[ONESHOOT] Beautiful Creatures

143175369077

| Title : Beautiful Creatures |

| Genre : Romance, Comedy, Family, Fantasy & Supranatural |

| Rating : PG-15 |

| Main Cast : Kim Myungsoo [INFINITE] Park Jiyeon [T-Ara]Bae Suzy [MissA] – Choi Minho [SHINEE]

| Support Cast : Kim Jongin [EXO] |

| Author : VieLKim |

oOo~oOo~oOo

A/N : This is story for Myungyeon & Minzy shippers

Happy reading and enjoy it

.

.

.

Tidak tahu bagaimana Myungsoo harus menerima kenyataan ini?

Ia hanyalah pemuda yang sebentar lagi pukul 00.00 akan menginjak usia yang ke-17 tahun, yang artinya ia akan menjadi sosok yang lebih dewasa. Bebas bergaul dengan teman-temannya, hang out bersama teman kemanapun dan kapanpun yang ia mau, dan lain sebagainya yang biasa dilakukan remaja seusianya.

Ya, harusnya sih begitu.

Namun mungkin itu hanya akan menjadi angan-angan semu belaka, nyatanya selama ia hidup tak pernah sekalipun merasakan hal-hal menyenangkan diatas. Ia bagai anak itik yang terkurung dikandangnya yang sempit dan pengap, Myungsoo pun ingin bebas terbang seperti burung elang melambung ke dasar langit yang tinggi.

Bukan salah Myungsoo kan kalau ia terlalu berharap?

Entah harapannya ini akan terwujud seperti yang diinginkan, atau masih sama ia harus berhenti pada satu titik dan tidak bergerak samasekali. Hidupnya itu sudah sangat membosankan dan patut terbilang– aneh.

Myungsoo sesekali menguap, matanya yang mulai meredup itu ia fokuskan pada jam dinding kuno yang 10 menit lagi akan menunjukkan jam 12 malam tepat. Dihadapannya, ibunya sedang menyangga dagu sambil memegang korek api untuk menyalakan lilin. Disebelah ibunya, ayahnya sedang menahan kantuk hampir saja kepalanya itu nyaris terantuk meja.

“Bu, apakah ada mantra untuk mendapatkan cinta?” tanya Myungsoo ngawur sebenarnya ia hanya basa-basi menghilangkan rasa kantuknya.

“hmm” ibunya hanya bergumam entah ‘hm’ itu sebagai jawaban ya ada, atau tidak. Pasalnya kondisi ibunya pun tak jauh berbeda sama-sama mengantuk.

.

‘teng teng teng’

Jam dinding itu berbunyi, bandul lingkarannya bergerak ke-kiri ke-kanan tepat pada jam 12 malam.

‘Plok plok plok’ itu suara tepukan ayahnya agar ibunya cepat menyalakan lilin ulang tahun Myungsoo. Setelah lilin itu dinyalakan diatas kue ulang tahunnya Myungsoo baru saja akan meniupnya namun sudah ditarik kembali oleh ibunya.

“Katakan dulu apa harapanmu”

Setelah itu Myungsoo memejamkan matanya, mengatakan harapannya dalam hati penuh khidmat kemudian meniup lilinnya.

.

.

.

Myungsoo memakai sepatunya dengan terburu-buru, mengecek penampilannya dicermin setelah beres ia mengambil tas punggung warna hitamnya kemudian melangkah menuju ruang makan, ia tengok kanan-kiri namun tak ada orang kemana sebenarnya ayah ibunya. Kemudian ia mengendikan bahunya tak peduli, ia lebih memilih menenggak susu putihnya lalu mencomot roti panggang.

“Aku berangkat. . .” teriaknya sambil mengunyah roti sambil berjalan menuju pintu. Baru saja akan memutar knop pintu, ia dikagetkan oleh sebuah tepukan dipundaknya.

“huh Ayah kau mengagetkanku” dengus Myungsoo sebal

Ayahnya hanya menampilkan cengiran garingnya “Kau dipanggil ibumu tuh diruang kerjanya”

Myungsoo memutar bola mata malas “Apalagi sekarang yah?”

“Nahh, sekarang lihatlah ayah” Myungsoo melihat ke wajah ayahnya yang sudah basah kuyup “Kau mungkin tak jauh berbeda denganku nantinya.”

Myungsoo melotot kaget. Tak percaya.

“Ayah, ada kelopak bunga mawar yang masih nyangkut dirambutmu” Myungsoo mengulurkan tangannya, mengambil helaian kelopak bunga tersebut.

“Choi Minho!! Cepat panggil anakmu” kemudian terdengar teriakan nyaring dari arah ruang kerja ibunya.

Ayah-anak itu kemudian meneguk ludah susah payah.

“Sudah sana masuk temui ibumu, ayah berangkat ke kantor dulu.” Minho menepuk pundak Myungsoo sekali lagi dengan senyum singkatnya kemudian memutar knop dan menghilang dibalik pintu.

Myungsoo masih mematung diambang pintu, dirinya ingin kabur saja sekarang, kakinya serasa berat untuk melangkah keruang kerja ibunya, melihat penampilan ayahnya yang na’as begitu. Bagaimana dengan ia nantinya.

.

.

“Kemari, duduklah. . .” perintah ibunya ketika melihat Myungsoo datang dengan langkah setengah-setengah.

Myungsoo menurut saja kemudian duduk tepat didepan ibunya –Suzy–  dihalangi oleh meja kecil ditengah-tengahnya. Ketika mulut Suzy berkomat-kamit tak jelas, pandangan Myungsoo beralih pada cairan-cairan aneh dalam botol kaca kecil dimeja. Belum lagi aneka bunga tujuh rupa yang berada di wadah perak dengan lilin beraroma terapi lavender bercampur vanilli dan cengkeh yang mistis. Ruang kerja ibunya itu seperti tempat pertapaan uji nyali. Myungsoo bergidik sendiri. Sekarang katakanlah adakah hal yang lebih ehem indah’tanda kutip’ dari hidupnya?? mempunyai ibu seorang cenayang yang kerjaannya sehari-hari hanya duduk mengurusi benda-benda mistisnya. Nah masih mending jika hanya duduk dan mengurusi benda mistis saja. Namun jika sudah berkomat-kamit memanggil arwah-arwah orang yang sudah meninggal. Myungsoo bisa apa??

Pernah suatu ketika ibunya, kedatangan klien yang memintanya untuk dipertemukan dengan arwah sang kakak yang meninggal tragis karena kecelakaan. Myungsoo saat itu sedang mendengarkan lagu rock pada earphone’nya, asik manggut-manggut heboh dengan guling yang ia jadikan gitar namun mendadak shock dan terkena serangan jantung tiba-tiba ketika melihat gadis berambut panjang dengan gaun putih yang berlumuran darah melambai kearahnya dari ambang pintu kamar. Jelas saja Myungsoo ketakutan dan menjerit heboh setelahnya, bahkan suara jeritannya itu lebih kencang daripada lagu rock yang ia nyanyikan sebelumnya. Suzy menjelaskan bahwa arwah itu hanya ingin berkenalan dengan Myungsoo, selaku anak Suzy, karena Suzy telah membantunya menjelaskan kematiannya yang tak wajar pada sang adik yang ingin bertemu dengan arwahnya. Oke itu adalah acara kenalan yang paling membekas dan berkesan sangat sangat berkesan. . .di ingatan Myungsoo selama ia hidup.

Tak hanya itu saja sebenarnya yang menimpa Myungsoo, banyak hal lain yang lebih tak masuk akal dan ganjil yang menimpanya. Bukankah itu konsekuensi yang harus ia terima menjadi seorang anak cenayang??

‘Cratt cratt crattt’

Myungsoo berjengit, sadar dari lamunannya. Sekarang Suzy sedang menyipratkan air mantranya pada wajah Myungsoo “prftttttt. . .” hampir saja kelopak bunga melati yang kecil itu masuk kedalam mulutnya. Myungsoo jengah, cukup sudah dirinya diperlakukan seperti ini, dimantra-mantra tidak jelas seperti ini.

“Sudah. . .hentikan kegilaan ini bu” Myungsoo tiba-tiba saja bangkit dari duduknya.

Suzy tersentak, kemudian menghela napas dan bangkit mengikuti Myungsoo berdiri. Membenarkan rok hanbok-nya lalu menatap Myungsoo.

“Dengarkan aku Myungsoo, ini demi kebaikanmu”

“Kebaikan apa? Ibu selalu saja bilang kebaikan kebaikan dan kebaikan. Aku sudah bosan. Ibu perlu ta–”

Myungsoo menghentikan kalimatnya setelah mendapat pelototan dari Suzy, selalu saja begitu, asal tahu saja Myungsoo itu sebenarnya takut akan plototan tajam mata Ibunya, apalagi eyeliner tebal yang membingkai matanya itu. Bahkan plototan mata itu lebih tajam daripada plototan Mrs.Jung guru bahasa Inggris killernya.

.

.

.

Myungsoo merasa kadang dirinya seperti barang antik berjalan, ibunya itu selalu saja memberinya kalung, gelang, cincin dan lain sebagainya untuk dikenakan jika keluar rumah. Alasannya sih demi kebaikan lah, penolak bala lah dan segala tetek bengeknya.

Tapi apakah harus dikenakan ketika pergi ke sekolah juga??

Gila saja jika Myungsoo masih menuruti Suzy untuk memakai jimat-jimat aneh itu. Terakhir kali ia memakai benda aneh itu saat SMP, ia bahkan sampai dibully dan dipandang aneh oleh anak-anak lainnya, apalagi mengetahui jika Myungsoo adalah anak cenayang/paranormal. Jadilah Myungsoo saat SMP tak mempunyai teman. Tetapi perihal dirinya dibully dan tak memiliki teman ayah ibunya itu tidak tahu, Myungsoo memang berniat untuk tak memberitahunya agar tidak membuat kedua orangtuanya khawatir. Myungsoo juga tidak mau melihat ibunya kecewa, jika tahu dirinya dibully karena profesi ibunya, tidak. Myungsoo sangat menyayangi Ibunya, biarpun profesi ibunya itu aneh tetapi Myungsoo bahagia jika ibunya juga bahagia dengan profesinya.

Berbicara soal jimat, sejak masuk SMA sampai sekarang ia duduk dibangku kelas dua. Myungsoo diam-diam berhenti memakai jimat-jimat itu tanpa sepengetahuan Suzy. Mengenai ia anak cenayang juga teman SMA-nya tidak ada yang tahu, kecuali– Jongin, teman yang sudah ia ajak kerumah dan sudah ia percaya. Bukannya Myungsoo tidak suka mempunyai ibu cenayang, hanya saja ia tidak mau jika profesi ibunya itu nanti akan jadi bahan ejekan teman-temannya seperti dulu saat ia SMP.

Myungsoo berjalan sambil melepaskan jimat-jimatnya kemudian memasukannya asal kedalam tasnya. Lalu pandangan matanya fokus  menatap kedepan tanpa berkedip, disana terlihat sosok gadis berambut cokelat panjang  sedang berdiri dihalte menunggu bus. Gadis itu, gadis yang baru pindah disekolahnya seminggu yang lalu yang berhasil mencuri hatinya tanpa permisi. Jiyeon, namanya Park Jiyeon. Myungsoo masih mengingatnya dengan jelas ketika Jiyeon memperkenalkan dirinya didepan kelas. Myungsoo menarik bibirnya keatas, cinta itu ternyata begini. Selalu ingin tertarik lebih dekat kearah orang yang kita cintai. Selama 17 tahun hidupnya, Myungsoo baru merasakan degupan jantung yang menggila bahkan ini lebih gila dari cinta monyetnya dulu saat SMP.

Aliran darahnya seperti merespon bahwa ini adalah takdirnya, bahwa Jiyeon adalah takdir hidupnya.

Gila memang, katakanlah sekarang Myungsoo gila jika dihadapkan oleh Park Jiyeon. Otak dan tubuhnya seakan tak mau bekerja sama ketika melihat gadis itu, sekalipun dari jauh.

Hampiri

Tidak

Hampiri

Tidak

Ketika Myungsoo memutuskan tetap diam ditempat, namun matanya bertemu dengan milik Jiyeon. Gadis itu tersenyum dan melambaikan tangan dari jauh, menyapanya.

Betapa senangnya hati Myungsoo, sekarang ia sedang gila-gilaan menahan jantungnya agar tidak melompat dari tempatnya. Dengan segenap jiwa raganya, ia kemudian mendekat dan berdiri disamping Jiyeon.

“Hai”

“Oh, h –hai”

Myungsoo menggaruk tengkuknya, mengurangi rasa canggung yang tiba-tiba saja datang dengan tak tahu dirinya. Sekarang Myungsoo terlihat seperti orang idiot yang mendadak gagap.

Namun Myungsoo sebisa mungkin memulai obrolan dengan Jiyeon, membahas tentang sekolah dan kegiatan klub-klub disana yang asik untuk diikuti – oh lihatlah sekarang bahkan dirinya terlihat seperti ketua OSIS yang mempromosikan kegiatan ekstrakulikuler pada siswanya.

Tak hanya itu Myungsoo juga sampai membahas guru konyolnya Mr.Lee ketika ia memarahi kelasnya dulu, dengan penuh tenaga menggebu-gebu sampai-sampai tak menyadari kalau gigi emas 5 gramnya lepas dari sarangnya– Myungsoo sampai membuka aib orang lain, tsk tapi tak apalah melihat Jiyeon sekarang tertawa dengan mata menyipit membentuk bulan sabit Myungsoo jadi senang melihatnya. Artinya gadis disebelahnya terhibur bukan?

Obrolan mereka baru bisa berhenti ketika bus tiba dihadapan halte, mereka berdua langsung saja berjalan masuk dengan senyum yang menghias di wajah keduanya.

.

.

.

“Jong” panggil Myungsoo, matanya kemudian beralih dari ponsel menatap temannya Jongin, yang sekarang sedang membaca komik miliknya.

“hmm” hanya gumaman dari Jongin sebagai respon.

Myungsoo berdecak, selalu begitu jika anak hitam itu sedang membaca komik, namun setidaknya Myungsoo tahu bahwa Jongin masih mendengarnya. Jadi Myungsoo kembali melanjutkan ucapannya “Kau tahu Jiyeon?”

Myungsoo dan Jongin itu berbeda kelas, namun Jongin mengangguk “Ya, aku tahu, anak baru itukan?” Biarpun berbeda kelas namun kehadiran murid baru itu Jongin memang tahu, seluruh murid disekolah juga tahu. Kurang kerjaan sekali Myungsoo membahas anak baru itu– pikir Jongin. Namun sedetik kemudian–

“Tunggu dulu, kau menanyakan itu. Jangan-jangan kau meny–“

“yeah, that’s right man, aku menyukai murid baru itu” tandas Myungsoo

Jongin menutup komiknya kemudian menyilangkan posisi kakinya “Sejak kapan?” ia mulai tertarik, apalagi mengenai percintaan. Jongin kan memang playboy.

“Sejak pertama kali melihatnya, love at the first sight.” Myungsoo tertawa, kemudian melayangkan tatapan tajam kearah Jongin “Dia incaranku. Jangan sekali-kali kau berani mendekatinya”

“Kalau aku mendekatinya?”  tanya Jongin main-main, ingin melihat reaksi Myungsoo.

“Ingin merasakan semburan bunga tujuh rupa ibuku!”

Jongin setelah itu bergidik, mendengar Myungsoo disembur saja Jongin rasanya– entahlah, apalagi membayangkan wajah tampannya yang disembur dengan air mantra oleh ibu Myungsoo. Oh tidak!

“Hey, aku bercanda, sumpah. Lagian murid baru itu bukan tipeku, kau tahu kan tipe-ku yang bagaimana?” Jongin menaik-turunkan alisnya.

“Dasar sudah hitam, pesek, mesum lagi”

Jongin melotot, perkataan Myungsoo barusan serasa menohok tepat ke ulu hatinya. Nylekit[?] rasa-rasanya jika tak mengingat Myungsoo itu temannya, Jongin pasti sudah melayangkan bogem mentahnya.

“Siapa nih yang pesek, hitam, mesum?” tiba-tiba saja ayah Myungsoo– Minho, datang tak diundang. Pura-pura tidak tahu.

“Au. . .ah gelap. Ayah-anak sama saja” dengus Jongin.

Setelah itu Ayah dan anak itu tertawa cekikikan.

“Sudah puas?” Jongin bertanya sarkastik.

Setelah berhenti tertawa Minho berdehem, lalu mengatakan tujuan awalnya kesini untuk meminjam laptop Myungsoo. setelah dapat, Minho keluar lagi dari kamar anaknya. Masih dengan menahan tawa sebenarnya.

“Sudahlah terima saja Jong, kau ini sudah hitam, pesek, mesum pula” ulang Myungsoo lagi.

Kepala Jongin sudah berasap, ini nih kata-kata sensitif yang tak ia sukai, selalu tepat menusuk hati.

“Siapa yang mesum, pesek terus hitam?” setelah ayah Myungsoo pergi kini ibunya Myungsoo datang.

Kompak memang– pikir Jongin.

“Siapa lagi memang, ibu tidak tahu” jawab Myungsoo

“Siapa? Jongin?” tanya Suzy sambil meletakkan nampan berisi jus jeruk dan cemilan diatas karpet berbulu tepat dihadapan Myungsoo dan Jongin.

Myungsoo mengangguk, sedangkan Jongin kepalanya mulai berasap lagi.

“Tidak ah, Jongin kan tampan” ujar Suzy

Jongin tak salah dengar nih? Baru saja ada yang memujinya. Kepala berasapnya serasa tersiram air dingin, musnah sudah.

“Jongin kan mirip dengan Taylor Lautner, aktor Hollywood favorit ibu” lanjut Suzy lagi, kemudian tertawa genit kearah Jongin.

“Ingat ayah, bu” seloroh Myungsoo

Nah sekarang bukan hanya kepala berasapnya yang mendadak hilang, tapi tubuh Jongin juga sekarang serasa melayang keudara. Mendapat pujian tak tanggung-tanggung lagi.

“Bibi, memang yang terbaik” ujar Jongin kemudian mengacungkan dua jempolnya kearah Suzy.

.

.

.

Myungsoo mengamati kotak persegi empat berbentuk kubus berukuran sedang ditangannya. Baru saja ia menerima paket dari tukang pos atas nama Ibunya.

Buka tidak ya?

Karena jiwa penasaran anak remaja yang begitu tinggi, akhirnya ia meletakkan kotak itu dimeja ruang tamu dan bersiap akan membukanya, sebelum suara sang ayah menginterupsinya.

“Kotak apa Myung? Bom ya” tanyanya dengan santai kemudian duduk dihadapan anaknya. Sama penasarannya.

Myungsoo hanya mengendikkan bahu, kemudian kembali melanjutkan membuka kotak itu yang isinya taraaaaaaa. . . . .

–Benda berbentuk bulat, terbuat dari kaca, ditengahnya ada mini lampu kecil.

Ya, itu adalah bola lampu Kristal–

Sang ayah dan anak itu saling berpandangan. Suzy selalu saja membeli barang-barang aneh melalui online. Terakhir kali yang Minho dan Myungsoo tahu, Suzy membeli lonceng kecil, katanya sih pengusir hantu. Itu didatangkan langsung dari China.

Suzy meletakkan lonceng itu diatas seluruh pintu dan hampir disetiap sudut rumah. Bayangkan saja setiap mereka masuk atau keluar lonceng itu pasti berbunyi, belum lagi jika lonceng yang digantung disekitar luar rumah dan halaman pekarangan berbunyi nyaring karena tiupan angin. Katakanlah adakah hal yang lebih ramai dari rumah Myungsoo.

Tapi, sekarang lonceng itu sudah tidak ada lagi, rumah Myungsoo kembali tentram dan nyaman. Ya, karena pada saat Suzy keluar rumah untuk bertemu dengan komunitas kleniknya. Myungsoo dan Minho lah yang mencabuti seluruh lonceng disetiap sudut rumah tanpa terkecuali, lalu akhirnya memutuskan untuk meng-enyah-kan lonceng itu dengan menjualnya ke tukang rongsok yang biasa keliling komplek. Hasil uangnya diambil Myungsoo, lumayan katanya buat nambah uang jajan. Tapi rupanya ayah-anak itu masih mempunyai hati nurani, mereka masih menyisakan satu lonceng kecil, hanya diruang kerja Suzy saja.

“Ayah, mau aku ramal” ujar Myungsoo iseng

“Boleh boleh” jawab Minho

Myungsoo mengatur duduknya dan juga ekspresi layaknya peramal profesional “ekhem” dia berdehem kemudian bertanya apa yang klien-nya ingin tanyakan.

Minho yang disini berpura-pura sebagai klien mulai bertanya “Tuan, apakah saya bisa naik jabatan?”

Myungsoo berdehem (lagi) . . .

“Kamu sakit tenggorokan?” tanya Minho kemudian, mulai khawatir juga risih sebenarnya melihat Myungsoo sedari tadi berdehem terus.

Myungsoo berdecak dan menghela napas “Ayah merusak suasana. Aku hanya mencoba berwibawa sebagai seorang peramal yah”

“Oh gitu ya” cengir Minho “yasudah, lanjutkan”

Myungsoo kemudian mulai menggerakan jari-jarinya diatas bola lampu kristal. Sambil komat-kamit “Crucio defodio pithecanthropus erectus paleojavanicus”

Minho mengernyit, baru saja akan menginterupsi mantra anaknya. Tiba-tiba saja Suzy datang “Ya ampun, kalian apakan bola lampu ibu”

Myungsoo langsung saja membuka matanya, bibir yang tadi komat-kamit kini menampilkan cengiran garing kearah ibunya.

“Sudahlah sayang, jangan marah. kita hanya main-main kok. Iya kan Myung?” ujar Minho disambut anggukan dari Myungsoo.

Suzy menghela napas bosan, selalu saja suami dan anaknya ini membuat ulah dengan memainkan benda-benda miliknya. Suzy sebenarnya tidak marah, dan tidak ingin marah, tapi setiap kali benda milknya dimainkan oleh Minho dan Myungsoo untuk bahan candaan seperti sekarang pasti akhirnya berujung jadi barang rongsokan alias rusak.

“Baiklah aku tak akan marah” ujarnya sambil meletakkan nampan yang berisi cairan berwarna merah agak oranye kecoklatan diatas meja.

Myungsoo dan Minho yang baru menyadari langsung saling berpandangan satu sama lain, firasatnya mengatakan kalau ini buruk.

“Minumlah” perintah Suzy dengan melipat tangan didada, menunjuk dua gelas minuman itu dengan dagunya

‘gluk’ suara tegukan ludah keduanya.

Tidak.

Terakhir kali mereka berdua minum air rebusan bunga mawar campur rossemery dan bunga apalah yang mereka tidak tahu itu, rasanya begitu errr pahit, campur getir. Dan harus berakhir dengan ayah anak itu muntah berjama’ah diwastafel toilet.

Tidak. Tidak akan lagi!

Ayah anak itu berpandangan lagi untuk kedua kalinya, kali ini mereka seolah saling mengirim telephaty lewat tatapan mata.

Ketika Minho berkedip–

Myungsoo berteriak “Larriiiiiiiiiiiii. . . . . . . . ” –

‘Klontang. . .klontang. . .kedabrak . . .kedubruk. . .’

Itu suara keduanya yang lari dan beberapa kali harus terjatuh, mencoba menjauh. . .sejauh mungkin dari Suzy yang mulai mengejar.

Mereka keluarga yang bahagia bukan??

.

.

.

Rintik hujan mulai turun. . .

Myungsoo yang saat itu baru saja keluar dari mini market, membuka payung hitamnya. Aroma tanah bercampur air hujan menguar dihidungnya dengan pekat, aroma petrichor yang ia suka. Myungsoo bersenandung menggumamkan lagu favoritnya selama perjalanan sambil memainkan dan menendang-nendang kecil genangan air dengan sendal jepit berwarna hitamnya yang mulai basah. Sampai pandangannya tertuju pada sosok gadis manis yang sekarang sedang berteduh dibawah emperan toko. Pandangannya melihat keatas langit, menunggu hujan reda dengan poni cokelat yang basah menutupi sebagian wajahnya.

Myungsoo menghampirinya dengan hati-hati. Tak ingin menimbulkan suara dari langkah kakinya.

Ketika sampai ia berdehem, gadis itu menolehkan wajahnya dan tersenyum ketika melihat Myungsoo.

“Hai Jiyeon, menunggu hujan reda?”

“Ya, tapi sepertinya hujan bertambah deras saja”

Myungsoo memperhatikan Jiyeon yang tengah memeluk lengannya sendiri dengan baju setengah basah.

“Kalau begitu, bagaimana kalau pulang denganku saja”

“uh?”

“Satu payung denganku. Akan ku antar kau pulang”

“Tapi rumahku jauh” ujar Jiyeon pelan.

Myungsoo menggaruk lehernya. Bagaimana ya? Mau membawa Jiyeon kerumah tapi, agak ragu. Perihal banyak benda-benda aneh dirumahnya. Tapi, jika meninggalkan gadis itu disini malam hari sendirian, jelas saja Myungsoo tak setega itu, apalagi pada gadis pujaan hatinya. Myungsoo perang batin, namun akhirnya ia menawarkan Jiyeon untuk ikut kerumahnya. Dalam hati Myungsoo berharap bahwa Jiyeon menerima ajakannya.

Setelah Jiyeon menerima tawarannya, Myungsoo mengulurkan tangannya mengajak Jiyeon masuk kedalam payung bersamanya.

Tangan itu terasa dingin dan halus, ketika Myungsoo berhasil menyentuhnya.

Mereka berjalan beriringan dibawah rintik hujan. Satu hal yang Myungsoo tahu bahwa Jiyeon sangat harum, harum aroma strawberry dan permen mint yang Myungsoo suka.

Ketika dari jauh mulai terlihat sebuah rumah diujung komplek dengan lampu berpendar terang. Semakin mereka berdua melangkahkan kakinya, semakin dekat pula rumah itu berada. Setelah sampai Myungsoo menggeser pintu gerbang bercat hitam rumahnya dan mengajak Jiyeon untuk masuk

.

.

.

‘kliningklining. .kliningkliningklining. . .klining’

Suara lonceng kecil yang tergantung di ruangan Suzy berbunyi nyaring, benda itu bergerak cepat, bukan berbunyi karena tiupan angin, jika tertiup angin maka pergerakannya halus dan seirama, tapi ini cukup kencang dan cepat seperti ada sesuatu yang menggerakannya.

Suzy bangkit dari duduknya, menajamkan batinnya, memfokuskan seluruh inderanya. Ia merasakan ada suatu energi lain disekitarnya, namun ia masih belum mengetahui aura energi ini positif atau negatif. Ia hanya merasa kalau firasat buruk akan terjadi.

.

.

“Siapa. Pacar Myungsoo?” tanya Minho tak tahu diri, yang membuat Myungsoo mengumpat kesal pada ayahnya.

Jiyeon sendiri terlihat ragu untuk menjawab.

“Sudahlah kalian tak usah malu-malu begitu. Ayah waktu remaja juga begitu” kali ini dengan senyum tengilnya, yang membuat Myungsoo ingin menguburkan diri dalam dasar tanah. Mempunyai ayah seperti Minho hanya akan membuat malu saja.

“Ngomong-ngomong sudah berapa lama kalian pacaran?” tanya Minho lagi

“Ayah” tekan Myungsoo, sambil melotot ke arah Minho.

.

.

Suzy mengitari seluruh rumahnya dengan cawan perak ditangannya, memercikan air mantranya pada setiap sudut rumah, dari atas sampai bawah. Ketika pandangannya terarah pada ruang tamu, ia menajamkan matanya. Ada orang asing disitu bersama suami juga anaknya.

Suzy mengernyit. . .

Kemudian mulai melangkahkan kakinya mendekat, baru beberapa langkah Suzy merasakan aura itu lagi. Dan aura itu semakin kuat ketika Suzy semakin dekat kearah ruang tamu.

“eoh sayang. Kemarilah, ada pacar Myungsoo disini” ujar Minho yang menyadari kedatangan Suzy. Menepuk sofa disampingnya, agar istrinya itu duduk disebelahnya.

Myungsoo menghela napas, biarpun Myungsoo sudah menjeaskan bahwa Jiyeon adalah temannya sampai berbusa, namun ayahnya masih saja kepala batu.

Suzy masih berdiri, masih mengamati gadis asing itu, yang posisinya masih memunggunginya. Ketika Jiyeon menolehkan kepalanya dan pandangan mereka bertemu, Jiyeon mengeluarkan senyum ramahnya yang terlihat manis, apalagi dimata Myungsoo.

Namun Suzy masih berwajah datar, kemudian mendekat dengan bibirnya yang berkomat-kamit membaca mantra dengan pelan, nyaris pelan. Kemudian–

BYURRRR’–

Suzy menumpahkan air mantra itu kearah Jiyeon. Baju gadis itu yang setengah basah karena air hujan. Kini sudah basah total akibat siraman yang didapatnya dari Suzy. Jiyeon kaget akan siraman mendadak itu.

Minho melotot tak percaya kearah sang istri

Myungsoo pun begitu “Ibu!”

.

.

.

“Bwahahahahahahahhaha. . . . .” Jongin tertawa kencang dengan memukul-mukul mejanya. Mendengar cerita Myungsoo perihal kemarin malam. Jongin tak bisa membayangkan wajah cantik murid baru itu tersiram air bunga tujuh rupa. Pasti lucu sekali, sayang Jongin tak ada disana saat itu.

“Sudah puas?” Myungsoo berdecak kesal

Jongin menyeka air matanya akibat terlalu banyak tertawa “Ibumu parah sekali”

“Lalu bagaimana menurutmu, aku merasa tak enak dengan Jiyeon” keluh Myungsoo

“Tentu saja kau harus minta maaf padanya”

Benar juga, biarpun tadi malam Myungsoo sudah minta maaf pada Jiyeon, mungkin ia harus meminta maaf lagi pada gadis itu. Ibunya itu sudah keterlaluan. Sifat parno’nya itu sampai membuat Myungsoo gagal pendekatan dengan sang pujaan hati, tsk.

“Tapi Jiyeon tak masuk hari ini, apa dia sakit karena disiram ibu kemarin ya?”

“Mana mungkin ada orang sakit karena disiram air”

“Tapi mungkin saja, tadi malam Jiyeon tak hanya disiram ibu, dia juga kehujanan” Myungsoo jadi tambah merasa bersalah.

“Kalau begitu, tengok saja kerumahnya”

.

.

.

Setelah menimang saran dari Jongin, akhirnya disinilah Myungsoo terdampar, diruang guru. Meminta data murid-murid pada guru Jung selaku wali kelasnya. Gampang saja bagi Myungsoo karena ia adalah ketua kelas, tinggal mencari alasan yang pas untuk meminta data murid kelasnya setelah itu beres.

Myungsoo keluar dari ruangan dengan menenteng kertas berukuran segi empat itu dengan perasaan kelewat senang. Setelah sampai pada bangkunya ia membuka kertas itu dan mencari nama– Park Jiyeon. Meneliti setiap nama menggunakan jarinya, setelah ketemu. Myungsoo mulai mencatat alamat rumah Jiyeon, ternyata disana juga tertera nomor ponsel, itu bagaikan bonus tersendiri bagi Myungsoo.

Myungsoo membuka catatan kecilnya berisi alamat Jiyeon, untung saja Myungsoo mengetahui alamat itu. Hanya beberapa blok saja ternyata dari komplek perumahan Myungsoo.

Lelaki itu terus melangkahkan kakinya, setelah berjalan hampir 10 menit ia merasa kalau dirinya hanya berputar-putar saja disekitar komplek itu. Ia tak bisa menemukan rumah Jiyeon. Apa dirinya salah menyalin? Tapi seingat Myungsoo memang benar ini alamatnya. Myungsoo merasa dipermainkan, selama ini ia memang hanya berputar-putar digang sempit itu saja.

Myungsoo menghela napasnya, tapi ia tak akan menyerah demi Jiyeon. Jadi ia kembali melanjutkan langkahnya. Terus melangkahkan kaki-kaki panjangnya. Namun kemudian Myungsoo mengernyit, mengedarkan pandangannya kesegala arah.

Hutan???

Kapan dirinya berada disini? Seingatnya ia masih ditikungan dekat kompleknya. Ada yang ganjil disini, pikir Myungsoo. Ia mundur beberapa langkah, hampir saja kakinya menyandung kayu ek besar yang sudah tumbang.

Ketika matanya berkeliling, Myungsoo menemukan jalan setapak. Ia mulai mengikuti arah jalan setapak itu, melangkahkan kaki panjangnya. Tak lama, ia menemukan sebuah bukit dengan air terjun yang indah, dibawahnya mengalir sungai yang jernih. Banyak bunga-bunga kecil indah berwarna violet dan putih yang tumbuh disekitar sungai. Sampai pandangan matanya fokus pada satu titik, sesuatu berwarna putih, panjang, berbulu halus, dan–

–menggeliat.

Itu, ekor??

Sembilan??

Myungsoo semakin menajamkan pandangan matanya diantara semak-semak. Tak jauh dari tempatnya berdiri Myungsoo bisa melihat sang pemilik ekor.

Gadis berambut hitam panjang dengan gaun putih membalut tubuhnya. Menambah indah sosoknya dari jauh, seperti ada bias-bias cahaya yang berkilau dibalik tubuhnya.

Namun disayangkan, Myungsoo tak bisa melihat wajah gadis itu yang posisinya memang membelakanginya. Myungsoo terus melangkahkan kakinya lebih dekat, tepat ketika gadis itu berbalik. Myungsoo tersentak. . .

Mata itu, mata yang selalu membentuk bulan sabit lucu ketika tersenyum.

Bibir itu, bibir yang selalu membentuk guratan tipis yang manis jika berbicara.

Wajah itu, wajah yang selalu hadir disetiap mimpi-mimpinya.

Myungsoo mengenalnya, Myungsoo mengetahuinya. Gadis itu, gadis pujaan hatinya–

–Park Jiyeon. Dia seekor rubah??

 

Bagaimana bisa Myungsoo menerima kenyataan ini?? 

.

Teng’ teng’ teng’ teng

Jam dinding kuno itu terus saja bergerak seirama.

‘pluk’

“Myung. . . .Myungsoo. . . .YA!! KIM MYUNGSOO!”

Myungsoo berjengit kaget, terbangun dari tidurnya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, membiaskan cahaya lilin yang masuk melewati retinanya.

Kini sudah terlihat jelas bahwa dihadapannya sedang duduk ayah dan ibunya juga kue ulang tahun dengan lilin yang sudah menyala diatas meja.

Jadi tadi hanya mimpi. . . .

MIMPI?!!

Myungsoo menurunkan bahunya, kemudian melirik kearah sang ibu yang memakai piyama tidurnya. Myungsoo mengelus dadanya.

Syukurlah ibunya tak segila yang ada didalam mimpinya, memakai hanbok kuno dengan cawan perak ditangannya, itu artinya memang semuanya hanya mimpi. Rumah yang tadinya penuh benda-benda aneh itu juga sekarang lenyap sudah,  digantikan dengan prabotan rumah biasa pada umumnya.

Entah Myungsoo harus bersyukur atau apa. Tetapi yang ia rasakan sekarang bahwa jauuhh disudut hatinya ada sesuatu yang tidak rela. Seperti ada yang hilang dalam hatinya.

Gadis itu, tentang gadis itu.

“Ayo tiup lilinmu” perintah sang ayah membuyarkan lamunan Myungsoo.

Myungsoo menghela napas, makin memerosotkan bahunya lemas. Kemudian setelah itu ia menarik napasnya, hendak meniup lilinnya, tetapi ibunya tiba-tiba saja menarik kembali kue ulang tahunya.

“Katakan dulu apa harapanmu”

Myungsoo menurut, ia memejamkan matanya. Mengucapkan harapannya dalam hati “Tuhan. . . .aku bersyukur semuanya hanya mimpi, tapi. Bolehkah aku berharap sekali lagi agar dapat bertemu dengan gadis itu, gadis cantik yang dapat menggetarkan hatiku.–

Park Jiyeon. . .my beautiful creatures

.

.

.

–End–

oOo~oOo~oOo

Aneh ya???

Yang gak biasa liat Minho+Suzy jadi orang tuanya Myungsoo. mian, soalnya aku pengen ngasih sentuhan-sentuhan/? yang beda aja gitu dari yang lain.

Untuk Jiyeon, maaf ya nak. Kamu munculnya dikit, apalagi si item manis sekseh Jongin.

Ayo readers yang mau kasih kritik dan saran saya terima^^ beneran deh.

Untuk yang mau temenan sama author follow aja twitter @VieLKim kita nanti bisa saling sharing tentang Myungyeon kyaaaaaa >< kkhe. Bagi yang mau aja, yg gak juga gakpapa kok😀

 

 

 

 

 

 

 

54 responses to “[ONESHOOT] Beautiful Creatures

  1. Hadehhhhhhh, saya suka sekali nie sama ceritaaa .. Autorr tahu saya nggak yaa?? Saya reader lama loh tpi bru Comebackkk dri hiatuss puanjang!! Saya suka sekali sama jlan cerita nyaaa , kocak .. Hhahahah suka” jjjjjaaaannnnggggg authorrr VieLKim akan saya follow. Nie twitter saya @Henniyles_Tari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s