[CHAPTER-PART 5] Pain

pain[Chapter-Part 5] Pain
Aeyoungiedo.
PG-15

Dia,
Gadis itu sejauh ini hanya menautkan kedua alisnya, gelas bening yang sedari tadi dipegangnya tak bereaksi apapun. Airnya tidak bertambah;namun juga tidak berkurang.
Dinding kedap suara memantulkan suara bariton yang terang saja, mengusik batinnya.

Myungsoo paham. Jiyeon juga paham. Gadis dengan surai cokelat itu mengerti, Myungsoo memang menyukainya sejauh ini. Tapi jujur saja pernyataan Myungsoo yang terkesan mendadak itu menohok batinnya.

Tangisan Jiyeon pecah. Myungsoo tak berkuasa, tangannya terus mengepal sejak tadi. Yejin, hanya menunduk seraya memandangi teddy-bear milik Lauren. Menenangkan amarah yang terus berkecamuk di sanubarinya.

Jiyeon pergi bersamaan dengan suara pecahan gelas.

Myungsoo tidak mencegahnya, karena ia tahu, Jiyeon pasti kembali.

******

“Jadi, Myungsoo menyatakan cintanya padamu, Ji?”tanya Suzy seusai meneguk habis cocktailnya. Jiyeon hanya memandangi televisi yang menyala, lalu mengangguk. Jiyeon tidak tahu bagaimana cara berpikir jernih untuk saat ini. Bukan berarti Jiyeon tidak menyukai Myungsoo yang telah mengisi hampir separuh nyawanya. Jiyeon, hanya canggung. Gadis itu terlalu kikuk untuk mencintai seseorang, untuk saat ini.

“Aku harus bagaimana, Sooji-ya? Aku bingung sekali,”

Suzy menggeleng perlahan. Seutas senyum manis menghias bibir merah Suzy. Tangannya menepuk pundak Jiyeon.

“Aku memang tidak bisa memberi solusi untukmu, Ji. Tapi jika kau butuh sesuatu, bersandarlah pada pundakku. Aku akan selalu ada untukmu.”Suzy memeluk Jiyeon diiringi sesegukan yang memecah keheningan diantara keduanya.

Hari ini hari Sabtu. Jiyeon, Lauren, Suzy, Yejin, dan juga Ellise yang kebetulan sedang tidak sibuk memutuskan untuk berlibur sejenak di Southampton. Lauren terus tersenyum melihat pemandangan yang indah di Coopers Beach. Jiyeon tampak menikmati pemandangan pantai yang ditawarkan, sambil sesekali tubuhnya menari diiringi alunan musik Hula-hula. Suzy dan Ellise tertawa menikmati sunset yang disajikan sembari meminum punch. Sedangkan Yejin, ia terus melamun.

“Ellise, kau mau kemana?”tanya Jiyeon setelah melihat Ellise beranjak pergi. “Aku harus menemui oppaku yang berdiri di depan cottage, aku takut ia akan tersesat.”

“oppa,”sapa Ellise mengejutkan Minho yang tengah melamun di depan cottage yang disewa oleh Ellise. Minho tampak terkejut lalu ia berlari memeluk Ellise. Ellise tertawa. Mereka hanya tidak bertemu dua tahun, tapi Minho sudah sangat merindukannya.

“Bagaimana kabar appa?”
“ya, begitulah. Ketika eomma memutuskan untuk bercerai dari appa, ia tampak sedikit depresi dan –yah, kau tahulah.”
“apa oppa sudah memiliki kekasih?”

Minho tersedak. Ia tahu Ellise menyindirnya.

“apa kau sudah memiliki informasi tentangnya?”
“doakan aku, oppa. Aku sudah dapat sebagian, dan, tinggal tunggu waktunya.”Ellise tertawa menyeringai.

***

“Apa kau sudah mengatur jadwal meetingku, Jordan?”tanya Myungsoo sambil terus berkutat dengan laptopnya. Pria berkumis tipis yang dipanggilnya Jordan tadi mengangguk. Myungsoo mengela napas.

“Tolong, kau gantikan aku meeting dengan perusahaan lain. Aku benar-benar frustasi sekarang Jordan.”Myungsoo meringis, diikuti tangan Jordan yang perlahan menyentil dahi Myungsoo. Jordan mengambil majalah milik Myungsoo, kemudian menggerutu singkat. “Selalu saja seperti itu, huh.”

Myungsoo meringis. Sebenarnya ia tidak tega pada Jordan, hanya saja ia sedang merasa frustasi. Pada persoalan apapun, termasuk pada adiknya sendiri.

“Apa kau ditolak lagi oleh Park-nim?”sindir Jordan.
YA! Dia tidak menolakku, tahu. Dengar ya, Kim Myungsoo tidak pernah mengalami penolakan dalam hidupnya. Hanya saja, dia belum siap untuk melanjutkan hubungan denganku.”elak Myungsoo.

“Ayolah, babe. Mengaku saja, bagaimana kalau kita bersenang di bar bersama rekan? Ku dengar, itu sangat mengasyikkan. Bar di Las Vegas memang yang terbaik,”celetuk Jordan setelah mendengar lenguhan panjang dari Myungsoo. Myungsoo menutup laptopnya. Menatap Jordan yang sedang mengerling dihadapannya. “Jordan, jangan menatapku seperti itu. Aku tidak mau ke bar sampai kapanpun.”

“Bahkan demi Park-nim?”
“Itu terkecuali, Jordan Parker.”

Jordan terkekeh. Myungsoo memang gengsi untuk mengakui bahwa cintanya ditolak oleh Park Jiyeon. Awalnya Jordan memang menyukai Jiyeon, tapi hanya sebatas kagum karena karir yang cemerlang.

Hey bro. Aku akan berbicara serius padamu sekarang.”dehem Jordan. Myungsoo menautkan kedua alisnya.

“Aku tahu ini sulit untukmu, ku harap kau bisa melupakan Park-nim mulai dari sekarang. Bukannya kau tidak baik, hanya saja kalian sama-sama pernah melakukan kesalahan di masa lalu. Jiyeon tidak akan pernah bisa melupakan kesalahanmu yang meninggalkannya begitu saja, bahkan aku merasakan hal yang serupa dengannya. Jadi tolonglah Kim Myungsoo, kau harus meninggalkannya. Kau hanya membuat hatinya lebih terluka, friend.”ucap Jordan. Myungsoo terkekeh sinis. Mata elangnya menembus manik Jordan, membuat Jordan sedikit gusar. Tangannya memegang bahu Jordan.

“Dengar ya, tuan Jordan Parker yang terhormat. Kita memang bersahabat, tapi kau tidak tahu melainkan secuilpun hal tentangku. Kau tidak berhak mengaturku berbuat ini itu, aku mencintai Jiyeon dan aku yakin ia juga merasakan hal yang sama. Jadi itu cukup untuk hubungan kami, bukan?”

“Dia memang mencintaimu, Myungsoo. Tapi–”
“KELUAR DARI RUANGANKU SEKARANG!”
“Dengarkan aku dulu!”
“KELUAR!”

Jordan menatap amarah dari kilat mata Myungsoo. Myungsoo mengatur napasnya, membuang secuil kertas ke sembarang arah. Tangannya yang mengepal menghujam tembok, membuatnya mengeluarkan darah segar.

Jordan tahu.
Ada bahaya yang akan mengancam hubungan Myungsoo dan Jiyeon.

Jiyeon menatap Yejin yang mendengkur di sofa. Guratan halus di sekitar wajahnya nampak sekilas, hanya saja tidak mengurangi kecantikan di wajahnya. Jiyeon membelai surai cokelat milik Yejin. Jiyeon membenci Yejin, satu hal yang tidak berubah. Hanya saja rasa benci itu tidak mengalahkan rasa sayang yang jauh terpendam di lubuk hati Jiyeon.

Air mata sialan itu keluar dari mata Jiyeon. Yejin melamatkan pandangannya. Wajah Jiyeon yang berbeda. Tatapan itu, mengingatkan pada tatapan sepuluh tahun yang lalu. Tatapan yang rapuh tapi tegar.

Jiyeon memeluk Yejin. Meluapkan segala perasaan yang membuncah melalui tangisan dan pelukannya. Yejin tidak mengerti, Yejin sungguh tidak mengerti.

“Sungguh, unnie rela padamu Yejin-ah.”

Yejin menggigit bibir bawahnya. Ini jauh lebih terasa sakit.

Unnie lebih pantas untuk Myungsoo oppa, jadi berjuanglah unnie.”

Jiyeon melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah Yejin yang orang bilang, sangat mirip dengannya. Jiyeon membelai wajah Yejin. Yejin menunduk. Jiyeon sudah terlalu baik untuk Yejin, maka sudah saatnya sekarang untuk Yejin mengorbankan apapun yang dia punya. Termasuk Myungsoo yang sangat dicintainya, untuk Jiyeon.

unnie, lebih baik aku mencari pria lain saja, ya?”Yejin mengusap air mata yang mengalir di pipi Jiyeon. Jiyeon menggeleng, bibirnya tetap menyunggingkan seutas senyum untuk Yejin.

“tidak, Yejin-ah. unnie akan fokus mengurus Lauren dulu, lagipula unnie yakin suatu saat nanti Myungsoo akan menyukaimu juga.”hibur Jiyeon.

unnie, aku tahu Lauren butuh seorang ayah, dan ku rasa Myungsoo lah orang yang tepat.”

Jiyeon tertawa terbahak. Lauren menatap Jiyeon datar, tanpa ekspresi.

“Buat apa kita berdebat soal Myungsoo, yang penting sekarang kita berdamai, arra?”

“Jiyeon-ssi mau tambah?”
Jiyeon mengangkat gelas birnya, menolak halus. Ellise mengangguk maklum kemudian mendaratkan pantatnya di sofa empuk berwarna merah. Ellise mentraktir semua teman kerjanya, bahkan Suzy. Hari ini Ellise berulang tahun.

“Ellise-ssi bagaimana, apa kau sudah menyukai seseorang, uhm?”ledek Yoona yang bekerja sebagai desainer fashion di perusahaan majalah tempat mereka bekerja. Ellise menunduk malu, sekilas pipinya bersemu merah.

“Tidak, Yoona unnie, aku belum mempunyai siapa-siapa..”elak Ellise malu. Jiyeon dan Suzy terkekeh.

“Eh, Ellise, bagaimana kabar oppamu? Ku dengar ia belum memiliki pekerjaan di sini?”tanya Hyuna yang ikut menimbrung. Ellise menatap lantai dansa sebentar, kemudian mengangguk membenarkan ucapan Hyuna.

“Benar itu Ellise, siapa tahu oppamu menyukai Jiyeonie,”timpal Suzy. Jiyeon menggembungkan bibirnya, kemudian memukul kepala Suzy pelan. Suzy meringis. Biarpun pelan, pukulan Jiyeon terasa sakit. Dulu Jiyeon adalah pemain golf terbaik di sekolah. Jiyeon sempat ditawari bekerja sebagai pemain golf di sebuah klub, tapi Shinhye menolaknya. Dengan alasan Jiyeon harus fokus sekolah.

“Ku dengar Jiyeon unnie adalah pemain golf terbaik?”tanya Ellise penasaran.
“Ya, dulu dia adalah yang terbaik. Tapi dia sedikit angkuh sebenarnya.”jawab Hyuna sinis. Jiyeon mengela napasnya. Hyuna belum berubah. Jiyeon akui, ia memang angkuh. Tapi ucapan Hyuna terasa menyakitkan. Ditambah lagi, dulu Hyuna menyukai Myungsoo dan membenci Jiyeon.

eum Jiyeon-ah apa kau mengenal Jung Soojung?”tanya Yoona berusaha mengalihkan pembicaraan yang semakin panas. Jiyeon mengangguk sambil mengangkat alisnya keheranan. Setahu Jiyeon, Soojung saat ini menjadi seorang model di Perancis.  Jiyeon terakhir bertemu dengan Soojung dua tahun yang lalu, saat mengajak Lauren berlibur. Tapi kesan pertemuan mereka tidak berlalu menyenangkan.

“Sudahlah, ngomong-ngomong kalian mau berdansa tidak?”tawar Suzy sambil menggandeng Oh Sehun disampingnya. Hyuna, Ellise, dan Yoona langsung mengangguk. Jiyeon hanya diam. Sesungguhnya Jiyeon tidak merasa nyaman berada disini, walaupun ia sebenarnya sering pergi ke bar.

“Hai, sendirian?”
Jiyeon merapatkan mantel ke tubuhnya. Suasana tampak begitu mencekam. Jiyeon tidak menjawab, melainkan hanya berdehem saja. Jiyeon sebisa mungkin menghindar dari orang berkumis tersebut.

“Jangan macam-macam ya.”Jiyeon menepis tangannya yang mulai dirangkul oleh pria tersebut. Jiyeon gemetar, Jiyeon menangis, bahkan ia mulai takut.

BUGH!
Sebuah bogem menghantam wajah pria itu. Jiyeon meringkuk. Bar lebih ramai, tetapi Jiyeon tidak bisa melihat apapun. Sekilas Jiyeon melihat tatapan khawatir dari seseorang, dan

–ia pingsan.

***

“dimana aku?”
Jiyeon mengerjapkan matanya. Kini Jiyeon berada di sebuah ruangan besar, yang tidak pernah ia kunjungi sebelumnya. Di hadapannya tampak foto seseorang yang pernah dikenalnya.

“kau baik?”tanya pria itu sembari menaruh segelas air putih di nakas dekat tempat tidur Jiyeon. Jiyeon mengangguk, kemudian menatap sekujur tubuhnya. Ia memakai kaos yang sedikit terlalu longgar untuk tubuhnya.

“tenang saja, itu asistenku yang menggantikannya untukmu. Dia wanita.”Jiyeon mengangguk. Tatapan mata itu–seolah olah mengingatkannya pada sesuatu. Tapi Jiyeon berusaha menepisnya. Orang itu sudah Jiyeon buang jauh jauh dari kehidupannya. Lagipula mereka sama sekali tidak mirip.

“Hai, namaku Choi Minhyuk. Kau siapa?”pria itu -lagilagi- memulai pembicaraan. Jiyeon tersenyum tipis, “Park Jiyeon.”

“Senang berkenalan denganmu, Minhyuk-ssi.”
“Oh iya, anyway kau tinggal dimana? Aku ingin mengantarmu pulang, ku rasa kau belum sepenuhnya pulih.”
Kamshahamnida Minhyuk-ssi.”

~-~

“Dia putrimu? Aku kira kau belum menikah.”kata Minhyuk setelah melihat Lauren. Hari ini Jiyeon, Lauren, Minhyuk, dan juga Yejin memutuskan untuk makan bersama di restoran sekitar tempat tinggal Minhyuk. Jiyeon tersenyum senang, kemudian menatap Lauren yang masih melahap kentucky-nya.

“Kau masih tampak sangat cantik, dan badanmu tidak seperti orang yang sudah memiliki anak.”lanjut Minhyuk sambil memasukkan potongan sausage kedalam mulutnya. “Iya, unnieku memang masih cantik. Betul tidak, Lauren?”timpal Yejin setuju. Lauren mengangguk. “Dan kau —oppa, aku rasa kau cocok dengan Yejin imo. Yejin imo sedang butuh pasangan saat ini.”Lauren menjulurkan lidahnya kearah Yejin.

YA! Dasar seenaknya saja kalau bicara.”Yejin menepuk pucuk kepala Lauren. “umma, tolonglah ini terasa sakit,”rajuk Lauren manja. Jiyeon terkekeh kemudian mengelus kepala Lauren. Sesaat kemudian Jiyeon menjitaknya.

“Minhyuk-ssi
“Panggil aku Minhyuk-ah saja, tidak usah terlalu sopan begitu.”

em— Baiklah, Minhyuk, terima kasih atas traktirannya hari ini. Kami sudah begitu merepotkanmu, maaf mengganggu waktumu yang sibuk itu Choi Minhyuk,”Jiyeon membungkuk sopan pada Minhyuk diikuti oleh Yejin dan Lauren. Minhyuk tersenyum kemudian memegang tangan Jiyeon. Jiyeon menunggu jawaban Minhyuk.

“Bisakah kapan-kapan kita bertemu lagi? Aku akan meluangkan waktu luangku untukmu,”jawab Minhyuk,”dan juga Lauren yang manis sekali.”

Jiyeon tersenyum membalas pujian Minhyuk.

“Baiklah,”

unnie aku rasa Minhyuk itu menyukaimu,”kata Yejin setelah duduk di mobil. Jiyeon yang akan memasang seat-beltnya mendengus kesal. Lagi-lagi itu. Yejin sudah beberapa kali mengatakan hal itu, dan Jiyeon sejujurnya bosan.

“Oh iya, unnie. Aku merasa, kau harus lebih berhati-hati dengan Minhyuk.”
Mendengar ucapan Yejin, Jiyeon menghentikan sebentar aktifitasnya. Dilihatnya sebentar raut wajah Yejin melalui kaca. Jiyeon menunggu ucapan selanjutnya yang akan terlontar dari mulut Yejin.

“dia agak sedikit mirip dengan Choi Minho.”

tbc

Maafkan akuhhh udah ngilang beberapa minggu (bulan, maybe) dan aku harap kalian memaafkan aku xD maaf jalan ceritanya aneh, alurnya kecepeten dan gak nyambung, tapi aku harap kalian mengerti. Penjelasannya ada di part selanjutnya.
Aku ada aktifitas sekolah dan gak bisa sering-sering update FF lagi, dan ini too short menurutku. Jadi 1837 word.
Aku harap gak mengecewakan kalian ya.

29 responses to “[CHAPTER-PART 5] Pain

  1. hub. myungyeon blm m’baik yuach? klhtn’y jiyeon msh cnggung n ga tau mst gmn k myung pdhl q brhrp mrk bsa jauh lbh gi n sweetzzz gmn g2…kkkk
    minhyuk nugu? ap msh da hub. dgn minho?
    arghhhh gi” da namja yg dktin jiyeon…
    yg sbr z myung…;)

  2. Itu yejin msh suka sma myungsoo ? -_-
    Yejin kayaknya bisa baca muka orang ya haaha
    Iya jiyeon mah emang cocok sma myungsoo, tp disini myungyeon nya dikit😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s