[ TWOSHOT – PART 1 ] MY NAME IS JIYEON

img1443937269032

Tittle : My name is Jiyeon
Author : gazasinta
Main Cast :
– Park Jiyeon
– Kim Myungsoo
– Bae Sooji
Genre : Marriage Life
Rating : PG-17

My Name Is Jiyeon 

“ Dimana ku taruh desain itu yah ? “

Gadis berkulit seputih susu bernama Park Jiyeon nampak panik membongkar semua isi dalam tasnya. Desain sepatu yang ia kerjakan semalaman tidak ia temukan dimanapun. Seingatnya ia menaruhnya disana, dan belum mengeluarkannya sama sekali. Semakin panik karena presentasi tinggal satu jam lagi. Ia tidak boleh kalah dengan team yang diketuai Eunji.

Ia dan teamnya sudah bekerja keras selama beberapa bulan dan melalui banyak tahap untuk memenangkan proyek yang kelak akan memegang kendali bagian desain, jadi akan sangat mengecewakan jika ia kalah ditahap akhir penilaian.

“ Jiyeon-aa, kajja !!! mereka semua sudah kumpul diruang meeting. Presentasi terakhir kita ditentukan hari ini “ Ujar Hyeri mengingatkan.

“ Hyeri-aa, mianhae “ Jiyeon menunduk dalam.

Hyeri dan Luna menatap Jiyeon bersamaan. Wajah Jiyeon yang seperti itu membuat keduanya mencium hal buruk yang akan terjadi.

“ Aku….tidak menemukan desain kita didalam tasku ? “ Ucap Jiyeon dengan wajah memelas.
Hyeri dan Luna terdiam sebelum akhirnya mereka kompak menjawab.

“ MWOOO ???? “

Jiyeon menunduk dalam dan tidak berani menatap wajah temannya satu-persatu.

“ Mengapa kau baru mengatakannya sekarang, sejak tadi makan siang kau tidak mengatakan apapun “ Ucap Luna nampak kesal.

“ Mianhae, seingatku aku menaruhnya didalam tas, tapi ternyata tidak ada“ Ucap Jiyeon menyesal.

Kerja kerasnya untuk menjadi team pemegang kendali bagian desain lepas sudah. Celakanya ia adalah ketua team, yang dipercaya oleh teman-temannya untuk memimpin mereka, namun dia sendiri yang justru ceroboh.

“ Ah sudahlah sepertinya percuma jika saling menyalahkan, untuk kali ini kita harus merelakan desain sepatu nanti di menangkan team Eunji “ Ucap Hyeri meski berusaha ikhlas, namun jelas ia merasa kecewa.

Hyeri dan Luna meninggalkan Jiyeon yang tidak mampu berkata apa-apa selain maaf yang ia ucapkan berkali-kali. Jiyeon sangat merasa bersalah. Ia memang bukan pegawai pintar, tapi ia pekerja keras dan tekun, namun siapa lagi kini yang akan mempercayainya. Segelintir temannya dikantor kini sudah mundur dan meninggalkannya. Jiyeon membereskan tasnya tak bersemangat, ia memilih untuk pulang lebih cepat dan menenangkan dirinya saja.

Diambang pintu ia bertemu Eunji yang tersenyum mengejeknya. Jiyeon tak peduli, ia hanya ingin menenangkan diri dan melupakan kegagalannya.

Jiyeon berjalan lemah menapaki jalanan menanjak menuju kostnya. Tempat tinggalnya itu sudah terlihat semakin dekat memacu semangat Jiyeon untuk cepat sampai. Tiba-tiba kakinya berhenti melangkah.

“ Hah membosankan, ini bahkan belum pukul tujuh malam tapi aku sudah berada dikamar “ Gerutunya dan kemudian berbalik arah.

Akhirnya, ia memtuskan untuk pergi ke warung tenda yang berada tidak jauh dari gedung kostnya. Ia berjalan lemah dengan kepala yang tertunduk.

“ Hahahahhaha “

Dari tempatnya berdiri ia mendengar suara tawa dua orang yang ia kenal. Benar saja, Bae Sooji dan Kim Myungsoo ada disana. Keduanya nampak asyik menikmati makan malam sederhana mereka. Jiyeon memandang nanar Sooji dan Myungsoo dari jarak yang tidak bisa dibilang jauh, namun tidak juga dekat. Sepertinya akan lebih baik jika ia pergi saja dari sana.

Baru saja Jiyeon berbalik, terdengar suara Sooji yang memanggilnya.

“ Jiyeon-aa !!! “

Jiyeon memejamkan matanya perlahan. Ia sebenarnya malas sekali harus bergabung bersama mereka. Selain ia merasa bersalah pada Kim Myungsoo, ia juga tidak suka melihat Sooji yang bisa-bisanya berpura-pura bersikap manis didepan Myungsoo.

“ Kalian disini ? “ Tanya Jiyeon ketika sudah berada dihadapan Sooji dan Myungsoo dengan wajah datar, ia meletakkan tasnya dimeja kemudian langsung menulis pesanan di daftar pesan yang memang tersedia dimeja.

Sooji melirik apa yang Jiyeon tulis dalam daftar pesanannya “ Kau sedang suntuk ya ? “

Jiyeon menghentikan jarinya menulis dan memandang Sooji seolah berkata “ Itu kau tahu “

“ Tidak. Hanya ingin menikmati soju saja “ Ucap Jiyeon seoah tidak terjadi apa-apa.

Jiyeon kemudian melirik kearah Myungsoo yang sejak ia datang senyum tidak lepas dari bibirnya. Namja itu kelihatannya sangat bahagia. Apa ada kabar baik tentang hubungannya dengan Sooji yang belum sampai ditelinganya ?

Jiyeon tak sengaja memajukan bibirnya untuk mencibir. Semalam ketika ia dan Myungsoo bertemu di lapangan basket yang berada tepat dibelakang Gedung kost-kostannya Myungsoo masih biasa-biasa saja, tidak gila seperti sekarang selalu tersenyum.

Pandangan Jiyeon kemudian berpindah pada Sooji. Chingunya itu juga terlihat sangat berbeda. Nampak bahagia yang tidak dibuat-buat seperti biasanya jika bersama Myungsoo. Jiyeon berusaha tidak peduli, toh nanti Myungsoo atau Sooji pasti akan bercerita padanya. Tapi sekeras apapun Jiyeon berusaha tak peduli, ia semakin penasaran.

“ Kalian pulang saja, aku ada keperluan sebentar “

Jiyeon meninggalkan Sooji dan Myungsoo yang mengajaknya pulang bersama dengan alasan kesibukan, padahal Jiyeon tidak tahu harus pergi kemana. Biarlah penasaran akan sikap keduanya ia ketahui belakangan saja. Ia butuh ketenangan.

Kaki Jiyeon mengantarkannya ke lapangan basket di belakang gedung kostnya. Jiyeon memandang ring basket, dan entah mengapa terbayang-bayang tubuh Myungsoo yang meliuk-liuk memasukkan bola kedalam ring. Mereka memang sering bertemu disini. Bukan untuk apa-apa melainkan Myungsoo yang selalu curhat dan meminta saran pada Jiyeon bagaimana caranya agar Sooji jatuh cinta pada namja itu. Jiyeon menggeleng kuat, kenapa ia jadi memikirkan Myungsoo ? Tidak biasanya.

Jiyeon memaksa tubuh tak semangatnya untuk duduk di sebuah bangku beton sepanjang satu meter yang tersedia disana. Kakinya ia luruskan dan membuang nafasnya lelah, baru saja ia ingin menatap langit sesosok bayangan muncul didepannya. Jiyeon menoleh kebelakang dan mendapati Myungsoo sudah berdiri tersenyum dibelakangnya. Pantulan cahaya bulan yang jatuh tepat diwajah namja itu membuat Myungsoo terlihat seperti seorang pangeran. Jiyeon sejenak mengagumi wajah tampan Myungsoo, sebelum akhirnya ia sadar harus bersikap biasa saja pada namja itu.

“ Sooji ? “ Tanya Jiyeon.

Kepala Jiyeon mengikuti sosok Myungsoo hingga namja itu duduk diujung yang berseberangan dengannya. Jiyeon masih melihat senyum itu. Senyum yang sejak tadi tak pernah luntur.

“ Aku sudah mengantarnya sampai kekamar kalian “

Jiyeon manggut-manggut tanda mengerti, kemudian ia diam karena Myungsoo juga diam. Jiyeon merasa aneh tidak hanya dengan Myungsoo yang menjadi sangat pendiam tapi selalu tersenyum, melainkan juga dirinya yang tiba-tiba gugup ada didekat Myungsoo. Jiyeon mencoba menetralkan perasaan gugupnya, tapi ia malah semakin gugup. Alhasil tidak ada celoteh yang biasa keluar dari bibirnya hingga membuat Myungsoo pusing.

“ Aku dan Sooji telah resmi menjadi sepasang kekasih. Kami sepakat untuk selalu bersama !!!! huuuuuhhhh yeaahhh !!!! “ Myungsoo berteriak dengan mengangkat kedua tangannya meluapkan perasaan gembiranya.

Hati Jiyeon mencelos. Berkebalikan dengan Myungsoo yang mengatakannya begitu bahagia, perasaan Jiyeon justru mendadak sedih. Sooji menerima Myungsoo ? Kapan ? Apa tadi sebelum ia akhirnya bergabung dan mengganggu keduanya. Pantas saja Myungsoo selalu tersenyum, rupanya berita sangat bahagia yang ia terima. Lalu mengapa sekarang ada perasaan tidak rela dan iri yang menyelinap masuk dan bersemayam didirinya. Apakah Jiyeon kini sudah berubah menjadi seorang yang jahat, hingga berita bahagia oranglain terdengar sesak diterima perasaannya.
Jiyeon harus tersenyum, ia tidak boleh terlihat sedih yang akan membuat Myungsoo heran padanya. Perlahan Jiyeon mengukir senyum dibibirnya, meski akhirnya yang terlihat hanya senyum yang sangat tipis.

“ Chukae, akhirnya tidak sia-sia usahamu selama ini “

Myungsoo membiarkan Jiyeon meninggalkannya di lapangan basket sendirian. Ia memandang Jiyeon hingga tubuh gadis itu tidak lagi terlihat. Myungsoo menghempaskan nafasnya kuat dan kembali tersenyum.
Ia kemudian berdiri dan memutar tubuhnya untuk memandang sebuah jendela yang lampunya masih menyala. Ya. itu adalah kamar Sooji, yeoja yang resmi menjadi kekasihya kini, dan Jiyeon teman berbagi ceritanya. Kamar mereka terlihat jelas dari arah Myungsoo berdiri.

Myungsoo kembali memutar memorinya. Mengingat pertama kali ia bertemu Sooji disebuah kereta ketika keduanya akan pulang kerumah dua tahun lalu. Sooji nampak begitu letih hingga tertidur pulas dan kepalanya jatuh tepat dipundak Myungsoo. Awalnya Myungsoo merasa malu karena semua mata tertuju padanya, tapi untuk membangunkan yeoja itupun ia merasa tidak tega.

Myungsoo akhirnya memasrahkan dirinya menjadi sandaran Sooji hingga lima peron tempatnya berhenti terlewati. Sepanjang perjalanan ia mengamati Sooji. Meski ia tak bisa memandang bebas wajah yeoja itu karena tertutup masker, namun Myungsoo tahu yeoja itu adalah Bae Sooji. Bagaimana Myungsoo mengetahuinya ?

Jepit rambut yang melekat dikepala gadis itu yang berukirkan namanya. Bae Sooji. Jepit rambut yang sengaja Sooji pesan untuk menghiasi rambutnya, atau pemberian orang yang istimewa. Begitu pikir Myungsoo. Setelah itu keduanya kembali bertemu pada acara perpisahan dirinya yang akan berangkat ke Amerika mengurus perusahaan keluarga.

Wohyun sepupunya mengundang beberapa karyawan terbaiknya untuk datang. Tidak menyangka Tuhan menuntunnya untuk bertemu Sooji kembali. Sooji ternyata bekerja diperusahaan milik seupunya, yang artinya adalah perusahaan keluarga Kim. Saat Sooji memperkenalkan namanya, Myungsoo terkejut. Untuk membuktikan dugaannya, dengan gilanya ia meminta Sooji menunjukkan jepit rambut itu. Semakin terkejut karena Sooji dapat memperlihatkannya pada Myungsoo, meski wajahnya memandang Myungsoo aneh.

Myungsoo tidak mungkin menunda kepergiannya, ia pun meminta sepupunya Wohyun untuk memberi kabar apapun tentang Sooji, hingga akhirnya Myungsoo mendapatkan nomor untuk tetap berkomunikasi. Sooji meresponnya sangat baik, membuat Myungsoo berjanji dalam hati jika ia pulang nanti akan langsung melamar Sooji.

Namun keadaan berubah ketika Myungsoo pulang dari Amerika satu tahun lalu. Sooji yang sangat ramah ketika membalas pesan kakao talknya terlihat berbeda ketika Myungsoo pulang dan menemui yeoja itu. Sooji terlihat acuh dan terkesan jual mahal. Myungsoo merasa tidak sedekat ketika ia berbalas pesan melalui email atau kakao talknya, justru yeoja lain yang menjadi teman sekamarnya yang terlihat sangat ramah dan menerima Myungsoo.

Park Jiyeon. Ketika Myungsoo datang dan tidak mendapatkan Sooji disana, Jiyeon selalu menemaninya. Gadis itu bahkan seperti lebih tahu tentang dirinya ketimbang Sooji. Jiyeon seringkali memberikan saran untuk ia mendekati Sooji. Sifatnya yang blak-blakan juga membuat Myungsoo merasa nyaman dan tidak merasa mereka baru saja saling kenal. Bisa dibilang Myungsoo lebih sering bersama dengan Jiyeon dibandingkan Sooji. Keduanya hampir tiap minggu bermain basket dilapangan belakang kost-an Jiyeon, tentunya tanpa sepengetahuan Sooji.

Tapi kini semuanya sepertinya akan berubah, Myungsoo harus membatasi pertemuannya dengan Jiyeon. Seperti kata gadis itu, waktu itu akan segera datang. Waktu dimana Sooji akan membalas menatapnya, dan ketika waktu itu benar-benar datang, lapangan basket mungkin hanya akan jadi kenangan. Myungsoo tentu saja akan sibuk dengan kekasihnya, bukan temannya.

“ Mulai besok mungkin kamu yang akan kuajak ke tempat ini, bukan yeoja lain “ Ucap Myungsoo seolah berbicara pada Sooji.

Beberapa minggu berlalu. Jiyeon mulai merasakan perubahan sikap Sooji. Gadis itu rupanya benar-benar sudah menerima Myungsoo menjadi kekasihnya. Teman sekamarnya itu bahkan tidak pernah tinggal dirumah dihari libur. Meninggalkan dirinya hanya bersama kepingan-kepingan dvd yang mungkin sudah berpuluh-puluh kali ia putar dalam satu judul.

Dulu dihari libur ia dan Sooji selalu membuat jadwal membersihkan kamar bersama. Memasak ramen dan menikmatinya bersama, pergi ke mall untuk sekedar mencuci mata dan mencari film bajakan terbaru untuk mereka tonton bersama, semua yang mereka lalui selalu bersama-sama.

Jiyeon memang tidak bisa mengatakan dirinya sangat kehilangan Bae Sooji, karena sebenarnya Sooji memang belum menjadi sahabatnya, hanya teman yang saat ini paling dekat.

Keduanya bertemu karena hal lucu yang tidak disengaja. Jiyeon dan Sooji sama-sama gadis perantauan, keduanya berasal dari desa yang sangat jauh dari Seoul. Ketika itu Jiyeon baru saja diterima bekerja disebuah perusahan sepatu terbesar di Seoul, sama halnya dengan Sooji yang mendapatkan pekerjaan di Kim’s Group. Mereka memutuskan untuk menyewa kamar kost.

Tempat kost yang mereka datangi ternyata hanya menyisakan satu kamar, keduanya bersikeras jika ia lah yang berhak mendapatkan kamar itu, sampai-sampai keduanya sempat beradu mulut hingga mengganggu penghuni lainnya. Akhirnya pemilik kost memberikan jalan keluar untuk mereka menjadi teman satu kamar. Dengan terpaksa akhirnya mereka menyetujui usul pemilik kost.

Awalnya mereka menjalani hidup dalam satu atap saling diam tanpa sedikitpun bertegur sapa. Apapun yang masing-masing lakukan mereka berusaha tidak peduli. Sampai suatu ketika Sooji menderita demam. Tubuhnya bahkan tidak bisa bangun, mau tak mau Jiyeonlah yang merawatnya. Sejak itu mereka mencoba untuk saling mengenal lebih dekat, dan akhirnya saling peduli.

Sekarang Sooji tidak lagi seperti itu, ia telah menemukan belahan jiwanya. Dan itu adalah Kim Myungsoo. Jika boleh jujur, jauh dilubuk hati Jiyeon, ditinggalkan Sooji tidak sesakit ketika Myungsoo tak lagi memintanya untuk menemaninya. Jiyeon merasa lebih tersiksa kehilangan Myungsoo.

“ Issshhh ini tidak benar, tapi aku benar-benar rindu padanya “ Jiyeon meremas bagian jantungya kuat.

Merasa tidak nyaman dirumah, Jiyeonpun pergi keluar dan mendatangi lapangan basket sendirian. Ia mengedarkan pandangannya berkeliling, lalu tersenyum mengejek.

“ Mana mungkin dia ada disini dan muncul tiba-tiba, dia sedang bersama Sooji “ Lirih Jiyeon.

Jiyeon kemudian mulai mendrible bola dan berusaha memasukkan kedalam ranjang.

Tiga kali

Lima Kali

Sepuluh kali

Tidak satupun bola berhasil masuk ke ranjang. Jiyeon jatuh dan terduduk lemah dengan nafas memburu, tidak berapa lama ia mendengar suara bola yang memantul-mantul.

“ Myungsoo ? “

Jiyeon tidak menyangka Myungsoo datang dan menemuinya. Senyum Jiyoen mengembang begitu lebar. Akhirnya ia bisa melihat Myungsoo setelah beberapa hari mereka sama sekali tak bertemu, namun senyumnya kembali surut ketika Myungsoo dengan dagunya menunjuk seseorang dibelakang Jiyeon.

“ Jiyeon-aa, mengapa sudah malam kau masih saja bermain basket eoh ? “

Benar, Myungsoo tidak mungkin lagi menemuinya sendirian. Tujuannya ketempat ini adalah mengajak Sooji bukan menemuinya. Jiyeon berusaha bangkit.

“ Eoh, aku bosan sendirian di dalam kamar, jadi aku datang kesini “ Ucap Jiyeon.

Sooji memeluk tubuh Jiyeon, dan menepuk-nepuk pundaknya “ Mianhae, lain kali aku akan mengajakmu bersama. Kita akan berkencan bertiga, bagaimana ? “ Tanya Sooji menghibur Jiyeon.

Jiyeon tersenyum pahit. Untuk sekarang ini, ia lebih terkesan sensitif. Padahal Soojikan hanya berusaha menghiburnya, namun ditelinga Jiyeon tawaran itu seperti meledeknya.

“ Atau sebaiknya kau cepat cari seorang kekasih “ Sambung Sooji semakin membuat Jiyeon merasa tidak nyaman.

Jiyeon melirik Myungsoo yang masih asyik mendrible bola, hanya sekali lemparan bola berhasil masuk ke dalam ranjang.

Sooji menyadari arah pandang Jiyeon, ia kemudian tersenyum “ Aku baru sadar Myungsoo begitu baik, gomawo kau telah membuka mataku. Kelak kau harus mencari pria sepertinya, yang sangat tampan dan baik hati. Tapi…..sepertinya akan sulit, mungkin akan muncul seratus tahun sekali, jadi…. “

“ Jika begitu serahkan Myungsoo untukku saja “

Dug

Dug

Dug

Bola basket terlepas dari tangan Myungsoo, dan mengelinding sembarang. Meski sedang asyik dengan basket ditangannya, setiap pembicaraan Sooji dan Jiyeon, Myungsoo mendengarnya. Bahkan sebenarnya fokus Myungsoo ada pada mereka bukan bola basket.

“ Hahhaha…..aku hanya bercanda. Huh malam ini panas sekali. Sepertinya akan segera turun hujan “ Jiyeon sadar ia telah membuat suasana berubah tak nyaman “ Kalian menganggapnya serius ? aku sudah punya namja yang kusukai. Tenang saja, dan cukup doakan semoga aku berhasil mendapatkannya “ Ucap Jiyeon yang ia sendiri tidak tahu apa maksud celotehannya.

Sooji menarik nafasnya lega. Hampir saja ia memiliki dugaan buruk pada Jiyeon, beruntung yeoja sinting itu hanya bercanda. Ia kemudian menoleh ke arah Myungsoo. Meskipun tersenyum, semburat-semburat ketegangan masih terlihat jelas. Sooji mengabaikan pikiran buruknya. Ia percaya pada keduanya.

Beberapa bulan berlalu. Sooji dan Myungsoo semakin tidak terpisahkan, bahkan keduanya sudah saling berkunjung kerumah orangtua masing-masing. Orangtua Myungsoo meskipun berasal dari keluarga kaya namun tidak memandang Sooji sebelah mata, mereka bilang asal Myungsoo bahagia, maka mereka pasti merestui.

Sedangkan orangtua Sooji, tentu saja sangat setuju. Mendapatkan Myungsoo yang akan jadi calon menantunya seperti mendapat berkah dari langit. Merekapun dengan senang hati menyerahkan Sooji pada Myungsoo.

Siang ini jadwal Sooji untuk fitting gaun pengantinnya. Myungsoo tidak bisa menemani karena ada rapat penting dikantornya. Sebagai teman Jiyeon tentu tidak tega membiarkan Sooji sendirian. Ia kemudian menemani Sooji untuk mencoba gaun pengantinnya.

Sambil menunggu Sooji yang sedang mencoba gaunnya, Jiyeon duduk disofa seraya melihat-lihat galeri foto di ponselnya. Sampai detik ini ia belum menghapus satupun foto-foto kebersamaannya dengan Myungsoo. Ia takut akan merindukan pria itu nantinya, meskipun ia harus tetap berusaha melupakannya.

“ Aku tidak mungkin tega membangunkan yeoja yang sedang tertidur dipundakku, meskipun ia seorang nenek tua “

Jiyeon tersenyum ketika mengingat kalimat yang Myungsoo ucapkan pertama kali mereka bertemu di dalam sebuah kereta, sayangnya ketika itu ia baru sembuh dari penyakit cacar hingga harus memakai masker kemanapun ia pergi.

“ Jiyeon-aa, bagaimana ? “

Jiyeon tersentak dan segera menutup galerinya. Ia tertegun sejenak melihat Sooji yang sudah menggunakan gaunnya. Cantik sekali, seperti bidadari yang turun dari syurga. Myungsoo sangat beruntung mendapatkan Sooji yang cantik. Tidak bahkan Soojipun beruntung mendapatkan Myungsoo yang tampan, keduanya sangat serasi.

“ Kau cantik sekali, kau calon pengantin yang paling cantik yang pernah aku lihat…Bae Sooji “

Sooji tersenyum senang dengan pujian Jiyeon, namun tidak lama ia menarik senyumnya kembali. Ia melihat airmata dari sudut mata Jiyeon ketika mengucapkannya. Temannya itu terlihat menahan sesak didadanya.

“ Jiyeon-aa waeyo, kenapa kau menangis ? “

Sooji berjalan untuk mendekat, ia kemudian memeluk Jiyeon erat. Ia paham bahwa Jiyeon pasti sangat bersedih karena ia akan meninggalkannya. Memang sangat sedih tinggal di tempat yang jauh dari keluarga seorang diri. Kadang mereka berduapun bosan harus melakukan apalagi jika hari libur datang.

“ Aku akan tetap bersama denganmu, dan Myungsoo juga pasti tidak akan membiarkanmu sendiri, uljima !!! “

Jiyeon tidak tahu harus mengatakan apa. Ia sangat sedih, meski ia juga tidak tahu kenyataan apa yang membuat ia begitu sedih seperti ini.

Selesai mengambil gaunnya, Sooji mentraktir Jiyeon minum milkshake disebuah cafe dekat dengan jalan. Tidak lagi terlihat raut sedih Jiyeon, yeoja itu sudah bisa tersenyum seperti sedia kala. Sooji menatap Jiyeon seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan.

“ Jiyeon-aa, apa aku harus jujur pada Myungsoo ? “

Jiyeon yang sedang sibuk menyeruput milkshake menanggapi Sooji santai “ Tentang apa ? “

Sooji menunduk nampak seperti sedang menimbang sesuatu.

“ Jika sebenarnya selama ini yang ia kira aku adalah kau “

Jiyeon menghentikan tangannya yang sibuk mengaduk milkshake dengan sedotan, ia kemudian memandang Sooji tersenyum.

“ Sudahlah, itu tidak lagi berguna. Kalian sebentar lagi akan menikah “ Ucap Jiyeon masih santai menanggapi.

Sooji menggigit bibirnya, nampak masih ada sesuatu yang mengganjal.

“ Aku hanya tidak ingin ada kebohongan untuk memulai rumah tangga kami saja. Bukankan sesuatu yang diawali kebohongan akan berakhir tidak baik ? “

Jiyeon meraih tangan Sooji dan menggengamnya lembut “ Memangnya jika kau bercerita akan ada yang berubah ? Apa yang kau harapkan dari pengakuanmu itu ? Myungsoo sangat mencintaimu dan selamanya akan tetap mencintaimu “ Ucap Jiyeon meyakinkan.

Sooji menghela nafasnya lemah “ Sebenarnya aku juga ingin tahu apa reaksinya jika ia tahu orang yang sebenarnya bertemu dikereta adalah kau yang meminjam jepit rambutku, dan yang membalas setiap email dan pesannya selama ia diluar negeri juga adalah dirimu. Aku benar-benar penasaran “ Ucap Sooji antusias.

Jiyeon merubah raut wajahnya. Sebenarnya ia juga sangat ingin Myungsoo tahu tentang hal itu, tapi ia takut akan ada masalah dikemudian hari. Bagus jika Myungsoo akhirnya maklum, tapi kalau pria itu marah padanya bahkan pada Sooji ? Pengakuan itu memang bukan apa-apa, toh Myungsoo memang jatuh cinta ketika melihat Sooji, bukan pada dirinya yang membalas setiap pesannya, dan bertemu dikereta saat wajahnya tertutup masker.

“ Jiyeon-aa, kau tidak punya sedikit perasaan pada Myungsoo kan ? “

Jiyeon sontak menatap wajah Sooji. Ia nampak tidak senang denan pertanyaan Sooji. Ia bangkit dan meraih tasnya

“ Kau ini, pertanyaan macam apa yang kau tanyakan padaku “ Ucap Jiyeon dan langsung meninggalkan Sooji.

Sooji terkejut dengan reaksi Jiyeon, ia pun bangkit untuk menyusul

“ Jiyeon-aa tunggu. Aku hanya bercanda, selama ini kau yang lebih dekat dengan Myungsoo, jadi aku hanya ingin memastikan aku tidak menikah diatas rasa bersalahku “

“ Sooji hentikan pertanyaan konyolmu, aku akan marah jika kau terus menanyakan tentang itu “ Jiyeon terus mengomel seraya menyebrang jalan, ia tidak sadar jika Sooji tertinggal cukup jauh, bahkan kini sibuk membetulkan sepatunya yang menyangkut di gorong-gorong jalan.

“ Jiyeon-aa tunggu sebentar !!!! Iiisshhh sepatu ini “

Sooji sibuk dengan sepatunya, sesekali ia melihat kedepan memastikan ia tidak kehilangan jejak Jiyeon. Sepatunya belum berhasil ia lepaskan, sampai sebuah truk yang membawa makanan yang diawetkan muncul dari arah tikungan, Sooji tak menyadarinya.

“ Nona awassssssssss !!! “

Terdengar suara beberapa orang memperingati, namun terlambat Sooji tidak bisa menghindar dan akhirnya tubuhnya terpental karena tertabrak truk.

Brakkkk

“ Arrrgkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk “

“ Ya Tuhannnnnnnn wanita itu !!!! “

“ Hei cepat-cepat bantu dia !!! “

Langkah Jiyeon terhenti ketika suara benturan dahsyat , lengkingan kuat, dan teriakan banyak orang terdengar. Jiyeon menoleh dan melihat orang-orang sudah berkerumun ditengah-tengah jalan. Jantung Jiyeon berdetak kuat. Ia mengedarkan pandangannya untuk mencari Sooji yang tadi berjalan dibelakangnya.

“ Sooji ? “

“ Sooji ??? “

Tidak melihat sosok Sooji, Jiyeonpun setengah berlari kini menuju kerumunan. Kerumunan orang-orang membiarkan Jiyeon mendekat, tepat ketika sosok yang tergeletak itu terlihat Jiyeon menutup rapat mulutnya.

“ Soojiiiiiiiiiiiiiiiii “

Jiyeon nampak syok mendapati tubuh Sooji tergeletak bersimbah darah. Ia berteriak kuat dan mengangkat tubuh tak sadarkan diri temannya itu erat dan panik.

To be continued.

Kangen dah lama ga nulis, jadi terkesan kaku dari cerita dan bahasanya. Mianhae aku muncul dengan ff lain, aku lagi stuck sama dua ffku tapi merasa bersalah karena menghilang terlalu lama. Jadi untuk menebusnya aku coba post yang muncul di otakku dulu, jadi jangan hakimi aku yah. Aku akan berusaha untuk mencicil ff COT dan AMOH. Aku usahain post cepat. Gomawo

103 responses to “[ TWOSHOT – PART 1 ] MY NAME IS JIYEON

  1. aku jadi ikut terbawa suasana nih. ternyata selama ini yg di kereta itu jiyeon buka suji, penasaran kelanjutannya. bagus kak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s