[Chapter – 7] Knock to My Heart (End)

knock to my heart

Previous

Starring:
Park Jiyeon | Kim Myungsoo | Oh Sehun

Co. Starring:

Bae Suzy | Lee Ahreum | Yoo In Na | Jeon Jungkook | Eden LC9 | Park Gyu Ri | Lee Donghae

Genre:

School life | Romance | Hurt/Comfort  | AU

Length:
Multichapter

Rating:
PG – 13

 Everything about this FF is mine, except the casts. Casts belong to their families.

Sorry for typos 😀

Jiyeon pov

Hari ini Jungkook membuatku kesal tetapi di sisi hatiku yang lain, aku merasa senang karena hubungan persahabatan kami berdua tetap arab seperti waktu kami masih sering bermain bersama, mengeluarkan ingus, bahkan berpetualang bersama. Jungkook selalu membuatku tersenyum meskipun kemarin dia sempat menyakiti hatiku dengan menjodohkan Myungsoo dan Suzy.

Apakah salah jika aku memiliki perasaan pada seseorang yang telah meluluh lantakkan hatiku hingga hanya berbentuk kepingan-kepingan kecil yang mengisi jiwaku. Jika saja kepingan itu tak ku temukan dalam jiwa ini, mungkin saja aku sudah tak sanggup lagi berdiri di depan semua orang yang menatap aneh padaku, mengolokku, dan mencaci maki diriku. Aku… harus menjadi lebih kuat dari sebelumnya.

Masih hari ini, Jungkook menjahiliku entah sudah yang keberapa kalinya. Berkali-kali ia mengusikku, berkali-kali pula aku kesal padanya. Si pabbo Jungkook! Aku pun tak tahu kapan ia akan bertobat untuk tak mengusikku.

Setelah berlalu meninggalkan kelas Jungkook, aku berjalan santai menuju kelasku yang terletak satu lantai di atas kelas 1. Hanya 2 menit waktu yang ku butuhkan untuk sampai di kelas yang memiliki beberapa siswa akselerasi, termasuk diriku.

Sesampainya di depan kelas berlabel 2-1, mataku terbelalak melihat pintu yang terpampang indah di depanku. Pintu ditutup? Aku sempat bertanya-tanya dalam hati, tumben sekali pintu kelas ditutup saat pelajaran belum dimulai.

Cekleek!
Aku membuka pintu kelas secara perlahan, takut mengeluarkan suara tidak nyaman di telinga. Saat ku pijakkan kaki kanan ini di lantai kelas yang terbuat dari keramik berwarna putih, semua siswa yang berada di dalam kelas menatapku tajam. Dapat ku tebak, tatapan mereka adalah tatapan menghina dan terdapat unsur tidak suka yang ditujukan padaku.

Kalimat itu… siapa yang tega menulisnya di papan tulis? Aku sungguh tak tahan membaca semuanya. Air mataku tak berhenti mengalir dan membasahi pipi. Dadaku terasa sesak dan nafasku berat. Apakah ini yang harus aku alami. Ya Tuhan, kenapa Kau tidak mengizinkanku untuk mencicipi kebahagiaan sedikit saja?

Ku langkahkan kakiku menuju atap sekolah. Langkahku semakin cepat saat ku sadari airmata ini tak mungkin bisa berhenti dalam waktu sekejap.

Braaakkk!
Aku membanting pintu besi yang menghalangiku untuk segera tiba di atap. Saat ku hentakkan kaki kananku di lantai beton ini, ku rasakan terpaan angin yang menyapu seluruh bagian wajahku. Angin itu seakan membisikkan kata-kata penghiburan untukku. Air mataku perlahan mengering seiring semilirnya angin yang membelai wajahku.

Jiyeon pov end.

Jiyeon terduduk lemas di atas bangku bekas yang sengaja diletakkan di sana untuk mengurangi kapasitas gudang sekolah.

“Jiyeon-a!”

Myungsoo memanggil Jiyeon dengan susah payah karena suaranya terbawa hembusan angin. Laki-laki tampan itu berjalan perlahan mendekati Jiyeon yang sengaja tidak menghiraukannya.

“Jiyeon-a…” panggil Myungsoo lagi. Kali ini nada suaranya sedikit pelan. Jari tangan kanannya menyentuh bahu Jiyeon, berharap gadis itu akan memalingkan wajah padanya sehingga ia tahu apa yang sedang dilakukan Jiyeon di tempat itu. “Jangan hiraukan mereka, jebal….”

Jiyeon menahan tangisnya sekuat tenaga. Ia tidak ingin menangis di depan Myungsoo. Dengan bantuan kedua tangannya, Jiyeon mengusap airmata yang membasahi wajahnya sejak beberapa menit lalu. Ia memalingkan wajah ke arah Myungsoo yang berdiri di sebelah kanannya. “Jangan hiraukan aku, jebal…” balas Jiyeon.

“Jiyeon-a….”

Tiba-tiba Jiyeon berdiri dan menepis tangan Myungsoo yang menyentuh bahunya. “Aku bilang jangan menghiraukanku, Kim Myungsoo. Tidak kah kau sadari bahwayang ditulis di papan tulis itu benar? Sadarlah! Mereka benar dengan semua olokan itu.”

“Mereka tidak benar. Kenapa kau menjadi korbannya? Kenapa mereka selalu mengkambing-hitamkan dirimu? Aku juga sakit melihatnya, Jiyeon-a. Aku sakit hati melihat dirimu dibully, diejek, dicemooh oleh mereka. Kau adalah korban sedangkan aku pelakunya. Aku lah yang meminta Ketua Yayasan untuk memberimu beasiswa, aku yang mengancam Sekretaris Bae, aku yang mendekatimu. Aku lah yang melakukan semuanya. Tetapi kenapa dirimu yang menjadi sasaran mereka? Inilah yang membuatku tidak terima.”

“Mwo? Atas hak apa kau meminta Ketua Yayasan untuk memberiku beasiswa? Aku sendiri tidak mempermasalahkan hal itu.”

Tap!
Myungsoo mencengkeram bahu Jiyeon lembut dan menatapnya nanar. “Karena….” Myungsoo tak sanggup menagatakan bahwa Ketua Kim adalah ayah kandungnya. “Karena kau berhak mendapatkannya.”

Jiyeon mendesah pelan. “Gurae, gomawo atas semuanya. Mulai sekarang lupakan tentangku, lupakan tentang beasiswa dan lupakan semuanya yang terjadi di antara kita karena… karena aku merasa tersiksa jika mengingat semuanya. Aku merasa sakit hati dan seakan hidupku hancur jika….”

“Jika aku ada di dekatmu, iya kan?” tebak Myungsoo asal. Kedua mata elang miliknya telah memerah dan berkaca-kaca.

“Eoh. Aku merasa tersiksa jika kau selalu ada di dekatku. Untuk itu, aku minta padamu… lupakan semuanya. Belajarlah seperti siswa lainnya dan jangan pernah peduli padaku lagi. Biarkan aku berusaha sendiri.”

Myungsoo melepaskan cengkeraman tangannya di bahu Jiyeon. Kepalanya tertunduk menyembunyikan ekspresi kesedihannya. Kedua tangannya mengepal kesal. Ya, dia kesal pada dirinya sendiri, bukan pada Jiyeon atau orang lain. Karena kebodohannya, Jiyeon harus menanggung semua caci maki dan kekesalan orang lain.
“Gurae, aku akan pergi dari sisimu. Aku akan melenyapkan diri dan tidak akan pernah menemuimu lagi. Tapi… ada satu pertanyaan yang ingin ku tanyakan padamu.”

Dengan air mata yang membasahi kedua matanya, Jiyeon menatap Myungsoo. “Mwo?” tanya Jiyeon dengan suara parau.

“Aku tahu kau kesal dan marah padaku. Tapi… aku berhak menanyakan yang satu ini padamu.” Pernyataan Myungsoo membuat Jiyeon penasaran. Myungsoo menghela nafas panjang. “Bagaimana dengan perasaanmu padaku?”

Deg!
Jiyeon melangkah satu jengkal ke belakang. Jantungnya berdetak tak karuan dan nafasnya memburu. Ia sama sekali tidak berani menatap Myungsoo yang sedari tadi menatapnya tajam.

“Aku tanya padamu, bagaimana perasaanmu padaku? Aku tidak bisa melupakan hal itu, Jiyeon-a. Aku masih mengingat dengan jelas di mana aku… menyakiti hatimu saat hujan deras itu. Sejak saat itu aku tersadar bahwa diriku adalah laki-laki tak tahu diri yang telah menolak gadis sebaik dirimu. Aku snagat menyesal melakukannya. Untuk itulah, aku melakukan semua untukmu agar aku bisa menebus kesalahanku padamu.”

Jiyeon tak dapat membendung airmatanya lebih lama lagi. Pengakuan Myungsoo benar-benar membuat tubuhnya kaku dan memaksa kedua manik matanya mengeluarkan airmata berharga miliknya.

“Aku sadar bahwa sebenarnya….” Myungsoo memutus kalimatnya. Ia ragu mengatakan yang sebenarnya pada Jiyeon. Ia takut kalau apa yang ingin dikatakannya adalah sesuatu yang sangat terlambat dan tak penting untuk dikatakan. “Sebenarnya aku men….”

“Yaak Kim Myungsoo!”

Suara Sehun memotong kalimat yang akan diucapkan oleh Myungsoo. Jiyeon menoleh ke arah Sehun yang datang bersama Suzy   dan Kim Hani (Dani).

“Wae irae?” tanya Myungsoo dengan mengangkat alis kirinya.

Sehun berjalan ke arah Myungsoo. Saat kedua laki-laki itu sudah berdiri berhadapan dan menatap satu sama lain, tiba-tiba Sehun melancarkan sebuah pukulan yang mengenai wajah tampan Myungsoo. Seketika itu, kulit pipi Myungsoo memerah dan semakin lama semakin berubah warna menjadi kebiruan. Salah satu sudut bibir tipisnya mengeluarkan setitik cairan kental berwarna merah yang langsung diusap dengan ibu jari tangannya.

“Sehun-a!” teriak Jiyeon, Suzy, dan Hani yang terkejut melihat tingkah Sehun.

“Oh Sehun, keumanhe!” seru Jiyeon yang mencoba menghentikan Sehun agar tidak memukul Myungsoo lagi. Jiyeon tidak akan tega melihat Myungsoo dipukul oleh Sehun hanya karena masalah tentang dirinya.

Sehun tampak menahan marah. Ia dikenal sebagai orang yang cukup pandai mengendalikan emosi, berbanding terbalik dengan Myungsoo yang sering meluapkan emosinya pada waktu yang tidak tepat. “Sudah ku katakan padamu, jauhi Park Jiyeon! Harus berapa kali aku mengatakannya agar kau tidak mendekatinya lagi, huh!”

“Sehun-a, ini tidak seperti yang kau kira,” ucap Jiyeon yang melangkahkan kakinya dan berdiri di depan Myungsoo agar Sehun tidak dapat menyakiti orang terkasihnya itu lagi.

“Kau tetap membelanya? Jiyeon-a, lupakan perasaanmu untuk orang bodoh ini!” bentak Sehun hingga kembuat tiga orang gadis yang berada di tempat itu tersentak kaget.

Myungsoo hendak membungkam mulut Sehun yang seenaknya saja bicara dan membentak Jiyeon di depannya dengan srangan balik yang sudah ia siapkan beberapa detik yang lalu. Namun sayangnya, usaha Myungsoo tak membuahkan hasil karena Jiyeon menghalangi dirinya saat akan melancarkan tinju balasan ke arah Sehun.

“Keumanhe! Kenapa kalian berkelahi, huh?” lirih Jiyeon serius.

“Apa urusanmu dengan Jiyeon, eoh?” Myungsoo mencoba mengeluarkan suara paraunya akibat terlalu lama menahan emosi yang telah memuncak. Putra tunggal keluarga Kim tersebut tak pernah gentar menghadapi siapapun yang menjadi lawannya. Dia juga tidak peduli siapa dirinya yang notabennya adalah putra Ketua Yayasan, sang pemilik sekolah di mana dia bertengkar saat ini.

Sehun tersenyum kecut dan meludah, meremehkan Myungsoo yang dianggapnya hanya sebagai seorang pengecut.

“Sehun-a, jangan berbuat sesuatu yang bisa membuatmu dikeluarkan dari sekolah ini.” Kali ini Hani angkat bicara. Ia tak tahan lagi melihat pemandangan yang telah membangkitkan kekesalannya.

“Aku ingin Myungsoo menjauhi Jiyeon,” ucap Sehun singkat.

Suzy tersenyum licik. Betapa bahagia dirinya jika Myungsoo benar-benar menjauhi Jiyeon karena sampai saat ini gadis licik itu masih mengharapkan hati Kim Myungsoo. “Aku setuju denganmu, Sehun-a. Jiyeon nampak tersiksa dan menyedihkan saat Myungsoo oppa ada di dekatnya. Yah… meskipun aku tahu bahwa sebenarnya Jiyeon sangat menyukai Myungsoo oppa.”

“Yaak! Diam kau gadis kurang ajat!” bentak Hani yang berdiri di samping kiri Suzy. Ia melirik tajam pada Suzy yang dengan entengnya mengangkat dagunya, jelas sekali kalau gadis itu sombong dan angkuh.

“Kau ingat Irene, kan?”

Deg!
Jantung Myungsoo, Jiyeon, dan Suzy seakan berhenti memompa darah kemudian  tiba-tiba memacu pemompa itu untuk bekerja lebih keras hingga mengakibatkan jantung mereka berdetak tak karuan.

“Ada apa dengan kalian semua? Kalian begitu takut mendengar nama Irene.” Sehun memancing keributan untuk kedua kalinya.

“Sehun-a, dia sudah meninggal. Tolong jangan dibahas lagi. Hormati orang yang sudah tiada,” ujar Jiyeon. Dia sengaja mengatakan hal itu dengan dalih untuk mengalihkan pembicaraan yang dimulai oleh Sehun.

“Anhiyo, tidak perlu seperti itu. Irene meninggal karena perasaannya pada Myungsoo tak terbalaskan bahkan Myungsoo berpura-pura tidak mengetahuinya, benar kan?”

Empat pasang mata menatap Myungsoo penuh tanda tanya, terutama Jiyeon. Hadis itu ingin sekali mendengarkan pernyataan yang keluar langsung dari mulut Kim Myungsoo. “Oppa, katakan bagaimana fakta yang sebenarnya.”

Myungsoo menatap Jiyeon dari kedua sudut mata sipitnya. Kenangan terpahit dalam hidupnya yang susah payah dipendamnya, kini terpaksa digali lagi. Ekspresi si tampan Myungsoo berubah seketika. Ia tertunduk sedih dan rasa bersalah menghinggapi lubuk hatinya yang terdalam.

“Oppa…” lirih Jiyeon. “Aku tidak ingin mendengar kebenarannya dari orang lain.”

Tarik nafas, dihembuskan. Itulah yang dilakukan oleh Myungsoo sebanyak beberapa kali. Dia mengerjap-ngerjapkan kedua matanya untuk mengeringkan airmata yang ingin menyeruak keluar di sudut matanya. “Irene adalah gadis yang mencintaiku hingga ajalnya tiba. Perasaannya padaku… jujur, dapat aku rasakan bahwa perasaannya sangat tulus. Saat itu, entah sudah berapa lama dia memendam perasaannya, dia… mengungkapkannya padaku secara langsung. Aku sangat terkejut karena pada saat itu orang tuaku melarangku berhubungan dengan seorang gadis
Entah siapapun gadis itu dan berasal dari keluarga yang bagaimana… aku tetap dilarang menjalin hubungan percintaan. Aku tahu perasaan Irene sangat tulus tetapi… hatiku tak tega untuk mengatakam yang sebenarnya bahwa orang tuaku telah melarangku seperti itu.” Myungsoo berhenti menceritakan tentang Irene untuk sejenak. “Aku memiliki kenangan indah bersamanya. Dia benar-benar gadis yang sangat baik. Bahkan terlalu baik untuk ku sia-siakan. Hari itu adalah hari ulang tahun Irene. Aku berniat memberitahukan bahwa aku bisa menerima perasaannya meskipun pada kenyataannya aku tidak bisa menjadi kekasihnya. Pada malam ulang tahun Irene, aku sengaja memintanya datang ke sekolah untuk memberikan kejutan. Tetapi… saat dalam perjalanan menuju sekolah, ayahku terkena serangan jantung. Aku sangat panik. Tentu saja, kalian juga akan merasakan hal yang sama denganku, bukan? Bayangkan betapa panik dan takutnya diriku saat itu.”

Jiyeon, Hani, dan Sehun tampak meneteskan airmata mereka.

“Pada akhirnya aku telat datang dan… aku menemukan banyak orang sedang mengevakuasi jenazah Irene. Sungguh, aku tidak bermaksud membuatnya terluka apalagi meninggal. Hatiku sakit, sakit sekali. Sejak saat itu, rasa beraalah terus menerus hinggap di benakku.” Myungsoo mengusap airmata yang tak disadari telah membanjiri wajah tampannya.

“Keumanhe! Sesuatu yang sudah terjadi tak perlu disesali. Kita hanya perlu mengevaluasi diri. Ini semua bukan salahmu, Oppa.” Tatapan mata nan sendu dari seorang Park Jiyeon mampu memberikan sedikit angin segar bagi ketenangan hati Myungsoo yang tengah dirundung pilu, teringat akan sosok Irene yang meninggal dunia karena dirinya. “Mungkin setelah meninggal, baru lah Irene tahu kalau… oppa juga menyukainya.”

Ada sedikit kelegaan di hati Jiyeon. Ia tak perlu lagi meluangkan waktu untuk mencari-cari info terkait kematian Irene dan masa lalu Kim Myungsoo. Semua telah diceritakan oleh Myungsoo dengan cerita yang sebenarnya, tanpa tambahan maupun sesuatu yang dikurangi. Jiyeon terlalu percaya pada Myungsoo. Dia akan mempercayai semua yang dilakukan oleh Myungsoo. “Aku percaya padamu, Oppa. Meskipun orang lain tidak mempercayaimu, aku akan tetap berdiri di sampingmu dan mempercayai semua ucapan dan perbuatanmu.”

Dengan masih berlinang air mata, Myungsoo memaksakan senyum merekah yang ia tujukan pada Jiyeon.

“Mulai sekarang… mari kita saling melupakan satu sama lain. Oppa tidak perlu membantuku mendapatkan beasiswa itu. Ah, aku berterima kasih sekali karena oppa mau menolongku. Mulai detik ini, jangan peduli lagi padaku, jangan pernah menoleh ke arahku, jangan menjawab panggilanku, jangan tersenyum padaku, jangan memanggil namaku, dan yang terakhir, lupakanlah perasaanku padamu. Aku akui… saat ini aku menyerah pada perasaan ini. Mianhe, Oppa….” Jiyeon terisak dalam tangisnya. Ia tak menyangka bahwa dirinya bisa mengatakan semua itu.

“Apa yang kau katakan?” Myungsoo masih belum mengerti sepenuhnya. Dia berharap Jiyeon tidak akan mengulangi ucapannya yang cukup membuat hatinya terasa pilu.

“Aku katakan sekali lagi. Jangan peduli lagi padaku, jangan pernah menoleh ke arahku, jangan menjawab panggilanku….”

Greb!
Chu~

Tiga pasang mata membulat menyaksikan pemandangan yang sangat langka, di mana Kim Myungsoo yang dikenal sebagai laki-laki tampan berhati dingin telah mencium bibir tipis seorang gadis yang telah lama mencintainya.

“Oppa…” lirih Suzy yang pasti merasakan betapa sakitnya jika hati ditusuk-tusu dengan pisau tajam. Baru kali ini dia merasakan apa yang dirasakan oleh Jiyeon selama beberapa bulan. Suzy mundur satu langkah. Dia menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya. Tak lama kemudian, gadis itu berbalik dan kembali ke kelasnya.

“Ki Myungsoo!” bentak seseorang dengan suara berat dan nada yang begitu tinggi. Suara itu sukses membuat Hani dan Sehun terlonjak kaget.

Myungsoo melepaskan tautan bibirnya dari bibir tipis Jiyeon. Dia menoleh ke arah sumber suara di mana ayah kandungnya berdiri di depan pintu masuk dengan ekspresi marah dan tak ada gurat senyum sedikit pun di wajahnya.

Tap tap tap!
Ketua Kim melangkah mantab ke arah Myungsoo yang memasang tampang tak bersalahnya.

Plak!
“Ekspresi macam apa yang kau berikan pada ayahmu!” Ketua Kim menampar Myungsoo di depan semua siswa yang ada di atap gedung.

Jiyeon dan yang lainnya terbelalak kaget saat mengetahui bahwa Myungsoo adalah putra Ketua Kim, ditambah lagi mereka melihat sikap keras Ketua Kim pada putra semata wayangnya itu.

“Daebak! Dari mana ayah tahu kalau aku sedang ada di tempat ini?” Myungsoo mencoba menenangkan diri dengan caranya sendiri.

Ketua Kim menahan emosi yang telah mencapai puncak dan tertahan di ubun-ubun. “Ikut aku sekarang juga!” bentaknya hingga membuat beberapa orang siswa yang menatapnya terlonjak kaget dan sedikit takut.

“Untuk apa aku ikut ke ruangan Anda? Bicarakan saja di sini. Ooh, aku tahu siapa yang memberitahukan keberadaanku ini padamu, Ayah.” Myungsoo melirik ke arah Suzy yang berdiri tepat di belakang Sehun.

Menyadari bahwa Myungsoo menatapnya tajam, Suzy langsung membulatkan kedua matanya. “W, waeyo? Bukan aku yang melakukannya.”

“Yaak Kim Myungsoo! Suzy tidak seburuk yang kau kira. Bukan dia pelakunya,” bela Sehun yang tahu betul sifat Suzy.

“Cih! Kau membela gadis murahan ini?”

“Kim Myungsoo!” bentak Ketua Kim. “Apakah kau sadar dengan kata-katamu itu? Betapa memalukannya dirimu!”

Suzy maju selangkah mendekati Myungsoo. “Kau pikir aku yang melakukan semuanya pada Jiyeon? Yaak! Aku memang memperlihatkan foto Jiyeon pada ayahku. Tapi bukan aku yang melakukan hal buruk di kelas dan memberitahukan keberadaanmu di tempat ini pada Ketua Kim. Jujur saja, aku memang tidak menyukai Jiyeon. Tapi bukan berarti aku melakukan semua itu.”

“Suzy-a…” lirih Jiyeon. “Sudahlah, jangan membahas hal itu lagi.”

“Selesaikan masalah kalian. Setelah itu, Myungsoo harus ikut aku!” Ketua Kim meninggalkan atap gedung miliknya dengan perasaan dongkol.

“Katakan siapa yang melakukannya, Suzy-a!”

Suzy mendongakkan kepalanya, menatap lurus dua bola mata milik Sehun yang berdiri di depannya.

“Aku juga tidak tahu. Tapi… aku bersumpah, bukan aku yang melakukannya. Apa yang harus aku lakukan untuk membuktikannya?”

“Kau bisa mengingat siapa yang berada di pihakmu. Siapa saja yang membenci Jiyeon.” Otak cerdas Sehun bekerja aktif mencari dalang dari semua kejadian buruk yang menimpa Jiyeon. “Sebutkan siapa saja yang ada di belakangmu, yang mendukungmu untuk menyakiti Jiyeon!”

Suzy tidak terima Sehun mengatakan dirinya menyakiti Jiyeon. Faktanya bukan seperti yang disangka oleh Myungsoo dan Sehun. Suzy geram melihat sikap dua laki-laki itu karena telah mengira bahwa Suzy lah dalang di balik semua kejadian bully pada Jiyeon. “Aku bukan orang seperti itu. Sesaat yang lalu kau membelaku di hadapan Myungsoo. Namun sekarang kau mengatakan hal yang sama dengan Myungsoo. Aku bukan orang yang jahat seperti itu! Bukan! Aku bahkan ingin mengatakan bahwa….” Suzy menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya dan memelototkan kedua bola matanya.

“Yaak! Ada apa, huh?”

“Ah, tidak mungkin. Tidak mungkin kalau dia yang melakukan….”

“Melakukan apa? Yaak Suzy-a! Katakan yang sebenarnya atau aku akan mati berdiri dan penasaran.”

“Kajja!” Suzy melipat kedua tangannya di depan dada. Dia berjalan mantab menuju kelas yang berada tepat di samping kelas Sehun. Ya, Suzy menghampiri Eunji yang sedang asyik mengobrol dengan teman-temannya di dalam kelas. “Aku yakin dia pelakunya,” ungkap Suzy dengan nada suara layaknya hantu perempuan yang ingin balas dendam atas kematiannya.

Sehun tak percaya kalau Eunji yang melakukannya.

“Jung Eunji!” panggil Suzy dengan tatapan wajah menakutkan karena tak ada garis d wajahnya yang menunjukkan kalau dia sedang bercanda. Suzy masuk ke dalam kelas Eunji lalu menyeret gadis itu keluar kelas.

“Apakah… kau yang melakukan semuanya pada Jiyeon?” tanya Sehun serius bahkan Suzy mencengkeram lengan tangan Eunji agar gadis itu tidak melarikan diri.

“Bicaralah! Bukankah kau yang melakukannya? Kau pasti puas karena kau memanfaatkan kebencianku pada Jiyeon agar bisa melakukan hal yang tak mungkin ku lakukan. Kau benar-benar iblis!”

Sehun menepuk bahu kiri Suzy, pertanda bahwa dirinya meminta Suzy untuk tenang. …

Karena tak mau berurusan dengan Eunji lagi, Suzy melaporkan perbuatan Eunji pada guru kedisiplinan.

“Aku tidak akan membiarkan nama Jung Eunji terkenal dengan kebaikan. Dia adalah wanita bermuka dua. Ish! Tak ku sangka dia bisa menjadi gadis kurang ajar. Dia yang berbuat jahat, malah aku yang dikenal jahat. Aigoo…” keluh Suzy seraya menggeletakkan kepalanya di atas meja bangkunya. Dia merasa sedikit lega karena guru kedisplinan pasti akan memberikan hukuman yang setimpal pada Eunji.

Sehun tersenyum senang pada Suzy. Akhirnya terbukti sudah bahwa Suzy tidak berbuat sejahat Jung Eunji. “Syukurlah…” ucapnya lirih.

Suzy melirik Sehun yang tengah menundukkan kepala. “Sehun-a, kau tahu alasanku melepaskan Myungsoo oppa?”

Pertanyaan Suzy membuat Sehun penasaran dengan jawaban yang sebenarnya ia simpan. “Apa maksudmu? Jadi… kau benar-benar dijodohkan dengan Kim Myungsoo?” Terdapat semburat kekecewaan pada wajah Sehun.

“Eoh,” jawab Suzy singkat diiringi anggukan kepala. “Tapi alasanku melepaskan dirinya terbilang cukup menarik dan menyenangkan. Sebagai sahabatku, kau pasti menyukainya.”

Hah!
Sehun mendesah kasar. Apa lagi maksud perkataan Suzy? Gadis itu senang sekali bermain tebak kata. “Yaak! Jelaskan apa maksud pembicaraanmu? Otakku sedang tidak ingin berpikir keras. Kejadian tadi cukuo membuatku lelah.”

Suzy tersenyum jahil. Ia menarik kerah baju Sehun sehingga jarak antara keduanya hanya beberapa sentimeter. “Alasanku karena… appa menjodohkanku dengan putra keluarga Oh.”

“Mwo? Kau senang dijodoh… kan?” Terdapat jeda dalam akhir kalimat yang diucapkan oleh Sehun. “Keluarga Oh?” tanya namja jangkung itu tak percaya. Ia menganggap telinganya sedang tidak beres. Mungkin saja telinganya salah tangkap.

Suzy mengangguk mantab. “Eoh, kau – Oh Sehun. Appa akan menjodohkan kita berdua.”

Sehun membelalakkan kedua bola matanya – tak percaya dengan apa yang didengarnya. “Jinjja?”

“Kau tidak sedang menyukai Park Jiyeon, kan?” tanya Suzy selidik.

“Anhi. Aku hanya ingin menjadi teman yang baik untuknya. Tapi pada awal pertemuan – aku sempat menyukainya. Perasaan itu hancur saat aku tahu kalau Jiyeon sangat mencintai Myungsoo bahkan perasaannya itu sudah lama bersarang di hatinya.”

“Aigoo, itu artinya kau patah hati dan bertemu dengan putri cantik seperti diriku.”

Sehun tertawa terbahak-bahak. Suzy merupakan orang yang paling dekat dengannya, terlebih mereka lahir di tahun yang sama. “Jadi, sekarang kita adalah tunangan, begitu?”

Suzy mengangguk. “Eoh. Maafkan sikapku kemarin-kemarin yang keterlaluan pada Park Jiyeon hingga membuatmu marah. Aku hanya merasa iri padanya, namun kini semua baik-baik saja. Aku sudah bahagia bisa bertunangan denganmu, Sehun-a. Kau lebih baik daripada Kim Myungsoo.”
***

Myungsoo meninggalkan ruang ketua yayasan yang notabennya adalah ayah kandungnya dan berdiri menyandarkan tubuhnya pada dinding. Ia tak menyangka kalau ayahnya akan semarah ini. Tapi pada akhirnya tuan Kim tidak melarang Myungsoo menjalin asmara dengan gadis bermarga Park yang dikenal sebagai salah satu siswi teladan.

“Oppa!” panggil Jiyeon yang keberadaannya di tempat itu tak disadari oleh Myungsoo.

“Eoh, Jiyeon-a.”

Jiyeon mengamati raut wajah Myungsoo dengan seksama. Dia pasti akan tahu kalau sesuatu dari raut wajah Myungsoo. “Oppa, kau baik-baik saja?”

Myungsoo memamerkan senyumnya. Untuk kali pertama ini, Jiyeon dapat melihat senyum Myungsoo yang begitu menawan. Pasti telah terjadi sesuatu pada namja yang dicintainya itu.

“Jiyeon-a, mianhae. Mian, aku telah sering melukai hatimu dan membuatmu dibenci oleh siswi seperti Jung Eunji dan Suzy.”

Jiyeon meraih tangan Myungsoo dan menggenggamnya erat. “Bagiku cukup mengetahui perasaan oppa yang sebenarnya. Aku tidak berani mengharapkan lebih dari itu.”

“Tapi aku akan memberimu sesuatu yang lebih dari itu.”

Jiyeon mengangkat kedua alisnya.

Greb!
Myungsoo meraih pinggang ramping Jiyeon hingga tubuh keduanya menempel erat.

Deg! Deg!
Detak jantung mereka berdua terdengar berpacu dengan hembusan nafas.

“Op, oppa…” lirih Jiyeon. Jika orang lain melihat mereka berdua saat ini – pasti Jiyeon tak dapat menahan malu.

“Jangan khawatir. Aku ingin tetap seperti ini untuk beberapa saat. Jiyeon-a, aku akan memberikan sesuatu yang lebih padamu. Aku tidak hanya memberikan hatiku untukmu tapi seluruh jiwa dan ragaku akan ku berikan untukmu.”

Benarkah? Benarkah yang baru saja dikatakan oleh Myungsoo?

“Benarkah, Oppa?”

Myungsoo mengangguk dan semakin mengeratkan pelukannya. “Aku akan menjadi orang yang selalu ada untukmu. Kita akan selalu bersama. Gomawo sudah mencintaiku dalam waktu yang lama, Jiyeon-a.”

Jiyeon merasakan kelegaan di dadanya. Ia tersenyum senang. Akhirnya Myungsoo benar-benar menjadi miliknya. Terimakasih, Tuhan….

End.

Annyeong…
Maaf ya baru bisa update sekarang. Padahal chapter ini aku kerjain setelah publish chapter sebelumnya. Namun dalam beberapa bulan kemarin aku sama sekali gak moof lanjutin ff ini. Jadinya terbengkalai deh. Syukurlah kalau sekarang dapat terselesaikan.
Semoga endingnya tidak mengecewakan.
Thankyou yang sudah berkenan membaca ff ini.

14 responses to “[Chapter – 7] Knock to My Heart (End)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s