[Chapter-1] Life

liferedo

poster credit : bubbletea art @hsg

LIFE
Park Jiyeon | Kim Myungsoo
Jung Eunji | Mark Tuan
Kim Jiwon | Kim Taehyung
Romance, friendship, school life, family, rich
Chaptered
T

—–

“Aish! Sudah kukatakan untuk berhenti menyetel musik itu!” Myungsoo mengomeli Mark yang sedaritadi hanya mengangkat bahunya cuek. Berulang kali Myungsoo mematikan musik yang sengaja dinyalakan Mark dengan keras, namun Mark tetap menyetelnya kembali.
“Kau terlalu banyak belajar, Myung.” Myungsoo menatap Mark geram. Namun lagi-lagi Mark selalu memberikan tatapan bodoh sekaligus tidak peduli.
Entah kenapa, Mark selalu menegur Myungsoo yang selalu bersikeras belajar giat. Toh menurut Mark, Myungsoo juga sudah memiliki apapun yang diingininya. Apa lagi yang sekarang akan diinginkannya?
“Sekarang jam 2, bukankah Sana akan menunggumu? Kau mengatakan Ia sangat sensitif. Bisa saja Ia memutuskanmu jika kau terlambat datang.” Ujar Myungsoo seolah mengusir kehadiran Mark yang mengganggunya.
“Bagus, aku tidak perlu susah payah mencari alasan untuk memutuskannya.” Balas Mark mengedikkan bahunya tak peduli.
“Jam 6 akan makan malam dengan Nayeon, kau lupa?”
“Apa kau sekretaris pribadiku? Hafal sekali,” keluh Mark sembari menyalakan ponselnya.
“Kau tidak bersiap-siap? Nayeon akan senang melihatmu hari ini.”
“Aku berniat memutuskannya hari ini.” Myungsoo tak peduli lagi. Mark selalu saja seperti ini, padahal Myungsoo dapat ingat dengan jelas bahwa Nayeon baru dipacarinya seminggu yang lalu. Awalnya Myungsoo pikir Mark benar-benar menyukainya begitu melihat perjuangan Mark mendapatkan Nayeon yang disukai banyak namja disekolahnya.
“Kapan sih kau benar-benar menyukai orang lain? Kau selalu mempermainkannya. Aku rasa tak ada lagi yeoja yang belum kau kencani.”
“Aku belum sempat mengencani adikmu.” Mark terkekeh.
“Aku takkan membiarkan Jiwon mendapatkan namja brengsek sepertimu.” Mark tertawa kecil dan bangkit dari kasur Myungsoo dan melangkah keluar. Myungsoo tahu, Mark akan pergi ke club.
“Oppa! Appa dan eomma meminta kita untuk segera turun.” Myungsoo mengangguk dan menutup laptopnya. Mungkinkah Mark akan ikut?
Myungsoo hampir saja terkejut seperti orang bodoh ketika mendapati Mark tengah duduk tenang disofa sambil tersenyum miring pada Myungsoo.
“Mark oppa! Kurasa kau tak semiskin ini sehingga terus tinggal disini. Dulu kau bilang akan pindah jika sudah memiliki uang.” Sindir Jiwon.

Mark merupakan sahabat Myungsoo, kedua orangtuanya menetap disana dan hanya berapa tahun sekali berkunjung. Keluarganya jauh lebih kaya dari Myungsoo, namun Mark memilih tinggal bersama mereka dibanding tinggal sendiri. Padahal jelas-jelas Ia pemilik apartemen disamping rumah Myungsoo.
“Aku kan belum memiliki uang, baby.” Jiwon hampir saja memukul Mark dengan tongkat baseball akan perkataannya. Jiwon memang dekat dengan Mark, bahkan jauh lebih dekat dibandingkan dengan kakaknya sendiri.
Sejak kecil, Mark selalu melindunginya. Bahkan hingga sekarang. Bagaimana tidak, julukan troublemaker sudah menyangkut padanya. Namun Ia dan Myungsoo tak jauh beda, keduanya sudah mampu untuk memimpin perusahaan.
“Sebenarnya pertemuan ini untuk Mark. Kedua orangtuamu menyuruh kami menyampaikannya.” Mark hanya menatap mereka dalam diam.
“Demi kesuksesan perusahaan kami, perusahaan appamu, dan perusahaan cabang appamu yang sekarang kau dan Myungsoo kelola. Appamu menyuruhku untuk segera mengenalkanmu pada putri Jung Ilhoon, pemilik KT Group.” Jiwon tak sanggup menahan tawanya begitu melihat ekspresi tak percaya dari Mark.
“Appa, kau sedang menjualku secara tidak langsung?” tanyanya tak percaya.
“Mau bagaimana lagi, perusahaan kita bisa tak selaris biasanya jika tak bekerja sama dengan mereka.”
“But—but–”
“Aku akan jadi orang pertama yang mentertawaimu nanti dialtar, oppa.” Berapa lama mereka berselisih, akhirnya Mark hanya pasrah dan menerimanya. Lagipula, siapapun yeojanya, Mark dapat mengatasinya.

“I should be grateful.” Seru Myungsoo puas.

—–

BYURR!

Jiyeon menggertakkan giginya rapat. Ini bukan pertama kalinya Jiyeon menapat perlakuan seperti ini. Sering, bahkan sudah sangat sering. Jika diperbolehkan jujur, saat ini Jiyeon sangat ingin berteriak marah pada mereka. Memangnya apa yang dilakukannya hinga harus diperlakukan berbeda?

Apa mereka berpikir mengenai status sosial lagi? Sungguh kekanakkan, pikir Jiyeon.

“Aigoo Jiyeonnie!” Nayeon tertawa puas begitu melihat keadaan tubuh Jiyeon yang basah. Pelajaran belum selesai, namun Jiyeon sudah basah kuyup.

Apa yang harus dikatakan Jiyeon pada gurunya nanti? Mereka tak pernah percaya dengan murid seperti Jiyeon. Mereka juga suka diskriminasi. Jika saja bukan keinginan eomma Jiyeon, jangan pikir Jiyeon akan sudi bersekolah dineraka ini.

“Ambil pel! Kelas kita jadi basah,” Jiyeon masih menatap Nayeon namun tak dapat berkutik.

“Cepat, bodoh!!” teriaknya pada Jiyeon.

BRAKKK

“Bisakah kau tenang? Kau yang menggunakan air itu, kau juga yang bersihkan.” Eunji menatap angkuh terhadap Nayeon maupun Jiyeon.

“Aish, kau benar-benar menggangguku! Ini urusanku dengannya!” seru Nayeon kesal. Eunji bangkit berdiri dan menatap Nayeon tajam, “Kalau kau memang berurusan dengannya, harusnya kau lakukan secara rahasia. Bukan mempermalukannya.”

“Memangnya kau siapa? Adiknya?” Eunji terdiam namun tetap menatap Nayeon tajam.

“Lalu kau siapa? Ibunya? Hingga berhak mengomelinya sesukamu,” Eunji melangkahkan kakinya ke depan pintu kelasnya tengah berniat keluar.

“Jangan kau kira, hanya karena status sosialmu tinggi, kau bisa merendahkanku. Kita ini diderajat yang sama!” seru Nayeon lagi. Kali ini Ia mengepalkan tangannya, sudah sangat sering Eunji mengganggunya yang tengah bermasalah dengan Jiyeon.

“Ani. Aku sama sekali tak sederajat denganmu, kau jauh berada dibawahku.”

“Cih, dasar sok baik. Kau selalu menghentikan tindakanku pada Jiyeon yang bahkan sangatlah jauh derajatnya denganmu. Apa kau munafik?” cibir Nayeon. Eunji tak memperdulikannya dan berjalan keluar kelas. Nayeon menggeram dan menghembuskan nafasnya kesal.

“Kim Nayeon.” Nayeon hampir saja berteriak kesenangan kala Mark memanggil namanya. Sebelumnya, hanya Nayeon yang memanggil Mark.
Nayeon berpura-pura biasa dan menatap Mark sedikit marah, “Aku akan memaafkanmu karena kau tidak datang tadi malam.”

“Ambil pel dan bersihkan bersama yeoja itu.” Mark menatap Nayeon sedikit heran.

“M-Mark? Kita harusnya membicarakan me-“

“Kita putus. Jangan bertindak semaumu. Kau membuatku muak.”

Mark mengatakan itu sambil tersenyum tipis dan menaruh earphonenya ditelinganya. Ia bahkan memberi kode pada teman-temannya untuk segera menutup telinga mereka. Sebentar lagi, Perang Dunia akan terjadi.

“MARKK! BAGAIMANA BISA KAU SEPERTI INI!!”

“KIM NAYEON!! JADI SELAMA INI KAU MENUSUKKU?!”

“DASAR KAU J*L*NG!!”

—–

Myungsoo membuka pintu perpustakaan dengan beberapa buku ditangannya. Ia tadi sempat berpikir bahwa Ia akan mati berada disana. Dengan kebisingan yang telah Mark lakukan, Myungsoo bisa saja gila dengan semua itu.

Pertama, Nayeon dan Jiyeon. Myungsoo sudah cukup sabar untuk tetap duduk tenang disana. Kedua, Eunji datang dan merusak segalanya kemudian keluar kelas begitu saja. Terakhir, Mark Tuan itu benar-benar ingin Myungsoo buang ke pulau terpencil. Nayeon dan Sana langsung membuat perang dunia begitu mengetahui yang sebenarnya.

“Itu kenapa dia harus menikah. Aku berharap Ia mendapat wanita tua, galak,dan tegas. Mungkin sifatnya akan berubah.” Ujar Myungsoo sembari menggeleng-gelengkan kepalanya jika mengingatnya.

Myungsoo membuka buku bahasa inggrisnya. Setelah ini akan diadakan ulangan inggris. Myungsoo tak mungkin membiarkan dirinya dikalahkan oleh Mark meskipun hanya dibidang tertentu. Mark yang saat kecil tinggal di Amerika memudahkannya memimpin perusahaan cabang. Bahasa inggrisnya lebih dari kata sempurna.

Baru akan membaca beberapa kalimat, Myungsoo malah teringat dengan Jiyeon.

“Aku tak menyangka dia sebodoh itu. Semiskin apapun dirinya, seharusnya Ia tak membiarkan dirinya diperlakukan begitu.”

“Ahh! Apa sih yang kupikirkan!” Myungsoo kembali mencoba fokus dengan mata pelajarannya, namun bayang-bayang Jiyeon tetap memenuhi benaknya.

“Ah, yeoja itu membuatku gila.”

”Sang juara satu sedang belajar rupanya.” Myunghsoo menoleh dan mendapati Taehyung menatapnya dengan senyuman miring. Membuatnya jijik.

“Untuk apa kau disini? Disini bukan tempatmu.”

“Justru karena aku tahu disinilah tempatmu, maka aku kesini.”

Taehyung lagi-lagi memberikan senyuman miring pada Myungsoo.

“Pergilah, jangan membuat moodku rusak.”

“Aku akan dengan senang hati melakukannya.” Myungsoo memutuskan untuk tak lagi menghiraukan perkataan Taehyung.

“Sebesar apapun mimpimu, aku akan menghancurkannya. Seperti kejadian 1 tahun lalu, dimana yeoja yang sangat kau cintai kini menjadi yeoja yang kau perlakukan dengan dingin.” Taehyung melangkah keluar perpustakaan dengan perasaan puas. Setidaknya, membuat Myungsoo marah adalah kesenangannya.

Namun disana, Myungsoo masih terpaku tak percaya dengan yang baru saja Taehyung katakan. Maksudnya Jung Eunji? Sosok yang sangat dicintainya untuk pertama kali. Namun karena perjodohan yang dilakukan kedua orangtua Eunji, mereka berdua putus dan Myungsoo menganggap Eunji tak mampu mempertahankan hubungan mereka.

Kini Myungsoo ingat, tak lama sesudah rencana perjodohan Eunji dengan namja yang tidak Myungsoo ketahui –Eunji tak mau memberitahukannya, terdengar kabar Taehyung menolak perjodohan yang dilakukan orangtuanya.

Jadi, yang setahun lalu dijodohkan dengan Eunji adalah Taehyung? Lalu kenapa Taehyung menolaknya? Jika ini memang rencananya, bagaimana bisa Ia dijodohkan dan menolaknya semudah itu?

—–

Jiyeon memberanikan diri menduduki meja panjang yang ditempati sendirian oleh Eunji dikantin. Jika saja ada meja yang kosong, Jiyeon takkan mencoba senekad ini masuk ke kandang singa.

Eunji memang dikenal sangat sombong, kedua orangtuanya menaruh saham besar disini. Tak ada yang berani mengganggunya. Terbukti dari Ia tidak memiliki teman. Banyak yang ingin berteman dengannya, namun yeoja itu sama sekali tak memperdulikannya.

“Kau tidak terganggu kan?” Eunji hanya diam sambil menatap ponselnya tajam. Hanya untuk mengingatkan, Eunji sama sekali tak menatap Jiyeon. Bahkan Jiyeon tidak yakin kalau Eunji menyadari kehadirannya.

“Sh*t.” Jiyeon tersentak kaget dengan pernyataan frontal Eunji barusan. Apa Eunji tak menyukai keberadaannya disini sehingga mengatakan hal itu?

“Aku bicara sendiri.” Jiyeon hanya mengangguk pelan begitu dirinya menyadari, setidaknya Jiyeon dapat menangkap suatu perhatian kecil dari Eunji. Bahkan, Jiyeon mengambil kesimpulan kalau Eunji tak seperti yang mereka katakan.

Mereka mengatakan tak ada yang berani mengganggu Eunji karena appanya yang berkuasa, namun Eunji malah sering mengganggu mereka. Tetapi Jiyeon saat ini hanya berpikir, jangan mengganggu orang lain jika tidak ingin diganggu. Itu yang Jiyeon dapatkan dari sosok Eunji.

TING!

Satu pesan masuk dalam ponsel Jiyeon. Ia membukanya dan menampilkan, ‘Pesanan diapartemen disamping YM Group. Room no. 31, dua medium tteokbeokki dan 2 cola. Jika kau mau mengantarkannya sekarang, dia akan memberikanmu bonus.’

Jiyeon segera bangkit berdiri dan meninggalkan sekolah. Sekarang yang terpenting adalah mendapat uang untuk kelanjutan sekolahnya juga pendidikan adiknya yang masih duduk disekolah dasar.

Begitu Jiyeon pergi, Eunji tersenyum tipis. Sangat tipis. Kemudian Ia mulai menelepon Sekretaris Min, yang merupakan sekretaris pribadinya.

“Dia sudah jalan untuk mengantarkan pesanannya. Ingat, berikan bonus dalam rekeningnya. Aku tak yakin Ia akan menerimanya jika diberikan langsung.” Eunji menutup sambungan teleponnya dan kembali membuka pesan dari eommanya.

“Ahh, ini membuatku gila.”

One message from Mom :
‘Eunji-ya, hari ini pulanglah lebih awal. Ada pertemuan dengan keluarga yang akan dijodohkan denganmu. Salah satu dari dua pewaris muda YM Group. Eomma yakin kau menyukainya, keduanya sama-sama sempurna. Demi perusahaan kita dan mereka. I love you.’

—–

Jiyeon membawakan satu kotak penuh dengan pesanan yang baru saja disebutkan. Ia menekan tombol lift menuju lantai 2 dan mencari ruangan bernomor 31.

Usai menemukannya, Ia segera menekan bel dan membiarkan pintunya dibuka oleh penghuninya. Seorang wanita sekitar berumur 24tahun tersenyum pada Jiyeon sambil mengatakan, “Ini uangnya. Bonusnya akan kukirimkan melalui rekeningmu. Bisa kau tulis?”

Jiyeon mengangguk dan menulis dikertas kosong yang diberikan wanita itu. Tanpa ragu sekalipun, Ia langsung pergi dan tersenyum setelah menulis nomor rekeningnya.

“Sepertinya aku harus mengeceknya.” Jiyeon melangkahkan kaki menuju bank terdekat. Jiyeon ingat sekali, mendiang kedua orangtuanya membuatkan rekening untuk Jiyeon karena perceraian mereka. Mereka mengatakan, mereka hanya akan mengirimkan Jiyeon uang per bulannya.

Namun itu terlalu menyakitkan untuk diingat. Bahkan Jiyeon sudah tak tahu bagaimana keadaan mereka. Jiyeon tak peduli lagi. Mereka saja sudah melupakan tanggung jawab mereka yang memiliki dua orang anak yang masih bersekolah.

Sekarang Jiyeon harus bekerja terus karena kedua orangtuanya tak lagi mengirimkan uang. Bukan, menghubunginya saja tidak. Setidaknya, Jiyeon ingin mereka menanyai bagaimana kabar Jiyeon dan adiknya. Apa mereka makan dan tidur dengan baik? Apa mereka bersekolah dengan baik?

Sudahlah, yang harus dilakukannya sekarang hanyalah bertahan hidup dengan terus bekerja, pikir Jiyeon.

Tak lama, Jiyeon menatap seluruh tabungannya kaget? Apa ini? 10 juta won?
.

.
TBC.

heheh, udah berapa lama ya belum balik lagi kesini? udah lama banget yak–”

niatnya author hiatus sampe tgl 20 des aja, tapi hp malah disita TT dan beginilah jadinya. baru bisa update lagi setelah ambil rapot.

oh ya, karena author nerima beberapa email dalam beberapa bulan ini, akan dijawab dichapter selanjutnya. untuk yang mau nanya, silahkan email : ikaerika28@gmail.com

makasoyy~~

oh iya, ini baru author edit lagi hehe.

79 responses to “[Chapter-1] Life

  1. hhmmm eunji itu keliatannya cuek sama semua orang, tapi kok dia malah bantuin jiyeon diem diem sih? motivasinya apa?:/

  2. kasian kehidupan jiyeon… sbenernya eunji gak begitu sombonglah.. buktinya dia msh mau bantu jiyeon.. tp knp kedua org tua jiyeon ninggalin jiyeon?

  3. Kasian liat jiyeonnya udah ditinggalin kedua orang tuanya, trus dibully di sekolah, dia jga harus bekerja keras buat kelangsungan hidupnya sma adiknya.
    Apa eunji sering bantu jiyeon? Seneng bnget meskipun jiyeon ditindas tetapi masih ada eunji yg mau menolong dia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s