[VIGNETTE] Photograph

photograph

natadecocoo presents…

| Photograph |

Kim Myungsoo & Park Jiyeon  |

| romance, slice of life, fluff, angst, songfic |

| 2647 words |

| Teen |

Inspired by a song by Ed Sheeran, Photograph


Itulah mengapa Myungsoo selalu mengabadikan setiap momen dirinya dengan Jiyeon di sebuah foto—karena ia tahu, suatu saat, ia pasti akan bertemu dengan suatu kerinduan, yang membutuhkannya untuk selalu melihat ke wajah Jiyeon dan kembali mengingat kenangan yang telah mereka berdua buat.


A/N: Author nulis ini sampe pipinya pegel senyum senyum sendiri walaupun beberapa part rada angst…Semoga suka!

Jiyeon membuka lembaran koran itu dengan pelan. Ia tidak tahu pasti mengapa Myungsoo memberikannya hadiah sebuah koran di hari ulang tahunnya. Tidak akan ada yang mengerti isi pikiran Myungsoo, Myungsoo selalu penuh kejutan. Mengapa juga ia memberikan hadiah sebuah koran di hari ulang tahun kekasihnya?

Awalnya Jiyeon menjungkitkan salah satu alisnya, bingung. Namun ia tahu pasti ada sesuatu di dalam koran itu yang akan membuatnya terkejut. Segera saja jari-jari lentik milik Jiyeon membuka lembar demi lembar secara perlahan, menscan isinya menggunakan matanya, dari setiap sudut tak terlewati sedikitpun. Ia terus mencari dan mencari selama beberapa menit. Sementara Myungsoo sendiri tampak menggunakan kamera DSLR-nya dan memotret yeoja kesayangannya yang telah resmi menjadi kekasihnya selama 5 tahun itu dari berbagai sisi.

“Myungsoo-a. Geumanhae. Bukankah lebih baik jika kau segera memberitahu saja apa hadiah ulang tahunku yang sebenarnya..” Jiyeon tampak melihat ke Myungsoo dan kameranya sambil memanyunkan bibirnya.

Nampaknya ia mulai lelah akan pencariannya selama beberapa menit.

That doesnt make a surprise, my cutie pie.” Myungsoo mendekat ke arah Jiyeon lalu mengecup pipi kanannya, menghasilkan bunyi kecupan yang cukup keras. Meskipun mereka sedang berada di tempat kerja saat ini, mereka seakan tak acuh. Seakan dunia milik mereka berdua. Lagipula mereka telah menyelesaikan kewajiban mereka berdua dengan cepat beberapa waktu silam. Jiyeon telah menyelesaikan design baju yang akan digunakan untuk ‘Seoul Fashion Week’ satu bulan mendatang dan Myungsoo telah menyelesaikan tugasnya sebagai seorang fotografer di perusahaan entertainment yang letaknya hanya sebelah dari kantor milik Jiyeon.

Jiyeon terlihat mengangguk-angguk mengerti lalu kembali membuka lembaran koran tersebut.

Seketika pencariannya terhenti, tangannya terdiam di tempat, berhenti membuka lembar demi lembar.

Sebuah iklan berukuran ¼ halaman koran menarik perhatiannya.

Sebuah iklan yang terdapat foto dirinya di tengah-tengahnya. Bertuliskan sesuatu yang membuatnya seakan mendapatkan sebuah lotre berhadiahkan Ferrari, atau Lamborghini namun di saat yang bersamaan wajahnya terlihat kesal. Ia memukul lengan Myungsoo yang kini berdiri di samping kanannya. Dengan keras dan tanpa henti.

“YAAAA! Mengapa kau memilih foto terjelekku untuk dipasang di sini YAAA!!!” Kini Jiyeon berdiri dan memukul bagian tubuh lain dari Myungsoo. Myungsoo sendiri hanya terkekeh puas seraya menghindari serangan bertubi-tubi dari Jiyeon.

“Bukankah jawabannya sudah cukup jelas, Honeya~ Hanya diriku yang boleh melihat kecantikanmu…Bagaimana jadinya jika orang-orang mencari namamu di sosial media hanya karena ingin berkenalan denganmu..Oh itu sangatlah buruk.”

jawab Myungsoo santai—seraya mengunci kedua tangan Jiyeon agar tidak memukulinya lagi. Sementara Jiyeon sendiri hanya bisa terdiam, wajahnya tersipu merah dan ia mendadak lemas karena gombalan Myungsoo benar-benar telah membuatnya yang seorang yeoja benar-benar menjadi seorang yeoja.

Myungsoo tersenyum penuh kemenangan, kini ia mengecup pipi Jiyeon sebelah kiri. “Tadi yang sebelah kiri belum.”

Menambah merah pipi milik Jiyeon.

Jiyeon sudah tidak tahan lagi.

She doesnt know how to contain her feelings.

Myungsoo selalu bisa membuatnya menjadi seorang yeoja yang paling beruntung di dunia ini.

Selama lima tahun ini, Myungsoo memang selalu memberinya hadiah ulang tahun yang spesial dan tak terlupakan. Awalnya Jiyeon mengira hadiah ulang tahun pertama dari Myungsoo adalah hadiah ulang tahun terbaik baginya seumur hidup—dimana Myungsoo mengajaknya untuk berkencan. Namun kini, hal itu berubah. Ia merasa, hadiah ulang tahun hari ini adalah yang terbaik, awal dari hidup dan matinya dengan Myungsoo, awal dari bahtera rumah tangganya dengan Myungsoo. Siapa kira, Myungsoo akan memasang sebuah iklan di koran bertuliskan

‘Dicari. Park jiyeon, 23 tahun.

Menghilang selama satu minggu,

Tapi aku merasakan kehilangan selama satu abad.

Padahal aku ingin segera menikahinya di tanggal 31-12-2015.

Park jiyeon kembalilah dan nikahi aku.

Segera kembali karena kita harus segera merencanakan semuanya.

Jumlah anak,rumah dan semua tentang masa depan kita.’

Jiyeon tak pernah membayangkan ia akan menerima hadiah ulang tahun kelima darinya seperti ini, meski ia telah sadar bahwa Myungsoo adalah namja penuh kejutan gila. Tapi tetap saja, does it make any sense?

Melamarnya secara terang-terangan di sebuah koran?

Sebenarnya keterangan menghilang selama satu minggu adalah hal yang benar karena minggu kemarin ia harus melakukan diklat pendidikan sebagai seorang designer muda yang sudah cukup memiliki nama di Seoul.

Setelah memandang Myungsoo dan senyum penuh rasa percaya dirinya cukup lama, Jiyeon meraih tengkuk Myungsoo dan memendam bibirnya dalam ke bibir milik Myungsoo. Meski Jiyeon menggunakan heels, ia masih tetap harus berjinjit sedikit untuk menyejajarkan wajah mereka dan melakukan sebuah ciuman yang berlangsung cukup lama.

“CKREK”

Sebuah suara kamera terdengar dibarengi dengan sebuah kilatan cahaya yang menyilaukan kedua mata Jiyeon yang tertutup.

“Aku akan menggunakan foto ini sebagai undangan pernikahan kita.” seru Myungsoo, yang segera disusul oleh pukulan tajam Jiyeon ke lengannya. Myungsoo sendiri hanya bisa terkekeh renyah seraya melihat reaksi Jiyeon yang baginya lucu.

We keep this love in a photograph

We made this memories for ourselves

Where our eyes are never closing

Our hearts were never broken

And time’s forever frozen, still

 

Myungsoo terus membuka lembar demi lembar album foto di tangannya dan menatapnya lama. Tak peduli matanya sudah terasa panas, sangat panas. Foto itu membuat ingatannya akan masa-masa indah itu kembali memenuhi kepalanya, memuaskan setiap rasa rindu yang membuncah di dadanya. Itulah mengapa Myungsoo selalu mengabadikan setiap momen dirinya dengan Jiyeon di sebuah foto—karena ia tahu, suatu saat, ia pasti akan bertemu dengan suatu kerinduan, yang membutuhkannya untuk selalu melihat ke wajah Jiyeon dan kembali mengingat kenangan yang telah mereka berdua buat.

Kini ia menatap lama ke arah sebuah foto, dimana dirinya dan Jiyeon berada di sebuah altar, menggunakan pakaian serba putih gading. Jiyeon menggunakan gaun putih gading dan dirinya menggunakan jas putih gading. Kesempurnaan ciptaan Tuhan benar-benar terpancar di foto itu. Myungsoo terlihat sangat tampan dengan poni rambutnya yang ditarik ke belakang sementara Jiyeon terlihat begitu cantik dengan gaun topless panjang yang menunjukkan collar bone nya.

Setelah melepas tautan di antara keduanya yang disambut oleh tepuk tangan meriah para tamu undangan, Myungsoo melirik ke arah kameramen yang berada 5 meter darinya. Matanya ia picingkan ke arah kameramen itu. Segera ia menggerakkan jari telunjuknya ke arah kameramen itu dan mengisyaratkan kepada sang kameramen untuk mendekat ke arahnya.

Sang kameramen pun mendekat, Myungsoo membisikkan sesuatu, yang sepertinya terlalu keras untuk disebut sebagai sebuah bisikan. Jiyeon segera memukul pelan dada Myungsoo sambil memasang wajah memerah.

“Karena aku seorang fotografer, maka aku harus mengabadikan momen indahku sendiri.” ujar Myungsoo, sebelum mengulangi ciumannya ke Jiyeon dan sebelum suara blitz datang dari DLSR yang berada di tangan Myungsoo.

Loving can hurt

But its the only thing that I know

When it gets hard , you know it can get hard sometimes

Its the only thing that makes us feel alive

Myungsoo berhenti memotret istrinya dan sebuah gulungan kain berisi bayi berusia 6 bulan yang berada di tangannya itu. Ia dapat dengan jelas melihat kesedihan dari hasil jepretannya. Istrinya yang sedang terduduk dan menatap sedih ke arah bayinya itu tak sedikitpun menggubris Myungsoo yang sedari tadi berusaha menarik perhatiannya untuk memasang pose untuknya.

“Ini akan menjadi foto terakhirmu dengan Jisoo yang berumur 6 bulan, Jiyeon-a.”  ucap Myungsoo pelan.

Ia lalu mendekat ke arah Jiyeon dan menepuk pundaknya pelan.

“Jagiya~ Bukankah kau sudah memutuskannya? Untuk mengambil tawaran beasiswa dari perusahaanmu di Stockholm selama beberapa tahun..Lalu… ah bagaimana pun juga kau akan kembali, bukan? Biarkan aku yang merawat Jisoo. Kau tak bisa melakukan dua hal yang bersamaan, Jiyeon-a..” ujar Myungsoo dengan suara serak ke istrinya yang masih saja menunduk ke arah bayinya dan mengecup bayi itu selama berulang kali.

Pada akhirnya, Jiyeon mengangkat wajahnya, menatap ke arah Myungsoo.

Keundae…Bagaimana bisa aku meninggalkan Jisoo tumbuh tanpa seorang ibu, Myungsoo-a..Dia masih—terlalu kecil.” Jiyeon terisak lagi, Myungsoo kembali menepuk pundak istrinya pelan. Isakan Jiyeon berlangsung cukup lama, dengan tangan masih memegang ke bayinya yang sedang tertidur lelap itu.

Myungsoo berjongkok di depan Jiyeon, menangkup wajah kecilnya dan menghapus setiap air mata yang mengalir dari kedua mata Jiyeon.

“Kau bisa kembali ke Seoul sekali setahun, bukan? Jisoo akan mengerti keadaanmu. Kau tak bisa menunda beasiswamu lagi, sebelum usiamu bertambah semakin tua dan semua beasiswa itu tak akan lagi berlaku, Jiyeon-a. Semangatmu belajar juga masih sangat membara, kau harus menggunakannya dengan baik.” jelas Myungsoo panjang lebar, masih menghapus air mata yang terus saja mengalir dari mata Jiyeon. Kini Jiyeon sedikit menundukkan kepalanya, lalu menyenderkannya ke bahu Myungsoo. “Lakukanlah ini untuk Jisoo. Aku tahu kau pasti ingin menjadi ibu yang terbaik bagi Jisoo, bukan? Jisoo pasti akan menyesali dirinya seumur hidup jika ia tahu bahwa dirimu tidak mengambil kesempatan ini karenanya..” tambah Myungsoo. Ia dapat merasakan nafas Jiyeon yang akhirnya mulai semakin teratur, meskipun ia masih merasakan dada milik istrinya itu naik turun.

Mereka tetap seperti itu hingga beberapa menit.

Hingga tangis Jiyeon pun berhenti.

Ia mengangkat kepalanya dan melepaskan dirinya dari pelukan Myungsoo.

Kajja siapkan kameramu. Aku akan berpose dengan Jisoo. Kau harus memotretnya dengan baik, arra?” ancam Jiyeon yang disambut kekehan pelan dari Myungsoo. “Arra. Jisoo harus tahu bahwa dirimu telah berjuang sangat keras untuk menjadi eomma yang terbaik baginya”
Pertama kalinya bagi Myungsoo, tangannya bergetar ketika memotret sesuatu.

Ia selalu memotret hal yang membahagiakan. Tak pernah ia bayangkan ia harus mengabadikan momen seperti ini. Tapi itulah hidup, ada senang, ada sedih.

Myungsoo masih membuka lembar demi lembar halaman album foto itu. Sebuah foto dimana Jiyeon terlihat mengangkat tangannya menunjukkan sebuah V sign, dan foto-foto lain bersama Jisoo yang ia ambil selama setiap tahun dalam empat tahun lamanya. Dan itu semua berlangsung di tempat yang sama selama empat kali, yaitu sebuah bandara.

Semua foto itu sama. batin Myungsoo.

Sebuah foto tak akan pernah bisa berbohong.

Meskipun istrinya terlihat menunjukkan sebuah senyum, terpancar sebuah kesedihan di dalamnya, perpisahan, air mata…

Myungsoo kemudian mengambil kacamata hitam dari dasbor mobilnya, tak ingin anaknya yang duduk di jok samping mengetahui ayahnya sedang menitikkan air mata.

“Appa! Lihatlah! Apakah bandara di foto ini juga sama seperti bandara tempat kita berada sekarang?”

Myungsoo mengangguk, tersenyum lalu menepuk puncak kepala anaknya pelan.

“Kau benar Jisoo-a. Anak appa memang pintar.”

“Jisoo kan memang pintar! Seperti eomma!” balas anaknya ceria.

Myungsoo terkekeh melihat tingkah anaknya itu.

“Kenapa kau tidak menyebutkan nama appa…Aigoo…”

“Jisoo kan sudah mengatakannya berulang kali,appa..Jisoo tampan karena appa dan pintar karena eomma!” seru anak laki-laki berusia 5 tahun (versi Korea) itu kepada ayahnya yang kini kembali terkekeh karena tingkah anaknya.

“Apakah appa setampan itu, eoh?”
Jisoo mengangguk.

Geuromyeon..Apalagi jika tanpa kacama—Ya Appa. Apakah appa menangis?” Dahi anak laki-laki berusia 5 tahun itu segera berkerut setelah melepas kacamata milik ayahnya. Memandang ayahnya yang terlihat menangis, ia mengusap air mata ayahnya.

“Appa..Ullijima..”

“Ini tangis bahagia, Jisoo-a.”

Ah apakah ada hal semacam itu, appa?”

“Tentu saja ada. Ketika kamu terlalu bahagia maka kau akan menangis..”

Tak lama kemudian, Myungsoo dapat mendengarkan anaknya menangis. Ia mulai kebingungan.

“Ya Jisoo-a..Mengapa kau menangis..”

“Ini tangis bahagia appa..”

Wae?” Myungsoo mengerutkan keningnya.

“Eomma akan menjenguk Jisoo hari ini…Ia akan berkunjung selama satu minggu seperti biasa kan, appa?”

Myungsoo mendekat ke arah anaknya, mencondongkan wajahnya ke wajah anaknya dan menangkup kedua pipinya. Tentu saja tak ada air mata yang keluar, Jisoo belum bisa merasakan semua emosi itu. Ia hanya meniru ayahnya untuk menangis.

“Kali ini eomma akan tinggal lama disini Jisoo-a…Hingga Jisoo besar nanti.” Myungsoo tersenyum, Jisoo menyambut kalimat yang Myungsoo lontarkan dengan sangat senang.

“Benarkah appa?”

Myungsoo mengangguk.

“Tentu saja. Bahkan Jisoo mungkin akan memiliki seorang adik nanti.”

“Benarkah appa?!” tanya Jisoo, lagi.

Myungsoo mengangguk. “Kau ingin adik berapa? Tiga? Empat?” Myungsoo tersenyum nakal setelahnya, untung saja istrinya tidak mendengarnya saat ini. Jika iya, maka habis sudah nanti malam. Ia tidak akan mendapatkan jatah waktu bersama Jiyeon untuk tidur bersama. Myungsoo pasti akan berakhir tidur di sofa jika sampai ia tahu bahwa dirinya sedang bercanda untuk memiliki anak banyak saat ini. Apalagi di depan Jisoo.

“Sebelas! Jisoo ingin membentuk sebuah kesebelasan,appa-ya~! Lalu nanti Jisoo akan menjadi kaptennya!” jawab Jisoo mantap.

Myungsoo tahu ia tidak bisa menjawab tidak. Lagipula, ini hanyalah sebuah gurauan. Ia tidak ingin melihat wajah Jisoo yang mengkerut jika ia menjawab tidak. Tinggal jawab iya dan nanti Jisoo akan lupa sendiri.

“Baiklah..Serahkan saja pada Appa!”

Yaksho?” Jisoo mengulurkan jari telunjuknya ke arah Myungsoo.

Myungsoo meraihnya. “Yaksho!”

Myungsoo lalu menengok ke arah jam tangan yang melingkar di tangannya. Setengah jam lagi istri tercinta yang telah ia tunggu-tunggu akan datang.

“Jisoo-a. Eomma akan datang beberapa saat lagi. Kau bantu appa memegang papan ini ndae?”

Jisoo mengangguk mengerti lalu memegang papan berukuran A3.

“Keundae appa…Bukannya Jisoo hanya setinggi lutut appa..Bagaimana eomma bisa melihatnya..”

“Appa akan menggendongmu, Jisoo-a.”

Myungsoo dan Jisoo masih berdiri di tepi pagar yang berada di tengah-tengah bandara, tempat banyak orang menjemput orang yang mereka sayangi, entah itu keluarga, teman atau kekasih. Myungsoo terus menilik ke arah jam tangannya, sudah setengah jam namun kerumunan orang yang keluar tak kunjung ada.

So you can keep me

Inside the pocket of your ripped jeans

Holding me close until our eyes meet

You wont ever be alone, wait for me to come home

Myungsoo sama sekali tak sadar jika mungkin saja ia salah jam. Jisoo sendiri terduduk di lantai bandara seraya memainkan crayon barunya. Awalnya Jisoo menggunakannya di buku gambar barunya dan Myungsoo sama sekali tak menyadarinya, bahwa Jisoo menggambar sesuatu di papan penyambut yang telah ia buat semalam.

Jangan tanya isi papan selamat datang yang Myungsoo buat itu, tentu saja heboh dan sedikit berlebihan—sesuatu yang Myungsoo sebut sebagai romantis.

Sembari menunggu, dengan tangan kiri yang menganggur, Myungsoo merogoh saku jeansnya dan mengambil sesuatu. Sebuah foto istrinya, dirinya dan bayi Jisoo yang masih merah. Foto itu yang selama ini telah menjadi kekuatan baginya. Ia membawanya kemanapun ia pergi.

Empat puluh menit telah berlalu, Myungsoo merasa lelah sehingga ia memutuskan untuk mengajak Jisoo duduk di sebuah bangku. Jisoo menurut dan meraih tangan ayahnya. Di bangku duduk panjang itu Myungsoo akhirnya tertidur, sementara Jisoo sudah bosan mencoret-coret papan selamat datang yang ayahnya buat. Kini ia sedang menyibukkan diri menggunakan kamera digital kecil pemberian ayahnya.

Entah apa yang dipikirkan oleh Myungsoo memberi seorang anak berusia 5 tahun sebuah kamera digital. Mungkin karena ia ingin anaknya juga bisa mengabadikan setiap momen yang ada di keluarga kecilnya.

Tak sadar, Myungsoo telah tertidur selama setengah jam. Tangannya masih melingkar ke pergelangan tangan Jisoo yang sedang melihat ke arah ayahnya yang tertidur. Jisoo dengan tangan kecilnya mengayunkan tangannya ke depan wajah ayahnya lalu menggoncang pelan tubuhnya seraya memanggil-manggil nama ayahnya untuk bangun.

Appa! Appa! Eomma telah datang appa!” panggilnya terus menerus. Usaha Jisoo pada akhirnya tidak gagal. Ayahnya lalu terbangun dan dengan refleks ia memanggil Jisoo.

“Ya Jisoo-a. Segera pegang papannya, kita akan menyambut eomma-mu!”

Ia segera berdiri dan hendak menggendong anaknya itu. Namun anaknya itu terlihat bingung. Myungsoo pun ikut bingung, karena papan selamat datang yang telah ia buat semalaman menghilang.

“Jisoo-a..Kau taruh mana papannya? Mengapa tidak ada di sini? Apa kau meninggalkannya di suatu tempat?”

Jisoo terlihat menggelengkan kepalanya.

Myungsoo lalu melihat ke bawah bangku kursi, mungkin saja Jisoo menjatuhkannya ke sana.

Namun tidak ada.

Tak lama ia merasakan seseorang menyentuh bahunya. Ia menengok dan melihat sesuatu yang membuat tubuhnya membeku.

“Apakah yang kau maksud adalah ini, jagiya?”

Myungsoo mengedipkan matanya.

Di depannya berdiri sesosok yeoja yang baginya paling cantik sedunia.

Yeoja dengan paras cantik, rambut cokelat bergelombang yang menjuntai dan tubuh berlekuk indah itu sedang memandangnya dan memamerkan sebuah senyum manis. Sebuah senyum yang seakan berkata ‘Aku kembali—untukmu dan Jisoo’

Tangan yeoja itu terulurkan ke arah Myungsoo, mengulurkan sebuah papan berukuran A3.

“Aku sangat terharu dengan papan ini, Myungsoo-a. Kau masih sama, selalu memberiku kejutan seperti ini.” Jiyeon tersenyum manis ke arahnya, Myungsoo dapat merasakan jantungnya berdegup dengan kencang.

Kecantikannya masih utuh. batinnya.

“Keundae…Apa maksudmu dengan gambar sebelas anak ini dan kita berdua berada di tengah Myungsoo-a.” Myungsoo merasakan hawa dingin itu menghembus dan menerpa tengkuknya. “YAA byuntae! Apa yang telah kau ajarkan pada Jisoo, eoh?!”

Myungsoo tidak pernah tahu, bahwa hal pertama yang mengawali pertemuan kembali dirinya dengan istri yang ia rindukan adalah sebuah tendangan ke selangkangannya.

Dan ia juga tidak duga sebelumnya, memberikan Jisoo sebuah kamera digital kecil akan menjadi boomerang baginya.

Appa, aku berhasil menggunakan kamera digital ini!”

Tapi Myungsoo yakin akan satu hal yang pasti, saat tua nanti, ia pasti akan memandang lama dan tersenyum ke arah foto yang Jisoo ambil meskipun saat ini ia merintih kesakitan karena Jiyeon tentu tahu kemana ia harus menendangkan kakinya.


END


Hyee~~ Another Myungyeon ff~~~ Yang awalnya ngira ini bakal sad end  angkat tangan juseyo~~~ wkwk Jisoo lucu bet kan ya. Jiyeon Myungsoo singkatannya pemirsah :””D

Btw aku kemarin bikin twitter nih. @smexyexo usernamenya *pardon the alayness* Yang punya twitter dan mau follow boleh kok follow. Biar keep in touch gitu sama author hehe

Feedback~! Komen, Like, Rate~!

37 responses to “[VIGNETTE] Photograph

  1. sweeeeeeet. myungsoo sampe masang iklan begitu. dikiran jiyeon korban penculikan kali ya. tapi romantis, ngajakin nikah lewat koran, orang jadi banyak yang tahu. hihi
    woah jisoo manteb fotoin ema bapaknya. kakinya jiyi kemana itu nendangnya??? hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s