[FICLET] Regret

regret

[FICLET] REGRET

Author : Choi Rae Byung

Cast : Park Jiyeon, Kim Myungsoo

Genre : Romance, Slice-of-Life

Rating : PG-13

N/A : Annyeong ^^ setelah sekian lama menghilang dari blog, akhirnya muncul dengan sebuah ficlet singkat namun padat dan jelas. Aku berharap kalian terbawa suasana dengan fanfiction yang aku suguhkan di bawah. Boleh yuk mampir ke blogku JOHEUNIYAGI, JOHEUNIYAGIEBOOK, dan AIRYNCHOIART

-oOo-

 

“Hei, kenapa kau masuk SMA yang sama denganku?” tanya lelaki berambut hitam tebal itu pada gadis di sampingnya.

“Karena aku ingin kita merasakan masa-masa indah di SMA. Kita sudah bersama sejak SD dan SMP. Maka kita juga harus masuk di SMA yang sama,” jelas gadis dengan rambut coklat gelap bernama Park Jiyeon itu sambil terus berjalan menuju gedung SMA untuk mengikuti ujian disana.

“Hah… apa-apaan alasan itu. Aku pasti akan mendengar curhatmu tentang putus cinta, patah hati, atau cinta bertepuk sebelah tangan,” keluh Kim Myungsoo.

“Yaa! Memangnya kenapa? Kau ‘kan sahabat terbaikku. Makanya__,” Jiyeon menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke belakang, rupanya Myungsoo berhenti cukup jauh darinya. Ia mengernyit heran. “Myungsoo-ya, wae? Kita sudah hampir terlambat ujian tahu.”

“Park Jiyeon,” panggilnya. Ia menatap gadis yang sudah bersamanya sejak dulu itu dengan lekat. Jantungnya berpacu, begitu juga dengan jantung Jiyeon. Wajah keduanya memerah bukan karena dingin, tapi karena kegugupan masing-masing. “A-aku__,”

“Myungsoo!” seru Jiyeon tiba-tiba memotong kalimat Myungsoo yang tampaknya ia tahu apa yang akan di ucapkannya. “Ce-cepatlah, ujiannya akan di mulai. Aku tidak ingin kita gagal karena terlambat masuk ruangan.”

Jiyeon langsung berbalik badan dan melangkah cepat, sementara Myungsoo masih diam di tempat. Ia tahu apa yang akan diucapkan Myungsoo, makanya ia memotongnya. Karena ia sendiri belum siap.

 

-oOo-

 

2 tahun telah berlalu. Dan selama 2 tahun ini, Jiyeon justru di kejar rasa penyesalannya. Apa-apaan itu, ia sendiri yang memotong ucapan Myungsoo karena belum siap, tapi sekarang ia justru menyesal dan selalu berpikir : seandainya saat itu ia tidak memotong ucapan Myungsoo, apa jadinya mereka sekarang? Pasti seperti kebanyakan murid SMA yang berpacaran. Menonton film bersama, pulang sekolah bersama, kencan di ice skeating, dan lain-lain.

Jiyeon merasa dirinya itu sangat bodoh, karena harus ragu dengan perasaannya yang dulu. Ia berjalan menuju halte untuk menunggu bis menuju rumah. Tidak lama ia datang, muncul sosok lelaki yang sangat berbeda dari 2 tahun sebelumnya. Dimana mereka rupanya tidak bisa bersekolah di satu tempat lantaran Myungsoo tidak lolos ujian. Keduanya saling bertatapan kaget dengan perubahan masing-masing.

“Park Jiyeon?”

“Kim Myungsoo,” panggilnya sembari memandangi lelaki yang bertambah tinggi dan semakin tampan itu. Kemudian ia mulai teringat dengan penyesalannya dulu. Ia segera menunduk untuk menyembunyikan rasa gugupnya.

“Apakah kau sudah punya teman curhat baru sekarang? Kenapa tidak pernah lagi curhat padaku semenjak kita sekolah di tempat yang berbeda? Huh?” tanya Myungsoo tiba-tiba, mungkin untuk mengusir kekakuan di antara mereka.

“Jadi kau merindukanku?” ledek Jiyeon dan Myungsoo pun terkekeh.

“Hei, mau main ke rumahku?” tawar Myungsoo dan sukses membuat Jiyeon kaget.

 

-oOo-

 

“Wuah… kau tinggal di apertement sendiri ya. Daebak,” kagum Jiyeon sembari kepalanya menoleh ke kiri dan kanan melihat ruangan yang sempit namun cukup luas jika hanya di tinggali seorang diri.

“Ne, eomma dan appa pergi ke Inggris awal kelas 11. Karena aku tidak mau pindah, makanya aku dibelikan apartement dekat sekolah,” ujar Myungsoo sambil masuk ke dapur. “Kau mau minum apa?”

“Air putih saja,” pinta Jiyeon. Ia masuk ke ruang tamu dan duduk di sofa empuk yang ada di hadapan TV. Melihat remot di meja, ia segera menyalakan TV untuk menghilangkan kesunyian. Disetelnya sebuah acara kartun pororo yang sangat disukai anak kecil. Begitu juga dengannya dan Myungsoo saat masih SD. Mereka suka menonton kartun penguin itu bersama.

Tidak lama datang Myungsoo yang sudah berganti baju dengan membawa segelas air putih dingin ke meja. “Minumlah.”

“Goma__,” Jiyeon menghentikan kalimatnya begitu melihat tampang Myungsoo. Ia pun hampir tertawa tapi menahannya ketika melihat kaca mata yang bertengger di batang hidung Myungsoo. “Sejak kapan matamu minus, huh?”

“Hah… ini sejak aku masuk SMA. Aku di bawa ke dokter mata oleh eomma dan rupanya mataku minus,” ujarnya lalu duduk di sebelah Jiyeon.

“Tapi kau tadi tidak pakai kaca mata. Oh, jangan-jangan kau pakai lensa?”

Myungsoo terkekeh, “Aku tidak ingin ketampananku hilang karena pakai kacamata.”

“Hahahaha… jika kau memakai kacamata itu di sekolah, kau pasti tidak akan bisa punya pacar,” tawa Jiyeon. Namun Myungsoo tak memperdulikan ucapan Jiyeon dan mengalihkan pandangannya lurus kearah TV. Ia pun merasa malu karena omongannya tak di tanggapi. Ia berpikir mungkin saja Myungsoo tak suka ia menyinggung kata ‘pacar’. Akhirnya ia mengambil gelas air putih yang disajikan Myungsoo dan meneguknya.

 

-oOo-

 

Beberapa hari telah berlalu sejak pertemuan tak terduga itu. Dan hari senin kembali datang, di halte yang sama Jiyeon dan Myungsoo kembali bertemu.

“Hei, kita bertemu lagi,” sapa Myungsoo yang sama-sama baru sampai di halte.

“Ne,” jawab Jiyeon.

“Mau mampir ke taman?” tanya Myungsoo dan Jiyeon menatapnya heran.

 

-oOo-

 

Jiyeon dan Myungsoo bersama di taman dekat halte tempat mereka bertemu tadi. Keduanya menduduki bangku ayunan dan menggoyangkan ayunannya perlahan-lahan maju mundur. Angin sepoi-sepoi musim semi menerpa rambut mereka.

“Aku sudah putus,” ujar Myungsoo tiba-tiba dan sukses membuat Jiyeon terkejut dengan ucapan teman masa kecilnya itu. Keduanya saling bertatapan karena Jiyeon tidak menyangka jika Myungsoo rupanya sudah punya pacar sebelumnya.

“Kenapa kalian putus?”

“Dia menjelek-jelekkanmu,” jawabnya dan sukses membuat mata Jiyeon membulat kaget. Tapi ia justru tertawa dan malah membuat guyonan di pembicaraan penting itu.

“Haha… jinjja? Kau memutuskannya hanya karena dia menjelek-jelekkanku? Kim Myungsoo… jika memang kau mencintainya, kau tidak akan__,”

“Aku tidak mencintainya,” potong Myungsoo cepat. “Karena cinta itu hanya untuk satu orang, dan tidak ada kesempatan lagi,”

Jiyeon mengedip-ngedipkan matanya keheranan dengan ucapan Myungsoo barusan. Kemudian Myungsoo bangkit dari ayunannya dan berdiri di hadapan Jiyeon. Gadis itu sudah siap jika ini akan terjadi lagi. Dimana sebuah penyesalan masa lalu yang terus terbayang hingga sekarang.

“Aku hanya mencintaimu,” Myungsoo membungkuk dan mencium kening Jiyeon.

DEG! DEG!

Jiyeon berdebar mengetahui itu. Akhirnya kalimat itu meluncur dari mulut Myungsoo. Kalimat yang seharusnya diucapkannya 2 tahun yang lalu.

“Aku juga mencintaimu,” ujar Jiyeon n sembari mendongakkan kepalanya, menatap Myungsoo yang ada di depannya. “Aku minta maaf karena 2 tahun yang lalu aku memotong ucapanmu. Padahal aku tahu kau akan mengatakan ini ‘kan?”

Myungsoo diam sejenak. Mengingat masa lalunya.

 

“Park Jiyeon,” panggilnya. Ia menatap gadis yang sudah bersamanya sejak dulu itu dengan lekat. Jantungnya berpacu, begitu juga dengan jantung Jiyeon. Wajah keduanya memerah bukan karena dingin, tapi karena kegugupan masing-masing. “A-aku__,”

“Myungsoo!” seru Jiyeon tiba-tiba memotong kalimat Myungsoo yang tampaknya ia tahu apa yang akan di ucapkannya. “Ce-cepatlah, ujiannya akan di mulai. Aku tidak ingin kita gagal karena terlambat masuk ruangan.”

 

Myungsoo tersenyum tipis. Ia pun berjongkok, supaya tatapannya dengan Jiyeon lebih dekat. “Kenapa waktu itu kau memotong ucapanku? Apakah kau tidak menyukaiku saat itu?”

Jiyeon mengalihkan pandangannya kearah lain karena malu. “A-aku… aku masih ragu-ragu dengan perasaanku. Aku selama ini berpikir jika kau hanyalah teman masa kecil dan sahabatku. Aku tidak bisa begitu saja merubah perasaanku menjadi cinta. Jadi aku minta maaf.”

“Gwenchana. Karena hari ini terbayar sudah. Aku merasa lega karena kupikir kau sudah punya pacar,”

Jiyeon terkekeh. “Aku tidak mungkin punya pacar dengan rasa penyesalan itu. Bahkan tadi aku sempat terkejut karena rupanya kau sudah punya pacar duluan.”

“Jiyeon-ah, bisakah kau berjanji padaku? Selalu menghubungiku, memberikan keluh kesahmu padaku, seperti yang kau lakukan dulu?” tanya Myungsoo. Jiyeon pun tersenyum dan mengangguk.

Cinta yang sebenarnya dimulai di bangku kelas 11 SMA pada musim semi. Penyesalan tak lagi menghantui seorang Park Jiyeon, bahkan kalimat yang sebelumnya sempat tertunda pun akhirnya dapat diucapkan dengan tuntas oleh Kim Myungsoo.

 

-oOo-

 

END

 

26 responses to “[FICLET] Regret

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s