[CHAPTER – PART 3] HIGH SCHOOL OF LOVE

POSTER HIGH SCHOOL OF LOVE

by. amaliachimo

Title

High School OF Love

Main cast 

Park Jiyeon, Jung Sojung (Krystal), Kim Jongin, Kim Myungsoo

Support Cast

Bae Suji (Suzy), Kang Minhyuk, Lee Joon, Baekhyun, and many more..

Genre: mix (?)._.  

Rating: PG-17

 Prolog | Chapter-Part 1 | Chapter-Part 2

“Dua srigala dan tiga rubah; kita lihat apa kita bisa menjadi teman?”

Sebelumnya…

Ruang kelas yang kosong. Suzy masuk ke dalamnya dengan wajah panik luar biasa. Dengan tergesa-gesa Suzy meneliti seisi ruangan, mencari dari sudut ke sudut, cela ke cela, kolong ke kolong, dan seterusnya. Hingga keringat mengucur ke seluruh tubuhnya, Suzy tetap tidak menemukan apapun. Tapi, ini baru setengah jalan ia tidak boleh menyerah.

Tap. Tap. Suara langkah kaki, mengusik pergerakan Suzy di bawah meja. Duk. Kepalanya terbentur langit-langit meja.

“Sedang apa kau di mejaku?”

Aishh.”

Suzy mengelus kepalanya sendiri, lalu bangkit dari posisi jongkoknya perlahan. Kenapa harus alien sok pintar ini yang memergokinya? Pikir Suzy. Ia sangat hafal suara cempreng Krystal, karena sebelas-duabelas dengan suaranya.

“Bukan urusanmu.”

Rambut kusut. Wajah berdebu. Bau keringat. Kacau itu kesimpulan Krystal melihat keadaan Suzy yang baru saja melewatinya itu. Ada apa dengannya? Batin Krystal tak habis pikir. Untuk beberapa saat ia membeku dengan mata super besar seperti habis melihat hantu.

Krystal menaruh tas di mejanya, lalu bergegas menjalankan piket. Hari ini Krystal lagi-lagi harus ikut kelas tambahan bersma Minhyuk setelah jam sekolah selesai, jadi mau tidak mau ia harus piket sendirian. Sisi baiknya, gadis ini hanya akan membereskan sisanya. Toh, kelas sudah terlihat bersih, meski masih tampak berantakan. Usut punya usut, keadaan ini disebabkan oleh ratu sejagat yang kacau tadi—Suzy. Krystal mengupat untuk gadis itu habis-habisan, sambil merapihkan kelasnya dengan telaten.

“Apa itu?”

Krystal meraih sesuatu di bawah mejanya. Saat ini, giliran mejanya sendiri yang ia bereskan. Gadis itu menemukan selembar foto yang membuatnya tercengang.

“Myungsoo? Suzy?”

.

.

.

Kantin selalu tampak ramai. Suzy dan pasukannya baru selesai memesan makanan, tapi tidak perlu khawatir, akan selalu tersedia tempat untuk putri-putri Kirin ini. Meja yang letaknya di sudut kanan kantin adalah singgah sana mereka, sehingga tidak ada siswa yang berani menempatinya. Kalau sampai berani dijamin tidak akan bisa hidup tenang di kerajaan kirin.

“Dopet baru zy?”tanya Naeun ketika baru sampai di bangku masing-masing. Ketiga pasang mata temannya yang lain, tentu saja kini tertuju pada dompet di tangan Suzy. Inilah yang gadis itu nanti-nanti sejak tadi.

“Hm, ayahku membelinya dari inggris. Agak aneh yaa? Warnanya terlalu nora.”Suzy merendah. Gaya bicara seperti ini bukan tanpa alasan, sebenarnya Suzy sedang memancing teman-temannya itu untuk menyanggah ucapannya. Intinya ia menginginkan pujian yang lebih.

“Iya zy, bling-bling gitu. Sama sekali bukan gayaku.”komentar Luna dengan santainya. Sama sekali bukan harapan Suzy, wajahnya tampak geram seketika. Naeun langsung menendang betisnya diam-diam.

“Akhhh.”Luna benar-benar kesakitan saat itu. Naeun dan dua orang lainnya menyengir kuda pada Suzy. Berusaha menetralkan suasana.

“Tidak usah terlalu  dipikirkan ucapan Luna, dia hanya bercanda. Ya kan, Luna?”Naeun mengkode Luna dengan senggolan sikutnya, ia berusaha memaksa gadis yang duduk di sebelahnya ini untuk mengklarifikasi. Tapi, nyatanya Luna masih sibuk kesakitan. Naeun sudah kehabisan akal dengan Luna.

“Dompetmu itu terlalu bagus untuk Luna, nuansa emas dan manik-maniknya itu memberikan kesan kemewahan—”rasa sakit di  betis Luna yang mulai mereda, membuatnya menatap Haemi,”—siapapun akan menyukai dan menginginkan dompetmu yang glamor itu. Luna pintar sekali, mengelak dengan sebuah lelucon.”

Haemi tertawa di akhir ucapannya sambil menepuk bahu Luna, yang berada di hadapannya. Mata Naeun tidak habis-habisnya berkedip menatap Haemi sambil bersyukur. Nasib mereka sepertinya akan terselamatkan dengan ucapan Haemi. Suzy tersenyum angkuh. Dasom yang hanya diam sejak tadi, membuang nafas panjang sambil menunduk, lalu menggeleng pelan. Gadis dengan kulit super putih ini, merasa menjadi satu-satunya manusia normal yang tersisa di bumi.

“Biar ku lihat disain di dalam dompetmu Zy.”

Tangan Haemi bergerak untuk meraih dompet Suzy, yang masih setia berada di atas meja. Sementara yang lain, mulai sibuk menyantap makan siang mereka, termasuk Suzy. Baru saja jari-jari Haemi menyentuh permukaan dompetnya,“Jamkkanman!”kata Suzy yang dengan sigap langsung menarik dompetnya kembali. Haemi memperhatikan gerak-gerik Suzy.

Dari dalam dompetnya, Suzy mengeluarkan selembar foto lalu memasukannya ke dalam saku blazer sekolahnya dengan sembunyi-sembunyi. Suzy menutupi benda berharga itu dengan telpak tangannya yang jauh lebih lebar, sehingga tidak ada yang bisa melihat sosok benda yang tengah ia lindungi. Setelah itu, barulah ia membiarkan Haemi bebas, meneliti detail dompetnya.

Haemi meneliti dompet Suzy, sebenarnya hanya untuk menyusun pujian-pujian berikutnya untuk menyenangkan hati tuan putri ini. Dengan begitu gaya hidup mereka kedepannya akan tetap aman dengan fasilitas dan uang milik sang tuan putri.

***

Di kamarnya yang sangat mewah, Suzy lagi-lagi frustasi. Sudah lebih dari sepuluh kali gadis itu memeriksa saku balzer sekolahnya. Ingatan tentang istirahat makan siang ternyata tidak membantu sekarang. Sepertinya selembar foto itu, sudah terlanjur jatuh dari sakunya. Entah kapan foto itu jatuh. Yang dapat Suzy pastikan, sejak ia sadar foto itu tidak ada di dalam dompetnya, ia tidak pernah memeriksa sakunya. Intinya foto itu bisa jatuh di manapun dan kapanpun, lalu bagaimana kalau foto itu jatuh di sekitar sekolah? Gawat, batin Suzy sambil mengacak rambutnya frustasi.

***

Hari rabu. Jam pelajaran pertama adalah olah raga. Jiyeon dan Krystal tampak semangat sekali. Selagi menunggu bell berbunyi, Jiyeon dan Krystal sudah lebih dulu melakukan pemanasan ala mereka—hanya berdua saja. Sedangkan siswa perempuan lainnya hanya duduk-duduk sambil menggosip di pinggir lapangan. Tentu berbeda jauh dengan para siswa laki-laki yang sudah sibuk memainkan permainan ala anak laki-laki.

Di antara teman-temannya yang tengah asik menggosip, Suzy lebih banyak diam dan terlihat murung. Sikap yang tidak biasa Suzy tampilkan. Dasom terus memperhatikan gerak-gerik Suzy dengan khawatir.

“Hahaha.. ada-ada saja tertangkap berciuman di perpustakaan.”Naeun tertawa geli, membayangkan cerita dari Haemi.

“Seperti cerita di komik-komik.”Luna berkomentar juga dengan tawanya.

Haemi hanya tertawa kecil,“Begitulah, ohiya di pusat perbelanjaan Myeongdong sedang ada diskon besar-besaran. Bagaimana kalau kita ke sana setelah pulang sekolah nanti?”

“Tentu saja, kita harus ke sana.”kata Naeun kegirangan.

Luna dan Dasom hanya menganguk.

“Ratu belanja, pasti ikut dong, seperti biasa pakai mobilmu yaa Zy.”Haemi merangkul bahu Suzy, tapi yang di rangkul hanya tetap diam termenung.

“Zy?”masih diam. Dahi Haemi jadi mengkerut bingung, karena tidak kunjung mendapat respon. Begitu pun Naeun dan Luna yang ikut-ikutan memperhatikan Suzy.

Seolah-olah keempat temannya ini hanya angin lalu, Suzy begitu saja menepis tangan Haemi dan beranjak dari duduknya. Haemi, Naeun, Luna, dan Dasom bukan main terkejut.

“Ada apa dengannya?”tanya Haemi tidak habis pikir. Naeun, Luna, dan Dasom hanya menaikan bahu mereka serempak—berisyarat bahwa mereka tidak mengerti.

Dengan langkah ragu Suzy mendekati Jiyeon dan Krystal,”Hei.”

Annyeong Suzy-aa,”Jiyeon menghentikan gerakan pemanasannya, ia menyambut kehadiran Suzy dengan ramah dan tanpa beban, sementara Krystal tampak tidak peduli. Suzy menanggapi Jiyeon dengan senyuman tipis.

Rasanya kesal sekali melihat Krystal yang tetap tidak mengacuhkannya, Suzy berusaha meredam emosinya,”Krystal-sii, apa ada benda yang kau temukan saat piket kemarin?”

Ani.”singkat, padat, dan jelas. Krystal mengucapkannya tanpa menatap Suzy, bahkan ia tidak juga menghentikan pemanasan konyol yang membuat gadis angkuh ini semakin jengkel.

“Oke baiklah. Jiyeon-sii tolong ajari sahabatmu ini sopan santun! Aku permisi.”

Suzy pergi dari hadapan Jiyeon dan Krystal. Setelah sebelumnya sempat menatap tajam Krystal, seperti rubah yang sedang kelaparan. Sepertinya dia memang tidak menemukan apapun, berarti bukan terjatuh saat aku mencarinya di kelas, lalu di mana? Jangan sampai ditemukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Batin Suzy.

***

Jam pelajaran olah raga dimulai. Pak Yoon memimpin pemanasan hingga berakhir dengan semangat yang tak putus-putus. Baru setelah pemanasan berakhir, latihan passing dimulai dari para siswa perempuan. Sementara para siswa laki-laki dibebaskan bermain olahraga apapun, setelahnya baru giliran para siswa laki-laki yang melakukan latihan.

Untuk latihan passing, para siswa perempuan di bagi menjadi kelompok-kelompok yang terdiri dari dua orang. Pak Yoon yang membagi kelompoknya. Jiyeon dengan Suzy, Krystal dengan Dasom, Haemi dengan Naeun, Luna dengan Hani, Hayoung dengan Bomi, dan seterusnya. Krystal menjadi siswa yang paling kecewa dengan pembagian kelompok ini, ia khawatir dengan nasib Jiyeon.

“Ingat yaa, peraturan latihan dengan saya, ‘siapapun yang paling banyak melakukan kesalahan dialah yang akan membereskan peralatan olahraga’.”

Jiyeon tidak pandai dalam berolahraga, kecuali olah raga renang. Krystal takut Suzy memanfaatkan situasi ini, untuk mengerjai sahabatnya. Bisa-bisa Jiyeon bukan hanya membereskan peralatan olah raga seperti rabu-rabu sebelumnya, tetapi juga babak belur terkena lemparan tajam Suzy. Kecurigaan yang berlebihan.

“Pak Yoon, boleh saya bertukar kelompok?”Krystal mengangkat tangannya tinggi-tinggi, ketika Pak Yoon akan membunyikan aba-aba dimulainya latihan.

“Maaf, tidak bisa.”Pak Yoon tersenyum, yang seketika membuat Krystal putus asa. Tapi, tampaknya Jiyeon baik-baik saja, malah ia selalu terlihat ceria dan bersemangat. Latihan passing pun dimulai.

Pasangan yang akan melakukan passing pertama adalah Krystal dan Dasom. Keduanya melakukan latihan dengan mulus dan tanpa kesalahan. Begitupun pasangan berikutnya. Sampai di pasangan Jiyeon dan Suzy. Krystal pasrah, setidaknya ia bisa membantu Jiyeon ketika membereskan peralatan olahraga nanti. Namun, tanpa diduga lemparan-lemparan tajam Suzy bisa diimbangi oleh Jiyeon, meski sempat oleng, bola tak pernah gagal ditangkap lalu dilemparnya kembali. Krystal terkejut, begitupun Suzy dan para siswa lainnya. Tidak biasanya Jiyeon sehebat ini.

***

“Ternyata dia cukup cepat menangkap pelajaran dariku.”

“Hei, apa yang sedang kau lihat?”suara Chunji mengejutkan Jongin. Sebelum mahluk asra yang tiba-tiba muncul ini mencari tahu apa yang sedang ia lihat dari balik jendela, buru-buru ia menjauh dari jendela sekaligus mendorong mahluk itu.

Yaa, sebenarnya kau ini sedang apa sih?”Chunji menepis kedua tangan Jongin yang masih mendorong bahunya.

“Bukan urusanmu, kau sendiri kenapa tiba-tiba muncul seperti hantu?”

“Bukan urusanmu juga.”Chunji menjulurkan lidahnya lalu berlari menjauh dari Jongin yang geram. Mereka pun kembali ke kelas.

Koridor lantai dua memang selalu sepi ketika jam pelajaran, begitupun koridor-koridor di lantai lainnya. Untung saja Jongin tidak punya penyakit jantung, kalau tidak ia sudah pingsan tadi mendengar suara Chunji muncul di dalam keheningan.

***

“Apa eomma perlu beritahu Jiyeon?”

“Tidak usah, aku ingin memberinya kejutan di sekolah nanti.”

Nyonya Kim memincingkan matanya pada Myungsoo,”Kau ini sok romantis sekali.”kemudian mengacak rambut anak sematawayangnya itu. Myungsoo malah tertawa bangga. Keduanya tengah berada di dalam pesawat menuju Korea Selatan.

“Ah iya, sebelum kau mengejutkan Jiyeon, kau akan lebih dulu ibu buat terkejut dengan rumah baru kita.”

Jinja? Aku tidak yakin.”

Yaa Kim Myungsoo, setidaknya kau harus pura-pura terkejut.”Nyonya Kim menjitak lembut kening Myungsoo.

Eomma…”keluh Myungsoo—manja.

***

Jam pelajaran terasa seperti efek slow motion, bagi para siswa penikmat jam istirahat dan pulang sekolah. Lihat saja wajah-wajah lesuh memenuhi hampir di seluruh kelas, sampai pada waktu bell berbunyi wajah-wajah lesuh itu langsung tampak bugar seketika. Waktunya pulang sekolah. Jiyeon dan Krystal sudah merencanakan untuk berenang bersama.

Sebelum ke kolam renang sekolah, Jiyeon dan Krystal mengantar Jongin terlebih dulu ke lapangan Foodball. Ini semua atas inisiatif Jiyeon. Seperti anak balita saja, batin Krystal. Sebenarnya Jongin dan Krystal sudah menolak mentah-mentah inisiatif Jiyeon yang berlebihan itu, tapi bukan Jiyeon namanya kalau menyerah begitu saja. Rubah seperti Jiyeon memang sangat pintar mengambil hati orang, untuk mengikuti kehendaknya.

“Semangat Jongin-aa, jangan lupa makan Kimbab buatanku!”

Beginilah contohnya, meskipun Jiyeon tahu setiap makanan darinya—baik yang ia buat sendiri ataupun orang lain— tidak akan pernah berakhir di perut Jongin, gadis ini tetap berusaha seperti tidak terjadi apapun. Krystal tidak habis pikir melihat Jiyeon yang selalu tampak bersemenangat, sementara Jongin ogah-ogahan menghadapinya.

Setelah aksi pemberian bekal selesai, Jiyeon dan Krystal berpamitan dengan Jongin. Dari lapangan Chunji dan Kyungsoo, bersama anggota foodball lainya terlihat menggejek adegan itu. Memalukan. Krystal langsung menarik Jiyeon pergi dari hadapan Jongin.

Yaa, diamlah!”Teriak Jongin,”Atau aku suruh rubah itu memakan kalian satu-persatu.”Membuat semua anggota yang tadinya menggejek diam seketika. Mereka sepertinya bukan hanya takut pada sang rubah cantik, tetapi juga pada sang srigala yang mengamuk itu.

***

Jiyeon dan Krystal berjalan menuju kolam renang Sekolah, mereka melewati koridor yang sepi. Tiba-tiba saja terdengar suara benturan benda keras yang membuat ketenangan keduannya terusik. Dum. Bruk. Dak. Dum.

“Krysie, kau dengar suara itu?”

Nde.”Krystal menganguk.

Jiyeon berjalan mendekati sumber suara, ia berbelok ke koridor yang lain. Suara-suara itu semangkin kuat terdengar. Krystal mengikuti Jiyeon dari belakang. Ternyata sumber dari suara-suara itu adalah gudang. Tangan Jiyeon bergerak meraih gagang pintu gudang yang tertutup, namun Krystal menahannya.

Jamkkanman!”Jiyeon menatap Krystal, yang kini berada di sebelahnya. Sepasang mata Jiyeon seolah menuntut pertanyaan pada sepasang mata Krystal.”Kita mengintip saja.”Krystal menuntun Jiyeon mendekati jendela yang tampak kusam itu. Mereka pun mengintip bersama.

Yaa, Kang Minhyuk berhentilah menjadi pecundang! Dari pada kau diam dan menangis seperti itu, lebih baik kau melawanku!”Lee Joon melempar sebatang kayu ke arah Minhyuk, namun kayu yang membentur tembok itu hanya nyaris mengenai kepala Minhyuk. Begitu seterusnya, sementara dua teman Lee Joon lainnya hanya tertawa seperti orang kesetanan.

Kelihatannya Lee Joon sengaja melempar batangan-batangan kayu berukuran sedang itu, hanya untuk menakuti Minhyuk. Sepertinya melihat Minhyuk terguncang dengan melukai mentalnya adalah kepuasan tersendiri bagi ketiga orang gila di dalam sana. Jiyeon dan Krystal bisa melihat senyuman iblis Leejoon dari samping. Mengerikan, batin Jiyeon yang langsung merosot—terduduk di lantai.

Krystal merasakan darahnya sudah melesat cepat menuju tempat yang tertinggi. Emosinya itu seperti meledak-ledak di dalam otak. Entah kenapa rasanya ia ingin sekali menghantam wajah Leejoon bertubi-tubi dengan kepalan tangannya yang kini sudah siap tempur. Tapi, sia-sia sekali ia membuang tenaganya sementara Minhyuk adalah rivalnya.

Kepala Krystal menggeleng berkali-kali, berusaha menepis sifat malaikatnya yang mengasihani Minhyuk. Krystal pun beranjak dari tempat itu, namun Jiyeon yang kini telah bangkit menahan tangannya.

“Krysie, kita harus membantu, atau paling tidak kita mengadukan ini ke guru etika.”kata Jiyeon dengan polosnya.

Ani,”Krystal menggeleng, yang tampak dipaksakan,”kita bisa ikut terkena masalah nanti.”

“Tapi—“

“Kita pura-pura tidak tahu saja,”Krystal memotong ucapan Jiyeon,”Kajja! Rencana berenang kita tidak boleh gagal hanya karena masalah ini.”

Melihat Jiyeon tidak juga beranjak, Krystal menarik tangan gadis polos itu untuk mengikuti langkah cepatnya,”Saingan itu bagian dari semangat kita juga untuk menjadi lebih baik, apa salahnya kita membantu.”

Terkadang ucapan Jiyeon mampu membius Krystal, tapi kali ini gadis keras kepala itu berusaha membuangnya jauh-jauh. Meninggalkan ungkapan Sherlock Holmes tentang sahabatnya Watson;”Beberapa orang yang tidak memiliki otak jenius pasti memiliki kemampuan menstimulus yang sangat hebat.”.

***

Minhyuk membeli banyak makanan yang bahkan tidak sanggup ditampung oleh kedua tangannya sendiri, tetapi pemuda itu tetap berusaha membawanya. Setiap langkah ia lakukan dengan penuh perhitungan, takut-takut setumpuk makanan yang hampir menutupi wajahnya itu jatuh dengan percuma. Dari koridor ke koridor banyak siswa yang melihatnya acuh tak acuh. Minhyuk tidak peduli dan tetap berusaha, sampai-sampai kaca matanya yang oleng ia biarkan begitu saja. Lagi pula kedua tangannya memang tidak bisa berbuat apa-apa, selain tetap menampung makanan-makanan itu.

Bruk. Minyuk terjatuh sebelum sempat memberikan setumpuk makanan itu kepada pemiliknya. Leejoon menyeringai penuh kemenangan di hadapan Minhyuk, sementara Baekhyun dan Dongwon tertawa-tawa setelah menyelengkat Minhyuk dari sisi kanan dan kirinya.

Aishh, sudah kubilang hati-hati tapi kau masih saja ceroboh,”ucap Leejoon tanpa rasa bersalah,”sebaiknya kita apakan semua makanan kotor ini sob?”

Baekhyun dan Dongwon kini sudah mengambil tempat di sisi kanan dan kiri Leejoon,”Suruh saja dia membersihkan semua itu dengan lidahnya joon,”seru Baekhun sinis.

“Kejam sekali kau,”komentar Leejoon bangga, lalu merangkul bahu Baekhyun sementara Dongwon menganguk-nganguk setuju.

Berbagai jenis makanan berceceran di sekitar Minhyuk, sementara ia hanya bisa meraba-raba lantai yang telah kotor oleh berbagai jenis makanan itu. Pengelihatan Minhyuk buram tanpa bantuan kaca mata. Leejoon tersenyum miring memperhatikan keadaan Minhyuk, lalu menendang kaca mata di dekat kakinya. Sengaja ia arahkan ke dekat Minhyuk, tapi sayang sang pemilik tetap tak mampu menemukannya. Leejoon tertawa puas, menyaksikan keberhasilan adengan yang telah ia rancang itu.

“Bersihkan semua makanan itu dengan lidahmu!”perintah Leejoon akhirnya, lalu pergi bersama kedua temannya—meninggalkan Minhyuk yang tak berdaya.

Krystal yang mengintip di balik tembok tanpa sadar meneteskan air mata. Gadis itu langsung menurunkan topi bebeknya untuk menutupi sebagian wajahnya, lalu menyandarkan punggungnya di balik tembok itu. Mengatur nafas sekaligus mengendalikan dirinya yang seakan tengah terguncang.

Aishh, kenapa air mata ini tidak juga berhenti.”keluhnya sambil menghapus air matanya kasar,”Pabo.”

Bayangan itu lenyap saat sejurus tepukan menyadarkan Krystal, yang duduk di tepi kolam renang. Kakinya menari-nari di air menikmati rasa air yang segar. Jiyeon ikut duduk di sebelahnya.

”Krysie apa yang sedang kau pikirkan?”tanya Jiyeon.

Krystal menggeleng, lalu menoleh pada Jiyeon,“Tidak ada,”katanya berbohong.

“Bohong,”duga Jiyeon,”selama aku berenang kau baru mencelupkan diri sekali dan langsung duduk di sini. Tidak seperti biasanya.”

Krystal memijit kepalanya,”Aku hanya sedikit pusing.”

“Kalau gitu kita pulang saja.”usul Jiyeon, yang langsung memperhatikan wajah Krystal dengan rasa khawatir,”kau bisa sakit jika terus memaksakan diri.”

Krystal tersenyum sambil berpikir dan ingatannya kembali bereaksi. Bayangan senyuman Minhyuk yang tulus tiba-tiba saja muncul.

“Kalau seperti itu jawabanmu akan salah,”kata Minhyuk.

Saat itu Krystal menatap Minhyuk bingung, sementara Minhyuk serius mengajarinya. Mereka tengah dalam pelatihan untuk olimiade sains bersamaa Guru Choi.

Kajja!”kata Krystal yang sudah berdiri, Jiyeon pun mengikutinya. Meninggalkan kolam renang dan beristirahat di rumah.

***

Latihan foodball, membuat Jongin harus pulang larut hari ini. Sebelum masuk ke dalam rumah, Jongin melirik rumah kosong yang berhadapan dengan rumah kakanya ini. Rumah itu terlihat terang dengan lampu-lampu yang menyala di setiap ruangannya, bahkan terdapat banyak kendaraan bermotor di halamannya. Sejak kapan rumah itu jadi berpenghuni? Tanyanya membatin. Tanpa Jongin sadari penghuni baru rumah itu menangkap sosoknya dari lantai dua.

—“Tetangga di depan rumah kita ternyata memiliki adik laki-laki yang seumuran dan satu sekolah denganmu, namanya Kim…Jong…in, ya Kim Jongin.”

Myungsoo tersenyum mengingat ucapan ibunya tadi sore. Salam kenal Kim Jongin, kita liat nanti apa kita bisa menjadi teman, batinnya.

—“Ibu rasa kalian akan cocok menjadi teman.”

Meninggalkan rumah kosong yang kini berpenghuni itu, Jongin melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah. Sampai di dalam,”Selamat malam, aku pulang.”sapanya yang langsung disambut oleh Taeoh.

Jongin tertawa melihat wajah Taeoh yang hampir dipenuhi coklat,”Wah, ada apa dengan wajah tampanmu?”tanya Jongin meledek,”kalau seperti ini kau jadi lebih mirip Jonghyun dari pada aku.”lalu menggeleng-geleng.

Komentar yang tidak masuk akal. Jongin selalu menganggap wajah tampan Taeoh itu menurun darinya, karena menurutnya ia jauh lebih tampan dari Jonghyun—kakaknya. Jongin mengacak rambut Taeoh yang masih sibuk mengunyah makanan.

“Ada black forest dari tetangga baru kita—,”Seungyeon tiba-tiba muncul dan membawa Taeoh dalam gendongannya,”—kau juga harus mencobanya.”

Jongin menganguk sambil tersenyum pada kakak iparnya,”Eomma, aku mau ikut dengan paman.”pinta Taeoh yang kini sudah selesai mengunyah.

 “Biarkan pamanmu membersihkan diri dan beristirahat dulu!”kata Seungyeon lembut. Jongin tersenyum lalu menjulurkan lidah pada anak laki-laki berumur 5 tahun, yang tampak merengut itu.

***

Guru shin memberi penjelasan dengan sangat lengkap dan rinci, sementara otak Jiyeon rasanya sudah tidak sanggup menampung rumus dan angka yang ia jelaskan lagi. Berbanding terbalik dengan Krystal yang selalu tampak bersemangat setiap harinya. Pelajaran pembuka di hari Kamis memang selalu membuat kepala Jiyeon terasa pening. Dari pada berlama-lama menyiksa diri, akhirnya Jiyeon menyerah dan memilih pergi ke toilet setelah meminta izin terlebih dulu pada Guru Shin.

Untuk menuju toilet, Jiyeon harus melewati beberapa kelas, termasuk kelas Jongin. Hasrat hatinya yang ingin melihat Jongin, mengurungkan niatnya ke toilet. Lagi pula, mengingat Jongin sudah membuat otaknya kembali segar, meski belum terkena air segar.

Dengan mengendap-ngendap Jiyeon mengintip kelas Jongin dari balik jendela. Namun sayangnya, Jiyeon tidak menemukan Jongin di dalam kelasnya yang gaduh.

”Di mana Jongin?”tanyanya tanpa arah dan tujuan yang jelas.

“Di sini.”

Jiyeon terkejut dengan suara yang menyambarnya dari belakang, ia pun berbalik.”Jongin?”telunjuk kekar Jongin langsung bergerak mengunci mulut Jiyeon yang terbuka. Tanpa banyak bicara, Jongin langsung menarik pergelangan tangan Jiyeon, agar mengikutinya.

Sampailah mereka di taman belakang sekolah. Jongin melepaskan cengkraman tangannya dari pergelangan tangan Jiyeon, lalu ia berbaring di bawah pohon rindang dengan hanya beralaskan rerumputan hijau. Sementara Jiyeon hanya berdiri tanpa reaksi apapun.

“Kau tidak mau mencoba berbaring di atas rumput ini?”ajakan tersirat Jongin berhasil membuat Jiyeon perlahan duduk dan berbaring di sebelahnya.”Rumput di Korea ternyata lebih lembut dari pada rumput di Kanada.”

“Jongin, apa kau sudah sering melakukannya?”tanya Jiyeon antusias.”Ternyata ini sangat nyaman.”

“Aku tidak punya banyak teman di Kanada, karena itu aku lebih suka menghabiskan waktu istirahat dengan tidur seperti ini sambil memakan sandwich.”Jongin mengakhiri penjelasanya dengan senyuman.

“Apa orang Kanada tidak suka bereteman dengan orang Korea?”

“Tidak juga, aku yang tidak suka berteman dengan mereka, aku lebih suka orang Korea.”Jongin melirik Jiyeon, yang sejak tadi sudah meliriknya. Membuat sesuatu yang indah terjadi setelah itu. Sesuatu yang mungkin tak akan pernah mereka lupakan.

***

Perlahan kelopak mata Jiyeon terbuka, ekspresi khawatir Krystal menjadi hal pertama yang ia lihat. Tidak ada Jongin atau rerumputan hijau yang menjadi tempat mereka berbaring. Jiyeon bangkit sambil memperhatikan sekitarnya dengan rasa bingung. Ini Ruang Kesehatan, bukan taman belakang sekolahnya. Apa ia hanya bermimpi? Pikirnya sambil melamun.

“Jiyeon, bagaimana keadaanmu?”tanya Krystal, yang berhasil menyadarkan lamunan Jiyeon.

“Aku baik-baik saja.”jawab Jiyeon,”Krysie, bagaimana aku bisa ada di sini?”

Molla, seharusnya kau bertanya pada dirimu sendiri.”ucap Krystal.

“Aku?”Krystal menganguk.

“Sejak kau izin ke toilet di tengah-tengah pelajaran matematika, kau tidak terlihat lagi.”Jelas Krystal,”Sampai istirahat tiba, aku mencarimu ke mana-mana, dan menemukanmu sudah tertidur pulas di Ruang Kesehatan. Aku pikir kau sakit.”Jiyeon menggeleng.”Aneh sekali.”

Benar, aneh sekali. Jiyeon mengingatnya dengan jelas, bahkan ia bisa merasakan setiap sensai kehadiran Jongin. Jantunya tidak mungkin salah, ia menaruh telapak tangannya di dada yang masih terasa bergemuruh. Bagaimana dengan bibirnya? Jiyeon merasakan bibirnya sendiri. Terasa lembab dan basah. Tapi di mana Jongin? Tanpa satu orang pun tahu, Jongin tersenyum miring melihat ekspresi bingung Jiyeon dari balik jendela kecil di pintu Ruang kesehatan, lalu pergi begitu saja.

***

Waktu pulang sekolah. Jongin dan Krystal berjalan bersama, tanpa keberadaan Jiyeon di antara mereka.”Yaa kkamjongg, apa kakimu itu perlu aku tembak dulu baru bisa diam!”teriak Krystal demi menahan langkah Jongin.

Rahang Jongin mengeras,”Apa salahnya kita menunggunya di halte bus?”

“Kenapa harus di halte bus?”tanya Krystal,”Kau mau menghindarinya, sudah kukatakan Jiyeon itu temanku, itu artinya—“

“Dia temanku juga, dan aku—“Jongin menatap Krystal geram,”—harus bersikap baik padanya. Aku mengerti, Jung Sojung.”

“Kalau begitu tunggu dulu!”suruh Krystal yang balas menatap Jongin tajam.

Jongin mendengus lalu memalingkan wajahnya dari Krystal,”Aku tidak menyuruhmu meninggalkannya, kita hanya perlu menunggunya di halte bus. Apa yang salah?”

“Kau menghindarinya.”serang Krystal, yang membuat Jongin menelan ludahnya sendiri.

Ani,”bantah Jongin agak terbata,”untuk apa aku menghindarinya? Percuma saja, ke manapun aku pergi dia pasti akan menemukanku dan berlari ke arahku. Apalagi dia hanya sedang piket di kelas dan aku masih ada di lingkungan sekolah ini.” Tidak ada tanggapan lagi dari Krystal, yang kini hanya asik menyelidiki setiap raut wajah Jongin yang tampak mencurigakan baginya. “Berhenti menatapku seperti itu!”

Jongin kembali melanjutkan jalannya yang sempat tertunda, namun ia tidak jadi. Seperti satelit yang selalu berputar mengikuti pelanetnya, begitupun Jiyeon yang kini berlari ke arah Jongin. Senyum bangga menghiasi wajah Jongin.

“Sudah kukatakan dia pasti akan menemukanku dan berlari ke arahku,”kata Jongin sangat percaya diri, yang membuat Krystal ingin sekali memuntahkan seluruh isi perutnya ke wajah pamuda sok keren itu sekarang juga.

Jiyeon tampak ceria dan bersemangat, sementara Krystal tampak prihatin memperhatikannya. Gadis sepolos dan secantik Jiyeon tergila-gila dengan sahabatnya yang angkuh dan bodoh ini, kasihan sekali. Krystal masih belum sanggup menerima kenyataan konyol ini.

Di luar dugaan, Jiyeon melintas di antara Jongin dan Krystal. Kedua manusia yang terkejut itu seperti laut yang terbelah, mereka menyerong ke arah Jiyeon pergi. Jongin pun merasa malu dengan apa yang dilihatnya sekarang. Jiyeon memeluk seorang pemuda berkulit putih susu yang belum pernah Jongin lihat sebelumnya. Pemuda itu tersenyum sambil mengelus rambut panjang Jiyeon. Nuguya? Batin Jongin.

“Myungsoo..”ucap Krystal kaku, yang langsung membuat Jongin menoleh padanya.

—“Kim Myungsoo, dia tampan dan hangat seperti Jonghyun Oppa.”

—“Karena ada gadis yang dia sukai dan dia tunggu selama ini.”

Jongin membuang nafasnya panjang, lalu memutar tubuhnya ke arah semula dan melangkah pergi. Akan tetapi, sosok Suzy membuat langkahnya lagi-lagi harus tertunda. Pikiran Jongin berusaha menimbang keputusan. Melewati cinta-segi-tiga di belakangnya, membuat perutnya terasa mual. Lantas melewati Suzy, membuat kepalanya pusing memikirkan sejuta alasan untuk menghindar. Jadi, mungkin lebih baik pusing, pikirnya.

Sejuta alasan yang sudah Jongin rancang tampaknya sia-sia saja, karena Suzy tak beda jauh dengan Krystal. Membeku menatap adegan-temu-kangen konyol itu, tapi bedanya tatapan Suzy sangat tajam seperti pisau yang siap menembus dada Myungsoo.

Jongin menatap keempat manusia yang menggunakan formasi dua-satu-satu itu bergantian. Setelah sempat menggeleng, Jongin pun meninggalkan mereka dan bergabung dengan Kyungsoo dan Chunji yang sudah berada di luar gedung sekolah. Syukurlah aku tidak perlu bersusah payah menghindar, batinya—berusaha merasa tegar(?).

Mata Kyungsoo dan Chunji celingukan, yang membuat Jongin geram,”Yaa, apa yang kalian cari?”tanyanya.

“Di mana rubah-rubahmu?”tanya Chunji.

“Tadi aku melihat Jiyeon baru menyelesaikan piket di kelasnya,”kata Kyungsoo.”dan.. Krystal bukannya tadi bersamamu.”

Jongin merangkul bahu kedua teman sekelasnya itu,”Mereka tersesat di tengah hutan,”jawabnya asal.”Jadi, aku pulang bersama kalian hari ini, kajja!”

To Be Continue

Amaliachimo:“Maaf atas segala keterlambatan dan kekurangan saya dalam menyajikan ff selama ini, tetapi di balik itu saya akan berusaha sebaik-baiknya untuk para readers yang super kece. Terima kasih atas semua komentar dan like-nya. I love you all..”

36 responses to “[CHAPTER – PART 3] HIGH SCHOOL OF LOVE

  1. oow jongin trnyta peduli juga ma jiyeon ciee
    krys tolongin minhyuk tuh , minhyuk knapa gk bisa ngelawan lee joon atau lapor k guru kek ..
    haha jongin umpama nya formasi 2 1 1 lucu juga . apa hubungan suzy ma myung ya

  2. Aigooooo… senangnya membaca scene temu kangen Myungyeon. Tapi gak memungkiri juga bahwa scene KaiYeon bikin senyum2 sendiri juga hahha..
    Duh harap2 cemas sama perasaan krystal dan suzy terhadap Myungsoo, apalagi tentang foto Suzy dan Myungsoo yang ditemukan Krystal.
    Semoga sesuatu yg buruk tdk merusak hubungan MyungYeon.
    #KibarkanBenderaMyungyeon yeah hahha Fighting thor^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s