[CHAPTER-3] LIFE

liferedo

poster credit : bubbletea@hsg

LIFE

Park Jiyeon | Kim Myungsoo

Jung Eunji | Mark Tuan

Kim Jiwon | Kim Taehyung

Romance, friendship, school life, family, rich

Chaptered

T

————————————- ————————

“Mark, kenapa kau tidak memberitahukanku?” Mark baru saja akan memasukkan suapan terakhirnya ketika Myungsoo bertanya hal itu.

“Aku memberitahumu segalanya.”

“Tidak dengan tunanganmu.” Mark menaruh sendoknya kembali dan menghela nafas. Seharusnya Ia siap dengan kemarahan Myungsoo sejak tadi.

“Aku berpikir lebih baik agar yeoja itu yang mengatakannya padamu. Ia harus menjelaskan semuanya kan? Bagaimanapun kau waktu itu tidak memberikan kesempatannya berbicara.” Myungsoo terdiam. Tapi kenapa sampai sekarang Ia masih tidak terima dengan kenyataan ini. Padahal Ia juga menyetujuinya kalau menganggap Eunji sebagai adiknya.

“Kau silahkan marah padaku. Aku sungguh minta maaf.”

“Ini aneh, Mark. Aku merasa tak terima dengan semua ini.” Mark menatapnya dalam diam. Myungsoo pantas bersikap seperti itu. Bagaimanapun Eunji pernah menjadi bagian dari hidupnya.

Tiba-tiba saja terpikir sesuatu, “Myungsoo, apa kau menganggap Eunji sebagai adikmu?” Myungsoo mengangguk perlahan dan masih menunduk.

“Kau pasti juga akan merasakan ini jika aku mengencani adikmu. Kau kan tahu, aku tidak pernah serius menjalani hubungan.” Mark tersenyum tipis. Jika saja Naeun tidak meninggalkannya demi namja lain, Mark takkan seperti ini. Myungsoo tahu itu, namun tak ingin mengungkitnya.

“Ah, benar. Kau kan namja brengsek.” Myungsoo tertawa kecil. Tak seharusnya Ia mengatakan hal yang dapat membuat Mark mengingat masa lalunya dulu dengan Naeun.

“Myungsoo,  aku heran denganmu. Jiyeon itu tidak pintar, suaranya tidak sebagus Eunji, tidak seseksi Suzy, hidupnya membingungkan, juga tidak ada elegannya sama sekali. Kenapa kau menyukainya?”

Myungsoo tersenyum dan menjawab, “Karena dia tidak seelegan Jiwon, tidak sepintar Hani, tidak secantik mantan-mantanmu, dan tidak sehebat Eunji. Ia hanya terlalu berbeda. Aku sangat bodoh memang jika mengatakan ini.”

Mark tersenyum dan menepuk pundak Myungsoo, “Kau pasti akan menikah dengannya.”

“Mwo?”

“Banyak yeoja yang menginginkanmu. Kau kan keras kepala, sekalinya menyukai seseorang, akan kau lindungi seumur hidup.” Myungsoo tersenyum tipis. Ia pernah memiliki prinsip seperti itu ketika berhubungan dengan Eunji.

 

“Bagaimana hubunganmu dengan Eunji?” Mark menghela nafasnya bingung. Apa yang harus dikatakannya? Bagi Mark, ini benar-benar aneh. Sangat aneh. Namun Ia memberanikan diri memberitahu segalanya pada Myungsoo.

Myungsoo tersenyum dan menjawab, “Kau hebat, Mark. Kau sudah bisa melalui masa lalumu. Sikapmu selama ini karena menganggap semua yeoja sama, aku baru pertama kali mendengarmu bicara seperti ini.”

“Siapa yang menyangka, kalau namja brengsek sepertimu, punya hati yang beku pada yeoja.” Lanjut Myungsoo. Mark hanya tertawa kecil.

“Ahh!” Jiyeon yang berteriak kesakitan membuat seluruh siswa menoleh padanya. Jiyeon tengah berhadapan dengan Suzy dan Nayeon. Dengan ekspresi senang, terlihat bahwa mereka tadi dengan sengaja menumpahkan sup ditangan Jiyeon.

Namun melihat itu, murid lain terlihat tak peduli. Malah ada yang menertawai Jiyeon. Ya, dikucilkan. Itulah yang dirasakan Jiyeon. Bahkan setelah Jiyeon bunuh diri pun, Ia yakin tak ada yang akan merasa bersalah.

“Ah, Nayeon mempunyai teman baru? Hubungannya dengan Sana rusak setelah mengetahui—“ mark menatap Myungsoo yang tidak lagi ditempatnya. Kini namja itu tepat disamping Jiyeon dan menatap tangannya.

“Itu yang ada dipikiran kalian?! Apa kalian tetap tak bersalah dengan yang kalian lakukan?!” Suzy terkejut begitu mendapati sosok yang selama ini dikaguminya malah membentaknya. Myungsoo menarik tangan Jiyeon dengan pelan hendak membawanya ke UKS.

Sebelum itu, Myungsoo mengatakan, “Jiyeon akan melaporkan apapun yang sudah kalian lakukan.”

Nayeon berdecak meremehkan, “Siapa yang percaya dengan Jiyeon? Bahkan mereka hanya akan menuduh Jiyeon gila karena mengatakan hal bodoh itu.”

“Geurae? Kalau begitu aku yang akan mengatakannya, mereka pasti percaya dengan si peringkat umum yang tak mungkin gila kan—“ Sebelum Myungsoo menyelesaikan kalimatnya, Mark mendahuluinya.

“Atau mungkin tunangan dari putri pemegang saham terbesar disini?” sahut Mark seolah-olah membanggakan dirinya didepan Nayeon. Bukan, Mark tahu Nayeon takkan berkutik didepan Mark.

“Lebih baik yang mengatakannya itu putri pemegang sahamnya saja kan?” Eunji datang dari belakang Suzy dan Nayeon. Membuat keduanya terkejut dan tak dapat berkutik lagi.

Tapi satu hal. Jiyeon sangat ingin keluar dari semua ini. Ia tak bisa tahan dengan ketiga orang yang tiba-tiba saja membelanya seperti ini.

————————————————————-

“Kemarikan tanganmu.” Jiyeon menyodorkan tangan kanannya secara ragu. Myungsoo menghela nafas dan mulai membersihkan tangan Jiyeon yang terlihat sangat merah dengan air hangat.

“Jiyeon-ah, tak bisakah kau melawan? Harusnya kau melawan ketika diperlakukan seperti itu.” Jiyeon menundukkan kepalanya. Sampai kapanpun Jiyeon tak dapat melakukannya. Ketika melawan mereka, Jiyeon pasti akan diselimuti rasa bersalah.

“Mereka akan mengeluarkanku dari sekolah ini. Bagaimanapun, jika aku lulus dari sekolah ini, aku semakin mudah mendapat pekerjaan.”

“Kemarin itu—aku tidak berniat merendahkanmu.”

“Merendahkan? Aku juga tidak menganggapnya begitu.” Sahut Jiyeon polos.

“Jinjja? Gomawo.” Myungsoo tersenyum lebar begitu mendengar Jiyeon mengatakan hal itu. Namun disisi lain, Jiyeon tak sanggup menatap Myungsoo. Hatinya terlalu berdebar-debar.

“Maaf, adikku sempat ingin merusak mobilmu karena kau mengotori tubuhku.”

“Itu adikmu? Kau benar-benar membuatku senang hari inu.” Jiyeon menyerngitkan dahinya tak mengerti. Kenapa Myungsoo senang karena Jiyeon? Memangnya apa yang yeoja itu lakukan?

Faktanya, Myungsoo hanya terlalu senang karena namja itu bukan kekasih Jiyeon.

“Adikmu, namanya siapa?”

“Jisoo. Park Jisoo.”

Myungsoo tersenyum, “Dia tampan.”

‘Dia tampan, karena nunanya juga cantik.’ Pikir Myungsoo.

“Adikku pasti akan meminta maaf padamu jika mengetahui sifatmu yang berbeda dengan kemarin.”

“Soal itu, aku minta naaf. Supirku tak sengaja melakukannya.” Jiyeon tertawa kecil mendengar nada bersalah Myungsoo, “Tak apa, aku bercanda.”

Myungsoo merasakan seluruh tubuhnya terasa berbeda begitu melihat senyuman Jiyeon. Senyuman yang jarang sekali Ia lihat. Selama ini, Ia hanya dapat melihat tatapan menahan tangis Jiyeon.

“Aku merasa ragu ketika kau dekat denganku begini. Mereka akan semakin tidak menyukaiku.”

“Kenapa kau harus memperdulikan mereka? Ini hidupmu, Jiyeon. Aku akan mengurus siapapun yang mengganggumu.”

“Sudah.” Myungsoo merekatkan kain putih pada tangan Jiyeon agar tetap melindungi luka Jiyeon.

Myungsoo hendak berjalan keluar, “Aku—“

“Aku akan melindungimu.” Selanjutnya Myungsoo tak berani menatap Jiyeon dan berjalan keluar kelas, membiarkan Jiyeon sendiri dengan wajahnya yang memerah.

————————————————————-

“Oppa, kau bisa membantu tugasku nanti?” tanya Jiwon yang tengah berjalan bersama Mark dan Myungsoo. Namun keduanya tak merespon dan hanya diam saja.

“Mark oppa, kau benar-benar membuatku kesal.”

“Apa? Kau memintaku membantumu? Kupikir kau berbicara dengan Myungsoo. Lagipula sebenarnya siapa yang bodoh sih? Kenapa kau menyuruhku membantumu.” Sahut Mark mencubit pelan hidung Jiwon. Jangan menganggap Jiwon memiliki teman, Ia bernasib sama dengan Eunji. Sehingga Ia hanya dekat dengan kedua namja itu.

“Benar juga. Kau kan bodoh.”

“Sudahlah, aku lapar.” Sahut Myungsoo sembari mengambil tempat makan dan mulai mengantri. Namun seperti biasa, seluruh siswa akan mendahulukan mereka untuk mendapat makanan. Padahal mereka sama sekali tidak keberatan untuk mengantri.

“Semua tempat penuh.”

Hampir saja beberapa murid meningalkan tempat berniat memberikan tempat duduk untuk mereka. Namun Mark segera menahannya dan tersenyum miring, “Jiyeon dan Eunji. Mereka hanya berdua ditempat seluas itu.” Sahut Mark.

“Kau yakin mau kesana? Bagaimana jika nanti canggung?”

“Memangnya kenapa, i miss my fiance, bro.” Myungsoo hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya. Seumur hidup, jangan pernah membantah seorang Mark Tuan. Dia lebih berbahaya dari yang perkirakan.

“Sepertinya kalian duduk dalam kediaman.” Keduanya mengangkat kepalanya. Eunji yang sedaritadi berfokus pada notebook-nya sekarang menatap Mark jengkel.

“Eunji-ya,” Jiwon menyapa Eunji. Ia sedikit tersentak dan menyadari kalau sejak hubungannya dengan Myungsoo berakhir, mereka tak pernah lagi bicara bersama, padahal mereka seumuran.

“Hmm.” Balasnya tersenyum, Ia juga tersenyum pada Myungsoo dan kembali berfokus pada notebook-nya.

“Kau tersenyum pada semua orang kecuali padaku.”

“Diam kau! Masih saja banyak bicara setelah menyebabkan masalah,” bals Eunji kesal sambil menekan keras keyboard.

“What? Problem?”

“Kenapa kau memecat seluruh karyawan dibidang fashion diperusahaanku?!” seru Eunji kesal. Mark mengedikkan bahunya tak peduli, “Mereka tak bisa bekerja dengan baik.”

“Aishh, menyebalkan. Aku jadi harus mengurus semuanya.”

“Memang itu yang aku inginkan. Setidaknya kau harus memiliki saham dikeluargamu sendiri. Mr. Jung mengatakan kalau kau sama sekali tidak memiliki saham karena belum niat bekerja.”

“Benar. Sepulang sekolah, aku perlu ke KT Mall. Kau harus ikut, aku ingin kau yang mempertanggung jawabkan protes mereka.” Mark menggelengkan kepalanya menolak.

“Kau harus bertanggung jawab atas semuanya. Aku tak butuh istri yang tak bisa apa-apa.”

“Aku tak butuh suami yang kerjanya hanya menyuruh orang.”

“Bagaimana kalau sepulang sekolah kalian semua membantu tugasku? Kalian bertiga, Jiyeon juga.” Sahut Jiwon tiba-tiba.

“Apa sih yang kau bicarakan? Biarkan saja mereka bertengkar.” Balas Myungsoo malas.

“Pokoknya kalian semua harus ikut! Pulang sekolah, kumpul di kafe-ku jam 3.” Jiwon dengan santainya memutuskan itu semua. Eunji yang sudah gila dengan kerjaan dan Mark, sangat ingin mengusir mereka semua saat ini.

“Eunji-ya, apa yang kau kerjakan?”

“Aku perlu mendata mana barang asli dan palsu. Dan ini banyak sekali barang palsu. Oleh karena itu, aku perlu kesana nanti.” Jiyeon tersenyum sendiri menatap Eunji. Setidaknya yeoja itu, tak pernah membiarkan orang lain khawatir terhadapnya.

“Jiyeon, kau harus ikut.” Sahut Myungsoo. Baru saja Jiyeon hendak menolak, namun Myungsoo punya seribu alasan agar yeoja itu tetap bersamanya.

————————————————————-

Jiwon-ah, aku harus bekerja.” Jiwon menggeleng sebagai tanda penolakan untuk Jiyeon.

“Aku sudah mengatakannya kalau kau tengah pergi bersamaku, jadi gajimu takkan dikurangi.” Myungsoo hampir saja ingin bersorak dan memeluk adiknya. Jiwon sangat pintar saat ini, menurutnya. Ini waktu yang tepat untuk bersama Jiyeon.

“Bersoraklah.” Bisik Mark pelan.

Tak lama Eunji datang dengan tumblr tee pendek putih dengan celana pendek hitam dan menatap Mark tajam, “Jiwon-ah, aku perlu ke mall dulu.”

“Baiklah, kita akan ikut,” Mark menatap Eunji tersenyum puas. Kini yeoja itu memiliki banyak urusan yang perlu diselesaikan. Entah kenapa, Mark sangat tidak suka dengan yeoja yang bukan pekerja keras.

 

Eunji melemparkan cukup banyak tas dan pakaian kedalam keranjang. Beberapa dari mereka merupakan barang palsu, dan Eunji dengan cepat langsung menyadarinya.

“Agassi, sepertinya tas yang ini asli. Benar-benar sama.” Eunji menatap kembali tas itu dan tetap menggeleng.

“Mereknya terbuat dari kulit imitasi. Kulit imitasi lebih tebal dibandingkan yang asli.” Pelayan itu hanya mampu diam begitu Eunji mengatakan hal itu. Tak ada yang berani membantahnya, sekalipun Eunji paling muda disana.

Sementara itu, mereka menatap Eunji tak percaya. Yeoja itu melemparkan barang sesukanya. Mendata barang dalam waktu singkat dan mengenalinya dengan cepat. Kecuali Mark. Namja itu sudah sadar kalau Eunji memang dapat bekerja dengan baik.

“Kau terlihat seperti bukan manusia.” Sahut Jiyeon polos. Dan untuk pertama kalinya, Eunji tersenyum tulus pada Jiyeon dan tertawa kecil.

“Pelayan itu juga membicarakanku seperti itu.” Mark hampir saja menganga lebar melihat senyuman Eunji. Sejauh ini, Eunji memang tidak pernah tersenyum dan baru kali ini Mark melihatnya. Pasti akan lebih menyenangkan ketika Eunji tersenyum untuknya, pikir Mark.

“Apa lihat-lihat?” seru Eunji ketus. Mark menatap Eunji tak percaya, yeoja itu kembali lagi. Hampir saja Mark lupa, Eunji merupakan yeoja yang memiliki tembok paling tebal.

”Sekarang kita kemana?” tanya Myungsoo menatap Jiwon yang terlihat bingung.

“Tugasku—“

“—ah! Mengobservasi taman bermain. Kita keluar sekarang!” seru Jiwon langsung berlari lebih dulu sambil tersenyum. Rencananya berhasil, sebenarnya Ia tidak memiliki tugas observasi. Tugas itu berkelompok, dan Jiwon hanya menyuruh mereka. Sementara hari ini, Jiwno hanya ingin melihat mereka semua akur.

 

Ditaman, sesuai pemikiran Jiwon, mereka pasti langsung pergi masing-masing dan menyobai segala wahana yang terdapat disana. Jiwon terduduk disalah satu bangku dan menghela nafasnya lega.

Sementara mereka berempat tengah keasyikkan menaikki berbagai wahana sehingga berpisah tempat. Jiyeon dengan Myungsoo dan Mark dengan Eunji.

Mark memasukkan dua koin dan mengambil dua buah minuman. Mereka baru saja menaikki wahana yang tinggi sehingga membuat mereka berteriak. Kini Eunji hanya duduk dan mengatur nafasnya.

“Ini, kudengar kau menyukai minuman lemon.” Jawab Mark berusaha terlihat tidak peduli. Eunji mengangguk dan mengambilnya, “Aku akan membayarmu.”

“Jika minumannya seharga 10ribu won, kau boleh membayarku.” Balas Mark. Eunji memasukkan kembali dompetnya dalam tas putih kecilnya.

“Kenapa kau tetap bersikeras mendekatiku? Pertama, kau tahu aku mantan kekasih Myungsoo. Kedua, kau tahu dengan jelas-jelas kalau kau bisa menolak pertunangan ini.”

“Pertama, aku tak peduli siapa kau. Kedua, aku—“ Eunji terlihat menunggu jawaban dari Mark. Namun sepertinya Mark sudah kehilangan kata-kata. Apa yang harus dikatakannya? Kenapa Ia tidak mau menolak pertunangan ini.

“—aku tertarik denganmu.” Mark tak punya pilihan lain selain mengatakannya. Kemudian Ia menatap Eunji yang tengah menatapnya tak percaya.

————————————————————-

“Myungsoo-ya, aku lelah.” Myungsoo menghentikan langkahnya begitu Jiyeon mengucapkan satu kalimat itu. Myungsoo mengajaknya duduk ditepi pohon, menurutnya jauh lebih menyegarkan disana.

“Maaf ya, karena Jiwon kau harus melewatkan pekerjaanmu.”

“Justru harusnya aku berterima kasih, karena adikmu dan kalian semua, aku merasa jauh lebih baik dari biasanya. Hari ini aku bisa bebas.” Jiyeon memberikan senyumannya pada Myungsoo. Myungsoo pun tak dapat menolaknya selain ikut tersenyum senang.

“Bagaimana dengan Jisoo?”

“Oh, aku sudah memberitahu padanya. Dan mungkin hari ini dia mau kerumah temannya dahulu.” Myungsoo mengangguk-angguk mengerti. Setidaknya, Ia harus memperdulikan keadaan keluarga Jiyeon. Bukan hanya Jiyeon saja.

“Bagaimana dengan orangtuamu? Sudah kau beritahu?” Jiyeon hanya terdiam dan tersenyum simpul. Ia tak bisa menjawabnya sekarang, Ia belum siap untuk Myungsoo mengetahui segalanya. Ia sekarang takut Myungsoo menjauhinya setelah mendengar semua yang diketahui Jiyeon.

”Tidak apa, kalau kau tidak memberitahuku. Setidaknya aku tahu, kau bekerja keras untuk adikmu, kan?” Jiyeon hanya mengangguk pelan. Mungkin sekarang Myungsoo sudah tahu, karena Jiyeon tidak berniat memberitahukannya apapun mengenai orangtuanya.

“Jiyeon-ah, jangan pernah berpikir kalau aku akan menjauhimu, ya?” Jiyeon mengadahkan kepalanya pada Myungsoo. Namja itu tengah tersenyum padanya. Jiyeon merasakan hatinya berdebar-debar ketika menatap Myungsoo secara dekat.

Andwae! Jiyeon tidak boleh menyukai Myungsoo, mereka itu berbeda. Sangat berebda, dan Jiyeon tak pernah berani mengharapkan itu. Bahkan saat ini, Myungsoo juga pasti hanya menganggapnya sebagai seorang teman, tidak lebih.

————————————————————-

“Jika sudah selesai mengerjakan, kalian bisa langsung mengambil tas dan ponsel kalian.” Seluruh murid mengiyakan ucapan pengawas mereka. Hari ini merupakan hari pertama ujian, Jiyeon menatap lembar soalnya dan menghela nafas pusing.

Ia sama sekali tak mengerti ini. Astaga, bagaimana bisa Jiyeon mengerjakan ini semua? Uhh, sekarang saja Jiyeon baru menghitamkan beberapa soal. Ia perlu menyelesaikannya dengan cepat, supaya bisa mengambil ponselnya dan mendapatkan pesanan lagi.

KREKK

Jiyeon menatap Myungsoo yang sudah berdiri dari bangku dengan kagum. Waktu mengerjakan 2 jam penuh, dan Myungsoo menyelesaikannya dalam waktu 45 menit. Apa Jiyeon yakin Myungsoo bukan namja gila?

Mark terlihat tersenyum pada Myungsoo dan mengacungkan jempolnya. Mark sebenarnya juga sudah selesai, hanya saja Ia menunggui Eunji yang  masih fokus mengerjakan soalnya. Mark memajukan sedikit meja dan kursinya supaya lebih dekat dengan Eunji yang berada didepan mejanya. Ia menarik ikat rambut Eunji dan menundukkan kepalanya.

“Aish, namja ini, kau benar-benar…” Mark hanya tersenyum jahil namun tetap tak mengembalikan ikat rambut milik Eunji.

Jiyeon hanya tersenyum dan mulai menghitamkan jawabannya asal. Kemudian Ia bangkit berdiri dan mengumpulkan lembar jawabnya.

Ia pun langsung melangkah keluar seusai mengambil ponsel dan tasnya.

“Ya! Kalian berkencan saat ujian?” sahut pengawas begitu melihat Mark dan Eunji.

————————————————————-

“Mau kemana?” tanya Myungsoo begitu melihat Jiyeon yang akan pergi. Jiyeon menoleh dan tersenyum, “Aku ingin mengantarkan pesanan.”

“Boleh aku ikut? Atau tidak, aku akan megantarkanmu. Hari ini aku membawa motor.” Sahut Myungsoo menawarkan dirinya. Awalnya Jiyeon ingin menolak, namun Ia malah mengiyakannya. Yang dipikirannya saat ini hanyalah bersama Myungsoo.

Myungsoo mengambil motornya dan mengendarainya menuju tempat yang dituju oleh Jiyeon. Dengan 2 bungkus plastik yang berisi mangkuk jajangmyeon. Myungsoo menuju distrik Yongsan, tempat alamat itu dituliskan.

Saat sampai, Myungsoo menunggu Jiyeon didepan pintu. Ia memutuskan untuk tak masuk kedalam. Tak lama, Jiyeon keluar dengan beberapa lembar uang ditangannya.

“Mau kemana lagi?”

“Kembali saja kesekolah. Kita sudah mengantarkan semua pesanan.” Balas Jiyeon tersenyum. Alamat yang dituju keduanya tepat berada disamping sebuah club malam. Ketika Jiyeon akan menaiki motor Myungsoo, Ia menangkap sosok lelaki paruh baya yang sepertinya dikenalinya.

Ia pun memajukan langkahnya karena penasaran, begitu dapat melihat dengan jelas, Jiyeon segera menghampiri lelaki itu. Lelaki itu sadar, sehingga ketika Ia melihat Jiyeon, Ia langsung berlari dengan tubuhnya yang masih mabuk.

“Jiyeon-ah, eodiga?!” teriak Myungsoo. Jiyeon sama sekali tak memperdulikan apa-apa, yang ada dipikirannya saat ini hanyalah satu. Ia baru saja melihat appanya keluar dari club malam dan berlari menghindarinya. Semarah apapun Jiyeon, Ia sangat ingin menemui appanya.

.

 

.

TBC.

udah agak lebih panajng belum? atau partnya Jiyeon udah semakin banyak belum? komen yaaaa~ supaya lebih baik lagi nantinya.

72 responses to “[CHAPTER-3] LIFE

  1. lah kenapa ayahnya ngindarin jiyeon?
    haha jiwon gue suka sama kepekaan lo =)) wkwk
    anyway kalo tugasnya buat observasi taman bermain seru banget ya. kalo bisa tugas dari guru tiap hari ini ajalah =)) wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s