[Oneshot] STUCK

STUCK

Park Jiyeon - Kim Myungsoo

by slee12/sky.l

Length : One Shot

Genre : Romance

“Kenapa harus terperangkap bersamanya?”

.

.

 

Perpustakaan adalah tempat paling lazim dengan keramaian tiap minggu mendekati ujian tengah semester. Bahkan lebih ramai dari pada mini market yang buka 24 jam, tentu saja.

“Kau mau pulang?” Tanya Daena, teman satu jurusan Jiyeon.

“Besok aku ada kelas paling pagi,” Jiyeon merapikan catatan dan beberapa literatur tebal yang hampir selesai ia rangkum dalam catatannya.

Daena mengangguk, gadis itu juga ingin segera beradu pada permukaan lembut tempat tidur asrama, sayang nilai mata kuliahnya semester kemarin tidak bisa dibilang memuaskan hingga ia harus merelakan beberapa jam tanpa tidur, mengisi polong-polong memorinya agar menjawab ujian dengan tepat.

“Maaf, aku duluan. Sampai besok,” Jiyeon menarik tasnya, melambai tidak enak pada temannya tersebut.

Uh-oh ia baru ingat, ini kali pertama ia pulang sendiri di jam malam sendirian. Biasanya ia kembali ke asrama bersama Daena atau beberapa orang temannya yang lain. Jiyeon baru sadar gedung  tempat perpustakaan berada tampak menyeramkan saat malam hari. Beberapa lorong tampak gelap, hanya lorong utama menuju pintu perpustakaan dari lantai enam yang menyala, sedang jalan masuk lain benar-benar ditutup.

Langkah-langkahnya semakin cepat, gema derapnya memenuhi lorong menuju elevator di penghujung. Tepat begitu ia sampai di depan elevator, sebuah kertas segel tertera di depannya.

“Oh, tidak….” erang Jiyeon.

Pilihan lain adalah berjalan ke ujung lain gedung dimana disana ada elevator lain yang jarang dipakai namun masih beroperasi atau berjalan turun dengan tangga darurat, yang pasti gelap. Oh menuruni tangga darurat dari lantai enam dalam keadaan gelap, sama sekali tidak terdengar menyenangkan.

Baiklah, sedikit berjalan sampai ke sisi lain gadung di lantai yang sama tidak masalah sepertinya.

Tungkainya berderap lebih lekas, gelap yang melingkup membuat jantungnya berlompatan lebih dari biasanya. Terang di ujung lorong dari dalam lampu elevator membuatnya sedikit bernapas lega.

Namun napasnya tercekat begitu larinya mengejar pintu elevator yang hampir beradu terhenti. Seseorang sudah berada di dalam petak elevator. Seseorang yang tidak terlalu ingin lihat.

“Tidak naik?”

Kalau saja jam malam asrama masih jauh mungkin ia akan pura-pura akan naik dan membiarkan pintu elevator tertutup. Namun tiga puluh menit terlalu sedikit untuk bernegosiasi apalagi perjalanan perpustakan-asrama memakan hampir lima belas menit berjalan melewati jalur aman bercahaya lampu taman.

Baiklah, tidak ada salahnya menaiki elevator yang sama dengan Kim Myungsoo. Kali ini saja.

**

Ada yang salah ya? Kenapa laju elevator terasa terlalu lambat lantai per lantai. Padahal ia hanya turun dari lantai enam bukan lantai lima puluh sekian seperti di gedung-gedung perusahaan besar.

“Baru selesai?” bagus, Kim myungsoo berusaha mengusung percakapan dengannya.

Jiyeon hanya mengangguk singkat, tak menoleh pun tak melirik. Meminimalisir interaksi dengan casanova sekolah adalah hal terbaik yang bisa ia lakukan untuk membuat kepalanya tetap normal.

“Kau satu jurusan denganku kan?”

Myungsoo kenal dirinya? Wah… hebat. Bahkan hanya seperempat dari angkatannya yang berada di jurusan yang sama yang kenal akan eksistensinya di kampus. Mungkin ia pernah kebetulan duduk di sekitar Myungsoo. Mungkin, ia tak begitu ingat.

“Kau…. Jiyeon kan?”

Bahkan tahu namanya? Pantas orang-orang menyebutnya casanova. Masalah mahasiswa perempuan dia banyak tahu rupanya.

“Aku ki—“

“Myungsoo. Aku tahu,” sela Jiyeon. Usung percakapan Myungsoo membuatnya entah kenapa merasa jengah. Sebenarnya lebih karena ia tidak begitu pandai bertukar obrol dengan lawan jenis.

Myungsoo terkekeh. Jiyeon melirik singkat, tidak paham apa yang Myungsoo pikir lucu.

“Aku tidak makan orang, tahu. Tidak usah terlalu waswas begitu.”

Sebegitu jelas ya? Pikir Jiyeon. Tidak sengaja malah menggeser posisi merapat pada dinding. Kali ini Myungsoo benar-benar tertawa.

BRAAAKK.

Elevator bergonjang cukup keras. Jiyeon memegang pegangan pada dinding elevator kencang. Kotak berjalan yang mereka naiki berhenti tiba-tiba.

“Kenapa? Apa…. elevatornya rusak?” panik, Jiyeon menghambur ke bagian kanan elevator dimana terdapat tombol-tombol serta tombol emergency yang tersambung pada pengurus gedung.

“Halo halo halo….. permisi apa ada orang? Tolong…. elevator gedung tiba-tiba berhenti,” ucap Jiyeon panjang lebar, cemas mulai menjalar.

Hampir dua menit berlalu.

“Kau yakin….. tombol itu tidak rusak?”

Oh sial, jangan-jangan…..

**

Tombol emergency rusak, ponsel milik Jiyeon habis daya guna, sementara ponsel Myungsoo tertinggal di kamarnya. Apalagi yang bisa lebih buruk dari pada terjebak di elevator paling ujung gedung tanpa ada tanda-tanda orang yang akan sadar sampai kira-kira besok pagi.

“Hei, tenang saja. Hanya beberapa jam,” ujar Myungsoo yang duduk tepat di seberang Jiyeon, sama-sama bersandar pada dinding elevator.

Menurut kabar, sependengarannya Kim Myungsoo memang sosok yang ramah dan santun. Hanya kelakuannya yang mengombang-ambing perempuan saja yang membuat reputasinya menjadi gunjingan di sela istirahat atau obrol ringan sebelum dosen berdiri di podium kelas.

“Kenapa sih, sepertinya kau tidak begitu suka denganku,” tutur Myungsoo seperti tampar telak mengenai sasaran. Jiyeon menunduk, menghindar pandang Myungsoo yang masih melipir tatapnya.

“Kau Myungsoo, tidak dengar orang-orang menyebutmu playboy?” suaranya semakin menciut di ujung pertanyaan. Ia tak bermaksud, namun lebih adil memberi alasan meskipun terdengar tak masuk akal bahkan konyol.

“Begitu ya menurutmu?” Myungsoo membuang wajah. Tampak sedikit tersinggung.

Ia tidak bermaksud, tapi…. memang begitu kabarnya. Ia tidak begitu mengenal Kim Myungsoo. Oh ralat, ia tidak begitu mengenal banyak orang. Terhitung Daena, ia hanya mengenal lima orang sejauh masa kuliahnya. Sebegitu apatis kehidupan Jiyeon.

“Omong-omong, kau tahu tidak sih, aku selalu memerhatikanmu?”

Jiyeon mendongak, mengerjap mencari sela humor dari ucap Myungsoo barusan. Tapi tidak tampak raut jenaka terpeta disana.

“Hei…. gosip yang beredar tidak selalu benar, kan?”

Tatap nanar Myungsoo ke arahnya membuat seluruh tubuhnya berdesir pelan. Seperti ada sesuatu yang berlonjakan di dalam perutnya. Aneh namun menyenangkan. Apa maghnya kambuh?

“Entahlah, bukankah mayoritas kebanyakan benar?” Ganti Jiyeon yang melempar wajah, menghindar pandang Myungsoo yang melesat tepat padanya.

“Kadang mayoritas bisa saja memanipulasi kebenaran. Bukankah yang terpenting apa yang orang bersangkutan lakukan?”

Ini seperti permainan pingpong mendadak. Lempar satu sanggah berbuah tanggap lainnya. Namun kali ini Jiyeon tak dapat memblokade serangan dan membiarkan poin bergulir pada lawan. Tidak ada bantahan yang terlintas di kepalanya. Apa yang Myungsoo katakan benar bahkan dirinya sendiri mengiyakan.

“Kadang,” ucapnya, setengah terdengar setuju setengah tidak. Jiyeon berdehem pelan, “Tentu saja kau memerhatikanku. Kau butuh bertanya tentang topik kuliah Prof. Min?”

Myungsoo tertawa -lagi. Ia tahu Jiyeon adalah asisten dosen Prof. Min yang kadang menjadi tempat bertanya mahasiswa yang tidak sempat mencuri waktu luang beliau dikala terlalu repot dengan urusan akademisi lain, namun tentu saja bukan itu maksud Myungsoo. Jiyeon terlalu polos dan naif untuk ukuran mahasiswa tahun kedua.

“Kau tidak tahu, aku selalu langganan nilai A pada mata kuliah Prof. Min?” diselipnya nada angkuh sekedar.

Jiyeon memicing, sebelah alis meninggi. Ternyata Kim Myungsoo tidak seburuk perkiraannya.

“Omong-omong, gosip playboy itu tidak benar. Itu ulah perempuan yang mengartikan perlakuanku padanya memberi harapan. Padahal aku hanya bertingkah santun. Tapi ia malah menyebar isu aneh begitu.”

Dahi Jiyeon berceruk, “Lantas, kenapa menjelaskan panjang lebar padaku?”

“Gampang, karena aku menyukaimu.”

Udara dalam elevator tidak begitu sesak karena ventilasi di atas disingkarkan Myungsoo beberapa saat lalu. Tapi ujarannya barusan berhasil membuat oksigen yang berserakan menjadi tak terhirup, entah kenapa. Ada yang salah dengan pernapasan dan jantungya yang berlarian seperti sedang berolahraga.

“Tidak lucu,” tukas Jiyeon. Berharap Myungsoo menyahuti perkataannya dengan candaan. Namun laki-laki itu tak lagi bersuara. Hanya menatapnya lamat-lamat tak beranjak.

SSSRAAAK.

Pintu elevator tersentak membuka.

“Ya ampun. Maaf, elevator ini sebenarnya juga sedang rusak,” security gedung berdiri di depan pintu elevator yang dibuka paksa dengan sebuah pemberat. Terlihat beberapa pengurus gedung yang berusaha mendongkrak pemberat agar membuka pintu lebih lebar.

**

“Kau tidak apa-apa kan?”

Myungsoo memaksa mengantarkannya sampai ke asrama untuk menjelaskan perihal elevator yang rusak pada penjaga asrama agar Jiyeon diizinkan masuk dan tidak terpasal sanksi. Syukur penjaga malam itu termasuk pengertian dan hanya mengiyakan permintaan Jiyeon. Atau mungkin bagian prasarana sudah memberintahukan perihal insiden beberapa menit lalu pada asrama putri.

Jiyeon mengangguk, “Terima kasih. Kau pulang saja.”

“Tunggu,” Jiyeon baru akan berbalik menuju gerbang, “besok…. kau mau makan siang denganku tidak?”

Mungkin kalau berusan ia tidak terjebak hampir tiga jam di dalam elevator dan bertukar lebih banyak percakapan dengan Kim Myungsoo, ia akan memilih berderap cepat tak menggubris ajakan lak-laki itu. Tapi ia bertukar banyak cerita, bahkan merasa gelembung-gelembung aneh yang menyenangkan mengisi perutnya, tidak ada opsi lain yang terpikir.

“Baiklah.”

Seulas senyum tipis terlempar sebelum derapnya bergegas menuju gerbang sembari meredakan dentum keras jantung yang memenuhi telinganya.

=end=

 

haloooo, apakabar orang-orang hsf?????

maaf sudah lama tak sua. maaf juga baru kambek setelah berabad-abad berdebut begini hohoho

jadi jarang bisa nulis kemaren karena satu dan lain hal, ga deng satu doang : KULIAH. *mojok* *guling2* *lalu mewek* maaf ya kambeknya cuma oneshot gini doang, abal-abal bangeeeettt hikshiks. 

akhir-akhir ini aku masih nulis kok, tapi jarang ngepost di hsf aja. makasih yang udah mau baca yang udah mau komen yang udah nunggu juga. maaf gabisa jadi writer yang baik. 

kalo mau baca-baca silahkan mampir ke : https://firefliesquest.wordpress.com/ atau https://thecarnivalbreeze.wordpress.com/ 

sekiaaaan.

XO,

yang dulunya slee12 sekarang sky.l

37 responses to “[Oneshot] STUCK

  1. Nice ff’y thor…🙂
    Always lgi2 aku slalu suka sma karya mu thor, meski itu cerita’y singkat / panjang skli pun aku psti suka bca’y ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s