[CHAPTER – PART 11] Skinny Love

litlethief-order-skinny-loveposter credit: zhyagaem06 @ Poster Order


Skinny Love by Little Thief

Cast: Park Jiyeon, Kim Myungsoo

Other cast: Park Sooyoung (Joy), Choi Minho and Lee Jieun (IU)

Genre: romance, little bit angst

Rating: PG-13

Length: Chaptered

Lagu yang direkomendasikan selagi denger chapter ini: Karmin – Brokenhearted😀 selamat membaca!


“Nah…ini dia, uangmu, Nona,” kata seorang pria tua beruban, sambil menyerahkan beberapa lembar uang. Tangan mungil Jiyeon menerimanya. Kemudian, menghitung lembar demi lembar dengan tatapan serius.

“Oke. Sempurna!” dia menambahkan dengan nada puas. Pria tua yang menerima barang-barang bekas itu tertawa hangat, “Aku tahu, jaket ini pasti masih baru! Bulunya masih lembut dan tidak kotor. Pasti berat untuk menjualnya karena alasan tertentu. Terimakasih, ya.”

Dengan anggukan kecil, Jiyeon membalas. Namun dia masih tidak rela ketika melihat jaket tebal yang baru dia beli beberapa bulan itu sudah berpindah tangan. Nanti saat musim dingin, dia mau pakai apa? Tapi demi Sooyoung, dia rela.

“Ah, itu tidak begitu masalah. Aku senang jika orang lain dapat merasa nyaman dengan jaket ini,” celetuk Jiyeon dengan tidak benar-benar tulus. Mana ada senang. Yang ada malah tidak terima.

Pria tua itu tertawa melihat nada yang terdengar begitu tulus darinya. “Kau benar-benar wanita yang baik. Semoga Tuhan memberkatimu. Aku ada sesuatu yang harus diurus…terimakasih atas jaketmu, Nona.”

Mengangguk sekali lagi, Jiyeon membungkukkan badan. Kemudian dia pergi dari toko loak di mana dia baru saja menyumbangkan jaket yang menurutnya sangat mahal itu. Dia memasukkan lembaran mata uang ke dalam dompetnya.

Jiyeon mengedarkan pandangan ke sekitar. Ia menepuk-nepuk paha dengan tangannya. Asap keluar dari mulut ketika dia menghembuskan napas, membuat dia sadar akan sesuatu. “Bagus sekali. Desember nanti musim dingin, dan aku menjual jaketku yang satu-satunya.”

Dengan langkah kaki lebar, dia kembali ke rumah. Dengan sedikit harapan, ia dapat membayar sedikit saja, untuk pertukaran pelajar adiknya itu.

***

Pada pukul lima pagi, sesuai perjanjian dengan Bos Besar, Jiyeon datang. Dua jam lebih awal daripada rata-rata teman satu kerjanya. Kalau sudah seperti ini, Jiyeon merasa dia harus mendapat penghargaan ‘anak bawang paling rajin’. Bahkan Myungsoo pun tak datang lebih awal! Benar-benar keterlaluan semua penghuni Moong Café ini.

Dia membuka pintu kaca dengan kunci. Meninggalkan kebiasaan lamanya, yaitu langsung membalikkan plakat begitu masuk, dia segera menuju ke dalam pintu dapur. Dia harus membersihkan ruang kerja Bos Besarnya itu. Tebak Jiyeon, pasti ruangannya sangat kotor karena begitu terpencil dari keadaan kafe.

Jiyeon masuk melalui pintu kecil di dekat Sudut Mengenaskan. Membuka kunci, maka dia pun naik ke tangga. Begitu mencapai ujung tangga, matanya membelalak ketika melihat ruang kerja Myungsoo terpampang di depannya.

Bukan karena berantakan. Bukan. Ruangan ini sangat rapi untuk ukuran seorang laki-laki dan pekerja yang sibuk seperti Myungsoo. Mungkin pria itu merapikan kamarnya tiap hari, entahlah. Yang membuatnya takjub adalah kamar ini indah sekali. Indah untuk ukuran kamar yang begitu terpencil dari bangunan kafe. Kamar ini dua kali lipat lebih bagus daripada kafenya!

“Kamar yang bagus sekali, Kim Myungsoo!” pekiknya. Dengan gembira, dia berlari dan melompat-lompat di tempat tidur Myungsoo. Empuk sekali. Tanpa dosa dan tidak melaksanakan tugasnya, Jiyeon malah asyik tidur di tempat tidurnya itu. Benar-benar enak dan nyaman. Wangi rambut Myungsoo yang khas tercium ketika kepalanya menyentuh bantal.

“Aku begitu capek, bahkan aku kurang tidur demi bisa melaksanakan tugasku di sini. Kamar ini seperti oasis di padang pasir…” gumam Jiyeon. Ia menggulung dirinya dengan selimut, terbuai dengan kenyamanan tempat tidur yang bahkan tak bisa ia dapatkan di rumahya sendiri.

Dinding berwarna-warni dengan dekorasi yang sangat nyaman. Tempat tidur ukuran besar dengan sprei lembut. Sofa abu-abu, jendela berbingkai putih, meja kerja, meja dimana komputer perekam CCTV diletakkan, televisi, kamar mandi, lemari. Jiyeon menyukai semua hal itu tanpa kecuali.

“Ah, ini menyenangkan,” gumamnya sambil tersenyum, berguling kembali. Lagi-lagi, wangi rambut Myungsoo yang tertinggal di bantal membuatnya semakin terbuai. Tanpa sadar, detik demi detik membawanya untuk terlelap di kamar seorang Bos Besar. Sesuatu yang seharusnya tak dilakukan oleh pekerja manapun.

***

Jiyeon terbangun dengan sinar matahari yang sudah menyinari separuh kamar. Dia menguap dan kembali berguling. Ah, tidur sementara ini enak sekali. Beban pegal di tubuhnya terasa lepas semua. Dia belum pernah merasa sesegar ini. Maka, karena tak ingin mengakhirinya, Jiyeon kembali memejamkan matanya.

“Sudah pagi, Nona Tidur.”

Suara itu membuat mata Jiyeon terbuka dengan melotot. Dia langsung terduduk tegak dan membelalak melihat Myungsoo sedang asyik memperhatikan komputer perekam CCTV. Melihat Jiyeon menatapnya bak hantu, Myungsoo hanya terkikik geli.

“Dasar memalukan. Aku memintamu untuk bekerja. Bukannya tidur,” sambung Bos itu lagi. Anehnya, dia sama sekali tidak marah.

Jiyeon memekik keras. “Jam berapa sekarang? Sudah banyak orang datang?”

Dia segera bangkit dari tempat tidur. Dia melihat rekaman CCTV. Orang-orang berlalu lalang di kafe, beberapa teman kerjanya terlihat mengantarkan pesanan dengan nampan. Jam sembilan pagi.

“Sial!” Jiyeon mengacak-acak rambutnya. Dia segera berjalan ke tangga sambil menghentak-hentakkan kakinya. Namun tiba-tiba lengan Myungsoo menahannya.

“Kau kelihatan capek,” katanya dengan nada khawatir. “Apa kau mau tidur lagi sebentar saja?”

“Apa?” Jiyeon melotot dan terkejut. “Dasar pria mesum! Kau kira aku akan tidur di kamar yang sama dengan pria? Biarpun aku kelelahan sampai mati, aku tak akan mau!”

Myungsoo tertawa terbahak, namun masih menahan pergelangan tangannya. “Kau terlihat begitu nyenyak. Aku jadi tak tega membangunkanmu. Lebih baik kau cuci mukamu. Wajahmu sangat jelek ketika bangun dari tidur.”

Dengan cepat, Jiyeon menuruni tangga dan membuka pintu kecil. Begitu keluar, semua orang menatapnya dan tertawa terbahak-bahak. “Astaga, Ji! Kenapa, sih, kau, sampai bisa tertidur di ruang si Bos? Kau benar-benar punya nyali yang besar!” sahut Jongin begitu melihatnya.

Jiyeon menggaruk-garuk kepalanya dengan canggung. Dan dengan ekspresi cemberut. Pipinya memerah malu. Mereka tak mengerti betapa lelahnya dia demi mendapat tambahan gaji. Jiyeon keluar dari pintu dapur dan menuju kamar mandi.

Jiyeon mencuci wajahnya dengan kucuran air dingin. Dia menatap bayangan dirinya di cermin. Masih bersemu malu. Entah karena Myungsoo yang dengan sangat baik hati membiarkannya tertidur di ruang kerja, atau karena sikapnya yang sungguh memalukan itu.

Ini jelas tidak mungkin. Nanti orang-orang akan berpikiran negatif tentang dirinya dan Myungsoo. Argh.

Demi menenangkan diri, Jiyeon mengusap wajahnya sekali lagi dengan air. Lupakan saja. Myungsoo hanya bersikap baik padanya sebagai seorang anak bawahnya. Ya, cuma berbuat baik. Tentu saja….Tidak ada rumor yang harus dibicarakan.

Namun lagi-lagi, ketika keluar dari kamar mandi, dia mendengar seseorang meneriakinya dari keramaian kafe. Jiyeon terpaku di tempat, takut-takut bila itu adalah teman lama. Namun ketika dia menorehkan kepala, ternyata Myungsoo memanggilnya.

Dengan mata menyipit, Jiyeon memandang. Myungsoo, Minho dan beberapa pria lain sedang duduk di salah satu meja tak jauh dari tempatnya berdiri. Jumlah mereka lima orang. Membuat Jiyeon terbingung, untuk apa mereka ada di situ? Bukan, maksudnya, sedang apa Myungsoo dan Minho bergabung bersama mereka? Sepertinya tadi Myungsoo masih ada di ruang kerjanya.

“Jiyeon, berandal kecil! Jangan hanya melamun!” Minho justru memanggilnya. Membawa Jiyeon pada kesadarannya kembali. Dia segera meringis dan berjalan menuju ke arah meja mereka.

Setelah tertawa lepas bersama tiga temannya yang tidak Jiyeon kenal, Myungsoo menatap ke arahnya dengan tatapan hangat seperti biasa. Membuat Jiyeon, ataupun gadis-gadis lainnya, bisa gigit jari dan merasa teduh. “Mereka adalah teman-teman kecilku yang berkunjung ke sini,” Myungsoo memperkenalkan.

“H-hai,” sapa Jiyeon kikuk.

“Hai, Nona,” balas salah satu dari mereka. Bertubuh tinggi, dan rambut diwarnai kecokelatan. Jika saja rambutnya dicat hitam, Jiyeon akan mengira dia adalah kembaran terpisahnya Myungsoo. Agak mirip. “Aku Choi Minhyuk. Kau?”

“Park Jiyeon,” balasnya, mengerutkan kening. Bertanya-tanya tujuan Myungsoo menyuruhnya ke sini.

Yang satu lagi membalas. Kali ini orangnya berciri mata yang besar, rambut kemerahan dan tubuh atletis. Dia memasang senyum lebar. “Aku Hwang Tae Go. Kau pernah lihat aku di televisi?”

Kontan saja, Jiyeon menggeleng. Hidupnya terlampau berharga untuk duduk tenang di depan televisi. Tae Go memasang wajah terkejut, “Serius?”. Dan Jiyeon balas menggeleng.

“Hentikan ocehanmu, Tae Go. Jangan cari popularitas,” satunya lagi menyuruh diam, kali ini menurut Jiyeon adalah yang paling memikat. Wajahnya terlihat jelas dia darah campuran Korea dan Eropa. Matanya sipit dan berwarna biru. Benar-benar perpaduan ras yang sempurna menurut Jiyeon. “Maafkan dia, sebagai seorang atlet tenis yang sudah sampai ke luar negeri, jelas tak wajar bila tak ada yang mengenalnya. Aku John, marga Ahn. Senang berkenalan.”

Sebagai apresiasi, Myungsoo bertepuk tangan atas perkenalan diri mereka. Selanjutnya, dia kembali menatap Jiyeon dengan serius. “Nah, aku, Minho, John, Tae Go dan Minhyuk butuh suatu hidangan. Kau harus membuatnya untuk kami.”

“Tentu saja!” Dengan refleks, Jiyeon mengambil buku catatan. Mencatat pesanan milik Myungsoo dan teman-temannya yang sedang reuni itu. Segera, setelah merasa semuanya lengkap, dia membungkukan badan untuk izin pergi ke dapur.

Ketika sedang membungkuk, Tae Go tertawa kecil. “Aigu, Myungsoo, pacarmu ini benar-benar sopan dan cantik. Aku menyukainya. Kau bagus memilih wanita.”

Pacar?! Jiyeon melotot mendengar sebutan tersebut. Namun, statusnya sebagai pegawai yang sopan membuatnya hanya tersenyum kecil. Kalau dia mengaum seperti singa, akan memperburuk image Myungsoo di hadapan teman lamanya. “Pacar? Tentu saja tidak, aku hanya…”

“Ah, jangan malu-malu,” Tae Go memotongnya. “Kalian itu pasangan yang cocok.”

Demi Tuhan, kalau saja di hadapannya ini ada secangkir teh panas, Myungsoo segera ingin melemparkan isinya ke wajah Tae Go. Sejak dari dulu dia memang paling tidak tahan dengan teman yang satu ini. Ada saja tingkahnya yang membuat kepala Myungsoo mendidih.

Dengan isyarat mata dan mulut, Myungsoo menyuruh Jiyeon pergi dan segera membuat pesanan tersebut. Isyarat itu dibalas anggukan oleh Jiyeon. Dia segera berlari menuju pintu dapur, tak mampu menahan senyum yang daritadi ditahannya bahkan sejak membungkukan badan.

Sejak kapan seorang pemilik kafe yang tajir dan tampan disandingkan dengan pekerja kafe yang sangat biasa seperti dirinya?

Ia memberikan daftar pesanan itu kepada rekan kerjanya yang bertugas membuatnya. Selanjutnya, ia kembali duduk-duduk di meja kasir karena memang itulah tugasnya hari ini.

“Hai, Yerin,” sapanya pada rekannya yang masih anak SMA itu. “Bagaimana kabarmu dengan Mason?”

Yang ditanya menyapa dengan tak kalah ceria. “Baik sekali! Kami jalan-jalan kemarin sebelum Mason akan kembali pulang ke Inggris.”

Sejak Jiyeon berani bicara empat mata dengan Mason, pria itu mulai berani. Mulai datang ke kafe sebagai rutinitasnya hanya untuk bertemu dengan Yerin. Hingga sebulan lalu, dia mendapat kabar bahwa akhirnya mereka bersama.

Jiyeon menatap Myungsoo dan teman-temannya yang saling tertawa dari kejauhan. Apapun itu, mengenal Myungsoo pastilah sesuatu yang sangat menyenangkan. Pria itu memiliki sifat hangat dan menyenangkan yang membuat seseorang tak bisa lepas darinya. Bahkan, walau baru dua bulan bertemu dengannya, Jiyeon sudah merasa seperti mengenalnya bertahun-tahun.

Perlahan senyumnya terukir. Seharusnya ia bersyukur bisa bertemu dengan orang sebaik itu. Ia bersyukur karena perintah ayahnya untuk mencari makan, ia bisa bertemu dengan orang sebaik itu. Benar. Segala sesuatu memang ada hikmahnya.

Tanpa sadar, Jiyeon merasa terharu. Setelahnya, dia sadar. Dia sudah sepenuhnya masuk dalam perangkap jiwa Myungsoo.

***

“Uang?” Jiyeon menatap amplop putih di hadapannya dengan keheranan, namun juga dengan perasaan ceria yang tak dapat dibendung. Hei, dia bahkan baru mengerjakan ‘ekstra-kerja’ ini selama seminggu, tapi Myungsoo sudah memberinya amplop yang ia kira berisi uang yang tebal.

Myungsoo mengangguk. “Ya. Ini sistem tambahan gajiku kalau memang ada sesuatu yang sangat mendesak. Gajimu tak dihitung sebulan lagi, melainkan setiap minggu.”

Mereka hanya berdua di kafe, karena yang lain sudah pulang ketika tugas Jiyeon masih ada beberapa. Jadi, Myungsoo bisa memberikan uang tersebut secara personal. Ia hanya takut bila yang lain tahu, mereka protes dan menginginkan hal yang sama.

“Tapi nominalnya sama?”

Lagi-lagi Myungsoo mengangguk. “Ya. Aku tak akan menguranginya.”

“Ya ampun, terima kasih!” kali ini Jiyeon tak mampu membendung perasaan harunya. “Aku bisa langsung membayar uang adikku dalam waktu yang tak lama!”

“Memang kapan adikmu berangkat?”

“Hm, sekitar dua bulan ke depan, sepertinya. Saat musim panas nanti. Sekarang ini masih musim semi. Sekarang dia sedang mempersiapkan diri untuk segalanya.”

“Oke,” Myungsoo nyengir. “Untung saja aku membantumu. Kalau tidak…”

“Aku mungkin akan sangat terpuruk dan mencoba mengubur diri,” Jiyeon terkekeh. “Terimakasih banyak, Myungsoo. Terimakasih banyak sekali.”

Mereka berdua berdiri dan segera meninggalkan kafe. Ketika Myungsoo sudah mengunci pintu, dia melirik Jiyeon yang tersenyum-senyum sendiri memandang amplop di tangan. Sejak dulu, bagi Myungsoo, melihat orang lain senang karena dirinya memang sangat menyenangkan.

“Mau diantar pulang?” tanyanya. Sesuatu yang sudah tak ia lontarkan sekitar sebulan.

Jiyeon menggeleng singkat. “Tidak, ah. Sudah malam, nanti merepotkanmu. Aku harus beritahu ini pada Sooyoung, dia pasti senang sekali. Aku pergi duluan, Myungsoo. Terimakasih banyak atas bantuannya! Dah!”

Kemudian, secepat kilat, Myungsoo menatap punggung Jiyeon berlari dengan semangat. Ketika punggungnya terlihat semakin jauh dan kecil, Myungsoo hanya bisa tersenyum simpul.

“Dasar berandal kecil,” gumamnya. Sesuatu membayangi pikirannya, membuatnya terkekeh sendiri, menampilkan lesung pipitnya.

Perlahan tapi pasti, Myungsoo dapat melawan kabut yang sedari dahulu menutupi hatinya. Perlahan, dia mampu melihat kembali, merasakan kembali, setelah sekian lama hati itu tertutupi awan dan kabut.

Myungsoo melewati perjalanan dengan tak bisa menghapus senyum dari wajahnya.

***

“Teman-teman, kurasa aku harus memberitahumu sesuatu,” ucap Minhyuk ketika hampir dua jam obrolan mereka yang mengalir tiada henti. Minhyuk mengambil sesuatu dari ranselnya dan membagikannya kepada Tae Go, John, Myungsoo dan Minho.

Sebuah undangan.

“Sialan, Minhyuk-ku!” John bereaksi dengan begitu cepat. “Ja-jadi, dua minggu lagi kau akan menikah? Tanpa beritahu aku? Ah, sialan kau!”

Minhyuk terkikik kecil melihat kekagetan wajah mereka. “Kisah cintaku terlalu indah untuk diceritakan padamu, Kawan.”

John menoyor kepala Minhyuk, namun tertawa bangga. “Hebat, hebat. Kau memotivasiku untuk segera menikah dalam waktu cepat.”

“Sadar atau tidak, aku sangat senang bisa jatuh cinta dengan seseorang seperti dia,” Minhyuk nyengir lebar. “Bagaimana kau, Myungsoo? Masih terjebak pada kisah cintamu yang lama?”

Myungsoo, yang sedari tadi diam, mendongakkan kepala. Mengalihkan kegiatan dari membaca undangan. Dia hanya meringis, “Itu…”

“Kurasa tidak, Minhyuk,” gumam John. “Kau lihat pelayan yang tadi? Pasti Myungsoo menyukainya…”

Lagi-lagi, Myungsoo menyayangkan tak ada satu cangkir yang berisi teh agar bisa ia lemparkan pada John. Kali ini dia dan Tae Go memang sama saja. Namun, seolah semesta ini memang menghubungkannya dengan seseorang bernama Park Jiyeon, Minho pun berpendapat sama.

“Betul sekali, John. Myungie kecil kita memang sedang jatuh cinta.”

“Minho!” Myungsoo melotot. “Serius, aku tak seperti itu!”
“Oh, oh, dia berdalih! Yeay! Kau tahu tidak? Dulu, waktu aku tanyakan dia tentang perasaannya pada Soojung, dia bilang ‘Tae Go! Aku tidak seperti itu!’ ” cerocos Tae Go, tersenyum lebar melihat wajah Myungsoo memerah.

“Oh, jujurlah saja, Myung. Aku memperhatikanmu sejak lama, sebelumnya,” Minho nyengir lagi. “Jujur saja. Dan kejar dia, jangan sampai tidak dapat.”

Menahan sifat malu yang meluap dari ujung kaki hingga ke ujung kepala, Myungsoo memberengut dan melipat tangan di depan dada. Dia mogok bicara. Perlahan, dia melirik matanya ke arah meja kasir. Di mana Jiyeon sedang duduk-duduk dan melamun. Sesekali menanggapi perkataan Yerin.

Myungsoo menatap Jiyeon yang sedang melamun dari kejauhan. Apapun itu, mengenal Jiyeon pastilah sesuatu yang tak terlupakan. Gadis itu memiliki sifat pantang dan kuat, walaupun begitu lemah di dalam. Membuat seseorang semakin yakin dan percaya padanya. Jiyeon bisa meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia kuat, maka orang lain pun juga percaya padanya. Walaupun baru mengenalnya dua bulan, Myungsoo seperti sudah mengetahui sifatnya luar-dalam layaknya sudah kenal bertahun-tahun.

Perlahan senyumnya terukir. Seharusnya ia bersyukur bisa bertemu dengan orang sebaik itu. Ia bersyukur karena kedatangan Jiyeon padanya, dia bisa bertemu gadis sebaik itu. Benar. Segala sesuatu memang ada hikmahnya.

Tanpa sadar, Myungsoo merasa begitu berarti. Setelahnya, dia sadar. Dia sudah sepenuhnya masuk dalam perangkap jiwa gadis yang bahkan baru ditemuinya dua bulan itu. Ya, sesingkat itu.


Ahayde akhirnya mereka mulai saling mengerti perasaan masing-masing hihihi *pasang alis* jujur, ini chapter yang agak susah karena aku mikirin gimana feel jatuh cinta mereka bisa kerasa (padahal mah gak kerasa juga). Dan maaf ya update agak telat! Aku sibuk banget UTS kemarin😀

Karena waktu update yang lama, kusaranin reader yang nunggu ceritanya (ADUH AKU MAKASIH BANGET LHOO SAMA KALIAN) lihat aja di profil authorku, atau liat librarynya di sini. Karena takutnya ada bagian di sini yang kalian lupa di mana. Dan untuk feel lebih kerasa, LAGUNYA JANGAN LUPA DIDENGER YA WUEHEHEHE. Cheerio!

With regards,

nadia.♥

33 responses to “[CHAPTER – PART 11] Skinny Love

  1. Asaaa!! Keduanya ud mulai sadar dngn perasaan masing2.
    Tinggal menunggu gerakan dr Myungsoo aja nih.
    Ayo myungsoo kejar jiyeon ne..
    Hehee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s