[ CHAPTER – PART 6 ] A MINUTE OF HOPE

AOF

AMH

Tittle : A Minute of Hope

Author : gazasinta

Main Cast :

– Park Jiyeon as Jiyeon
– Kim Jaejoong as Dr Jae
– Kim Myungsoo as Myungsoo
– Bae Suzy as Suzy
– Jeo Min Seo as Park Jeo Min ( Jiyeon’s sister )

Extended Cast :

– Shin Goo as Seo Sin Goo ( Harabeoji )
– Kang Bo Ja as Halmeoni Kang ( Yongha’s mother )
– Park Won Sook as Won Sook ( Yongha’s sister )
– Yun Yoo Sun as Yoo Sun ( Jaejoong and Myungsoo’s mother )
– Kim Soo Ro as Soo Ro ( Jaeejong and Myungsoo’s father )
– Kim Mi Sook as Mi Sook ( Suzy’s mother )
– Kim Ji Young as Bibi Lee Eun Cha
– Lee Kwang soo as Kwang Soo
– Son Ye Jin as Seo Ye Jin ( Jiyeon and Jeo Min’s mother )
– Park Yong Ha as Yong Ha ( Jiyeon and Jeo Min’s father )

Genre : School, Family, Drama

Rating : PG-17

Poster created by @olivemoon2

Annyeong aku kembali !!!!

Mianhae lama pake banget aku menghilang. Aku baru sembuh dari sakit, makanya ga dibolehin megang laptop sama Mamihku*gaingetkalocumamakansamaoncom

Tangan udah gatel banget dan otak udah penuh sama ide, tapi karena author anak cantik ( ? ) akhirnya nurut kata-kata mamih. Okelah, ga banyak cing cong part 7 nya, Insya Allah minggu depan yah chingu.

Disclaimer : FF ini terinsprirasi dari Kdrama yang sangat menyentuh Thank You, tapi alur dan ceritanya pure milik author.
Sorry for typos , and happy reading ya guys!!!

“ Be a strong wall in the hard times and be a smilling sun in the good times. “

Previous part

“ Jika kau tidak bisa menjaga adik dan kakekmu, titipkan saja mereka di panti asuhan, jangan menyusahkan orang lain “

“ Huh “

“ Hari ini banyak orang yang membuatku harus menahan malu karena menghardikku untuk kesalahan yang tidak aku tahu “

“ Aku pikir, hari ini Tuhan sudah memberikanku kebahagian, ternyata belum…..bahkan berturut-turut kalian memarahiku “

“ Dokter…..aku…senang sekali kau ada disini, bisakah kita saling berbincang, aku ingin mendengar kau memberikanku sebuah nasehat, memberikanku semangat untuk tetap bertahan hidup……kau orang yang paling dekat berada dengan keluargaku, bisakah ? “

“ Aku bukan siapa-siapamu, kita hanya kenal karena tinggal ditempat yang sama, jadi…..”

“ Aku tidak mau mendengarnya, keumanhe…..!!! “

“ Aku tidak mau mendengar kata-kata sinis darimu untuk hari ini, cukup “

Seperti ada yang mendorongnya, kaki Jaejoong melangkah mendekat ke arah Jiyeon. Ada perasaan iba yang tiba-tiba menghampirinya melihat keadaan gadis mungil ini, tanpa ia sadari tangannya terangkat untuk meraih tubuh yeoja itu namun,

Brughhh

Jiyeon terjatuh tak sadarkan diri, ia pingsan tepat ketika Jaejoong ingin meraih tubuhnya.

Part 6 ~ A Minute Of Hope

Rumah Kel.Kim,

“ Aku pulanggg !!!! “

Myungsoo masuk kedalam rumah dengan wajah tersenyum tak seperti biasanya. Ia membungkukkan tubuh kepada appa dan eommanya kemudian melangkah mantap kedalam kamarnya. Soo Ro dan Yoo Sun yang sedang menikmati teh hangat sebelum makan malam tiba saling bertatapan aneh.

“ Yeobo, apa anak itu sakit ? ini bahkan belum saatnya makan malam dan dia sudah berada dirumah ? “ Tak percaya Yoo Sun sambil menatap jam dinding di ruang keluarga kemudian kembali menatap Myungsoo yang berjalan begitu sumringah menuju kamarnya.

Kening Soo Ro pun merengut heran, tak biasanya pulang kuliah putra keduanya langsung kembali kerumah. Namun tak lama ia mendesah “ Mungkin hanya ingin membersihkan tubuh, setelah itu seperti biasa “ Ucapnya paham dan kembali menyeruput teh hangat.

.
.

.

Myungsoo menjatuhkan tubuh diatas ranjang dengan tas punggung dan gitar berada disamping kiri kanannya, sepasang sepatunya ia biarkan masih melekat dikakinya “ Akkhhh hari ini cukup melelahkan….tapi juga….menyenangkan….hahahahhaha “ Tawanya membahana membayangkan apa yang baru saja ia lakukan pada Park Jiyeon.

Sesekali tawanya terhenti namun membayangkan musuhnya begitu marah padanya tadi membuat Myungsoo kembali tak bisa menahan tawanya. Myungsoo seperti orang gila yang tertawa begitu bahagia sendirian. Lelah tertawa, ia kemudian bangkit dan membuka ranselnya, mengeluarkan sebuah gitar dan kantong kecil berisi receh yang ia pungut ketika Jiyeon meninggalkannya begitu saja tadi.

“ Tch…..hanya seorang yeoja miskin tapi begitu sombong “ Myungsoo tersenyum sinis “ Tapi apa benar ia miskin ? bagaimana bisa ia masuk Kyunghee ? “ tanyanya heran seraya mengangkat kantong receh hingga kini berputar didepan matanya. Tak mau ambil pusing, ia melempar gitar dan kantong receh milik Jiyeon asal diatas ranjangnya, dan menarik handuk untuk membersihkan badan. Ia harus segera beristirahat sebelum besok bertemu yeoja itu yang mungkin akan membalas dendam padanya. Myungsoo masuk kedalam kamar mandi dengan terus tersenyum, tak sabar menyambut pagi dan melihat apa yang bisa yeoja itu lakukan padanya.

.
.
.

Rumah Sewa – Halaman depan,

Jaejoong mengangkat tubuh pingsan Jiyeon, ia baru saja memutuskan untuk membawa Jiyeon kedalam rumahnya, namun langkahnya terhenti ketika Jeo Min dan harabeoji yang entah darimana datangnya tiba-tiba berada dihadapannya. Jeo Min dan harabeoji yang saling berpegangan tangan menatap Jajeoong lekat.

“ Paman hantu ada apa dengan eonniku ? “ Tanya Jeo Min dengan wajah panik.

Jaejoong melewati tubuh Jeo Min dan harabeoji , ia melangkah cepat membawa Jiyeon dalam gendongannya. Jeo Min dan harabeoji yang merasa was-was mengikuti Jaejoong dari arah belakang.

“ Buka pintunya palli ! “ Titah Jaejoong.

Tanpa dua kali perintah, Jeo Min dan harabeoji berebutan menggeser pintu rumah. Meski tak mengerti apa yang terjadi, namun melihat eonninya yang tak bereaksi apapun membuat Jeo Min ingin menangis.

“ Paman hantuuuu ada apa dengan eonni ? apa yang kau lakukan padanya ? “ Tanya Jeo Min dengan air mata yang sudah membasahi pipinya, namun kalimatnya yang terkesan menuduh membuat Jaejoong berdecak kesal.

“ Ambil apapun yang kalian miliki! “ Jaejoong setengah berteriak.

“ Yang kami miliki ? “ Jeo Min tak mengerti “ Apa maksud paman hantu ? “

Jaejoong memandang sekeliling, bingung harus meletakkan Jiyeon dimana, tak ada alas apapun yang bisa ia gunakanan “ Selimut, handuk, pakaian…..atau apapun yang kalian punya untuk alas “ Ucap Jaejoong yang seketika menjadi benar-benar kesal dengan keadaan yang serba terbatas.

Jeo Min dan harabeojipun segera berlari, Jeo Min berlari kepojok ruangan, sedangkan harabeoji langsung berlari keluar rumah. Keduanya kembali bersamaan dan langsung memperlihatkan benda yang Jaejoong minta. Jaejoong hampir saja memekik marah ketika harabeoji meletakkan sebuah sandal diatas selimut yang Jeo Min siapkan.

“ Bukan sandal !!! “ Ucap Jaejoong terdengar keras membuat harabeoji berjengkit kaget.

“ KAU BILANG BERUPA ALAS !!!! “ Merasa tak terima harabeoji balik memarahi Jaejoong.

“ Harabeoji sudahlah, maksud paman hantu alas tidur bukan alas kaki “ Jeo Min meluruskan padahal bibirnya masih terisak karena menangis.

Haraboeji mengangguk paham dan tersenyum pada Jeo Min, namun tidak pada Jaejoong.

Jaejoong meletakkan Jiyeon diatas selimut yang Jeo Min sediakan, kemudian ia melepaskan baju hangat yang melekat ditubuhnya untuk menopang kepala gadis itu. Jaejoong kemudian berlari kearah rumahnya meninggalkan Jiyeon bersama Jeo Min dan harabeoji yang sedang menangisi yeoja itu.

“ Eonni…huhuhuhu…. kau kenapa eoh ? bangunlah…buka matamu…huhuhuhu…..kami sangat takut jika melihatmu seperti ini….huhuhu “ Jeo Min menangis seraya menggoyang-goyangkaan tangan Jiyeon yang terasa dingin, diikuti harabeoji disisi seberangnya.

Tidak berapa lama, Jaejoong kembali dengan sebuah wadah yang berisi air dingin dan handuk, serta beberapa selimut ditangannya. Butir-butir keringat sebesar biji jagung memenuhi kening Jiyeon. Jaejoong meletakkan handuk yang ia rendam dalam air dingin dikening Jiyeon, berharap suhu tingginya segera turun.

“ Paman hantu, berjanjilah pada kami kau bisa menyembuhkannya, eonniku tidak boleh sakit, jika dia sakit kami pasti sedih sekali “ Ucap Jeo Min tangisannya terdengar seperti raungan kini.

Jaejoong menatap sedikit kesal Jeo Min yang merengek-rengek padanya, memangnya siapa yang ingin eonninya sakit ? itupun akan sangat merepotkannya.
.
.
.

“ Hari ini banyak orang yang membuatku harus menahan malu karena menghardikku untuk kesalahan yang tidak aku tahu “

“ Aku pikir, hari ini Tuhan sudah memberikanku kebahagian, ternyata belum…..bahkan berturut-turut kalian memarahiku “

“ Aku tidak mau mendengar kata-kata sinis darimu untuk hari ini, cukup “

Jaejoong mengingat kata-kata Jiyeon sebelum gadis itu pingsan, apakah karenanya ? apa sikapnya yang selalu sinis yang membuat Jiyeon lelah hingga tak sadarkan diri dan akhirnya roboh dihadapannya ?

Jaejoong menoleh kearah Jeo Min yang matanya sudah terkantuk disamping eonninya, namun bibir mungil gadis kecil itu masih nampak berkomat-kamit seperti ada untaian doa yang ia panjatkan. Jaejoong mendesah lemah, menyuruh anak kecil itu tidur sama seperti menyuruhnya meminum obat, begitu sulit dan ia lelah. Pandangannya kemudian beralih pada harabeoji yang sudah tertidur begitu pulas, dua buah cup mie instan berada tak jauh dari tempatnya. Orangtua itu, Jaejoong menganggapnya aneh, ia seperti tidak mengerti apa yang terjadi, berwajah bodoh dan selalu menyusahkan.

Hari semakin larut, kini hanya Jaejoong yang terjaga. Jaejoong menggigit bibirnya bosan, ia sudah sangat lelah untuk terus duduk dan menjaga tidak hanya Jiyeon tapi juga satu anak kecil dan kakek tua yang sudah tertidur begitu pulas. Jaejoong bangkit, ia memutuskan untuk beristirahat saja.

Tepat didepan pintu, Jaejoong seperti teringat pesan Nana untuk menjaga keluarga Park dengan baik. Sampai detik ini harus diakui ia belum melakukan apapun, bahkan ia melanggar janjinya untuk berkata lembut dengan orang lain selain Nana. Mengingat itu Jaejoong menggusak rambutnya kesal, janjinya seperti membatasi Jaejoong untuk menjadi dirinya sendiri. Tangan Jaejoong kini meraih gagang pintu, tidak melangkah keluar, ia justru menutupnya rapat.

Kakinya kembali mendekat kearah Jiyeon. Tangannya kemudian ia letakkan diatas kening gadis itu “ ….. ” Entah apa maksudnya dengan wajah datarnya yang seperti itu, Jaejoong duduk dan mengganti kompresan yang sudah hampir kering.

“ Eonni….cepat sembuh, tetaplah sehat eoh “

Jaejoong mengamati Jeo Min yang mengigau menyebut nama eonninya, gadis kecil itu nampak tidak tenang dalam tidurnya. Diangkatnya tubuh kecil Jeo Min, mungkin karena tidur ditempat yang tidak nyaman hingga gadis itu mengigau, dengan hati-hati Jaejoong menyelimuti Jeo Min, melindunginya dari udara dingin yang mengganggunya.

Harabeoji, meski Jaejoong sedikit kesal dengan orangtua dihadapannya ini, namun melihat wajahnya yang tertidur, Jaejoong seperti melihat harabeojinya hadir kembali kedunia. Jaejoonpun menyelimuti tubuh harabeoji.

“ Hah, apa ini aku ? “ Tanyanya pada diri sendiri hampir tak percaya dengan apa yang dilakukannya, berhenti menjadi seorang dokter, dan kini ia terlihat seperti seorang baby sitter. Jika orangtuanya tahu, sudah pasti mereka akan murka dan memaksanya pulang untuk mengurusi bisnis appanya.
.
.
.

Next Day – Kyunghee University,

“ Suzy-ssi, kau tidak masuk ? kelas menyanyi sebentar lagi dimulai, dan hari ini adalah penilaian pertama sebelum kompetisi “

“ Eoh, nde aku akan segera masuk kelas “

Dengan langkah terpaksa, yeoja manis itupun meninggalkan tempatnya tadi berpijak. Dalam hati ia masih ingin disana, ingin mengetahui apa yang Myungsoo lakukan dengan hanya berdiri didepan gerbang kampus sejak tadi. Selama pengamatannya, namja itu tak pernah dekat dengan murid manapun, bukan karena tak ada yang mau menemani, tapi karena namja itu yang sulit untuk didekati. Jadi apa ada seseorang yang ia tunggu ?

Sesekali Suzy melirik ke arah Myungsoo kembali, ia memperlambat langkahnya ketika melihat Myungsoo pun akhirnya meninggalkan gerbang kampus.

“ Annyeong Myungsoo-ssi “ Suzy memberanikan diri menyapa ketika Myungsoo terlihat akan mendahuluinya.

“ …. “

Tak ada balasan sapaan, Myungsoo hanya memandang Suzy datar. Ternyata momen mengantar dirinya sampai rumah kemarin tak menjadikan Myungsoo bersedia menyapanya kembali dikampus. Benar-benar sulit sekali berteman dengannya.

“ Jiyeon –ah !!!! “

Myungsoo menoleh ketika suara seseorang memanggil nama “ Jiyeon “, namun wajahnya berubah tak minat setelah melihat objeknya. Suzy yang mengamati setiap gerak-gerik Myungsoo merasa ada sesuatu yang Myungsoo sembunyikan, namun ia tak paham tentang apa.

“ Aku….hanya ingin menyapa saja “ Ucap Suzy untuk mengalihkan tatapan Myungsoo dari dua orang yeoja yang kini berjalan melewati mereka, satu bernama Jiyeon yang membuat Myungsoo menoleh cepat, dan satu entah siapa namanya.

“ Eoh “ Ucap Myungsoo singkat dan akhirnya meninggalkan Suzy yang masih berdiri mengamatinya hingga berbelok ke arah kelas.

“ Mengapa hanya obrolan yang seperti itu ? “Sesal Suzy yang beberapa kali memiliki kesempatan tapi tak banyak pembicaraan yang bisa ia bahas selain kalimat sapaan yang ditanggapi dingin oleh Myungsoo.

Tiba-tiba sebuah pesan masuk kedalam ponselnya, Suzy membukanya dan wajahnya terlihat lelah “ Makan malam dirumah sahabat eomma ? hah aku malas sekali “ Lenguh Suzy setelah melihat pesan dari sang eomma.
.
.
.

“ Park Jiyeon !!!!! “

Ini panggilan kedua atas nama Park Jiyeon yang diteriakan Dosen Hong untuk segera maju ke depan kelas untuk penilaian bernyanyi, namun semua murid terdiam dan tak satupun yang bisa memberikan keterangan dimana keberadaan Park Jiyeon, mahasiswa baru yang masuk ketika kuliah sudah berjalan hampir dua bulan. Dosen Hong menghela nafas panjang, ia mengedarkan pandangan hingga menyapu seluruh ruangan namun tak menemukan Jiyeon ada disana. Tiba-tiba tangan seorang muridnya terangkat, Dosen Hong menoleh dan mendapati Myungsoo menatapnya.

“ Kau tahu dimana Park Jiyeon ? “ Tanya Dosen Hong sedikit tak percaya.

Myungsoo tersenyum menyeringai, sudah tentu ia tahu. Pasti yeoja itu tak berani masuk karena takut ia mengadukan masalah kemarin dengan pihak kampus. Baru saja Myungsoo akan membuka mulutnya, namun ia urungkan, sepertinya tidak seru jika membeberkan aib yeoja itu tanpa ada orangnya disini.

“ Ahni, aku hanya ingin meminta izin untuk ke toilet “

“ Hahahahhah “

Tawa teman-temannya membahana. Dosen Hong menahan rasa kesal, sudah ia duga muridnya yang satu itu tidak akan pernah tahu apa-apa tentang sekelilingnya. Ia kemudian membiarkan Myungsoo meninggalkan kelasnya. Dosen Hong penasaran dimana keberadaan Jiyeon ? ini baru hari kedua dan kurang dari dua minggu lagi untuk memilih mahasiswa yang berhak belajar di SM, tapi gadis itu sudah berani tidak datang ke kampus tanpa ada keterangan apapun. Dalam hati Dosen Hong merutuki dirinya yang tidak tahu apa-apa tentang Jiyeon, nomor ponselnyapun ia lupa untuk menanyakannya.

.
.
.

Desa Hwanghee,

“ Hari ini kau belajar apa ? “

“ Berhitung dan membaca “

“ Kau sudah bisa melakukannya ? “

“ Tentu saja “

“ Coba kau lakukan “

“ Il, I, Sam, Sa, O, Yuk, Chil…..”

Jeo Min menatap iri anak-anak sebayanya yang memakai pakaian sama, membawa tas dipunggung, serta sepatu dikakinya sangat bagus-bagus, mereka berjalan beriringan sekitar tiga sampai empat orang “ Aku ingin seperti mereka “ Lirihnya.

“ Memangnya ada apa dengan mereka ? “ Tanya halbeoji seraya menatap anak-anak sebaya Jeo Min.

“ Bersekolah dan memiliki banyak teman “ Ucap Jeo Min tatapannya masih lekat ke arah anak-anak yang berjalan semakin menjauh.

“ Kau punya aku sebagai teman “

“ Tapi aku tidak sekolah “ Sela Jeo Min.

“ ….. “

Harabeoji terdiam “ Ah Jeo Min-ah aku laparrrrrr “ Tiba-tiba harabeoji berteriak kencang.

Jeo Min menghela nafasnya panjang, harabeoji tidak bisa diajak berbicara serius “ Kajja !!! eonni juga harus makan ketika ia terbangun “ Ajak Jeo Min dan harabeoji mengikutinya dari belakang.
.
.
.

“ Aigo sepagi ini sudah sangat panas “

Wusss

“ Aigo…aigo….mobil bodoh “

Seorang wanita tua yang hendak menyeberang dijalan raya sepi mengomel ketika kendaraan lewat didepannya dan hanya meninggalkan debu yang menempel dipakaiannya “ Ahh, sial sekali..mengapa mengendarai mobil seperti itu “

“ Halmeoni mau kami bantu membawakan keranjangnya ? “

Wanita tua bernama Kang Bo Ja itu sedikit terkejut menyadari ada orang lain didekatnya, seorang anak kecil dan pria yang umurnya sedikit lebih tua darinya menatapnya lekat. Anak kecil yang menyengir polos itu menawarinya untuk membawakan keranjang ? dengan tubuh besarnyapun ia masih kesulitan, bagaimana anak kecil ini berlaga ingin membantunya.

“ Aigo….terimakasih, kau baik sekali tapi aku bisa membawanya sendiri “ Ucap halmeoni Kang terdengar sangat baik.

Halmeoni Kang merasa risih karena anak kecil itu masih menatapnya padahal ia sudah berpura-pura acuh.

“ Apa kita pernah bertemu sebelumnya ? aku seperti pernah melihat halmeoni “

Ucapan anak kecil itu membuat halmeoni Kang mau tak mau kembali menoleh, dilihatnya anak kecil dan kakek tua itu dari kepala hingga kakinya lekat-lekat, dan ia hampir menutup mulutnya begitu menyadari apa yang dikatakan anak ini benar.

“ Halmeoni….kau halmeoniku bukan ? “ Tebak anak kecil yang ternyata adalah Jeo Min sebelum halmeoni Kang sempat mengelak.

Halmeoni Kang yang ditembak seperti itu langsung gelagapan, dengan terburu ia mengangkat keranjang bawaannya dan menyeberang jalan, namun ia terkejut ketika harabeoji menahan tangannya.

Tap

“ Yya, apa yang kau lakukan eoh ? “ Marah halmeoni.

“ Jeo Min bilang kau adalah istriku “ Ucap harabeoji dengan wajah polos.

“ Mwo ? michiesseo ? “

“ Harabeoji bukan seperti itu, ia adalah halmeoni aku dan eonni bukan istri harabeoji, halmoeni ini ….. “

“ Hentikan!!! Apa yang kalian bicarakan ? aku tidak mengenal kalian, aigooo “ Halmeoni Kang bergegas lari, meski kesulitan ia tetap berlari dan tidak mau anak kecil dan kakek tua itu mengejarnya.

“ Halmeoni…halmeoni tunggu !!! aku ingin memberitahumu jika eonni sedang sakit…halmeoni !!! “

“ Istrikuuuuu…..jangan tinggalkan kami, kembalilah eoh “

Jeo Min dan harabeoji terus berteriak, namun halmeoni Kang tak peduli dan semakin mempercepat langkanya. Halmeoni berlari ketakutan, ia tak mau kehidupannya yang sudah tenang kini harus terusik.

“ Bagaimana bisa mereka masih berada disekitarku, ini menyebalkan !! “ Kesal halmeoni sambil terus menjauh.

“ Arrgkkk “

“ Jeo Min-ah, gwenchana ? “

Kaki Jeo Min tersandung batu dan ia terjatuh. Jeo Min meringis menahan perih, ketika ia berdiri ia merasakan lututnya begitu sakit. Tiba-tiba darah segar mengalir dari lututnya “ Harabeoji lututku berdarah “ Keluhnya takut.

Baru saja lukanya ingin dipegang harabeoji Jeo Min teringat kalimat Jaejoong padanya ketika paman hantu itu membersihkan lukanya.

“ Jangan biarkan oranglain menyentuh lukamu sembarangan “

“ Shireo !!! jangan menyentuhnya “ Teriak Jeo Min membuat harabeoji terkejut “ Kajja cepat kita pulang saja, aku masih bisa berjalan, paman hantu pasti akan marah menunggu kita terlalu lama “

.
.
.

Jaejoong terus menerus menatap pagar rumah, ia menunggu Jeo Min dan harabeoji yang sedang keluar untuk membeli makan. Anak kecil itu merengek dan bersikeras bahwa ia dan kakeknya saja yang keluar, meski Jaejoong tak mengijinkanya. Dan dengan nakalnya, mereka menyembunyikan sepatu serta sandal milik Jaejoong hingga ia tak bisa pergi keluar rumah.

“ Eummm…”

Suara lenguhan dari arah belakang membuatnya kemudian menoleh. Meski hanya lenguhan, Jaejoong yakin Jiyeon sudah baik-baik saja, dan ia bersyukur itu artinya ia bisa segera beristirahat dirumahnya sendiri, setelah semalaman ia belum beristirahat sama sekali.

“ Kau sudah sadar ? “ Ucapnya sedikit keras membuat Jiyeon yang baru tersadar menoleh kearah datangnya suara.

Siluet tubuh seorang pria nampak samar, namun lambat laun jelas terlihat seiring dengan kesadarannya yang sudah kembali “ Dokter ? “ Jiyeon berusaha untuk tersenyum meski wajahnya masih terlihat pucat.

Jaejoong hanya diam dengan wajah tanpa ekspresi yang ia miliki sejak lahir, sangat sulit menggerakkan bibirnya untuk membalas senyuman Jiyeon, alhasil ketika ia akhirnya berhasil mengulas senyum meski kaku, Jiyeon sudah menatap ke arah lain. Menyadari senyumnya tak terlihat oleh gadis itu, buru-buru ia kembali menarik bibirnya dan memperhatikan Jiyeon yang kini justru sedang berusaha untuk bangkit, namun karena masih terlalu lemah kepalanyapun tak berhasil ia angkat.

“ Jeo Min-ah, harabeoji !! “ Jiyeon tak melihat ada adik dan kakeknya disekitarnya.

Merasa sudah banyak merepotkan Jaejoong, ia memaksa tubuh lemahnya untuk mencari keberadaan Jeo Min dan harabeoji.

“ Jangan bergerak dulu kau masih lemah “ Ucap Jaejoong menyarankan.

Jiyeon bersikeras, ia benar-benar merasa sudah lebih baik. Kini ia sudah berhasil merubah posisinya menjadi duduk, namun ketika akan berdiri kakinya tak sanggup menopang tubuhnya dan akhirnya ia pun hampir saja terjatuh jika Jaejoong tidak segera mendekat dan memegang lengannya kuat.

“ Sudah ku bilang jangan bergerak, kau selalu merepotkan orang lain “ Ucap Jaejoong terdengar ketus.

Jaejoong sudah berusaha bersabar dan mencegah mulutnya untuk tidak mengeluarkan kalimat pedas, namun hal itu sepertinya sulit ketika melihat Jiyeon tak mengindahkan larangannya. Dilihatnya yeoja itu menunduk dalam, namun ketika gadis itu mengangkat wajahnya senyum sudah mampu ia ukir dibibir tipisnya.

“ Kamsahamnida dokter, maafkan aku yang selalu merepotkanmu “ Ucap Jiyeon.

Terdengar seperti ejekan ditelinga Jaejoong, atau hanya perasaannya saja yang begitu sensitif “ Jika begitu aku akan kembali kerumah “ Ucap Jaejoong merasa tidak lagi perlu berlama-lama disana.

Jiyeon diam saja, tidak mungkin ia akan mencegah pria yang kelihatannya sangat kelelahan itu meski sebenarnya Jiyeon merasa sepi jika tak ada orang lain yang menemaninya. Ia hampir saja tersenyum ketika melihat Jaejoong berbalik arah dan menatapnya seperti hendak berbicara sesuatu.

“ Apa karena aku ? “ Tanya Jaejoong.

Jiyeon menatap Jaejoong tak mengerti dengan pertanyaan pria itu, namun ingatan semalam yang ia pingsan tiba-tiba membuat Jiyeon menyimpulkan mungkin itu maksud Jaejoong “ Ahniya “ ucapnya jujur karena memang tak ada kesialan apapun yang terjadi di hidupnya yang disebabkan oleh Jaejoong, setidaknya sampai detik ini.

“ Ku lihat kau pulang dengan wajah sedih “ Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Jaejoong.

Melihat Jiyeon yang hanya terpaku menatapnya membuat Jaejoong berubah tak nyaman, ia merasa kalimatnya salah dan sudah terlalu ikut campur dengan urusan orang lain, ia tidak ingin gadis ini menganggap yang tidak-tidak tentang niat baiknya.

“ Eoh, itu karena…” Jiyeon kembali teringat dengan namja brengsek yang kini sekelas dengannya. Yang membuatnya marah dan mengutuki hiudpnya yang sial. Ingin sekali ia bercerita pada Jaejoong tentang kesedihannya, kegundahannya, namun ia benar-benar akan merepotkan Jaejoong dengan masalahnya “ Itu karena aku sedikit lelah saja “ Ucap Jiyeon akhirnya.

Jaejoong tak lagi bertanya, ia kemudian kembali melangkah. Kembali ke rumahnya meski masih banyak pertanyaan tentang gadis itu yang membuatnya penasaran, namun tentu saja ia tak mungkin memaksa gadis itu untuk bercerita.

“ Aku mungkin tidak akan melanjutkan kuliah di Kyunghee “

Langkah Jaejoong terhenti dan seketika menoleh kearah Jiyeon, ia mengernyit heran. Sepertinya yeoja ini membutuhkan teman untuk menceritakan kesedihannya.

.
.
.

Kyunghee University,

“ Dasar pengecut, baru diancam seperti itu sudah tidak masuk, bagaimana bisa aku kalah dengan pengecut seperti dirinya “ Myungsoo berbicara sendiri tentang Jiyeon.

Myungsoo sudah membayangkan akan ada peristiwa yang menghebohkan yang akan terjadi dikampusnya seandainya musuhnya itu datang, tapi ternyata Myungsoo harus bersabar beberapa saat hingga musuhnya datang dan kembali menampakkan batang hidungnya. Langkah kaki Myungsoo terhenti sejenak disebuah belokan yang terlihat sepi, ia mengeluarkan kamera digital dari saku celananya. Myungsoo memutar kembali hasil rekamannya kemarin.

Jeongmal iya neol johahaneunde

Ppalgahge igeun nae eolguri geugeol jeungmyeonghae

Nareul bwa nareul bwa nareul bwa

Nal barabwa barabwa barabwa

Nan strawbelly cheoreom (very very)

Sangkeumhan saram don’t (wolly wolly)

Eoribeori han geudae juwi saramdeureun

Modu da igijuui

Bam najeul georeumyeo (neol jikyeojul) nawa dalli

(geudeureun chakireul) gwasihajiman

Bad guy jadaga ireona

Jamkkodaerodo neol chajne

Achimi kkaeneun sori morning baramdeureun makes harmony

Jeomureoganeun dalbicceun let it go yeomureoganeun romance kkumkkugo

Hello eodi ganeun geoni(where you)

I’ll be there nega ineun geu geori(that way)

Ajik uri sai seomeokhaedo

Geuraedo tryneun haebwayaji narado

It must be L.O.V.E

200 percent, sure of that

I want you really

I mean really

( Akmu – 200% )

“ Suaranya tidak jelek, dan baru disini aku melihatnya tersenyum “ Ucap Myungsoo melihat penampilan Jiyeon yang ia rekam sebagai bukti jika ia berniat melaporkan pada pihak kampus.

Myungsoo memutar ulang terus menerus rekamannya hingga tak sadar bibirnya bergerak ikut bernyanyi serta tangan yang menepuk-nepuk paha kanannya untuk mengiringi suaranya, tak terhitung berapa kali Myungsoo menyanyikan lagu itu, ia seolah larut dengan “ duetnya “ bersama dengan Jiyeon, hingga….

“ Ahhh membosankan !! “ Ucapnya seraya mematikan dan memasukan kembali ponselnya kedalam saku celananya. Meski sebenarnya ia tidak benar-benar bosan, suara renyah yeoja itu, entah mengapa membuatnya menjadi tidak tenang.

Myungsoo kembali melangkah, kali ini langkahnya tidak mengantarkan Myungsoo kearah toilet melainkan aula utama kampus. Entah apa yang ingin ia lakukan, Myungsoo membuka perlahan pintu dan masuk kedalamnya. Sepi, hanya ada subuah piano besar ada ditengah-tengah aula. Myungsoo melangkah perlahan dan duduk dihadapan piano tersebut. Tangannya kemudian terangkat dan ia menaruh jarinya diatas tuts piano. Ada sebuah lagu yang ia ingat sangat indah dimainkan dengan piano, Myungsoo kemudian menyanyikan lagu tersebut dengan piano yang mengiringinya.

“ Kau ? “

Myungsoo menghentikan permainannya ketika melihat ada orang lain disana. Lagi-lagi yeoja bernama Bae Suzy ada disekitarnya, ia tidak tahu sejak kapan yeoja itu ada disana dan menikmati penampilannya. Myungsoo sedikit jengkel, ia menganggap Suzy pasti sedang mempelajari permainannya, sehingga bisa melihat titik lemahnya.

“ Mianhae Myungsoo-ssi, aku hanya tidak sengaja lewat dan mendengar suara sangat indah dari sini, dan aku…”

“ Kau sedang mengintaiku ya ? “ Potong Myungsoo cepat seraya bangkit dan menaruh tangan didadanya seperti seorang yang sedang menginterogasi penguntit.

“ Nde ? “ Suzy tak mengerti apa maksud Myungsoo.

“ Kita sedang bersaing, jadi aku tidak boleh percaya begitu saja dengan cerita ketidaksengajaanmu melihat permainanku bukan ? “

Suzy menyelipkan anak rambut kebelakang telinganya untuk mengusir rasa gugupnya atas dugaan Myungsoo. Mulutnya akan terbuka untuk mengatakan sesuatu, namun Myungsoo kembali memotongnya.

“ Tenang saja, meski kita bersaing aku tidak menganggapmu sebagai musuh, disini hanya yeoja itu yang aku anggap sebagai musuhku “ Ucap Myungsoo entah mengapa ia memberitahu Suzy tentang hal yang pasti yeoja itu tidak mengerti.

Myungsoo kemudian meninggalkan Suzy yang masih berdiri ditempatnya.

“ Myungsoo-ssi, bisakah kau mengajariku memainkan piano seperti yang kau lakukan barusan ? “ Entah keberanian darimana Suzy mengatakannya, ia tidak mau hanya kalimat sapaan yang ia ucapkan pada Myungsoo setelah berkali-kali kesempatan untuk saling berbincang. Pandangan Myungsoo yang mengernyit heran membuatnya gugup, ia menggigit bibir bawahnya cemas. Bodoh, mana ada seseorang yang akan mengajarkan rivalnya .

“ Sudah kubilang kita ini bersaing, mungkin jika kompetisi itu selesai, aku bisa memikirkannya “ Ucap Myungsoo dan kemudian pergi meninggalkan Suzy yang tidak lagi mencegahnya.

Suzy seperti mendengar janji dari syurga ketika Myungsoo mengatakannya, seolah ada angin segar yang meniup-niup rambut indahnya, meski tidak sekarang, namja itu sudah memberikan harapan padanya. Suzy memekik senang, ia berharap kompetisi segera datang dan bahkan berakhir, ia ingin hari itu datang.

.
.
.

Rumah Kel Park,

“ Alasanmu terdengar konyol, hanya karena seseorang dengan mudahnya kau mengatakan menyerah “

Jiyeon terkesiap dengan respon Jaejoong akan ceritanya mengenai alasan mengapa ia tak mau lagi datang ke Kyunghee, jika dipikir itu memang terdengar seperti sebuah lelucon, tapi dokter ini tidak tahu seberapa terinjaknya harga dirinya yang diperlakukan tak menyenangkan oleh namja brengsek itu.

Jaejoong sendiri bukan hanya berkata sembarang, ia mendengar sendiri suara Jiyeon yang begitu merdu, permainan gitar yang indah meski terbuat dari alat sederhana, dan kegembiraan Jeo Min karena eonninya bisa mewujudkan impiannya, bagaimana mungkin hanya karena seseorang yang mengganggu, gadis ini menjadi lemah. Lagipula meneruskan pendidikan akan membantunya kelak, mereka harus hidup dengan layak dengan perjuangan mereka sendiri. Jaejoong tak mungkin selalu ada didekat mereka seumur hidupnya, kelak ia pasti memiliki kehidupan sendiri.

“ Jika begitu boleh aku bertanya padamu dokter ? “

Jaejoong hanya diam, menandakan jika ia mempersilahkan Jiyeon untuk bertanya.

“ Mengapa kau berhenti menjadi seorang dokter ? bukankah karena istrimu meninggal ? “

Jaejoong terkejut ketika pertanyaan Jiyeon justru seperti menghukumnya balik, ia menatap tajam Jiyeon “ Jangan samakan alasanku dengan alasanmu “

“ Apa yang membedakannya ? bukankan kita sama-sama tidak ingin terluka ? “

“ Aku masih bisa hidup meski aku tidak menjadi seorang dokter “ Ucap Jaejoong sedikit meninggi masih menatap wajah Jiyeon, ia tak ingin ada orang lain yang mengungkit apa yang terjadi dalam hidupnya, terutama kepedihannya ditinggal Im Nana.

“ Akupun masih bisa hidup tanpa harus mengambil pendidikan di Kyunghee ? “ Balas Jiyeon dengan tatapan sedikit menantang.

“ Apa yang bisa kalian andalkan jika hanya hidup dengan cara seperti ini ? mengandalkan ku ? orang asing yang tinggal didekat kalian ? “ Jaejoong tak sadar dengan emosinya.

Jiyeon menelan susah payah air liurnya, ia merasa tersinggung dengan kalimat Jaejoong yang seperti merendahkan jalan hidupnya. Mengapa seperti ini ? mengapa semua orang terlihat seperti skeptis melihat keadaannya, mereka terlihat iba, dan itu tak menyenangkan untuknya.

“ Sepertinya berbicara dengan anda bukan hal yang tepat, ternyata seseorang yang berumur dewasa tidak selamanya dewasa dalam bersikap “ Jiyeon beranjak dari duduknya dan meninggalkan Jaejoong.

Jaejoong tahu gadis itu marah padanya, tapi ia tak akan menjilat ludahnya kembali, toh bukan ia yang membutuhkan gadis itu tetapi gadis itu dan keluarganya yang membutuhkannya.

.
.
.

Rumah Halmeoni Kang,

“ Won Sook-ah, tutup rumah kita rapat-rapat jika anak kecil dan kakek tua itu datang, dan kau harus menjaga Suk Hyun agar ia tidak main dengan anak – anak sembarangan, hah mengapa ternyata dia berada dekat sekali dengan kita, ada maksud apa mereka masih tetap tinggal disini ? “ Omel halmeoni denga mengibaskan kipas merasa suhu rumah menjadi sangat panas.

Ini adalah kali kedua eommanya menceritakan perihal anak-anak Yong Ha yang masih ada di Hwanghee dan Won Sook hanya bisa menggelengkan kepala. Sejak eommanya pulang dari pasar hingga sekarang tidak berhenti marah-marah. Won Sook tahu anak-anak Yong Ha masih ada disini, meskipun sama sekali ia tidak pernah bertemu lagi.

“ Mereka tidak akan mungkin datang karena eomma telah mnegusirnya “ Ucap Won Sook mencoba menenangkan eommanya.

“ Itu terdengar bagus, awas saja jika mereka berani menampakkan wajah, enak sekali ingin tinggal enak tanpa berusaha…huh “

Won Sook tak mau mendengar kebencian eommanya, ia pun melenggang pergi bergegas kekamar Suk Hyun putra angkatnya.

“ Benar-benar tidak tahu diri “ Kesal halmeoni Kang membayangkan kembali anak kecil dan kakek tua yang mengejarnya tadi.
.
.
.

Rumah Kel.Park – Malam hari,

Luka dilutut Jeo Min ternyata menjadi serius, tubuh gadis itu menggigil dan suhu tubuhnya bahkan hingga mencapai 42 derajat. Jiyeon panik, kompresan dengan air dingin yang ia ambil di sumur depan tidak bisa meredakannya.

“ Jiyeon-ah aku akan memanggil paman hantu “ Ucap harabeoji.

Jiyeon ingin mencegahnya karena tidak mau merepotkan lagi dokter itu, namun harabeoji sudah melesat pergi. Tidak berapa lama harabeoji kembali dengan wajah sedih.

“ Paman hantu tidak berada dirumahnya “

Jiyeon terdiam, apa dokter itu masih marah padanya sehingga tidak ingin menolong Jeo Min, jika seperti itu benar-benar kekanakkan sekali. Jiyeon ingin bertindak, namun ia ingat kata-kata dokter itu.

“ Apa yang bisa kalian andalkan jika hanya hidup dengan cara seperti ini ? mengandalkan ku ? orang asing yang tinggal didekat kalian ? “

Tangan Jiyeon mengepal keras, tadi pagi ia begitu sombong karena secara tak langsung mengatakan jika hidup baik tidak perlu dengan menjadi seseorang yang sukses. Jiyeon sedikit menyesal telah marah pada dokter Jae.

“ Eonni, dingin sekali…….aku kedinginnnaann “ Lenguh Jeo Min.

Jiyeon memeluk erat Jeo Min, agar tubuh adiknya terasa lebih hangat, beruntung banyak selimut yang Dokter Jaejoong bawa untuknya “ Harabeoji tolong jaga Jeo Min eoh, aku yang akan memanggil dokter, mungkin tadi ia sedang tidur “

.
.
.

“ Hyung ? “

“ Annyeong Myungsoo-ah “

Myungsoo baru saja akan pergi, meski orangtuanya meminta untuk ia tetap tinggal dirumah. Ternyata, bukan hanya dirinya saja yang diminta untuk berada dirumah, tetapi orangtuanya juga mengundang hyungnya. Jika begitu tentu saja ia akan bertahan dirumah hingga hyungnya pergi, jika dilihat-lihat hyungnya tidak membawa koper, menandakan jika hyungnya tidak akan menginap dirumahnya, baguslah dengan begitu ia bisa keluar malam nanti.

“ Kau datang ? kajja kita langsung ke ruang makan, eomma sudah menyiapkan makanan kesukaanmu “ Ucap Yoo Sun antusias.

Myungsoo memutar bola matanya malas, sikap eommanya berbeda sekali jika dengannya. Memang menyenangkan jika menjadi anak kesayangan.

“ Jaejoong-ah kau sudah datang ? hanya sendiri ? “ Sapa Soo Ro.

Jaejoong hanya membungkuk, meski berpacaran lama dengan Im Nana, tak sekalipun Jaejoong pernah mengajak Nana mengunjungi rumahnya atau memperkenalkan pada orangtuanya, jadi dia sedikit lega ketika kini ia tidak usah bersusah-susah menceritakan perihal Im Nana.

Semuanya sudah berkumpul dimeja makan, untuk merayakan 20 tahun pernikahan appa dan eommanya. Sudah pukul delapan malam namun mereka belum sama sekali diijinkan untuk menikmati perjamuan, seperti ada tamu yang ditunggu oleh orangtuanya.
.
.
.

Dug….dug….dug

“ Dokter tolong kami eoh, Jeo Min….ia sakit, badannya panas sekali “

Dug……dug….dug

Tidak ada jawaban dari dalam rumah Jaejoong , Jiyeon sedikit kesal. Jiyeon kembali menggedor pintu rumah Jaejoong dan hasilnya masih sama, pintunya tetap tertutup rapat. Keadaan rumah Jaejoong sangat gelap dan sepi. Jiyeon hampir putus asa, ia tidak tahu harus kemana meminta bantuan, tiba-tiba ketakutan menjalar ditubuh Jiyeon, ia menggigit kuku tangannya resah.

“ Tidak bisa, aku tidak bisa selalu mengandalkannya “

Jiyeon kembali berlari kearah rumahnya, keadaan Jeo Min semakin parah, wajahnya bahkan memerah saking suhu tubuhnya tinggi.

“ Harabeoji, kau tunggu disini, aku akan membawa Jeo Min segera ke rumah sakit eoh ? “

Haraeboji mengangguk mengerti. Sepeninggalan Jiyeon ia menutup rapat pintu rumahnya, tak biasa sendiri ia pun menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, selain malam yang begitu dingin, ia juga takut ada hantu yan datang mengganggunya jika tahu ia sedang sendiri.

“ Jiyeon-ah, Jeo Min-ah cepat pulanggg….aku takut hantu akan memakanku “ Lirihnya dari balik selimut.

.
.
.

Rumah Kel.Kim,

“ Putrimu tidak ikut ? “ Tanya Yoo Sun menyambut sahabatnya yang baru datang.

Wanita setengah baya yang ditanya bernama Mi Sook hanya menggeleng. Putrinya adalah yeoja rumahan, tidak akan pergi jika memang tidak mau pergi. Mi Sook berjalan anggun mengikuti langkah Yoo Sun. Disana sudah menunggu suami serta anak-anak sahabatnya yang ia lihat sangat tampan. Seorang pria matang berwajah tegas dan kharismatik, dan pria lebih muda yang tidak kalah tampan namun berwajah seperti mengacuhkan orang disekitarnya.

Acara makan malam diramaikan oleh obrolan tiga orang saja. Soo Ro, Yoo Sun dan dan Nyonya Mi Sook terlibat pembicaraan santai . Sementara Jaejoong dan Myungsoo hanya mendengarkan sambil menikmati makan malamnya.

“ Jadi putramu yang mana yang kuliah di Kyunghee ? “ Tanya Mi Sook tiba-tiba membuat Yoo Sun berubah masam, ia tak suka jika sudah membicarakan kampus putra keduanya itu, namun tentu saja ia harus tetap tersenyum dan berpura-pura senang dihadapan sahabatnya ini.

“ Kim Myungsoo, putra kedua kami “ Ucap Yoo Sun sambil menunjuk Myungsoo.

Yang ditunjuk terlihat kaget, sejak kapan eommanya tertarik membicrakannya pada orang lain, bukankah eommanya ini tidak pernah bercerita hal lainnya selain membanggakan hyungnya yang seorang dokter.

Sementara Jaejoong langsung menoleh mendengar nama Kyunghee, jadi donsaengnya ini juga kuliah di Kyunghee ? Huh hyung macam apa dia yang tidak sama sekali tahu tentang keluarganya, bahkan sekarang ia sok-sok an menjadi pahlawan untuk keluarga Park. Tunggu !! Apa mereka saling mengenal ? Jaejoong langsung menepis sendiri pertanyaannya, tidak mungkin mereka saling mengenal, Myungsoo yang cuek dan Jiyeon pun baru sehari kuliah disana.

“ Kim Myungsoo imnida “ Myungsoo menundukkan kepalanya memperkenalkan diri karena Yoo Sun terus menatapnya seolah memaksa Myungsoo memperkenalkan diri.

“ Jika begitu apa kau mengenal putriku ? “ Tanya Mi Sook yang dibalas dengan kernyitan oleh Myungsoo “ Bae Suzy, dia adalah putriku “

“ Eoh, hanya sebatas tahu, tidak dekat “ Ucap Myungsoo santai.

Dalam hati Mi Sook merasa kesal dengan sikap tengil anak muda dihadapannya ini, tapi harus diakui ketampanan dan kekayaan yang akan didapat anak ini sangat menggiurkan. Mi Sook tersenyum sendiri membayangkannya.

.
.
.

Rumah Kel. Kim – Halaman rumah,

Jaejoong merasa pembicaraan didalam tak menarik, ia pun pergi ke halaman rumah dan hanya duduk dengan ponselnya disana. Tak tahu apa yang harus dilakukan ia pun membuka galeri diponselnya yang sudah lama tak ia sentuh. Banyak kenangan yang kini menjadi kepedihan ada disana, namun hari ini ia ingin sekali melihatnya, ia merindukan wanita itu. Sangat merindukannya.

“ Apa kau akan bermalam disini ? “

Jaejoong langsung menutup galeri di ponselnya, ia memasang wajahnya seperti tidak ada apa-apa. Jaejoong mendapati appanya disana, ia pun mengulas senyum “ Ahni, aku harus pulang “

Soo Ro mengangguk mengerti “ Apa ada pekerjaan penting yang kau lakukan ? “

“ Tidak ada, aku masih menikmati masa lengangku, hanya saja aku merasa nyaman ditempat baruku “

Wajah Soo Ro berubah sedikit kecewa, namun membicarakan tentang bisnis yang ingin putra pertamanya lanjutkan akan memakan waktu sangat lama, ia tahu Jaejoong tidak senang jika menerima bantuan dari orang lain, ia hanya meyakinkan dirinya jika Jaejoong sudah dewasa dan bisa mengambil keputusan yang terbaik.

“ Apa hanya acara ulangtahun pernikahan ? “ Tanya Jaejoong yang tiba-tiba mengulas senyum misterius.

Soo Ro tidak menangkap maksud pertanyaan Jaejoong, namun akhirnya ia menepuk tangannya tanda mengerti “ Ha…ha…ha jika Myungsoo tahu pasti ia akan mengamuk “ Ucap Soo Ro.

.
.
.

Rumah Sakit Hwanghee,

“ Nona Park, sample darah adik anda akan diambil malam ini, jadi kau tunggu saja sebentar “

Jiyeon mengangguk paham, ia duduk disebuah kursi untuk menunggu Jeo Min yang akan diambil darahnya. Jiyeon memainkan kuku jarinya cemas, sebenarnya ia tak senang berada dirumah sakit, itu mengingatkan ia pada kejadian buruk kehilangan orangtua yang teramat dicintainya. Oleh karenanya ia sangat senang ketika tahu Jaejoong tinggal disebelahnya, dengan begitu ia mungkin tak perlu datang ketempat ini dan hanya meminta bantuan Jaejoong jika sedang sakit. Tapi nyatanya ia ada disini sekarang.

Memikirkan hal itu, ia menjadi merasa bersalah pada Jaejoongg tadi, tidak seharusnya ia berkata kurang ajar pada orang yang lebih tua. Apalagi yang dikatakan Jaejoong sebenarnya sangatlah baik. Setelah ini Jiyeon bertekad akan mendengarkan semua nasehat tetangganya itu, meski kata-katanya selalu ketus, Jiyeon tak menemukan pria itu ingin menjerumuskan hidupnya “ Aku tidak akan menyerah untuk berada di Kyunghee “ Tekadnya.

“ Park Jeo Min “

Jiyeon tersentak ketika suster memanggil nama adiknya, ia pun masuk dan menemui dokter yang memeriksa Jeo Min.

“ Adik anda Park Jeo Min sudah bisa pulang, kami belum bisa memutuskan penyakitnya karena hasil pemeriksaan darah baru bisa diambil sekitar pukul dua belas malam nanti, untuk saat ini ia hanya mengalami demam, kau bisa kembali lagi besok pagi dengan hasil darahnya “ Ucap seorang dokter.

“ Apa aku bisa menunggunya saja dokter ? “ Tanya Jiyeon, ia pikir hanya menunggu sekitar satu jam setengah lagi dan semuanya akan selesai, ia tak perlu kembali ketempat ini besok pagi.

“ Silahkan jika kau tidak keberatan “ Ucap dokter ramah.

.
.
.

Rumah Sewa,

Jaejoong mengernyit heran dan memandang rumah Jiyeon dari luar pagar. Dari jarak 50 meter suara harabeoji terdengar membisingkan. Orangtua itu sedang berteriak-teriak entah apa yang dilakukan, ini sudah pukul sepuluh malam dan harabeoji itu dibiarkan saja untuk membuat kegaduhan. Jaejoong membuka pagar dan melangkah kearah rumah keluarga Park.

“ Harabeojiiiiii !!!! Bisa kau kecilkan suaramu, ini sudah malam dan waktunya orang untuk beristirahat “ Teriak Jaejoong didepan rumah keluarga Park.

Suaranya tentu saja tak terdengar, kalah dengan nyanyian yang berasal dari televisi dan suara tak beraturan harabeoji yang sedang bernyanyi. Jaejoong semakin kesal, ia naik ke atas teras rumah Park dan mendapati pintu yang tak terkunci. Ketika ia membukanya hanya ada harabeoji yang sedang bernyanyi.

“ Harabeoji !!!! “

“ Eoh paman hantu !!!! “ Harabeoji menghentikan nyanyiannya mendapati Jaejoong ada didepan pintu, dengan cepat ia berlari seraya memeluk Jaejoong erat “ Syukurlah aku memiliki teman sekarang, aku takut sekali “

Jaejoong berontak melepas paksa harabeoji yang memeluknya “ Jangan seperti ini !! “ Kesal Jaejoong.

“ Karena sudah ada kau kajja !!! kita bernyanyi “ Ajak harabeoji menarik tangan Jaejoong.

“ Harabeoji dimana Jiyeon dan Jeo Min ? “ Tanya Jaejoong yang tidak melihat ada Jiyeon dan Jeo Min diruangan ini.

“ Jiyeon ? Jeo Min ? “ Bingung harabeoji seraya menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
.
.
.

Rumah sakit Hwanghee,

“ Jika bukan karena appa yang menyuruh aku tidak mungkin datang malam-malam kerumah sakit “ Sungut Myungsoo kesal disepanjang koridor rumah sakit.

Akibat makan malam yang serba enak, eommanya lupa jika harus mengontrol kolesterol, alhasil kini Myungsoo yang harus mengambil obat yang harus diminum eommanya. Jika saja dokter pribadi itu tidak ada halangan tentu saja ia yang harus datang kerumah untuk memeriksa eommanya. Sialnya penyakit eommanya kambuh disaat hyungnya sudah pulang. Menyusahkan, pikir Myungsoo.

“ Ah ketemu juga “

Myungsoo bergegas menuju ruangan yang tercantum nama dokter pribadi keluarganya disana. Myungsoo akan masuk, namun suster mengatakan jika dokter Han sedang melayani pasien, Myungsoopun diminta untuk menunggu diruang tunggu pasien.

.
.
.

Rumah Kel.Park,

“ Apa ? Rumah sakit ? “ Jaejoong terkejut ketika akhirnya harabeoji berhasil mengingat kemana Jiyeon dan Jeo Min berada.

Entah mengapa Jaejoong menjadi panik, ia yakin jika yang sakit adalah Jeo Min bukan Jiyeon. Jika Jiyeon, gadis itu pasti akan menahan sakitnya dan tidak akan memilih mendatangi rumah sakit dengan membawa serta adiknya. Ia tahu Jiyeon sangat menyayangi Jeo Min, dan akan melakukan tindakan cepat jika menyangkut adik serta kakeknya.

“ Harabeoji, aku membawa mobil, kajja ikut aku !!! “

Didalam mobil,

“ Pakai ini “ Jaejoong memasangkan sabuk pengaman untuk harabeoji, dan bersiap untuk melajukan kendaraannya secepat mungkin sebelum terlambat.

Sepanjang perjalanan segala pikiran yang mungkin akan terjadi berkelebat dikepala Jaejoong, ia tidak mau Jiyeon tahu tentang penyakit adiknya dari orang lain, dan dalam keadaan seperti sekarang ini. Semangat gadis itu sedang dalam titik terendah, ia akan sangat terpuruk jika mendengar satu lagi berita buruk dalam hidupnya. Tidak, bahkan ini adalah yang terburuk.

Setidaknya, gadis itu harus menggenggam sekeping kebahagian, agar bisa menjadi sedikit penawar kepahitan hidupnya nanti.

“ Jaga dia untukku, aku ingin kau menjaganya untukku, anak kecil itu dia tidak bersalah, karena kecerobohanku ia harus menanggungnya, kesalahanku pasti tidak akan termaafkan, maukah kau menebusnya untukku ? aku mohon “

Kalimat itu terus saja berputar ketika Jaejoong sedang merasa jika tidak menjaga amanat kekasihnya dengan baik, jika saja ia tidak datang kerumah orangtuanya atau saja pulang lebih cepat, ini pasti tidak akan terjadi.

.
.
.

Rumah Sakit Hwanghee,

Myungsoo mulai merasa jenuh menunggu terlalu lama, untuk membunuh rasa bosan, ia mengeluarkan ponselnya. Ada sesuatu yang ia anggap menarik sekarang ini yang ada diponselnya, dan benar saja baru beberapa menit melihat mainan barunya itu bibirnya sudah bersenandung.

“ Atas nama Park Jeo Min, nona Park Jeo Min “

Myungsoo tak sengaja melirik ke arah seseorang yang melangkah ke ruang laboratorium yang jaraknya hanya beberapa meter darinya. Ia sontak menegakkan tubuhnya, sementara tangannya reflek menekan tombol off, Myungsoo buru-buru memasukkan ponsel kedalam saku jaketnya ketika mengetahui siapa yang berdiri atas nama Park Jeo Min. Gadis yang menjadi musuhnya utamanya. Hari ini ia tak melihatnya dikampus, namun kini ia tersenyum sinis karena tetap bisa menemukannya ditempat lain.

“ Nona Park, hasil ini disegel karena hanya dokter yang boleh menjelaskannya pada anda, anda kembali pada dokter anda jika ingin mengetahui hasilnya “ Terang petugas laboratorium.

“ Eoh nde, terimakasih “ Ucap Jiyeon dan melihat-lihat penampakan hasil tes darah Jeo Min.

Tidak ada keterangan apapun diluar amplop selain nama si pemilik darah dan tulisan “ BERSIFAT RAHASIA “ Entah mengapa jantung Jiyeon berdetak sangat kencang, hanya memegang hasil laboratorium saja ia merasa tangannya bergetar. Ia kembali menatap lekat-lekat amplop putih dalam tangannya dan berharap tidak ada penyakit serius yang hinggap ditubuh Jeo Min adiknya.

Sementara Myungsoo terus mengamati Jiyeon yang kini berjalan kearahnya, gadis itu tak menyadari keberadaannya karena sedang memahami sesuatu yang tertulis dikertas yang ia terima.

“ Kau bisa sakit juga rupanya ? kukira orang miskin sepertimu seharusnya lebih kuat karena terbiasa susah “
Langkah Jiyeon sontak terhenti, ia hapal betul siapa pemilik suara itu. Benar saja, ketika mendongak ia melihat wajah memuakkan Kim Myungsoo. Wajahnya berubahkesal, karena pria ini, pria brengsek ini akhirnya ia kehilangan waktunya untuk menjaga Jeo Min dengan baik, Jiyeon mengepalkan tangannya kuat.

“ Aku memang gadis miskin, tapi sepertinya gadis miskin ini sudah membuat seluruh perhatianmu tercurah padaku ? “ Ucap Jiyeon sekenanya.

Mata Myungsoo melotot dan ia hampir saja tersedak liurnya sendiri “ M-wooo ? aku ? “ Tunjuk Myungsoo pada dirinya sendiri “ Memperhatikanmu ? “ Kini ia menunjuk kearah Jiyeon “ Wahhh….rupanya kau salah paham dengan kebencianku padamu “ Myungsoo membuang pandangan ke arah lain seraya berkacak pinggang, ia kembali menatap Jiyeon dengan bibir yang masih tak mampu mengeluarkan kalimat balasan.

“ Kau selalu menggangguku dan mencampuri urusanku, disekolahku dulu banyak pria semacam itu yang melakukannya padaku, dan ternyata mereka semua jatuh cinta padaku, sikapnya yang sepertimu ini hanya ingin mencari perhatianku saja, kurasa kau sama dengan mereka “ Ucap Jiyeon datar namun penuh percaya diri.

Myungsoo tak bisa berkata apa-apa, otaknya sama sekali tak bisa bekerja untuk membalas kalimat “seenak jidat “ gadis pongah yang ia anggap sebagai musuhnya, hingga akhirnya “ Kau hanya ingin mengalihkan perhatianku dari masalahmu saja kan ? tentang pekerjaanmu sebagai pengamen ? keunde…aku menunggumu masuk sekolah…..tapi bukan karena aku menyukaimu, kau lihat saja apa yang akan ku lakukan dan bisa kau lakukan disana “ Ucap Myungsoo.

Jiyeon tak ingin lagi mempedulikan Myungsoo, banyak urusan yang lebih penting yang harus dilakukan dari sekedar melayani bocah tak berguna yang menjadi lalat dalam hidupnya itu. Ia kembali bergegas kearah lift untuk menemui dokter yang menangani Jeo Min.

Sementara Myungsoo tak berani mencegahnya, ia tak mau yeoja itu semakin memiliki kepercayaan diri yang tinggi yang menebak asal maksudnya “ Sial, dia menilaiku menjijikkan seperti itu, aku tidak mungkin menyukainya. Gadis miskin dan sombong..tch “ Ucapnya kesal

.
.
.

“ Harabeoji, kau bisa tunggu disini, makan apapun yang ingin kau makan eoh ? “

“ Eoh baiklah “ Harabeoji mengangguk entah apakah ia mengerti atau tidak karena makanan sudah memenuhi tangan dan mulutnya.

Jaejoong meninggalkan harabeoji di kantin rumah sakit yang ada dihalaman depan, segera kakinya bergegas menuju receptionist.

“ Apa ada pasien atas nama Park Jeo Min ? “ Tanya Jaejoong memburu cepat seraya matanya berpendar mencari-cari siapa tahu melihat sosok Jiyeon dan Jeo Min.

“ Tidak ada, mungkin tidak kerumah sakit ini tuan “ balas receptionist ramah.

“ Kau pikir dimana lagi rumah sakit di desa ini selain ini eoh !!! “ Bentak Jaejoong yang merasa sudah dikejar waktu.

“ Maaf tuan anda harus bersikap sopan “ Protes receptionist tak terima.

Jaejoong tak peduli, ia kemudian bergegas ke laboratorium, meski Jeo Min hanya pasien rawat jalan tetap saja ia harus memeriksakan darah dan urinenya, sesampainya dilaboratorium.

“ Apa ada hasil tes atas nama Park Jeo Min ? “ Tanya Jaejoong dengan nafas tersengal.

“ Seorang gadis sudah mengambilnya tuan “

“ Siapa nama dokter yang menanganinya ? “ Buru Jaejoong.

“ Sebentar tuan akan saya cek “

Jaejoong tak sabar, ia pun segera masuk kedalam untuk melihat langsung dari komputer laboratorium. Setelah mendapatkan nama dokter tersebut, Jaejoong langsung melesat meninggalkan kernyitan aneh pada petugas laboratorium yang sedang bertugas.

.
.
.

Jiyeon menundukan wajahnya letih, kakinya melangkah lemah ketika keluar dari ruangan dokter. Ditangannya masih menggenggam sebuah amplop yang ia bawa untuk diserahkan pada dokter.

Bertepatan dengan itu Jaejoong muncul dari ujung koridor. Ia melihat Jiyeon dari ujung sana, Langkah Jiyeon yang seperti itu membuat dada Jaejoong bergemuruh, apa ia terlambat ?

Jarak keduanya semakin dekat, namun Jiyeon tak menyadari keberadaan Jaejoong. Jaejoong yang mengira telah terjadi sesuatu menyiapkan dirinya untuk mengatakan sesuatu, ia harus mengontrol dirinya dan tidak boleh membuat gadis ini semakin merasa bersedih.

“ Mengapa kau tidak memberitahuku jika terjadi sesuatu pada Jeo Min ? “ Ucapnya kemudian membuat Jiyeon menghentikan langkah dan mendongakkan wajah untuk menatap Jaejoong.

Entah mengapa melihat Jaejoong, Jiyeon merasa tenang. Pikiran kalutnya sedikit terobati dengan kehadiran dokter itu, setidaknya ia tidak sendiri, Jaejoong tak meninggalkannya, tak meninggalkan dirinya yang merasa takut akan keadaan Jeo Min.

“ Dokter gomawo….jeongmal gomawoyo “ Lirihnya meski ia tahu Jaejoong tak mendengarnya.

To Be Continued

Jangan bosen sama cerita yang sedikit romancenya ini, karena aku emang mau buat lebih ke masalah keluarga, cita-cita dan perjuangan hidup. Pasti ada sih romancenya kalo udah menuju cinta-cintaan mereka. Sudah ketebak ini JaeYeon atau MyungYeon ? Eitss jangan dulu, ini masih panjang aku sendiri belum tahu ini akan jadi couple yang mana. Dan jangan berharap ini sedih seperti RATR. Tidakkkk !!! meski kelihatannya sedikit sad, tapi aku pengen sad yang menyenangkan * maksud lohhh ?

Pssttt part depan aku protect.

Hub aku disini : gaza_sinta@yahoo.co.id atau 0813 1564 9694

Bubyeeee!!!

84 responses to “[ CHAPTER – PART 6 ] A MINUTE OF HOPE

  1. yaa ampun jiyeon kasian bgt yaa..
    perjuangannya tak ad hentinya..
    nnti myungsoo lma2 jatuh cinta bru tau rasa deh sama jiyi…
    selalu suka sama karya kamu authornim..

  2. MyungSoo menyebalkan, ntar suka sama JiYeon tau rasa kamu.. JiYeon belum tau penyakitnya Jeomin ya di chapter ini, maksudnya JaeJong apaan sih nutupin kebenaran penyakitnya JeoMin, kalau JaeJong maunya dia sendiri yang kasih tau JiYeon capat bilang dong jangan ditunda-tunda mulu, mungkin dia gak tega sama JiYeon kali ya.
    Gak bisa bayangin kalau aaku ada diposisinya JiYeon. JiYeon yang kuat..🙂
    Fighting..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s