[Chapter-2] LIFE

liferedo

poster credit : bubbletea@hsg

LIFE

Park Jiyeon | Kim Myungsoo

Jung Eunji | Mark Tuan

Kim Jiwon | Kim Taehyung

Romance, friendship, school life, family, rich

Chaptered

T

Jiyeon termenung dijalan pulang begitu mengecek uang didalam rekeningya. Terakhir mengeceknya, hanya ada 500ribu won, lalu apakah memang wanita itu yang mengirimkan uangnya?

Kenapa Ia harus memberikan uang sebanyak itu? Ia menyalakan ponselnya dan menghubungi bos nya dan menanyakan nomor telepon dan alamat pemesan yang tadi, “Jiyeon-ah, meskipun kau ini pekerja disini, saya tetap tidak boleh memberikan identitas pembeli.”

“Kalau namanya?”

“Namanya? Jung Ahyoung.” Jiyeon segera mencari tahu mengenai wanita bernama Jung Ahyoung, namun Ia tak menemukan apapun. Bahkan yang ditemukannya dengan nama Jung Ahyoung hanyalah anak berumur 3 tahun, wanita paruh baya, serta ada yang sudah meninggal.

“Apa Ia menggunakan nama palsu?”

Jiyeon kembali menghubungi bosnya dan menanyakan tentang hal itu. “Saya tidak masalah mereka memakai nama palsu atau tidak. Disini restoran tteokbeokki, Jiyeon! Bukan sebuah kantor polisi, saya juga bukan detektif jadi berhenti mengganggu saya!”

Jiyeon menatap ponselnya kesal. Lalu kembali berpikir, bagaimana pun caranya, Ia harus mengembalikan uang ini. Sekalipun diberikan bonus, paling banyak itu sekitar 100ribu won, bukan sampai 10juta won.

“Ah, aku harus menjemput Jisoo.”

————————————————————-

“Eonni, kau sudah bertemu dengannya?”

“Ya, aku mengatakan kalau namaku Jung Ahyoung, bukan Min Ahyoung. Seperti kemauanmu kan?” Eunji mengangguk dan tersenyum. Ahyoung yang berprofesi sebagai sekretaris pribadinya jauh lebih mirip sebagai kakak Eunji.

Sebagai anak tunggal, Eunji disebut kesepian. Beruntung saja appanya memilihkan orang yang baik dan dapat dipercaya. Ahyoung pun tak keberatan saat Eunji memanggilnya eonni. Itu membuatnya lebih nyaman, belum lagi Ia agak kasihan karena Eunji yang kesepian.

“Bersiap-siaplah. Aku sudah menyiapkan pakaianmu, sebentar lagi kau akan menemui lelaki tampan.” Sahut Ahyoung tersenyum. Namun Eunji malah mendelik kesal.

“Aku pikir kau lupa tentang ini.” Ahyoung menggeleng-gelengkan kepalanya sembari melihat Eunji yang sudah mengambil pakaian blouse hitam berkerah putih dengan rok pendek berwarna putih.

“Kau suka bajunya? Aku membelikannya untukmu, siapa tahu kau mau menemui lelakimu setelah memakai pemberianku.”

“Eonni mengatakannya seolah-olah ini pakaian ini asli saja.” Gerutu Eunji tetap sebal. Ahyoung hanya tersenyum, “Itu asli! Aku memesannya di Prancis. Kau tidak akan terkena alergi saat memakainya, kok.” Eunji tersenyum, hanya untuk Ahyoung. Mungkin lebih tepatnya, hanya Ahyoung yang dapat membuat Eunji tersenyum senang seperti itu.

“Sejak hubungannya berakhir, aku sangat susah menemukan senyuman aslinya..” lirih Ahyoung pelan. Ahyoung menyadari, senyuman yang selama ini dicarinya hanya beberapa saat tertentu saja diberikan olehnya. Sekalipun hanya Ahyoung yang dapat membuatnya begitu.

————————————————————

Eunji hampir saja memuncratkan air yang tengah diminumnya kala mendapati siapa namja yang dijodohkan kepadanya. Ma—mark tuan?? Dari semua namja yang harus ditebaknya, kenapa harus Mark? Eunji bisa gila bila memiliki namja sepertinya.

“Kalian pasti sudah mengenal kan?” tanya Nyonya Jung menatap Eunji lembut. Eunji hanya mengangguk pasrah. Ia menatap Mark yang terlihat tidak peduli lagi.

“Saya sudah memesan,” sahut Mr. Tuan. Kedua orangtua Eunji mengangguk dan tersenyum. Eunji seketika bangkit berdiri dan izin ke toilet. Mark menatapnya sembari tersenyum miring dan mengikutinya.

“Biasanya yeoja ingin mengajak bicara jika izin pergi begitu saja.” Sahut Mark yang langsung membuat langkah Eunji terhenti.

“Apa aku menyuruhmu mengikutiku?”

“Mungkin aku yang ingin mengatakan. Perjodohan ini cuma sebatas bisnis, tapi aku takkan membuatnya menjadi sebatas bisnis.”

“Kenapa kau mengatakannya padaku?”

“Aku hanya mengingatkanmu agar menjaga hatimu.”

“Beginikah caramu merayu mantan-mantanmu?”

“Ini pertama kalinya aku mengatakan hal ini. Untukmu.”

Eunji memutarkan bola matanya malas, “Baiklah, terimakasih.” Balasnya singkat kemudian masuk ke dalam toilet dan membersihkan wajahnya yang dimake up. Tadi eommanya memaksa pelayannya untuk memberi make up pada wajahnya, namun Ia sangat tidak nyaman dengan ini.

Begitu selesai, Ia melangkah keluar dan mendapati Mark masih menunggunya.

“Oh, kau sudah memulainya.”

“Kalau tidak sekarang, aku tak yakin apa benar kita akan menikah.” Jawabnya. Eunji menatap Mark geram, namja ini benar-benar tak pantang menyerah. Bahkan selalu asal berbicara.

“Keluargaku akan membantu perusahaan keluargamu, jadi berhentilah. Aku jijik mendengarmu bicara seperti ini,”

“Bukankah yang harus dibantu itu perusahaanmu? Dan juga, apa setelah kau menyukaiku, kalimatku yang tadi masih kau anggap jijik?” lagi-lagi Mark dengan mudahnya membalas perlakuan jutek Eunji.

“Ayo kembali.” Eunji tak lagi ingin berbicara dengan Mark sehingga Ia berjalan lebih cepat sehingga lebih cepat juga Ia sampai dimeja makannya.

“Kalian banyak mengobrol ya tadi?” tanya Mrs. Tuan senang.

“Yes, mom.” Jawab Mark sambil menekankan kalimatnya. Tak usah disengajakan pun aku mendengarnya, pikir Eunji sebal.

“Kami sudah membicarakannya selama kalian pergi tadi. Kalian akan ditunangkan saat ulang tahun YM Group tahun depan. Kalian masih punya banyak waktu untuk saling mengenal.”

“Eunji-ya, mulai sekarang cobalah panggil Mark dengan sebutan oppa. Dia lebih tua setahun darimu.”

“Arraseo, mwo?” Mark menatap Eunji dengan senyuman puas begitu yeoja itu terlihat kaget.

“Ah, ya.” Sahutnya pelan. Eunji baru mengetahuinya sekarang, umur Mark sama dengan umur Myungsoo. Satu pikiran jahat mengenai Mark, pasti namja itu tidak naik kelas. Berbeda dengan Myungsoo yang memang terlambat satu tahun.

Bagaimana mungkin Myungsoo tidak naik kelas? Ia kan juara umum disekolah.

“Mark pernah mengalami peristiwa cukup sulit sehingga membuatnya berhenti setahun disekolah.” Ujar Mr. Tuan yang langsung membuat Eunji salah tingkah. Seolah-olah mereka tahu kalau Eunji baru saja memiliki pikiran negatif pada Mark.

————————————————————-

“Jisoo-ya, kau bertengkar lagi?” tanya Jiyeon sabar begitu melihat luka lebam disekitar area pipi dan sudut bibir Jisoo.

“Mianhae, nuna. Aku marah karena mereka mengataimu pel*c*r. Nuna selalu pulang malam, padahal nuna kan bekerja demi kita berdua.” Jiyeon tersenyum lirih menatap Jisoo. Dongsaengnya ini selalu membuatnya kagum. Jisoo tak pernah membiarkan satu orang pun melukai Jiyeon.

“YA! Bagaimanapun juga, jangan memukul orang lagi! Kau bisa katakan pada mereka, kan? Kalau kau memiliki nuna yang hebat.” jawab Jiyeon terkekeh.

“Itu tak berguna, nuna. Mereka akan terus mengatakan itu.”

“Hhh, Jisoo-ya. Kau sudah seperti oppa bagiku. Lihat saja badanmu yang jauh lebih tinggi besar dariku.” Jiyeon mencubit pipi Jisoo pelan.

“Tujuanku memang ingin menjadi oppamu, nuna. Aku yang akan melindungimu.”

“Mereka bisa saja mengira kita berpacaran.”

“Aku tidak masalah, selagi aku belum memiliki yeoja.” Keduanya terkekeh. Saat itu sebuah mobil tak sengaja melintas disamping Jiyeon dan membuat decak-decak air membasahi Jiyeon. Jisoo hampir saja memecahkan kaca mobil itu ketika seseorang membuka kacanya.

“Maaf.” Jawab Myungsoo membuat Jiyeon tersentak. Myungsoo menatap mereka bergantian dengan tatapan tak bisa ditebak.

“Mau kuantar?”

“Tidak perlu, terimakasih.” Jiyeon langsung menarik Jisoo dan melengos pergi, dipikirannya saat ini sangat buruk. Bagi Jiyeon, Myungsoo tidak seharusnya melihatnya seperti ini. Myungsoo pasti akan berpendapat sama dengan teman-temannya.

Myungsoo masih didalam mobil dan sedikit termenung seusai pertemuannya dengan Jiyeon barusan. Bagaimana jika Jiyeon menganggap tawarannya tadi sebagai ejekan? Di drama-drama biasanya seperti itu, kan? Bagaimana jika setelah ini Jiyeon membencinya? Bagaimana jika Jiyeon tak ingin berbicara dengannya? Oh ayolah, Myungsoo baru saja ingin memulai pendekatannya.

Pendekatan? Pikiran Myungsoo pun teralihkan. Siapa namja yang bersama Jiyeon? Mereka terlihat akrab sekali, terlalu akrab untuk dikatakan teman. Apa itu kekasih Jiyeon? Kenapa Myungsoo tak pernah melihat mereka berdua disekolah? Apa namja itu dari sekolah lain?

Eh, sepertinya Myungsoo pernah melihatnya. Namja itu bersekolah di Hanlim Junior High School kan? Hanlim merupakan cabang dari sekolah Myungsoo, Daimundo International School. Hanlim hanya terletak disamping Daimundo.

Ah! Terlalu banyak pertanyaan dalam pikirannya, yang sedaritadi mengganggunya. Seharusnya Ia tak perlu mengurusi hidup seseorang yang bahkan tak memperdulikannya.

“Tuan, sudah mau jalan lagi?”

“Mwo? Kita masih berhenti?” myungsoo menatap supirnya cengo dan langsung menutup matanya tak peduli lagi. Banyak sekali, kejadian hari ini yang membuatnya gila!

————————————————————-

“Myungsoo-ya, dia tidak baik, dia tidak ramah, dia tidak bisa tersenyum, dan juga tidak seksi.” Sahut Mark berusaha menceritakan pertemuannya dengan Eunji.

“Aku menemuinya dijalan…” Myungsoo masih mengingat kejadian tadi.

“Dia angkuh dan memandang rendah kepadaku, Myung.”

“Dia menolak tawaranku, pasti Ia marah padaku sekarang,”

“Tapi itu membuatku tertarik.” Keduanya sama-sama mengatakan hal itu. Keduanya saling menoleh dan melempar tatapan jijik.

“Orang mengira kita gay, kalau seperti ini. Apa yang mau kau ceritakan?” tanya Mark. Myungsoo menggeleng pelan lalu menyahut, “Kau saja, aku tidak penting. Itu tidak penting.”

“Hal yang tidak penting menurutmu, suatu saat akan menjadi hal terpenting untukmu. Ceritalah, sebelum kau menyesal.”

“Aku menemui Jiyeon dijalan pulang tadi. Aku menawarinya tumpangan untuk mengantarnya pulang. Jiyeon menolaknya, pasti dia berpikir aku tengah meremehkannya.”

“Bagaimana jika Jiyeon berpikir kalau kau tidak seharusnya tahu mengenai kehidupannya?” myungsoo menatap Mark bingung, namun sepertinya Mark tidak berniat menjelaskan itu.

“Lagipula, apa yang ada dipikiranmu hingga bisa menyukainya. Kau sendiri mengatakan kalau dia berbeda derajat dengan kita.” Ujar Mark sembari mengambil jaket hitamnya. Sebentar lagi Ia ingin ke club. Pikirannya perlu dijernihkan.

“Kau sendiri mengatakan kalau umur hanyalah angka, begitupun perbedaan derajat. Itu hanyalah hal tidak harus dipusingkan.” Mark mengangguk-anggukkan kepalanya. Terserah Myungsoo saja. Mark bukan orang yang harus mengatur kehidupannya. Myungsoo bisa menentukan pilihan hidupnya sendiri.

“Baiklah, aku akan pergi. Kau mau ikut?”

“Aku takkan membiarkan diriku menjadi brengsek sepertimu, bro.”

“Kau harus berterima kasih karena seorang namja brengsek ingin bersahabat dengan namja yang hanya tahu belajar, prestasi, dan perusahaan.” Mark tertawa kecil dan melakngkah keluar dari kamar Myungsoo. Myungsoo menatap kepergiannya dan menggelengkan kepalanya.

“Lagi-lagi menggunakan jaketku.”

————————————————————-

“Ulangan pertengahan semester kalian, akan diambil secara praktek. Bernyanyi secara pasangan. Saya yang akan menentukan pasangannya.” Banyak murid mengeluh karena mereka terus-terusan disuruh praktek menyanyi.

Mr. Ahn tengah memilihkan pasangannya, “Jiyeon, kau dengan—“

KREKK

Mark baru sampai dan menatap mr. Ahn datar, “I’m sorry, sir.” Mr. Ahn mengangguk dan menoleh kesekelilingnya. Tak ada namja yang cocok dengan Jiyoen, menurutnya. Namun Ia langsung berseru, “Oh, Mark! Jiyeon dengan Mark.”

Mark menatap Mr. Ahn tak mengerti. Apanya yang dengan Jiyeon? Apa mereka diberikan tugas perkelompok?

“Ulangan tengah semster, kau akan bernyanyi dengan Jiyeon.” Bisik Myungsoo yang berada disampingnya. Mark hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sembari mengeluarkan ponsel dari sakunya.

Mark menatap ke depan, bukan pada Jiyeon. Tapi pada Eunji, yeoja itu tersenyum tipis karena tidak dipasangkan dengan Mark.

“Myungsoo dengan Eunji.” Sekelas mendadak hening begitu Mr. Ahn menyebutkan nama tersebut. Mereka semua tahu kalau Myungsoo merupakan mantan kekasih Eunji. Mereka tidak pernah berbicara lagi sejak saat itu, dan sekarang malah dipasangkan?

“Wow, you’re lucky, Myung. Eunji can sing well, right?” tanya Mark sambil menertawakan Myungsoo yang terlihat tak percaya.

Mr. Ahn tidak melihat Myungsoo dan terus menetapkan pasangan. Tak lama, Ia mengatakan, “Sekarang kita ke aula musik. Jam pelajaran ini akan dipakai untuk kalian berlatih.”

 

“Lagu apa yang ingin kau pakai?” tanya Jiyeon ragu begitu melihat Mark yang sepertinya tidak peduli dengan tugas ini.

“Sesukamu.” Jiyeon mengangguk-anggukkan kepalanya dan mencari beberapa lagu yang dapat mereka nyanyikan. Namun saat itu banyak yang menatapnya tak senang, mungkin lebih tepatnya iri pada Jiyeon.

Namun sungguh, mereka seperti ingin memangsa Jiyeon hidup-hidup.

“Ini saja, A Midsummer’s Night Sweetness.” Jiyeon menghela nafasnya, mau sampai kapan mereka memperhatikannya seperti itu.

“Ini bukan saatnya untuk memperhatikanku, kan?” Mark sedikit berteriak agar mereka mendengarkannya. Setelah itu seluruh yeoja yang tadi sempat memperhatikannya pun menunduk malu.

“Lagipula, kenapa mereka memperhatikannya? Seperti namja itu manusia paling hebat saja.” Gerutu Eunji dengan suara pelan.

“Aku mendengarmu dengan jelas, Jung-ssi.”

“Aku tidak bisa bernyanyi.”

“Dilagu ini, kau akan melakukan rap. Aku dengar kau jago dalam hal itu.”

 

“I Love You by Akdong Musician, kau bisa?” tanya Eunji langsung. Sungguh, disaat seperti ini Ia sangat ingin menjelaskannya kembali pada Myungsoo.

“Ya—“

“—kenapa kau berbohong padaku?” tanya Myungsoo langsung. Eunji menatapnya tak percaya, Myungsoo sudah mengetahuinya? Taehyung yang memberitahunya?

“Apa kau akan percaya padaku kalau aku mengatakannya?” Myungsoo menghela nafasnya kasar. Eunji benar, selama ini yeoja itu selalu ingin menjelaskannya, tapi Myungsoo tetap kukuh dengan sepenuhnya menganggap itu kesalahan Eunji.

“Sampai sekarang, aku masih berharap kita dapat memulai hubungan kembali—“ Hati Myungsoo tergerak begitu Eunji mengatakan hal itu. Haruskah mereka memulai kembali hubungan mereka.

“—tapi tidak bisa. Aku sudah dijodohkan.” Lagi? Kenapa hati Myungsoo terasa sakit? Sepertinya bukan karena Myungsoo masih mencintainya. Myungsoo merasa sakit, karena yeoja itu tak pernah berhak untuk memilih cintanya sendiri. Seluruh kehidupannya berada ditangan orangtuanya, dan Eunji bukan yeoja yang semudah itu mengelak segalanya.

“Kali ini—siapa?” Suara Myungsoo terdengar berat saat menanyakan hal itu.

“Aku sekarang baru menyadari, hubungan kita selama ini hanyalah sebatas kakak-adik. Sekalipun aku masih mengharapkanmu, aku hanya menginginkanmu sebagai pelindungku. Waktu itu, kau orang pertama yang mengetahui kehidupanku, kedua orangtua yang selalu memaksaku, aku yang kesepian karena anak tunggal. Kau mengetahui segalanya. Tapi aku baru sadar, sikapmu selama ini tidak lebih dari seorang kakak yang melindungi adiknya. Ini yang selama ini ingin kujelaskan padamu, oppa.”

“Kutanya, kali ini siapa namjanya, Ji?” tanya Myungsoo pelan begitu melihat mata Eunji yang terlihat menahan airmatanya. Namun Ia kembali tersenyum—dipaksakan saat Myungsoo kembali menanyakan hal itu.

“Sahabatmu. Namja itu adalah sahabatku. Seseorang yang sekarang dijodohkan denganku.” Myungsoo merasakan dirinya tak bisa lagi bernafas saat mendengar Eunji mengucapkannya.

“A—apa?”

.

 

.

TBC.

untuk yang masih bertanya kenapa aku belum melanjutkan 18 years old, dikarenakan filenya terhapus semua dan itu langsung bikin author down banget. jadi kelanjutannya belum author tetapkan kapan.

78 responses to “[Chapter-2] LIFE

  1. aduh diapasangin sama mantan wkwk tapi dengan begitu permasalahan mereka udah clear lah ya dikit wkwk
    emm jiyeon mark oke juga tuh:/
    kok sifatnya mark bikin kesel yah? minta oe kawinin kali ya ni orang =))

  2. Kyknya myung suka sma jiyeon deh
    Bagaimana reaksi myung nanti kalau tau yg dijodohkan dengan eunji saat ini ternyata mark?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s