oke? Besok kau harus kembali masuk. Jiyeon sangat mengkhawatirkanmu.”

*—*—*—*—*

“Mana makanan dan minumannya?”

Suara Jiyeon terdengar tajam.

“Eh? Aku lupa membelinya, Ji.”

Bodoh. Aku lupa kalau tadi aku pamit pergi ke kantin. Kim Myungsoo, apa yang telah kau lakukan?

Bel masuk berdering.

“Kita bahas nanti, Myung.”

*—*—*—*—*

Sepertinya Jiyeon marah.

Bukan sepertinya lagi, Jiyeon benar-benar marah. Kelas sudah sepi, semua penghuninya telah pulang kecuali aku dan Jiyeon.

Dia masih belum beranjak dari tempat duduknya.

“Ji… ayo pulang.”

Lima menit lagi, genap sudah satu jam dia mendiamkanku.

“Aku tahu tadi kau berbohong pergi ke kantin. Aku melihatmu dengan Suzy di parkiran. Suzy menangis, Myung. Dia kenapa?”

“Aku sudah berjanji pada Suzy untuk merahasiakannya darimu, Ji. Nanti saat sudah siap dia akan bercerita sendiri padamu.”

“Suzy tidak akan menceritakannya padaku, Myung. Karena hal ini menyangkut oppa-ku.”

“Oppa mu?”

“Tadi aku mendengarmu menyebut ‘Choi Minho’. Dia oppa ku.”

“Eh? Tapi marga kalian beda, Ji. Kau ‘Park’.”

“Ceritanya panjang, Myung. Jadi Suzy kenapa? Aku perlu tahu.”

Oppa nya Jiyeon? Choi Minho?

Sebenarnya aku tidak tega melihat Jiyeon memohon seperti ini. Kekhawatirannya pasti berlipat karena hal ini menyangkut sahabatnya dan juga oppa nya. Tapi aku sudah berjanji kepada Suzy.

Aku tidak pernah mengingkari janjiku. Apalagi untuk merahasiakan sesuatu. Bahkan kepada orang tua pun akan kurahasiakan jika aku telah berjanji kepada seseorang untuk tidak menceritakannya.

“Myung, kau tidak percaya padaku?”

“Bukan tidak percaya, Ji. Tapi aku sudah berjanji. Mianhae, eoh? Sebaiknya kau bersabar dan tunggu Suzy mengabarimu. Semoga saja besok dia masuk sekolah.”

“Myung…” Jiyeon kembali memohon. Sungguh aku tidak tega.

“Tidak bisa, Ji.”

Dia menyerah. “Baiklah.”

“Ayo pulang.”

“Aku pulang sendiri saja.”

“Eh?”

“Hari ini aku ingin pulang sendiri, Myung. Jujur aku kecewa pada Suzy. Kenapa dia malah mencarimu, bukan aku yang sahabatnya? Aku tahu kalian memang selalu bersama sejak SD. Tapi tetap saja…”

Jiyeon mengusap air mata yang mulai menetes satu persatu. “Aku juga kecewa padamu. Kenapa kau semudah itu berjanji pada Suzy. Kau tahu posisiku. Kau tahu aku sahabatnya. Maaf, Myung. Aku egois ya?”

“Ji…”

“Aku ingin pulang sendiri dulu,” kemudian ia berjalan keluar kelas.

Park Jiyeon… aku harus bagaimana?

*—*—*—*—*

Deringan ponsel membuyarkan lamunanku. Langit sudah gelap. Aku masih di kelas. Masih duduk di bangku sebelah bangku Jiyeon.

“Jongin-ah, wae?”

“YA! KAU DIMANA?”

“Aku? Di kelas.”

“Kau… kenapa kau tidak mengantar Jiyeon pulang?” suara Jongin terdengar lirih.

Jantungku mulai berpacu.

“Wae?”

“…”

“WAEEE?”

“Jiyeon kecelakaan, Myungsoo-ya…”

Mataku mulai panas. “Ha? Jiyeon sekarang di mana?”

“Seoul Hospital. Cepatlah ke sini, di ruang ICU.”

Aku berlari ke parkiran. Ku pacu motorku dengan kencang menuju rumah sakit tempat Jiyeon berada.

Ya Tuhan, selamatkan Jiyeon. Jika memang kutukan itu benar ada, tolong hentikan, Tuhan.

Ku mohon…

….. to be continued.

Author’s note:

Maaf baru dilanjut sekarang. Author lagi sibuk wkwk. Sebagai permintaan maaf, part ini author buat agak panjangan. Maaf juga kalau kepanjangan hehe. Jangan pernah bosen buat ngasih komentar/masukannya.

Thanks for reading. Enjoy! ^^

37 responses to “[CHAPTER-PART 3] Everglow

  1. Pingback: [CHAPTER-PART 4-END] Everglow | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s