[CHAPTER-PART 6] Reflection

jungarflctin-4

Author: Junganim || Title: Reflection

Main cast: Jiyeon, Myungsoo || Other cast: Minah, Jimin, Taehyung, Suzy

Genre: Romance, Marriage life, School life || Length: Chapter

Rating: PG 15 || Disclaimer: Don’t copy, this story pure mine.

Summary: Jiyeon menyukai sunbae nya yang baik hati bagai malaikat dan berangan-angan akan menikah dengan sunbaenya tersebut kelak nanti, tetapi takdir berkata lain. Angan-angan itu hancur karena sebuah perjodohan konyol yang dilakukan kedua belah pihak. Ia dijodohkan dengan seorang laki-laki yang memiliki sifat dingin bagai es.

                       Previous chapter: Prolog | 1 | 2 | 3 | 4 | 5a | 5b

.

.

.

Myungsoo berjalan dalam kesunyian menuju hotel. Suara Jiyeon sudah tak terdengar sejak tiga menit yang lalu. “Jiyeon-ah?” panggilnya, namun tak ada jawaban. “Kau sudah tidur?” tetap tak ada jawaban.

“Baiklah, jika kau sudah tidur. Apa kau ingin mendengar ceritaku?” tanyanya, walaupun ia tahu bahwa gadis itu tak akan menjawab pertanyaannya.

“Awalnya aku menolak untuk dipulangkan ke Korea, karena appa-ku memaksa dan mengancam akan menarik semua fasilitasku, mau tak mau aku harus menuruti kemauannya untuk dinikahkan dengan anak temannya. Seharusnya, bukan aku yang menikah denganmu. Tapi kakak-ku, Kim Junmyeon. Lelaki yang selama ini kau sukai.” Ia menghela nafas.

 “Dua tahun yang lalu, kekasihnya meninggal karena bunuh diri. Pada malam saat kematiannya, ia menelfon kakak-ku untuk menjemputnya di jembatan sungai han. Tapi kakak-ku menolak, dan beralasan sibuk karena harus mengurus perusahaan appa-ku. Setelah kejadian itu, ia trauma dan selalu merasa bersalah pada keluarga kekasihnya hingga saat ini.”

Jiyeon mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Myungsoo, ia tak tidur. Gadis itu hanya lelah dan memejamkan matanya. Jiyeon terkejut saat mendengar semua pengakuan Myungsoo, tentang kakak-nya.

Jadi itu alasannya.

.

.

.

{6 – A Thousand Flowers}

“Apa aku boleh bertanya?”

Myungsoo hanya diam dan fokus pada setiap jalanan di hadapannya tanpa memperdulikan pertanyaan Jiyeon barusan. Namun jika ia tetap tak menjawab pertanyaan tersebut, gadis itu akan terus berbicara dan membuat telinganya sakit. Mau tak mau, akhirnya ia menoleh dan melepaskan kacamata hitamnya lalu mengangguk pelan setelah itu.

“Jika aku berulangtahun, apa kau akan memberikanku sebuah hadiah?” Tanya Jiyeon penuh harap.

Myungsoo menggeleng.

Ish. Kukira kau akan menjawab ‘ya’ atau mengangguk. Menyebalkan! Aku benci padamu. Dengar dan ingat ya, aku seorang Park Jiyeon membencimu Kim Myungsoo!” Katanya sebal akibat jawaban yang baru saja ia terima.

Ssst! Diamlah. Sejak keluar dari hotel kau terus saja mengoceh, membuat kepala dan telingaku sakit.”

Jiyeon melipat kedua tangannya di depan dada, lalu duduk memebelakangi Myungsoo dan menatap keluar jendela mobil dengan wajah yang ditekuk. Mulai detik ini, ia tak akan pernah mau berbicara dengan seorang lelaki bernama Kim Myungsoo. Si patung berjalan dan makhluk mengerikan itu.

Ia bersumpah.

.

.

Pukul dua siang mereka baru sampai dirumah akibat jalanan yang padat. Bibi Jung menyambut mereka berdua di depan pintu dengan senyum hangatnya. Jiyeon yang melihat bibi Jung berdiri menunggu kedatangannya langsung berlari dan memeluk wanita paruh baya itu.

“Aku sangat merindukanmu, ahjumma. Aku juga rindu dengan masakanmu.” ujar Jiyeon sembari tersenyum.

“Aku juga merindukanmu, nona. Makanlah, aku sudah buatkan makanan untuk kalian berdua.”

Woah, kau tahu saja jika aku sedang lapar.”

Jiyeon masuk kedalam setelah mengganti sepatunya dengan slipper, disusul oleh Bibi Jung. Sementara itu Myungsoo sedang mengeluarkan koper miliknya dan milik Jiyeon dari dalam bagasi mobil seorang diri. Ia menarik kedua koper itu kedalam rumah dan meletakkannya di dekat sofa ruang tamu dan ikut serta memakan masakan yang telah dibuatkan bibi Jung.

Ahjumma,” panggil Jiyeon saat wanita yang berumur jauh lebih tua darinya itu sedang menata makanan di atas meja.

“Ada apa, nona?”

“Kau tahu? Myungsoo sangat kejam. Ia tak memberiku makan dan dia—“

Eoh, ahjumma, apa kau sudah makan? Makanlah bersama.” Potong Myungsoo sambil menginjak kaki Jiyeon.

“Ya! Ack. Appeuda, kakiku..eoh.” Jerit Jiyeon kesakitan. “Astaga, Myungsoo. Lihat itu kakiku.. aish, kau ini,” Katanya sambil menunjuk telapak kakinya yang semalam berdarah. “Untung darahnya tak keluar, jika keluar lagi. Akan kuhajar kau!”

Bibi Jung yang melihat kelakuan dua anak muda dihadapannya itu hanya tertawa pelan sambil menuangkan air kedalam gelas.

.

Di dalam kamarnya, Myungsoo memandangi kotak yang semalam Jiyeon berikan padanya. Di dalam kotak tersebut terdapat sebuah foto berbingkai hitam yang diambil sekitar dua bulan lalu, difoto itu terdapat dirinya bersama Suzy sedang duduk bersama di suatu taman dengan dedaunan yang sedang berguguran. Keduanya nampak bahagia satu sama lain.

Di balik bingkai foto itu tertulis. ‘Love, the only one word. I love you Kim Myungsoo.’

Terlambat. Kini dirinya sudah terikat sebuah pernikahan dengan seorang gadis yang tak ia kenal sebelumnya.

Tok..tok..

Suara ketukan pintu membuat Myungsoo tersadar dari lamunannya memandangi foto tersebut. Ia bergegas membuka pintu kamarnya dan mendapati bibi Jung sedang berdiri dengan kedua tangannya memegangi sebuah amplop berwarna coklat muda.

“Apa itu?” Tunjuk Myungsoo pada benda yang dibawa bibi Jung.

“Kemarin ada seseorang yang mengantarkan ini, ia bilang ini untukmu.”

Myungsoo menerima amplop coklat muda tersebut dari tangan bibi Jung dengan raut wajah yang penasaran dengan isi di dalamnya. “Terimakasih, ahjumma.” Katanya.

“Aku juga ingin pamit pulang, makan malam sudah kusiapkan. Panaskan saja jika kalian berdua ingin memakannya. Aku permisi, tuan..” Myungsoo mengangguk, mengiyakan kata-kata bibi Jung barusan.

Amplop yang baru di ambilnya dari tangan bibi Jung diletakkan di atas meja belajar, lalu mengeluarkan isi amplop tersebut yang berisi sebuah foto dirinya bersama seorang gadis yang tak lain adalah Jiyeon. Didalam foto tersebut terlihat dirinya sedang menggendong Jiyeon, seperti kejadian tadi malam.

Sebelah alis mata Myungsoo terangkat. Heran dengan semua foto-foto tersebut. Myungsoo membatin. Apa maksudnya, dengan foto-foto ini?

Berseling dua menit dari keheranannya, tiba-tiba terdengar keras suara musik dari dalam kamar Jiyeon, lantas laki-laki itu mengetuk kuat pintu disebelah kamarnya.

Eo?  Sedang apa kau disini?” Tanya Jiyeon dengan separuh badan yang keluar dari pintu.

“Matikan. Musikmu itu sangat mengganggu.” Suruh Myungsoo.

“Memangnya salah jika aku ingin bersenang-senang dengan cara seperti ini? Dan, oh iya. Sepertinya aku sedang marah padamu.” Katanya sembari membuka lebar pintunya, kemudian melipat kedua tangannya di depan dada.

“Terserah padamu.” Ujar Myungsoo tak peduli, lalu kembali masuk kedalam kamarnya.

“Tunggu,” Tahan Jiyeon. “Apa itu di tanganmu?” Tanyanya penasaran dengan benda yang dibawa Myungsoo. Tanpa berpikir panjang, Myungsoo langsung menunjukan foto tersebut pada Jiyeon. Sama halnya dengan Myungsoo, gadis itu pun terheran-heran saat melihat foto tersebut.

“Darimana kau dapatkan foto ini?”

.

“Aku sudah sampai.”

“Baiklah, aku akan segera kesana.”

Tut..

Sambungan telfon antara dua orang itu terputus, Jiyeon yang baru saja menerima telfon dari Junmyeon langsung merapihkan tataan rambutnya dan segera menghampiri Junmyeon yang sudah menunggu dirinya diluar.

Bersamaan dengan keluarnya Jiyeon, Myungsoo pun keluar dari kamarnya hendak memanaskan makan malam. Lelaki itu memandang heran penampilan Jiyeon yang rapih dengan setelan gaun selutut berlengan panjang.

Diliriknya jam yang terpasang ditangan kirinya. Pukul tujuh kurang sepuluh menit.

“Kau?! mengapa berpenampilan seperti itu?” Tanyanya sambil memandangi Jiyeon dari atas hingga kebawah, bagai seorang juri busana yang sedang menilai pesertanya.

“Memangnya itu urusanmu?” Tanya Jiyeon angkuh.

Myungsoo terdiam sejenak, tertegun dengan ucapan Jiyeon yang terdengar berbeda dari biasanya. Kemudian ia menggeleng.

“Baguslah, jadi aku tak usah repot-repot menjawab pertanyaanmu itu.” Lalu Jiyeon berjalan keluar meninggalkan Myungsoo di depan kamar.

Myungsoo memandangi punggung Jiyeon yang semakin jauh dari hadapannya. Ada perasaan sesak saat Jiyeon berkata seperti tadi, dan rasa ingin tahu perihal kepergiannya dengan penampilannya yang terlihat rapih.

“Ada apa dengannya?” gumam Myungsoo heran.

Kemudian ia kembali kedalam kamarnya dan lebih memilih untuk membaca buku. Selera makannya hilang karena gadis itu.

.

Sudah berjam-jam Myungsoo membaca buku diatas kasurnya, bersamaan dengan itu pun dirinya merasa gelisah dan selalu menatap layar ponsel setiap 5 menit. Entah setan apa yang sedang merasuki dirinya sehingga ia berperilaku tak seperti biasanya.

Bugh.

Buku yang sedang dibacanya tiba-tiba saja dilemparkan ke bawah kasur, membuat slipper nya sedikit tergeser karena buku tebal itu. Ia menatap panik jam yang terletak di meja kecil sebelah kasurnya. Pukul setengah duabelas malam lebih.

“Apa aku harus menghubunginya?! Aaaiiishhh!!” Pikirnya bimbang.  “Ada apa denganku?!”

Tok..tok..

“Myungsoo, kau kenapa? Tolong buka pintunya!” Pinta Jiyeon masih dengan mengetuk-ngetuk pintu kamar Myungsoo.

Lelaki itu mematung sejenak, terkejut dengan kedatangan secara tiba-tiba seseorang yang sedang dikhawatirkannya. Sadar akan suara Jiyeon yang terus memanggil, Myungsoo berjalan membukakan pintu untuk gadis itu.

“Kau kenapa? Apa kau bermimpi buruk? Kudengar ada sesuatu yang jatuh dari dalam kamarmu, dan lagi kau berteriak seperti itu.” Tanya Jiyeon panik.

Myungsoo lebih memilih diam dan berjalan meninggalkan Jiyeon menuju dapur, lalu mengambil segelas air untuk diminum. Melihat wajah Myungsoo yang pucat dengan sikapnya yang seperti itu malah membuat Jiyeon semakin khawatir dan berinisiatif untuk menghampirinya.

“YA!” Teriaknya sambil memukul bahu Myungsoo dari arah belakang. “Ada apa denganmu? Jangan membuatku khawatir seperti ini. Wajahmu pucat, kau sakit? Atau kau belum makan?” Tanya Jiyeon, dari nada bicaranya saja terdengar bahwa gadis itu benar-benar mengkhawatirkan Myungsoo.

Yang dikhawatirkan hanya menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan Jiyeon yang menanyakan perihal kesehatannya. Ia memang tidak sakit, wajah pucat yang sekarang tertempel diwajahnya dikarenakan rasa cemas jika Jiyeon mendengar perkataannya saat dikamar tadi, bahwa ia sedang mengkhawatirkan gadis itu. Mau diletakkan dimana wajahnya nanti. Ugh, itu sungguh memalukan untuk Myungsoo.

Myungsoo menatap Jiyeon tepat dimatanya. “Jiyeonie..”

hm?”

Mereka terdiam cukup lama. Entah apa yang membuat tubuh Myungsoo terdorong untuk memeluk gadis dihadapannya setelah itu. Ia terkejut saat mengetahui bahwa dirinya memeluk Jiyeon erat, sama halnya dengan Jiyeon yang tak kalah terkejut.

“Jangan tinggalkan aku.” Bisik Myungsoo tepat ditelinga Jiyeon dengan suara yang parau, tak lama Myungsoo pun melepaskan pelukannya. “Ganti bajumu sebelum kau pergi tidur, aku tak apa. Tak usah mengkhawatirkanku.”  Lanjutnya.

Jiyeon diam, memandanginya. “Kau serius tak apa?” Tanyanya sembari menyentuh kening Myungsoo hendak memeriksa kadar suhu tubuh lelaki itu. “Badanmu tak panas, tapi mengapa tiba-tiba kau menyuruhku untuk tidak meninggalkanmu? Membuatku takut saja.” Lanjutnya.

Myungsoo terkejut. Ternyata Jiyeon mendengar bisikannya barusan, padahal menurutnya suara seperti itu tak akan ada yang dapat mendengarnya.

“Apa?! Kapan aku berbicara seperti itu? Kau salah dengar, sudahlah. Sudah malam, masih banyak tugas yang belum kukerjakan. Kau cepatlah pergi tidur.” Jawabnya salah tingkah, lalu kembali kedalam kamarnya meninggalkan Jiyeon seorang diri.

Jiyeon tertawa pelan melihat tingkah Myungsoo yang seperti itu. Jelas sekali bahwa ia mendengar Myungsoo mengatakannya, dan lagi.. seingatnya jika libur kenaikan kelas tak akan ada guru yang memberikan tugas untuk dikumpulkan. Dan seharusnya memang seperti itu, bicara tentang tugas Jiyeon teringat bahwa libur panjangnya akan segera berakhir besok.

***

Seiring berjalannya waktu dan tepat pada awal bulan Juni, usia pernikahan mereka sudah memasuki usia satu bulan. Myungsoo dan Jiyeon juga terlihat mulai akur. Ya, walaupun terkadang mereka masih meributkan hal-hal kecil. Tapi itu adalah suatu kemajuan bagi mereka berdua.

Satu minggu yang lalu para pelajar sekolah sudah mulai kembali ke rutinitas masing-masing setelah diberi libur panjang. Jiyeon sangat antusias ketika hari pertama masuk sekolah dan sangat berharap akan satu kelas kembali dengan sahabatnya, Minah. Tapi harapannya itu harus luntur karena Minah berada dikelas 3-2 bersama Myungsoo dan Suzy, sedangkan dirinya berada dikelas sebelah, 3-3.

“Jiyeon-ah! Selamat pagi.” Sapa seorang gadis saat Jiyeon memasuki kelas yang sudah sekitar 1 minggu ini menjadi tempatnya menuntut ilmu.

Eoh?  Selamat pagi,Youngji-ya. Pagi sekali kau datang.”

“Hari ini Ayahku yang bertugas mengantarkan susu, apa kau sudah sarapan? Aku membuat 2 roti selai, makanlah bersamaku.” Katanya dengan nada yang sangat manis dan diiringi dengan senyumnya yang tak kalah manisnya.

Youngji adalah teman baru Jiyeon ditingkat ketiga SMA, mereka tak pernah satu kelas sebelumnya. Namun Jiyeon sering melihat gadis itu seorang diri di taman belakang sekolah sebelum mereka berteman. Menurut Jiyeon, Youngji adalah gadis yang manis dan baik hati, itulah alasan Jiyeon ingin berteman dengannya. Berbeda dengan orang-orang yang menganggap Youngji hanyalah sebagai anak penjual susu keliling.

.

“Jiyeon-ah, Sampai jumpa! aku harus membantu ayahku menyiapkan botol-botol susu untuk dijual besok. Annyeong!

Suara manis Youngji menyadarkan Jiyeon dari lamunannya, lantas Jiyeon menoleh dan mengangguk sambil tersenyum membalas perkataan gadis itu. Dilihatnya teman-teman kelasnya sedang sibuk memasukkan barang-barang kedalam tas dan bersiap untuk pulang, hanya dirinya yang belum merapihkan buku-buku serta alat tulis.

“Kau tidak pulang?” Tanya seseorang yang lagi-lagi menyadarkan Jiyeon dari lamunannya.

Eoh? Aku? Eung…sebentar lagi.” Jawabnya sambil tersenyum.

Hmm..baiklah, sampai jumpa besok. Jangan terlalu sering melamun! Annyeong!” Ujar seseorang yang sebelumnya pernah menjadi teman sekelasnya.

Oh Sehun.

.

.

“Myungsoo, cepat turun! Aku sudah panaskan makan malam.” Teriak Jiyeon dari ruang makan sambil meletakkan hidangan makan malam mereka.

Tak lama setelah Jiyeon selesai meletakkan lauk pauk di atas meja makan, Myungsoo turun menggunakan kaos putih lengan panjang dan celana abu-abu panjang dengan rambut yang masih basah serta handuk yang melingkar dilehernya. Kemudian ia menarik kursi yang berhadapan dengan Jiyeon.

“Cepat habiskan ini, jika tidak segera dihabiskan, makananmu akan mendingin.” Suruh Jiyeon.

Myungsoo hanya mengangguk, mengiyakan semua ucapan Jiyeon dan menghabiskan makanannya dalam diam. Setelah itu ia kembali kedalam kamarnya untuk mengerjakan tugas yang diberikan siang tadi oleh gurunya.

Lain hal nya dengan Jiyeon, setelah menghabiskan makan malamnya dan membereskan sisa-sisa makanan, ia langsung bergegas menuju ruang tv untuk menonton drama kesukaannya, mengingat bahwa hari ini tak ada tugas yang harus ia kerjakan.

Ting..tong

“Tunggu sebentar, aku segera kesana!” Seru Jiyeon sembari berlari menuju pintu utama untuk melihat siapa yang datang.

Annyeong, noona!” Sapa Taehyung dengan cengirannya yang khas.

Eo? Taehyung-ah, apa yang kau lakukan malam-malam seperti ini?” Tanya Jiyeon heran melihat adik iparnya itu membawa dua tas yang memenuhi kedua tangannya.

Eomma menyuruhku untuk menginap disini sampai ia dan Appa kembali dari luar kota, katanya ada urusan yang sangat penting dan harus segera diselesaikan.” Jelas Taehyung.

Mmm..baiklah.” gumam Jiyeon.  “Apa kau sudah makan malam? Dikulkas masih ada beberapa makanan, jika kau lapar hangatkan sendiri ya..kkk.” sambungnnya  sembari mengacak gemas rambut adik iparnya.

Kemudian Taehyung bergegas masuk dan menutup pintu. “Eoh, noona. Sepertinya, Jimin juga akan menginap disini.” Katanya kepada Jiyeon yang sudah berada didepan televisi.

Jiyeon menoleh sebentar dan mengangguk lalu kembali menatap layar televisi. Taehyung pun menenteng tasnya menuju dapur untuk melihat sisa makanan apa yang masih tersisa didalam kulkas. Baru ia menyentuh ujung pintu kulkas, bel rumah itu berbunyi kembali. Segera ia berlari menuju pintu utama dan membukanya.

Seseorang yang berdiri didepan pintu dan menenteng dua tas besar, sama seperti yang dilakukan Taehyung sebelumnya terkejut melihat siapa yang membukakan pintu untuk dirinya. “Sedang apa kau disini?” Tanya seseorang itu yang ternyata adalah Jimin.

“Menginap.” Jawab Taehyung yang disusul dengan cengiran khasnya, kemudian berlari meninggalkan Jimin didepan pintu.

Jimin pun menggeleng melihat tingkah laku Taehyung yang bisa dibilang seperti anak kecil itu. Setelah itu ia menyusul Taehyung kedalam rumah setelah menutup dan mengunci pintu. Dilihatnya Jiyeon yang sedang asik menonton televisi.

Noona, aku akan menginap untuk beberapa hari.”

Jiyeon menoleh. “Aku sudah tahu, makanlah bersama Taehyung.”

Jimin mengangguk kemudian meletakkan bawaannya didekat ruang tv, lalu menyusul Taehyung yang sudah lebih dulu berada di dapur.

.

Keesokan paginya, Myungsoo keluar dari kamarnya menuju ruang makan dan melihat Jiyeon, Taehyung, dan Jimin sudah menunggunya di meja makan. Jiyeon lah orang pertama yang menyadari bahwa Myungsoo memiliki tanda hitam dibawah matanya.

“Astaga, ada apa dengan matamu, Myungsoo? apa kau tidak tidur semalaman?” Tanya Jiyeon yang membuat semua orang yang berada diruang makan termasuk bibi Jung serentak menoleh kearah laki-laki itu. Myungsoo hanya diam dan menarik kursi kosong dihadapan Jiyeon.

“Itu salah kami berdua, karena semalam aku dan Taehyung bertengkar merebutkan selimut. Mengingat disini kami hanya menumpang tidur dikamar Myungsoo hyung, kami berdua ingin meminta maaf.” Seru Jimin tiba-tiba, Taehyung mengangguk seraya mengakui bahwa itu juga kesalahannya.

“Tak apa, makanlah.” Kata Myungsoo seraya tersenyum meyakinkan kata-katanya barusan.

Sarapan pagi ini menurut Jiyeon tak begitu hening karena kehadiran Taehyung dan Jimin. Karena adanya mereka berdua, seluruh penjuru ruang makan dipenuhi dengan suara mereka berdua yang tak ada hentinya mengoceh.

Myungsoo yang pagi itu lebih dulu menghabiskan sarapannya memilih meninggalkan rumah lebih dulu tanpa mengucapkan apa-apa. Jiyeon yang melihat Myungsoo meninggalkan meja makan dalam diam ikut berdiri dan meninggalkan meja makan juga. Taehyung dan Jimin yang menyadari ditinggalkan berdua di ruang makan-pun bergegas meninggalkannya juga, dan berpamitan pada bibi Jung yang sedang membereskan meja makan.

“Myungsoo!,” panggil Jiyeon, yang dipanggil menoleh dan menaikkan sebelah alisnya. “Tunggu aku, kurasa hari ini aku berangkat denganmu saja.”

“Ada apa? biasanya kan kau bersama Paman Lee?” Tanya Myungsoo heran.

“Paman Lee kusuruh mengantar Jimin dan Taehyung” Jelas Jiyeon, lalu langsung masuk kedalam mobil Myungsoo yang terparkir rapih di garasi.

Ya! Aku belum mengizinkanmu untuk menyentuh mobilku, Park Jiyeon!” teriak Myungsoo dan langsung menyusul Jiyeon masuk kedalam mobil.

.

.

Sesampainya disekolah, Jiyeon turun terlebih dahulu dan langsung masuk kedalam sekolah tanpa menunggu Myungsoo yang masih sibuk mencari tempat parkir. Beberapa pasang mata sempat melihat Jiyeon turun dari mobil Myungsoo dan bertanya-tanya ada hubungan apa dengan mereka berdua karena sudah beberapa kali mereka tertangkap basah berangkat sekolah bersama. Apakah mereka berkencan? Pertanyaan itulah yang selalu terlintas dipikiran para kaum hawa yang mengagumi Myungsoo.

“Jiyeonnie!”

Jiyeon menoleh dan melambaikan tangannya membalas lambaian tangan Minah di ujung koridor. Minah berlari menghampiri Jiyeon dan memeluknya erat. Jiyeon yang kebingungan dengan sikap minah yang tak biasanya bertanya-tanya pada sahabatnya itu apa yang sedang terjadi padanya.

“Ada apa dengan dirimu? Apa ada yang ingin kau ceritakan padaku? Ceritakanlah sekarang.”

Minah hanya tersenyum malu tanpa menjawab pertanyaan Jiyeon dan kembali berlari menuju kelasnya. Jiyeon semakin heran dengan sikap Minah yang seperti itu, namun Jiyeon tak ingin memikirkannya lebih lanjut dan ia tak akan menanyakannya pada Minah, biar nanti dia sendiri yang bercerita.

Annyeong! Selamat pagi Jiyeon-ah.” Sapa Youngji saat Jiyeon meletakkan tasnya di atas meja. Jiyeon tersenyum ramah pada Youngji.

Tak lama setelah itu,  guru yang mengajar masuk kedalam kelas dengan setumpuk kertas. Oh astaga, aku lupa jika ada ujian matematika. Bodoh. Umpat Jiyeon dalam hati.

“Kau sama sekali tak belajarkan tadi malam?” Bisik seseorang pada Jiyeon dari arah belakang.

Jiyeon menoleh dan mendapati Sehun disana, bagaimana laki-laki itu bisa tahu jika semalam dirinya tak belajar? Apa Sehun bisa membaca pikiran seseorang? Ah, tidak mungkin. Itu mustahil. Sangat mustahil. Pikir Jiyeon.

“Wajahmu tegang sekali.” Sambung Sehun sembari tersenyum.

Jiyeon heran dengan senyuman yang Sehun berikan padanya tadi, entahlah. Gadis itu tak ingin memikirkannya lebih lanjut.

.

Waktu ujian pun tersisa 15 menit, dan gadis itu baru mengerjakan seperempat soal matematika-nya. Waktu terus berjalan dan tersisa 5 menit lagi, Jiyeon hanya diam memikirkan jawaban apa yang akan dituliskannya, namun otaknya tak dapat bekerja dengan baik. Saat Jiyeon akan mencoretkan pena-nya diatas kertas ujian, bel berbunyi menandakan waktu telah habis.

Habislah riwayatku!. Batinnya penuh dengan kecemasan.

Youngji yang duduk disebelahnya bergegas meninggalkan kelas setelah mengumpulkan kertas ujiannya, dan beberapa murid pun bergegas meninggalkan kelas. Jiyeon semakin panik saat melihat kanan dan kirinya sudah tak ada siapa-siapa. Namun tiba-tiba Jiyeon terkejut saat mendapati Sehun berdiri disebelah mejanya dan menukar kertas ujian miliknya dengan laki-laki itu.

“Sudah, kumpulkan sana. Namamu juga sudah kutulis.” Ucap Sehun dan tersenyum lagi seperti tadi.

“Lalu bagaimana denganmu?”

“Itu masalah kecil, serahkan saja padaku. Oke? Sudah sana cepat.”

Jiyeon pun menuruti kata-kata Sehun barusan, dan mengumpulkan kertas ujiannya—lebih tepatnya kertas ujian Sehun— dengan tak enak hati  Jiyeon menyerahkan kertas tersebut.

.

.

“Aku lapar Myungsoo!” Ujar Jiyeon sambil mengelus-elus perutnya yang sedang kelaparan.

“Kau tahukan apa yang orang-orang lakukan ketika mereka lapar?” Ucap Myungsoo, laki-laki itu terlihat sangat fokus pada jalanan didepannya dan membiarkan Jiyeon terus mengoceh karena kelaparan.

Jiyeon masih saja terus mengoceh bahwa dia kelaparan. Ya, gadis itu tahu jika Myungsoo mengabaikannya sejak tadi, tapi ia tetap saja melakukannya walaupun dia tahu bahwa laki-laki disebelahnya akan tetap mengabaikannya.

Gadis itu mulai merasa lelah dan memutuskan untuk diam. Myungsoo melirik kearah Jiyeon dan mendapati gadis itu sedang menekuk wajahnya. “Kenapa kau berhenti mengoceh? Laparmu sudah hilang?” Tanya Myungsoo tiba-tiba. Jiyeon menoleh kearahnya dan menggeleng.

Melihat Jiyeon menggeleng, Myungsoo langsung menancapkan gasnya menuju suatu tempat.

.

“Untuk apa kita kemari?” Tanya Jiyeon polos. “B’s?” tanyanya lagi saat melihat tulisan yang tergantung didekat pintu masuk.

“Kau sendiri yang bilang bahwa kau lapar. Jadi, aku membawamu kemari.”

“Tapi, coba kau lihat. Didalam sana sudah tak ada tempat.” Kata Jiyeon sambil memeriksa keadaan restaurant tersebut dari dalam mobil. Myungsoo hanya diam dan memarkirkan mobilnya. Setelah terparkir rapih, mereka berdua turun dari mobil dan masuk kedalam restaurant bergaya klasik.

“Myungsoo, coba kau lihat? Mereka semua yang sedang makan disini mengenakan tuksedo dan gaun, dan kita masih memakai seragam sekolah, apa tidak jadi masalah?”

“memangnya kenapa?” Myungsoo bertanya balik dengan nada santai. Sangat santai malah.

“Myungsoo Kim!” Panggil seseorang yang membuat Myungsoo dan Jiyeon menoleh bersama kearahnya.

“Baek!” Myungsoo melambaikan tangannya dan menghampiri seseorang yang dipanggilnya Baek, yang tak lain adalah Baekhyun Byun—teman sejak kecil Myungsoo saat di Amerika— mereka berpelukan layaknya sahabat pada umumnya.

eoh?  Kau gadis yang waktu itu duduk ditaman seorang diri saat pesta ulangtahunku kan? Kau mengenalnya, Myung?” Tanya Baekhyun terkejut.

“Dia istriku.” Ucap Myungsoo yang sukses membuat mata Baekhyun terbuka lebar.

Bukan hanya Baekhyun, tapi Jiyeon pun ikut terkejut karena ucapan Myungsoo yang terdengar sangat berani dan tak khawatir jika pengunjung di restaurant tersebut mendengar perkataannya. Apa kata pengunjung nanti jika mereka tahu seorang anak SMA sudah menikah. Habislah mereka.

“Ka—kau serius? Kau sedang tidak bercandakan? Apa kau yakin? Istrimu? Astaga. Kenapa kau tak memberitahuku? dan kapan kau menikah?”  Tanya Baekhyun dengan mata yang terbuka lebar.

“Nanti kuceritakan, tapi sebaiknya jangan disini. Terlalu banyak pasang telinga yang akan mendengarnya.”

ah! Kau betul. Baiklah, ikut aku.”

Baekhyun pun berjalan menuju suatu ruangan dipojok restaurant tersebut dan diikuti oleh Myungsoo dan Jiyeon. Saat mereka sampai diruangan tersebut, Baekhyun meminta para pelayannya menyiapkan makanan untuk mereka berhubung sudah masuk jam makan malam.

“Jadi, bagaimana semua ini bisa terjadi? Tiba-tiba kau kembali ke Korea dan menikah dengannya? Ceritakan padaku.” Ucap Baekhyun sambil melirik kearah Jiyeon yang duduk bersebelahan dengan Myungsoo.

Myungsoo menceritakan semuanya dari awal dia bertemu dengan Jiyeon pada malam itu, dan ternyata mereka dijodohkan dengan kedua orangtua mereka. Baekhyun mengangguk-angguk paham, tepat saat Myungsoo selesai bercerita pada sahabatnya itu, makanan yang mereka tunggu datang.

“Silahkan cicipi resep baruku, kalian berdua orang pertama yang mencicipinya.” Seru Baekhyun.

Jiyeon menyuapkan sesendok kedalam mulutnya. “Wah, ini benar-benar enak. Makananmu enak sekali Baekhyun-ssi.” Ujar Jiyeon sambil tersenyum.

Baekhyun tersenyum balik membalas senyuman Jiyeon barusan. Myungsoo menyicipinya tanpa berkata-kata, laki-laki itu tahu betul bahwa sahabatnya memang jago memasak tapi tuan Byun—ayah Baekhyun— menyuruhnya untuk melanjutkan perusahaan keluarga.

“Bagaimana sekolahmu? Apa kau akan kembali ke Amerika?” Tanya Myungsoo pada sahabatnya ketika menyelesaikan makanannya.

Baekhyun mengangkat bahu dan menggeleng. “Entahlah, sebenarnya aku tak ingin kembali ke Amerika dan melanjutkan perusahaan keluarga. Lebih baik mengurus restaurant-ku ini, dan jika aku tak kembali kesana mungkin aku akan bersekolah disini.” Jelas Baekhyun.

Jiyeon meneguk segelas air kemudian mengelap sekitaran bibirnya yang tertempel sisa makanan.

.

.

Hari demi hari dilewati Myungsoo dan Jiyeon dengan baik, dan mereka pun sudah terlihat sangat akur. Myungsoo terlihat memikirkan sesuatu di meja makan. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Tiba-tiba Jimin datang dan menarik kursi disebelah Myungsoo dan membuyarkan lamunannya.

Hyung, kau sedang memikirkan apa?” Tanya Jimin dengan kening berkerut.

Myungsoo menoleh sedikit dan berkata, “Aku tak pernah memikirkan ini sebelumnya, jadi saat aku ingin memikirkannya, otakku jadi tak berfungsi.”

Jimin makin mengerutkan keningnya tanda tak mengerti.

Myungsoo berniat menjelaskan saat melihat kerutan di kening Jimin bertambah. “Besok..eung..” katanya ragu-ragu. “Jiyeonnie.. aku ingin..mmm. Bagaimana ya menjelaskannya?”

Eoh..! aku mengerti maksudmu. Kau ingin memberikan kejutan padanya? Apa aku benar?” Tebak Jimin seraya menjentikkan jarinya.

Myungsoo mengangguk membenarkan. “Entah apa yang terjadi padaku, sehingga berpikiran seperti itu. Apa itu aneh, Jimin-ah?”

“Tentu tidak, Hyung. Noona pasti akan senang jika itu memang benar kau lakukan. Percayalah.” Seru Jimin sambil tersenyum lebar. “Dan berarti.. apa perasaan ‘itu’ sudah ada?” goda Jimin.

Myungsoo tersedak ketika hendak meneguk segelas air. “mm..aku hanya merasa sering membuatnya kesal. Dan mungkin ini saatnya aku harus membuatnya merasa senang seperti yang kau katakana tadi.”

Jimin berdecak kecewa mendengar jawaban dari Myungsoo, tapi Jimin tahu jelas bahwa jawaban Myungsoo tadi adalah sebuah kebohongan. Jimin tahu itu. Terlihat jelas, sangat jelas malah bahwa Myungsoo menyukai Jiyeon. Terlihat dari tatapan mata Myungsoo pada Jiyeon ketika gadis itu sedang tak melihatnya.

.

7th June.

Hari ini Jiyeon bangun dari kasurnya dengan perasaan senang dan bersemangat karena hari ini usianya bertambah. Lalu gadis itu bersiap untuk sarapan bersama dibawah setelah bersiap merapihkan peralatan sekolahnya.

Semua orang di meja makan sudah menunggu nya, tapi mengapa hari ini terasa berbeda menurutnya. Ah, tapi mungkin hanya perasaannya saja. Jiyeon pun menarik kursi dihadapan Myungsoo, saat Jiyeon hendak duduk tiba-tiba saja semua orang yang berada di meja makan itu bangun dari kursi masing-masing dan beranjak keluar rumah untuk berangkat sekolah. Jiyeon heran dengan sikap mereka.

ahjumma, ada apa dengan mereka bertiga?” bibi Jung hanya tersenyum sambil merapihkan meja makan.

Jiyeon semakin heran saat bibi Jung hanya tersenyum menjawab pertanyaan, tak biasanya. Pikirnya. Jiyeon buru-buru menghabiskan roti selai serta susunya dan berlari menuju mobil hitam milik Myungsoo.

“Kau lambat.” Cetus Myungsoo.

Jiyeon tercengang dengan perkataan serta suara Myungsoo yang terdengar dingin itu. Kenapa ia tiba-tiba berubah menjadi dingin seperti waktu itu lagi?. Pikir Jiyeon heran.

.

.

“Jiyeon-ah,” panggil Minah. “Jiyeon-ah.. Park Jiyeon!” panggilnya lagi karena sedaritadi Jiyeon hanya diam ketika dipanggil.

Jiyeon menoleh.

“Kau melamun. Berarti sejak tadi kau tidak mendengarkanku?” terdengar nada kecewa dari suaranya.

Jiyeon kembali menatap keluar jendela kafe disebelahnya. Saat pulang sekolah tadi, Minah mengajak Jiyeon pergi ke kafe yang biasa mereka kunjungi untuk merayakan hari ulangtahun Jiyeon. Tapi sepertinya Jiyeon tak tertarik, alhasil Jiyeon malah melamun saat Minah memberikan wish nya pada gadis itu.

Minah mencondongkan badannya kedepan lalu mengambil teh diatas meja dan menyesapnya. Awalnya, Minah berencana akan menceritakan sesuatu pada Jiyeon. Tapi sepertinya Jiyeon sedang tak bersemangat dan terlihat murung sejak tadi.

“Jiyeon-ah, ponselmu berbunyi.”

Suara deringan ponsel dan suara Minah membuyarkan lamunannya. Eomma. Jiyeon melihat kelayar ponsel siapa yang menghubunginya sebelum menempelkan ponsel ke telinganya.

“Ya, eomma. Ada apa?”

Eoh..Jiyeonnie. Terkutuklah Eomma mu ini. Bagaimana bisa aku melupakan bahwa hari ini anakku berulangtahun? Maafkan Eomma mu ini ya, sayang. Aku sedang bersama Ayahmu dan orangtua Myungsoo.. kkk. Sepertinya kami akan tambah hari disini, jadi Taehyung dan Jimin akan lebih lama dirumah kalian. Tak apakan? Oh iya, dan satu lagi. Selamat ulangtahun Jiyeonku sayang, semoga kau bertambah dewasa, dan semoga hubunganmu dengan Myungsoo semakin baik ya. Ayahmu dan orangtua Myungsoo juga bersependapat padaku, mereka bilang semoga kau dan Myungsoo baik-baik saja dan semoga kalian cepat punya anak. Kkkk.”

Tut..

Tepat saat Jiyeon hendak membuka mulutnya, sambungan telfon diputus oleh ibunya. Apa-apaan point terakhir yang ibunya katakan. Cepat punya anak? Itu gila, gadis itu masih 18 belas tahun. D-E-L-A-P-A-N B-E-L-A-S.

.

.

“Jimin-ah, ini bagaimana? Apa sudah sempurna?” Tanya Myungsoo sambil memandangi hasil dekorasinya di kamar Jiyeon.

“wah..,  Hyung. Aku tak pernah tahu bahwa kau orang yang sangat romantis” timbrung Taehyung takjub melihat banyak mawar merah di kamar Jiyeon berbentuk Love.

“jadi apa sekarang kau sudah mencintainya?” bisik Jimin pada Myungsoo, terdengar nada menggoda disana. Dengan cepat, Myungsoo mengalihkan pembicaraan. Jimin yang melihat Myungsoo seperti itu semakin yakin bahwa Myungsoo memang menaruh perasaan pada noona-nya.

“sudah jamberapa ini? Mengapa gadis itu belum juga kembali?” Tanya Myungsoo. “apa dia tidak menelfonmu?” Tanyanya pada Jimin. Jimin menggeleng. “dia juga tak menelfonmu, Tae?”

“Sepertinya Jiyeon noona marah pada kita bertiga, karena tadi pagi bersikap seperti itu padanya.” Jawab Taehyung.

“Kau benar. Sepertinya noona memang marah. Dan itu karenamu, kau yang mengusulkan untuk bersikap seperti itu padanya.”  Gerutu Jimin.

“Salahmu juga. Kenapa kau bertanya padaku untuk mengajukan usul dan menyetujuinya?” balas Taehyung.

Myungsoo hanya diam dan meninggalkan mereka berdua didalam kamar Jiyeon, dan bertanya pada bibi Jung apa gadis itu memberitahunya sedang berada dimana atau akan pulang jam berapa. Tapi bibi Jung mengaku tidak tahu menahu soal nyonya mudanya itu.

Myungsoo memutuskan untuk menelfon Jiyeon, tapi gadis itu tak kunjung mengangkat telfonnya. Sudah hampir jam 11 malam. Jiyeon tak juga mengabarkan dirinya, Myungsoo melamun di ruang tv dengan perasaan yang cemas menunggu Jiyeon pulang. Sedangkan Jimin dan Taehyung mereka kelelahan karena berdebat tadi dan sudah tertidur pulas dikamarnya.

Myungsoo memutuskan untuk menunggu Jiyeon dikamar gadis itu. Ia menyenderkan badannya ditembok dan duduk di dekat mawar merah yang ia siapkan untuk Jiyeon. Karena Jiyeon tak kunjung pulang, Myungsoo akhirnya tertidur.

.

Pukul setengah 12 malam. Jiyeon baru sampai dirumah karena sedaritadi dirinya berada dirumah Minah dan menceritakan apa sebenarnya yang terjadi. Ia menceritakan mengapa Myungsoo tiba-tiba berubah menjadi dingin kembali padanya. Serta Jimin dan Taehyung yang ikut-ikutan bersikap seperti itu. Saat Jiyeon membuka pintu kamarnya, Jiyeon terkejut melihat kamarnya gelap dan terlihat berbeda. Banyak mawar yang berserakan serta mawar berbentuk love dan lilin kecil yang mengelilingi mawar tersebut.

Jiyeon makin terkejut melihat Myungsoo tertidur di dekat mawar tersebut sambil memegangi sebuket mawar merah. “Myung?” panggil Jiyeon dan berhasil membangunkan laki-laki itu.

Myungsoo terbangun lalu berdiri dan salah tingkah melihat Jiyeon.

“Kau yang membuat semua ini?” Tanya Jiyeon sambil tersenyum lebar. Gadis itu lalu berlari menghampiri Myungsoo dan langsung mengaitkan lengannya dileher Myungsoo. Myungsoo tercengang melihat Jiyeon yang tiba-tiba memeluknya. Tangannya pun terangkat membalas pelukan Jiyeon.

Terdengar isakkan dari bibir Jiyeon. Gadis itu menangis.“Jiyeonnie? Kau menangis? Ada apa?” tanyanya dengan kening berkerut.

Jiyeon menggeleng lalu melepaskan pelukannya. Jiyeon mengelap air matanya yang terjatuh kemudian kembali memeluk Myungsoo erat.

“Jiyeonnie..maafkan aku. Aku tahu selama ini aku selalu membuatmu kesal, maafkan aku. Kuharap kau mau memaafkanku. Dan selamat ulangtahun, hanya ini yang bisa kulakukan untukmu.” Myungsoo melepaskan pelukannya dan memberikan sebuket bunga  yang sedaritadi dipegangnya pada Jiyeon.

Jiyeon menerimanya dengan senyum lebar. Terlihat dari wajahnya bahwa gadis itu sangat bahagia. “kukira kau tak ingat ulangtahun ku, dan kukira kau akan kembali bersikap dingin kepadaku.” Jelas Jiyeon.

Myungsoo tersenyum dan memegangi kedua pundak Jiyeon, “Yang tadi pagi itu, aku sengaja melakukannya. Kami bertiga merencanakannya.”

“dan bibi Jung juga?”

Myungsoo mengangguk masih tersenyum. “Jadi, apa kau mau memaafkanku? Mm..maksudku kami. Apa kau mau memaafkan kami?” tanyanya.

Jiyeon mengangguk dan kembali memeluk Myungsoo erat, seolah-olah enggan melepaskannya dan takut untuk kehilangan laki-laki itu. Menurut Jiyeon, hari ini adalah ulangtahun yang tak akan pernah dilupakannya selama ia hidup 18 belas tahun.

TBC

S T A R R I N G

reflection-cast

Haloooo!!!!!!! maaf banget ya baru bisa post chapter 6 nya setelah 1 tahun lebih😀. Lama juga setahun hehe… di chapter ini dan seterusnya, mungkin Suho muncul hanya sekali-sekali aja. Dan ta-daaaa! ada 3 cast baru. Yaitu Sehun, Baekhyun, dan Youngji. Tau dong Youngji yang aku maksud siapa?

Sekali lagi aku minta maaf ya karena udah lama banget otakku ngestak, gatau mau lanjutinnya gimana waktu itu. Aku gatau chapter 7 kapan di postnya, cuma aku udah mulai nyicil ngetik untuk chapter selanjutnya. Berhubung besok Senin aku UTS seminggu, jadi udah pasti aku gabisa post chapter selanjutnya selama aku UTS hehe..😀

Yauda deh segitu aja ya aku curhatnya, selamat membaca. Jangan lupa like dan comment ya. Dan ohya, maaf yang comment nya ga aku bales. Aku baca semua ko, tapi untuk ngebales kayanya aku butuh waktu lama karena yg comment lumayan buat tangan aku pegel ngetiknya kkkk.. ya jadi begitulah. Selamat membaca❤

34 responses to “[CHAPTER-PART 6] Reflection

  1. Siapa tuh sehun apa dia bakal suka sama uri jiyeon? .-.
    Soal jumyeon oppa sama suzy gimana nih? Udah gitu yg tadi itu acara ultah suzy atau baekhyun ya agak rancu thor hehehehe mian aku ngeritik tp aku suka ceritanya ^^

  2. Wahhhh akhirnya di update jga. Ciee yg udh dket dn ada rasa. Myung romantis ni yee.
    Keren bgt suka suka.
    Mga chap 7 updatenya bkan thun dpan. Hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s