[Ch. 9] You’re My

You're My2

You’re My

@Kethychan Present

Cast:
Kim Myungsoo||Park Jiyeon

Other cast:
Choi Minho||Jung Soojung

Genre:
Fantasy –Romance||Sadness –AU

Disclammer:
Hohoho… Kethy balik egen dengan membawa fanfic genre Fantasi yang main castnya Myungyeon egen. Mau gimana lagi kethy dah jatuh cinta dengan couple ini :V. Gk banyak cuap –cuap sihh, happy reading ajh dehh…
Plot is mine, Don’t plagiat

Mulai saat ini kita telah terhubung oleh takdir, jadi aku minta jangan pernah tinggalkan aku

“Ohh begitu~ “ Minho hanya ber ‘o’ ria setelah mendengar penjelasan panjang dari Myungsoo. Pemikiran negative yang tadi memenuhi kepalanya lenyap begitu saja. Setelah mendengar semuanya.

“Kau pasti berpikir macam –macam, bukan? Kebiasaan tidur Jiyeon yang selalu ingin ditemani itu memang sedikit merepotkan. Tapi mau bagimana lagi, jika aku tak menemaninya tidur, dia tak akan bisa tidur dan akan terus merengek. Karena kemarin aku terlalu lelah jadi aku lupa untuk kembali ke kamarku, ingat jangan berpikiran yang macam –macam lagi Min!” tegas namja bersurai pekat tersebut dengan tatapan dingin nan menusuknya.

“Arrata~ Arrata Ma Bro~” Minho kini menyeruput orange jus nya. Dalam hati, Myungsoo dapat bernafas lega karena Minho dengan mudah percaya akan ceritanya.

“Minho kau bukannya ada syuting di daerah Gwang –ju?” Myungsoo menatap penuh selidik kearah sahabatnya yang tengah asik berbicang ringan dengan Jiyeon. Pria bersurai coklat tersebut segera menatap kearah Myungsoo, senyuman miring ia kembangkan.

“Aku meminta ijin dengan manager hyung untuk menunda syuting nya. Karena aku ingin menjenguk Jiyeon, lagi pula keberadaanku pasti akan kau butuhkan. Bagaimana denganmu? Bukankah kau ada syuting iklan di perusahaan LJ. Corp?”decaknya dengan santai. Mendengar jawaban dari sahabatnya, Myungsoo mendengus kesal. Tatapan tak suka terpancar jelas diwajahnya. Sedangkan Minho terlihat acuh dengan perubahan ekspresi pria bersurai hitam pekat itu.

“Cih! Ah! Itu , aku meminta libur sehari untuk menjaga Jiyeon. Takut –takut penyakitnya kambuh lagi –“ kalimat Myungsoo terhenti manakala ponselnya berdering. Sebuah pesan masuk, segera saja Myungsoo membuka pesan masuk dari Seung Chan.

From: Seung Chan
Hyung, aku sudah menyelidikinya. Sepertinya memang benar, tapi akan ku selidiki lebih dalam lagi. Jika memang benar, akan ku beritahu tempatnya.

Heleaan nafas beratnya. Pandangan Myungsoo terfokuskan pada jendela apartementnya yang terbuka. Ia menatap kosong awan yang tengah bergerak semu diatas langit biru cerah tersebut. Diam –diam Jiyeon memperhatikan perubahan emosi yang berada diraut wajah Myungsoo. Jiyeon membaca raut wajah Myungsoo yang terlihat muram itu.

Kau masih berusaha untuk menyangkal kenyataan itu, apakah memang sulit yah, untuk menerima semua itu? Apakah aku memang tak bisa menjangkau posisi itu? –sendu Jiyeon setelah membaca keseluruhan isi kepala Myungsoo dari raut wajahnya.

“Jiyi kenapa kau terlihat muram?” tanya Minho sambil menyentuh pelan pundak gadis tersebut. Seketika saja tubuh gadis bersurai coklat tersebut tersentak saat mendengar ‘nama panggilan’ itu. Ia menatap dalam sosok yang duduk disisi nya, merasa ditatap dalam oleh Jiyeon. Minho merasa salah tingkah dibuat nya.

“Apakah aku salah berbicara? Aku tak boleh memanggil mu dengan begitu yah?” ucap pria bersurai coklat tersebut dengan canggung.

“Ah~ bukan begitu, aku menyukainya. Kau boleh memanggilku begitu. Aku sangat senang” Jiyeon menunjukkan eyes smile nya. Minho yang sejak tadi memang tengah menatap wajah gadis itu merasa tersentak dan entah mengapa ia merasakan suatu getaran yang aneh saat melihat senyuman manis tersebut.

“Hei! Hei! Singkirkan tatapan mesum mu itu Min!” decak Myungsoo yang melempar wajah pria dihadapannya dengan bantal sofa. Minho hanya mendengus sebal dibuat nya.

“Jangan asal berbicara! Itu tatapan mengagumi tahu!” dengus Minho tanpa sadarnya. Camkan itu. Ia tak sadar dengar apa yang diucapkannya barusan. Myungsoo seketika saja dibuat sweetdrop atas ucapan sahabatnya. Sedangkan Jiyeon hanya dapat menunjukkan tatapan bingungnya. Ia tak mengerti topic apa yang sedang dibahas oleh kedua sahabat karib itu.

“Kau berbicara ngelantur Min! Kau semalam minum banyak yah? Cih!” lagi dan lagi Myungsoo melempar bantal sofa tepat mengenai wajah Minho. Sontak saja pria bersurai coklat tersebut tersentak dan bangkit dari duduknya begitu saja. Tatapan horror terlihat jelas diwajahnya.

“Heehh?! Aku tadi berbicara apa Myung?!” histeris Minho yang baru kembali kealam sadarnya. Myungsoo hanya dapat mendengus melihat tingkah bodoh teman karib nya.

Jiyeon menarik ujung baju Minho, meminta untuk pria tersebut agar kembali duduk dengan tenang. Minho masih tampak gusar dan tak berani menatap wajah Jiyeon yang berada disisinya –sepertinya dia sudah sadar dengan ucapannya beberapa menit yang lalu. Dengan senyuman teduhnya Jiyeon mengusap –usap pelan pucuk kepala pria berusurai coklat itu.

“Gwenchana, jangan panik seperti itu” ucapnya lembut yang masih saja mengusap –usap lembut pucuk kepala Minho. Sepertinya Jiyeon telah menyadari kepanikkan yang mendera Minho maka dari itu ia mengusap –usap pelan pucuk kepala namja itu untuk sekedar menenangkannya. Sosok bermata tajam yang berjarak tak jauh dari keduanya. Hanya dapat menatap dingin nan tajam saat melihat jemari Jiyeon dengan bebasnya mengusap –usap pelan pucuk kepala Minho.

Myungsoo bangkit dari duduknya. Perlahan ia berjalan mendekat kearah Jiyeon, tanpa banyak kata ia menarik tangan Jiyeon yang tengah mengusap bebas pucuk kepala Minho. Gadis bermata kucing itu hanya dapat melemparkan tatapan herannya akan tingkah Myungsoo yang aneh –menurutnya.

“Kau belum sarapan’kan, cah! Kita makan” decaknya begitu saja dan membawa gadis itu pergi meninggalkan Minho yang entah mengapa menatap sebal kearah temannya.

“Cih!”

*

*

“Fuahh! Kenyangnya~” dengus gadis bermata kucing tersebut yang telah melemparkan tubuhnya diatas sofa ruang TV. Minho dan Myungsoo mengikuti gadis tersebut –menyandarkan tubuhnya karena terlalu kekenyangan. Seketika saja keadaan menjadi hening. Ketiganya kompak menengadahkan kepala mereka kearah langit –langit diatas mereka.

“Menurut kalian, melakukan pengorbanan untuk orang yang dicintai itu hal yang logis?” tanya Jiyeon yang tiba –tiba memecahkan heningan.

“Entahlah aku tak yakin, terkadang cinta itu membuat kita buta. Gelap mata. Tapi aku juga tak bisa begitu saja menyebutnya sebagai hal yang tak logis. Karena dalam cinta semua itu terasa rumit, susah untuk dijelaskan oleh nalar…” Myungsoo mengela nafasnya sejenak.

“ –Terkadang melakukan pengorbanan untuk seseorang yang dicintai tak selama dapat dimengerti oleh orang yang diperjuangkan.” lanjut Myungsoo begitu saja. Minho tersenyum penuh arti mendengar penuturan sahabatnya.

“Kau yang paling mengerti Myung~. Aku tak terlalu mengerti, tapi mungkin jika ditempatkan pada posisi harus ‘berkorban’ untuk seseorang yang berarti bagiku, mungkin berbagai cara dan tindakan yang kulakukan akan kuanggap logis” timpal Minho memberikan argumentnya.

“Myung –ie sebenarnya kita berdua itu seperti bercermin, yah?” ucap gadis bermata kucing itu begitu saja. Myungsoo terdiam. Seolah ia tengah meresapi apa maksud dari ucapan gadis disampingnya. Tak berapa lama kemudian, tubuh pria bersurai hitam pekat tersebut menegang, ia merasa seperti tertampar oleh ucapannya sendiri. Namja itu seketika menatap dengan rasa bersalah kearah Jiyeon. Gadis bermata kucing itu hanya membalas tatapan tersebut dengan senyuman tipisnya.

“Iya, begitulah. Aku mengerti sekarang” ucapnya lemah. Myungsoo merasakan ponselnya bergetar disaku celananya. Segera saja diraih ponselnya tersebut. –pesan masuk dari Seung Chan. Dengan cepat dibukanya pesan tersebut.

“Hei! Apa yang sedang –“ kalimat Minho terhenti saat ia memperhatikan Myungsoo tengah menatap nanar kearah ponselnya. Setelah dapat menguasai emosi dalam dirinya, namja itu menatap Minho dengan tatapan kosongnya.

“Minho bisa kau jaga Jiyeon sebentar, ada hal yang harus kuurus,” | “Tentu saja, serahkan padaku!” Myungsoo berlalu begitu saja dari kedua sosok tersebut, tanpa menatap sedikitpun kearah Jiyeon. Merasa seperti ada hal buruk yang terjadi, Jiyeon menyusul Myungsoo yang kini sudah berada didepan pintu. Suara lemah Jiyeon seketika saja mengintrupsi namja itu untuk mengehentikan langkahnya.

“Apa terjadi sesuatu yang buruk?” cicitnya pelan. Di tatapnya punggung pria bersurai hitam pekat tersebut penuh kekhawatiran.

“Aku akan keluar sedikit lebih lama, jadi bisakah kau gunakan kekuatan mu untuk menahan rasa sakit itu. Aku tak ingin Minho curiga” Myungsoo masih bergeming ditempatnya, seolah menunggu jawaban dari gadis tersebut. Helaan nafas berat meluncur begitu saja mulut Jiyeon.

“Baiklah,” setelah itu tubuh Myungsoo telah menghilang dari jarak pandang Jiyeon. Gadis bersurai coklat itu hanya dapat menghela nafasnya berat.
Kau tadi bilang sudah mengerti, apanya yang sudah mengerti. Cih! Rutuk Jiyeon sebal.

*

*

“Aku sudah menyadap ruangannya, sebentar lagi pengantar pizza akan datang. Kau mengerti maksudku’kan hyung?” ujar Seung Chan begitu saja sosok Myungsoo yang tengah berdiri tak jauh darinya. Kini keduanya telah berada didepan gedung apartement Soojung dengan ‘pria itu’. Tampak sekilas guratan kegelisahan diwajahnya, ia masih belum bisa mengontrol dirinya yang begitu takut menerima kenyataan yang akan menghampirinya sebentar lagi.

Saat keduanya mendapati si pengantar pizza telah tiba segera saja Myungsoo menahan pengantar pizza tersebut sebelum memasuki gedung apartement tersebut. Myungsoo tampak membicarakan sesuatu pada pengantar pizza tersebut, tak lama kemudian pengantar pizza tersebut memberikan jaket dan topi tugasnya serta pizza pesanannya.

Setelah itu, Myungsoo mengeluarkan beberapa ratus won untuk diberikan kepada pengantar pizza tersebut. Setelah pengantar pizza itu pergi segera saja ia memasuki gedung apartement tersebut dan mengingat ruangan kamar yang di beritahukan oleh Seung Chan.

Ting Nong Ting Nong (Mimin kga tau gmna bunyi belnya, harap maklum yeth -_-v)
Pria bersurai pekat tersebut mendengar suara langkah kaki yang kian mendekat. Dengan tarikkan nafas dalam dilakukannya, setelah itu dihembuskan nya dengan berat. Pintu pun terbuka, menampakkan sosok yang begitu dikenalnya. Sosok pria yang sama, pria yang dulu merusak hubungannya dengan gadis –nya dulu. Pria bersurai pekat tersebut berusaha dengan keras menahan emosi yang membuncah pada dirinya agar tak segera memberikan bogem mentah pada sosok yang berada dihadapannya.

“Ini pizza pesanan tuan, selamat menikmati” ujarnya dengan datar. “ Terima kasih, ini bayarannya.” Sambil menyodorkan beberapa puluh ribu won. | “Chagi siapa yang bertamu?” suara sosok yeoja itu kini semakin mendekat dengan pintu utama. Myungsoo meremas kuat uang yang baru saja diterimanya. Saat gadis bersurai blonde itu telah berada disisi namja berkulit kecoklatan itu dengan manjanya. Myungsoo sudah tak tahan lebih lama lagi untuk berakting dalam scenario yang telah disusunnya. Dengan gerakan cepat dilepasnya topi yang menutipi setengah wajahnya. Tatapan dingin nan menusuk ia tunjukkan pada pasangan tersebut.

Gadis bersurai blonde tersebut sangat terkejut dengan kehadiran sosok yang berada dihadapannya. Saat ia akan menyuarakan suaranya, dengan cepat namja bersurai pekat itu menghentikannya. “Kukuku~Aku nyaris saja ‘lagi’ jatuh keperangkapmu, Jung Soojung –shi” dengan nada sarkastik Myungsoo ucapkan. Dan ia sengaja menekankan kata ‘lagi’ agar gadis itu tersindir.

“Sepertinya kalian semakin dekat saja, aku tunggu undangan pernikahan kalian, yah. Permisi!” Myungsoo sama sekali tak membiarkan keduanya berkilah sedikitpun. Setidaknya sekarang ia sudah mendapatkan bukti yang kuat untuk menghapuskan keraguannya. Dengan emosi yang tengah membuncah, Myungsoo dengan kasar membanting pintu van nya.

“Antar aku pulang!” serunya dingin.

*

*

Dengan langkah gontai Myungsoo memasuki apartementnya. Di dapatinya Jiyeon dan Minho tengah serius menyaksikan drama yang diperankan oleh Minho. Keduanya sama sekali tak menyadari kehadiran pria tersebut. Hingga suara datar nan dingin mengintrupsi keduanya.

“Min, terima kasih sudah menjaga Jiyeon. Sebaiknya kau pulang dan beristirahat, bukankah besok kau harus melanjutkan syuting mu yang kau tunda” melihat aura muram dari raut wajah Myungsoo, tanpa banyak kata lagi pria bersurai coklat itu segera bangkit dari tempatnya. Perlahan ia berjalan meninggalkan ruang tengah, saat ia berpapasan dengan sosok berwajah muram tersebut, tepukan pelan ia berikan pada bahu namja itu.

“Sesuatu yang buruk telah terjadi, bukan? Ingat jangan lakukan hal yang bodoh lagi, ingat itu” setelah itu, Minho memutuskan meninggalkan apartement Myungsoo.

Kini keheningan tengah menguasai ruangan tersebut. Saat ini Jiyeon telah berdiri tepat dihadapan Myungsoo. Jiyeon sudah menyadari apa yang tengah terjadi pada namja tersebut, semua sudah terbaca dengan jelas dari raut wajah namja itu.

“Keraguan mu selama ini sudah terhapuskan, bukan?” parau Jiyeon dengan tatapan sendunya. Ia tahu Myungsoo sangat hancur dan terluka saat ini. Dengan gerakkan cepat Jiyeon merengkuh tubuh jangkung itu. Namja itu sama sekali tak menolak dekapan Jiyeon, ia bahkan menenggelamkan kepalanya di selah leher gadis bersurai coklat tersebut.

“Ini tak adil, rasanya sangat menyakitkan…” parau Myungsoo yang kian mempererat dekapan Jiyeon. Gadis bermata kucing itu hanya dapat menepuk –nepuk pelan dan sesekali mengucapkan mantra –mantra penenangnya.

“Luapkan semuanya, itu akan membuatmu lebih baik, Myung –ie”

“Aku mencintainya, aku memberikannya kesempatan untuk kesekian kalinya, tapi kenapa dia malah memanfaatkan ku?” monolog Myungsoo dengan nada suara yang penuh rasa terluka.

Melihat Myungsoo yang begitu terpuruk dan terluka, Jiyeon mengendurkan dekapannya. Di tatapnya teduh namja tersebut. Senyuman tipis terlukis diwajahnya. Ia tak tahan melihat namja yang dicintainya terluka seperti ini.

“Myung –ie kau ingin mengungkapkan semua perasaan yang kau pendam pada Soojung –shi, bukan? Bagaimana jika aku membawa bayangannya kesini, sama seperti waktu itu, kau mau?” dengan senyuman yang diusahakan semanis mungkin ia kembangkan pada sosok namja dihadapannya. Sebenarnya jauh dilubuk hatinya yang paling dalam, Jiyeon sangat tak menginginkan melakukan hal ini, akan tetapi melihat kondisi Myungsoo yang seperti saat ini membuat Jiyeon tak kuasa. Kelemahan Jiyeon selain berjauhan dari

Myungsoo adalah ia lemah saat melihat Myungsoo terluka. Jiyeon terlalu mencintai Myungsoo dan ia tak menginginkan apapun selain Myungsoo. Hal ini baru disadari oleh Jiyeon.

“Tolong lakukan, aku mohon~” lirihnya lemah. Dengan tatapan yang penuh terluka.

“au nom du dieu du ciel, me permettre de satisfaire ses désirs, faire!”

To Be Continue…

*Cuap2 Auhtor*
Hollaaa yeoreobeun~ #Lambai2_tangan_bareng_bangMyung
Gimana dengan chap ini? Udahh cukup panjang belum? Oh yah, sekedar info ajah efef ini bakal berakhir di Ch.10 lohh😀 dan mungkin berakhir dengan mengejutkan, tapi kga yakin sih -_-v #huhuhu_nangisktjerr
Gimana menurut kalian dengan epep chap ini?
Dan keliatannya bang Myung cemburu bnget sama kedekatan MinYeon kekekke~ #Evillaught
Ditunggu RCL nya yahh reader’s, semoga kalian puas dan suka. Mohon maaf jika ada kekurangan atau apapun itu. Terima kasih juga untuk para reader’s setia pembaca epep ini, mian kga bisa nyebutin satu2 -_-v
Tapi mkasih bnget lohh atas partisipasi kalian yang bisa buat mimin jadi semngat
Ditunggu di Ending chap yahh~
Annyeong

67 responses to “[Ch. 9] You’re My

  1. Myung pinter cari alasan nya kkkk,,,tapi ah myung kenapa kau masih ngeyel juga ma sojung.padahal dah jelas” dia itu ga suka ma kamu ,, kasihan jiyeon ,semoga myung bisa lihat ketulusan jiyeon ,sebelum myung menyesal kehilangan jiyeon ..

  2. huahhhh… masih penasaran akut thor T T aku suka pke banget tapi malah besok end apa boleh buat😥
    semoga dibuat seriesnya😀 *ngarep bilrh dong thor kkkk…
    Jiyeon kau benar2 daebak sudah tahu terluka tapi tak pernah hoyah untuk selalu nenatap myungsoo sebagai pria yang kau cintai

  3. Waht??? Chapter bsok uda end:'( aiiiihhhh kok msih belum puas yaaaaa … Uhhhhh chap ini pun msih kurang pnjangg😦 panjangi lgi donggg kethy😦 hheheheh, dtnggu ajadeh next chap nyaaa … Jjjjjjaaannnnggggggg kethy , keep writing keep smile

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s