[CHAPTER-PART 1] Everglow

(FF-poster) Everglow

Author  : Agnes Febiola

Main Cast : Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Bae Suzy, Choi Minho

Additional Cast : … find it yourself, eoh? Kkk😉

Genre : Romance

Rating : G

EVERGLOW

Part 1 : “Strange things happen.”

29 Desember 2011

“Sudah kuduga cuma kau yang di sini. Annyeong, Park Jiyeon!” kepala seorang namja menyembul dari balik pintu. Namja tersebut memasuki ruang kelas yang hanya diisi seorang yeoja yang sedang menelungkupkan kepalanya di meja. Dia meletakkan tas di bangkunya yang berada pada barisan depan, kemudian menghampiri Jiyeon di barisan belakang.

“Kau kenapa? Peringkatmu turun?”

“Aku belum melihatnya, Kim Myungsoo,” jawab Jiyeon, masih dengan kepala menelungkup.

Myungsoo menatap Jiyeon heran. Teman sekelas sekaligus rivalnya sejak kelas satu SMA ini biasanya selalu menyambutnya dengan ceria di hari yang penting ini. Hari di mana peringkat diumumkan, dan selama dua tahun berturut-turut, mereka selalu memegang peringkat paralel. Jiyeon peringkat satu paralel, sementara Myungsoo setia mendampingi di peringkat kedua. Dan saat ini semua anak pasti selalu bergerombol melihat hasil ujian sekaligus peringkat mereka, kecuali Jiyeon yang tidak pernah penasaran dengan peringkatnya. Mungkin karena dia sudah tahu dia peringkat berapa. Sejak sekolah dasar, gadis itu tidak pernah lepas dari peringkat satu.

“Kau sakit?” Myungsoo memegang pundak Jiyeon pelan.

Kali ini Jiyeon mengangkat kepalanya. Memindahkan tangan Myungsoo yang bertengger di bahunya ke meja. “Jangan bertingkah seolah kita teman dekat,” Jiyeon menyipitkan mata. “Kau pasti peringkat dua lagi. Sebaiknya kau kembali ke tempatmu dan belajar,” ini adalah kalimat yang ditunggu Myungsoo. Kalimat yang selalu menyapanya di tiap semester. Entah kenapa, dia merasa kalimat sapaan, atau tepatnya ejekan Jiyeon, terdengar berbeda di tahun ini. Tahun terakhir mereka di SMA.

Myungsoo bergeming. Biasanya setelah mendengar ejekan Jiyeon tersebut dia akan mulai berargumen dan berujung pertengkaran kecil mereka. Tapi Myungsoo bergeming. Memandang lekat gadis di depannya dengan tatapan curiga. “Aku serius. Kau sakit?”

“Bukan urusan-“ kalimat Jiyeon terpotong oleh dering ponsel Myungsoo.

“Halo? Nugu.. ah, Naeun-ah. Ada apa? Nanti sore?” Myungsoo masih tetap menatap Jiyeon. “Maaf aku lupa. Baiklah nanti sore kau tunggu di depan gerbang sekolahmu. Eoh… sampai nanti,” pembicaraan di telpon pun berakhir.

“Jiyeon-ah, tadi itu Naeun dari-“

“Jiyeon-ah!” seorang gadis mereka menghampiri Jiyeon dengan terengah-engah. Gadis yang memotong ucapan Myungsoo tadi adalah Suzy. Teman sebangku Jiyeon sejak kelas satu. Suzy adalah anggota dari tim basket SMA mereka. Dan bola basket seolah tidak pernah jauh darinya. Saat ini pun dia memeluk bola basket kesayangannya erat. “Kau… kau peringkat… dua. Kali ini kau peringkat dua, Jiyeon-ah. Dia peringkat satu!” tunjuknya pada Myungsoo.

Myungsoo membuka mulutnya lebar. Sangat lebar.

Jiyeon mengambil bola basket di tangan Suzy dan menempelkannya ke mulut Myungsoo. “Biasa saja. Aku tidak peduli, Suzy-ah.”

“Ya! Park Jiyeon!” Myungsoo mengibaskan bola basket di mulutnya. Alhasil, bola basket Suzy terpental.

“Ya! Kim Myungsoo! Bola basketku!” Suzy memukul kepala Myungsoo dan berlari mengambil bola basketnya yang sudah menggelinding ke luar kelas.

Jiyeon tertawa kecil.

“Kau sudah melihatnya kan? Makanya kau terlihat lemas sejak tadi. Kau shock karena peringkatmu turun,” tuduh Myungsoo.

Tawa Jiyeon terhenti. Dia menatap tajam Myungsoo.”Aku belum melihatnya dan sudah kubilang, aku-tidak-peduli.”

Jiyeon berdiri meninggalkan Myungsoo.

Myungsoo membuka aplikasi game di ponselnya dan mulai berargumen. “Aku tidak percaya. Mungkin kau terlalu gengsi untuk mengakui kekalahanmu,” dia yakin setelah ini Jiyeon akan berbalik menghampirinya, dan pertengkaran mereka akan dimulai. Entah kenapa dia suka dengan ‘rutinitas’ ini. Dia merasa lega karena hari ini tidak ada yang aneh. Semua berjalan seperti biasa.

“Jiyeon-ah!” pekikan Suzy mengagetkannya. Dia melihat Jiyeon telah terkapar di lantai. Jantungnya berdegup kencang. Tanpa memedulikan ponsel yang terlepas dari tangannya, dia menghampiri Jiyeon. Membopongnya menuju UKS.

Hari ini tidak seperti biasanya bagi Myungsoo.

*—*—*—*—*

Jiyeon membuka matanya perlahan. Samar-samar dia memandangi sekelilingnya. UKS sekolah. Dia merasakan tatapan dingin dari namja yang duduk dengan tangan terlipat di sampingnya.

“Kau sudah sadar? Ya! Kau tidak tahu betapa khawatirnya aku dan Suzy tadi. Jiyeon-ah, nilai tidak sepenting itu. Peringkat dua bukan hal yang buruk. Lihat aku, selama ini aku peringkat dua tapi masih baik-baik saja. Suzy…” dia menoleh ke sekeliling, memastikan tidak ada Suzy di sekitarnya. “Suzy yang selalu ada di peringkat bawah juga baik-baik saja,” Myungsoo mulai menceramahi Jiyeon panjang lebar.

“Hahahaha…”

“Eh? Kau tertawa? Aku tidak bercanda. Nilai hanyalah angka, Jiyeon-ah.”

“Cukup, Myungsoo-ya. Tidak usah sok tahu. Aku tidak pingsan gara-gara peringkatku turun. Kau pikir aku apa?”

Myungsoo mendekatkan wajahnya ke wajah Jiyeon. “Kalau begitu, kau sakit? Eoh?”

“Myungsoo oppa! Aku mencarimu dari tadi. Aku telepon tidak kau angkat,” seorang gadis dikucir kuda menyibak tirai UKS, lalu berkacak pinggang.

Masih dengan wajah yang berdekatan dengan Jiyeon. Dia menoleh ke arah gads tersebut. “Mianhae, Yeri-ya, ponselku mungkin saat ini masih tergeletak di lantai,” dia menoleh ke arah Jiyeon. “Jiyeon-ah, dia Yeri, anak kelas satu.”

Jiyeon menjauhkan wajah Myungsoo. “Aku tidak peduli.”

Annyeonghaseyo, Jiyeon eonni,” sapa Yeri.

“Kau mengenalku?”

Yeri tertawa ceria. “Siapa yang tidak kenal Jiyeon eonni. Juara paralel sekolah ini.. ups, hari ini sudah tidak ya? Kabarnya eonni pingsan gara-gara turun ke peringkat dua. Ternyata benar. Hihihihi.”

“Yeri-ya! Jangan sok tahu,” ucap Myungsoo dingin. Jiyeon menatap Myungsoo heran. Bukannya lima menit yang lalu, namja ini mengomelinya, menuduhnya sama seperti apa yang dikatakan Yeri.

“Hehe… arasseo, oppa. Eonni, mianhaeyo.”

“Ngomong-ngomong, ngapain kau ke sini mencariku?”

Yeri mencebik. “Kau berjanji bahwa akan mentraktirku makan hari ini, oppa. Ayo cepat, habis ini jam istirahat selesai,” rengeknya.

Jam istirahat hampir selesai? Jiyeon ingat dia pingsan saat jam pertama. Selama itu Myungsoo menunggunya sadar?

“Ah, iya…” meskipun meng-iya-kan, Myungsoo masih berusaha mengingat kapan dia berjanji pada Yeri. “Kalau begitu, coba kau jemput Suzy di lapangan basket. Suruh dia menggantiku menjaga Jiyeon. Lalu kembalilah ke sini, kita makan bersama di kantin.”

“Tidak usah, Myungsoo-ya. Kau langsung pergi saja. Suzy pasti sedang latihan untuk turnamen minggu depan,” tolak Jiyeon.

Myungsoo menggeleng. “Yeri-ya, kau tunggu sini sebentar. Kau jaga Jiyeon.”

Belum sempat Yeri bereaksi. Myungsoo sudah melesat pergi.

*—*—*—*—*

“Jiyeonie gwaenchana?”

“Eoh, Kai-ssi?

“Yaa!”

“Haha arasseo, Jongin-ah. Kau mau menjenguknya? Dia ada di UKS,” Myungsoo menjawab pertanyaan Jongin sambil memegang tiga botol air mineral dan lima bungkus roti. Namja ini terlihat kewalahan.

Tanpa banya bicara Jongin mengambil botol-botol air mineral di tangan Myungsoo. “Kau mau ke UKS kan? Kajja. Aku sekalian mau melihat Jiyeon.”

“Eoh? Kau tidak perlu meli-” Myungsoo mendengus melihat Jongin yang sudah berjalan menjauh. “Ya, kachi gaa.”

*—*—*—*—*

“Jiyeon eonni dan Myungsoo oppa berpacaran?” tanya Yeri setelah Myungsoo pergi.

“Eh? Ani…”

“Syukurlah, hahahaha.”

“Yeri-ya, kau suka Myungsoo?”

Yeri mengangguk penuh semangat. “Tentu saja, eonni. Cuma orang tidak normal saja yang tidak suka pada Myungsoo oppa.”

Berarti aku tidak normal? Batin Jiyeon.

“Jiyeon cantiiik, gwaenchana?” Jongin memberikan satu botol air mineral pada Jiyeon. Kedatangan Jongin membuat Yeri terpaku. Seminggu yang lalu sekolah digemparkan dengan munculnya teaser boyband terbaru SM entertainment. Dan kini, tokoh di dalam teaser tersebut ada di hadapannya.

“Playboy-satu, kau tidak usah mulai menggombal,” ujar Jiyeon sambil meringis pada Jongin. Jongin terkekeh sambil mengacak rambut Jiyeon.

“Aku playboy-satu? Siapa playboy-dua? Playboy-tiga?” tanya Jongin penasaran sambil duduk di samping Jiyeon.

“Cuma sampai dua kok. Kau dan… ada pokoknya satu orang lagi,” lalu Jiyeon menoleh ke arah Myungsoo. “Untuk apa roti sebanyak itu?”

Myungsoo melemparkan satu roti stroberi pada Jiyeon. “Untuk dimakan, pabo-yaa.”

Myungsoo memberikan satu untuk Yeri. “Yeri-ya, mianhae. Aku tidak bisa makan denganmu hari ini. Lain waktu, oke? “

Yeri hanya bisa menghela napas pasrah. “Baiklah, oppa. Itu sisa rotinya boleh aku bawa ke kelas, untuk teman-temanku?”

“Andwae. Itu untuk Jiyeon.”

Jongin tersenyum mendengar jawaban Myungsoo. Sementara Jiyeon mengerutkan dahinya. “Aku?” tanya Jiyeon.

“Jiyeon eonni bisa menghabiskan roti sebanyak itu?”

Myungsoo menyeringai. “Tentu saja. Kau pasti kaget kalau tau porsi makannya.”

“Wah, tapi eonni kurus ya. Aku jadi iri.”

Bel masuk berdering.

Jongin menepuk puncak kepala Jiyeon ringan. “Karena semua yang dia makan masuk ke otak. Hahahaha. Kajja, Yeri-ya, waktunya masuk kelas.”

Yeri melongo. “Kai oppa, tahu namaku?”

“Myungsoo tadi menyebut namamu. Ah, tidak usah memanggilku Kai. Panggil Jongin saja seperti biasa,” Jongin tersenyum. “Kajja, Yeri-ya,” dia mengulurkan tangannya pada Yeri.

“Playboy-satu, ingat kau sudah punya Soojung. Jung Soojung anak SMA Hanlim,” ledek Jiyeon. “Ah iya, kenapa kau tidak mengajak makhluk satu ini ke kelas juga?” tunjuknya pada Myungsoo.

Jongin melambaikan tangannya sambil menggandeng Yeri keluar. “Diajak pun si peringkat-satu-baru pasti tidak akan mau masuk kelas, Jiyeon-ah. Kau beristirahatlah, nanti pulangnya Aku dan Sehun akan mampir ke sini. Suzy tidak bisa mengantarmu pulang hari ini, dia harus cek lapangan. Nanti ku antar kau pulang.”

Arasseo. Gomawo, Jongin-ah,” Jiyeon pun kembali mengalihkan pandangannya pada Myungsoo. “Sana kau ke kelas juga. Bukannya jam matematika favoritmu?”

Bukannya ke kelas, Myungsoo malah membaringkan badannya di sofa. “Aku bosan. Kapan lagi aku membolos, Jiyeon-ah?” jawabnya dengan mata terpejam.

“Jongin, benar-benar playboy ya? Bukannya dia selalu ganti pacar tiap semester?”

Jiyeon menghela nafas. “Tidak bedanya denganmu, plaboy-dua.”

Perkataan Jiyeon membuat mata Myungsoo terbuka lebar. Myungsoo berpindah duduk ke samping Jiyeon, menginginkan penjelasan. “Aku? Playboy?”

“Eoh. Malah lebih parah dari Jongin.”

Myungsoo menatap Jiyeon dengan tatapan tidak terima. Dia mengambil roti di tangan Jiyeon, membukakan bungkusnya, dan memberikannya pada yeoja itu. “Jelaskan padaku.”

“Setidaknya Jongin jelas dalam hubungannya. Pacaran atau putus. Kau? Kau dekat dengan banyak yeoja, yang terlihat jelas suka padamu, tetapi pernah ada yang kau balas perasaannya?” jawab Jiyeon sambil mengunyah roti pertamanya.

“Perasaan tidak bisa dipaksa, Park Jiyeon. Masa aku harus memacari semua yeoja yang suka padaku? Mereka suka padaku kan hak mereka.”

“Tetapi perlakuanmu pada mereka seolah kau memberi harapan. Harapan palsu, cih. Hari ini saja, siapa tadi pagi.. Naeun, lalu Yeri. Kemarin, ada Hayoung, Yerin, Jisoo. Ah terlalu banyak.”

Myungsoo menyodorkan air mineral pada Jiyeon. “Kau salah paham. Kau sendiri yang tidak pernah mau mendengarkan saat aku mau menjelaskan siapa yeoja yang dekat denganku.”

“Buat apa aku mendengarkan penjelasanmu?”

Myungsoo terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa karena dia sendiri tidak tahu kenapa dia selalu ingin memberi yeoja di depannya penjelasan. “Kau nanti mau ku antar pulang?” dia mengalihkan pembicaraan.

“Kau tidak dengar? Tadi Jongin bilang dia yang akan mengantarku pulang. Hari ini kau kau aneh, Myungsoo-ya. Perlakuanmu padaku…” Jiyeon menarik nafas sebelum melanjutkan ucapannya. “Perlakuanmu banyak membuat orang salah paham. Tadi saja Yeri sampai mengira kita berpacaran. Dan roti, aku tidak suka roti stroberi, aku suka roti cokelat. Kita tidak sedekat itu. Kau tidak tahu apapun tentangku. Jangan bertingkah seolah kau-“

Arasseo, arasseo. Maafkan aku. Kita perdebatkan ini lain kali. Jangan buang energimu untukku,” Myungsoo memotong ucapan Jiyeon sambil mengelus kepala Jiyeon. “Kau masih sakit. Beristirahatlah.”

Myungsoo kembali membaringkan badannya di sofa. Kembali memejamkan matanya. Dia mengepalkan tangan yang barusan ia gunakan untuk mengelus kepala Jiyeon. Dia tidak mengerti apa yang merasuki dirinya hari ini. Dia tetap merasa ada yang sesuatu aneh pada Jiyeon. Sesuatu yang membangkitkan rasa khawatirnya.

Ya, kita tidak sedekat itu’, gumam Myungsoo pada dirinya sendiri.

Sementara Jiyeon terdiam lama memandangi Myungsoo. Yeoja tersebut terlihat berpikir keras. Hingga senyum kecil merekah di bibirnya. “Gwiyeowo,” ucapnya pelan.

*—*—*—*—*

Malam ini hujan turun sangat lebat. Suara hujan tersebut diiringi sesenggukan yang keluar dari yeoja yang berada di hadapan Jiyeon. “Berhentilah menangis, Suzy-ah. Aku sedih melihatmu sedih.”

“Hiks… arasseo.”

Jiyeon menyeka sisa air mata sahabatnya. “Kau tidak pantas cengeng, malu sama bola basketmu hahaha. Lagian lihatlah, kamarku jadi kotor karenamu,” ucap Jiyeon dengan nada kesal, sambil menunjuk banyak bekas tisu yang bertebaran di karpet kamarnya.

Suzy pun ikut tertawa. Dia tadi mampir ke rumah Jiyeon setelah selesai cek lapangan. “Jiyeon-ah, sepertinya hujan tidak mau berhenti. Aku menginap sini, ya?”

“Dengan senang hati. Kalau begitu sebaiknya sana kau mandi dulu. Baumu…”

“Yak!” teriak Suzy, sambil mengendus kostum basket yang melekat di badannya. Hanya kekehan yang keluar karena Jiyeon benar… bau badannya… “Arasseo,” Suzy melangkah ke kamar mandi yang ada di dalam kamar Jiyeon.

Ponsel Jiyeon bergetar. Ada pesan masuk.

Dia melihat nama pengirim yang tertera di layar ponselnya. Kim Myungsoo. Melihat nama itu membuat Jiyeon bergumam heran.

Myungsoo : “Kau tidak sedang berkeliaran di luar rumah kan?”

Jiyeon : “Ani. Wae?”

Dia pikir aku hewan? Decak Jiyeon kesal.

Myungsoo : “Sekarang sedang hujan lebat, Jiyeon-ah.”

Jiyeon : “Ha? Terus?”

Myungsoo : “Lupakan. Kau tidak tidur?”

Kalau tidur bagaimana aku bisa membalas pesanmu, pabo-yaa.

Jiyeon : “Ini mau tidur.”

Myungsoo : “Jalja.”

“Myungsoo?”

Refleks Jiyeon membalikkan ponselnya. “Kau mengagetkanku!” lontar Jiyeon pada Suzy yang sedang mengeringkan rambutnya. “Suzy-ah, hari ini kau merasa ada yang aneh pada Myungsoo tidak?”

“Aneh? Rasanya biasa saja. Kau ada sesuatu dengan dia?”

“Aku? Dengan playboy itu? Tidak.”

“Sudah berapa kali aku bilang dia tidak playboy. Aku tau dia sejak sekolah dasar, Jiyeon-ah. Memang seperti itu cara dia memperlakukan seorang yeoja. Dia terlalu baik.”

“Tadi dia juga berkata seperti itu,” gumam Jiyeon.

“Ha? Aku tidak mendengarmu. Ayo ceritakan apa yang terjadi padamu dan Myungsoo tadi selama aku tidak ada?”

“Ya begitu.”

“Tadi kau bilang ada yang aneh? Cepat. Aku tidak sabar mendengarnya.”

Jiyeon pun mulai bercerita panjang lebar.

“Kalau begitu bagaimana kalau kau melakukannya bersama Myungsoo?” Suzy mencetuskan sebuah ide.

“Melakukan apa?”

“Tidak usah pura-pura tidak tahu. Bersama Myungsoo saja Jiyeon-ah. Tiga hari lagi tahun baru. Kau bisa melewatkannya bersama Myungsoo. Hahahaha. Oke?” bujuk Suzy.

Jiyeon menggeleng. “Myungsoo pasti akan menganggapku yeoja gila. Lupakan saja perkataanku yang tadi, Suzy-ah.”

“Andwae. Sebelum semuanya terlambat, Jiyeon-ah. Kalau kau tidak melakukannya, aku tidak akan bertanding.”

Mwo? Kau gila?”

“Aku serius!”

Jiyeon berpikir lama. “Arasseo. Akan kucoba. Tapi bagaimana kalau dia menolakku?”

“Tidak mungkin. Btw, kau tidak membalas pesan Myungsoo yang tadi?”

Molla!” Jiyeon membenamkan badannya di dalam selimut. Dia masih tidak yakin.

Neo do jalja, Myungsoo-ya. Mianhae.Ucap Jiyeon dalam hati.

*—*—*—*—*

Malam itu, di tempat lain…

“KIM JONGIN! OH SEHUN!”

Jongin tertawa terbahak-bahak. “Wae? Kau mau berterima kasih padaku?”

“Harusnya kau beri emoticon ‘heart’, hyung,” timpal Sehun yang juga tertawa.

Ibu Myungsoo masuk ke kamar Myungsoo membawakan salad buah. “Jongin-ah, Sehun-ah, ayo dimakan.”

“Eommaaaa, tidak usah memberi mereka apapun. Lagipula sebentar lagi mereka harus ke SM untuk latihan syuting teaser.”

Ibu Myungsoo menggelengkan kepalanya. “Dia ngambek ke kalian lagi? Wae?” tanyanya pada Jongin dan Sehun.

“Gara-gara, kami membalas pesan Jiy-“

“Yaaak!” Myungsoo buru-buru memotong ucapan Jongin.

“Berhenti berteriak Myungsoo-ya. Berisik! Jongin, Sehun, nanti kalau kalian mau pulang, tante mau minta tanda tangan ya?”

Jongin dan Sehun tersipu malu. “Eiiii, mwoya, eomoni,” jawab keduanya sambil menggaruk kepala. Ibu Myungsoo pun keluar kamar.

“Oh Sehun, kau tidak berkeliaran di luar rumah kan?” tanya Jongin dengan nada-dibuat-khawatir.

“Ani. Wae?” jawab Sehun dingin.

“Sekarang sedang hujan lebat, Sehun-ah,” tawa Jongin dan Sehun kembali pecah. Mereka meledek isi pesan Myungsoo kepada Jiyeon. Pada pesan Jiyeon yang berkata “Ini mau tidur”, Myungsoo bingung membalas apa dan berkata “jalja” pada ponselnya.

Jongin yang tidak tahan melihat Myungsoo segera merebut ponselnya dan mengirim pesan “jalja” kepada Jiyeon.

Myungsoo menatap kedua temannya frustasi. Kalau tidak ingat harganya yang cukup mahal, ingin rasanya dia melempar stick PS yang ada di tangannya kepada mereka berdua.

“Kalau kau suka Jiyeon, tunjukkan saja, Myungsoo-ya,” saran Jongin.

“Myungsoo masih tidak tahu apakah dia suka pada Jiyeon atau tidak, hyung.”

Myungsoo kaget mendengar jawaban Sehun. “Sehun benar.”

“Saat dia sakit seperti tadi, kau mengkhawatirkannya?” tanya Sehun.

“Sangat.”

“Lalu, tadi kau pasti menawarkan diri untuk mengantarkan dia pulang?” tebak Jongin.

“Eoh? Bagaimana kau tahu?”

“Aigoo. Kau menyukainya, Myungsoo-ya,” Jongin menyimpulkan dengan mantap.

Sehun meringis. “Tapi… sepertinya Jiyeon tidak menyukai Myungsoo.”

Myungsoo menatap Sehun kesal. “Mungkin kau benar. Dia matanya aku seorang playboy.”

“Mwo? Jadi kau si playboy-dua? Huahahaha,” tanya Jongin yang hanya dibalas anggukan lemah oleh Myungsoo. “Tidak masalah, Myungsoo-ya. Lagipula kau kan belum mencoba mendekati Jiyeon. Dan saranku, jika kau memang benar-benar ingin serius dengan Jiyeon, sebaiknya kau rubah perilakumu terhadap yeojayeoja yang mendekatimu.”

“Setuju!” ucap Sehun semangat.

“Mulai besok kau harus mulai mendekati Jiyeon. Keburu dia disambar namja lain.”

Namja lain? Siapa yang suka dengan yeoja dingin seperti Jiyeon? Hmm… selain aku… mungkin?”

“Aku suka. Kalau tidak menjadi artis, aku sudah mendekati Jiyeon. Sayangnya, aku ngeri membayangkan skandal,” jawab Sehun.

“Aku juga suka. Tapi aku sudah punya Sojung,” jawab Jongin. “Banyak yang suka pada Jiyeon. Dia selalu jadi pembicaraan para namja di kelasku. Cuman mereka banyak yang minder dengan peringkat Jiyeon.”

Mwo?” Myungsoo melongo.

*—*—*—*—*

Keesokan harinya…

Jiyeon mendatangi meja Myungsoo. “Myungsoo-ya, jam istirahat nanti, kau bisa ke atap sekolah? Ada yang ingin kubicarakan.”

Belum sempat Myungsoo menjawab, bel masuk telah berbunyi. Pasti gara-gara pesan semalam. Dasar Jongin dan Sehun! batin Myungsoo. Tetapi Myungsoo ragu kalau alasan Jiyeon hanya karena pesan semalam. Dia terus bertanya-tanya hingga tidak bisa fokus di dalam kelas.

Jiyeon yang duduk di barisan belakang tidak bisa melepaskan pandangannya pada Myungsoo. Saat menoleh pada Suzy di sebelahnya, Suzy hanya memberi anggukan dan berbisik ‘fighting!’.

*—*—*—*—*

“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Myungsoo to-the-point.

Jiyeon melangkah mendekati Myungsoo, hingga berada tepat di depannya. Jiyeon terdiam lama.

“Jiyeon-ah, mwoya? Katakan saja.”

Jiyeon mundur beberapa langkah dan membalikkan badannya. “Kim Myungsoo…”

Ne?”

“Kau…”

“Eoh?”

Jiyeon menghembuskan napas keras. Dan berbalik menghadap Myungsoo. “Kau mau jadi pacarku?”

Mwo?”

Jiyeon melangkahkan kakinya mendekati Myungsoo. “Ck. Ku ulangi. Kau mau jadi pacarku?”

“Ha?”

“Ah, sudahlah. Lupakan, Myungsoo-ya,” Jiyeon melangkah pergi meninggalkan Myungsoo yang masih terpaku di atap sekolah.

….. to be continued.

Author’s note :

Hai, jadi ceritanya ini karya pertama… mohon maaf buat segala kekurangannya yess. Buat yang udah baca, terima kasih banyak. Dan kalo berkenan… yuk, tinggalkan jejak kalian di ff abal ini😀

Btw, happy holiday, guys!😀

68 responses to “[CHAPTER-PART 1] Everglow

  1. Pingback: [CHAPTER-PART 4-END] Everglow | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s