[ CHAPTER – PART 7 ] A MINUTE OF HOPE

AOF

AMH

Tittle : A Minute of Hope

Author : gazasinta

Main Cast :
– Park Jiyeon as Jiyeon
– Kim Jaejoong as Dr Jae
– Kim Myungsoo as Myungsoo
– Bae Suzy as Suzy
– Jeo Min Seo as Park Jeo Min ( Jiyeon’s sister )

Extended Cast :
– Shin Goo as Seo Sin Goo ( Harabeoji )
– Kang Bo Ja as Halmeoni Kang ( Yongha’s mother )
– Park Won Sook as Won Sook ( Yongha’s sister )
– Yun Yoo Sun as Yoo Sun ( Jaejoong and Myungsoo’s mother )
– Kim Soo Ro as Soo Ro ( Jaeejong and Myungsoo’s father )
– Kim Mi Sook as Mi Sook ( Suzy’s mother )
– Kim Ji Young as Bibi Lee Eun Cha
– Lee Kwang soo as Kwang Soo
– Son Ye Jin as Seo Ye Jin ( Jiyeon and Jeo Min’s mother )
– Park Yong Ha as Yong Ha ( Jiyeon and Jeo Min’s father )

Genre : School, Family, Drama

Rating : PG-17

Poster created by @olivemoon2

Mian yang sudah kirim sms or email dan tidak aku jawab. Aku baru sadar ada scene yang hilang setelah aku post, makanya aku kasih PW. Nah sekarang sudah selesai edit makanya aku buka kembali, selamat menikmati dan jangan lupa RCL.

Disclaimer : FF ini terinsprirasi dari Kdrama yang sangat menyentuh Thank You, tapi alur dan ceritanya pure milik author.
Sorry for typos , and happy reading ya guys!!!

“ Be a strong wall in the hard times and be a smilling sun in the good times. “

Previous part

Jaejoong muncul dari ujung koridor. Ia melihat Jiyeon dari ujung sana, Langkah Jiyeon yang seperti itu membuat dada Jaejoong bergemuruh, apa ia terlambat ?

“ Mengapa kau tidak memberitahuku jika terjadi sesuatu pada Jeo Min ? “ Ucapnya kemudian membuat Jiyeon menghentikan langkah dan mendongakkan wajah untuk menatap Jaejoong.

Entah mengapa melihat Jaejoong, Jiyeon merasa tenang. Pikiran kalutnya sedikit terobati dengan kehadiran dokter itu, setidaknya ia tidak sendiri, Jaejoong tak meninggalkannya, tak meninggalkan dirinya yang merasa takut akan keadaan Jeo Min.

“ Dokter gomawo….jeongmal gomawoyo “ Lirihnya meski ia tahu Jaejoong tak mendengarnya.

Part 7 ~ A Minute Of Hope

Rumah Sakit Hwanghee,

Jaejoong semakin mendekat ke arah Jiyeon yang hanya berdiri ditempatnya seraya memandang dirinya lekat. Dilihatnya yeoja itu buru-buru mengusap pipinya yang mulai basah karena airmata, seolah tak ingin Jaejoong melihatnya. Jaejoong terlanjur melihatnya dan semakin membuatnya penasaran dengan apa yang telah terjadi.

Kini Jaejoong sudah berada tepat dihadapan Jiyeon, mata tajamnya beralih pada sesuatu yang ada digenggaman Jiyeon, sebuah amplop yang membuat jantung Jaejoong berdetak kencang. Wajah Jiyeon yang sehabis menangis dan terlihat lelah menguatkan dugaannya jika telah terjadi sesuatu. Apa begitu banyak waktu yang telah ia lewatkan  hingga ia tak tahu jika gadis ini sedang berjuang sendirian untuk adiknya.

“ Park – Jeo – Min ? “ Jaejoong memberanikan dirinya untuk bertanya, meski ia sebenarnya takut mendengar jawaban Jiyeon.

Jiyeon menunduk dalam, membuat perasaan Jajeoong semakin tak karuan, namun Jaejoong mengernyit tak paham ketika tidak berapa lama mendapati Jiyeon sudah kembali menatapnya tesenyum, meski yang ditunjukkannya adalah senyuman lelah.

“ Aku sudah menunggu cukup lama….berharap pulang dengan perasaan tenang, tapi ternyata….. dokter itu bukanlah pria yang sabar. Dia memilih pulang sebelum aku memberikan ini “ Jiyeon menunjukkan amplop yang sejak tadi dipegangnya pada Jaejoong dan tersenyum getir.

Tangan Jaejoong terangkat pelan untuk mengambil amplop putih yang ada ditangan Jiyeon. Ketika amplop sudah berpindah tangan, seketika itu juga Jaejoong membuang nafasnya kuat, tak sadar sikapnya yang seperti itu telah membuat Jiyeon menatapnya. Jaejoong tak peduli, ia benar-benar merasa lega. Amplop itu masih tersegel, itu artinya Jiyeon belum mengetahui apapun tentang penyakit yang diderita adiknya.

“ Sepertinya aku memang harus kembali ke tempat ini “ Ucap Jiyeon.

Rumah Kel. Bae,

Suzy duduk bersandar diatas ranjang dengan mata terpejam dan headset yang menempel dikedua telinganya. Sesekali ia menggoyang-goyangkan kedua kakinya dan bibirnya mengulas senyum. Alunan merdu sebuah lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi favoritnya tak lagi menjadi fokus utama seorang Bae Suzy, melainkan kalimat dari bibir Myungsoo siang tadi yang selalu berputar-putar dikepalanya.

“ Sudah kubilang kita ini bersaing, mungkin jika kompetisi itu selesai, aku bisa memikirkannya “

Satu rentetan kalimat yang bahkan tiap suku kata serta susunannya tak sedikitpun ia lupa, kalimat yang ia dengar ketika ia meminta Myungsoo mengajarkannya bermain piano. Mimik wajah Myungsoo ketika mengucapkannyapun tak mudah hilang dari ingatannya. Suzy lagi-lagi tersenyum, ia benar-benar sudah jatuh pada pesona Kim Myungsoo, namja dengan sikap cool yang berhasil memikatnya sejak pertama kali ia melihatnya.

Sejak hari itu sosok Myungsoo kerap hadir dalam mimpinya. Ini pertama kali dalam hidupnya ia merasa menyukai seseorang. Selama ini ia disibukkan dengan jadwal kegiatan yang disusun oleh eommanya, hingga tak sadar jika kehidupan remaja seusianya sangatlah indah. Meski begitu, Suzy bukan yeoja yang tidak tahu arti menyukai seseorang, bahkan ia banyak menerima surat cinta dari lawan jenis disetiap keberadaannya, namun selalu ia abaikan karena eommanya yang tidak memperbolehkan untuk Suzy memiliki hubungan asmara selama mengenyam pendidikan dan mengejar cita-cita.

Kim Myungsoo, entah mengapa Suzy seolah ingin mengabaikan peraturan eommanya kali ini. Namja dengan sorot mata tajam itu berhasil mengalihkan dunianya. Sayangnya ia tak seperti yeoja lain, yang jika jatuh cinta berani mengatakan atau menunjukkannya. Suzy adalah gadis rumahan, gadis yang memilih untuk menyukai seseorang hanya didalam hati saja, namun berbeda ketika ia menyukai Myungsoo, karena menyukai Myungsoo ia nekat untuk melakukan hal yang tidak pernah ia lakukan bahkan tak pernah terlintas dalam pikirannya.

Sebuah majalah remaja yang ia beli di toko buku telah menjadi motivasi Suzy untuk berani menaruh sekotak susu di loker Kim Myungsoo, meski tak satupun yang namja itu cicipi. Dari majalah itu pula Suzy berani diam-diam mengikuti namja itu, meski Myungsoo tidak sama sekali menyadarinya. Suzy hanya berharap akhir bahagia dari sebuah drama romance yang ia nikmati sembunyi terjadi juga padanya.

Tentang si namja yang akhirnya menyadari dan membalas perasaan si yeoja yang mencintainya secara sembunyi.

Kriettt

“ Kau belum tidur ? “

Suzy reflek melepas headset ketika eommanya yang baru pulang muncul dari balik pintu kamarnya yang tak terkunci. Mengaburkan khayalannya tentang Kim Myungsoo, Suzy tersenyum kaku dan otaknya ia paksa untuk mencari alasan agar eommanya tak curiga dengan apa yang sedang ia lakukan.

“ A-kkuu….sedang menghapal lagu yang besok akan kunyanyikan “ Ucap Suzy, terlihat jelas ia sangat gugup. Suzy tak biasa berbohong pada eommanya, meski kompetisi memang akan berlangsung, tapi yang ia lakukan barusan tidak ada hubungannya dengan kompetisi “ Eumm….bagaimana pertemuan dengan Yoo Sun ahjuma ? “ Tanya Suzy mengalihkan perhatian eommanya yang menatap sekeliling kamarnya.

Mi Sook tersenyum, ia mendekat dan duduk di atas ranjang, disamping Suzy yang terus menatap kaku padanya “ Menyenangkan, kau tahu Yoo Sun ahjuma memiliki putra-putra yang sangat tampan “ Ucap Mi Sook “ Dan satu putranya seusia denganmu, dan kabar baiknya, ia juga kuliah di Kyunghee “ Ucap Mi Sook terlihat bersemangat dan tersenyum penuh arti.

Suzy seperti sudah mencium kemana arah pembicaraan eommanya, ia pun memasang wajah tak minat dengan cerita eommanya.

Mi Sook yang menyadarinya kemudian meraih tangan putrinya “ Baiklah, nanti saja kita lanjutkan ceritanya, tidurlah dan jadi yang terbaik untuk kompetisi nanti…..saranghae “ Mi sook mencium lembut kening Suzy.

Rumah Sakit Hwanghee,

Myungsoo menggusak kesal rambutnya dan hanya bisa menatap bingung sebuah kantong plastik dan kertas yang kini ada ditangannya. Ia sama sekali tak mendengarkan penjelasan dokter tentang petunujuk pemakaian obat. Satu lagi, resep yang ada ditangannya.

Park Jiyeon, wajah yeoja itu, sikapnya dan kalimatnya yang menyebalkan telah mengambil semua konsentrasi Myungsoo. Ia akui wajahnya sempat memanas dan memerah menahan malu ketika Jiyeon mengejeknya, beruntung ia bisa mengalihkan pembicaraan hingga yeoja itu akhirnya memilih pergi. Tapi Sekarang membayangkan yeoja itu menyadari jika wajahnya memerah membuat Myungsoo frustasi. Musuhnya tidak boleh merasa menang menghadapinya. Tidak Boleh.

“ Isshhh, otthokae ? “ Myungsoo memijit keningnya pusing. Selain Jiyeon, kini ia memikirkan apa yang harus ia sampaikan pada eommanya tentang apa yang dikatakan dokter, eommanya yang selalu menganggapnya anak tak memiliki masa depan akan semakin merendahkannya, ia pasti di cap anak bodoh.

Myungsoo mengeluarkan ponsel dan menekan nomor seseorang ragu, selama hidupnya bisa dihitung dengan sebelah telapak tangan berapa kali ia menghubungi hyungnya. Nada sambung terdengar dan Myungsoo menunggu hyungnya menjawab dengan perasaan tak nyaman, belum sempat terangkat Myungsoo melihat seorang kakek yang sedang tertidur memeluk motornya yang terparkir. Myungsoo mematikan ponsel dan bergegas mendekat pada motornya.

Jaejoong menghentikan langkahnya yang sedang menuju parkiran, ia merasa ponselnya bergetar. Jaejoong mengernyit heran, nama dongsaengnya ada disana. Ini sudah larut malam dan dirumah tadi mereka tak terlibat pembicaraan. Panggilan terputus sebelum Jaejoong menjawab. Penasaran Jaejoongpun menghubungi Myungsoo balik.

“ Yeobboseo “ Sapa Jaejoong

“ Kau ini siapa ? “

“ Aku hanya ingin melihat-lihat saja motormu, bukan ingin mencuri ! “

Jaejoong mengernyitkan kening tak mengerti mendengar suara ribut-ribut diseberang. Myungsoo yang dihubunginya sedang berbicara bukan padanya, sepertinya adiknya itu bertemu dengan orang yang tidak ia kenal. Jaejoong menunggu Myungsoo menyadari jika ponselnya telah tersambung, namun ia teringat sesuatu ketika suara ringkih diseberang terdengar.

“ Ah hyung ! “

Akhirnya Myungsoo menjawabnya.

“ Kau sedang bersama siapa ? “ Tanya Jaejoong.

“ Entahlah, seorang harabeoji yang tiba-tiba ada di atas motorku dan tidak ingin pergi, sial sekali. Ini sudah malam dan sepertinya harabeoji ini sulit dikendalikan “

Suara Myungsoo terdengar jengkel. Jaejoong yang yakin jika itu harabeoji Jiyeon dan Jeo Min pun membalikkan tubuh, ketika itu juga ia melihat dari kejauhan Jiyeon yang sedang susah payah membawa Jeo Min dipunggungnya. Jaejoong juga baru sadar jika jaraknya dengan Jiyeon cukup jauh tadi.

“ Ah changkaman, kau ada dimana sekarang ? “ Tanya Jaejoong pada Myungsoo.

Jaejoong berjalan kembali ke arah Jiyeon masih dengan ponsel yang menempel ditelinganya. Ia memberikan isyarat dengan tangannya pada Jiyeon untuk menunggunya dimobil. Jiyeon memandangnya dengan tatapan sedikit putus asa, namun Jaejoong terus berjalan entah akan kemana.

“ Jika ingin melihat saja mengapa kau harus memeluk motorku seperti itu ? itu terlihat menjijikkan, kajja turun dari motorku “ Ucap Myungsoo seraya menarik tangan harabeoji.

Myungsoo berubah tak sabar ketika tangan harabeoji semakin kuat memeluk motornya, pria tua ini tidak sama sekali ada niat untuk melepaskan motornya.

“ Tunggu sebentar lagi !!! Sampai paman hantu datang, ia akan menjemputku sebentar lagi “ Ucap harabeoji lebih erat memeluk motor Myungsoo.

“ Paman hantu ? “ Ulang Myungsoo tak mengerti “ Kau ini gila ya ? “ Myungsoo memperhatikan penampilan harabeoji seluruhnya, tapi tak menemukan jika harabeoji ini tidak waras, namun orang gila kadang juga berpenampilan bersih.

“ Ahnieyo aku bukan orang gila ! Aku Mr Seo, aku dan paman hantu sedang mencari cucuku Park ….”

“ Myungsoo-ah waeyo ? “

Myungsoo dan harabeoji menoleh bersamaan.

“ Paman hantuuuu !!!! “ Teriak harabeoji dan melepaskan diri dari motor Myungsoo.

“ Hyung ? “ Myungsoo melongo tak mengerti dengan paman hantu yang dimaksud harabeoji adalah hyungnya.

Jaejoong menahan tubuh harabeoji dengan tangannya, menghalangi pria tua ini untuk memeluknya. Harabeoji menarik senyumnya, namun Jaejoong acuh dan mengalihkan tatapannya pada Myungsoo. Ia menyadari kebingungan Myungsoo, namun tentu saja ia tidak akan mungkin menceritakan apa yang telah terjadi dengan hidupnya pada adiknya.

“ Dia pasienku, kau sedang apa ? mengapa sudah malam masih berada diluar ? Pulanglah “ Ucap Jaejoong pada Myungsoo, ia tak ingin Myungsoo banyak bertanya yang justru membuatnya kesulitan untuk menjawab.

Myungsoo masih tak merespon, otaknya sibuk memikirkan bagaimana ceritanya hyungnya ada ditempat yang sama dengannya ? apa sekarang hyungnya bekerja di rumah sakit ini ? lalu mengapa ia tak tahu sama sekali ? Myungsoo memang sangat cuek dengan keadaan keluarganya, namun tidak tahu hyungnya tinggal di Hwanghee sepertinya sangatlah keterlaluan.

“ Aku ? eoh hyung bisakah kau jelaskan padaku tentang obat-obat ini dan resep apa ini ? “ Myungsoo teringat tujuannya tadi menghubungi Jaejoong. Setelah mengetahui kakek yang sedang melongo memandangi mereka berdua adalah pasien hyungnya, Myungsoo tak lagi peduli. Setidaknya ia terbebas dari kesusahan untuk mengurus atau mengantarkan kemana kakek ini akan pulang karena sudah ada hyungnya.

“ Ini ? apa eomma sakit ? “ Tanya Jaejoong melihat obat atas nama eommanya.

“ Eoh “ Ucap Myungsoo mengangguk singkat.

>> Skip <<

Jaejoong akhirnya mengatakan jika ia hanya mampir memeriksakan keadaan pasiennya – harabeoji – yang dialihkan ke Rumah Sakit Hwanghee, setelahnya ia akan kembali ke Seoul.

Myungsoo mengernyit heran. Rumah sakit Seoul yang besar mengirim pasien ke Hwanghee ? Namun tentu saja ia tidak mungkin tidak percaya pada hyungnya.

“ Sebaiknya kau pulang ke rumah saja hyung, ini sudah malam dan…”

“ Pulanglah “ Jaejoong memotong kalimat Myungsoo.

“ Eoh “ Myungsoo langsung terdiam dan mengangguk paham.

Myungsoopun menyalakan motornya meninggalkan Jaejoong bersama dengan harabeoji yang tidak lepas tersenyum padanya.

“ Huh, hampir saja “ Jaejoong menghela nafasnya lelah.

Beruntung Myungsoo hanya bertemu dengan harabeoji yang pikun, bukan Jiyeon ataupun Jeo Min yang akan membuat hidup Jaejoong semakin runyam.

“ Paman hantu aku lelah “ Keluh harabeoji.

“ Lalu ? “ Tak mengerti Jaejoong.

Jiyeon terduduk pasrah disamping mobil Jaejoong yang tertutup seraya memangku adiknya. Jeo Min yang tertidur membuatnya tidak kuat untuk berdiri dan memilih untuk membuang gengsi terduduk lelah dilantai seperti pengemis. Ia pikir Jaejoong sudah membuka mobilnya agar ia bisa duduk didalamnya, nyatanya pria itu hanya memberi tahu dimana letak mobilnya dan pergi entah kemana.

Jiyeon kembali merasa bingung dengan dokter muda itu. Sejak tadi ia membawa Jeo Min diatas punggungnyapun Jaejoong tidak peduli dan terus berjalan didepannya seolah-olah ia dan adiknya tidak terlihat. Jiyeon merasa Jaejoong memiliki dua kepribadian, kadang pria itu terlihat sangat peduli pada oranglain namun sekejap kemudian bersikap acuh dan menyebalkan.

“ Harabeoji !!! “ Kaget Jiyeon yang melihat Jaejoong muncul persis dihadapannya dengan harabeoji yang tertidur dipunggung pria itu.

Jaejoong menagabaikan sementara reaksi Jiyeon, ia membuka pintu mobil belakang dan meletakkan harabeoji disana “ Dia memaksa ikut denganku “ Ujar Jaejoong seperti mengetahui kebingungan Jiyeon dan berjalan ke sisi seberang untuk duduk dibalik kemudinya.

Jiyeon mengangguk mengerti dan tak lagi ingin banyak bertanya, ia kemudian melepaskan Jeo Min dari punggungnya, namun tak semudah yang ia kira. Tubuh Jeo Min lebih berat ketika sedang tertidur, ia menundukkan kepala untuk menatap Jaejoong dan meminta tolong, namun yang ditatap sedang sibuk dengan ponsel ditangannya.

Jaejoong tidak benar-benar sibuk dengan ponselnya, hanya membalas singkat pesan Myungsoo yang mengucapkan terimakasih padanya untuk petunjuk penggunaan obat dan untuk apa saja obat yang tertera diresep. Jaejoong sebenarnya tahu jika Jiyeon kesulitan, selama yeoja itu tak mengatakan dengan mulutnya, ia pikir semuanya baik-baik saja. Lama tak juga masuk kedalam mobil membuat Jaejoong akhirnya turun dan bergerak kembali ke sisi Jiyeon.

Jiyeon hanya bengong ketika Jaejoong mengambil Jeo Min dari punggungnya.

“ Jika kau tidak mampu maka jangan berpura-pura seolah kau mampu. Masuklah !! “ Ucap Jaejoong memerintah.

Jiyeon terdiam dengan sindiran Jaejoong padanya, tak mau membuat dokter itu kembali sinis Jiyeon pun masuk kedalam mobil. Tidak lama Jaejoong meletakkan Jeo Min di pangkuannya. Wajah Jaejoong yang teramat dekat membuat Jiyeon tergugup. Hingga Jaejoong sudah berada dibalik kemudinya, Jiyeon masih terbengong seperti patung.

“ Eonniiii…”

Erangan Jeo Min akhirnya membuat Jiyeon tersadar.

“ Eoh Jeo Min-ah, gwenchana ? “

“ Gwenchana, apa kau lelah ? “ Tanya Jeo Min.

“ Ahniyo “ Jiyeon mengelus kepala Jeo Min dan mendekap tubuh adiknya semakin erat.

Jaejoong mencuri lihat perlakukan Jiyeon pada Jeo Min dari ekor matanya. Jika ia tak mengenal keduanya, mungkin Jaejoong mengira jika Jiyeon adalah seorang ibu muda yang memiliki anak seusia Jeo Min. Jaejoong kembali teringat awal pertemuannya dengan Jiyeon. Gadis itu datang dengan seragam yang melekat ditubuh dan wajahnya yang kacau, berteriak marah padanya karena kabar pahit yang Jaejoong ucapkan seolah itu tak berarti apa-apa. Tak pernah terlintas dalam benak Jaejoong jika kini ia berada dekat dengan keluarga gadis ini, bahkan menjadi orang yang harus bertanggung jawab atas kehidupannya.

Rumah Kel. Bae,

Suzy tak bisa tertidur. Ia khawatir pembicaraan eommanya tadi akan berujung pada perampasan haknya untuk menentukan pilihan seperti yang sudah-sudah. Ia sangat tahu siapa eommanya. Pria itu entahlah siapa, ia tak tertarik untuk bertanya, karena hatinya memang hanya tertuju pada Myungsoo saat ini.

Suzy mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu disana.

Bisakah kau belajar untuk menatap orang yang ada didekatmu ?

Dalam kegalauannya Suzy justru ingin sekali berbicara pada Myungsoo. Ia membaca kembali kalimat yang baru ia ketik ragu. Terdengar seperti memohon. Ya, ia memang ingin sekali Myungsoo menatapnya, mengetahui siapa dirinya.

Sent.

Setelah pesan terkirim Suzy merasa resah. Myungsoo memang tak pernah sama sekali membalasnya dan iapun sudah lelah berharap. Tapi kali ini suzy ingin sekali Myungsoo menjawabnya meski hanya singkat.
Suzy terlonjak dan hampir saja ponselnya terlempar ketika ada pesan masuk. Ia melihat perlahan dan matanya membelalak kaget. Myungsoo menjawabnya, dengan gemetar Suzypun membuka pesan tersebut.

Nugu ?

Suzy tak tahu harus menjawab apa pertanyaan Myungsoo. Rasanya ia ingin jujur tapi tentu saja itu tindakan gila. Myungsoo pasti akan membencinya karena telah diam-diam mengganggu hidupnya dengan tindakan sembunyinya selama ini.

“ Eoh, otthokae ? “ Resah Suzy.

Rumah Kel. Kim,

“ Mengganggu, siapa sih ? “ Kesal Myungsoo dan kembali memasukkan ponselnya kembali dibalik sweaternya.

Akhir-akhir ini muncul pesan masuk dari nomor yang sama, namun Myungsoo selalu mengabaikannya. Ia merasa mencari tahu hal seperti itu membuang waktu dan tidak penting. Orang yang mengiriminya pesan pasti ada disekitarnya, Myungsoo tak mau orang itu akan senang jika ia terlihat penasaran dengan mencari tahu tentangnya. Pengagum rahasia ? ini bukanlah jaman norak seperti itu, ia tak suka dengan seseorang yang pengecut dan menyukai orang lain secara sembunyi.

Myungsoo sudah sampai didepan pintu rumahnya, ia kemudian masuk dan mendapati eommanya belum tertidur dan justru kini sedang tersenyum padanya. Myungsoo menoleh kebelakang memastikan jika eommanya tersenyum padanya, bukan orang lain, namun tak ada siapapun yang dilihatnya.

“ Ini obat untuk eomma, dan aku sudah mengirim petunjuk pemakaian dinomor eomma “ Ucap Myungsoo santai dan hendak masuk kedalam kamar karena begitu lelah.

Meski aneh dengan cara anaknya namun Yoo Sun mencoba tersenyum “ Myungsoo-ah….. “

Myungsoo semakin bergidik merasa wanita yang ada dihadapannya ini bukanlah eommanya.

“ Gomawo “ Ucap Yoo Sun kemudian.

Myungsoo hanya memandang heran eommanya dan kemudian masuk kedalam kamar dengan banyak pertanyaan dikepalanya.

Yoo Sun tersenyum. Setelah Myungsoo hilang dari pandangannya, ia kemudian mengangkat tangannya yang sejak tadi menggengam sesuatu. Sebuah photo yang disana terdapat wajah seseorang. Yoo Sun berubah tak semangat. Bukan karena yeoja itu jelek, bahkan yeoja itu sangat manis dan sangat lembut.Hanya saja yang membuatnya berat adalah jalan hidup yang diambil yeoja itu sama dengan anaknya dan sampai saat ini Yoo Sun belum bisa menerimanya. Untuk kali ini sepertinya ia harus berlapang dada, masa lalu Yoo Sun yang terikat dengan sahabatnya membuat ia mau tak mau harus menyetujui jika putra keduanya bisa dekat dengan putri sahabatnya itu.

Rumah Sewa Kel. Park,

“ Kamsahamnida “ Jiyeon membungkukkan tubuhnya berterimakasih pada Jaejoong yang lagi-lagi ia repotkan.

Jaejoong tak membalas, hanya menatap lekat ke arah Jiyeon. Pandangannya kemudian beralih pada harabeoji yang sudah ia letakkan diatas selimut hangat miliknya, kemudian Jeo Min yang terlihat lebih tenang.

“ Kau tak perlu kembali kesana “ Ucap Jaejoong membuat dahi Jiyeon mengernyit heran seperti tak paham apa yang sedang dibicarakan “ Aku yang akan memberitahumu pasal penyakit Jeo Min “

Jiyeon hampir saja tak percaya, namun ia tersenyum lega. Selama ini Jaejoong selalu menolak dan berubah tak bersahabat jika ia meminta bantuan yang berhubungan dengan profesinya sebagai seorang dokter, namun hari ini pria itu mengakuinya bahkan menawarkan bantuan padanya.

“ Ah kamsahamnida, jika begitu bisa…..”

“ Tidak sekarang, aku akan melihatnya besok. Adikmu hanya demam, berikan selimut yang tebal untuk memacu keringatnya keluar, dengan begitu suhu tingginya akan segera turun, jangan lupa juga untuk memberinya air putih yang banyak “ Ucap Jaejoong seolah paham apa yang akan Jiyeon ucapkan.

Jiyeon merengutkan wajahnya, namun ia tahu dokter Jae memiliki sifat yang keras, ia tak mungkin akan memaksanya yang justru akan membuatnya marah “ Nde, aku sedikit tenang jika dokter yang mengatakannya, sekali lagi kamsahamnida “ Jiyeon kembali membungkuk.

Jaejoong hendak beranjak, namun ia teringat ada sesuatu yang harus ia katakan pada Jiyeon. Ia menatap lekat wajah Jiyeon “ Kau…… jangan terpaku hanya pada adik dan harabeoji, mereka tidak hanya butuh perhatianmu tapi tanggungjawabmu atas kelangsungan hidup mereka. Saat ini kau adalah kepala keluarga, kau yang harus menentukan bagaimana nasib kalian selanjutnya. Memilih untuk tak meneruskan pendidikkanmu adalah keputusan yang bodoh. Jika aku jadi dirimu, aku hanya akan memikirkan betapa beruntungnya aku ada seseorang yang baik yang membawa diriku lebih dekat dengan cita-citaku, jadi sangat bodoh jika harus memikirkan satu orang yang menggangguku “ Setelah mengatakan hal itu Jaejoong melangkah pulang dan tidak lagi menoleh.

Jiyeon terdiam, ia memang sudah memikirkannya dan berjanji untuk kembali ke Kyunghee. Dan semakin kuat tekadnya karena kalimat Jaejoong barusan. Benar. Ia adalah kepala keluarga sekarang, meski ia takut membayangkan begitu besar tanggungjawab seorang kepala keluarga, setidaknya ada Jaejoong. Orang yang saat ini banyak menolongnya. Jiyeon berharap Dokter Jae akan terus berada didekatnya sampai ia benar-benar berani menjalani kehidupan yang panjang ini atau bahkan jika ia telah memiliki orang yang kelak akan melindunginya, mengambil alih tanggungjawab keluarga dari pundaknya.

Rumah Sewa Dokter Jae,

Jaejoong belum berhasil memejamkan matanya. Tubuhnya berguling kesana-kemari memikirkan apa yang harus ia katakan besok pagi pada Jiyeon. Ketika membuka hasil tes tadi, ada sedikit doa yang ia panjatkan jika apa yang selama ini ia percayai dari ucapan Nana hanyalah kekeliruan. Ia berharap bukan Jeo Min yang kekasihnya itu donorkan darah penderita AIDS, namun Tuhan tak mendengar harapannya. Jeo Min positif tertular virus mematikan itu, virus yang menyerang kekebalan tubuhnya.

Tiba-tiba wajah lucu dan menggemaskan Jeo Min serta sikap cerianya hadir dalam ingatannya . Gadis kecil yang pintar meski sering membuatnya jengkel. Jaejoong tak menyangka jika gadis kecil itu telah kehilangan masa depannya. AIDS memang tidak akan merenggut nyawa seseorang secepat jika ia terkena virus ebola ataupun flu burung, namun beban mental dan sosial yang kelak akan ditanggung gadis kecil itu pasti meruntuhkan semangatnya untuk berjuang dalam hidupnya.

Jaejoong bangkit dari tidurnya, meraih baju hangat yang digantungnya dan bergegas keluar. Kaki panjangnya melangkah perlahan menuju rumah Jiyeon dan berdiri memandang dalam diam rumah yang lampunya telah padam. Tangannya ia masukkan ke dalam saku baju hangatnya dan menghembuskan nafasnya perlahan.

“ Maafkan aku, maafkan kekasihku yang telah melakukan ini pada mu. Tolong maafkan kami “ Ucap Jaejoong pelan

Next Day,

Jiyeon kembali pada aktivitasnya hari ini, pergi untuk menuntut ilmu di Kyunghee. Dengan semangat ia membersihkan tubuh Jeo Min dengan air hangat. Jeo Min merengut kesal karena diperlakukan seperti orang sakit oleh eonninya, padahal ia sudah membuktikan jika ia telah sehat dan sudah bisa bangun dari tidurnya tanpa merasakan jika kepalanya pusing.

Sementara haraeboji yang sudah nampak segar sedang asyik menikmati choco pie di beranda rumah, ia tersenyum melihat Jaejoong yang keluar dan sepertinya bersiap akan pergi.

“ Paman hantu, kau mau kemana ? apa kau sudah sarapan ? ini untukmu “ Tanya harabeoji dan menyodorkan sisa choco pienya pada Jaejoong yang memandangnya aneh.

Jaejoong tak menjawab, ia berjalan melewati harabeoji dan terburu-buru untuk pergi. Sebenarnya ia pun menertawakan dirinya yang berubah menjadi seorang pengecut, namun hingga pagi ini ia benar-benar belum menemukan kalimat yang harus ia sampaikan pada Jiyeon. Ia sadar kelak yeoja itu harus tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun saat ini menghindari Jiyeon lebih baik.

Kyunghee University,

Dosen Hong nampak resah menunggu didepan gerbang kampus Kyunghee. Jiyeon tidak bisa lagi untuk tidak hadir jika ia ingin ikut kompetisi kampus minggu depan. Hari ini ujian langsung dinilai oleh para petinggi kampus sebelum kompetisi resmi berlangsung. Dosen Hong tentu saja tidak bisa menolong, meski kompetisi ini bukan akhir dari segalanya, namun sangat berarti untuk karir murid-murid Kyunghee kedepan. Dosen Hong kembali melongok-longok dan tidak juga melihat muridnya itu.

“ Sepertinya ada seorang murid istimewa yang anda tunggu ? “

Dosen Hong melirik kearah si penyapa. Kim Myungsoo, untuk apa anak ini ingin tahu apa yang ia lakukan ? Memangnya sejak kapan muridnya ini mau tahu keadaan sekitar ?

“ Kau masuklah, kelas akan segera dimulai “ Ucap Dosen Hong dingin.

Myungsoo tersenyum sinis dan meneruskan langkahnya, namun teringat sesuatu ia kembali menoleh.

“ Hey !!! Hari ini sangat penting bukan, ah apa murid yang tidak hadir artinya ia gagal untuk kompetisi minggu depan ? hah sayang sekali, pasti murid kesayanganmu sangat menyesal “ Ucap Myungsoo seperti tahu keresahan dosen dihadapannya.

Dosen Hong melipat tangan didada dan memandang murid yang memanggilnya tidak sopan ini tajam.

“ Kau tahu siapa yang akan menjadi juri di kompetisi nanti ? Salah satunya adalah aku, dan asal kau tahu disini kami tidak hanya menilai dari bakat yang ia punya, sikap dan tindakan kalian selama dikelas juga akan dinilai. Tidak mudah mendapatkan poin sembilan bahkan enam sekalipun, berhati-hatilah dengan kesombonganmu “ Dosen Hongpun melengos dan tak lagi mempedulikan Myungsoo.

Myungsoo tersenyum senang telah berhasil membuat dosennya darah tinggi dipagi hari. Dan ia mengulum senyumnya menyadari siapa yang Dosen Hong tunggu. Otaknya tidak bodoh untuk menganalisa. Hari pertama yeoja itu masuk, Dosen Hong memperlakukannya berbeda. Wanita itu begitu baik memperlakukan Jiyeon si murid baru. Sempat terlintas dalam pikirannya jika masuknya Jiyeon di Kyunghee ada hubungannya dengan Dosen Hong. Karena memang sangat tidak masuk akal ada murid yang bisa masuk saat pendidikan sedang berjalan jika tidak ada bantuan dari orang dalam.

Sekarang yang menjadi pertanyaan apa Dosen Hong tahu jika Jiyeon seorang pengamen jalanan ? Myungsoo belum terpikir untuk kembali menyelidikinya.

Dosen Hong meremas jarinya cemas. Jiyeon belum datang sementara satu-persatu murid sudah diberikan penilaian. Dosen Hong tak tahu harus melakukan apa selain pasrah murid yang ia harapkan harus kandas sebelum berjuang.

“ Kau tidak memiliki kekuatan untuk menyanyikan dibagian reffrain nya, kompetisi hanya tinggal didepan mata dan kami lihat kau tidak memliki kemampuan untuk bertarung….”

Myungsoo mendengus malas mendengar seorang wanita tua yang menjadi salah satu juri menceramahi temannya yang dinilai jelek. Tch !! Bahkan Myungsoo berani bilang jika temannya itu bukan saja jelek, namun suaranya memang berada dibawah garis standard. Myungsoo mengalihkan perhatiannya pada hal lain. Ia sama sekali tak tertarik dengan nenek-nenek tua bersuara nyaring yang sedang mengomel, tiba-tiba pandangannya jatuh pada pintu yang tertutup, satu bangku kosong disampingnya pun tak luput dari penglihatannya. Hanya satu nama yang belum hadir, dan Myungsoo yakin kali ini yeoja itu tak akan berani hadir.

“ Park Jiyeon !! “

Suasana hening ketika nama Jiyeon dipanggil, tidak ada satupun yang memang tahu keberadaan Jiyeon. Dosen Hong yang seharusnya memiliki sedikit kekuatan jika ia ingin menjelaskanpun hanya diam. Masalahnya ia tidak memiliki keyakinan jika Jiyeon akan datang hari ini.

“ Apa tidak ada yang bernama Park Jiyeon ? “ Tanya seorang juri senior sekali lagi.

Masih tidak ada yang menjawab. Myungsoopun bungkam, meski sebenarnya ia bisa saja mengatakan Jiyeon sakit. Semalam ia bertemu dengan yeoja itu, namun Myungsoo memilih diam seolah tak pernah tahu apa-apa.

“ Baiklah murid ini berarti kita anggap gagal untuk menjadi peserta kompetisi ”

Dosen Hong menunduk lemah, sementara Myungsoo memasang wajahnya datar setelah kalimat gagal diucapkan dosen senior yang sudah tua renta itu.

” Baiklah, selanjutnya….”

Krietttt

“ Selamat pagi !!! Maaf jika aku terlambat “

Semua yang ada dikelas menoleh ke arah pintu termasuk Myungsoo. Mereka terbelalak tak percaya dengan mulut yang bergumam. Yeoja yang baru saja dinyatakan gagal itu sudah berdiri disana dengan nafas memburu dan wajah pias.

Jiyeon memandang sekeliling, dan mendapati wajah Dosen Hong yang memandang lega padanya. Jiyeon membungkukkan tubuhnya hormat dan melangkah perlahan meski tidak ada satupun yang membalas sapaannya.

“ Kau siapa ? “ Tanya dosen senior menyelidik.

“ Aku Park Jiyeon, maaf jika aku terlambat “

Dosen senior menurunkan kacamata, melihat Jiyeon lekat-lekat dari ujung rambut hingga kepala. Ia lalu melirik jam yang ada ditangannya.

“ Park Jiyeon, kau murid baru itu ya ? “ Tanya Juri kemudian.

“ Nde “ Ucap Jiyeon masih dengan nafas ta beraturan.

Myungsoo tersenyum mengejek. Ia pikir yeoja itu benar-benar akan mengundurkan diri karena ancamannya, tapi nyatanya nyalinya lumayan besar untuk berhadapan dengannya. Tatapan Myungsoo tak lepas dari sosok Jiyeon yang berdiri di depan kelas. Hingga yeoja itu diminta untuk menaruh tas di kursi kosong disamping Myungsoo, namja itu baru mengalihkan tatapannya.

“ Jiyeon-ssi, dibuku penilaian tidak tertera ada penilaian dari dosen Hong untuk hari kemarin. Ada apa ? “ Tanya dosen senior seraya menatap Jiyeon menuntut.

Semua murid menunggu jawaban Jiyeon, terutama Myungsoo yang kini melayangkan tatapan permusuhan pada Jiyeon. Myungsoo benar-benar tidak sabar apa yang akan yeoja ini katakan sebagai alasan.

“ A-kku….aku….eum kemarin aku sakit dan aku tidak tahu harus bagaimana memberi kabar pada pihak kampus, jadi…..”

“ Hahahhahahahah “

Tawa kelas membahana mendengar jawaban Jiyeon. Myungsoo adalah orang yang paling tak percaya dengan alasan bodoh Jiyeon. Ini bukanlah jaman batu yang untuk memberikan kabar begitu sulit. Myungsoo mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan pada Jiyeon, seolah memberi tahu salah satu gunanya ponsel adalah untuk berkomunikasi.

“ Apa kau tidak memiliki ponsel ? sepertinya kau benar-benar miskin “ Ejek Myungsoo ditengah gemuruh para murid lainnya.

Jiyeon teringat perkataan Jaejoong, ia tidak boleh menyerah hanya karena satu orang yang mengganggunya. Jiyeon hanya harus menganggap bahwa ia tidak mengenal bahkan bertemu Myungsoo, ia harus menganggap namja ini invisible.

“ Diam !!!!!! “ Teriak dosen senior menghentikkan gelak tawa para muridnya, membuat suasana kembali sepi.

Hanya Myungsoo, ya hanya murid tengilnya yang satu itu yang masih tertawa melihat Jiyeon.

“ Maaf jika aku membuat keributan “ Ucap Jiyeon menunduk.

“ Baiklah, masalah itu akan kami serahkan pada Dosen Hong. Kami masih memberikanmu kesempatan untuk kali ini, jadi persiapkan dirimu untuk penilaian apa kau layak mengikuti kompetisi atau tidak “

“ Jadi siapa yang menurutmu akan bersaing ketat dalam kompetisi nanti “

“ Tentu saja Kim Myungsoo murid kelas B dan Bae Suzy murid kelas A, aku bahkan sulit menentukan siapa yang terbaik diantara mereka “

Jiyeon memperlambat jalannya ketika mendengar perbincangan beberapa murid dibelakangnya. Ia tersenyum masam mendengar ada nama musuhnya disana. Namja tengil itu pantas saja begitu sombong, ia terkenal di Kyunghee karena memang bakatnya yang luar biasa. Beruntung penilaian tadi ia mendapat komentar positif yang meloloskannya untuk mengikuti kompetisi minggu depan. Setidaknya namja itu tidak lagi memandangnya sebelah mata. Tiba-tiba ia teringat ancaman Myungsoo semalam, akan sangat hebat jika namanya bisa diperhitungkan dan menjadi salah satu saingan namja itu.

“ Ini milikmu, ambillah !!! kamarku tiba-tiba menjadi tempat favorit para serangga karena menyimpannya disana “

Jiyeon reflek menangkap sebuah gitar dan kantong kecil yang Myungsoo lempar ke arahnya. Barang yang ia tinggalkan sewaktu Myungsoo menghinanya. Buru-buru Jiyeon memasukkan kantong kecil kedalam tasnya, tapi gitarnya ? Ia tak mau ada yang melihat dan berpikiran yang macam-macam tentang gitar yang akan membahayakan nasibnya di Kyunghee. Dan akhirnya ia hanya bisa menyembunyikan dibalik punggungnya.

Myungsoo tersenyum senang melihat Jiyeon yang panik “ Apa tidak ada ucapan terimakasih ? “ Tanya Myungsoo.

Jiyeon memandang tidak suka, memberikan dengan cara melempar dan ia pun meninggalkan miliknya karena Myungsoo, namun tak mau perang mulut “ Gomawo “ Ucap Jiyeon ketus.

Myungsoo tersenyum singkat. Setelahnya ia hanya berdiri dihadapan Jiyeon yang juga diam saja menatapnya. Tidak biasanya ia tak punya bahan ejekan lainnya untuk yeoja ini. Ingin segera beranjakpun rasanya kurang puas jika hanya berbuat baik pada yeoja itu.

“ Bagaimana kalau permusuhan kita dilanjutkan dalam kompetisi nanti ? meskipun suaramu terdengar biasa-biasa saja, tapi jika kau berusaha, kau bisa satu tingkat berada dibawahku, bagaimana ? “

Jiyeon melihat keseluruhan penampilan Myungsoo, dari atas hingga bawah dengan senyum kecut “ Jika aku bisa mengalahkanmu apa yang akan kau lakukan ? “

“ Hahahhahah “ Myungsoo tergelak dengan ucapan Jiyeon, sampai-sampai ia memegangi perutnya.

Jiyeon tersenyum sinis, rupanya tingkat kepercayaan diri Myungsoo sudah sampai setinggi ini. Hingga tak percaya ia bisa mengalahkannya.

“ Aku tidak akan mengganggumu lagi, bahkan aku juga akan membawamu dipunggungku berkeliling lapangan kampus sambil berteriak jika Kim Myungsoo adalah budak Park Jiyeon “ Ucap Myungsoo pongah karena ia yakin Jiyeon tidak akan mungkin bisa melakukannya.

“ Deal !!! “ Ucap Jiyeon tegas.

“ Mwo ? hahahhahaha “ Myungsoo semakin tergelak

Tak jauh dari keduanya berada Suzy mengamati mereka. Awalnya ia bertekad untuk mengatakan yang sebenarnya pada Kim Myungsoo jika selama ini ialah orang yang selalu mengiriminya pesan, namun ia urungkan ketika melihat Myungsoo berbicara dan tertawa dengan seseorang yang baru hari ini ia lihat.

Meski sikap yeoja itu tak menunjukkan jika mereka berteman baik, namun ada yang berbeda dengan Kim Myungsoo. Suzy melihat Myungsoo begitu lepas berbicara dengan yeoja itu. Siapakah dia ? yeoja yang bersama Kim Myungsoo dan membuat namja itu terlihat berbeda.

Rumah Sewa Kel. Park,

Siang hari Jiyeon kembali ke rumah dan melihat rumah Dokter Jae masih nampak kosong. Jiyeon membuang nafasnya penasaran. Ia menunggu janji Dokter Jae yang akan memberi tahu pasal penyakit adiknya.

“ Jeo Min-ah, harabeoji aku pulang !!! “ Teriak Jiyeon dan mendapati keduanya sedang menonton televisi.

“ Eonni, kau sudah pulang ? “ Tanya Jeo Min.

“ Eoh, tapi aku harus pergi lagi untuk mencari pekerjan yang lebih baik. Eum….paman hantu ? apa kalian tidak melihatnya ? “ Tanya Jiyeon.

Jeo Min dan harabeoji menggeleng. Jiyeon menghela nafasnya lelah. Jika begitu ia harus membawa adik dan harabeoji bersama. Ia harus cepat mencari pekerjaan, sebelum mati kelaparan atau menyusahkan orang lain.

“ Kajja !!! ikut eonni “ Ucap Jiyeon terpaksa membawa Jeo Min yang baru sembuh dari sakit dan harabeoji.

Sebenarnya Jiyeon sedikit jengkel pada Dokter Jae yang seolah lari dari janjinya yang akan memberi tahu pasal penyakit Jeo Min. Untung saja Jeo Min sudah terlihat baik-baik saja hingga Jiyeon masih bisa memaklumi. Jiyeon berjalan seraya menuntun tangan Jeo Min dan mengawasi harabeoji yang berjalan didepannya.

“Eonni aku akan mengejar harabeoji “ Ucap Jeo Min melepaskan genggaman Jiyeon dan berlari menuju harabeoji.

Jiyeon nampak khawatir, namun melihat Jeo Min sudah bisa tersenyum dan baik-baik saja ia sedikit merasa lega. Ketiganya berjalan menyusuri area persawahan. Disana banyak orang-orang yang sedang menuai hasil panen, bekerja dan saling bercengkrama. Jiyeon menghirup udara kuat-kuat, ia bahagia bisa ada di Hwanghee. Kampung halaman appanya yang sangat indah, namun sayangnya mereka tidak bersama.

Sementara,

Jaejoong mengamati ketiganya yang berjalan kaki dari kejauhan. Ia mengendarai mobilnya pelan dan berusaha tak terlihat. Lagi-lagi ada perasaan bersalah yang menghimpit dadanya melihat Jeo Min yang begitu lincah berlari menghindari kejaran harabeoji. Ia juga masih bisa mendengar sayup-sayup suara Jiyeon yang memperingati adiknya untuk berhati-hati. Jaejoong tak tahan, airmatanya tak sengaja menetes, tangannya meremas kertas yang sejak tadi ia genggam, selembar kertas yang bertuliskan kalimat menyakitkan siapapun yang membacanya. Jaejoong tak berharap ia terlibat didalamnya. Wajah Jiyeon, Jeo Min dan harabeoji yang polos dan bahagia, ia tak tega melihat mereka berubah sedih dan hancur.

Kafe Tuan Ma,

Jiyeon nampak tidak nyaman diperhatikan begitu seduktif oleh pria yang kira-kira lima belas tahun lebih tua dihadapannya bernama Tuan Ma. Tatapannya yang seperti itu terkesan menelenjanginya, namun ia mencoba bertahan karena ia membutuhkan pekerjaan ini. Ia beruntung pemilik kafe menawarinya untuk bernyanyi dikafe miliknya, bukan seorang pelayan yang pasti akan sangat melelahkan. Pekerjaan yang memang ia cari, dan berharap juga Tuan Ma pemilik kafe adalah orang yang baik dan memahami keadaannya.

“ Lalu apa itu adalah anak dan appamu ? “ Tanya Tuan Ma menyelidik.

Jiyeon tak mengerti apa hubungan pertanyaan ini dengan pekerjaannya nanti, namun ia akhirnya memilih menjawab “ Dia Park Jeo Min adikku dan harabeojiku “

Sontak raut wajah Tuan Ma berubah cerah, Jiyeon melihatnya sangat aneh, namun ia membuang jauh-jauh pikiran buruknya.

Halaman Rumah Sewa,

Hari beranjak malam dan begitu sunyi. Semua orang mungkin sedang berlindung dibalik selimut untuk menghindari dinginnya udara malam di Hwanghee. Desa ini di malam hari memang sangat dingin karena letaknya yang dikelilingi pegunungan. Siang hari di Hwanghee pun masih terasa dingin, namun angin laut yang bergerak dapat meredam suhu dingin di Hwanghee.

Jaejoong turun dari mobil dalam keadaan setengah mabuk, kakinya nampak berat untuk ia ajak melangkah, matanya mengerjap-ngerjap untuk mengembalikan kesadarannya. Jaejoong terhuyung dan tidak tahu kearah mana rumahnya berada. Ia akhirnya memilih rumah yang lampunya masih terlihat terang, dan menjatuhkan dirinya disana, Jaejoong terbaring dalam keadaan setengah sadar tepat didepan kamar Jiyeon.

Di dalam,

Jiyeon terkejut ketika menoleh ke arah Jeo Min yang sedang menonton televisi bersamanya tiba-tiba menangis. Jiyeon nampak bingung karena ia tak melihat acara yang ditontonnya berupa drama sedih, mereka hanya menonton acara kuis yang bahkan ia sendiri terkikik geli menontonnya.

“ Jeo Min-ah waeyo ? “ Tanya Jiyeon khawatir.

Jeo Min mengusap airmatanya pelan dan kemudian menatap eonninya yang memasang wajah bingung “ Aku ingin bertemu appa dan eomma. Eonniiii….. aku merindukan mereka, kapan appa dan eomma akan menyusul kita, aku ingin kita bersama-sama lagi “ Ucap Jeo Min memeluk Jiyeon kini.

Jiyeon menahan nafasnya sejenak, kemudian meraih kepala Jeo Min dan membenamkannya dada. Ia baru sadar jika yang ditontonnya adalah kuis yang pesertanya adalah satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan dua orang anaknya. Jiyeon tak tahu bagaimana harus menghibur adiknya dan tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan Jeo Min, ia juga tak ingin lagi berbohong. Yang ia lakukan hanya mengusap kepala Jeo Min lembut. Jiyeon menahan untuk tidak menangis, karena ia pun hampir tiap malam bermimpi tentang kedua orangtuanya. Jiyeon sangat merindukan mereka.

“ Jeo Min-ah, bukankah besok hari libur ? apa kau ingin kita berjalan-jalan,? “ Tanya Jiyeon mencoba mengalihkan perhatian Jeo Min.

Jeo Min menarik kepalanya dari pelukan hangat Jiyeon “ Eoh, tapi aku ingin bersama appa dan eomma “

Jiyeon memandang Jeo Min dan berusaha tersenyum “ Jeo Min-ah, eonni juga ingin sekali appa dan eomma ada bersama kita, tapi sepertinya itu akan sulit untuk sekarang ini. Jadi ia meminta eonni dan harabeoji saja yang menemanimu, apa kau mau ? “ Tanya Jiyeon lembut.

“ Eoh, baiklah kajja kita jalan-jalan eonni, bersama harabeoji dan paman hantu !! “ Seru Jeo Min menyebut nama Jaejoong disana.

“ Eummm……paman hantu ? “ Tanya Jiyeon heran mengapa adiknya ingin paman hantu ikut bersama.

“ Eoh, aku merasa senang jika ada paman hantu bersama kita. Meskipun kadang ia galak tapi ia bisa menjadi seperti appa bukan ? jika aku lelah berjalan maka ia akan membawaku dipunggungnya. Eonni ajak paman hantu!!! “ Jeo Min menarik-narik jemari Jiyeon yang nampaknya masih melamun memikirkan bagaimana caranya mengajak pria itu.

“ Eonni tidak tahu apakah paman hantu mau ikut atau tidak “

“ Pasti ia mau, eonni…… jika dilihat-lihat paman hantu sangatlah tampan, hanya saja ia tidak pernah tersenyum, eonni apa kau tidak tertarik padanya ? “ Ucap Jeo Min menggoda.

Jiyeon nampak syok dengan apa yang Jeo Min katakan, wajahnya bersemu merah, ia tidak menyangka Jeo Min bisa memikirkan hal yang seperti itu. Jiyeon kemudian menarik selimutnya, berpura-pura untuk tidur.

“ Eonni, benarkan paman hantu sangat tampan ? “ Goda Jeo Min yang tidak ditanggapi oleh Jiyeon “ Eonni, apakah kau sudah tidur ? “

“ Eoh, aku sudah sangat terlelap “

Jeo Min terkekeh geli, ia kemudian menarik selimut dan berbaring disamping eonninya, Jeo Min yang tahu jika Jiyeon belum tertidur kemudian menyanyikan lagu nina bobo.

Diluar,

Tanpa sadar bibir Jaejoong tertarik membentuk sebuah senyuman mendengar obrolan kakak beradik didalam sana. Ia merasa lucu dengan obrolan keduanya. Dan akhirnya iapun tertidur ketika mendengar nyanyian nina bobo Jeo Min untuk Park Jiyeon.

Next Day,

Pagi hari Jeo Min terbangun dengan setengah kesadaran, ia menyingkap selimut dan pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil.

Harabeoji mendengar seseorang menggeser pintu, ia keluar dari selimut dan melihat siapa yang keluar rumah. Tidak melihat siapapun harabeojipun masuk kembali. Tiba-tiba suara orang menggigil terdengar begitu dekat. Harabeoji terkejut menemukan Jaejoong tertidur tepat bersandar dipintu kamarnya.

“ Eoh paman hantu, apa yang kau lakukan ? “ Tanya harabeoji heran.

Tak ada balasan karena Jaejoong dalam keadaan tertidur dan pengaruh alkohol. Harabeoji kemudian berinisiatif menarik tubuh Jaejoong kedalam dan meletakkan Jaejoong tepat disamping Jiyeon.

“ Tidurlah yang nyenyak paman hantu “ Ucap harabeoji dan kembali tidur dipojok ruangan.

Jaejoong merasakan tubuhnya menggigil hebat, udara pagi hari masih terlalu dingin. Dengan cepat Jaejoong menarik dan menyelimuti dirinya hingga ujung kepala.

“ Jeo Min-ah, apa kau dingin ? “ Tanya Jiyeon setengah sadar seraya meraba-raba bagian kepala seseorang yang tergeletak disebelahnya.

“ Eoh ? “ Jeo Min kembali dari kamar mandi dan nampak heran tempatnya sudah ada yang mengisi “ Nuguseyo ? “ Tanya Jeo Min seraya menarik selimut dan terkejut mendapati paman hantu ada disana.

“ Eonni bangun…eonniii !!! “ Jeo Min membangunkan Jiyeon.

“ Eoh waeyo ? “ Jiyeon membuka matanya perlahan dan merasa heran mengapa Jeo Min ada dihadapannya “ Ommo !!! “

Jiyeon terperanjat mendapati jika ia tengah memeluk Jaejoong kini, ia segera bangkit dan menjauh dari tubuh Jaejoong “ Bagaimana paman hantu bisa ada disini ? “ Tanya Jiyeon yang hanya dijawab dengan gelengan kepala Jeo Min.

“ Aku pergi kekamar mandi dan ketika kembali paman hantu sudah ada disini “

“ Kepalanya sangat besar, jadi kupikir itu kau “ Ucap Jiyeon dan dengan hati-hati membangunkan Jaejoong.

Jaejoong yang coba dibangunkan nampak malas-malasan, namun mendengar ribut-ribut akhirnya ia memaksa untuk membuka mata. Tubuhnya terlonjak kaget ketika sadar ia tidak berada dikamarnya, dan sudah ada Jiyeon dan Jeo Min didekatnya.

“ Paman hantu apa yang kau lakukan ? apa kau ingin mengambil Bomi dengan cara menyelinap ? “ Tanya Jeo Min menuduh.

Jaejoong bangkit perlahan dan menatap kesal Jeo Min, ia tidak boleh terlihat seperti pria pervert yang menyelimat dikamar seorang yeoja“ Yya !! Kalian yang sepertinya menipuku, lihatlah kalian menjemur selimut yang ku pinjamkan didepan rumah kalian, karena sangat mengantuk ku pikir ini adalah kamarku, sebenarnya apa yang kalian rencanakan padaku ? “

Jiyeon sukses melongo mendengar jawaban Jaejoong yang seperti membalikkan kesalahannya pada orang lain, namun ia sadar jika ia memang lupa mengangkat satu selimut milik Jaejoong semalam, dan membiarkannya terjemur diluar, tapi apa Jaejoong juga tidak bisa mengenali rumahnya ?

“ Ah maafkan kami, tentang selimut itu aku mohon maaf membuat dokter salah paham “ Ucap Jiyeon akhirnya meminta maaf.

Jaejoong merasa lega dalam hati. Selain sinis dan galak, rupanya ia memiliki kelihaian dalam membalikkan fakta. Ia memandang Jiyeon dan Jeo Min bergantian. Ketika tatapannya jatuh pada Jiyeon, yeoja itu terlihat canggung dan tak berani menatap matanya. Jaejoong mengernyit heran dan tak lama ia pun teringat dengan percakapan kedua kakak beradik ini semalam. Konyol !!! pikir Jaejoong.

Myungsoo tak percaya ketika melihat seseorang yang baru saja keluar dari sebuah rumah yang sangat kecil adalah Jaejoong hyungnya. Ia menghentikkan laju motornya dan memilih bersembunyi dibalik pohon besar yang ada disekitar sana. Matanya terus mengamati Jaejoong hingga hyungnya masuk kembali kedalam rumah yang terletak tak jauh dari rumah sebelumnya muncul.

Otaknya kini sedang mencari jawaban apa yang sebenarnya terjadi, mengapa hyungnya semalam mengatakan jika ia masih tinggal di Seoul dan sekarang ia menemukannya di Hwanghee ?

“ Ada apa dengan hyung ? mengapa ia merahasiakannya pada kami ? apa appa dan eomma tahu ? “ Tanya Myungsoo penasaran.

Myungsoo bukan sengaja mencari tahu tentang hyungnya, ia hanya sedang berjalan-jalan melewati daerah pedesaan, berharap akan mendapat inspirasi untuk membuat sebuah lagu. Hal yang biasa ia lakukan jika memiliki banyak waktu dihari libur. Ia tidak menyangka akan bertemu Jaejoong disini.

Myungsoo terdiam dan berpikir ragu. Apa ia harus mendatangi Jaejoong ? Teringat kalimat Jaejoong semalam, sepertinya hyungnya tidak ingin ia tahu tentang apapun. Myungsoopun mendesah dan menahan sementara rasa penasarannya.

Dengan langkah yang masih dipenuhi banyak pertanyaan, Myungsoo meninggalkan tempat tersebut. Ia akan kembali ke tempat itu jika sudah waktunya ia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Rumah Sewa Dokter Jae,

Jaejoong tak bisa lagi menghindar dari Jiyeon. Yeoja itu sudah berdiri didepan pintunya ketika ia baru saja ingin melangkah pergi. Pandangan lekat Jiyeon semakin membuat Jaejoong merasa bersalah. Berpura-pura lupa atau mengatakan jika hasil tes darah Jeo Min hilang sebelum ia membukanya terdengar konyol.

“ Mwo ? “ Ucap Jaejoong akhirnya memilih seolah tak tahu apa-apa.

“ Tentang Jeo Min ? Sebenarnya ia sakit apa ? “ Jiyeon mendekat ke arah Jaejoong berharap mendapat jawaban.

Jaejoong hanya menatap Jiyeon sambil otaknya berputar untuk mengatakan kalimat yang terdengar lebih baik, meski ia tak mungkin menemukannya. Memberi tahu jika adiknya begitu dekat dengan maut, siapapun pasti akan tidak sanggup.

“ Eonni !!! kajja !! kami sudah siap “ Tiba-tiba Jeo Min dan harabeoji berteriak dari rumah sewanya.

Jaejoong dan Jiyeon menoleh. Sungguh Jaejoong benar-benar tidak tega harus mengatakannya sekarang.

“ Adikmu baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, ia gadis kecil yang sehat dan akan tumbuh menjadi anak yang pintar “ Ucap Jaejoong membuat Jiyeon menoleh padanya.

Jiyeon tersenyum lega, ia pun membungkukkan tubuhnya. Seperti ada jarum yang menusuk jantung Jaejoong, senyum Jiyeon terasa menyakitkan dihatinya. Jiyeon pun pergi dari hadapan Jaejoong.

“ Jeo Min-ah, harabeoji kajja !!! “ Jiyeon mengulurkan tangannya untuk menyambut tangan Jeo Min dan harabeoji.

“ Paman hantu apa kau akan ikut kami ? “ Tanya Jeo Min ketika akan melewati Dokter Jae.

Jaejoong hanya memandang Jeo Min. Melihat gadis kecil itu selalu tersenyum dan kali ini amat gembira membuat Jaejoong tidak tega untuk berkata sinis.

“ Pergilah ke pantai, kau akan senang bermain disana “ Ucap Jaejoong yang membuat Jiyeon dan Jeo Min hanya mengernyit tidak mengerti apa artinya.

Jiyeon menangkap ada sesuatu yang berbeda dari sikap Jaejoong pagi ini, namun ia tidak mau mengira-ngira dan takut ia salah paham akan sikap baik Jaejoong pagi ini.

Tiga hari berlalu tanpa ada hal buruk yang Jiyeon terima. Di kampus, Myungsoo sedikit lebih jinak dan tidak mengganggunya. Namja itu terlihat sedang banyak pikiran hingga tak menyentuhnya. Jiyeon merasa tenang, itu tandanya ia tak perlu membuang energinya untuk berhadapan dengan Kim Myungsoo.

Tapi, ada seseorang yang tiba-tiba terlihat ingin dekat dengannya. Seorang yeoja yang tiba-tiba datang padanya dan ingin menjadi teman di kampus. Bae Suzy, yeoja manis yang Jiyeon tahu adalah primadona kampus karena memiliki suara segemilang emas. Yeoja itu datang ketika Jiyeon sedang menyendiri sambil menikmati makan siang.

Awalnya Jiyeon mengabaikannya karena tidak ingin terlibat hubungan dengan siapapun. Ia tidak mau ada orang lain yang tahu pasal kehidupannya yang sebenarnya. Tanpa mempedulikan kebaikan yang Suzy tawarkan, Jiyeon pun berlalu ketika Suzy mendekat.

Sayangnya tiga hari yang tenang itu harus berakhir malam ini. Di kafe tempatnya bekerja. Tuan Ma pemilik kafe yang ternyata masih lajang itu terlihat tertarik pada Jiyeon. Tuan Ma sering membungkuskan makanan dari kafe untuk Jiyeon bawa pulang, terkadang pria itu memaksa untuk mengantar Jiyeon pulang.

Satu dua kali Jiyeon berhasil menolaknya, namun untuk kali ini sepertinya Jiyeon tidak lagi bisa menolak karena merasa tidak enak. Jika tidak butuh uang sudah barang tentu Jiyeon tidak lagi bekerja ditempat yang membuatnya tidak nyaman, namun ia benar-benar membutuhkan uang dan hanya pasrah akhirnya kini Tuan Ma mengantarnya sampai kerumah.

Tiba dirumah,

“ Jiyeon-ssi, aku…sebenarnya….” Ucap Tuan Ma gugup.

Jiyeon yang menangkap gelagat aneh dari Tuan Ma semakin merasa tidak nyaman. Jeo Min dan harabeoji sudah tidur dan tidak bisa Jiyeon mintai bantuan untuk menemaninya. Berdua saja dengan Tuan Ma, Jiyeon merasa sangat takut. Sesekali Jiyeon melirik kearah rumah Jaejoong, namun rumah itu beberapa hari ini selalu terlihat gelap. Jaejoong hanya muncul dipagi hari dan setelah itu Jiyeon tak pernah melihatnya lagi.

Tiba-tiba Jiyeon tersentak ketika tangan Tuan Ma memegangnya.

“ Ah tt-tua-nnn, jangan seperti ini !! “ Jiyeon melepaskan tangan Tuan Ma, namun Tuan Ma kembali meraihnya.

“ Jiyeon-ssi, aku serius ingin menjalin hubungan denganmu. Aku akan membuat hidupmu lebih bahagia jika kita bersama “ Ucap Tuan Ma meyakinkan.

Jiyeon sontak berdiri dan menjauhi Tuan Ma. Tangan yang tadi dipegang tuan Ma reflek ia usap dengan bajunya membuat Tuan Ma tersinggung dengan sikapnya.

“ Tuan, kau tahu jika aku tidak hidup sendiri. Ada adikku yang sering sakit-sakitan dan harabeoji yang sudah pikun. Aku tidak yakin kau akan mau menerimaku dan keluargaku yang seperti ini “ Ucap Jiyeon berharap Tuan Ma mundur.

“ Aku akan membuktikannya, mari kita menjalin hubungan, aku akan memberikan apapun yang kau mau “ Tuan Ma ikut berdiri meraih bahu Jiyeon untuk meyakinkannya.

” Ah Tuan Ma ” Jiyeon kembali menyingkirkan tangan Tuan Ma.

Jiyeon yang terus menolak membuat Tuan Ma kesal dan menjadi tidak sabaran. Tangannya semakin berani memegang tubuh Jiyeon.

Jiyeon benar-benar merasa ketakutan dengan sikap Tuan Ma. Bahkan pria ini sudah memeluknya erat, hingga hampir-hampir Jiyeon tidak bisa bernafas.

Myungsoo kembali mendatangi tempat dimana hyungnya tinggal. Ia berniat mencari tahu lagi tentang ada apa sebenarnya dengan hyungnya. Hanya mengamati dari jauh, tapi setidaknya akan ada jawaban dari rasa penasarannya. Ketika dirumah ia tidak melihat ada yang berbeda dari sikap appa dan eommanya, Myungsoo yakin orangtuanya belum tahu apa yang telah terjadi dengan hyungnya.

Jarak Myungsoo sudah sangat dekat dengan tempat tinggal Jaejoong. Dari kejauhan bahkan ia bisa melihat jika ada orang disana. Myungsoo semakin mendekat membawa motor yang mesinnya sengaja ia matikan. Rumah yang ia tahu adalah tempat hyungnya tinggal terlihat sangat gelap.

Semakin dekat jarak Myungsoo ia justru dibuat penasaran oleh suara ribut-ribut dua orang yang kini terlihat cukup jelas dari tempatnya berdiri. Mata Myungsoo memicing dan ia melepaskan helm yang masih menempel dikepalanya. Myungsoo hampir saja tak percaya ketika ternyata ia mengenal salah satu dari dua orang yang sedang bertengkar.

“ Park Jiyeon ? “

Satu lagi kenyataan didepan mata yang sangat tiba-tiba, Myungsoo takjub sampai-sampai ia harus menggelengkan kepala. Dan siapa orang ini ? Mengapa ia bersikap kurang ajar pada Jiyeon ? Tangan Myungsoo terkepal kuat, langkah panjangnya pun beranjak dari tempatnya berdiri.

“ Menjauhlah darinya !!!! “

Suara berat seseorang mengejutkan Tuan Ma yang begitu bernapsu untuk mencumbui Park Jiyeon, gadis yang jauh lebih muda dari umurnya. Keduanya menoleh ke sumber suara. Seorang pria dengan sorot mata tajam dan memerah marah.

“ Dokter ???? “

Jiyeon langsung berlari ke arah belakang pria yang ternyata adalah Kim Jaejoong. Wajah Jaejoong berubah angker begitu melihat seorang lelaki menggangu Jiyeon. Ia menarik kerah leher Tuan Ma dan tanpa peduli apa yang telah terjadi langsung meninju wajah Tuan Ma.

Langkah Myungsoo terhenti begitu melihat hyungnya muncul dari rumahnya yang dalam keadaan gelap. Jadi sejak tadi hyungnya ada disana.

“ Eoh..hentikan kau siapa ? Mengapa kau memukulku, aku ini hanya ingin melamar wanita yang kucintai “ Ucap Tuan Ma seraya menghalangi wajahnya yang terkena pukulan Jaejoong dengan kedua tangannya.

Jaejoong menahan tangannya yang sudah terangkat diudara. Wajahnya semakin memerah marah mendengar apa yang dikatakan Tuan Ma. Ia menatap tajam pria yang nampak ketakutan itu.

“ Kau tahu ? “ Ucap Jaejoong tangannya masih menempel ketat dikerah Tuan Ma “ Yeoja ini adalah kekasihku “ Ucap Jaejoong.

Tidak hanya Tuan Ma yang terbelalak kaget dengan ucapan Jaejoong. Jiyeonpun menutup mulutnya yang terkejut, namun buru-buru ia menetralkan perasannya. Ia tahu Jaejoong hanya beralasan agar TuanMa tidak lagi mengganggunya.

“ Kau pasti berbohong, Jiyeon sendiri yang mengatakan padaku jika ia masih sendiri “ Ucap Tuan Ma tak terima.

Jaejoong langsung menatap ke arah Jiyeon yang masih menganga tak percaya. Jaejoong kemudian mendekat dan menarik leher Jiyeon. Tidak ada sama sekali yang mengira apa yang sebenarnya akan Jaejoong lakukan, dengan cepat Jaejoong mencium bibir Jiyeon tepat dihadapan Tuan Ma begitu bernapsu.

“ Kau pembohong !!! “ Ucap Tuan Ma melihat yeoja yang dicintainya dicium oleh pria lain.

Jaejoong melepaskan ciumannya, dan menatap sinis Tuan Ma “ Sekarang kau percaya jika yeoja ini sudah memiliki kekasih ? “ Tanya Jaejoong.

Tuan Ma tidak lagi peduli, ia pergi begitu saja dengan kepala yang mungkin saja sudah mengeluarkan asap. Jiyeon terhenyak, tubuhnya benar-benar lemas, dan hampir saja kehilangan nafasnya. Jiyeon jatuh dan jongkok seraya menenggelamkan kepala dikedua lututnya.

“ Ap-ppa, apa yang sebenarnya kau lakukan padaku ????? “ Teriak Jiyeon marah.

Jaejoong mengusap bibirnya kasar dan menjauh dari Jiyeon. Ia juga tidak sadar dengan apa yang dilakukannya. Ia menjauh, dan lebih menjauh dari Jiyeon, tanpa kalimat yang keluar dari bibirnya yang bisa ia jadikan pertanggungjawaban atas perbuatannya.

Sementara Myungsoo yang ada disana memegang kuat dadanya. Ia merasa sesak dan matanya nampak berkaca-kaca. Ia begitu syok melihat apa yang baru saja terjadi dihadapannya. Myungsoo terduduk lemas diatas motornya. Ia menunduk dalam, lama Myungsoo hanya seperti itu. Hingga kemudian ia menguatkan kepalanya untuk terangkat. Wajahnya berubah menyeramkan. Myungsoo tidak lagi menoleh kearah orang-orang yang dikenalnya itu. Dengan penuh emosi, ia menggeber motornya kencang tak peduli apa yang ada didepan, ia hanya ingin menjauh dari sana, tak lagi melihat keduanya. Ini adalah malam yang sial disaat moodnya memang sedang buruk sebelumnya.

To be continued

97 responses to “[ CHAPTER – PART 7 ] A MINUTE OF HOPE

  1. myungso crmburu kah lihai jiyi d cium sama hyungnya,
    kelihatannya myungso suka ni ma jiyi,,
    jadi bingung nih milih myungyeon or jaeyeon #galau

  2. Hello,,,,maaf author gazasinta mau nanya nih apa ff yg ini gak dilanjutin lagi kah?? Aq nunggu” banget nih lanjutannya……
    Tolong dilanjut lagi ya……

  3. akhirnya smpat jg baca karya mu yx ini.. n sori baru coment di part ini… omona.. sprtinya myungsoo kesal bgt dech,, liat ternyata hyungnya n jiyeon sprtinya pnya hubngan… brnaran daebbk… next part secepatnya updat y… jebal eoh….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s