[CHAPTER] IT’S CRAZY #5

itscrazy

 

Poster by :HRa@HighSchoolGraphics (thanks ^^)

Author : Park Eun Ji
Main Cast:
Bae Suzy (MISS A)
Kim Myung Soo (INFINITE)
Yook Sung Jae (BTOB)
Yoo Young Jae (B.A.P)
Cameo:
Suprise for you 😉
Genre : Romance, School-life
Rating : PG-13
Disclaimer : All cast belong to God and his/herself 🙂 Plot?Mine! 🙂
Previous : #BREAKUP ~ #CRAZYDAY ~ #CONFUSED ~. #ESPERANZA

©2015

CHAPTER 5
#WhatADay
Baru 5 menit aku memejamkan mata, ponselku berbunyi. Ini sudah jam 1 dini hari! Siapa yang meneleponku? Apa ia makhluk noktural?

” Halo?” Aku bicara dengan suara mengantuk, berharap siapapun yang meneleponku cepat berbicara sehingga aku dapat mengakhiri sambungan.
” Ini aku Myungsoo.” Sebuah suara terdengar. Aku berusaha mengenali suara itu dalam keadaan mata terpejam dan setengah sadar. Tunggu, sepertinya aku seperti mendengar kata ‘Myungsoo’.
” Apakah kau tidak punya jam?” Aku berkata dengan dingin, mataku langsung terbuka lebar. Kantukku sudah hilang sepenuhnya karena aku masih merasa sedikit kesal pada Myungsoo.
” Maaf, tapi aku hanya ingin memastikan. Apa pesan yang kau kirim tadi benar?” Myungsoo bertanya. Jadi dia meneleponku di saat aku baru 5 menit tertidur hanya untuk ini? Apa pesanku tidak meyakinkan?
” Kalau kau tidak percaya terserah.” Aku menjawab pertanyaan Myungsoo dengan kesal. Tidak penting sekali pertanyaannya.
Terdengar jeda yang cukup lama. Tidak mau membuang waktu tidurku yang berharga, aku berkata kepada Myungsoo, atau bemonolog jika ia tertidur. ” Kumatikan teleponnya.”
” Tunggu, Suzy. Aku ingin mengajukan satu pertanyaan lagi.” Myungsoo dengan cepat berkata. Dia ini, seperti sedang melakukan wawancara saja.
Aku berdecak, kesal karena Myungsoo terasa berbicara begitu lambat. ” Cepat katakan. Aku ingin tidur.”
” Apakah kau masih ingat tempat pertama kali kita bertemu? Kurasa aku sedikit lupa.”
Pertanyaan sekaligus pernyataan Myungsoo membuatku mengangkat kedua alisku tidak percaya. Dia yang mengajak bertemu di sana, kenapa dia juga yang lupa. Aku sendiri juga tidak terlalu ingat.

Tunggu, aku sepertinya ingat. Aku segera menghela napas lelah mengingat butuh perjuangan yang besar untuk sampai kesana.

” Haneul Park.” Aku mengucapkannya dengan tidak bersemangat. Masalahnya letak taman itu cukup jauh dari sini. Itu berarti aku harus bangun lebih awal pagi nanti. Selain itu, aku harus menempuh perjalanan dari World Cup Stadium untuk sampai ke sana.
” Baiklah, kalau begitu sampai bertemu jam 10 nanti. Aku-” Tanpa menunggu Myungsoo melanjutkan perkataannya lagi aku langsung mematikan ponselku dan menarik selimutku yang tersibak karena mengangkat telepon tadi.

IT’S CRAZY

Aku kembali menghela napas untuk kesekian kalinya ketika melihat 291 anak tangga yang menghubungkan antara stadium dengan Haneul Park. Malas-malasan, aku mulai berjalan di atas jembatan melengkung membentuk setengah lingkaran yang dihiasi oleh bunga-bunga berwarna ungu.

Haneul Park merupakan salah satu dari 5 taman yang ada di Seoul World Cup Stadium. Ada cerita menarik dari taman ini, dulu taman ini merupakan tempat pembuangan sampah yang masih beroperasi hingga tahun 1993. Akibat dari itu, dataran yang semula landai berubah menjadi bukit sampah yang menimbulkan bau tidak sedap dan menimbulkan pemandangan yang tidak sedap dipandang. Kemudian, pemerintah membangun World Cup Stadium Park dalam rangka menyemarakkan Piala Dunia tahun 2002 dimana Korea Selatan menjadi Tuan Rumahnya.

Terengah-engah, aku akhirnya sampai di puncak taman ini, aku duduk di salah satu bangku taman sambil meminum minuman kaleng yang kubeli sebelum masuk ke World Cup Stadium. Setelah kupikir-pikir, sayang sekali sudah datang sejauh ini tapi tidak menikmati pemandangan. Jadi kuputuskan untuk menikmati pemandangan di Haneul Park ini.
Aku berdiri di dekat pagar pembatas, menikmati pemandangan gunung Namsan, Gwanaksan, dan Samgaksan serta aliran Sungai Hangang yang berpadu dengan gedung-gedung pencakar langit di Kota Seoul. Sesuai namanya yang berarti langit, Haneul Park memang tempat terbaik untuk melihat pemandangan karena letaknya yang paling tinggi di antara taman lain.

Tiba-tiba, sebuah lagu mengalun dari earphone yang kupasang sejak tadi. Lagu ini, Lagu milik Becky G yang berjudul Shower. Aku menyetel pemutar musik di ponselku dalam model shuffle, kenapa di antara sekian banyak lagu yang aku punya harus terputar lagu ini? Mendadak, aku teringat dengan pertemuan pertamaku dengan Myungsoo di taman ini.

Saat itu, aku sedang berlibur bersama teman-temanku. Setelah kelelahan karena telah mengambil banyak foto, aku bersama teman-temanku duduk di salah satu bangku taman. Aku memasang earphone dan kebetulan lagu pertama yang terputar adalah lagu Becky G yang berjudul Shower. Bersamaan dengan itu, tepat di tempat aku berdiri saat ini aku melihat Myungsoo tengah melakukan selfie dengan kamera ponselnya. Iya, dia sendirian datang ke taman waktu itu. Entah apa tujuannya.

Setelah selesai selfie, Myungsoo memasukkan ponselnya dan tanpa sengaja tatapannya bertemu denganku. Aku terpaku selama beberapa saat karena terkejut. Kemudian, ia memberi seulas senyum padaku kurasa. Atau pada seseorng? Entahlah, yang jelas ia seperti tersenyum padaku. Aku langsung menunduk saat itu karena malu.

Aku melepas earphoneku dan menyurukkan ponselku ke dalam tas. Tidak, tidak boleh. Aku tidak boleh galau seperti ini, ingat, beberapa saat lagi aku akan bertemu dengan Myungsoo. Aku harus terlihat tenang di hadapannya.

Kupejamkan mataku kemudian menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya. Saat aku membuka mata, aku melihat sebuah kalung yang sangat familiar tepat di depan mataku. Aku menengok ke samping dan menemukan Myungsoo sudah berdiri di sampingku.

” Kurasa menanyakan ‘apa kabar?’ sudah terlalu klise. Bukankah begitu?” Myungsoo tersenyum. Senyum yang seperti biasa aku lihat. Tenang dan terlihat kasual.

IT’S CRAZY
” Kau mengikat rambutmu sekarang. Padahal dulu kau jarang mengikat rambutmu.” Myungsoo tersenyum samar melihat rambutku yang dikuncir kuda. Dulu, sewaktu masih berpacaran dengan Myungsoo aku memang tidak pernah mengikat rambutku karena Myungsoo lebih suka jika rambutku digerai. Sekarang aku ingin terlihat dengan gaya yang berbeda, bukan dengan gaya yang disukai Myungsoo.
Aku bergumam singkat lalu teringat sesuatu dan mengeluarkan kotak dari tasku. ” Ini, kukembalikan semua barang pemberianmu.”
Myungsoo mengambil kotak itu dan pandangannya berubah nanar begitu melihat isinya. Kemudian dia memasukkan kalung safir yang ia temukan beberapa minggu yang lalu dan memberikan kotaknya kembali padaku.
” Tolong, jangan membuatku seperti orang yang perhitungan.” Myungsoo kemudian berkata, tatapannya terlihat nanar. Aku memandang kotak yang sedang disodorkan Myungsoo padaku sekilas, lalu menatap Myungsoo datar.
” Tolong, jangan membuatku seperti orang konyol dengan masih menyimpan pemberian mantan pacarnya.”
Myungsoo menghela napas kemudian mengambil tasku dan memasukkan kotak itu ke dalamnya. ” Astaga, sikap keras kepalamu masih sama seperti dulu. Barang-barang itu milikmu sekarang, terserah kau mau apakan tapi jangan kembalikan padaku.”
Aku berdecak tak suka lalu merebut tasku yang dipegangnya. ” Berhenti membandingkan diriku yang dulu dengan yang sekarang. ”
” Dengar Suzy, aku meminta untuk bertemu denganmu bukan untuk memperkeruh hubungan kita. Aku ingin memperbaikinya.” Pandangan Myungsoo melunak. Aku tidak akan terpengaruh dengan tatapannya itu.
” Tidak ada yang bisa diperbaiki Myungsoo, bagiku semua sudah jelas. ” Hubungan kami bagaikan cermin yang telah jatuh. Sebagus apapun diperbaiki, tidak akan sempurna seperti sebelumnya. Kupikir aku bisa memberinya sedikit kesempatan untuk menjelaskan, tapi ternyata tidak. Ini semua sia-sia. Aku bangkit berdiri hendak beranjak pulang, percuma bicara dengannya.
Myungsoo ikut bangkit berdiri dan memegang pergelangan tanganku. Aku memberi tatapan untuk segera melepaskan tangannya dariku. ” Aku dan Sora tidak pernah berpacaran.” Myungsoo berkata sesuatu yang tidak masuk akal. Jadi apa arti ciuman itu dan pegangan tangan waktu itu? Wow, aku pikir Myungsoo tidak bisa lebih jahat lagi. Dia mempermainkan wanita itu juga rupanya.
” Apa maksudmu?” Aku menepis tangannya setelah ia tidak menggubris arti tatapanku. Pria ini, selain brengsek ternyata ia mempunyai pikiran rumit yang lebih rumit daripada yang aku pikirkan.
” Sora adalah rekan kerjaku. Waktu itu, dia mengatakan suka padaku walaupun tahu bahwa aku sudah mempunyai kekasih. Aku menolaknya namun dia tetap bersikeras. Lalu aku memegang tangannya untuk menenangkannya, tapi tiba-tiba saja ia menciumku.” Myungsoo memberikan penjelasan kepadaku. Namun aku masih tidak mempercayainya. Ucapannya terdengar seperti sebuah alasan bagiku.
” Lalu kenapa kau tidak melepaskan pegangan tanganmu saat aku datang? Bagaimana dengan suara tamparan dan makian yang aku dengar?”
” Saat melihatmu, aku tidak sadar jika aku masih memegang tangannya. Yang aku pikirkan saat itu adalah aku seperti pria yang tidak bisa diandalkan karena membiarkan orang yang kucinta melihatku berciuman dengan orang yang bahkan tidak kusuka.” Myungsoo memandang ke arah kota Seoul, tatapannya terlihat sangat bersalah. Angin menghembuskan rambut hitamnya yang selalu terlihat rapi. Selain rasa bersalah, aku bisa melihat ketulusan di sana. Aku jadi merasa aku lah orang jahatnya di sini.
” Kemudian, suara-suara yang kau dengar itu. Itu bukan dari siapa-siapa, itu hanya suara televisi. Apa kau tidak menyadarinya?” Myungsoo bertanya kepadaku. Aku menggeleng, kupikir itu tindakan Sora karena mengetahui bahwa Myungsoo mengkhianatinya. Jadi selama ini aku hanya salah paham? Astaga aku jadi merasa konyol mengingat tindakan-tindakan bodoh yang kulakukan pasca putus dengan Myungsoo. Maksudku, menangis sampai dini hari, membenci Myungsoo dan sebagainya.
” Maaf karena berbohong padamu jika ada urusan mendadak malam itu. Aku tidak ingin kau berpikir yang tidak-tidak jika aku mengatakan yang sejujurnya. Sekali lagi, maafkan aku karena baru bisa menjelaskan semua ini sekarang. Aku benar-benar sibuk belakangan ini.”
” Lalu, bagaimana dengan janji kencan yang mendadak dibatalkan dan kau jarang memberi perhatian padaku waktu itu? ”
Myungsoo menghela napas. Seperti dulu, ia selalu sabar dan tenang dalam menghadapiku.” Ya ampun Suzy, pertanyaanmu mendetail sekali. Apakah semua penjelasanku tadi tidak cukup untuk meyakinkanmu?”
” Jawab saja, setelah itu baru kuputuskan apakah aku akan percaya padamu atau tidak. ” Aku sebenarnya sudah cukup percaya dengan penjelasan Myungsoo tadi karena setiap ia menjawab pertanyaanku ia tidak terlihat ragu sama sekali, tapi aku ingin memastikan saja apakah jawaban Myungsoo sama dengan apa yang aku pikirkan sejak Myungsoo memberi penjelasan yang sebenarnya.
” Kuliah dan pekerjaan paruh waktuku sangat menyita waktuku. Aku bisa saja dipanggil ke tempat kerjaku kapan saja untuk bertugas dan ke kampus kapan saja untuk menghadiri kuliah pengganti. ” Dugaanku benar. Perkataannya sama seperti dengan apa yang kupikirkan.
Setelah ia mengatakan itu, Myungsoo memegang kedua bahuku dengan tangannya dan memutar tubuhku agar aku bisa berdiri berhadapan dengannya. Tatapannya kepadaku masih sama seperti dulu, terasa dingin tapi terdapat kelembutan yang tersembunyi di sana.
” Dengar Suzy. Aku masih mencintaimu, dulu ataupun sekarang. Perasaanku tidak berubah sejak kita pertama kali bertemu di sini. Maukah kau kembali berpacaran denganku?”
Myungsoo ‘menembak’ ku untuk kedua kalinya. Aku lega karena mengetahui fakta bahwa Myungsoo tidak sejahat yang aku kira, tapi di sisi lain entah mengapa aku merasa biasa saja saat Myungsoo mengatakan perasaannya lagi padaku. Mungkin, saat aku mengetahui Myungsoo ‘berselingkuh’ perasaan cintaku kepada Myungsoo perlahan menghilang.
Aku melepaskan dengan pelan tangannya di kedua bahuku. ” Maafkan aku, kurasa lebih baik kita tidak berpacaran dulu. Lebih baik, kita jalani kehidupan masing-masing.”
Myungsoo tampak terluka, namun ia menutupinya dengan sebuah senyuman yang terlihat menyedihkan. ” Aku tidak terima dengan perkataan terakhirmu, kita bisa berteman. Bukankah begitu?”
Aku mengangguk dan membalas senyumannya. Yah, kurasa tidak ada salahnya berteman dengan Myungsoo. Pada dasarnya, dia orang yang baik. ” Tolong minta tanda tangan EXO jika kau bertemu dengannya. Kau kan seorang wartawan.”
Myungsoo tertawa mendengar gurauanku. Aku senang bisa mendengar dan melihat tawanya setelah sekian lama.

Tidak mau kedatanganku ke sini sia-sia begitu saja, aku menelusuri bagian lain dari taman ini. Myungsoo juga ikut denganku karena berpikiran yang sama, sebagai teman kurasa kami akan cocok. Saat ini kami sedang berada di jalan setapak yang membagi padang ilalang menjadi empat bagian. Aku tidak berhenti memotret pemandangan dengan kamera ponselku sementara Myungsoo hanya memperhatikan kegiatanku.

Saat aku menggerakkan ponselku ke sisi lain, aku melihat seseorang sedang melambai-lambai dengan senyum lebar di wajahnya. Sungjae? Kenapa dia bisa ada ke sini?
Myungsoo memicingkan mata melihat Sungjae yang tengah menghampiri kami. ” Kau mengenalnya?”
Aku mengangguk sambil membalas lambaian Sungjae. ” Dia teman sekelasku. ”
” Oh!” Sungjae menatap Myungsoo sekilas dan kembali menatapku. ” Ini mantan pacarmu yang membuatmu terlihat menyedihkan di mini- Aduh!” Aku memukul lengan Sungjae karena mengatakan hal yang memalukan seperti itu. Itu memang menyedihkan, tapi tidak perlu dibicarakan lagi kan?
” Apa yang kau lakukan di sini?” Aku bertanya.
Sungjae merentangkan tangannya sambil berjalan, aku dan Myungsoo mengikutinya berjalan. ” Memeriksa tempat untuk karya wisata sekolah Seorin minggu depan. ”
Ah, aku baru teringat jika Seorin akan mengunjungi tempat ini minggu depan. Ia pasti akan senang karena sudah lama ia ingin ke sini namun belum sempat.
” Kalian tampak akrab sekali.” Myungsoo berkomentar sambil melihatku dan Sungjae bergantian. ” Kalian saling mengenal?”
” Kau tidak mengenalnya? Dia ini satu sekolah denganku.” Aku bertanya balik kepada Myungsoo. Myungsoo juga pernah bersekolah di tempat yang sama denganku, seharusnya dia mengingat atau minimal pernah berpapasan dengan Sungjae walaupun Myungsoo adalah senior kami.
Myungsoo mengerutkan dahinya, tampak sedang berusaha mengingat sesuatu. Kemudian, ia bergumam. ” Kurasa aku pernah melihatnya. Entahlah, aku tidak begitu yakin.”
Aku menghela napas ketika melihat sifat pelupa Myungsoo yang tidak berubah. Sudahlah, ini bukan sesuatu yang penting untuk dibahas.
Sungjae mengamatiku dan Myungsoo bergantian. ” Kalian sudah kembali berpacaran?”
Aku menggeleng sementara Myungsoo menggumam tidak jelas. Sungjae mengangkat sebelah alisnya, mungkin bingung dengan mendapatkan jawaban yang berbeda. Aku menegaskan sekali lagi. ” Hubungan kami sudah membaik. Kami berteman sekarang. Bukankah begitu Myungsoo?” Aku bertanya kepada Myungsoo. Tunggu, kenapa aku harus menegaskan kepada Sungjae tentang hubunganku dengan Myungsoo?
” Kalau aku sudah kembali berpacaran dengan Suzy memangnya kenapa?” Tanpa menjawab pertanyaanku, Myungsoo menatap Sungjae yang tengah berdiri di sampingku. Astaga, apakah orang ini lupa dengan kejadian tadi?
Hening. Aku hendak membuka mulut untuk mengklarifikasi perkataan Myungsoo. Sungjae mendadak bergumam. Suaranya pelan sekali, namun dapat terdengar samar olehku. Aku tidak bisa melihat ekspresinya karena ia memalingkan wajahnya.
” Aku terlambat.”
Aku mengerjapkan mata, apa maksud perkataannya tadi? Kurasa aku salah dengar karena suara Sungjae yang sangat pelan itu bercampur dengan suara berisik sekelompok remaja yang sedang membicarakan sesuatu.
Sungjae kemudian tertawa, membuatku sedikit tersentak karena terkejut. ” Ya, tidak kenapa-kenapa. Aku kan cuma bertanya.”
Aku yakin aku salah dengar tadi setelah mendegar jawaban kasual Sungjae. Namun aku ingin menegaskan lagi hubunganku dengan Myungsoo. Aku tidak mau terjadi kesalahpahaman disini.” Sudah kukatakan aku tidak berpacaran dengan Myungsoo. Myungsoo, bukankah kita sudah sepakat untuk berteman tadi?”
” Cuma saat itu saja. Sekarang sudah berbeda. ” Myungsoo menjawab pertanyaanku, aku terdiam. ” Bercanda. Aku akan menunggu, tenang saja.”
Perkataan selanjutnya membuatku semakin canggung. Tiba-tiba Sungjae menyusup di antara kami dengan mengarahkan kamera ponsel miliknya ke arah kami bertiga. Ia berkata riang, bahkan terlalu riang. ” Katakan ‘Kimchi’! ”
Sebelum kami mengatakannya, ia sudah memencet tombolnya sehingga tampaklah aku dengan wajah terbengong bercampur terkejut, Myungsoo yang tampak sedikit terganggu, dan Sungjae yang tersenyum lebar.

IT’S CRAZY
” Ah, lelahnya!”
Sungjae berseru sambil meregangkan badannya sementara aku duduk di sebelahnya dengan pandangan kosong, terlalu lelah untuk merespon perkataan Sungjae. Saat ini kami berada di halte bus, sedang menunggu bis menuju rumah masing-masing. Kami bertiga berada di Haneul Park sampai jam 3 sore. Saat menuju halte bis, Myungsoo didatangi oleh sebuah van dari sebuah stasiun tv. Salah satu staf di dalam van itu berkata sesuatu mengenai wawancara dengan cepat. Terburu-buru, Myungsoo meminta maaf karena tidak bisa mengantarku pulang lalu ikut naik ke dalam van. Jadilah sekarang tinggal kami berdua di sini, menunggu bis yang terasa lama sekali datangnya.

Tiba-tiba Sungjae menepuk bahuku bersemangat, membuatku melonjak kaget. Apa-apaan sih dia? Apa tenaganya tidak pernah habis? ” Ayo ke Namsan Tower!”
” Besok aku harus ke sekolah. Aku butuh istirahat. Kau sendiri saja yang ke sana.” Aku menolak ajakan Sungjae. Yang kubutuhkan saat ini adalah tidur di kamar sampai keesokan harinya.
” Memangnya aku tidak sekolah besok? Ayolah, sudah lama aku tidak ke sana. Temani aku sebentaaarrr saja, ya?” Sungjae memohon padaku dengan mata berbinar-binar.
” Tidak mau.” Aku tetap pada pendirianku, bagaimanapun aku tetap ingin kembali ke rumah.
Sungjae terdiam, lalu ia menampilkan senyum tipis. ” Kau masih punya hutang padaku. ”
” Hutang a-” Ah, kimbab waktu itu. Aku pikir dia sudah lupa karena dia bercanda. Rupanya dia masih ingat.
“Aku masih mengingatnya, kau tahu? Jadi aku anggap hutangmu lunas jika mau menemaniku ke sana. ” Sungjae menampilkan senyum penuh kemenangan.
” 15 menit. Lebih dari itu, aku pulang sendiri.” Aku mengabulkan permohonan Sungjae, jika dipikir-pikir lagi tidak ada salahnya ke sana.
” Assa! Ayo! ” Sungjae menarik tanganku untuk masuk ke dalam bis menuju Namsan Tower.

Pohon-pohon di sisi jalan menuju Namsan Tower terlihat menyedihkan karena tidak ada satu daunpun yang tersisa. Namun Sungjae malah bersemangat dan mengatakan ini adalah suasana yang paling baik untung mengunjungi Namsan Tower. Aku hanya mengangguk-angguk saja mendengar celotehannya, yang aku inginkan adalah melihat ribuan gembok di Namsan Tower selama beberapa saat kemudian cepat-cepat pulang.

” Tunggu di sini sebentar ya. Jangan pulang dulu.” Sesampainya di Namsan Tower, Sungjae meninggalkanku di sini sendirian, di tengah-tengah lautan gembok dan beberapa pasangan yang sedang bermesraan atau memasang gembok. Aku jadi terlihat menyedihkan. Ah tidak tidak! Aku tidak boleh meratapi nasib! Aku harus menikmati Namsan Tower.

Setelah melihat-lihat, aku memutuskan untuk duduk di salah satu bangku yang kosong. Sudah 5 menit tapi Sungjae belum kembali, ke mana sih dia? Pokoknya, 10 menit lagi dia tidak datang aku akan sungguh-sungguh pulang sendiri.

Bosan menunggu, aku mencoba melihat-lihat gembok yang sudah terpasang di salah satu sisi pagar. Aku menemukan beberapa pesan singkat romantis, pesan yang konyol, dan beberapa gembok dengan foto pasangan. Saat membaca pesan pada sebuah gembok berwarna biru muda mendadak aku tertegun.

Suzy X Myungsoo

Itu adalah tulisanku dan Myungsoo, setahun yang silam. Saat itu, kami merayakan hari ke 50 setelah menjadi pasangan di sini. Saat itu Myungsoo memberitahuku bahwa jika mengunci gembok cinta dan membuang kuncinya maka cinta pemilik gembok tidak akan terpisahkan. Dulu, aku sangat percaya pada ucapannya, tapi sekarang melihat hubunganku dengan Myungsoo aku percaya bahwa itu cuma sekedar mitos dan sebuah fenomena yang tidak ada artinya sama sekali.

” Siapa yang memilih gembok ini? Jelek sekali warnanya. ” Aku mendengar seseorang berkata di sebelahku. Aku menengok dan menemukan Sungjae sedang ikut berjongkok di sebelahku sambil memandang gembok yang masih kupegang dengan tatapan datar.
” Myungsoo. ” Dengan enggan aku menjawab, biru muda adalah warna kesukaan Myungsoo dan aku tidak keberatan waktu itu.
” Tampaknya sudah agak usang. Aku tidak menyangka kau akan menemukannya setelah sekian lama. ” Sungjae tampak tidak tertarik dengan gembok yang sedang kupegang ini.
” Aku tidak sengaja menemukannya. ” Aku berdiri, diikuti dengan Sungjae. ” Kau lama sekali, aku hampir meninggalkanmu kalau kau tidak kunjung datang juga. ”

Sungjae tersenyum lebar sambil sambil menunjukkan sebuah kotak berisi 2 gembok beserta kuncinya. Dia ini tidak bermaksud untuk mengajakku memasangkannya kan?

” Ayo kita pasang gembok ini!” Sungjae menunjukkan gembok-gembok yang masih rapi tertata di kotaknya. Satu berwarna putih dan satu berwarna pink muda. Oh tidak, itu ide yang sangat buruk.
” Tunggu dulu. Pertama, aku dan kau bukan pasangan. Kedua, aku tidak punya pasangan jadi aku tidak tahu akan menuliskan nama siapa. Ketiga, kau juga tidak punya pasangan. Benar kan?” Aku menahan Sungjae yang terlihat bersemangat sekali seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan.
” Kata siapa kau dan aku tidak punya pasangan? Kita datang berpasangan bukan? ” Sungjae membalikkan pertanyaanku.
” Maksudku bukan yang seperti itu. Maksudku itu adalah-”
” Ah, kau ini lambat sekali! Ayo kita pasang saja gembok ini. Sayang sudah dibeli tapi tidak dipakai.” Sambil menarikku, Sungjae berkata.
” Wah, kebetulan sekali kita menemukan tempat yang berdampingan seperti ini! ” Sungjae menunjuk dua tiang pagar yang masih kosong. Kemudian, ia membuka kotak itu dan memberikan gembok berwarna pink kepadaku. ” Tulis namamu.”
Aku mengamati gembok itu sekilas dan menuruti perkataan Sungjae. Kupasang gembok itu di salah satu tiang yang ada.
” Bae Soo Ji.” Sungjae membaca namaku yang tertera di gembok. ” Aku suka namamu.”
Aku merasakan wajahku memanas mendengar perkataan Sungjae. Ini pertama kalinya ada orang yang mengatakan hal seperti itu padaku.
Lalu aku melihat Sungjae tengah memasang gembok putih miliknya, bersebelahan dengan gembokku.
” Hei, apa yang kau tulis?” Aku hendak melihat apa yang tertulis di gembok Sungjae. Tapi Sungjae mencegahnya dengan merangkulku dan membawaku menjauh dari gembok itu.
” Rahasia.” Sungjae berkata penuh misteri. Aku hanya mengangkat bahu, paling dia menulis namanya sendiri sama sepertiku.

-TBC-

A/N : Halo :’) maaf ya jadwal publishnya ngaret u.u Deadline tugas membuatku lelah~ #curcol Sorry for typo(s). Terima kasih sudah setia dan sabar mengikuti FF ini, semoga kalian ga lupa ya sama ceritanya :’) Have a nice day^^V Gamsahanida~

 

 

25 responses to “[CHAPTER] IT’S CRAZY #5

  1. Pingback: [CHAPTER] IT’S CRAZY #10 | High School Fanfiction·

  2. Pingback: [CHAPTER] IT’S CRAZY #9 | High School Fanfiction·

  3. Pingback: [CHAPTER] IT’S CRAZY #8 | High School Fanfiction·

  4. Pingback: [CHAPTER] IT’S CRAZY #7 | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s