[CHAPTER – PART 10] Skinny Love

litlethief-order-skinny-love

poster credit: zhyagaem06 @ Poster Order


Skinny Love by Little Thief

Cast: Park Jiyeon, Kim Myungsoo

Other cast: Park Sooyoung (Joy), Choi Minho and Lee Jieun (IU)

Genre: romance, little bit angst

Rating: PG-13

Length: Chaptered

Hari ini, Jiyeon memutuskan untuk datang lebih pagi. Jauh lebih pagi dari biasanya.

Pukul setengah enam, dia sudah siaga di depan pintu kafe Moong. Dia tak ingin didahului siapapun kecuali si Bos Myungsoo hari ini. Jadi, menunggu fajar menyingsing, dia duduk bersandar di depan pintu kaca seperti gelandangan. Karena semalam dia hanya tidur jam dua pagi, jadi Jiyeon sempat tertidur di depan.

“Sedang mencoba jadi gelandangan?” sebuah suara yang terdengar begitu menyebalkan memanggilnya, menyadarkan Jiyeon dari mimpinya yang sementara. Dia terbangun dan memandangi bayangan wajah seseorang yang masih samar. Lama kelamaan, bayangan itu menjelma menjadi wajah Myungsoo yang sedang tersenyum melihat tingkahnya.

“Tidak. Aku menunggumu, sialan,” umpat Jiyeon, tak terima dirinya disebut demikian. Dia jelas punya etos kerja yang bagus untuk ukuran seorang pekerja yang baru ada di sini beberapa bulan. Betapa teganya dia.

“Ah, aku baru tahu. Kenapa tak bilang daritadi?” kini nada suaranya melembut. “Kau terlihat menyedihkan, Ji. Bangun, aku akan membuka kuncinya. Harusnya kuberikan kunci ini padamu saja besok, ya? Kau yang paling rajin di antara semuanya…”

Tangan Myungsoo terulur untuk membantunya berdiri. Jiyeon menatap Bosnya itu dengan ragu-ragu. Dia terlalu takut untuk memulai apa yang hendak dia bicarakan. Namun, dia menyambut jari-jari Myungsoo, dan berdiri.

“Aku datang lebih awal untuk bicara padamu,” ucapnya sambil membersihkan kotoran jalanan di pakaiannya, “tentang sesuatu.”

“Oh, ya? Apa misalnya?” Myungsoo memilih-milih kunci di antara entah berapa kunci yang ada di tangannya. Dia kemudian menatap Jiyeon waswas. “Seperti keluar dari sini, misalnya? Saranku, jangan. Kami butuh orang baru serajin kau, dan—“

Jiyeon memutar bola mata jengkel mendengar ocehannya, kemudian memelototi Myungsoo. “Kalau aku keluar, keadaanku bertambah parah, Bos.”

“Oh, bagus, deh.” Myungsoo nyengir sambil memutar kunci dan mendorong pintu kaca. Kemudian dia masuk ke dalam kafe, dan Jiyeon membuntutinya. Gadis itu melakukan sesuatu yang reflek di luar kepala, yaitu membalikkan plakat ‘OPEN’. Namun Myungsoo menghentikan.

“Jangan dibuka dulu kafenya, kau bilang kau akan bicara padaku. Bicarakan baik-baik di mana saja yang kau mau, asal tak ada orang yang mengganggu.” Myungsoo mengingatkan.

“Harus sekarang?”

Dengan bahu yang diangkat, Myungsoo hanya tersenyum. “Kau tahu waktuku setelah kafe dibuka tak banyak. Kau pasti juga akan mengurus banyak hal di bawah.”

Satu helaan napas keluar dari mulut Jiyeon. Dia berjalan limbung ke salah satu kursi. Ia meletakkan siku di meja dan menutup wajah dengan tangannya. “Aku lelah, sampai-sampai rasanya ingin menangis…”

Melihatnya seperti itu, Myungsoo duduk di kursi di hadapannya. Dia hanya bisa menatap Jiyeon yang memang benar-benar terlihat ingin menangis. “Kau selalu terlihat kuat dan tegar, juga menyebalkan sampai-sampai aku ingin menampar wajahmu secara langsung, tapi tak kusangka kau juga kelelahan seperti itu…”

Ketika Jiyeon membuka tangannya, dia mengusap airmata yang jatuh di sudut matanya. “Kadang kau lupa orang sepertiku juga punya hati.”

“Baiklah, Park. Berhenti jadi bayi dan ceritakan padaku secara detail masalahmu, dan barangkali kau butuh bantuanku.”

“Memang aku butuh,” balas Jiyeon dengan suara serak. “Aku ingin sekali kau membantuku.”

“Ceritakan,” sambung Myungsoo dengan tatapan paling lembut yang pernah ia berikan kepada seseorang.

“Kau tahu, pertama kali aku datang ke sini adalah saat keluargaku dalam keadaan kelaparan. Kulkas kami kosong dalam beberapa minggu, lalu ayahku memintaku untuk keluar, mencari makan untuk kami bertiga. Aku menghirup bau makananmu tempat ini saat itu, lalu aku sampai-sampai pingsan begitu memasuki kafe ini, karena di satu sisi aku benar-benar lemah dan tidak berdaya. Di satu sisi, aku tak percaya bisa meghirup bau selezat itu,” tutur Jiyeon, mengusap mata sembabnya lagi.

“Ah, ya. Aku ingat. Itukah masalahmu?”

Jiyeon tidak menjawab. “Lalu kau datang, dan juga si Pelayan Minho. Kau tak tahu betapa terimakasihnya aku saat aku mendapatkan beberapa potong roti darimu. Kesimpulan dari ceritaku? Kehidupanku begitu menyedihkan.”

Belum sempat Myungsoo membalas, Jiyeon menempelkan kepalanya di meja. Membuat pria itu mau tak mau menatapnya dengan rasa iba, dan…hatinya betul-betul ingin menolong gadis di hadapannya ini.

“Sooyoung, adikku. Dia anak yang begitu cerdas, pintar. Aku bangga padanya. Di saat teman-temannya asyik nongkrong di tempat-tempat, dia pulang ke rumah, dan belajar. Dia terus mengisi otaknya dengan makanan, tapi tidak dengan perutnya. Ini semua salahku. Aku tahu dia butuh liburan, aku tahu dia ingin senang-senang dan coba makanan enak. Tapi kami begitu menyedihkan, dan ini semua salahku…” bahu Jiyeon bergetar selagi Myungsoo tak dapat melihat wajahnya.
“Lalu, kemarin, saat aku izin tak kerja, sebetulnya aku tak sakit, tapi aku kesiangan karena ikut ke pestamu, aku minta maaf,”    tawa Jiyeon mau tak mau keluar saat mengucapkannya   “Sooyoung datang padaku. Membawa selebaran yang mengubah hidupku hari ini. Kau tahu apa sebaran itu?”

“Tolong, Ji, jangan membuatku harus menebak sesuatu,” gumam Myungsoo, dalam hati ingin sekali membiarkan gadis itu menangis sepuasnya di pundak miliknya.

“Dia mengikuti tes untuk pertukaran pelajar ke Negeri Paman Sam. Kau tahu apa? Dia diterima. Tadinya aku benar-benar marah padanya, karena dia tak bilang-bilang padaku. Namun, dia berkata bahwa dia mengikuti tes hanya untuk iseng saja. Sooyoung tahu Amerika itu cuma sekadar bisa dilihat dalam mimpi dan angan. Dia tak menyangka akan diterima sampai babak akhir. Ternyata dia diterima sampai masuk sepuluh finalis terpilih yang akan diikutkan. Dan sekarang dia akan menjadi salah satu dari tiga orang orang yang akan mewakili Korea ke sana.” Walaupun terdengar sedih, Jiyeon berusaha memperlihatkan bagian ini dengan bangga.

“Apa pendapatmu tentang Amerika? Kehidupan dengan taraf tinggi, mahal dan penuh mewah. Berbeda dengan status dirinya. Sudah kukatakan, ini semua salahku… Aku butuh uang. Tapi tabunganku tak seberapa. Aku butuh uang untuk mengurus paspor, visa, segalanya, di saat aku bahkan tak pernah keluar jauh-jauh dari kota ini. Aku harus dapat. Aku tak akan membiarkan Sooyoung kehilangan kesempatan emas, tega benar kalau aku harus melepas pertukaran pelajarannya ini. Karena itu, aku benci uang, tapi di satu sisi, aku membutuhkannya. Aku benci karena uang membuat semuanya terhambat. Tapi di satu sisi, aku pun membutuhkan uang. Sangat membutuhkannya.”

Jiyeon mengakhiri ceritanya dengan mendongakkan kepala kepada Myungsoo. “Aku tak pernah menganggap ini sebagai beban. Aku harus melakukannya sepenuh hati, demi adikku. Maka dari itu, aku minta bantuanmu. Terserah kau mau melakukan apa. Memintaku kerja 24 jam di sini, atau menjadi pelayan rumahmu, tukang antar roti, apapun. Aku rela menerimanya.”

Hening sejenak di antara mereka berdua. Myungsoo menatap Jiyeon yang wajahnya bercahaya emas karena pantulan sinar matahari terbit di dari dinding kaca. Bahkan dari wajahnya yang seperti itu, Myungsoo tahu ada beban berat yang dia tanggung. Gadis menyebalkan ini, dia punya hati yang tak pernah dia lihat sebelumnya. Baru kali ini dia lihat Jiyeon sesedih itu.

“Aku bisa membantumu,” ucapnya pada akhirnya. “Tapi bukan berarti tanpa sesuatu yang harus dikorbankan. Yah, aku tahu mungkin ini akan tak adil. Tapi semua orang di sini mendapat tunjangan yang sama, atas kerja keras mereka. Kalau kau ingin mendapat lebih, maka, untuk yang adilnya pun kau harus bekerja jauh lebih keras daripada mereka.”

Jiyeon menatap Myungsoo terharu. “Benarkah? Sungguh? Aku akan lakukan apa saja. Menyuruhku pindah rumah ke sini pun, aku mau. Asal ini untuk adikku.”

Seolah belum selesai mengatakan apa yang hendak dia katakan, Myungsoo mengangkat sebelah tangannya. Mengisyaratkan Jiyeon untuk tak berbicara sementara. “Sebelum itu, tipe bahwa kau menangis benar-benar tidak cocok. Aku lebih suka kau yang konyol dan menyebalkan. Kau butuh sesuatu agar kau tak sedih lagi.”

Tahu-tahu, Myungsoo berdiri dari meja dan berjalan ke arahnya, kemudian memeluknya hangat dan singkat.

***

Pada tengah malam, setelah memperhatikan rekaman CCTV di salah satu meja kantornya dan memastikan keadaan kafe baik-baik saja, Myungsoo memutuskan untuk membereskan berbagai barangnya dan pulang ke rumah. Dia jelas tak akan menginap di sini walaupun di ruang kerjanya ini ada sofa dan tempat tidur kecil untuk jaga-jaga jika dia ingin bersantai.

Myungsoo berjalan ke arah sofanya dan mengambil tas ransel hitam besar yang terletak di atas sofa. Ketika hendak duduk di atas sofa, dia meringis. Sepertinya dia menduduki sesuatu. Dia langsung mengambil benda yang dia duduki dan termenung.

“Oh, handycam,” ujar Myungsoo datar menatap handycam abu-abu yang tua tersebut. Itu handycam sebagai kado ulangtahunnya yang ketigabelas. Dia meletakkannya di ruang kerja karena di benda itu terdapat banyak sekali fotonya dengan Minho, sebagai kenangan-kenangan. Foto dengan sahabat terbaiknya itu juga membuatnya semakin semangat untuk mengelola kafe yang mereka berdua buat dengan penuh perjuangan.

Karena iseng, Myungsoo memutuskan menyalakan handycam tersebut. Koleksi terakhir yang tampil adalah video sekitar empat tahun lalu. Dokumentasi video ketika grand opening pembukaan kafe yang waktu itu namanya masih M & O. Wajah Myungsoo terpampang jelas.

“Sajangnim Kim! Bagaimana perasaan Anda saat kafe ini dibuka, hah?” terdengar suara Minho yang berpura-pura sebagai seorang reporter.

Myungsoo tampak berpura-pura berpikir seolah itu pertanyaan penting. “Perasaanku? Entahlah, aku stress. Bekerjasama denganmu jelas bukan hal yang bagus, Choi.”

Hei!” pekik Minho tidak terima. “Awas ya, akan kugeser posisimu nanti!

Minho memukul-mukul Myungsoo, membuat dia harus mematikan kamera agar memudahkannya memukul temannya sampai puas. Myungsoo masa kini tertawa melihat kekonyolan mereka berdua.

Sambil bersiul, dia melirik berbagai foto dan video di kamera dengan asyik. Kadang tertawa dan malu sendiri. Kemudian, jarinya terhenti menekan tombol saat melihat suatu video dengan wajah Soojung tertera di dalamnya. Myungsoo lupa ini video yang mana. Masih dengan iseng yang sama, Myungsoo memutar video tersebut.

Hai, hai, hai!” pekik Myungsoo girang sambil memegang kamera, berlari ke arah seseorang yang berdiri di tengah lapangan sekolah saat matahari terik. “Jangan melamun di situ, Soojung! Nanti kau terbakar matahari!

Seseorang itu menoleh dengan sebal ke arah Myungsoo. Ia menutup lensa kamera dengan tangannya. Soojung. “Jangan buat video tentangku!

Soojung! Kita ini sudah lulus SMP, harusnya kau akan rindu padaku kalau kita beda sekolah. Lagipula, kita hanya berteman selama satu tahun!” ucap Myungsoo sambil menepis tangan Soojung di layar.

Remaja perempuan yang ada di video, dan rambut dikepang satu itu berdecih. “Cih! Siapa juga yang akan rindu padamu.

Ah, kau yakin?” goda Myungsoo. Kemudian, dia mengganti posisi kamera di tangannya saat melihat sesuatu. “Oh, iya! Oi, oi! Oh Sehun! Oh Sehun!” pekik Myungsoo keras ketika kameranya menyorot seseorang yang berdiri tak jauh dari mereka di lapangan.

Ekspresi Myungsoo yang menonton video tersebut dengan wajah gembira dan senyum kecil langsung berubah dingin dan datar. Wajah Sehun memenuhi layar, tampak bingung dengan apa yang dilakukan Myungsoo yang menyorotnya.

Kenapa?” tanya Sehun datar.

Dengan nada sedih yang dibuat-buat, Myungsoo berkata, “Soojung bilang setelah lulus, dia tak akan merindukanku! Awas saja kalau sampai kami beda SMA, dia akan merengek seperti bayi. Oh Sehun, kau akan merindukan aku, atau tidak?

Wajah bingung Sehun perlahan berubah menjadi cerah. Anak berusia lima belas tahun itu tersenyum lebar sekali. “Yah, siapa, sih, yang tak akan merindukanmu? Sifatmu yang konyol itu. Yang membuatku dan semua teman yang lain malu. Tak ada yang bisa menyaingimu saat SMA nanti!

Asyik, Sehun akan merindukan aku. Kuharap kita akan jadi teman SMA dan sekelas lagi seperti di SMP, Oh Sehun! Kau sahabatku yang baik! Nah, bagaimana, Soojung? Kau berubah pikiran untuk merindukanku nanti? Atau justru kau akan merindukan Sehun?

Muka Soojung terlihat memerah di video tersebut. Dia menghentakkan kaki kesal, menatap kamera dengan marah. “Kalian berdua bicara apa, sih? Aku mau mati saja kalau sekelas atau satu sekolah dengan kalian lagi. Kalau bisa aku akan kembali ke Amerika! Lihat saja!

Setelah itu, Soojung berjalan pergi dengan langkah jengkel. Myungsoo dan Sehun tertawa terbahak-bahak melihat wajah Soojung merah seperti tomat. Mereka berlari mengejar gadis itu, terlihat ketika layar kamera seperti terguncang. “Soojung! Tunggu kami!

Aku akan merindukanmu, Soojuuuung!” teriak Sehun dengan nada yang dibuat sedih, kemudian pemuda itu terbahak-bahak lagi. Myungsoo ikut tertawa di sampingnya. Kemudian, layar kamera pun mati.

Myungsoo menatap kamera kini dengan kaku. Ya, tidak dipungkiri, selain Minho dan Myungsoo, Sehun adalah sahabat pertama gadis itu. Dan tak dipungkiri lagi, Sehun pun dulu teman dekatnya. Ketika Minho absen masuk, maka Myungsoo akan bermain-main dengan Sehun dan Soojung.

Beberapa bulan setelah video itu direkam, semuanya terjadi. Mereka bertiga memang masuk ke dalam sekolah yang sama. Di SMP dan SMA, Sehun adalah sahabat baiknya, mengingat Minho berbeda sekolah dengannya. Mereka pun masuk ke dalam satu kelas yang sama.

Dan tanpa sadar juga, mereka pun merajut kisah yang sama. Keindahan itu sirna ketika Sehun memutus jalinan itu dengan sendirinya. Dia mengkhianati Myungsoo ketika dirinya tak bisa menahan perasaannya pada gadis yang menjadi teman terbaiknya itu. Membuat Myungsoo tertusuk dari belakang dan berpikir tak akan bisa memaafkan Sehun kapanpun, walaupun pertemanan enam tahun sejak SMP. Untung saja pria brengsek itu sudah pindah ke Jepang. Entah untuk melarikan diri dari masalah atau memang ada sesuatu yang diurus di sana.

Siapa juga yang peduli.

Karena sibuk merenung dengan pikiran itu, dia lupa ada sesuatu lagi yang dia urus masa sekarang.

Cepat-cepat, dia melempar kamera itu ke sudut sofa dan memasukkan barang-barangnya ke ransel. Dia keluar dari ruang kerjanya, mengunci pintu. Menuruni tangga dan keluar melalui pintu kecil. Ketika dia tiba di dapur, Jiyeon sedang membersihkan meja-meja dan peralatan lain.

Nah, ini dia seseorang yang harus dia urus sekarang ini. Dia harus fokus memikirkan orang ini, dan tak akan terjebak lagi ke masa lalunya.

“Sudah selesai?” tanya Myungsoo.

Jiyeon menggeleng, mengusap keringat di dahinya. “Belum semuanya. Tenang saja, tampaknya tak begitu banyak.”

“Oh, ya sudah. Kalau begitu, aku pulang duluan. Jaga dirimu, Ji, dan jangan memaksakan diri,” pesan Myungsoo sebelum keluar dari pintu dapur. Begitu membuat perjanjian tadi pagi, dia langsung mempercayai kunci kafe kepada pelayan barunya itu.

Perjanjian itu isinya; Jiyeon harus pulang minimal satu jam lebih lambat daripada teman kerjanya yang lain. Dia harus mencuci perkakas, merapikan ruang kerja Myungsoo, membersihkan meja, lantai. Juga kalau diperlukan, Jiyeon harus menjadi pengantar pesanan kafe melalui delivery atau membagikan brosur kalau-kalau Moong sedang mengadakan diskon dan promosi.

Walaupun Myungsoo berjalan keluar dan seolah-olah akan pergi ke halte, rupanya tidak. Myungsoo justru menunggu di salah satu sisi gang di tepi jalan utama yang biasa Jiyeon lalui. Dia ingin memastikan bahwa bawahannya itu benar-benar pulang ke rumah.

Sepuluh menit berdiri di sisi gang, dia mendengar langkah kaki. Setelah berusaha bersembunyi, matanya mengintip dari sudut pada siapa yang berjalan. Rupanya Jiyeon. Gadis itu melangkah dengan pelan, dan tak menyadari seseorang mengintai dari sebuah gang kecil di sebelahnya.

Tanpa sadar, senyum Myungsoo terkembang. Dia bergumam, “tetap semangat dan semoga sukses.”


aduh, sebagai author, aku merasa jahat. FF INI UDAH BULUK BANGET DAN BARU DIUPDATE SEKARANG?!!?! T_T

entah kenapa meskipun cerita ini gambarannya sudah jelas banget, aku masih stuck saat menulisnya. Maklum, sebagai author aku punya banyak kurangnya dan waktuku pun juga cuma 24 jam dalam seharinya.

dan untuk SL, aku merasa tiap chapter hanya fokus pada satu inti kejadian. Jadi makanya, jangan protes kalau SL paling panjang cuma sampai 3rb kata, hehehe. Karena menurutku fokus pada satu inti kejadian itu lebih enak daripada dalam satu chapter kejadiannya banyak. Malah bikin capek bacanya, hehehe.

Biar gak lupa, daftar isi Skinny Love bisa dilihat di page libraryku di sini.

Terimakasih atas waktunya dan maafkan kalau author ini kadang nyolot atau nyebelin. Cheerio!

with regards,

nadia.♥

23 responses to “[CHAPTER – PART 10] Skinny Love

  1. Wah makin berat aja hidup jiyeon demi membanting tulang untuk mencari uang yg bnyk…. Kira2 kpn yah mereka akan menjalin hub????

  2. Wah2 meskipun kemarin aku udah baca *ets aku udah komen kok waktu itu* tapi pas baca ulang masih seru ajah ..
    Jujur yah ff ini masuk kedaftar ff yg paling aku tunggu2 thor 😀 aku suka banget sama ff ini feelx dapet banget 😊
    Kapan ff ini di lanjut thor? Aku penasaran banget sama ff ini *sampe bolak balik wp cuma mau ngecek ff ini udah di post/belum* cepet2 di post yah thor, Fighting untuk nulis kelanjutan ff ini 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s