[One Shoot] Ai

Ai

Starring

Park Jiyeon & Jeon Jung Kook

Kupikir aku takkan pernah menemuinya lagi sejak perpisahan wisuda dulu. Aku sudah mencoba tegarkan hati saat tahu bahwa dia akan meninggalkan Seoul untuk melanjutkan karirnya di Jepang. Tidak banyak kenangan manis yang kurasakan selama aku menyukainya, walaupun kami mengambil jurusan yang sama saat kuliah. Kami hanya saling tersenyum saat berpapasan dan aku yang lebih sering mencuri pandang ke arahnya. Kami juga jarang sekali mengobrol berdua. Pahit memang rasanya tahu orang yang kita sukai berada tidak jauh dari sisi kita tetapi komunikasi yang terjadi hanya sebatas senyuman.

Aku adalah tipe pengecut yang lebih suka berdiam diri tanpa menunjukkan aksi saat menyukai seseorang. Tidak banyak yang bisa aku lakukan selain memandanginya dari jauh. Sampai gemas Eonnie-ku mendengar seluruh cerita cinta suramku ini sehingga selalu mendorongku untuk berterus terang saja.

“Tidak baik memendam perasaan seperti itu terlalu lama,” ucap Eonnie saat kami sedang menikmati sebuah acara musik di stasiun KBS.

Aku hanya diam tanpa menjawab sepatah katapun. Itu sudah yang ketiga kalinya Eonnie mengatakan hal yang serupa dan aku masih tetap setia memegang predikatku sebagai perempuan pengecut.

“Paling tidak Suzy perlu tahu soal perasaanmu itu,” sambung Eonnie.

Kedua alisku spontan terangkat. Dengan tatapan bingung aku bertanya, “Kenapa aku harus memberitahunya?”

“Karena dia sahabatmu,” jawab Eonnie simpel seraya kembali melempar pandangannya ke layar televisi. “Dan dia orang yang paling dekat dengan Jung Kook saat ini.”

Mendengar jawaban Eonnie, membuat mendesah gusar.

“Justru dia orang yang paling tidak boleh tahu soal perasaanku ini,” jawabku seraya mengubah posisi dudukku yang kurang nyaman.

“Kenapa?” tanya Eonnie dengan nada penasaran.

“Anak-anak di kelas menjodohkan Suzy dengan Jung Kook,” jawabku dengan nada agak sedih. “Walaupun sepertinya Suzy hanya menganggap Jung Kook sahabat. Tetapi…”

Eonnie menatap penasaran sambil menungguku menyelesaikan kalimatku yang menggantung.

“Tetapi sepertinya Suzy menyukainya,” sambungku dengan mulut agak manyun. “Dia seperti menikmati disaat anak-anak dikelas menjodohkannya dengan Jung Kook.”

Kini Eonnie yang mendesah gusar. Dan obrolan kami pasal Jung Kook selalu berakhir mengecewakan.

**

Sudah tiga tahun sejak kampus meluluskanku dan anak-anak lainnya. Kini aku bekerja di sebuah bank ternama dengan gaji yang lumayan besar. Paling tidak dengan gaji dan tunjanganku itu aku mampu membelikan kedua orangtuaku rumah dan sisanya untuk perawatan diriku. Aku dan Eonnie tidak tinggal bersama dengan Eomma dan Appa. Tetapi rumah kami berdua berjarak cukup dekat sehingga Eomma masih bisa membantu membangunkan anak-anaknya serta membawakan sarapan dan makan siang. Yeah, aku dan Eonnie memang tipe wanita dewasa yang belum benar-benar dewasa. Kami masih belum bisa lepas dari kedua orangtua kami yang memang dasarnya tipe orangtua yang perhatian terhadap anaknya.

Tahun depan Eonnie akan meninggalkanku sendirian karena dia akan menikah dengan seorang pengusaha muda kaya raya. Dan aku harus siap ditinggal dan tidur sendiri di dalam rumah yang sebenarnya masih cukup dimasuki 4 sampai lima orang lagi. Tetapi bukan itu yang sebenarnya menjadi kekhawatiranku belakangan ini. Eonnie sudah mendapatkan pasangan hidupnya yang sangat mencintainya. Sedangkan aku? Aku iri padanya, tentu saja. Aku tidak mau menjadi wanita yang gila kerja yang baru mendapatkan pasangan hidupnya disaat umurnya hampir mencapai kepala tiga. Aku sudah punya rencana hidup yang kutulis di dalam buku jurnal, salah satunya adalah target menikah paling lambar umur 29. Jika aku tidak bisa memenuhi target itu, sepertinya aku akan menjadi sedikit gila.

**

Ada yang pernah bilang padaku bahwa bertemu dengan cinta masa lalu adalah hal yang paling mengerikan. Karena mungkin pada saat itu penampilan kita tidak lebih baik dari penampilan yang dulu. Lemak menggelambir dikanan kiri pinggang serta perut yang menggelayut karena sudah pernah melahirkan dua orang anak. Walaupun terdengar agak konyol menyadari bahwa kemungkinan besar cinta masa lalu kita dulu juga bernasib sama dengan kita, membawa perut buncit serta berewok yang menghiasi wajah tirusnya dulu. Tetapi untungnya semua kengerian itu tidak terjadi padaku. Aku memang bertemu dengan cinta masa laluku dulu, Jeon Jung Kook, tetapi pada saat itu aku masih memiliki tubuh super langsing dan wajah tirus layaknya Celine Dion. Dan Jung Kook, demi Tuhan bagaimana bisa dia terlihat lebih tampan daripada yang dulu. Dia terlihat gagah di balik jas armaninya. Dan aku mampu mencium aroma parfum mahalnya dari jarak sejauh ini.

“Dia datang!” gumam Suzy terkejut. Perut buncitnya berhasil membuatku terlihat semakin langsing yang berdiri disebelahnya.

Jeon Jung Kook yang melihat lambaian tangan Suzy tiba-tiba saja berjalan kearah kami. Spontan kedua tanganku mengejang. Kenapa Suzy harus melambai kearahnya? Aku tahu mereka adalah sahabat baik, tetapi apa perlu Suzy melakukan hal ini disaat aku belum mempersiapkan diri mau bicara apa.

“Sudah lama tidak bertemu,” ucap Jung Kook yang matanya tersorot ke arah perut buncit Suzy. “Mianhae aku tidak bisa datang ke pernikahanmu.”

Spontan mataku terbelalak mendengar ucapan Jung Kook. Karena seingatku Suzy pernah bilang bahwa dia tidak mengundang Jung Kook saat pernikahannya satu tahun yang lalu. Lalu apa maksudnya dia berbohong seperti itu?

“Gwaenchana, lagipula aku hanya mengundang saudara dan beberapa teman dekatku, salah satunya Jiyeon,” ucap Suzy serangkul bahuku singkat.

Kini Jung Kook mengalihkan tatapannya ke arahku. Seperti dahulu, dia tidak pernah bosan menyunggingkan senyum manisnya ke arahku. Oke, hanya sebatas senyuman, aku masih sanggup meladeninya.

“Apa kabar?” tanya Jung Kook seketika, membuatku membeku ditempat.

“B-baik,” jawabku tanpa sepenuhnya menatap dirinya. Grogi, itu yang selalu menjadi penyakit lamaku yang belum sembuh sampai saat ini. “B-bagaimana denganmu?” tanyaku sekalian melancarkan tenggorokanku yang tiba-tiba saja terasa kering.

“Baik sekali,” jawab Jung Kook.

“Kupikir kau tidak akan datang ke acara reunian ini,” ucap Suzy memotong obrolan super singkat kami.

“Aku sudah tidak di Jepang lagi sejak setengah tahun yang lalu,” ucap Jung Kook.

“Kenapa?” tanya Suzy. “Bagaimana dengan pekerjaanmu?”

“Aku berhenti dan memutuskan untuk menjadi penulis rumahan saja,” jawab Jung Kook.

“Aigo, sayang sekali,” ucap Suzy. “Tetapi tidak apa, lagipula kau sudah sempat menerbitkan buku pertamamu sewaktu disana.”

Jung Kook mengangguk seraya menjawab, “Kau sudah baca?”

“Mana mungkin,” jawab Suzy terkekeh. “Aku tidak mengerti bahasa Jepang.”

Aku ingat aku pernah mendengar kabar dari Suzy bahwa Jung Kook berhasil menerbitkan buku pertamanya yang berjudul “Ai” yang artinya cinta. Dan itu adalah kabar terakhir yang aku dengar tentang dirinya.

“Bagaimana denganmu?” tanya Jung Kook yang ternyata tidak melupakan kehadiranku ditengah-tengah mereka. “Kau sudah membacanya?”

Aku menggeleng seraya menjawab, “Belum. Tetapi akan coba membacanya nanti,” jawabku.

Jung Kook mengangguk senang. “Ada versi terjemahan Koreanya dan  akan rilis tanggal 10 bulan depan. Kalau kau mau aku bisa memberimu satu.”

“O-oke,” jawabku tanpa bersusah payah menyembunyikan kerut senyum disudut bibirku.

Dan tiba-tiba saja Jung Kook mengeluarkan kartu nama dari dalam dompetnya. Aku terkejut sampai tak bereaksi apa-apa saat Jung Kook mengacungkan kartu namanya ke arahku.

“Um geurae,” ucap Jung Kook tiba-tiba. “Seharusnya aku yang menghubungimu,” sambungnya seraya memasukkan kembali kartu namanya ke dalam dompetnya. Rasanya seperti gelembung-gelembung kecil kebahagiaan yang mendadak muncul mendadak pecah pula. Tetapi tidak lama gelembung kebahagiaan itu muncul kembali saat Jung Kook meminta kartu namaku sebagai gantinya. Tanpa berlama-lama aku langsung mengeluarkan kartu namaku.

Tetapi ada yang terasa kurang disaat aku memberikan kartu namaku. Kapan dia bisa menghubungiku? Apa tepat saat terjemahan novelnya rilis? Atau mungkin lewat dari tanggal itu? Satu bulan kemudian? Dua bulan? Enam bulan? Entahlah, yang pasti disini aku yang harus menunggu. Ternyata memang lebih baik aku yang menyimpan kartu namanya sehingga kepastian untuk bertemu dengannya lagi ada di tanganku. Aku pun mendesah gusar karena menyesal.

Eonnie yang mendengar ceritaku tak bisa menahan tawanya. Tetapi tidak bisa dipungkiri aku dapat melihat tatapan takjub dari kedua mata Eonnie. Memang sih, sepanjang sejarah aku mengenal Jung Kook, baru saat itu kami berbicara layaknya dua manusia normal yang berkomunikasi.

“Kalau begitu kau hanya tinggal menunggu,” ucap Eonnie seraya menepuk bahuku tanda bangga. “Paling tidak ada kemajuan setelah bertahun-tahun kerjaan kalian berdua hanya bertukar senyum.

**

Jung Kook baru saja menghubungiku untuk memberikan buku terjemahan novelnya hari ini. Langsung saja aku membongkar seluruh lemari bajuku untuk melihat apa ada yang cocok di pakai untuk bertemu dengannya. Eonnie hanya bisa geleng-geleng kepala seraya masuk ke dalam kamarku untuk membantu memilihkan baju yang pas untuk dipakai nanti malam.

“Kalian bertemu malam hari,” ucap Eonnie. “Mungkin dia ingin mengajakmu makan malam sekalian?”

Mendengar ucapan Eonnie, pilihan baju kasualku berubah menjadi pilihan dress berlengan buntung berwarna hitam dengan kardigan untuk lapisan luarnya.

“Ya, itu pilihan yang paling baik untuk bertemu dengannya nanti malam,” ucap Eonnie.

Dan tepat saat jam menunjukkan pukul tujuh, bel rumahku berbunyi disusul suara nyaring Eonnie yang memberitahu pada Jung Kook sudah datang.

Dengan penampilan sekaligus mental yang sudah kupersiapkan dari empat jam yang lalu, aku dengan berani membukakan pintu untuknya. Bukan sosok Jung Kook yang kutemui, melainkan seorang pria yang umurnya keliatan jauh lebih muda dari Jung Kook.

“Nuguseyo?” tanyaku dengan dahi berkerut.

“Kau Jiyeon Noona?” tanya pria muda itu yang dengan berani mengacuhkan pertanyaanku.

Aku mengangguk seraya menjawab, “Ne, aku Jiyeon.”

Si laki-laki muda ini kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung kertas yang ada di tangan kanannya. Itu adalah sebuah buku berjudul Ai dalam terjemahan bahasa Korea.

“Jung Kook yang menyuruhmu memberikan ini padaku?” tanyaku langsung tanpa banyak berpikir.

Si pria muda itu mengangguk dan bersiap untuk melangkah pergi, tetapi aku sempat menahan tangannya.

“Dimana Jung Kook? Dia berjanji akan memberikan buku ini langsung padaku,” ucapku kebingungan.

Si pria muda terlihat agak kikuk, bingung mau menjawab apa. Karena aku mendesaknya, akhirnya si pria muda menjawab, “Hyung kecelakaan.”

Pada saat itu juga otakku rasanya berputar ditempat, mendadak mataku berair dan kedua tanganku bergetar.

“Lalu dimana dia sekarang?” tanyaku hampir menangis.

“Eomma bilang kau tidak boleh tahu soal keadaan Hyung saat ini,” jawab si pria muda. “Maka dari itu Eomma menyuruhku untuk membawakan buku ini padamu.”

Entahlah, mendadak aku jadi linglung begini. Jadi ibunya sudah tahu soal diriku? Secepat ini? Bahkan obrolan terpanjangku dengan Jung Kook adalah saat reunian kemarin.

“Kalau kau datang sekarang kerumah sakit, aku takut Eomma marah padaku,” sambung si pria muda menjelaskan.

“Kenapa aku tidak boleh bertemu dengan kakakmu?” tanyaku lagi.

“Eomma tidak ingin kau khawatir,” jawab si pria muda. “Dan menurutku, Hyung pun berpendapat sama dengan Eomma. Dia tidak pernah mau melihat wanita yang disukainya khawatir karenanya.”

Mendadak kalimat panjang si pria muda ini membuat rasa khawatirku berubah menjadi rasa aneh yang berputar di dalam dadaku.

“M-mwo?” tanyaku hampir kehabisan akal.

“Baca buku itu,” ucap si pria muda seraya menunjuk novel Ai. “Semua tentang dirimu ada di dalam buku itu. Sudah lama Hyung membuatnya, bahkan sebelum dia lulus kuliah. Dan baru sempat terbit setelah dia pindah ke Jepang.”

Mendadak aku mencengkeram buku Ai dengan sangat kuat, seperti benda berharga yang tidak boleh hilang bahkan lepas dari pandanganku.

“A-aku ingin bertemu dengannya,” ucapku terdengar agak memaksa. “Aku ingin melihatnya. Jebal….”

Tak tahan melihat wajah memohonku, akhirnya si pria muda membawaku pergi bersamanya ke rumah sakit tempat Jung Kook di rawat.

Awalnya ibu Jeon Jung Kook terlihat marah dengan anak bungsunya karena tidak berhasil menyembunyikan rahasia bahwa Jung Kook saat ini sedang dirawat dirumah sakit, tetapi setelah itu dia menyambutku dengan sangat hangat. Dia menceritakan semua kejadian yang Jung Kook alami padaku. Dan terakhir, sama seperti adiknya, ibunya pun menyuruhku untuk segera membaca buku Ai.

Karena aku belum boleh bertemu dengan Jung Kook, akhirnya aku memutuskan untuk membaca buku Ai di depan kamar rawatnya. Tak habis pikir ternyata semua yang terjadi padaku bersama dengan Jung Kook selama kuliah adalah keinginannya. Dia sengaja tidak mau bicara padaku karena memang pada saat itu banyak dari seniorku yang menggilainya. Jika aku terlalu dekat dengannya, ada kemungkinan para senior itu akan membully-ku. Dan yang paling penting, perasaanku selama ini padanya bukan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Dia merasakan hal yang sama terhadapku. Jung Kook menyukaiku dan bahkan dia mengaku dalam buku Ai bahwa dia lebih sering memperhatikanku ketimbang aku memperhatikan dirinya. Dan pasal Suzy yang berbohong soal tidak mengundang Jung Kook pada pesta pernikahannya, itu pun Jung Kook yang meminta. Dia memang tidak bisa hadir saat pesta pernikahan Suzy, maka dari itu Jung Kook berpesan pada Suzy untuk mengatakan bahwa Suzy memang tidak mengundangnya. Jadi Suzy tahu semuanya soal diriku dengan Jung Kook.

Membaca buku Ai rasanya sama seperti membaca buku diary seorang pria yang sedang menunggu kapan saatnya dia bisa menjemput wanita yang disukainya. Menyadari bahwa wanita di dalam buku ini adalah aku, membuatku tak bisa berhenti tersenyum sepanjang malam. Bahkan semua tentang diriku sudah diceritakan Jung Kook pada ibunya dan adik semata wayangnya itu. Oh Tuhan, hanya satu harapanku saat ini yaitu melihat Jung Kook tersadar setelah melewati masa kritisnya. Aku ingin menemuinya, bertukar senyum sebelum bertanya akan kebenaran soal buku Ai ini.

**

Kutatap matanya yang sedang terpejam erat. Luka-luka pada wajahnya ternyata tidak mengurangi ketampanannya. Oh Tuhan biarkan dia sadar dan melihatku. Aku ingin akulah orang pertama yang dia lihat saat matanya membuka. Aku sudah melupakan rasa gugupku yang ternyata selama ini biang dari kegagalanku mendapatkan seorang kekasih. Tak henti-hentinya aku mengucapkan doa agar Jung Jook cepat tersadar dari komanya paska operasi. Sadarlah….sadarlah…

Perlahan tetapi pasti kedua pasang mata tampan itu terbuka. Aku yang melihatnya menantikan sebuah respon lain, seperti kedipan mata atau senyuman yang biasanya dulu dia berikan padaku.

“Jiyeon…” ucap Jung Kook seraya tersenyum lemah.

Pada saat itu juga air mataku tak terbendung dan pecah seketika. Aku mengangguk berkali-kali seraya sibuk mengusap air mataku yang tidak mau berhenti menetes.

“Watashi no ai,” ucap Jung Kook lemah.

“N-ne?” tanyaku tidak mengerti ucapannya. Tak lama kemudian adik bungsu Jung Kook membisikiku sesuatu, “Hyung bilang, Cintaku…”

Aku pun tersenyum malu seraya membiarkan Jung Kook menggenggam erat tanganku. Ini adalah pertama kalinya kami bersentuhan. Tangan Jung Kook terasa sangat dingin, mungkin karena suhu AC di dalam ruangannya ini. Tidak perduli, aku mampu menghangatkannya sekarang juga.

“Gumawo untuk bukunya,” ucapku. “Ceritanya bagus sekali.”

Jung Kook menggeleng, “Bagus karena aku pandai memilih karakter utama di dalam buku itu.”

Aku kembali dibuatnya tersenyum. “Gumawo, karena sudah melindungiku dari para senior itu,” ucapku lagi, membuat Jung Kook tertawa pelan.

“Jika mereka tidak ada, mungkin saat ini aku sudah menjadi tunanganmu,” ucap Jung Kook membuat wajahku spontan merona merah.

“Tidak perlu berlama-lama bagi Hyung untuk mengungkapkan rasa sukanya pada seorang wanita,” timpal si adik.

“Kau dengar kan?” ucap Jung Kook membenarkan ucapan adiknya. “Aku benar-benar menunggu saat yang tepat untuk menjadikanmu sebagai kekasihku.”

“Menunggu memang menyebalkan, tetapi begini lebih baik daripada tidak ada kepastian,” jawabku.

Sang adik yang mengerti kode dari kakaknya langsung pamit keluar ruangan. Dan setelah itu Jung Kook dengan berani menggenggam tanganku lebih erat dari sebelumnya.

“Park Jiyeon, ini adalah cara terbodoh yang pernah aku lakukan tentang bagaimana menyikap perasaan pribadiku kepada seorang wanita. Aku tidak terbiasa menunggu lama, bahkan sampai bertahun-tahun. Tetapi jika cara ini baik untuk semua pihak, aku akan memilihnya. Dan semuanya sudah terjadi sesuai yang aku perkirakan. Ai, aku menulisnya sejak kita masih kuliah. Dan semua di dalamnya adalah ungkapan rasa suka dan kekhawatiranku padamu. Aku selalu menyuruh Suzy untuk terus menghubungimu agar tidak lose contact. Karena jika itu terjadi, mungkin aku tidak akan bisa mengungkapkan semua ini padamu.”

Aku mengangguk pada setiap kata yang Jung Kook ucapkan padaku.

“Aku mencintaimu, Park Jiyeon,” ucap Jung Kook. “Ai itu adalah dirimu dan selalu dirimu.”

“Aku juga mencintaimu, Jeon Jung Kook,” ucapku diiringi tetesan air mataku yang entah mengapa selalu keluar disaat-saat seperti ini. “Aku tidak menyangka bahwa semuanya akan terjadi seperti ini. Keahlian menutupi semua perasaanmu itu hampir membuatku putus asa. Tetapi kini aku bisa bernafas lega karena tahu bahwa perasaanku ini tidak berakhir sia-sia.”

“Rencananya….” Jung Kook terlihat mencari sesuatu di atas meja kecil di sambil ranjang rumah sakitnya. “…aku ingin langsung melamarmu malam ini. Aku sudah siapkan cincin yang sekarang entah ada dimana.”

Aku terkikik mendengarnya, sekaligus bahagia.

“Kita bicarakan nanti saja soal itu,” ucapku. “Yang harus kita lakukan sekarang adalah memeriksamu lebih lanjut. Aku akan panggilkan kau dokter.”

Belum sempat aku pergi meninggalkannya, Jung Kook berkata, “Jangan lama-lama, araseo?”

Aku tersenyum sebelum mengangguk mengiyakan.

THE END

26 responses to “[One Shoot] Ai

  1. Wuaaaa sweettttt bgtttt
    JiKook trnyta sma”suka
    Wlwpun menunggu cukup lamaaa akhir.a
    brsatu jgaa..
    Si Kookie sweet bgt smpe bikin buku yg isi.a tntang sluruh prasaan.a trhadap jiyeon #envy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s