[ TWOSHOT – FINAL 2A ] MY NAME IS JIYEON

img1443937269032

Tittle : My name is Jiyeon

Author : gazasinta

Main Cast :

– Park Jiyeon
– Kim Myungsoo
– Bae Sooji

Genre : Marriage Life

Rating : PG-17

Part Final 2A ~ My Name Is Jiyeon

“ Sooji-ah…..bertahanlah. Aku mohon kau harus bertahan“

Jiyeon duduk di kursi koridor ruang operasi seraya bibirnya terus mengucap doa. Sudah tak terhitung berapa banyak airmata yang jatuh. Tubuh Jiyeon gemetar karena menahan rasa takut, ia tak berani mengangkat kepalanya untuk sekedar melihat apa yang Myungsoo lakukan.

Kim Myungso. Jiyeon tahu namja itu sangat marah dan ingin sekali menyalahkannya, namun Myungsoo memilih diam dibandingkan meluapkan emosinya.

Myungsoo langsung memutuskan pembicaraan begitu Jiyeon mengatakan Sooji mengalami kecelakaan. Jiyeon maklum, siapapun akan melakukan hal yang sama jika mendengar kabar buruk, tanpa mau mendengar penjelasan lebih detail. Jiyeon pikir ketika bertemu dirumah sakit, Myungsoo akan meminta ia untuk kemudian menjelaskan kejadian yang sebenarnya.

Betapa sakitnya Jiyeon ketika Myungsoo datang, justru pria itu mencari tahu semuanya kepada suster dan dokter yang menangani Sooji, mengabaikannya yang sudah membuka mulut untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Jiyeon kembali mencoba untuk memahami. Mungkin Myungsoo panik, dan menurutnya berbicara dengan dokter akan membuatnya lebih tenang karena tahu kondisi Sooji yang sebenarnya.

Hingga tiga jam berlalu dan keduanya bersama, Myungsoo belum juga menegurnya. Bodohnya. Jiyeon terlalu takut untuk mengambil inisiatif agar kemudian membuat Myungsoo mau mendengarkan penjelasannya tanpa harus menunggu namja itu bertanya.

Jiyeon mengutuk dirinya sepanjang detik berganti. Jika saja tadi ia bisa menahan diri dan bersikap dewasa menanggapi pertanyaan Sooji tentu kejadian ini tidak akan terjadi.

Sayangnya hal yang sudah berlalu tidak mungkin akan menjadi semula .

Jiyeon tak mungkin memutar waktu agar kembali seperti yang ia mau.

“ Apa ada orangtua atas nama pasien Bae Sooji ? “

Jiyeon mendongak, namun Myungsoo yang sejak tadi mondar-mandir didepan ruang operasi lebih sigap dan sudah berhadapan dengan sang dokter.

“ Aku calon suaminya, keluarganya….. mungkin masih dalam perjalanan “

Jiyeon semakin tak tenang dengan reaksi dokter setelah mendengar keterangan Myungsoo tentang keberadaan keluarga Sooji. Apa Sooji baik-baik saja ? Apa dia selamat ?

Tuhan. Sungguh Jiyeon berharap apa yang ditakutkannya tidak terjadi. Ia tidak mau kehilangan Bae sooji. Teman sekamarnya yang selama beberapa tahun ada dan menemaninya untuk membunuh rasa bosan.

Tidak juga kehilangan Kim Myungsoo. Pria tampan yang membuat hari-harinya penuh warna meski pria itu tak menyadari pengaruh yang ia berikan pada hidupnya.

Sungguh. Jiyeon bahkan akan mengutuk dirinya seumur hidup jika hal itu sampai terjadi.

“ Anda ???? “ Jiyeon sontak berdiri ketika dokter mengalihkan tatapan padanya.

“ Aku……aku teman sekamar Bae Sooji “

Dokter itu nampak berpikir. Jiyeon dan Myungsoo menunggu dengan cemas.

“ Harus ada dua orang yang menandatangi perjanjian ini, jika menunggu keluarganya datang kami tidak menjamin keselamatan calon istri anda tuan “

Jiyeon membalas tatapan Myungsoo yang kini menoleh untuk menatapnya. Mata tajam itu memandangnya bukan seperti memohon, namun lebih kepada meminta pertanggungjawaban pada Jiyeon tanpa harus Myungsoo atau Sooji berhutang budi padanya kelak.

“ Demi keselamatan calon istriku. Aku dan nona yang disana akan menandatanganinya “

Sakit. Sebutan nona yang Myungsoo ucapkan menjelaskan jika pria itu benar-benar marah padanya, namun Jiyeon tidak bisa memaksa untuk Myungsoo mengerti posisinya ketika kejadian itu terjadi. Jiyeon mengangguk cepat, menyetujui apa yang Myungsoo katakan barusan. Mengabaikan rasa sakitnya karena apa yang dilakukan Myungsoo memang hanya tentang Sooji. Mungkin dengan seperti ini, perasaan bersalahnya sedikit mengikis, dan Sooji berhasil diselamatkan.

Setelah tiga jam, akhirnya operasi selesai dilaksanakan. Sooji sudah berhasil melewati masa kritis namun keadaannya masih sangat mengkhawatirkan. Tabrakan keras yang menimpanya melumpuhkan hampir semua sarafnya. Bahkan dokter tidak berani menjamin, apakah sebulan, dua bulan, setahun atau sampai kapan Sooji akan kembali normal. Keluarga hanya diminta terus berdoa dan bersabar sampai…..

Mukjizat itu datang.

Keluarga Sooji tak sanggup mendengarnya, bahkan appa Sooji yang sangat kuatpun sampai pingsan mengetahui musibah yang menimpa putrinya.

Melihat kenyataan yang seperti itu didepan matanya sendiri, Jiyeon semakin terpuruk. Terlebih tak satupun keluarga Sooji yang menyalahkannya setelah mendengar apa yang Jiyeon ceritakan sampai sesegukan dan airmata berderai. Mereka bilang semua sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Mendengar hal itu seluruh sendi-sendi ditubuh Jiyeon terasa lemas. Bagaimana mungkin dosa besarnya dengan mudah diampuni, bahkan oleh orangtua Sooji. Orang yang melahirkan Sooji kedunia ini.

Namun Myungsoo ?

Jiyeon merelakan Myungsoo membencinya, tidak mendapat cacian dari keluarga Sooji ia sudah sangat bersyukur. Myungkin kemarahan Myungsoolah hukuman yang pantas ia terima. Jiyeon tidak tahu bagaimana mendapatkan maaf pria itu.

Untuk saat ini ia hanya bisa berharap pada waktu yang kelak akan menjawabnya. Sampai mana ia sanggup untuk dibenci atau mungkin ia memilih menyerah.

“ Keluarga nona Bae Sooji, silahkan masuk “ Ucap seorang suster.

Myungsoo bangun dari duduknya, namun suster kembali mengingatkan bahwa pasien hanya meminta keluarganya yang menemuinya. Myungsoo nampak resah, begitupun Jiyeon. Keduanya begitu ingin tahu keadaan Sooji.

10 menit berlalu,

Appa dan eomma Sooji muncul dari balik pintu. Eommanya menangis kencang dengan suami disampingnya mencoba menenangkan. Jiyeon semakin panik, namun kepanikannya berganti menjadi ketakutan kala ia dan Myungsoo diminta untuk menemui Sooji.

Seminggu berlalu dan empat hari lagi pernikahan Myungsoo dan Sooji seharusnya digelar. Jiyeon menopang dagu dengan tangannya. Menatap lapangan basket yang kosong dalam diam dari jendela kamarnya dilantai dua. Keadaan Jiyeon nampak sangat berbeda. Ia bahkan tidak mempedulikan kesehatannya. Wajahnya terlihat lebih tirus karena bobot tubuhnya yang menurun drastis, rambut panjang indahnya bahkan kini nampak tidak terawat, acak-acakan seperti tak pernah tersentuh sisir.

Setiap harinya dalam satu minggu ini, pikirannya hanya terfokus pada satu hal.

Janji

Janjinya pada Almarhumah Bae Sooji.

Ya. Sooji tidak sanggup untuk terus bertahan . Yeoja itu menghembuskan nafas terakhirnya setelah memaksa Jiyeon dan Myungsoo berjanji dihadapannya. Saat itu Jiyeon dan Myungsoo tidak tahu harus berbuat apa. Tidak membantah dan hanya mendengar dengan airmata yang tak kuasa dibendung, akhirnya keduanya berpura-pura menyanggupi, demi membuat Bae Sooji tenang disaat terakhirnya.

Namun rupanya janji itu terus menghantui Jiyeon dan membuatnya merasa bersalah. Jiyeon tak tahu harus melakukan apa. Myungsoo yang juga berjanjipun bagai ditelan bumi. Terakhir ia melihat namja itu di pemakaman Sooji, setelahnya keduanya bahkan tidak saling menghubungi.

Jiyeon merogoh ponsel dari kantong jaketnya. Tak peduli Myungsoo mengabaikannya, ia terus menerus menghubungi namja itu meski puluhan kali banyaknya.

Panggilan ke delapan,

Myungsoo tetap tidak mengangkatnya. Jiyeon tidak menyerah dan terus menghubungi, namun sepertinya kemarahan namja itu sudah pada tahap kebencian yang mengakar. Jiyeon bergerak dan menyambar jaket yang tergantung dibalik pintu, untuk kemudian berlari menuruni satu persatu anak tangga.

Kaki Jiyeon berlari cepat ke arah halte untuk menunggu bus yang akan membawanya menemui Myungsoo. Jalan yang ia lewati membawanya melalui lapangan basket. Jiyeon sontak berhenti ketika melihat sosok Myungsoo dengan setelan jas dan tas kerjanya sedang berdiri entah apa yang namja itu lakukan malam-malam seperti ini disana.

Jiyeon melangkah pelan, berhenti sejajar sekitar dua belas meter jaraknya dibelakang Myungsoo. Hanya menatap punggung namja itu saja Jiyeon sudah sangat gugup.

“ Aku harus berani !! “ Ucap Jiyeon mengepalkan kedua tangan disamping tubuhnya kuat.

Jiyeon bersiap memperkecil jarak dengan Myungsoo. Baru beberapa langkah, kakinya kemudian terhenti kembali.

Dilihatnya Myungsoo berdiri seraya memandang jendela kamarnya yang tertutup. Melihat hal itu, jantung Jiyeon berdenyut-denyut nyeri.

Myungsoo pasti sangat merindukan Sooji.

Tekad yang sudah bulat akhirnya luntur ketika Jiyeon melihat bahu Myungsoo bergetar.

Namja itu menangis.

Jiyeon tak tahu harus bersikap seperti apa. Ia tak pernah melihat Myungsoo serapuh itu, ingin sekali rasanya memeluk namja temannya itu dari arah belakang dan menenangkannya, namun situasinya sudah tidak lagi sama seperti ketika dulu mereka masih sering bersama. Terlebih dirinyalah penyebab kesedihan namja itu.

“ Rasanya pasti sangat sedih. Mengingat seseorang yang kita cintai namun diingatpun hanya menyisakan kerinduan yang tak mungkin tersampaikan “ Lirih Jiyeon.

Jiyeon tak sanggup untuk tidak menangis. Ia menutup mulutnya rapat, mencegah isakannya terdengar oleh Myungsoo, namun ia tak bisa. Tak mau Myungsoo tahu jika ia berada tepat dibelakang namja itu, Jiyeon pun berlari meninggalkan Myungsoo sendiri.

Tepat ketika Jiyeon berlari keluar lapangan, Myungsoo menoleh. Yang didapatnya hanya lapangan kosong yang menjadi saksi ketika ia melamar Sooji dulu.

“ Sooji-aa, nan bogoshipo…jeongmal bogoshipo “

Tiga hari tersisa untuk cepat mengambil keputusan. Jiyeon menatap gedung tinggi dihadapannya. Gedung kantor Kim’s Group. Entahlah keberanian macam apa yang mengantarnya untuk datang kesini. Tubuhnya begitu lelah sepulang bekerja, namun otaknya tak bisa ia biarkan untuk beristirahat.

Bertindak sekarang atau melupakan semuanya dan berharap waktu saja yang menyelesaikan segalanya.

Jiyeon memasuki gedung tinggi tersebut dan menaiki lift. Ruangan Myungsoo ada di lantai enam belas. Setiap bertambah lantai, jantung Jiyeon berdegup semakin kencang. Bagaimana jika Myungsoo memandangnya yeoja murahan ?

Jiyeon tak memikirkannya. Setidaknya ia tidak menyimpan dua rasa bersalah sekaligus pada Sooji. Penyebab kematiannya, dan kini membuat arwah temannya itu tidak tenang karena janji yang tidak ia tepati.

“ Nona Park Jiyeon !!! “

Jiyeon sontak berdiri ketika namanya dipanggil oleh seorang receiptionist.

“ Jwesonghamnida nona, sajangnim tidak memiliki janji dengan anda, oleh sebab itu….“

Tangan Jiyeon terkepal kuat. Sudah datang kesini saja Myungsoo masih menolaknya. Benar-benar keterlaluan, pikir Jiyeon. Tanpa menunggu si receiptionist menyelesaikan kalimatnya, Jiyeon berbalik dan menyelonong masuk keruangan Myungsoo tanpa peduli namja itu marah. Toh bisa dikatakan ia lebih kecewa Myungsoo benar-benar membencinya.

Brakkk

“ APA AKU SAJA ? APA HANYA AKU YANG HAMPIR GILA KARENA MEMIKIRKAN JANJI ITU EOH ???? “

Myungsoo terkejut, ketika muncul Jiyeon dengan emosi diujung kepalanya dan menghardiknya dengan mata melotot. Myungsoo memang sengaja menolak bertemu Jiyeon. Melihat Jiyeon seperti ia melihat kekasihnya yang telah tiada. Entahlah, Myungsoo yakin tidak akan ada seorangpun yang mampu bangkit dengan cepat setelah ditinggal kekasihnya yang begitu tiba-tiba.

“ Ada apa ? “ Tanya Myungsoo seolah kedatangan Jiyeon tidak penting.

Myungsoo menyadari jika Jiyeon kesal dengan sikapnya, namun ia sendiri juga tidak mudah bersikap seperti biasa layaknya tidak terjadi apa-apa dengan mereka. Meski kemarahannya telah surut pasal kematian Sooji, namun tidak mudah menyingkirkan kenyataan bahwa yeoja inilah yang terakhir kali bersama kekasihnya. Mengetahui kenyataan bahwa Sooji telah meninggal dan Jiyeon baik-baik saja sangat menyakitkan hatinya. Dia tidak berharap Jiyeon mengalami hal yang sama, tapi kematian Sooji meremukkan perasaannya.

“ Aku bersedia menikah denganmu “

Deg

Sikap Myungsoo yang awalnya tidak peduli kini ia menatap Jiyeon lekat. Tidak menyangka akan mendengar kalimat itu meluncur mudah dari bibir Jiyeon. Gila, bahkan ia tidak sedikitpun memikirkan atau bahkan mengingat kembali janji asalnya didepan almarhum Sooji.

“ Aku tidak punya waktu membicarakan omong kosong “

“ Aku sudah memikirkannya masak-masak. Aku…..bersedia menggantikan Sooji sebagai calon istrimu “ Ucap Jiyeon terlihat sungguh-sungguh.

Rasa benci yang awalnya sudah mengikis pada Jiyeon, kini kembali menguat. Bukan Jiyeon yang ia harapkan menjadi pendamping hidupnya kelak. Myungsoo telah menyukai Sooji sejak pertama kali melihat gadis itu, gadis yang membuatnya merasa hangat ketika kepalanya terjatuh dipundaknya. Gadis yang menjadi penyemangatnya untuk segera menyelesaikan urusannya di Amerika karena motivasi yang selalu diberikannya, gadis yang akhirnya ia menangkan hatinya dengan susah payah selama hampir dua tahun lamanya, menciptakan kenangan yang tidak terlupakan di hati Myungsoo.

Gadis itu Bae Sooji bukan Park Jiyeon, meski sebenarnya dengan Jiyeonpun ia memiliki kenangan tersendiri , tapi rasanya tetap tidak sama. Ia mencintai Bae Sooji bukan Park Jiyeon.

“ Aku lelah dan harus segera pulang “

Myungsoo meraih tas kerjanya dan pergi meninggalkan Jiyeon yang kini menunduk dalam.

Jiyeon sadar tak mudah meyakinkan Myungsoo dengan keputusan yang pasti dianggap gila oleh namja itu, namun ia tak boleh menyerah. Tak peduli bagaimana pandangan Myungsoo padanya sekarang, ia hanya tidak ingin banyak menumpuk perasaan bersalahnya.

Myungsoo benar-benar dibuat pusing dengan kegigihan Jiyeon. Tidak dikantor yeoja itu menemuinya dirumah, bahkan orangtuanya kini ikut membujuk Myungsoo untuk menerima keputusan Jiyeon. Entah apa yang gadis itu katakan sehingga membuat kedua orangtuanya sama tak masuk akalnya dengan gadis itu. Myungsoo tak bisa tidur, tubuhnya berguling kesana-kemari. Selimut dan bantal sudah ia gunakan untuk menutup telinganya, namun dering ponselnya tidak juga lenyap.

“ Gila !!!! “

Myungsoo bangkit menyambar jaket kemudian turun untuk menemui Jiyeon.

“ Mianhae…aku tidak tahu lagi bagaimana lagi cara untuk bertemu denganmu “ Ucap Jiyeon pelan ketika Myungsoo sudah berdiri angkuh dihadapannya dengan sorot mata tak bersahabat.

Myungsoo berusaha menahan amarahnya. Dihirupnya banyak udara untuk memenuhi rongga dadanya,dan kembali menatap Jiyeon tajam. Ia tak ingin marah pada Jiyeon dan berusaha untuk tidak membenci, Jiyeon adalah temannya bukan musuhnya, namun apa yang Jiyeon lakukan sudah mengusik habis kesabarannya.

“ Aku sudah mengatakannya berkali-kali bahwa hanya Sooji yang ada dalam rencana masa depanku, bukan yeoja lain. Jikapun sekarang dia telah tiada, aku akan tetap memilih bertahan dengan caraku sendiri “ Ucap Myungsoo pelan namun tajam.

“ Aku tahu bahwa sampai kapanpun aku tidak bisa menggantikannya. Bahkan aku sudah siap jika kau menganggapku sebagai Sooji ….. aku tak peduli “ Jiyeon mencoba kembali meyakinkan Myungsoo

“ Yeoja seperti apa kau ini ? sahabatmu memintamu untuk menggantikannya kau hanya menuruti, apa kau tidak memikirkan apa yang sekarang kupikirkan tentangmu ? “

Myungsoo sadar kata-katanya terlalu menyakitkan, ia hanya tidak habis pikir bagaimana bisa Jiyeon melakukannya, mengorbankan kehormatannya hanya untuk dapat membayar rasa bersalahnya pada Sooji. Apa ada alasan lain dibalik itu semua ?

“ Jika begitu serahkan Myungsoo untukku saja “

Myungsoo jadi teringat kembali ketika Jiyeon mengatakan agar Sooji menyerahkannya saja untuk yeoja itu. Sepertinya ada rencana Park Jiyeon yang tidak ia ketahui, menduga-duga hal seperti itu membuat Myungsoo jadi memandang jijik bukan simpati

“ Kau tidak dalam posisiku, jadi aku mohon kau tidak menghakimiku. Aku bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak setiap malam, dan rasanya mulutku susah untuk menelan hanya karena memikirkan janji itu. Aku tidak berharap kau mencintaiku, hanya menikah setelahnya kau bebas melakukan apapun “

Myungsoo memijit kepalanya pening. Sekarang Myungsoo tahu selain sikap blak-blakan Jiyeon, yeoja inipun keras kepala. Sejenak Myungsoo mengamati penampilan Jiyeon. Ia baru menyadari jika Jiyeon terlihat sangat kurus. Wajahnya pucat dengan sorot mata tak bersinar seperti dulu. Myungsoo tidak bisa berpikir keputusan apa yang harus ia ambil. Hingga akhirnya….

“ Jangan salahkan aku jika kau tidak bahagia “

“ Saudara Kim Myungsoo bersediakah anda menikahi saudari Bae Sooji, melindunginya dan menjamin kelak hidupnya bahagia, melewati hidup bersama dalam suka maupun duka ? “

“ ……..”

“ ……..”

“ Aku…..bersedia “

Jiyeon menghela nafasnya lega, airmatanya pun tak sanggup lagi untuk ia bendung. Mendengar Myungsoo berjanji dihadapan seorang pendeta untuk hidup bersama dengannya selamanya. Kini ia merasa lega, usahanya untuk meyakinkan Myungsoo untuk menikahinya, dan perjuangan untuk meyakinkan keluarga perihal ia menyandang nama Bae Sooji berakhir sudah.

Tak tahu bagaimana hidupnya kedepan, dan tidak mau membayangkannya. Jiyeon telah mengambil keputusan yang begitu sulit, merelakan nama Bae Sooji melekat didirinya. Seumur hidupnya atau sampai Myungsoo menceraikannya. Biarlah, tidak apa jika harus ia harus menanggung hidup atas bayang-bayang orang yang dicintai suaminya. Bae Sooji.

Sebulan berlalu,

“ Kau bukan Sooji, sampai kapanpun kau tidak akan bisa sepertinya “

Jiyeon menatap miris penampilan dirinya didepan cermin. Tak ada yang memintanya, bahkan Myungsoopun tak mempedulikannya, namun banyak perubahan yang sudah Jiyeon lakukan agar dirinya terlihat seperti Sooji.

Rambut blonde panjangnya telah ia rubah menjadi hitam, menyisakan sedikit poni untuk menutupi dahinya. Persis seperti Sooji. Kini ia lelah, apa yang Myungsoo katakan memang benar, seberapapun kerasnya ia berusaha, ia tidak akan bisa menjadi Sooji dihadapan Kim Myungsoo.

Jiyeon menarik tisu dan menyeka ujung matanya yang sedikit basah. Menyiapkan senyumnya meskipun sulit, ia keluar dari toilet dan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Myungsoo diantara banyak orang yang sedang menikmati pesta. Diujung sana, ia melihat Myungsoo sedang berbincang dengan rekan-rekan bisnisnya. Jiyeon berjalan ragu menghampiri mereka.

“ Oh Nyonya Kim Sooji, akhirnya kami melihatmu “

Jiyeon tersenyum kikuk, inilah alasannya ia malas bertemu dengan banyak orang yang mengenal suaminya. Panggilan Sooji yang berusaha ikhlas ia terima, nyatanya tidak semudah yang ia bayangkan. Dilihatnya Myungsoo meliriknya sekilas, namun seperti biasa tidak terlalu banyak peduli.

Acara yang meriah dan seharusnya menyenangkan bagaikan penjara buat Jiyeon. Ia pun keluar dan memutuskan menunggu Myungsoo di mobil saja.

Selesai menggunakan kamar mandi yang terletak didalam kamar tidur mereka, Jiyeon segera mengambil bantal dan selimut lalu berjalan keluar kamar.

Seolah memang telah terbiasa. Myungsoo yang sedang membaca sebuah majalahpun tak mencegah. Dari balik cermin lemari kamarnya, ia hanya melihat saja sosok Jiyeon berjalan keluar. Myungsoo kemudian mematikan lampu dan menutupi tubuhnya dengan selimut hangat. Ranjang besar dan empuk ini seharusnya bisa memuat dua orang.

Ia dan Jiyeon, hanya saja tak pernah mereka lakukan.

Ketika malam pertama mereka tinggal bersama. Myungsoo dengan tegas mengatakan jika ia tak bisa ada oranglain tidur disampingnya. Dan seolah mengerti, yeoja itu langsung mengambil bantal dan selimut untuk kemudian tidur di sofa.

Mereka saat ini memang tinggal di apartemen yang hanya memiliki satu kamar. Bukan karena ia tidak mampu membeli apartemen lebih mewah, jangan lupa jika Myungsoo adalah putra orang kaya yang bisa membeli apapun dengan kekayaannya. Hanya saja apartemen ini adalah pilihan Sooji ketika mereka merencanakan menikah dulu. Sooji bilang, mereka tak butuh kamar banyak setelah menikah nanti.

Siapa yang tahu jika pada akhirnya Jiyeonlah yang menjadi istrinya.

Jiyeon berusaha menggapai cangkir yang ada dirak bagian atas kitchen setnya. Malam ini udara sangat dingin, ia ingin menghangatkan tubuhnya dengan meminum teh sebelum beranjak tidur. Kakinya sudah berjinjit namun ia tak juga bisa meraihnya. Jiyeon kemudian melompat berusaha keras menggapai cangkir, namun akhirnya…

Prang….

“ Akkhhh “

Tetesan darah keluar dari salah satu jarinya. Jiyeon segera menghisap jarinya untuk menghentikan darah yang terus menerus menetes. Tak sengaja matanya menangkap sosok suaminya yang mengintip dari balik pintu, namun setelah berharap banyak pintu itu kembali tertutup. Jiyeon menarik senyumnya, dan menyadarkan dirinya bahwa Myungsoo tidak akan sama baiknya ketika mereka masih berteman. Tidak hanya Myungsoo, sikapnya yang cerewet dan blak-blakanpun hilang entah kemana. Mereka seperti dua orang bisu yang sama sekali tidak pernah saling berbicara jika tidak terpaksa.

Jiyeon duduk disofa seraya menyeruput teh hangat dengan isak tangis. Ia tak pernah merasakan sesepi ini dirumah, ketika justru ada orang lain didekatnya. Kesedihannya membawa kenangannya pada Sooji kembali.

Bagaimana perasaan Sooji melihatnya tersiksa sekarang ? Apa Sooji bahagia karena Jiyeon menerima karma atas nasib malang Sooji atau malah bersedih karena amanatnya ternyata hanya dijalankan pura-pura.

Jiyeon menahan suara isakannya agar tidak keluar dan terdengar oleh Myungsoo. Tentu saja Sooji akan bersedih. Sooji adalah teman yang baik, tidak sepertinya yang menjadi penyebab Sooji bertemu kematiannya secara tragis.

Sebulan kebersamaanya dengan Myungsoo sungguh sangat menyiksanya. Jiyeon pikir rasa cintanya dulu terhadap Myungsoo akan punah seiring sikap tak peduli namja itu. Nyatanya cinta lama yang sudah coba ia hapus tumbuh subur di relung hatinya.

Jiyeon sudah secara terang-terangan menunjukkan jika dirinya adalah istri yang baik untuk Kim Myungsoo. Berhenti bekerja, meski sebenarnya ia butuh suasana selain dirumah yang sepi. Belajar memasak, padahal hanya ramen yang bisa ia masak sejak dulu. Jiyeonpun selalu menahan dirinya untuk melepaskan rindu pada keluarganya, ia hanya tidak ingin ketika Myungsoo lelah pulang bekerja, tidak ada makanan yang bisa dinikmati suaminya, meski faktanya Myungsoo jarang sekali makan dirumah, ia biasa pulang dalam keadaan kenyang dan sudah lelah.

“ Jiyeon-aa “

Jiyeon yang sedang sibuk memasukkan belanjaan kedalam bagasi mobilnya segera menoleh ketika ada yang memanggil namanya. Namun bukannya tersenyum, Jiyeon malah nampak tidak senang.

“ Woohyun-ssi, jangan memanggilku seperti itu, panggil aku seperti biasanya “ Ucap Jiyeon sedikit tak nyaman.

Woohyun sepupu suaminya itu memang sering berkunjung kerumahnya, jika ia datang sebenarnya Jiyeon merasa senang, karena keadaan rumah yang seperti kuburan berubah sedikit ramai, karena Woohyun tipikal orang yang tidak bisa diam.

“ Waeyo ? apa kau tidak merindukan ada seseorang yang memanggil dengan nama aslimu ? “ Ucap Woohyun santai.

Jiyeon menatap Woohyun lekat, ia sudah lelah berkali-kali menjelaskan perihal perubahan nama yang seperti Myungsoo mau. Woohyun memang hanya memanggil nama aslinya jika sedang tidak ada Myungsoo, namun Jiyeon sudah bertekad tidak akan mengingat nama itu lagi.

“ Aku mohon “ Ucap Jiyeon akhirnya.

“ Aku yakin kau akan bahagia. Jika tidak sekarang, tunggulah nanti. Kau wanita yang baik, bahkan aku sempat mengagumimu ketika aku melihatmu pertama kali dialtar “ Ucap Woohyun tidak sadar Jiyeon disampingnya menatapnya seolah ingin membunuh.

Jiyeon tahu jika Woohyun hanya bercanda, iapun tersenyum. Kalimat Woohyun sama percis ketika ia meminta Myungsoo sabar menunggu Sooji menatap padanya. Dan akhirnya itu terkabul, Jiyeon berharap kisah yang sama terjadi padanya.

“ Apa kau bisa bermain basket ? “ Tantang Jiyeon yang sudah berdiri dan lincah menggiring bola basket seolah menantang Woohyun untuk segera menghadangnya.

Woohyun tersenyum dan kemudian bangkit untuk mengejar Jiyeon, keduanya nampak sangat akrab dan gembira. Untuk sekarang ini hanya Woohyun yang bisa membuat Jiyeon tersenyum, ia bersyukur memiliki sepupu suaminya ini yang baik padanya.

Dari kejauhan, nampak Myungsoo tersenyum sinis menatap keduanya. Kalimat Jiyeon yang mengatakan jika kelak hanya Myungsoo yang ia ajak bermain dilapangan ini , semuanya hanya omong kosong.. Nyatanya kini yeoja itu mengajak pria lain, meski itu sepupunya sendiri.

Jiyeon terkejut mendapati Myungsoo sudah lebih dulu ada dirumah ketimbang dirinya. Ia kemudian menatap ke arah jam didinding dan memukul dahinya. Ia lupa jika ia telah membuang waktu selama dua jam untuk bermain basket bersama Woohyun.

“ Mianhae…. aku terlambat “ Ucap Jiyeon yang melihat Myungsoo sedang sibuk didapur.

Myungsoo sedang menyiapkan makan malamnya sendiri, merasa bersalah Jiyeonpun mengambil masakan yang coba Myungsoo buat. Sebelum Jiyeon menyentuhnya, Myungsoo buru-buru mundur, membiarkan yeoja itu mengambil alih, lalu ia beranjak keruang televisi untuk menonton entah acara apa.

Jika dulu masih menjadi teman, tentu saja Jiyeon akan memprotes tindakan Myungsoo yang seperti tadi, kini tidak ia lakukan ketika telah menjadi istri Myungsoo. Myungsoo pasti akan sangat marah besar jika dengan seenaknya ia marah.

Jiyeon dengan cekatan menyelesaikan masakannya, ia tidak mau Myungsoo menunggu lama. Hanya dua puluh menit yang Jiyeon butuhkan untuk menyelesaikan pekerjaannya.

“ Myungsoo-aa, apa kau ingin aku membawakan makananmu kesini ? “ Tawar Jiyeon.

Myungsoo tak menjawab, menolehpun tidak. Pria itu hanya mematikan televisi kemudian bergegas meninggalkan Jiyeon.

Jiyeon menghela nafasnya pelan, panci yang ada digenggamannya jatuh pelan diatas meja, seperti tak sanggup Jiyeon menopangnya. Kemudian Jiyeon berusaha tersenyum, ia yang memilih keputusan ini jadi ia harus kuat menanggungnya.

Jiyeonpun mungkin akan kehilangan selera makan, jika menunggu seseorang menyiapkannya begitu lama. Setidaknya itu pikiran yang coba Jiyeon tanamkan agar tak larut kecewa dengan sikap dingin Myungsoo.

Jiyeon sudah membuka pintu kamar Myungsoo. Ia memandang resah antara jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi dengan Myungsoo yang masih tertidur pulas. Dengan perlahan ia memberanikan dirinya untuk menyentuh tubuh suaminya.

“ Myungsoo…. Kim Myungsoo “

Myungsoo menggeliat ketika mendengar sayup-sayup seseorang menyebut namanya. Mata kantuknya coba ia buka. Sedikit terkejut mendapati wajah Jiyeon begitu dekat dengan wajahnya. Myungsoo sontak duduk dan melihat ke arah jam.

“ Mianhae, aku baru membangunkanmu. Aku sudah menyiapkan air panas untukmu “

Myungsoo bangkit dari ranjangnya dan kemudian meninggalkan Jiyeon yang masih berdiri disamping ranjangnya. Ia berhenti dan berdiam tanpa menoleh, ingin meminta Jiyeon untuk segera keluar dari kamarnya tanpa harus menunggu hingga ia selesai mandi seperti biasanya, namun lidahnya seolah kelu untuk menyebut nama yeoja itu.

Sooji atau Jiyeon….

“ Kau keluarlah, tidak perlu menungguku “

Akhirnya kata sapa pengganti yang ia gunakan.

Belum sempat Jiyeon melangkah untuk menuruti perintahnya,

Ting Tong

Ting Tong

Terdengar suara bel berbunyi, menandakan jika ada seseorang yang datang. Jiyeon menatap Myungsoo, ingin memastikan yang datang adalah tamu Myungsoo. Karena memang tidak biasanya ada seseorang yang datang sepagi ini, namun yang dipandang acuh dan melengos masuk ke kamar mandi.

Krieettt

Jiyeon hampir saja terkena serangan jantung ketika membuka pintu dan mendapati seorang yeoja yang mungkin seusia dengannya berdiri tepat dihadapannya.

Wajah yeoja dihadapannya ini sangat mirip sekali dengan Bae Sooji.

“ Anyeonghaseyo. Nan Go Hye Mi imnida, aku penghuni baru disini mohon anda terima kue ini “

Jiyeon mencoba menyembunyikan keterkejutannya dengan mengulurkan kedua tangan untuk menerima kue yang dibawa yeoja bemarga Go dihadapannya, namun tak bisa, tangannya bergetar hebat membuat Hye Mi menatap aneh padanya. Jiyeon mencoba mengamati kembali sosok Go Hye Mi dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Semuanya benar-benar mirip seperti almarhuman Sooji.

“ Annyeong tuan, Go Hye Mi imnida. Aku tetangga baru kalian “

Jiyeon sontak menoleh ketika Hye Mi tersenyum dan menyapa seseorang dibelakangnya. Jiyeon yakin itu adalah Myungsoo. Lalu apa reaksi Myungsoo ketika melihat yeoja yang mirip seperti cinta lamanya ini ? Jiyeon menguatkan perasaannya, ia tahu Myungsoo akan menatap penuh arti Go Hye Mi. Membayangkan tatapan hangat Myungsoo untuk Hye Mi membuat perasaan Jiyeon sesak.

Meski bukan Sooji, namun sosok keduanya sangat mirip. Menghadirkan kembali kenangan Myungsoo akan Bae Sooji. Apa ini petunjuk bahwasanya Myungsoo memang ditakdirkan dengan yeoja yang seperti Sooji, yang selalu Myungsoo sebut ketika berkata sinis padanya.

Bukan dirinya yang wajahnya pun selalu Myungsoo hindari untuk menatapnya. Poor Park Jiyeon.

To Be Continued

Wkwkwk, aku ketawa sendiri, janji twoshot kok kayanya gabisa yah ? malah berasa chapter nih, tapi bener kok Cuma sampe 2B lah. Last partnya jangan cepet-cepet yah, karena COT dan AMOH juga menunggu untuk diupdated.

Oh iya ada reader yang sepertinya geregetan banget sama jadwal updated ku, sampai-sampai ia protes begini : Aku harap ini diteruskan sampai END jangan gantung kaya twoshot yang mirip film Thailand.

Aku Cuma senyum-senyum aja bacanya, tapi sepertinya tidak enak tanpa meluruskannya. Judulnya Seoul Traffic Love Story chingu, dan ff itu sampai tamat kok, bahkan kalo aku ga salah inget, ga sampe dua minggu setelah part 1, mungkin kamunya yang kelewat, atau ga ada notif di email kamu. Coba kamu cek lagi yah Seoul Traffic Love Story#2

Aku tau untuk sekarang ini jarang author yang updated ff MyungYeon, pasti kalian sedihkan ? Bahkan aku dapat info dari beberapa readers yang bilang kalo author MYS banyak yang memutuskan mundur. Aku juga sedih ngedengernya, walaupun sekarang ini aku udah jarang lagi baca ff orang lain tapi mengetahui kalo ff Jiyeon dikit sedihhhhh banget. Kalo aku, akan ku usahakan untuk tetap membuat ff meskipun bukan MyungYeon, Cuma readers mohon maklum dengan waktu aku yang terbatas, seperti kalian aku juga punya real life yang harus aku nomor satukan, jadi aku minta kesabaran kalian, ga gampang membuat ff, aku aja sampai sakit gegara ga nemu2 ide tapi kudu updated : ) SERIUS loh.

Oke deh ga banyak curhat, aku mohon part akhirnya sabar menanti.

139 responses to “[ TWOSHOT – FINAL 2A ] MY NAME IS JIYEON

  1. sedih bgt liat jalan idupnya jiyeon. itu myungsoo bakal jatuh hati ke hye mi ga ya? hye mi itu siapa sih:’

  2. Arrgg. Entah kenapa aku kesal liat jalan hidupnya jiyeon yg ga ada mulus-mulusnya huhuu. Kasian banget dia dpt banyak cobaan T.T

    But anw, fict ini bagus, feelnya dpt, trs konfliknya juga complicated banget hehe.

    Buat part selanjutnya di protect ya author? Tolong kirimkan pw nya ke email aku dong icajeska@gmail.com gomawo ^^

  3. Jiyeon hidup mu menderita bgt aturannya yg d’nikahi myungsoo itu jiyeon bukan suzy dan seharusnya yg d’cintai myungsoo itu jiyeon bukan suzy hmmm, , semoga indah pada waktunya untung ada wohyoon yg baik sama jiyeon jd jiyeon nggak merasa sendiri, , sikap myungsoo terhadap jiyeon emang keterlaluan, , knpa harus ada yg mirip dengan suzy pasti bakal rumit lg hubungan jiyeon dan myungsoo hmmm, , thor boleh aku minta pw part 2bnya kirim tolong kirimin k’email aku ya yoannaamelia@gmail.com makasih thor🙂

  4. Kasian banget sih jiyeon, gak ada baek baeknya hidup diaaaa……. Mungkin emang bukan jodoh kali yaaa…. T-T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s