[CHAPTER 9] School Rush!! Season 2

POSTER

Special Video sebagai permintaan maaf karena update terlalu lama . . .

Sohee POV

“Ahn Sohee, ireona.” Aku membuka perlahan mataku yang terasa berat. Tubuhku seperti tidak berdaya dan lemah. Aku melihat Luhan yang berdiri dengan kedua tangannya yang bersedekap di dada.

Aku melihat keadaan sekitarku saat ini. Sepertinya aku berada di dalam kamar Luhan. Sebelumnya, dia sangat melarangku untuk masuk kedalam kamarnya. Jadi seperti ini kamar Luhan, sangat khas dirinya. Kamar ini bernuansa putih dan hitam, ada beberapa foto dirinya yang dia pasang di berbagai sudut kamar, jendela di kamar ini besar dengan tirai dua layer berwarna transparan dan hitam yang menutupinya, juga tidak lupa dengan 3 buffet yang menampilkan penghargaan yang sudah ia raih selama ini.

“Puas melihat isi kamarku? Sekarang bisa kau keluar?” Tapi ada sesuatu yang ganjil dari kamar Luhan. Ada sebuah pintu di pojok ruangan yang sepertinya bukan sebuah hiasan. Lama aku memperhatikan pintu itu.

“Ya! Ahn Sohee, apa kau tidak mendengarkanku? Keluar kau sekarang!” Aku tersentak mendengar bentakkan Luhan. Dia menarik tanganku dan menyeretku keluar dari kamarnya menuju ruang tamu. Dia berbeda dengan Luhan dalam mimpiku tadi malam. Luhan yang manis benar-benar hanya ada dalam mimpiku.

Flashback

Aku terkejut melihat Luhan yang tertidur dengan posisi duduk di tepi ranjang. Dia menggenggam tanganku dengan erat dalam tidurnya.

“Luhan-ssi, ireonasseyo.” Aku mengguncangkan tubuhnya pelan, membuatnya terbangun dari tidurnya. Dia menatapku dengan lembut.

“Kau sudah baikkan, Sohee-ah?” Dia menyingkap beberapa helai ramput yang menutupi wajahku. Wajahnya mendekat secara perlahan, membuat detak jantungku berdetak sangat kencang. Keningnya dengan keningku bersentuhan, tipisnya jarak diantara kami membuatku dapat merasakan hembusan napasnya.

“Demammu masih sangat tinggi, Sohee-ah. Istirahatlah lagi, aku akan mengambil kompres baru untukmu.” Melihatnya memperhatikanku adalah seperti sebuah mimpi. Atau mungkin ini memang mimpi?

Luhan kembali dengan sebaskom air dingin dan sebuah handuk basah. Dia meletakkan handuk itu diatas keningku dan dengan telaten menggantinya setiap menit.

“Lu, aku sangat merindukamu yang seperti ini. Walau ini hanya mimpi, aku senang bertemu denganmu.” Dia tersenyum padaku.

“Hm, aku juga senang melihatmu. Aku akan sering mengunjungimu dalam mimpi.”

“Aku tidak ingin bangun dari tidurku. Bisakah aku disini selamanya, bersama Lulu yang aku suka.”

“Tidak Sohee, kau harus segera sadar.”

“Tapi. . .” Luhan mengecup bibirku secara tiba-tiba. Sama seperti yang dia lakukan dulu ketika aku demam, dia akan mengecup bibirku dan mengatakan. . .

“Aku mengambil demammu, Sohee” Lalu setelah mendengar dia mengatakan itu, kesadaranku kembali hilang.

“Ya! Ahn Sohee! Kenapa kau malah melamun disitu? Aku lapar, buatkan aku sarapan dalam 30 menit.” Luhan menghempaskan dirinya di sofa lalu mengeluarkan ponselnya dan mulai memainkannya.

Aku berjalan perlahan kearah dapur tanpa melihat kearah depan (karena jendela besar yang menampilkan pemandangan kota Seoul sangat membuatku takut). Tubuhku masih terasa lemas, sepertinya demamku masih belum turun karena aku merasakan pening di kepalaku. Dengan terpaksa ku ambil beberapa bahan makanan di kulkas lalu mulai memasak.

Luhan POV

Sepertinya demam Sohee masih belum turun dari semalam. Tapi aku harus berusaha agar tidak terlihat khawatir, jadi aku menyuruhnya untuk memasak sarapan. Sementara Sohee memasak di dapur, aku harus segera menghubungi Minseok dan berharap bahwa dia bisa membantuku.

To : XiuMinseok

Minseok-hyung, Sohee sedang demam dan saat ini dia ada bersamaku. Tolong bawa dia pergi dari apartemenku.

Setelah pesanku terkirim ke Minseok (terkadang aku malas memanggilnya ‘hyung’) aku merebahkan diriku. Dari posisiku yang menghadap jendela, aku dapat melihat pemandangan pagi Seoul.

~o~

Minseok POV

Hyung, Myungsoo tidak tahu bahwa hari ini aku pulang, kan?” tanyaku pada Serketaris Ahn.

Ne, tuan Myungsoo tidak tahu bahwa anda pulang malam ini.”

Beberapa menit yang lalu, aku baru saja tiba di Seoul pada pukul 3 pagi dengan menggunakan pesawat pribadi. Sebenarnya, aku sedikit jengah menggunakan fasilitas yang diberikan padaku, karena itu sedikit berlebihan.

“Tuan, saya sudah menyiapkan kamar untuk anda istirahat malam ini.”

“Ahh. Batalkan saja. Aku bisa istirahat di tempatku sendiri. Dan soal mobil, itu juga tidak usah kau siapkan. Aku akan berangkat dengan bis bersama temanku.” Setelah mengatakan hal itu, aku segera masuk ke dalam mobil yang sudah dibukakan oleh Serketaris Ahn. “Antarkan saja aku ke halte bus terdekat.” ujarku pada Serketaris Ahn.

“Ahhhh! Rumahku yang kurindukan.” Aku merebahkan diriku di atas sebuah kursi kayu yang lebar (berbentuk persegi) yang keletakkan didepan rumahku.

Rumahku adalah sebuah rumah atap, aku membelinya dengan uangku sendiri dengan mencicilnya selama 3 tahun sejak aku berusia 12 sampai 15 tahun. Rumah ini sebelumnya adalah rumah mantan penjaga kebun yang sudah pensiun dari rumahku. Harabeoji itu yang mengurusku sampai aku lulus SD, harabeoji sudah pergi ke desa untuk hidup bersama dengan istri dan cucu perempuannya. Rumah ini sangat sederhana, akan tetapi dari sini aku bisa melihat keadaan kota Seoul yang ramai dan padat.

“Hoam.” Mungkin sekarang sudah jam 5 pagi, karena beberapa kendaraan sudah terlihat keluar dari kandangnya. Tubuhku merasakan lelah yang amat sangat karena selama 24 jam tidak ada waktuku untuk beristirahat.

Drrt!Drrt!

Aku membuka mataku ketika merasakan ada sesuatu yang bergetar di dekatku. Sudah pagi rupanya. Poselku belum berhenti bergetar, dengan setengah sadar aku membaca pesan yang masuk.

From : Xi Luhan

Minseok-hyung, Sohee sedang demam dan saat ini dia ada bersamaku. Tolong bawa dia pergi dari apartemenku.

Kesadaranku langsung penuh saat mendengar kabar Sohee. Dengan segera aku pergi ke apartemen Luhan di Gangnam. Disaat genting seperti ini, aku menyesal tidak membawa mobilku sehingga aku harus menunggu bis terlebih dahulu di halte terdekat.

Sohee POV

Xi Luhan di dunia nyata benar-benar iblis! Dia tahu bahwa aku sedang dalam keadaan demam, tapi dia masih menyuruhku untuk memasak sarapan. Aku melihatnya sedang membaca sebuah buku yang cukup tebal, kuduga itu adalah naskah film terbarunya. Kalau tidak salah, di film itu dia akan berperan sebagai seorang pria yang memiliki lebih dari 10 kepribadian. Tapi, aku lupa apa judulnya.

“Luhan-ssi, apa judul film terbarumu?”

“Darimana kau tahu aku akan bermain film baru?” ujarnya dingin.

“Semua orang membicarakannya, termasuk teman di cafe tempatku bekerja. Dia adalah fans beratmu, selalu membicarakanmu dihadapanku. Aku bertanya karena setidaknya aku harus tahu film apa yang akan kutonton bersamanya.” Pening kembali datang ke kepalaku.

Ouch!

Secara tidak sengaja aku melukai jari telunjukku sendiri. Demam ini benar-benar menganggu konsentrasiku. Aku merasakan hawa keberadaan Luhan di dekatku, dan benar saja ketika aku menoleh kesamping dia sudah menggenggam tanganku yang jarinya terluka.

“Ceroboh!” Dia memasukkan ujung jariku yang terluka kedalam mulutnya, menghisap darah yang keluar dari luka itu. Dan hal itu, membuat jantungku berdegup dengan kencang. Untuk kedua kalinya, aku melihat Luhan dari dekat. Wajahnya benar-benar tampan tanpa cacat, rambutnya yang sudah berwarna hitam tampak halus dan lembut serta tubuhnya yang sekarang sudah lebih tinggi membuat seluruh aliran darahku meningkat.

Aku memperhatikan wajahnya, membuatku rindu pada ‘Luhan’, sahabatku yang dulu pernah kukenal. Matanya yang dulu selalu memancarkan kegembiraan, bibirnya yang tidak pernah lelah untuk tersenyum padaku, telinga yang selalu siap mendengar tangisku dan hidung yang selalu peka terhadap aroma kue yang kubuat. Aku merindukannya, sangat merindukannya.

“Ya! Xi Luhan! Apa yang kau lakukan padanya?” Luhan melepaskan tanganku dan menatapku dengan pandangan yang sulit kuartikan. Aku menatap namja yang sedang berdiri dengan napas tersengal-sengal itu.

“Untuk apa kau kemari?” ujarku dingin. “Apa kau yang memanggilnya kemari, Luhan-ssi?”

“Ya. Kau sangat merepotkan, jadi kuminta Minseok-hyung untuk mengurusmu.” Aku mengambil tasku yang berada di atas sofa. “Tidak perlu repot, aku bisa pulang sendiri.”

“Sohee, ada sesuatu yang harus kubicarakan denganmu.”

Aku tidak memperdulikan perkataannya dan terus melangkah menuju pintu keluar apartemen Luhan. Tapi, kepalaku tiba-tiba terasa sangat pening dan berputar. Dan untuk kesekian kalinya dalam hidupku, aku kehilangan kesadaranku.

Aku membuka mataku, dan untuk kedua kalinya di pagi ini, aku menemukan diriku sendiri di tempat asing. Ini bukan kamarku, kamar Luhan ataupun salah satu kamar di rumah sakit. Keadaan di sekelilingku lebih pantas disebut kamar seorang pangeran. Kamar ini bernuansa coklat dan dikelilingi dengan banyak sekali buku (mungkin ada lebih dari 1000 buku disini), ranjang yang kutempati ini terasa nyaman dan selimutnya sangat lembut. Dan ada beberapa alat olahraga dan instrumen musik di kamar ini.

“Kau sudah sadar?” Aku menoleh kearah suara yang berasal dari pintu masuk.

“Taeyeon-saem? Kenapa saem bisa ada di-” Ah. Kedatangan Taeyeon-saem, memperjelas siapa pemilik kamar ini. Aku berusaha untuk bangkit dari ranjang yang sangat nyaman ini.

“Sohee, kau masih belum sembuh benar. Istirahatlah sebentar di kamar ini sampai demammu turun.” Taeyeon-saem menahan tubuhku yang hendak bangkit untuk kembali dalam posisi berbaring.

“Demamku sudah turun.” Ujarku ketus.

“Kalau begitu aku akan memanggilkan Minseok kemari.” Segera setelah dia beranjak dari ranjang, terdengar suara langkah kaki memasuki kamar ini.

“Tidak perlu, eomma. Aku sudah berada di sini.”

Keheningan tercipta diantara kami. Tidak ada satupun dari kami yang berbicara lagi setelah Minseok menyelesaikan penjelasannya.

“Apa kau memintaku untuk memaafkanmu, Minseok-ssi­?” Aku menatap matanya, mencoba untuk mencari lagi kepercayaanku padanya.

“Tidak. Aku hanya ingin kau mengerti keadaanku dan memberi tahu padamu bahwa apa yang kulakukan adalah menutupi identitas asliku, bukan perasaanku ataupun sikapku. Semua hal yang kulakukan bersama kalian, aku melakukannya dengan jujur dan tulus. Tapi, aku tidak bisa menutupi identitasku selamanya dari kalian, maka dari itu sebelum kalian tahu dari orang lain, lebih baik aku sendiri yang mengakuinya pada kalian.”

Kami saling menatap satu sama lain. Aku berusaha untuk menenangkan pikiranku saat ini.

“Kau tahu, Kim Minseok? Ini adalah kali kedua aku mengalami hal seperti ini. Saat-saat dimana sahabatku sendiri menipuku. Dan ini sangat sulit bagiku. Kenapa? Kenapa? Kenapa kau tidak percaya pada kami? Kenapa sejak awal kau menutupi identitasmu?” Aku telah kehilangan kesabaranku akan semua hal yang kualami saat ini.

“Aku dan Jiyeon, sangat mempercayaimu. Menganggapmu seperti kakak kami sendiri. Ketika kau sakit, kami merasakan sakit yang sama. Ketika kau senang, kami juga merasakannya. Kami, Kami benar-benar menyangimu, Minseok-ah.” Air mataku jatuh tanpa aba-aba. Semua masalah ini bertumpuk satu demi satu, membuatku tidak sanggup lagi untuk memikulnya jika hanya sendirian.

Mianhae, mianhae, mianhae, mianhae, mianhae.” Pada akhirnya, memang benar bahwa seorang sahabat adalah orang yang akan menangis bersamamu. Dan saat ini, kami berdua tahu bahwa besok kami akan bangun dengan senyuman di wajah kami.

“Minseok-ah, sejak awal aku sudah memaafkanmu. Aku dan Jiyeon selalu memaafkanmu. Kami hanya tidak bisa menerima kenyataan bahwa kau tidak percaya pada kami tentang identitasmu. Hanya itu.”

~o~

Jinri POV

Aku memperhatikan keadaan kamarku, mungkin ini untuk yang terakhir kalinya. Tekadku sudah bulat untuk keluar dari ‘sangkar emas’ yang selama ini mengurungku. Tidak perlu menulis surat ataupun berpamitan, karena aku ragu bahwa mereka akan mengkhawatirkanku.

“Jinri!” aku membalikan tubuh ketika mendengar suara Minho-oppa.

“Kau akan pergi kemana? Kenapa harus membawa ransel? Kau akan menginap di sauna lagi? Atau di rumah temanmu?” nada suaranya menyiratkan kekhawitaran padaku. Baiklah, aku ralat pikiranku yang sebelumnya, setidaknya oppa ku ini mengkhawatirkan keadaanku.

Mianhae, oppa. Aku sudah muak terkurung disini selama 17 tahun hidupku. Sudah waktunya aku pergi, sudah waktunya aku untuk terbang bebas.”

“Apa maksudmu kau akan kabur?” Aku menjawab pertanyaannya dengan anggukan singkat.

Minho oppa menundukkan kepalanya. “Jangan kembali. Jika kau memutuskan untuk pergi, maka jangan kembali. Karena jika kau kembali, kau akan berada di dalam ‘sangkar emas’ ini selamanya dan tidak akan bisa keluar lagi.”

Ne, oppa. I’ll never come back again. But, you’ll always be my big brother. Saranghae, oppa.” Aku memeluk erat kakakku yang satu ini. Dia adalah satu-satunya keluarga yang kumiliki. Dia yang selalu peduli ketika aku sakit, menghiburku ketika aku menangis, dan menjadi ayah sekaligus ibu bagiku sejak kecil. Dia yang selama ini membuatku berat untuk pergi dari rumah.

“Kau harus menyelesaikan sekolahmu, Jinri. Jangan pilih-pilih makanan, carilah namjachingu yang benar-benar kau cintai dari lubuk hatimu dan lakukan semua hal yang ingin kau lakukan. Jaga dirimu, Jinri.” Aku tahu bahwa sulit baginya untuk melepasku pergi.

Ne, oppa.”

“Yo, mermaid.” Suara itu. Kenapa aku mendengarnya di tempat ini? Di dalam bus? Mungkin hanya halusinasiku saja.

“Hey! Choi Jinri! Kau ini mengabaikanku atau tidak mendengarku?” Aku memalingkan wajahku ke arah sumber suara itu. Dan sialnya, dia tepat berada di sampingku. Lee Howon sialan! Kenapa dia bisa berada di bus ini?

“Kau mengikutiku?” Dia hanya menampilkan semyuman menjijikannya itu.

“Benar. Aku mengikutimu dan meninggalkan mobilku di depan rumahmu. Naik bus yang sama denganmu dan duduk disebelahmu. Ada masalah?” Gila!

“’Ada masalah?’ kau bertanya padaku, ‘Ada masalah?’? Kenapa kau mengikutiku? Kau ‘Ada masalah?’?” Aku berakhir dengan mengulang pertanyaannya yang tidak masuk akal itu. Seseorang mengikutimu tanpa kau tahu yang bisa juga disebut menguntit, lalu dia bertanya ‘Ada masalah?’! Namja ini benar-benar menyebalkan!

“Hahahaha, pertanyaanmu terdengar lucu.” Sekarang namja aneh ini malah tertawa?

“Baiklah, alasanku mengikutimu adalah karena kau akan kabur dari rumah. Aku ingin tahu kemana kau akan pergi.” Ujarnya dengan lembut. Hiih~ aku jadi merinding ketika mendengar nada suaranya itu.

“Darimana kau tahu bahwa aku kabur dari rumah? Dan untuk apa kau tahu kemana aku akan pergi? Itu semua bukan urusanmu!” Aku berdiri lalu meminta supir bus untuk menghentikan laju bus ini di halte terdekat. Halte yang kutuju masih melewati tiga halte lagi, tapi lebih baik aku berjalan kaki daripada duduk bersebelahan dengan namja ini.

“Ya! Lee Howon! Kenapa kau masih mengikutiku? Aishh!”

“Pertanyaanmu sebelumnya belum kujawab. Jawaban pertanyaan pertama, hari ini aku diminta untuk datang kerumahmu oleh eomma, jadi secara tidak sengaja aku melihat kau dan Minho-hyung berpelukkan serta mengucapkan salam perpisahan. Jawaban pertanyaan kedua,” Dia diam sejenak.

“Mungkin, jika aku dipaksa untuk mencarimu lalu membawamu pulang, aku sudah tahu dimana kau berada. Malas sekali jika aku harus mencarimu ke seluruh penjuru Korea Selatan. Itu hanya akan membuang waktuku.” Langkahku terhenti ketika mendengar alasannya. Beberapa saat yang lalu, aku kira dia akan menjawab bahwa dia mengkhawatirkanku. Aku tahu bahwa dugaanku itu tidak mungkin benar. Tapi mendengar alasannya, membuat jantungku seperti diremas dengan kuat.

“Kenapa? Kau berharap aku mengkhawatirkanmu, mermaid? Apa kau sudah jatuh cinta padaku?” Aku menatapa matanya tajam. Oh, aku hampir lupa bahwa aku dan namja ini sedang bertunangan secara tidak resmi.

“Perjanjian kita yang waktu itu dibatalkan, karena aku sudah bukan lagi bagian dari keluarga Choi. Aku keluar dari rumah itu, dan tidak akan kembali lagi.”

“Kau takut? Apa kau takut aku mengalahkan hatimu? Karena kurasa penawaranku padamu tentang pertunangan ini sangat menguntungkan bagi semua pihak. Dan pertunangan ini juga tidak mungkin akan berlanjut sampai pernikahan. Kau tenang saja. Karena itu, kau tidak perlu kabur dari rumahmu, aku yang akan membuka pintu ‘sangkar emas’ yang mengurungmu.” Untuk beberapa saat tidak ada satupun diantara kami yang berbicara lagi.

“Tidak, aku tidak takut. Keudae, aku benci ketika orang lain membantuku tanpa niatan yang tulus. Kau tidak membantuku, tapi membuat perjanjian denganku. Kemarin aku tidak berada dalam kondisi dimana aku dapat berpikir dengan baik.

Terlalu banyak masalah yang sedang kualami sehingga tanpa pikir panjang aku menerima tawaranmu. Pertunangan juga pernikahan bukanlah hal yang bisa kau permainkan.Aku hanya akan bertunangan dan menikah dengan orang yang benar-benar kucintai. Dan, kau tidak akan pernah menjadi orang yang kucintai”

“Benarkah? Kau yakin bahwa kau tidak akan pernah jatuh cinta padaku?” Aku menatap mata namja ini tepat di manik hitamnya. “Ya, aku tidak akan pernah men-”

Mataku terbelalak ketika tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang lembut dan hangat bersentuhan dengan bibirku. Pikiranku mengatakan agar aku segera mendorong namja ini, tapi tubuhku tidak meresponnya dengan baik. Dan tanpa aku sadari, mataku menutup secara perlahan. Aneh, aku merasa sangat nyaman dan hangat ketika namja ini menciumku.

Mermaid, bagaimana jika kukatakan bahwa aku selalu memperhatikanmu? Kau yang selalu berlatih dengan giat, kau yang tidak pernah menyerah untuk mengalahkanku dan kau yang selalu tersenyum. Entah sejak kapan, aku selalu menunggumu untuk datang dan menantangku dalam pertandingan. Aku ingin melihatmu yang bahagia karena melakukan hal yang kau sukai tanpa beban apapun. Aku iri padamu, karena itu aku selalu mengejekmu.” Hidungku dan hidungnya masih bersentuhan, jarak kami saat ini benar-benar dekat karena aku dapat merasakan nafasnya yang hangat menggelitik hidungku.

“Saat itu, ketika kau menangis di atap gedung, aku menyadarinya.” Dia mencium bibirku singkat sekali lagi.

“Choi Jinri, aku mencintaimu.” Jarak kami yang dekat membuatku dapat merasakan debaran jantungnya. Debaran jantung kami cepat dan seirama. Aku menatap matanya, dan aku hanya menemukan ketulusan disana. Tapi, benarkah dia mengatakan hal ini padaku? Sejak kapan dia mencintaiku?

“Di otakmu saat ini, pasti kau bertanya ; ‘Sejak kapan dia mencintaiku?’. Jawabannya adalah, sejak pertama kali kau datang padaku dan menantangku untuk bermain basket.”

“Ya! Lee Howon! Aku menantangmu!” Aku melemparkan bola berwarna oranye (yang ukurannya jauh lebih besar dari telapak tanganku) pada namja berwajah menyebalkan dihadapanku. “Aku menantangmu bermain basket!”

“Hahahaha, kau ingin menantangku? Baiklah! Taruhannya adalah jika kau kalah kau harus memberikan coklat Valentine-mu padaku besok dan jika kau menang aku akan melakukan semua hal yang kau mau.”

“Baiklah! Aku setuju pada taruhanmu!”

“Tapi, aku baru menyadarinya saat itu. Maaf jika selama ini caraku salah. Aku tidak ingin mengakuinya bahwa aku mencintaimu. Egoku terlalu tinggi. Tapi, aku lebih tidak ingin kau menjauh dariku. Jika kau kabur dari rumah, maka semua orang akan melarangku untuk bersamamu. Aku tidak ingin itu terjadi.” Aku menyentuh pipinya yang terasa sangat hangat.

“Kau sudah mencintaiku selama 4 tahun?” Dia menganggukan kepalanya singkat, tapi matanya masih menatap mataku. “Dan kau baru menyadarinya beberapa bulan yang lalu? Kau bodoh atau apa?”

“Ya, mermaid, saat ini aku sedang menyatakan perasaanku padamu. Kenapa kau malah menghinaku?” Dia terkekeh pelan dan kembali mencium bibir singkat. “Kau membiarkanku menciummu berkali-kali, apakah itu artinya aku tidak ditolak?”

Aku tersenyum mendengar pernyataannya itu. “Aku tidak yakin apakah aku merasakan perasaan ini atau tidak. Yang aku tahu hanyalah ketika kau menenangkanku diatap saat itu, aku merasa tenang, dan saat ini ketika kau memeluk dan mencium bibirku dengan manis, jangtungku berdegup dengan kencang dan pipiku terasa hangat. Lalu ketika kau mengatakan sesuatu yang menyakitkan, jantung seperti diremas dengan kencang.”

“Jadi apakah merasakan perasaan yang sama sepertiku, mermaid?”

Aku menjauhkan diriku dari Howon.

“Bwekk” aku menjulurkan lidahku padanya. “Akan tidak seru jika aku langsung menjawabmu saat ini. Aku akan menjawabmu ketika kau sudah berusaha untuk menunjukkan perasaanmu itu padaku.” Dia terkekeh pelan mendengar perkataanku.

Heol! Baiklah, bukan salahku jika suatu saat kau akan sangat mencintaiku sampai kau tidak sanggup melepaskanku. Kau tunggu saja, mermaid

~o~

Myungsoo POV

Aku menatap lekat rumah kecil dihadapanku saat ini. Ada perasaan gugup sekaligus senang ketika akhirnya aku menemukannya. Beruntung aku dilahirkan dengan otak yang cerdik, aku memang tidak sepintar Minseok-hyung, tapi kecerdikkanku mengalahkannya. Aku sudah menebak bahwa Minseok-hyung pasti tidak akan membiarkanku mengetahui keberadaan Jiyeon, sehingga aku memerintahkan beberapa orang (selain serketaris Ahn) untuk mencari keberadaan Jiyeon. Dan disinilah aku, di depan rumah kecil di kaki gunung Jiri.

“Myungsoo-ssi?” Aku menoleh dan mendapati Bae Suzy sedang memandangku heran dan binggung. “Kenapa kau bisa ada di sini? Darimana kau tahu tempat ini?”

“Sepertinya itu bukan urusanmu, Bae Suzy-ssi.”

“Tentu saja itu urusanku. Ini adalah rumah halmoeniku!” Ujarnya setengah berteriak.

“Suzy, ada siapa diluar?” Suara derap kaki semakin mendekat ke arah pintu masuk rumah ini. Dan orang yang membuka pintu itu adalah namja jangkung bermarga Park.

“Kim Myungsoo?” Matanya yang sudah cukup lebar, bertambah lebar ketika dia melihatku.

15 responses to “[CHAPTER 9] School Rush!! Season 2

  1. thor ff school rush nya kok lamaa banget gak di update sih ?? penasaran sama nasib jieun😥 lanjut dong thor cepetan .. udah nunggu lama banget nih,

  2. ohh luhan , aku yakin yg dikira mimpi ma sohee itu bukan mimpi ckck luhan bener2 knapa dia harus pura2 gitu sih
    yeah jinri howon bersatu ,,
    nah lo , myungsoo duluan sampai gmna jadinya yaa
    next fighting thor , dtunggu bgt udah llama bgt ..

    • thor kok ffnya nggak d’lanjutin lg aku udh nunggu lama loh ff chapter 10nya blm d’update2 jg😦 lanjut dong thor penasaran gimna akhir cerita mereka figthing thor🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s