[ TWOSHOT – PART 2B END ] MY NAME IS JIYEON

img1443937269032

Tittle :  My name is Jiyeon

Author : gazasinta

Main Cast :  

  • Park Jiyeon
  • Kim Myungsoo
  • Bae Sooji

Genre :  Marriage Life

Rating : PG-17

Part Final 2B ~ My Name Is Jiyeon

Jiyeon duduk termenung dimeja makan seraya memandang lilin yang hampir habis terbakar api. Masakan yang ia hidangkan sudah tidak semenarik ketika tadi ia begitu gembira menunggu Myungsoo. Sesekali ia menatap pintu. Belum juga ada tanda-tanda seseorang membukanya.

Tidak ada sesuatu yang spesial yang harus dirayakan, hanya saja Jiyeon ingin melakukannya untuk Myungsoo, berharap Myungsoo sekali ini saja menyentuhnya. Tak berapa lama terdengar suara pintu dibuka oleh seseorang, ia pun sontak berdiri. Benar saja, Myungsoo muncul disana dengan wajah lelah sepulang bekerja.

“ Kau sudah pulang ? “ Sambut Jiyeon terlihat gembira dengan kehadiran Myungsoo.

Myungsoo menjawabnya, meski hanya dengan mengangguk. Kemudian ia berjalan menuju kamarnya. Dengan caranya yang seperti itu, tentu saja Myungsoo tidak akan sadar dengan keadaan sekitarnya.

“ Aku menyiapkan makan malam untukmu. Makanlah “ Tawar Jiyeon masih dengan suara yang terdengar antusias.

Langkah Myungsoo terhenti, dahinya tertaut. Dari sebuah kaca lemari dihadapannya, ia dapat melihat bayangan raut wajah gembira Jiyeon yang berdiri dibelakangnya. Ada yang berubah pada Jiyeon beberapa hari ini. Jika ia tidak salah menghitung, tiga hari ini. Bertepatan dengan kedatangan  Go Hyemi tiga hari lalu kerumahnya.

Mungkin tebakannya salah atau mungkin juga benar.

Sejak saat itu perhatian yang diberikan Jiyeon padanya terkesan berlebihan. Kini setiap pagi, yeoja itu selalu menyiapkan kotak makan untuk bekalnya ke kantor, meski dengan sinis ia mengatakan bahwa bekalnya hanya berakhir disebuah tempat sampahpun, yeoja itu tak menunjukkan wajah sedih ataupun kecewa.

Jiyeon juga seperti tak canggung untuk mengajaknya berbicara, meski dari sepuluh pertanyaan yeoja itu hanya satu jawaban yang diberikannya, yeoja itu tidak lelah untuk menunggu Myungsoo menanggapinya.

“ Waeyo ? mengapa kau melakukan ini semua ? “ Tanya Myungsoo membalikkan tubuh. Ia menatap lekat wajah Jiyeon.

Wajah yang Jiyeon tunjukkan seperti tak paham kemana arah pertanyaan Myungsoo. Bukan berpura-pura, Jiyeon memang tidak paham maksud pertanyaan Myungsoo. Menyiapkan makan malam memang setiap hari ia lakukan, meski malam ini lebih spesial, setidaknya Jiyeon tidak merasakan ada perbedaan dari sikapnya kepada Myungsoo.

“ Apa kau sedang ketakutan dengan sosoknya ? “ Ucap Myungsoo melanjutkan pertanyaannya. Ia sama sekali tak mengalihkan wajahnya, menatap dengan jelas raut wajah Jiyeon yang perlahan-lahan berubah.

Apa seperti itu ? apakah keinginan untuk melayani Myungsoo lebih baik dianggap pria itu sebagai tindakan ketakutan dirinya ? Meski kalimat Myungsoo sukses menghantam keras perasannya, Jiyeon berusaha untuk tak terlihat menyedihkan. Ia tetap memasang air wajah yang tenang.

“  Aku hanya menawarimu saja. Istirahatlah jika memang kau sudah makan diluar “ Ucap Jiyeon memaksa untuk tersenyum. Meski sebenarnya ia sangat kecewa. Jiyeon melangkah meninggalkan Myungsoo, tak ingin perasaan sedihnya terlihat.

Myungsoo tersenyum menyeringai, namun perlahan seringainya menghilang ketika pandangannya jatuh ke arah meja makan.  Lilin yang telah padam, banyaknya makanan yang dihidangkan , dan penataan yang sepertinya sangat spesial .

Myungsoo kemudian menoleh ke arah Jiyeon, namun yeoja itu telah menghilang dibalik balkon, tempat yang Myungsoo tahu adalah favorit Jiyeon. Tentu saja ia tidak akan merubah pikirannya untuk kemudian menghampiri yeoja itu lalu meminta maaf.  Myungsoo hanya membiarkan saja ada sedikit perasaan bersalah didirinya  bersemayam, nanti juga akan hilang dengan sendirinya, seperti biasa ketika ia berkata ketus kepada Jiyeon.

Begitu pikirnya.

….

Jam menunjukkan pukul dua belas malam. Jiyeon belum juga bisa memejamkan matanya. Tubuhnya berguling-guling di sofa. Lama ia memikirkan dugaan Myungsoo yang mengatakan jika dirinya sedang dibayangi ketakutan akan kehadiran Go Hyemi.

Benarkah ?

Jiyeon bisa menjawab dengan tegas dugaan Myungsoo….

TIDAK.

Tapi itu tadi. Ketika memang ia tidak memikirkan apa-apa untuk melayani Myungsoo lebih baik. Kini Jiyeon ragu,  dugaan Myungsoo barusan justru melekat di ingatannya, terlebih ketika memorinya kembali mengingat saat-saat Myungsoo dan Hyemi berinteraksi.

Ketika itu Myungsoo tersenyum pada Go Hyemi yang datang memperkenalkan diri sebagai tetangga baru, yang bahkan rupa Myungsoo tersenyum saja ia lupa. Myungsoo tak pernah lagi tersenyum sejak mendengar Sooji masuk rumah sakit. Hampir dua bulan. Waktu yang cukup lama untuk seseorang bersembunyi dibalik sikap dinginnya.

Haruskah hal kecil seperti itu ia jadikan alasan untuk takut dengan kedatangan Go Hyemi ? Apa yang harus dilakukannya jika ketakutannya benar-benar terjadi ? Bisakah ia mengikhlaskan Myungsoo pergi dari kehidupannya, ketika perasaan cintanya justru semakin membuncah pada namja itu, yang selalu menggores luka dihatinya ?

Entahlah, Jiyeon memang telah salah mengambil keputusan.

Mencintai orang yang membencinya.

Sementara didalam kamar, Myungsoo juga tidak bisa memejamkan matanya. Myungsoo tidak tahu mengapa ia menjadi kasihan pada Jiyeon ? Apa karena makanan yang susah payah dibuat yeoja itu menjadi terabaikan, atau kalimat tuduhan yang ia layangkan hingga ia harus melihat lagi wajah sedih  Jiyeon.

Kalimat tuduhan ?

Jika mengingat apa yang pernah ia katakan pada yeoja itu sebelum menikah dulu. Rasanya mungkin saja apa yang Jiyeon lakukan padanya akhir-akhir ini adalah upaya untuk melindungi rumah tangganya.

“ Jangan pernah menuntut kebahagian darinya, karena pasti Myungsoo tidak akan pernah bisa memberikannya. Tidak juga berpikiran bahwa mereka harus hidup bersama selamanya, karena jika nanti ada seseorang yang membuat Myungsoo jatuh cinta, maka ia berhak meninggalkan Jiyeon kapanpun ia mau “

Memang terdengar sadis, namun itulah yang Myungsoo katakan dulu. Berharap Jiyeon mundur dan tidak mengingat lagi janjinya pada Sooji. Apa sekarang Jiyeon berpikir bahwa Go Hyemi yang seperti titisan Bae Sooji bisa membuatnya jatuh cinta ?

Myungsoo menggeleng-gelengkan kepala tak percaya jika Jiyeon berpikiran seperti itu. Ia memang sangat mencintai Sooji. Setiap tarikan nafasnya memang tentang Sooji, tapi bukan berarti mudah bagi dirinya untuk jatuh cinta pada yeoja lain, meskipun sosok itu sangat mirip dengan Sooji.

Tunggu….

Apa peduli Jiyeon jikapun ia jatuh cinta ? Mereka menikah hanya karena janjinya pada Sooji, bukan karena mereka saling mencintai ataupun salah satu dari mereka jatuh cinta.

Myungsoo lelah memikirkannya, ia pun memaksa matanya untuk terpejam.

“ Kau curang harusnya aku yang menang malam ini “

“ Bagaimana bisa kau mengatakan dirimu menang ? bahkan bola yang kau lempar tidak satupun masuk ke dalam keranjang “

“ Itu karena kau selalu menarik bajuku ketika aku ingin melompat. Kau curang sekali Kim Myungsoo !! “

“ Yya !!! jangan selalu mencubit leherku, jika Sooji salah paham dengan tanda merah ini, maka kau harus bertanggungjawab Jiyeon-aa “

“ Apa ? apa maksudmu ? “

“ Dia pasti mengira kita telah berbuat yang tidak-tidak “

“ Dasar mesum “

“ Hahahaha “

Tangan Jiyeon sudah bersiap memasukkan bola ke dalam ring, namun kekuatannya tiba-tiba menghilang ketika teringat kenangannya bersama Myungsoo dulu. Myungsoo yang jahil yang selalu menggodanya.

Brugh

Dug

Dug

Dug

Jiyeon membiarkan saja bola terlepas dari tangannnya untuk kemudian duduk dan menenggelamkan wajah dikedua lututnya.

“ Huh bagaimana ini ? “ Eluhnya semakin menenggelamkan kepalanya. Jiyeon terlalu merindukan masa lalunya yang tidak akan pernah kembali.

Drrttt

Ponsel dikantong celananya bergetar.

“ Kau masih disana ? aku akan menjemputmu “  

Jiyeon mengernyit heran. Apa maksud Woohyun ? Apa pria itu tahu jika ia sedang berada di lapangan basket. Ah tentu saja, bukankah setiap hari ia memang selalu ke tempat ini. Jiyeon segera mengetikkan balasan, bagaimanapun ia tidak boleh selalu merepotkan sepupunya ini.

“ Aku sedang beristirahat dirumah, bersama Myungsoo “

Tidak berapa lama, balasan dari Wohyunpun datang kembali.

“ Benarkah ? Syukurlah, aku senang mendengarnya. Jika begitu lain kali kita bertemu “

Jiyeon tersenyum sinis, lagi-lagi ia harus berbohong dengan keadaannya. Dimasukkan kembali ponsel kedalam celana trainingnya. Waktu terus berlalu dan terasa begitu cepat. Bukannya beranjak pulang, Jiyeon justru memilih merebahkan tubuhnya diatas lapangan basket, tak peduli pakaian yang dikenakannya akan kotor.

Tiba-tiba terdengar suara gemuruh, belum sempat Jiyeon menyadari situasi, langit sudah menumpahkan airnya. Jiyeon sontak bangkit dan mencari tempat berlindung. Ia berlari-lari menuju sebuah pos keamanan, namun kemudian ia terhenyak ketika menemukan Myungsoo ada disana. Pria itu memang belum melihatnya karena sedang sibuk membersihkan celananya yang kotor karena cipratan air hujan. Jiyeon ingin mengurungkan niatnya untuk berteduh ditempat yang sama, tapi ia tak menemukan tempat berlindung lainnya yang lebih dekat.

Mungkin waktunya berbeda, namun tanpa keduanya tahu. Mereka selalu datang dihari yang bersamaan ke tempat ini. Hanya melamun dan bermain basket sendirian, hanya itu yang mereka lakukan.

Tepat ketika Myungsoo mengangkat wajahnya, ia pun terkejut melihat ada seseorang yang berdiri dihadapannya. Untuk beberapa detik lamanya mereka hanya saling diam, entah pergulatan batin apa yang ada dihati keduanya.

Hingga Myungsoo menyadari bahwa pakaian Jiyeon sudah cukup basah terkena hujan.

“ Apa kau tidak takut sakit ? “ Hardik Myungsoo akhirnya.

Tidak ada tanda-tanda jika hujan akan segera berhenti, bahkan semakin lebat dengan bunyi petir yang menggelegar. Tentu saja udara semakin dingin menyentuh kulit.

Jika Myungsoo bisa menunjukkan ketenangan dengan hanya berdiri membelakangi Jiyeon dan  memandang hujan, berbeda dengan Jiyeon….

Jiyeon sibuk berkutat dengan pikirannya. Memikirkan apa yang harus ia lakukan berdua saja dengan Myungsoo ditempat ini. Hingga tangannya tak sengaja menyentuh sesuatu yang ada dikantong celana trainingnya. Sebuah jepit rambut bertuliskan Bae Sooji, yang selalu dibawa kemanapun ia pergi.

 Mata Jiyeon mulai berkaca-kaca, ia kemudian mengangkat jepit rambut itu tinggi, menyandingkannya dengan sosok Myungsoo yang ada didepannya. Jiyeon tersenyum. Andai saja Myungsoo tahu, jika dialah yeoja dikereta itu.

“ Mengapa kau yakin sekali jika Sooji adalah yeoja yang kau temui dikereta itu ? “

“ Kau pikir jepit rambut bertuliskan Bae Sooji adalah milik Lee Minjung ? “

“ Bisa saja orang lain yang memakainya, lagipula kau ini jatuh cinta pada sosoknya atau jepit rambutnya ? “

“ Aku merasakan kehangatan ketika ia tertidur di bahuku. Rasanya nyaman sekali, itulah sebabnya aku memilih untuk tidak membangunkannya “

“ Apa kau akan tetap disana ? “

Kalimat Myungsoo membuyarkan lamunan Jiyeon tentangnya, beruntung tangan Jiyeon reflek menggenggam erat jempit rambut dan meletakkan tangan disamping tubuhnya sehingga Myungsoo tidak sempat melihatnya. Jiyeon melihat Myungsoo sudah berjarak beberapa meter didepannya. Ternyata hujan sudah reda.

Tidak ingin berlama-lama menunggu reaksi Jiyeon, Myungsoo membalikkan tubuhnya kembali dan berlari-lari kecil menuju mobil yang terparkir diluar lapangan. Terdengar suara cipratan-cipratan air dibelakang, menandakan Jiyeon mengikuti langkahnya.

Musim hujan baru saja dimulai. Orang-orang mungkin lebih memilih berkumpul bersama keluarga dirumah seraya memasang mesin penghangat. Tapi Jiyeon, gadis itu justru sedang sibuk memilih bahan-bahan yang ia butuhkan untuk membuat camilan disebuah minimarket tak jauh dari apartemennya. Sebuah majalah yang Jiyeon baca kemarin menampilkan menu camilan spesial, Jiyeonpun berpikir untuk membuatkannya untuk Myungsoo. Lagipula masih ada satu jam lagi Myungsoo akan kembali, rasanya bosan dirumah hanya menunggu seseorang didepan sebuah meja makan.

Kaki Jiyeon berlari-lari kecil untuk menuju apartemennya. Tiba dilobi Jiyeon melihat keadaan. Hujan sangat deras, jika Myungsoo kembali maka pria itu harus melewati hujan untuk sampai ke lobi hotel. Ya, Gedung parkir memang terpisah beberapa meter dari apartemen.

Akhirnya Jiyeon memutuskan untuk menunggu Myungsoo disana. Baru sekitar sepuluh menit, Jiyeon melihat mobil marcedes hitam Myungsoo melintas. Jiyeon bersiap untuk menyeberang, namun tiba-tiba langkahnya terhenti dan tubuhnya mematung . Dari arah berlawanan, ia melihat  sosok Hyemi sedang bergelayut manja dipundak Myungsoo. Jiyeon pikir ia salah melihat, nyatanya tidak. Bagaimana mungkin keduanya bisa sedekat itu sedangkan Jiyeon tak pernah melihat sebelumnya kedekatan mereka.  Jiyeon tidak pernah tahu bagaimana awal hubungan Myungsoo dan Hyemi terjadi.

Hyemi adalah seorang reporter disebuah stasiun televisi swasta – begitu yang ia tahu – dan Myungsoo seorang pengusaha sukses. Tentu saja Jiyeon tak menemukan alasan jika mereka terikat kerjasama dalam sebuah pekerjaan. Terlebih ia sangat tahu bahwa Myungsoo tak pernah membiarkan wajahnya muncul disebuah surat kabar ataupun tayangan televisi, meski itu tentang kesuksesannya. Lalu apa kira-kira yang membuat keduanya memiliki hubungan. Apakah itu adalah hubungan pribadi ?

Jiyeon bingung harus tetap bertahan atau pergi saja, seolah ia tidak melihat apa-apa, namun Go Hyemi sudah lebih dulu melihatnya.

“  Eoh Sooji-sii !!! “ Teriak Hyemi nampak sekali yeoja itu kikuk.

Akhirnya Jiyeon hanya memasrahkan dirinya untuk tetap berada disana. Ia membungkukkan tubuhnya dan berusaha untuk tetap tersenyum, meski hatinya sakit sekali. Konyol. Mengapa ia masih saja berpura-pura bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Dan panggilan Sooji ? Entah mengapa kali ini rasanya hati Jiyeon ingin menolak untuk dipanggil seperti itu oleh orang lain. Terlebih oleh Hyemi. Jiyeon menjadi benci dengan dirinya sendiri yang terlihat begitu naif.

Tatapan Jiyeon kemudian jatuh pada Myungsoo. Sayangnya pria itu memandang ke arah lain, seolah tak peduli dengan perasaan Jiyeon, bahkan kemudian Myungsoo dengan santainya berlalu meninggalkan Jiyeon bersama dengan Hyemi begitu saja.

Tentu saja. Myungsoo memang tak memiliki kewajiban untuk menjelaskannya. Sudah ada kesepakatan bahwa tidak satupun dari mereka yang berhak untuk ikut campur dengan urusan pribadi masing-masing.

 “ Aku adalah rekan kerja suamimu, tempatku bekerja memakai jasa periklanan dari Kim’s group, tadi kami ada rapat bersama jadi, … “

“ Arraseo ” Ucap Jiyeon memotong kalimat Hyemi.

Jiyeon hanya percaya saja meski sebenarnya hatinya ragu setelah apa yang ia lihat barusan.  Setidaknya apa yang Hyemi katakan sudah melekat diotaknya. Bahwa hubungan keduanya hanya sebatas rekan kerja. Jiyeon memang tak berhak marah ataupun memiliki sedikit perasaan cemburu ketika Myungsoo dekat dengan wanita lain, hubungannya dengan Myungsoo memang tak lebih dari sekedar status menikah.

Ya hanya menikah saja.

Kejadian malam itu bukanlah pertama dan terakhir kali Jiyeon melihat Myungsoo dan Hyemi bersama. Jiyeon baru sadar jika selama ini Myungsoo tak lekas pulang kerumah setelah pekerjaan dikantor selesai. Mereka menyempatkan diri bersama-sama.

Dan lunturlah keyakinannya tentang hanya hubungan pekerjaan yang mengikat mereka selama ini, juga tentang  Myungsoo yang ia anggap bukan pria brengsek yang bisa bersikap seenaknya pada seorang wanita, kini Jiyeon harus sadar bahwa semuanya sudah berubah total.

Myungsoo yang sekarang memang tidak lagi ia kenal.

Keduanya baru saja turun dari mobil. Tak peduli keadaan sekitar Myungsoo menghempaskan tubuh Hyemi untuk merapat disamping mobilnya. Yeoja itu kelihatan terkejut, namun tak lama melayani juga apa yang Myungsoo lakukan. Jiyeon masih sanggup melihat ketika tangan Myungsoo membelai lembut wajah Hyemi, dan setelahnya…

Gelap,

Jiyeon lebih memilih untuk memejamkan matanya. Tak berani untuk terus melihat apa yang keduanya lakukan.Rasanya ia lebih memilih untuk Tuhan membutakan matanya ketimbang hatinya kini yang seperti diteriris belati. Sakit sekali.

Myungsoo bukan tidak tahu jika Jiyeon melihatnya, dari balik kaca mobilnya ia melihat yeoja itu menatapnya dengan pandangan terluka.

Gila.

Entah siapa yang harus ia sebut gila.

Dirinya yang terus menorehkan luka atau Jiyeon yang memilih tetap bertahan disisinya meski terluka begitu dalam .

Malam berikutnya,

Jiyeon hanya menatap nanar kamarnya yang kosong dengan sisa-sisa air mata yang menganak sungai dipipinya, tidak mungkin ia memutuskan datang ke kamar Hyemi untuk melabrak keduanya. Hati Jiyeon sakit, benar-benar merasa sakit. Sampai kapan ia akan menjalani rumah tangga yang seperti ini ?

Ting Tong

Jiyeon sontak menoleh ketika bel berbunyi. Dengan cepat tangannya menghapus sisa air mata yang membekas, kakinya kemudian melangkah ragu untuk membukakan pintu. Apa Myungsoo  lupa dengan password kamarnya ?

“ Woohyun-ssi ? “

Bahu Jiyeon kembali melemah. Ternyata pria itu adalah Woohyun sepupu Myungsoo.

“ Annyeong !!! “ Sapa Woohyun dengan senyum merekah.

“ Apaaaa ??? yang benar saja kau membiarkan mereka berdua didalam kamar, apa kau sudah gila ? “

Sudah Jiyeon duga akan seperti ini reaksi Woohyun. Tidak hanya Woohyun, siapapun akan berpikiran ia gila membiarkan Myungsoo bersama wanita lain hanya berduaan dikamarnya. Tapi ia bisa apa ?

“ Woohyun-ssi kau mau kemana ? “ Teriak Jiyeon ketika melihat Woohyun bergerak ke arah pintu.

Woohyun menoleh dan nampak sedikit kesal dengan pertanyaan Jiyeon.

“ Tentu saja menyusulnya, dan mengatakan bahwa kau sedang menunggunya untuk makan malam bersama, bukankah seharusnya kau yang melakukannya ? “

Jiyeon terdiam. Ia memandang Woohyun tak suka, tak berapa lama seolah tersadar Jiyeon menunduk dalam. Bagaimanapun apa yang Woohyun katakan benar. Istri macam apa yang membiarkan suaminya berdua-duan dengan yeoja lain. Andaikan Jiyeon punya kewenangan untuk itu, untuk melarang Myungsoo bersama dengan yeoja lain. Tentu saja ia tidak akan mengijinkan Myungsoo selangkah saja masuk kedalam kamar yeoja itu.

Woohyun mengepal tangannya kuat, nampak geregetan dengan sikap Jiyeon yang selalu mengalah, namun juga tak ingin membuat yeoja itu marah padanya. Woohyun mengurungkan niatnya kemudian melangkah perlahan ke arah Jiyeon. Diraihnya tubuh Jiyeon kemudian menepuk-nepuk pundaknya pelan.

“ Kau tidak pantas diperlakukan seperti ini olehnya “ Ucap Woohyun nampak iba.

“ Sepertinya aku datang diwaktu yang tak tepat “

Tiba-tiba suara seseorang mengejutkan keduanya. Jiyeon menjauhkan tubuhnya yang hampir menempel ditubuh Woohyun ketika suara Myungsoo terdengar olehnya.

Myungsoo merebahkan tubuhnya di sofa santai seraya melempar tasnya sembarang. Mata elangnya menyusuri sosok sepupu dan Jiyeon yang terlihat tegang dihadapannya dengan sinis. Sial !!! Mengapa matanya harus melihat pemandangan menyebalkan seperti tadi.  Ia tidak menyangka keduanya sudah berani terang-terangan menunjukkan kemesraan dikediamannya. Apa lapangan basket sudah tidak cukup nyaman untuk mereka bersama ?

Jiyeon salah tingkah, meski ia tahu Myungsoo tidak akan marah karena alasan cemburu, namun Jiyeon merasa dirinya begitu hina dilihat Myungsoo sedang akrab bersama seorang pria, meski bisa dibilang Woohyun dan Jiyeon merupakan saudara kini.

“ A aa-kuu….aku menunggumu untuk makan malam bersama, tapi…. “ Jiyeon sangat gugup dengan pandangan lekat Myungsoo padanya “ Tunggulah….. aku akan menghangatkan kembali makanannya, setelah itu kita akan makan bersama, kau mau kan ? “ Tawar Jiyeon penuh harap.

 Myungsoo memicingkan kedua matanya, kemudian menunjukkan senyum seolah mengasihani Jiyeon dengan permohonannya “ Aku sudah makan dengan Hyemi  “ Ucap Myungsoo santai.

 Jiyeon mencoba menguatkan perasaannya untuk tidak merasakan sakit, sayangnya ia justru gagal menyembunyikan rona-rona  kecemburuan yang tercetak jelas diwajahnya. Penolakan Myungsoo bukanlah yang pertama kali, namun terasa ratusan kali lebih menyesakkan karena namja itu menyebut nama Hyemi sebagai alasannya.

“ Apa sebenarnya yang ada dikepalamu, hingga kau tega melakukan ini pada istrimu sendiri eoh ? ” Woohyun melangkah cepat dan menarik kerah kemeja Myungsoo hingga pria itu terpaksa bangun dari duduknya. Jelas sekali jika Woohyun menahan emosinya.

“ Woohyun-ssi !!! Sudahlah “ Cegah Jiyeon menarik tangan Woohyun.

Myungsoo membalas amarah Woohyun dengan  menampakkan senyum sinisnya “ Mengapa aku merasa kau tidak hanya sekedar peduli padanya ? “ Ucap Myungsoo menunjuk Jiyeon dengan dagunya “ Apa sudah banyak yang kalian lakukan dibelakangku hem ?

“ Kau jangan mengalihkan pembicaraan, disini jelas kau yang salah ? “ Marah Woohyun.

“ Apa aku meminta pendapatmu tentang apa yang terjadi dalam rumah tanggaku oh ? “ Myungsoo berteriak keras seraya mendorong Woohyun kasar.

Jiyeon tidak tahu harus berbuat apa, ia hanya berdiam di hadapan dua laki-laki yang berseteru dihadapannya.

“ Apa seperti ini layak kau sebut dengan rumah tangga ? Kau hanya seorang bodoh yang terjebak dengan masa lalumu, kau dibutakan oleh cinta yang sebenarnya mungkin itu tidak berarti apa-apa untukmu, Kau…… “

“ Keumanhe !!! aku tidak butuh nasehatmu. Kau tidak tahu apapun yang terjadi pada hidup kami. Kau hanya perlu tahu bahwa aku membencinya, membenci sikap keras kepalanya yang memaksaku untuk terus bersamanya. Apa kau tahu jika aku tidak bahagia dengan hal itu ? “ Emosi Myungsoo meledak, bahkan ia tidak sedikitpun memberi jeda pada kalimatnya.

Jiyeon hanya bisa menangis mendengar kalimat Myungsoo. Benar jika ia orang yang egois, hanya karena takut akan janjinya pada Sooji, ia memaksa Myungsoo untuk terus bersamanya. Tapi Myungsoo tidak tahu, bahwa bukan itu kini alasannya memaksa Myungsoo bersama. Ada perasaannya yang tertinggal begitu dalam dihati Myungsoo, dan Jiyeon rela mempertahankannya meski begitu banyak rasa sakit yang ia rasakan. Ia percaya semuanya akan indah jika ia bersabar.

Woohyun menoleh iba ke arah Jiyeon, tak lagi mempedulikan Myungsoo yang wajahnya berubah menyeramkan.

“ Jiyeon-aa….”

“ Mianhae, sebaiknya kau pulang saja. Lain waktu kami akan menyambutmu dengan keadaan yang berbeda “  Jiyeon mendorong paksa tubuh Woohyun untuk segera meninggalkan apartemennya ketika dari bibir sepupu Myungsoo itulagi-lagi menyebut nama aslinya.

Meski kecewa, Woohyun tak bisa memaksa. Ia tak ingin Jiyeon akan berubah membencinya “ Baiklah, aku akan pulang “

Tepat diambang pintu, Woohyun kembali menoleh.

“ Jika kau tidak mengijinkanku untuk memanggil namamu, namun aku juga tidak akan menyebut nama oranglain untuk kau dengar. Kau adalah Park Jiyeon bukan Bae Sooji “ Ucap Woohyun yang tahu mengapa Jiyeon memintanya pulang.

Meski kalimat Woohyun terasa menyentilnya, namun Myungsoo berpura-pura untuk tidak merasa bersalah, bahkan ia membuang pandangannya ke arah lain, tidak mau melihat dua orang dihadapannya. Sekali lagi ia tegaskan, bukan dirinya yang meminta Jiyeon sebagai Sooji, meski benar ia mengatakan tak ingin mendengar nama Jiyeon lagi. Jika Jiyeon menyimpulkan bahwa untuk membuat ia menerima Jiyeon dengan cara menjadikan yeoja itu sebagai Sooji, bukan salahnya.

Prangg !!!

Jiyeon menundukkan tubuhnya berusaha mengumpulkan serpihan beling yang berserakan. Sudah tidak terhitung berapa banyak gelas dan piring yang Jiyeon pecahkan selama ia tinggal bersama Myungsoo. Mungkin kesepuluh jarinya pun tidak cukup untuk ia gunakan.

“ Hiks “

Yeoja bodoh karena telah berubah menjadi begitu melankolis, begitulah Jiyeon menganggap dirinya. Namun memang hanya itu yang bisa ia lakukan ketika lagi-lagi Myungsoo menyakiti perasaannya. Hanya diam dan berusaha keras menahan rasa sakit. Ia tidak mungkin bisa marah yang meledak-ledak, karena ia masih ingin berada disisi Myungsoo, alasan yang mungkin bisa membuat orang lain tertawa keras mendengarnya.

Dan Woohyun, Jiyeon menyesal telah memperlakukan satu-satunya orang yang masih peduli dengan keadaannya dengan cara seperti tadi, namun membiarkan mereka bertengkar adalah mimpi buruk yang mungkin tidak bisa ia hapus.

Sementara didalam kamar,

Myungsoo duduk dipinggir ranjang dengan meremas kuat dadanya. Ternyata ia tak sanggup mendengar Jiyeon menangis. Dalam bayangan Myungsoo kemudian muncul dimana saat ia bahkan dibuat tertawa oleh Jiyeon, diberi semangat untuk terus berjuang mendapatkan cinta Sooji, ditemani ketika perasaannya sedang gundah.

Sangat bertolak belakang dengan apa yang ia lakukan pada yeoja itu sekarang ini bukan ?

Myungsoo mengusak rambutnya putus asa, kemudian menjatuhkan diri ke atas ranjang besarnya. Tak mau mendengar apapun, ia menutupi telinga dengan bantal, namun wajah Jiyeon yang menangis tetap terbayang dipelupuk mata dan membuatnya tak nyaman.

Sepuluh menit

Dua puluh menit

Satu jam  berlalu,

Tangis Jiyeon memang sudah tidak lagi terdengar, namun perasaan Myungsoo belum bisa benar-benar tenang, ia benci dengan pergulatan batinnya. Dengan kasar Myungsoo menyingkirkan bantalnya, kaki panjangnya melangkah cepat keluar kamar. Myungsoo berniat menyudahi semuanya malam ini juga, untuk tidak lagi membuat Jiyeon yang masih ia anggap sebagai teman tersiksa hidup bersamanya.

Ya, melepaskan  Jiyeon untuk tidak lagi bersamanya sepertinya adalah keputusan yang tepat.

“ Aku mohon pergilah. Jangan siksa dirimu untuk tetap bersamaku, aku sudah mengikhlaskan Sooji untuk tidak bersamaku, maka pergilah “

Myungsoo berbicara dihadapan Jiyeon dengan wajah memohon. Meski ia tahu kalimatnya hanya sia-sia. Jiyeon sudah tertidur, dengan wajah yang menyiratkan beban berat yang ditanggungnya. Meski begitu, ia tak memilih untuk beranjak, hanya memandang lama wajah Jiyeon tanpa sedikitpun bisa beralih.

Sahabatnya yang banyak terluka karenanya.

Setelah hari itu,

 Jiyeon merasa kehidupan rumah tangganya semakin suram. Ia tak pernah lagi melihat Myungsoo. Bukan karena pria itu pergi meninggalkannya ? Melainkan menghindarinya. Myungsoo pergi ke kantor sebelum Jiyeon terbangun, dan kembali ketika Jiyeon sudah terlelap.

Bahkan Myungsoo seolah tak peduli jika orangtuanya tahu pasal kehidupan rumah tangga yang mereka jalani. Ketika orangtua Myungsoo mengundang mereka untuk jamuan makan malam, Myungsoo tidak hadir dengan alasan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Orangtua Myungsoo percaya dengan kesibukan anaknya, tapi tidak dengan Jiyeon.

Dan dugaannya benar. Didalam taksi ketika pulang, Jiyeon memergoki Myungsoo dan Hyemi masuk ke dalam sebuah club malam. Seolah telah kebal, Jiyeonpun tak mempermasalahkannya.

Sebut Jiyeon bodoh karena masih mencoba bertahan, pemikirannya justru berkebalikan. Ia tidak ingin menyerah, harus ada sesuatu yang ia lakukan agar Myungsoo kembali, setidaknya menyadari jika ada dirinya yang tinggal bersama.

Seperti pagi ini,

Jiyeon bangun lebih pagi dari biasanya. Ia bergerak cepat mengambil kotak bekal yang sudah ia siapkan ketika matanya menangkap Myungsoo yang sudah menenteng tas dan siap untuk berangkat.  Jiyeon tak peduli lagi apapun pemikiran Myungsoo terhadapnya. Ia tidak ingin Myungsoo kelaparan disaat pekerjaannya menumpuk dan sulit mencari makanan enak.

“ Aku menyiapkan ini untukmu. Selamat bekerja. Hati-hati dijalan !!! “ Ucap Jiyeon seraya menyerahkan sekotak bekal ketangan Myungsoo dan dengan cepat meninggalkannya, bahkan sebelum Myungsoo bereaksi apapun atas sikapnya.

Begitupun malam hari,

Betapapun tubuh dan matanya lelah, Jiyeon berusaha untuk tetap terjaga. Ia tidak ingin melewatkan waktu untuk melihat sosok Myungsoo. Jiyeon menunggunya, menunggu Myungsoo yang kembali ketika malam sudah larut.

“ Kau sudah pulang ? Aku sudah menyiapkan air hangat dan makanan yang ibumu bilang kau sangat menyukainya, makanlah aku akan keluar sebentar “

Blammmm

Jiyeon pergi keluar, memaksa tubuh lelahnya menjelajahi malam hanya karena tidak ingin Myungsoo merasa terganggu dengan keberadaannya.

Ya…semuanya Jiyeon lakukan demi Kim Myungsoo kelak menerima keberadaannya.

Begitulah.

Jiyeon memutuskan untuk tetap melayani Myungsoo sebagai suaminya, meski haknya sebagai istri dilupakan pria itu. Jika kelak mereka berpisah, akan ada kebaikan yang tetap bisa dikenang olehnya. Mau tidak mau Jiyeon harus menyiapkan kemungkinan itu. Kemungkinan jika Myungsoo meninggalkannya.

Jiyeon sedang menjemur pakaian yang baru saja ia cuci. Kemudian Myungsoo muncul dari balik kamarnya dengan pakaian yang sudah rapi. Tidak biasanya Myungsoo bangun sepagi ini dan dengan penampilannya yang seperti itu. Jiyeon mengernyitkan dahinya. Bukankah ini adalah hari libur ? Apa Myungsoo memiliki janji dengan rekan bisnisnya atau…..

 Go Hyemi ?

Jiyeon menghentikan aktivitasnya, dan melangkah ke dapur untuk mengambil secangkir gingseng hangat yang sudah ia siapkan untuk Myungsoo.

“ Diluar sangat dingin, minumlah agar tubuhmu hangat “

Myungsoo meraih pemberian Jiyeon dan meminumnya habis.

“ Gomawo “

Seperti ada yang meledak dan mengagetkan jantung Jiyeon ketika ucapan terimakasih meluncur dari bibir Myungsoo yang terbiasa diam atau bernada sinis padanya. Jiyeon senang, namun rasa khawatir lebih mendominasi perasaannya karena sikap tak biasa Myungsoo, Jiyeon terus memperhatikan wajah tampan pria dihadapannya, memastikan bahwa tadi Myungsoo memang mengatakan sesuatu padanya. Sayangnya pria itu tidak lagi menatap ke arahnya.

“ Apa….kau juga akan pulang malam seperti biasanya ? “ Jiyeon mencobanya lagi. Mungkin saja kali ini Myungsoo menjawabnya kembali.

“ Eoh “ Ucap Myungsoo kemudian meninggalkan Jiyeon.

Tidak apa. Meski hanya jawaban dan mimik wajah kaku seperti itu, itu jauh lebih baik dibanding pria itu langsung pergi meninggalkannya. Jiyeon pun tetap tersenyum.

Senang, gugup, dan tak tahu apa yang harus dilakukan. Jiyeon masih berkutat di depan lemari dengan mata yang hanya memandangi gaun-gaun cantik yang tergantung. Jiyeon mendadak gugup sampai-sampai tidak tahu apa yang harus ia kenakan agar tampil cantik didepan Myungsoo nanti.

Sampai sekarang Jiyeon tidak menemukan alasan mengapa Myungsoo berubah baik dan teramat manis padanya. Ia hanya memiliki keyakinan bahwa waktu itu telah datang. Waktu dimana Myungsoo mulai bisa menatapnya. Buah dari  kesabarannnya. Benarkah ? Jiyeon berharap itu memang akan terjadi.

Sepuluh menit yang lalu Myungsoo menelpon dan meminta Jiyeon untuk menyusulnya ke sebuah hotel yang telah pria itu sewa untuk mereka. Masih lekat dalam ingatan Jiyeon, suara Myungsoo yang berbisik memintanya untuk tampil sangat cantik.

Apa Myungsoo ingin berkencan dengannya ? Jiyeon pasti sudah gila jika memiliki pemikiran itu.

Jiyeon mengambil satu dari beberapa gaun yang tergantung dilemarinya. Sebuah dress hitam diatas lutut dengan bahu terbuka dan belahan dada yang cukup rendah. Kemudian Jiyeon mematung dihadapan sebuah cermin. Akan ia tata seperti apa rambutnya ? Sayangnya ia tak punya banyak waktu untuk pergi ke salon.

Apakah ia tetap harus berpenampilan seperti Sooji ?  Jiyeon berpikir sejenak.

Jiyeonpun mulai menata rambutnya ketika penampilan Sooji terbayang dipelupuk matanya. Ia menggelung tinggi rambut hitamnya hingga memperlihatkan leher jenjang dan mulus miliknya. Tak lupa ia menyisir sebagian rambut depan untuk menutupi dahinya. Bibirnya ia poles dengan warna merah yang menyala. Sooji bilang itulah yang membuat ia terlihat seksi.

Sebelum keluar ia mematut-matut kembali dirinya di cermin.

“ Perfect “ Ucapnya dan kemudian bergegas pergi.

Tubuh Jiyeon terasa lemas dan kakinya tak sanggup untuk berpijak meski baru beberapa langkah memasuki kamar nomor 217 yang Myungsoo tuliskan di pesan singkatnya. Dihadapannya, sebuah kamar utama yang ia tidak tahu dengan siapa Myungsoo berada disana. Suara menjijikkan itu terasa nyata dan seolah akan memecah kepalanya.

Jiyeon merasakan mual dan hampir muntah jika ia tidak segera menutup telinganya. Suara desahan dan erangan kenikmatan, serta decitan bibir yang saling bertemu. Dalam hati ia berharap bahwa ia salah memasuki kamar, namun tidak. Otaknya tidak bodoh untuk mengingat apa yang ia lihat di ponselnya tadi.

Baru saja Jiyeon memilih untuk pergi, ketika tiba-tiba pintu kamar utama dibuka seseorang.

“ Eoh Sooji-ssi ? “ Ucap Hyemi nampak kaget dengan kedatangan Jiyeon.

Jiyeon memandang  jijik Hyemi yang hanya menutupi tubuhnya dengan selembar handuk. Ia berani menjamin bahwa yeoja itu berpura-pura terkejut melihatnya. Myungsoo muncul dibelakang Hyemi, tak berbeda dengan yeoja itu. Penampilan Myungsoopun membuat Jiyeon memandang hina padanya.

Mata Jiyeon terasa panas, emosinya memuncak. Myungsoo benar-benar telah mempermainkannya. Sebenarnya apa yang Myungsoo rencanakan untuknya. Jika ingin membalas dendam tidak puaskah dua bulan selama ini menyiksa hatinya ? Cara yang konyol. Pikir Jiyeon.

PLAK

“ Myungsoo-aa !!! “

Hyemi memasang badan berusaha melindungi Myungsoo, namun tangan Jiyeon lebih sigap untuk melayangkan tamparan ke wajah Myungsoo.

“ Kau puas ? Kau puas melakukan ini padaku ? “ Teriak Jiyeon penuh emosi. Sebenarnya ia tidak ingin menangisi Myungsoo yang memperlakukan hal keji ini padanya, namun apa daya ia tak mampu membendungnya, airmata Jiyeon mengalir membasahi wajahnya.

 Myungsoo memegang pipinya yang terasa panas akibat ditampar Jiyeon. Ia memang salah, namun sama sekali ia tak menyesali kesalahannya. Justru dengan cara ini ia ingin menyudahi kesedihan Jiyeon karenanya. Myungsoo mengangkat wajah dan menatap tajam ke arah Jiyeon, pandangan keduanya bertemu dan Myungsoo tak gentar menatap wajah Jiyeon yang memerah marah.

“ Mengapa kau melakukannya padaku ? Kau jahat sekali membuat aku seperti ini eoh ? “ Ucap Jiyeon dengan nafas tersengal “ KATAKAN MENGAPA KAU MELAKUKANNYA PADAKUU !!! “ Tangan Jiyeon memukul-mukul dada bidang Myungsoo membabi buta.

Myungsoo masih membiarkan saja semua perlakuan Jiyeon yang menumpahkan emosi padanya. Ketika ia merasa pukulan Jiyeon melemah, ia pun mulai mengumpulkan keberanian untuk mengatakannya.

“ Mari kita berpisah “ Ucap Myungsoo menghentikan aksi mengamuk Jiyeon.

Tak ada suara lagi terdengar, bahkan isakan Jiyeonpun terhenti.

“ Apa kau bisa mengulangnya lagi ? “ Tanya Jiyeon seperti tak percaya.

“ Pergilah. Pergilah dari hidupku. Aku tak mengharapkanmu “ Myungsoo mengatakannya tanpa jeda.

Jiyeon tak memberikan kalimat perlawanan. Buatnya kalimat yang Myungsoo ucapkan teramat jelas. Ia tidak lagi dibutuhkan. Hanya saja yang membuatnya teramat sedih, mengapa Myungsoo menjebaknya dengan cara seperti ini ? memberikannya sebuah harapan yang indah, sebelum membantingnya ke jurang kesedihan yang mendalam. Jiyeon rasa ia tak akan lagi memiliki toleransi untuk memaafkan pria dihadapannya.

Jiyeonpun memaksa tubuhnya untuk bergerak, pergi meninggalkan Myungsoo bersama Go Hyemi. Tak peduli apa yang selanjutnya keduanya lakukan. Menyesali perbuatannya atau bahkan merayakan kesuksesan karena berhasil membuatnya terlihat menyedihkan seperti sekarang ini.

Sungguh. Jiyeon sudah tak peduli.

“ Mengapa kau melakukannya ? “

“ …….. “

“ Kau mencintainya ? “

“ …….. “

“ Dia pasti tidak akan pernah memaafkanmu “

Tiga tahun berlalu,

Myungsoo menyandarkan tubuh lelahnya diatas sofa. Memejamkan matanya yang terasa begitu perih dan lelah. Tak berapa lama ia tertidur.

“ Myungsoo-aa….Myungsoo-aa, bangunlah. Kajja kita makan bersama “

Myungsoo tersentak. Masih dengan kepala yang tersandar diatas sofa mata tajamnya menatap berkeliling langit-langit kamarnya, kemudian ia gunakan kedua tangannya untuk membasuh wajah lelahnya. Hal yang tidak mungkin terjadi bila ada seseorang yang membangunkannya.

Ia hanya tinggal seorang diri sekarang.

Sejak kejadian itu Myungsoo tidak tahu apapun mengenai kabar Jiyeon. Yeoja itu memilih pergi dan menghilang dari kehidupannya. Myungsoo membiarkannya, bahkan dengan sombong dirinya begitu yakin bahwa ia sanggup untuk tidak melihat yeoja itu dalam hidupnya, namun kini rasanya Myungsoo seperti akan merasakan kematiannya sendiri. Setiap detik yang ia miliki selalu tentang yeoja itu. Myungsoo bahkan pernah mencarinya hingga ke Busan, tempat keluarga Jiyeon berada, namun mereka semua pun seperti hilang bersama Jiyeon.

Myungsoo membuka tas kerja yang terletak disampingnya, mengeluarkan sebuah buku diary yang terlihat sudah  lusuh. Tentu saja, hampir setiap saat Myungsoo membacanya. Di kediamannya, di kantor bahkan ketika ia sedang melamun dikeramaian. Urutan curahan hati yeoja itu pun telah Myungsoo hapal diluar kepala, Myungsoo tidak pernah bosan membacanya.

Bahagia, terharu dan berakhir dengan penyesalan ketika tiap-tiap rangkaian kalimat itu dibacanya. Terlebih ketika membaca bagian curahan hati Jiyeon yang begitu tersiksa ketika harus menyandang nama oranglain dalam hidupnya.

“ Aku merindukan dia yang memanggilku dengan manja.  Jiyeon-aa…. “

Sepenggal kalimat itu bisa membuat dada Myungsoo penuh sesak. Berkali-kali membacanya Myungsoo tetap saja menangis. Myungsoo tidak bisa memaafkan dirinya, meski ketika itu ia tak memaksa Jiyeon untuk mengganti namanya, namun ia mengingat dengan jelas bahwa ia pernah berkata benci mendengar nama Park Jiyeon. Myungsoo memang sangat bodoh tidak bisa memahami hati seorang yeoja. Terlebih yeoja itulah yang selama ini ia cari. Yang membuatnya merasa hangat ketika kepalanya tertidur dipundaknya.

Park Jiyeon.

Bukan Bae Sooji.

Myungsoo tak sengaja menemukan diary milik Jiyeon dibalik sofa.Tempat yeoja itu beristirahat selama hidup bersamanya. Myungsoo lalu memflasback bagaimana bisa orang yang ia anggap sebagai yeoja dikereta itu adalah Bae Sooji.

Pantas saja, Sooji memandangnya aneh ketika Myungsoo memintanya untuk memperlihatkan sebuah jepit rambut padanya. Ketika itu Sooji bilang, Myungsoo adalah pria paling aneh yang menggunakan cara itu untuk berkenalan dengannya, namun Myungsoo tak peduli.

Dan pantas saja Sooji sangat acuh dan tidak tahu apapun yang ia suka dan tidak sukai padahal ketika berkomunikasi lewat kakao-talk mereka sudah saling bertukar informasi apapun.

Bodohnya. Myungsoo tidak pernah menggunakan otaknya untuk menelusuri lebih dalam ketika ada yeoja lain yang terasa dekat dan begitu baik memahaminya. Nama Bae Sooji sudah seperti sugesti yang sangat sulit untuk kepalanya lepaskan hingga ada yeoja lain bernama Park Jiyeon terabaikan olehnya.

Terabaikan sepertinya bahasa yang sangat kasar, terlebih Jiyeon tidak benar-benar Myungsoo abaikan.

Berkata jujur sekarang ini mungkin sudah sangat terlambat, namun Myungsoo tetap harus mengakuinya. Jika hatinya bergetar ketika pertama kali bertemu Jiyeon. Ketika yeoja itu dipaksa oleh Sooji untuk menemaninya. Myungsoo bahkan harus menyadarkan dirinya bahwa Jiyeon adalah sahabat yeoja yang ingin dikencaninya.

Ddrttt

“ Waeyo ? “

“ Bagaimana ? kau sudah mendapatkan titik terang keberadaannya ? “

“ Belum “

Terdengar helaan nafas, dan untuk beberapa saat sunyi.

“ Wohyun-aa, apakah aku bisa bertemu dengannya lagi ? “

“ Jangan putus asa Myungsoo-aa, jika dia memang takdirmu, kau pasti akan bertemu kembali “

Terdiam cukup lama “  Kau sedang dimana ? Tidak mau menemaniku ? “ Tanya Myungsoo ragu

“ Akhir-akhir ini kau sering berkata butuh teman. Mianhae, aku sedang bersama kekasihku. Ups maksudnya yeoja incaranku. Lain kali saja ya…annyeong !!! “

Myungsoo menutup ponsel dan tersenyum kecut mendengar Woohyun seperti menyindirnya. Kakinya begitu lelah namun ia harus membersihkan tubuh.

Sepuluh menit kemudian,

Myungsoo kembali dengan selimut dan bantal yang ia bawa dari kamarnya. Mulai merebahkan tubuh lelahnya diatas sofa. Setelah merasakannya, Myungsoo baru tahu betapa sakit tubuhnya ketiha harus tidur disini. Myungsoo berjanji untuk tidak lagi tidur diatas ranjangnya sebelum ia kembali bertemu Jiyeon dan mendapatkan maaf dari yeoja itu. Sakit tubuhnya saat ini tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan sakit hati yang Jiyeon alami selama hidup bersamanya.

“ Mianhae aku tidak bisa membantumu lagi “ Ucap Hyemi sedikit menyesal.

Myungsoo mengangguk tersenyum “ Tidak apa-apa. Apa Woohyun yang menyuruhmu untuk tak membantuku ? “ Tanya Myungsoo curiga.

Hyemi merapatkan bibirnya.

“ Isshh jinja, mungkin dia takut jika kau akan berpaling kepadaku. Hyemi-aa gomawo untuk bantuanmu selama ini “

“ Kurasa itu bukanlah bantuan, jika pada kenyataannya kini kau yang tersiksa “ Ucap Hyemi menggembungkan mulutnya.

Hyemi mendekat ke arah Myungsoo dan menepuk-nepuk lembut bahu teman barunya itu.

“ Myungsoo-aa kau pasti bertemu lagi dengannya, aku meyakini jika kalian berjodoh. Biasanya pasangan yang banyak mengalami hambatan itu adalah jodoh “ Ucap Hyemi penuh keyakinan.

“ Tchh “

 Myungsoo tersenyum hambar  mendengar kalimat Hyemi, namun hatinya meng-amini apa yang Hyemi katakan. Saatnyalah kini ia berjuang sendirian. Woohyun dan Hyemi terlalu sering ia repotkan. Sepeninggalan Hyemi terbayang kembali bagaimana ia mengenal yeoja itu.

Hyemi adalah seorang pelayan sebuah restaurant. Wajahnya yang begitu mirip dengan Sooji memberikan ide bagi Myungsoo yang kala itu menginginkan Jiyeon pergi dari hidupnya. Myungsoo pun mendekati Hyemi dan membuat kesepakatan. Hyemi yang polos akhirnya bersedia masuk dalam skenarionya. Myungsoo mengatur semuanya. Mulai dari kedatangan Hyemi di apartemen hingga peristiwa menjebak Jiyeon di hotel adalah sandiwara keduanya.

Tak pernah terjadi apapun. Peristiwa dihotel itu hanyalah sebuah rekaman adegan film dewasa.

 “ Satu tiket ke Dong-gu “ Pesan Myungsoo diloket kereta.

Tak sedikitpun merasa lelah, bahkan ini sudah memasuki tahun ketiga Myungsoo melakukan perjalanan menggunakan kereta. Tak ada tempat yang ingin ia kunjungi, pun tak ada keperluan ia menggunakan kereta. Hanya saja Myungsoo sering melakukannya, bernostalgia dengan masa lalunya.

 Myungsoo memilih kursi di posisi yang sama ketika pertama kali ia bertemu Jiyeon. Tak berharap besar bertemu dengan yeoja itu , karena memang hal itu sangat kecil kemungkinannya. Ia tak tahu dimana Jiyeon berada. Apa yeoja itu berada di Seoul atau jauh dari Seoul ?

Myungsoo memejamkan matanya mencoba menghadirkan kembali sosok Jiyeon ada disana.

Tiba-tiba seseorang yang duduk dikursi kosong sampingnya membuatnya terkejut. Seorang yeoja yang menutupi wajahnya dengan sebuah masker, namun tentu saja Myungsoo tidak berpikiran bahwa itu adalah Jiyeon. Hampir separuh penumpang kereta menggunakan masker, terutama kaum yeoja.

 Meski begitu, apapun gerak-gerik yeoja itu tak luput dari pengawasannya.

Stasiun Dong-gu. Myungsoo sudah harus turun, namun ia masih penasaran dengan yeoja disampingnya.

“ Permisi nona, stasiun Dong-Gu  apa masih jauh ? “ Konyol memang, disaat petugas stasiun dengan jelas mengatakan kini kereta sedang menuju Dong-Gu, namun Myungso melakukannya. Berharap suara yeoja ini bisa menjawab penasarannya.

“ Ini stasiun Dong-Gu tuan “

Bukan Jiyeon. Myungsoo menunjukkan senyum tulusnya “ Gomawo “ Kemudian bangkit dan berjalan menuju pintu keluar tanpa menoleh lagi.

Yeoja itu menurunkan masker dari wajahnya. Jantungnya masih berdegup begitu kencang padahal pria itu sudah tak lagi berada disampingnya. Untuk beberapa detik lamanya ia hanya terdiam, namun sontak menoleh ketika menyadari mungkin ini adalah kesempatan terakhirnya bisa menatap pria itu dari kejauhan.

Dari balik jendela kereta, ditatapnya punggung pria tampan itu dengan tatapan kerinduan. Sesuatu menetes dari sudut matanya. Rasanya ia ingin menggerakkan kaki untuk berlari ke arah pria itu, tapi tidak akan pernah ia lakukan. Akhirnya ia memilih untuk menundukkan kepala dan meremas ujung baju dengan tangannya, menahan perasaan rindunya sekuat tenaga. Pria itu hanyalah masa lalunya yang teramat pahit.

Kereta perlahan bergerak untuk kembali melanjutkan perjalanan. Yeoja itu terkejut ketika mengangkat kepalanya, sosok itu sudah tak lagi ia dapati. Pandangannya kemudian berpendar mencari-cari sosok si pria, tapi tidak ada. Pria itu sudah hilang diantara banyaknya kerumunan orang-orang.

Ia pun tersenyum. Setidaknya Tuhan telah menjawab doanya, untuk dapat melihat pria itu lagi.

 Tapi tiba-tiba,

“ Chajatta….. “

Yeoja itu terhenyak ditempatnya, bahkan sampai lupa bagaimana caranya bernafas ketika sosok yang baru saja dicari-carinya muncul entah darimana dengan nafas memburu, wajah lelah dan memendam kerinduan padanya.

Bagaimana bisa pria itu akhirnya menyadari keberadaannya ? Dan apa yang harus ia lakukan ?  berpura-pura untuk tak mengenalnya atau membalasnya dengan sikap sinis seperti pria ini dulu memperlakukannya.

“ Akhirnya…….aku menemukanmu…..Park Jiyeon “ Ucap si pria dengan pandangan mengabur karena tertutup airmatanya.

Park Jiyeon, nama itu. Nama yang ia berharap akan kembali disebut oleh pria dihadapannya.Goyahkah kini perasaannya ?

Dua pasang kaki itu berjalan menyusuri malam. Tak sejajar, karena Jiyeon tak mengijinkan Myungsoo untuk berada disampingnya. Ketika Myungsoo meminta sedikit waktu untuk menjelaskanpun, Jiyeon menolaknya. Kalimat yang sudah ada diujung lidah akhirnya tak tersampaikan. Tak ada pilihan, Myungsoo akhirnya hanya memilih diam dan berjalan dibelakang Jiyeon. Setidaknya berakhirlah penantiannya selama tiga tahun ini. Semangat hidupnya kembali, hanya dengan sosok Jiyeon, wanita yang baru ia sadari begitu berarti dihidupnya.

“ Pergilah “

Tiba-tiba Jiyeon menoleh dan seolah memerintah Myungsoo .

Myungsoo berpura-pura tak mendengarnya, ia memasukkan tangan kedalam saku celana untuk mengusir dingin. Mata tajamnya memandang ke sekitar, tak ingin melihat pandangan sinis Jiyeon padanya.

 “ Rumahku sudah dekat. Pergilah dan jangan pernah menemuiku lagi. Aku sudah bahagia dengan hidup baruku dengan orang-orang yang ku cintai “ Ucap Jiyeon mencoba bersikap tenang.

Kalimat itu berhasil membuat Myungsoo menatap kembali ke arah Jiyeon. Myungsoo ingin bertanya apa maksud Jiyeon dengan hidup baru bersama orang-orang yang dicintainya ? Apa itu artinya Jiyeon sudah menemukan pengganti dirinya atau ?

Myungsoo takut, takut jika jawaban Jiyeon adalah dugaan pertamanya.

“ Jiyeon-aa. Bisakah kita kembali …”

Akhirnya kalimat pancingan seperti itu yang Myungsoo ucapkan, sebelum akhirnya Jiyeon memotongnya….

“  Sama sepertimu dulu. Akupun tak ingin kau hadir lagi meski itu hanya sekedar mendengar namamu “

Dan Lidah Myungsoopun tercekat. Ia mendapatkannya, balasan dari rasa sakit Jiyeon. Apakah tidak ada harapan lagi baginya ? Rasanya Myungsoo tak rela mendapatkan takdir yang seperti ini. Tidak tahukah Jiyeon jika ia sebenarnya tidak pernah mengkhiati pernikahannya dulu, yang Myungsoo lakukan hanyalah….

Ah rasanya percuma untuk dijelaskan….

Meski perkataan Jiyeon kemarin sempat meluluh lantakkan perasaan dan meredupkan semangatnya, Myungsoo memilih untuk tidak menyerah. Hari ini ia kembali berusaha. Menunggu Jiyeon ditempat kemarin mereka berpisah. Dengan sabar meski cuaca mendung dan dingin Myungsoo tetap menunggunya. Lalu lalang orang tak lepas dari pengawasannya.

Tes

Tes

Tes

Myungsoo menengadahkan tangannya, tetesan air yang turun dari langit jatuh tepat di  telapak tangannya.

Hujan.

Myungsoopun mencari tempat berteduh yang terdekat. Sebuah rumah toko yang memang sudah tutup yang berada tak jauh darinya. Tidak berapa lama orang-orang berdatangan. Myungsoopun tersenyum ketika mengetahui ada sosok yang ditunggunya sedang berlari-lari diantara banyaknya orang yang juga berusaha untuk menuju ke tempatnya berlindung.

 Jiyeon tak melihatnya. Yeoja itu berdiri beberapa langkah didepannya, terpisahkan oleh orang-orang lainnya. Myungsoo baru saja ingin bergerak untuk menawarkan perlindungan, ketika dilihatnya yeoja itu  menghubungi seseorang.

Myungsoo menahan  langkahnya. Air hujan membuat ia tak bisa mendengar pembicaraan itu. Setelah memastikan Jiyeon sudah selesai berbicara….

“ Sepertinya hujan akan awet, apa kau mau ku antar pulang  ? “

Myungsoo memberikan senyum tulus dan manisnya seraya menyodorkan satu payung ke arah Jiyeon. Hingga lima detik berlalu, hanya tatapan datar yang Myungsoo terima sebagai balasan sikap manisnya. Myungsoo memegang tengkuknya untuk menghilangkan rasa gugupnya.

“ Kau pernah melakukannya untukku, dan sekarang aku ingin melakukannya untukmu “ Myungsoo berharap kali ini Jiyeon akan tersentuh.

“ Bukankah akhirnya ada yeoja lain yang bersamamu ? “ Ketus Jiyeon dan kemudian berbalik untuk kembali membelakangi Myungsoo.

Haruskah Myungsoo menyerah, hanya karena balasan yang seperti itu ? Tidak, bukan salah Jiyeon jika akhirnya menaruh dendam, ia memang pantas mendapat balasan yang seperti itu. Myungsoo membuang nafasnya gugup. Apa yang selanjutnya harus ia lakukan ? Ia bukan pria bukan pria romantis dan tahu bagaimana memperlakukan wanita begitu manis.

Angin berhembus sangat kencang, meski harus menahan malu karena mungkin orang akan geli melihat sikapnya, namun Myungsoo tak peduli. Myungsoo perlahan kembali mendekat, membuang nafasnya lembut seraya mengumpulkan keberanian, perlahan ia melepas mantel yang melindungi tubuhnya kemudian dipakaikan ke tubuh Jiyeon.

“ Katakan jika udara dingin masih mengganggumu, aku akan melepas kemeja yang kupakai untukmu “ Ucap Myungsoo dengan suara bergetar.

Tangan Myungsoo tertahan dibahu Jiyeon karena yeoja itu kemudian menoleh dan pandangan mereka bertemu. Masing-masing bahkan bisa merasakan nafas mereka saling bertukar dan membelai lembut pipi keduanya.

“ Eomma !!! “

Tiba-tiba panggilan eomma terdengar yang akhirnya menyadarkan aksi keduanya. Myungsoo menarik senyumnya dan hanya menatap dengan bingung seorang gadis remaja sekitar enam belas tahun yang memegang payung tersenyum ke arah Jiyeon, namun bukan itu yang membuatnya terhenyak. Melainkan anak kecil berusia sekitar satu setengah tahun yang memanggil Jiyeon dengan sebutan eomma.

“ Eoh Jiyoung-aa !!! “

Gadis remaja  itu kemudian menghampiri dan memberikan Jiyoung pada Jiyeon untuk digendong.

 Myungsoo terpaku. Bahkan mantel yang belum sempat melekat pada tubuh Jiyeon terjatuh dari tangannya. Pikiran liar Myungsoo mulai menjelajah. Apa ini yang dimaksud Jiyeon dengan hidup baru dengan orang-orang yang dicintainya ? Jika Myungsoo mengabaikan peran gadis remaja yang ia kira mungkin seorang baby sitter tapi siapa anak kecil ini ? Apakah adalah anak Jiyeon ?

“ Kau percaya jika aku telah bahagia ? “ Ucap Jiyeon kemudian meninggalkan Myungsoo yang kini nampak syok.

Myungsoo seperti kehilangan gairah untuk hidup. Bahkan ketika Woohyun datang untuk menghiburnya menurut Myungsoo sepupunya itu hanya sedang mengalunkan lagu sedih yang mengiringi perjalanan hidupnya. Semua nampak tak menggairahkan dimata Myungsoo kini. Ia merasa kesal dengan kesempatan hidup yang Tuhan berikan. Separuh hidupnya hanya berupa usahanya untuk bangkit dari kepahitan cinta. Jika dulu ia merasa rapuh karena Sooji, namun kegagalan cintanya pada Jiyeon beribu kali lipat menyiksanya dan Myungsoo tak yakin ia mampu bangkit kembali.

Jiyeon telah bahagia dengan takdirnya, bahkan kini yeoja pujaannya itu telah memiliki buah hati dengan cinta barunya. Sementara dirinya ? mengapa justru semkain terpuruk.

“ Bodoh !!! “

Teriak Myungsoo ketika lemparan ke dua puluhnya yang juga tak berhasil. Myungsoo melangkah perlahan untuk mengambil bola lainnya. Matanya terpejam, mencoba fokus. Giginya bergemeletuk ketika sosok Jiyeon tak juga hilang dari pikirannya.

Myungsoo melempar bola itu, kali ini melambung, dan kembali gagal. Myungsoo benar-benar frustasi . Perasaan ini menyiksanya.

“ Aaaaaaaaaarrrrrrgggggghhhhhhhkkkkkkkk “

Teriakan Myungsoo terdengar seperti lolongan serigala yang menyeramkan. Membuat siapapun mungkin akan takut mendengarnya.

Tap

Tap

Tap

Myungsoo mendengar langkah kaki seseorang yang menuju ke arahnya begitu cepat. Mungkin ia telah mengganggu penunggu tempat ini hingga langkahnya marah seperti itu, namun Myungsoo tidak sedikitpun gentar. Ia butuh melampiaskan kegelisahannya.

“ Dasar bodoh. Hanya karena tak bisa memasukkan bola saja kau harus berteriak seperti orang gila “

Myungsoo sontak menoleh, dan ketika sosok si pemilik suara cempreng terlihat Myungsoopun hampir kehilangan jantungnya. Matanya tak lepas mengikuti yeoja berambut blonde panjang yang kini memungut bola dan mengambil ancang-ancang untuk bersiap memasukkannya kedalam keranjang.

“ Yeay three points !!!! Kau lihat? aku bahkan melakukannya lebih baik darimu “ Teriak yeoja itu seraya memperlihatkan eyes smile-nya.

Myungsoo masih belum bisa berkata apa-apa. Gila, hanya karena begitu merindukkannya sampai –sampai ia berhalusinasi jika Jiyeon ada didekatnya.

“ Mengapa kau menatapku seperti itu ? Apa aku seperti hantu ? Memangnya ada hantu cantik yang seperti diriku ? “

Myungsoo masih bergeming. Ia pasti benar-benar sedang berkhayal. Jiyeon yang cerewet adalah Jiyeon yang dulu ia kenal pertama kali, dan itu tidak mungkin kembali setelah banyak kepahitan yang diterima karena hidup dengannya. Myungsoo pun mengabaikan sosok itu, ia berbalik dan memandangi ring basket.

Bughhh

“ Awwww “ Teriak Myungsoo ketika bola basket dilempar seseorang ke kepalanya.

“ Apa kau benar-benar akan mengacuhkanku lagi setelah berhari-hari aku memikirkan apakah aku harus memaafkan kesalahanmu atau tidak ? “

Ya Tuhan. Suara itu benar-benar nyata. Myungsoo memejamkan matanya sesaat dan mengambil udara untuk kemudian ia hempaskan. Ia pun memberanikan tubuhnya untuk berbalik dan…..

Grebbbb

“ Ah lepaskan bodoh!!!! “

Myungsoo harus memastikannya bahwa kali ini ia tak berhalusinasi. Hangat, ketika memeluknya Myungsoo merasakan kehangatan yang menjalar disekujur tubuhnya. Ini terasa nyata, ia dapat merasakan tubuh Park Jiyeon yang meronta-ronta didalam dekapannya. Myungsoo tak peduli, meski yeoja itu mencubit, memekik marah, Myungsoo terus mendekapnya.

“ Myungsoo-aa, lepaskan akan ku hajar bila kau tidak melepaskanku eoh !!!! “

Bughhh

Dan Myungsoopun jatuh tersungkur dengan mengerang sakit di dagunya. Jiyeon meninju wajahnya karena Myungsoo bersikeras untuk tetap memeluknya. Myungsoo mencoba bangkit. Bukannya meringis ia malah tersenyum begitu lebar.

“  Mengapa kau kembali padaku ? “ Tanya Myungsoo duduk dihadapan Jiyeon yang memasang wajah kesal padanya.

“ Siapa yang kembali padamu ? Jangan percaya diri “ Kilah Jiyeon.

Myungsoo terdiam dan kembali bersedih. Ia kemudian tersenyum kecut dan memilih untuk menunduk. Setidaknya ia merasakan Jiyeon telah kembali. Mungkin bukan untuk menjadi pendamping hidupnya, melainkan sahabatnya seperti dulu.

“ Tentu. Kau tidak mungkin kembali padaku. Kau sudah bahagia dengan suami dan anakmu yang lucu itu. Hah sekarang aku harus mencari kemana pengganti dirimu ? “ Myungsoo masih sempat berkelakar.

Jiyeon merengutkan bibirnya, karena tak tahan untuk terus mengerjai Myungsoo, ia kemudian mendekat dan berjongkok mensejajarkan dirinya dihadapan Myungsoo. Tangan kecil Jiyeon kemudian meraih dagu Myungsoo, memandangnya dengan penuh kehangatan.

Meski jantungnya berdegup begitu kencang karena Jiyeon menyentuhnya, tapi Myungsoo tak ingin lagi menyimpulkan bahwa akan ada lagi kebahagian yang tak ia kira akan ia dapatkan. Segalanya sepertinya sudah jelas, mereka memang ditakdirkan hanya sebagai sahabat. Kedatangan Jiyeon mungkin hanyalah penghapus rasa bersalah karena mengabaikan Myungsoo yang berusaha memohon maaf. Ya itu saja.

Cup

Mata Myungsoo mengernyit sebelum akhirnya terbelalak. Apa ini ? mengapa tiba-tiba Jiyeon mengecupnya. Dilihatnya kembali wajah Jiyeon yang merona malu.

“ K-kkau ? “ Tak percaya Myungsoo

“ Aku ingin hidup selamanya denganmu “ Ucap Jiyeon sungguh-sungguh.

“ Kenapa ? “ Tanya Myungsoo dengan wajah bodoh.

“ Apa maksudmu dengan pertanyaan aneh itu ? “ Kesal Jiyeon

“ Bukankah kesalahanku tidak termaafkan olehmu dan juga, bagaimana dengan anakmu…… ? “ Myungsoo seperti orang bodoh yang tidak tahu apapun, ia menggaruk-garuk kepalanya bingung.

Sementara Woohyun dan Hyemi yang berdiri dari kejauhan hanya tersenyum saja melihat Myungsoo dan Jiyeon yang kini seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta. Myungsoo harus berterimakasih pada keduanya. Berkat mereka Jiyeon akhirnya luluh dan memutuskan untuk kembali padanya.

Setelah Myungsoo bercerita bahwa Jiyeon telah menikah. Woohyun tak begitu saja percaya. Ia akhirnya meminta Hyemi yang telah resmi menjadi kekasihnya untuk bersama menyelidikinya. Tak perlu dari Myungsoo untuk Woohyun mendapatkan keterangan dimana Jiyeon tinggal. Hanya mengerahkan anak buahnya, Woohyun bisa mengetahui segalanya.

Awalnya sangat sulit membuat Jiyeon mempercayai cerita tentang hubungan Myungsoo dan Hyemi yang sebenarnya hanya sandiwara , namun Woohyun dan Hyemi tak menyerah. Mereka terus meyakinkan Jiyeon, hingga sampai pada bagian bagaimana frustasinya Myungsoo selama tiga tahun kepergiannya, akhir Jiyeon pun luluh.

Lupakan tentang Myungsoo yang mengira jika Jiyeon telah memiliki keluarga. Tiga tahun kepergiannya,  Jiyeon memilih untuk bekerja di sebuah panti asuhan. Jiyeon merasa kehadiran anak-anak malang itu bisa membuat dirinya lebih bersyukur dengan keadaannya. Tak menyangka ketika bertemu Myungsoo pria itu menyimpulkan berbeda.

“ Saudara Kim Myungsoo bersediakah anda menikahi saudari Park Jiyeon “

“ Ya. Aku bersedia “

“ Melindunginya dan menjamin kelak hidupnya bahagia ? “

“ Aku bersedia “

“ Melewati hidup bersama dalam suka maupun duka ? “

 “ Ya. Aku bersedia”

Myungsoo menghembuskan nafasnya lega. Mensyukuri nikmat Tuhan yang pernah ia ragukan. Kini hanya hari-hari bahagia yang akan ia jalani bersama Jiyeon. Tak akan ada lagi kesedihan, seujung kukupun Myungsoo akan melindungi yeojanya tercinta, bahkan dari keegoisannya sendiri.

“ Bae Sooji ? Park Jiyeon ? Bae Jiyeon ? Park Sooji ? Menurutmu nama mana yang pantas untukku ? “

“ Apa kau gila ? Namamu adalah Park Jiyeon. Apa kau berniat untuk mengganti namamu lagi ? “

“ Tidak. Hanya saja……aku takut kau masih membenci nama itu ? “

“ Yya !!! apa kau masih belum ikhlas memaafkanku ? “

“ Tentu saja aku sudah melupakannya “

“ Mianhae. Jika aku begitu bodoh dulu. Hanya karena jepit rambut aku mengira dirimu adalah Sooji “

“ Apa kau menyesal mencintai Sooji ? “

“ Sudahlah, tak penting untuk dibahas. Eoh Jiyeon-ah kajja !!! sandarkan kepalamu disini ? “

“ Hemmm bahumu begitu tinggi, kepalaku pegal rasanya “

“ Jiyeon-aa. Park Jiyeon !!!! “

“ Baiklah. Bagaimana rasanya ? “

“ Aku semakin yakin jika yeoja itu adalah dirimu. Terimakasih karena terlahir dan memilihku sebagai pendamping hidupmu “

The End

Annyeong readers setia HSF, akhirnya kelar juga ini ff. Legahhhh.

Let’s focus to other ff then. Yihaaaa !!!

Mian jika ga sesuai ekspektasi kalian, tapi daripada ini ff dipendam terus padahal otak udah mentok ? Terima aja ya..ya…ya

Btw untuk reader yang merasa komen seperti ini :

Gue gal suka baca ff ini. Trllu menyedihkan. Knp jiyeon yg jdbgak pny harga dirindan lemah bgt. Yah klo emg myungsoo ga peduli ya elah biarin aja. Susah2 amet msti dpt myungsoo. Emg km sbg yeoja mau yah d gtuin ama cwo gue sih ogah jd cwe yg amat sgt miris minta cnt ama cwo. Toh klo itu kaitanya ma suzy yawdh biar aja org cwo ny yg trllu buta marah bnci tnp sebab kekannkn ga jelas gtu mood gue jd rusak. Good job km sbg authot ud bikin mood gue rusak sbg readrs. Gue harap jgn bikin ff bgni lg. Klo d tonton mgkn oke yah krn gue trhibur bs liat wajah tokoh nya nah ini cm tulisan, cerita nyesek pula dan trrllu dramatis yg pendek. Jd sama sekali nggak mghibur. Huhhh makin kcw gue ma wp ini. Knp skrg koleksi ff nya makin aneh sih. Author yg dlu2 pd kmn… sibuk d wp sdnr pst

Akikah saranin dese cari ff lain yang sreg di hati yey!!! Tapi tetep saya ucapkan terima kasih, komenmu ga akan membuat saya jatuh, malah saya jadi ketawa-tawa. Saya harap kamu ga baca yang part akhir ini, nanti yey sumpah serapahin eike lagi, jaharaaaaa desseeee……=))

 

74 responses to “[ TWOSHOT – PART 2B END ] MY NAME IS JIYEON

  1. aigooo,, nangisku dari bagian awal smpek akhir,, myung sumpah kalo kmu gk sdar2 akau bkal masuk kdunia ff trus mukulin kamu,, jiyeon unniku sbarnya tanpa btas,, udah 3 tahun., wowow,, deebaak,, kereeenn

  2. Ahaha…sorry mba jadi salah fokus sama catatan kakinya…itu orang minta banget digoreng idup2 yak
    mungkin dia seorang tsundere, jadi ucapan beda sama yg dihati wkwk
    btw ff nya bagus ka, bahasanya mulus baca, nya juga enak..cuma kalau soal main story nya no comment lah kan ide tiap orang beda2 kesukaan orang juga beda..
    Semoga cepet balik bawa ff barunya kak^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s