High School (Chapter 11 ‘Special’)

FF High School,.png

This story belongs to brownpills.

Romance, Schoollife, Friendship I Chaptered I PG-14

Cast by Kim Myungsoo, Park Jiyeon, Jeon Jungkook, Bae Suzy, Jung Krystal

Family Cast by

Yoon Ye Hee as Jiyeon’s mother

Jeon No Min as Bae No Min (Suzy’s father)

Lee Il Hwa as Suzy’s mother

Jo Yi Hyun & Jo Yi Hwa as Suzy’s step brother

Jo Min Ki as Suzy’s stepfather

Kim So Hyun as Myungsoo’s stepsister

Jo Deok Hyun as Kim Deok Hyun (Myungsoo’s father or So Hyun’s stepfather)

Jeon Mi Seon as Myungsoo’s stepmother or Sohyun’s mother

NEW Cast by Jung Yunho, Choi Jonghyun CN Blue

Pure of mymind. Inspired of some problems.

Let me see~

.

Suzy’s PoV

Are you listening to my heart?
Are you looking at my tears?
Only one in the world, just one
I need it to be you

High School

 

Secarik formulir yang sudah lusuh kuletakkan secara perlahan di atas mejanya yang dominan dengan stopmap berwarna cokelat. Sepasang matanya di balik kacamata tua itu melirikku dengan enggan, meminta penjelasan mungkin.

Aku menelan air liur sembari berkata, “Aku tidak akan pindah.”

Wajah yang penuh dengan gurat-gurat kelelahan itu tampak mengeras. Gerahamnya terdengar gemeretak. Dengan bawaannya yang bijaksana ia menyahut, “Apa kau tau akibatnya jika menolak ini?”

Sekolah di luar negri? Aku mengerti, appa. Kau melakukannya untuk masa depanku. Atau lebih tepatnya untuk memenuhi hasrat appa yang selalu menginginkanku menjadi seorang jaksa. Tapi—

“Aku mengerti,” tak ada lagi getirnya nada di setiap ucapanku.

Tapi—   Jaksa bukanlah cita-cita yang kuinginkan.

“Karena aku mengerti, aku mengembalikan formulir ini.”

“Suzy!” pria berumur hampir setengah abad itu mulai naik pitam.

“Aku menyerah, appa. Aku tidak bisa meneruskannya—“

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berkata jujur padanya.

“—appa, mianhae.”

Aku terus sakit dan sakit, pada titik ini, aku hanya orang bodoh. Seberapa banyak air mata yang meleleh dibuatnya. Seberapa banyak keping hati yang remuk dibuatnya. Dapatkah aku memeluknya walau hanya sekali? Dapatkah aku mengatakan selamat tinggal padanya?

Meski aku mencoba, namun tetap gagal. Kata-kata itu tertahan di ujung lidah. Dan hanya bergumam di dalam hati.

Pada akhirnya ia tidak akan pernah berubah. Ayahku adalah ayahku, dia tetap duduk di kursi kerjanya sembari menunduk. Entah apa yang dipikirkannya. Namun yang kuketahui, ia bahkan tidak memanggil namaku ketika aku benar-benar menghilang dari hadapannya.

.

.

Ting tong! Ting tong!

 

Jakkamanyo!”

 

Terdengar sahutan keras dari dalam bangunan di hadapanku. Terkesan mewah dan elegan ketika pertama kali melihatnya. Kaca lebar memenuhi sisi dinding rumah ini. Sebuah taman kecil menghiasi bagian depannya. Dua garasi terbangun di sisi taman itu.

Dentingan kecil memantul ketika pintu lebar di hadapanku menggeser perlahan. Memperlihatkan sesosok wanita yang memiliki bentuk mata yang sama denganku. Wanita itu masih anggun dengan dress tosca membalut tubuhnya.

Wajahnya seakan tercengang. Menatapku dengan kedua bola matanya yang membulat. Mulutnya terbuka sedikit.

“Soo— sooji-ya,” lembut suaranya menghapus kerinduanku.

Bibirku yang bergetar lirih berkata,

 

Eomma…”

 

***

Bulir-bulir berwarna putih saling berlomba berjatuhan dari langit yang terhampar luas. Bentuk kristalnya tak terlihat kasat mata. Karenanya, kaca yang memenuhi dinding koridor di lantai dua ini sedikit berembun.

Bahkan aku dapat melihat pantulan diriku di sana. Sesosok gadis mengenakan seragam musim dingin yang tampak manis ditubuhnya. Wajah yang biasanya dihiasi oleh lingkaran hitam di bawah matanya perlahan tidak terlihat. Gadis itu terlihat seperti burung yang baru saja terbebas dari sangkarnya. Kira-kira seperti itulah gambaranku untuk sementara ini.

Telapak tangan kuletakkan pada kaca koridor di hadapanku. Menghapus tetesan embun yang melekat di permukaannya. Membuat aktivitas di luar sana tertangkap jelas dalam pandanganku.

Sesosok gadis bersurai panjang tengah melangkahkan kakinya dengan tergesa. Wajah putihnya memerah di tengah hujan salju. Ia berusaha untuk segera melindungi tubuhnya menuju gedung ini.

Sesekali senyumnya mengembang begitu cantik. Siapa lagi jika bukan karena sosok pria yang mencoba menggodainya dengan memainkan rambut bergelombang gadis itu. Jiyeon dan Myungsoo terlihat begitu serasi di antara butiran salju.

Dadaku sedikit demi sedikit terasa pedih. Sedikit demi sedikit diriku menjadi bodoh. Jika angin bertiup, akankah cinta datang? Saat aku berdiri sendiri di tempat ini. Mengapa itu membuatku merasa sakit?

Sebuah cerita yang aneh bahwa tidak ada yang percaya. Hanya dapat dilihat oleh dirimu, diriku, dan dirinya. Aku menggambar dirimu di dalam pikiranku. Meneliti dirimu setiap hari. Apa artinya bagimu untukku? Dan bagiku untuk dirimu? Atau bagimu untuk dirinya juga?

Ketika senyum lelaki itu begitu merekah di sampingnya, aku tersadar akan suatu hal. Perasaan yang kumiliki saat ini hanya kurasakan sendirian. Perasaan yang tak terbalas, perasaan yang bodoh dan sia-sia.

Aku tahu mungkin ini akan lebih menyakitkan. Walaupun begitu hatiku ini tak dapat menolaknya.

***

Aroma sup iga menyapa hidung ketika kedua kaki menapak ke dalam ruangan yang dipenuhi oleh meja dan kursi. Sederetan hidangan lezat tertata rapi, menggugah nafsu makan bagi siapa saja yang melihatnya. Menu makan siang kali ini sedikit berbeda, ada tambahan dessert yang manis.

Krystal, Jiyeon, dan diriku sudah menempati salah satu meja makan yang terletak di tengah ruangan. Seperti biasa kantin ini terisi penuh oleh siswa siswinya, entah mereka berniat makan siang sungguhan atau hanya bergosip.

“Aish, aku tidak boleh makan ini,” keluh Krystal menatap senampan makanan di hadapannya, “Aku sedang diet.”

Ya! Kau kan yang memilih supnya,” seru Jiyeon yang duduk di depan Krystal, “Kau harus memakannya.”

Krystal mendesis pelan seraya menggeser senampan makanan miliknya ke samping dimana ada diriku yang baru saja melahap sesumpit sushi.

Uri Suzy akan memakannya,” ujarnya tersenyum semanis mungkin.

Aku hanya memutar kedua bola mataku. Menerima apa yang diberikan oleh sahabatku. Lagi, aku mencoba untuk menikmati nasi gulung dari ikan yang dilapisi oleh rumput laut itu. Mengisi perut yang sedari tadi meraung kelaparan.

“Sooji-ya,” panggil Jiyeon ragu.

Sejenak aku berhenti mengunyah sembari menatapnya.

Gwenchana?”

Pertanyaan Jiyeon yang diucapkan dengan hati-hati itu mengingatkanku kembali pada peristiwa di atap (re:Chapter10), ketika aku mengungkapkan segalanya. Padahal di sekitar kami banyak suara-suara, tetapi entah mengapa tiba-tiba terasa hampa dalam sudut pandanganku.

Hingga Krystal memeluk lenganku sambil berkata, “Aigoo~ Ternyata uri Suzy memiliki masa yang sulit~” ujarnya manja, “— seharusnya kau menceritakan kepada kami lebih awal.”

Darisitu aku menarik kesimpulan, Krystal pasti sudah mengetahuinya dari Jiyeon. Dan aku mengerti gadis itu mencoba mencairkan suasana.

Lantas aku berusaha menghilangkan ketegangan yang menyerang sekujur tubuhku. Melepaskan pelukan Krystal sembari tersenyum singkat seolah rasa kaku sepanjang urat nadiku menghilang sepenuhnya.

Kurom, nan gwenchana,” sahutku mantap.

Jiyeon menghembuskan nafasnya lega.

“Cih, menyebalkan sekali Myungsoo tau lebih dulu daripada aku,” gerutu Krystal.

Aku mencubit pipi Krystal yang memanyunkan bibir tipisnya.

YA~” geramnya disambut tawa renyah dari Jiyeon.

“Kalian tidak perlu khawatir—“ pelan-pelan aku berkata, “—sekarang aku tinggal bersama ibuku.”

Sejenak air muka Jiyeon sedikit terkejut. Namun seiring aku memberikannya senyuman, seiring pula ekspresinya berubah menjadi tenang. Krystal malah mengacak-acak poniku gemas sambil menasehatiku panjang lebar.

Benar… mulai sekarang aku tidak akan memendam masalahku sendirian. Ada Jiyeon dan Krystal. Aku bisa berbagi cerita kepada mereka, bukan?

***

Sorak sorai menggema dalam ruangan tertutup yang hampir dipenuhi oleh murid perempuan. Tidak jarang dari mereka membawa banner bertuliskan kata-kata semangat. Mereka gemar sekali berteriak kencang seolah suara mereka tidak ada habisnya.

Dan aku berada di antara gerombolan itu. Berdiri agak di depan sambil memegang erat botol air mineral. Pandanganku tidak akan lepas dari sosoknya yang lihai dalam merebut bola. Meski suhu di luar dingin, tetapi suasana dalam gedung ini semakin panas. Begitu pula dengan kulitnya yang tampak mengkilat di bawah sinar lampu karena keringat yang membasahi kaos olahraganya.

Sudah menjadi tradisi setiap kali selesai ujian semester akan diadakan berbagai pertandingan antar kelas. Kali ini giliran kelasku menunjukan kebolehannya dalam bermain futsal.

Aku menahan nafas begitu bola yang digiring olehnya melesat ke samping gawang. Teriakan kecewa dari teman-temanku terdengar. Tidak sampai disitu saja, mereka terus menyoraki kelima namja perwakilan dari kelas kami, Kai, Minho, Nickhun, Tao, dan— Myungsoo.

Nama terakhir yang kusebutkan adalah pusat perhatianku. Barang sedetikpun aku tidak akan melepaskan pandanganku darinya. Kemudian sosoknya dengan tungkai kaki panjang itu melakukan tendangan ke dalam gawan, lalu—–    Nice shoot!

Ia tampak memamerkan sederetan giginya dan menerima pelukan singkat dari teman-temannya di dalam lapangan. Bahkan tanpa sadar aku ikut menyeru di antara gerombolan teman perempuanku. Krystal yang berada di sebelahku melonjak kegirangan. Jiyeon mengepalkan tangannya di udara sembari menahan senyum lebarnya.

Saking sibuknya mengamati pertandingan tadi aku seakan lupa dengan keberadaan kedua sahabatku itu. Ketika melihat Jiyeon reflek aku mengikuti arah pandangannya. Tepat disaat itu, Myungsoo pula sedang melihat ke arah kami.

Keduanya tampak menampilkan ekspresi wajah yang belum pernah kulihat sebelumnya. Baik dari Jiyeon maupun Myungsoo, mereka saling bertukar pandang dalam diam seolah ramainya suasana lenyap dalam dunia mereka.

Kemudian ada diriku yang tak bisa menggapai senyumnya. Bahkan pria itu mungkin tidak akan menoleh padaku. Tidak mudah bagi orang yang kusukai akan menyukaiku. Saat itu tidak terjadi, tidak ada sedikit keajaiban.

Peluit tanda berakhirnya pertandingan membuyarkan lamunanku. Kelima namja itu segera menghampiri kami. Masing-masing dari nafas mereka terengah-engah seraya menyahut botol mineral dan meminum airnya dalam sekali tegukan.

 

Kau telah membuatku tergila-gila padamu. Kau membuat hatiku berbunga-bunga. Tapi kau juga membuatku menagis karena cinta. Cinta yang tertahan karenamu.

 

Jelas sekali Myungsoo berjalan ke posisi dimana aku berdiri terpaku. Tinggal beberapa langkah lagi, tapi ia berhenti tepat di hadapan sesosok gadis yang berada pada sebelahku— Park Jiyeon.

 

Kadang rasanya kau begitu dekat hingga bisa kugapai hatimu, meski hanya seolah-olah saja.

 

Senyum di wajahku memudar perlahan. Tanganku yang memegang -satu-satunya botol yang tersisa- mengendur, tidak ada yang meminum air mineral ini, batinku.

 

Tapi jika aku melakukannya, berusaha menggapai hatimu, kau akan mulai menjauh dariku. Oh, alangkah mengesalkan sekali, sekaligus mendebarkan.

 

Sepertinya mereka tidak menyadari akan perubahan sikapku. Karena mereka hanya berbagi tawa renyah. Bahkan Jiyeon memberikan handuk kecil kepada Myungsoo. Pria itu menerimanya untuk menyeka keringat di pelipisnya. Aku yakin sekali mereka tengah menyeru bahagia, tetapi pendengaranku seketika menjadi tuli, duniaku seketika mengecil, dan hatiku seketika menjadi sakit.

 

Sepertinya cintaku padamu ini hanyalah cinta yang bertepuk sebelah tangan. Cinta yang keindahannya hanya kurasakan sendirian. Kumohon berhentilah seolah mendekatiku. Karena itu menyedihkan.

 

To be continued—

Welcome to 2016 ^^! Hampir 3 bulan Hara menghilang dan sekarang muncul lagi nerusin ff ini yang sempat terbengkalai. Masih adakah yang menunggu kelanjutan ff ini? T_T Sebisa mungkin Hara sempetin buat ngerampungin ff ini. Maapin Hara juga karna baru muncul di permukaan :(( yang jelas ff ini akan tetap berlanjut, semoga masih ada yg setia :”) paipai~

23 responses to “High School (Chapter 11 ‘Special’)

  1. aigoo kasian juga yya suzy cinta’y hrs bertepuk sebelah tangan,,
    tp mw bagaimana pun jg jiyeon hllebih cocok sma myungsoo, suzy sma kookie ajj deh,, ya ya
    di tunggu bggt loh next chap’y,, aku berharap sih cepet di publish yya next chap’y,,

  2. Dan jujur aja agak lupa dgn cerita ff ini hehe

    Duhhh bca pov Suzy kok berasa sedihh bgt ya pengungkapan tntg cinta bertepuk sebelah tangannya bagus bgt jadi sedihhhh

    Kookie kemana ni… Kookie bersama Ku hihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s