[CHAPTER-4] 18 Years Old.

18-years-old_2

poster credit by missfishyjazz@artfantasy

Author : MJS.

Title : 18 Years Old.

Main cast : T-Ara’s Jiyeon – INFINITE’s Myungsoo – Red Velvet’s Irene.

Other cast : more than 12~

Genre : school-life, friendship, romance, sad.

Lenght : Chaptered.

Rating : T.

.

.

Previous

“Aku mengingat janjimu yang pasti akan datang. Aku mengingat kau mengatakan padaku bahwa apapun yang terjadi, harus melakukan yang terbaik.”

“Gomawo Jiyeon-ah.” Jiyeon tersenyum mengiyakan.

Satu hari ini, Ia begitu mengalami banyak hal yang membuatnya terganggu. Tapi Jiyeon rasa, maaf dari Myungsoo dapat membuatnya tenang kembali.

.

Irene Pov

Aku melihat semuanya kemarin. Park Jiyeon. Sepertinya Ia belum menyerah. Ia masih ingin bermain-main denganku. Kim Myungsoo, namja itu takkan kulepaskan dan membiarkannya dekat dengan Jiyeon.

Aku menghela nafasku kasar, harus berapa banyak lagi teman Jiyeon yang harus kupengaruhi agar yeoja itu merasakan yang kurasakan. Bagaimana rasanya dijauh dan difitnah.

Aku memasukkan tanganku kedalam saku seragam dan tersadar ada yang terjatuh, namun tak kuhiraukan mengingat tadi aku sempat memasukkan tisu dalam saku seragamku.

Aku melangkah cukup cepat dan mendapati Myungsoo dengan Mark tengah tertawa kecil. Dengan sigap aku langsung menghampiri mereka. Belum sempat aku menghampiri mereka, kulihat Soojung lebih dulu menghampiri Mark dan merangkulnya.

“Mark, eomma kemarin membuat cupcake.” ujarnya tersenyum malu dan memberikan sekotak cupcake. Myungsoo langsung mengintipnya.

“Kau bisa membaginya pada yang lain.” Soojung pun berjalan pergi meninggalkan Mark yang masih heran dengan perilaku Soojung.

Aku tiba-tiba saja tersenyum sinis, kurasa aku sudah tahu siapa yang perlu kupengaruhi untuk membantuku.

Aku langsung menghampiri keduanya dan tersenyum, “Woaa! Ini dari siapa?” tanyaku menatap cupcake itu.

“Soojung yang memberinya.” balas Myungsoo. Heran dengan Mark yang hanya diam saja, aku pun menatapnya. Ohh, tatapannya terlihat tajam. Ya, pasti Ia sudah menyadari kelakuanku.

“Myungsoo-ya,”

“bagaimana kalau hari ini kita pergi nonton?” Mark masih menatapku tajam,berbeda dengan Myungsoo yang tersenyum canggung.

“Mian, hari ini aku pergi dengan mereka.” Aku hanya menganggukkan kepala kesal. Kalau seperti ini yang ada Jiyeon dan Myungsoo semakin dekat. Aku masih terdiam berdiri didepannya.

“Boleh aku ikut?” Keduanya terdiam tak percaya.

“Tidak.” Mark menjawab pertanyaanku tegas. Aku sempat terkejut dengan suara berat dan tegasnya. 

“Begitu ya, baiklah.” Baru aku berbalik, Jiyeon kini datang dan menahan tanganku. Ia tersenyum -mungkin juga ingin terlihat baik didepanku- sambil mengatakan, “Tentu saja kau boleh ikut.”

Aku menepis genggamannya dan menatapnya tersenyum juga, “Terimakasih. Jam berapa aku harus sampai?”

“Sejam setelah pulang sekolah di cafe seberang.” jawab Soojung. Kini aku tersenyum menatap Eunji yang hanya terdiam. Yeoja itu menatapku yang tersenyum kemudian pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun.

“Jangan mengganggunya ketika sedang kesal. Bahkan seisi sekolah takkan ada yang berani mengganggunya ketika marah.” sahut Soojung tersenyum tipis, “dan kami sudah terbiasa dengan itu.” lanjutnya.

Aku menatap Mark yang tengah menghela nafas kemudian menyusulnya sembari berjalan santai tanpa mengatakan apapun.

-•-

Aku membuka pintu cafe tersebut dan menatap Myungsoo yang memakai kaos biru dengan celana panjang putih, berbeda dengan Mark yang terlihat lebih menawan dengan kemeja hitam berlengan panjang dan celana panjang berwarna dark blue.

Kini aku menatap ketiga yeoja didepan namja-namja itu. Soojung memakai dress putih dengan bunga-bunga disekeliling pakaiannya, berbeda denganku yang memilih memakai celana pendek. Aku menatap Eunji yang memakai croptee berwarna putih yang tak begitu pendek dengan celana pendek hitam. Berbeda dengan Jiyeon yang memakai sweeter putih dan rok kotak-kotak merah hitam.

“Hei! Apa yang kau lakukan?” seru Soojung yang mungkin sedaritadi menatapku yang terdiam.

“Ani.” jawabku tersenyum. Aku segera menghampiri mereka dan duduk disamping Myungsoo.

“Kita akan kemana?” Soojung hanya mengangkat bahunya, “Dua namja rakus ini sudah memesan minuman dan menyuruhku membayarnya.” dengusnya kesal.

Tanpa sadar aku tertawa. Entah kenapa, tiba-tiba saja rasanya aku iri. Aku.. aku ingin bergabung dengan mereka. Aku ingin merasakan kebahagiaan yang juga mereka rasakan.

“Sehabis ini kita lebih baik ke mall, lalu ke Namsan Tower-“

“Ya ya. Lakukanlah sendiri. Kami para namja juga harus menemani kalian ke mall? Gila.” jawab Myungsoo malas. Aku hanya tersenyum menatapnya.

“Lagipula kita akan libur musim panas, tak masalah bagiku jika harus pulang malam atau bahkan menginap.” sahut Jiyeon mengerucutkan bibirnya menatap Myungsoo kesal.

Sontak kulihat Eunji langsung tersenyum semangat, “Bagaimana dengan berlibur ke Jeju? Appaku pemilik salah satu hotel disana.” 

Keempatnya menatap Eunji semangat, “Jeongmal?” Eunji mengangguk, “Kaalu kalian memang ingin berlibur kesana, aku bisa mengatakannya pada appa.” lanjutnya.

“Geurae. Kita akan memikirkannya. Bagaimana kalau sekarang kita pergi?” tanya Jiyeon semangat. Aku menatapnya tak suka dengan sikapnya yang kuanggap berlebihan. Terutama saat Myungsoo menaruh lengannya pada bahu Jiyeon. Sungguh.

Aku membencinya.

Sangat membencinya.

-•-

Aku mendekati Soojung yang berjalan sendirian paling depan begitu mengetahui Eunji pun berjalan dengan Mark.

“Pasti kau lelah, ya? Seolah selalu ditinggal sendiri,” ujarku. Soojung menatapku sambil tersenyum ragu.

“Tidak juga–ah, memang terkadang..” jawabnya pelan. Ckck, kenapa kau harus bersikap ragu padaku dengan apa yang sudah kau lakukan pada sahabatmu sendiri.

Menusuknya dari belakang.

“Aku butuh sekali teman untuk bercerita–“

“–bisakah aku bercerita denganmu?” tanyaku tersenyum. Ia pun balas mengangguk dan tersenyum. Aku menghela nafas kemudian mengatakan lagi, “Kau tak marah denganku? Bagaimanapun kau tahu kalau aku telah mengurung Jiy-“

“Jiyeon sudah tak marah lagi padamu. Untuk apa aku harus marah padamu.” Aku tersenyum miris. Memang benar. Jiyeon memang sudah tak marah karena audisi itu. Tapi Jiyeon masih membencinya karena kejadian waktu itu. Dan aku sangat tahu, sifat Jiyeon sedaritadi padaku hanyalah kebohongan belaka.

“Jeongmal? Ah, gomawo..”

“Keunde–“

“–aku ingin bertanya–“

“Hey! Kalian mau kemana? Mall nya disini.” seru Eunji yang tepat berada dibelakangku. Aku hanya tersenyum kemudian menarik Soojung mengikuti mereka. Diam-diam, aku menghela nafas lega mengetahui Soojung tak sempat bertanya yang tidak-tidak.

 

“Kau kenapa? Biasanya kau yang paling hafal letak mall,” ujar Jiyeon tersenyum geli pada Soojung. Kulihat Soojung hanya tersenyum, “Kami terlalu asik mengobrol.”

Kini diam-diam Jiyeon menatapku tajam. Haha. Sepertinya aku tahu kelemahannya. Ia pasti berpikir kalau aku akan mempengaruhi Soojung supaya mengkhianatinya.

Sekalipun itu memang rencanaku.

-•-

Author Pov

Baru hari pertama memasukki libur musim panas tak membuat Jiyeon malah merasa senang. Mungkin Ia memang akan bermalas-malasan dalam rumah, tapi tidakkah ini membosankan?

 

Nada dering ponsel milik Jiyeon pun berbunyi membuat yeoja itu segera bangun dari sofa empuknya dan mengambil ponselnya yang terletak pada meja kecil.

“Myungsoo?”

“Hmm. Ya! Apa yang kau lakukan sekarang?”

“Apa lagi? Sungguh membosankan,” 

“Aku punya dua tiket, bagaimana kalau kita pergi?”

“Jinjja? Gomawo, Myungsoo-ya! Aku akan bersiap-siap.”

“Ckck, arraseo. Aku akan menjemputmu.”

Begitu sambungannya tertutup, Jiyeon segera berlari menuju kamarnya dan berganti pakaian.

Tak lama, suara bel dari pintu rumah Jiyeon pun berbunyi. Dengan cepat yeoja itu langsung membuka pintu dan tersenyum pada Myungsoo.

“Kajja!” sahutnya semangat. Myungsoo tersenyum dan mencubit hidung mancung Jiyeon, “Kau memang sudah bosan daritadi, huh?”

“Tentu! Eomma dan appa tetap sibuk.”

“Geurae. Kita pergi sekarang?”

-•-

“Myungsoo-ya! Bagaimana dengan tawaran Eunji?” tanya Jiyeon begitu keduanya memilih untuk makan siang setelah menonton.

Myungsoo hanya mengangkat bahunya tak tahu sambil memisahkan beberapa timun dari dalam kimbap.

“Hei! Kau pemilih sekali,” dengus Jiyeon melihat Myungsoo memisahkan tiap mentimun dalam setiap potongannya.

“Kau jelas-jelas tahu kalau aku tak bisa makan timun.” jawabnya terkekeh.

“Kurasa aku hanya akan memakan timunnya.” balas Jiyeon malas sambil mulai mengambil beberapa timun yang sudah dipisahkan Myungsoo ditepi piring Jiyeon.

“Aku tak menyuruhmu memakannya. Aku hanya tak suka melihatnya.” Jiyeon menatap Myungsoo kesal. Namja ini selalu saja membalas perkataannya.

“Jadi bagaimana? Kau akan ikut ke Jeju?”

“Kalau kau ikut, tentu aku diharuskan ikut.” Jiyeon tersenyum menatap Myungsoo. Myungsoo memang seolah-olah harus selalu bersamanya mengetahui bagaimana Myungsoo sudah selalu melindunginya sejak kecil.

“Aku akan menanyakan pada Eunji.” Jiyeon segera mengambil ponselnya dan menghubungi Eunji.

 

“Wae?” tanyanya langsung membuat Jiyeon tersentak.

“Ani, bagaimana dengan tawaranmu ke Jeju?”

“Aku yakin kau menyetujuinya jadi aku tak menghubungimu. Kuyakin juga Myungsoo hanya ikut denganmu saja.” jawabnya santai sambil terkekeh. Jiyeon terdiam sejenak.

Ia menggelengkan kepalanya tak percaya. Apa Eunji belajar dari Mark tentang bagaimana mengetahui jawaban orang lain?

“Bagaimana dengan yang lain?”

“Kau tahu jawabannya. Bahkan Irene yang menghubungiku pertama kali.” jawabnya. Jiyeon kembali terdiam dan baru menyadarinya.

Irene juga ikut dengan mereka.

“Arraseo. Kapan kita akan pergi?”

“3 hari lagi. Kita akan kumpul dibandara langsung. Appa sudah memesan tiket untuk kalian.”

“Jeongmal? Gomawo Eunji-ya. Katakan itu untuk appamu juga. Ia terlalu baik.” Eunji hanya terkekeh dan mengiyakannya.

Begitu sambungannya tertutup, Jiyeon segera memberitahu Myungsoo. “Appa Eunji sudah memesan tiket untuk kita. 3 hari lagi kita langsung ke bandara.” 

Myungsoo membulatkan matanya kaget, “Dia membayarkannya?” Jiyeon mengangguk dan tersenyum.

“Jung ahjussi memang sangat baik dari dulu. Apalagi semenjak 8 tahun lalu, Jung ahjussi makin memperhatikan Eunji. Ia sungguh tak akan mau lagi kehilangan sosok yang dicintainya.” 

Myungsoo menyerngit heran kemudian bertanya, “Apa yang terjadi 8 tahun lalu?” Jiyeon terbelalak. Apa Myungsoo belum mengetahuinya? 

“Mark tak memberitahumu?”

“Namja itu terlalu malas bicara.” Jiyeon mengangguk pelan. Ia kira selama ini Myungsoo selalu menganggap Eunji adiknya karena Ia sudah tahu tentang hal itu dan berniat melindungi Eunji.

“Jadi begini,” Jiyeon menarik nafasnya dalam kemudian mengeluarkannya perlahan. Myungsoo harus tahu tentang hal ini, bagaimanapun mereka adalah teman.

“Aku tak tahu bagaimana kejadian sebenarnya, tetapi–“

“–Eunji mengatakan kalau eommanya meninggalkan keluarganya demi pria lain–“

“–Eunji sudah tahu tentang hal itu sebelum eommanya memberikan surat cerai pada appanya, hanya saja–“

“–yeoja itu terlalu marah dengan ibunya sendiri. Dan-aku tak tahu lagi apa yang terjadi dengan mereka. Eunji hanya mengatakan kalau Ia membenci eommanya.”

“Mwo? Dibalik sifat cerianya-“

“-ya, memang. Kau ingat waktu Eunji menatap Irene tajam kemudian meninggalkan kita begitu saja?” Myungsoo mengangguk perlahan.

“Itu karena–“

“–Ia mengetahui eommanya akan menikah lagi dengan prianya yang berbeda.” Myungsoo menghela nafas. Padahal akhir-akhir ini Ia cukup sering berbincang dengan Eunji. Bahkan dulu pun Eunji tak pernah memberitahunya.

“Apa eommanya menelepon?” Jiyeon menggeleng, “Kau kenal aktris Ahn Min Young?”

Mata Myungsoo melebar, “Jangan katakan kalau–“

“–itu eomma Eunji?” Jiyeon memang tak menjawab, tapi Ia memberi anggukan kepala sebagai jawabannya.

-•-

Jiyeon membuka bagasi mobil eommanya dan mengambil seluruh perlengkapannya. Begitu selesai, eommanya memeluknya kemudian meninggalkannya.

Jiyeon tersenyum sambil melambai kearah mobil eommanya. Ketika mobil itu sudah tak terlihat, Jiyeon segera check in dan menuju ruang tunggu sembari mencari teman-temannya.

Jiyeon mengadah ke sebelah kanannya dan melihat Eunji berada dalam coffee bay sambil memegang tiga cup coffee. Jiyeon pun langsung masuk dalam coffee bay.

“Oh, Jiyeon-ah! Kebetulan, kau mau kupesankan?” Jiyeon hanya menggeleng dan menunjukkan Ice Honey Grapefruit yang tengan dipegangnya.

“Untuk siapa saja?”

“Aku, Soojung, dan Irene.” Jiyeon hanya terkekeh kemudian berjalan keluar dengan Eunji dan menyusul mereka.

“Gomawo! Kau mendapat botol dari coffee bay?” Eunji mengangguk.

“Sepertinya 20 menit lagi,” sahut Soojung menengok jam tangannya dan tanpa sadar tasnya pun ikut terjatuh. Mark yang berada didepannya langsung mengambilkan tanpa menatap Soojung.

Diam-diam Irene tersenyum menatap Soojung yang menghela nafas melihat sikap Mark yang seolah menghindarinya.

“Bagaimana dengan tempat duduknya?” tanya Irene sedikit berteriak karena suara begitu berisik.

“Kau dengan Soojung dan Mark. Sisanya kami bersama.” jawab Eunji sembari memberikan tiket tersebut. Irene hanya tersenyum puas, mungkin Ia tidak dapat duduk bersama Myungsoo.

Tapi-

Ia dapat membuat Soojung semakin dekat dengan Mark. Ia menatap Mark yang terlihat ragu begitu Eunji mengatakan hal tersebut.

-•-

Mark memilih duduk disamping jendela (?) pesawat dan mengadahkan wajahnya kearah luar dibandingkan dipenuhi suasana canggung. Bahkan Ia mengakui jauh lebih baik duduk dengan Jiyeon.

Selain Eunji, Jiyeon pun dapat membuat Mark nyaman. Yeoja itu sangat natural dan agak cuek dengan hal lain. Itu yang membuatnya mudah berkomunikasi dengan Jiyeon.

“Soojung-ya, kau duduk ditengah ya.” Soojung hanya mengangguk kaku kemudian duduk disamping Mark dan Irene. 

Tak lama, seorang pramugari datang dan menegur mereka, “Pesawatnya akan segera lepas landas. Tolong matikan ponsel Anda.” Keduanya tersenyum dan mengangguk. Kemudian Soojung menatap Mark yang tengah mendengar melalui headphone.

Ia pun menepuk pelan bahu Mark sehingga membuat namja itu menoleh, “Kau disuruh mematikan ponselmu.” Mark hanya mengangguk tanpa bicara dan melepaskan headphonenya.

Irene tersenyum puas dan menatap mereka, “Eunji bisa cemburu kalau melihat kalian berdua.” balasnya. Mark menatapnya tajam kemudian membalas, “Jangan terlalu senang ikut campur.” jawabnya dingin.

Irene mengedikkan bahunya tak peduli. Soojung hanya menunduk mendengar gaya bicara Mark. Sepertinya namja itu sungguh tak senang sekarang dengannya.. atau dengan Irene?

Soojung memilih memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya perlahan. Pembicaraan dengan Irene waktu itu membuatnya berpikir ulang dan mengangguk yakin.

 

FLASHBACK ON.

Soojung menatap Irene takut begitu Irene mengatakan apa tujuannya mendekati Mark. Irene sudah mengetahui segalanya.

“Aku tahu kau muak dengan semuanya. Aku pun muak dengan mereka semua. Tapi kau tak bisa melakukan apapun kan?” 

“Itu karena kau menganggap mereka sahabatmu.” Soojung tersenyum dan mengangguk. Irene hanya tersenyum sinis.

“Tapi apa kau pikir mereka menganggapmu begitu? Apa kau percaya terus terusan saat mereka mengatakan kalau mereka sahabatmu?”

“Aku bahkan muak mendengarnya.”

“Mereka tak seperti itu. Mereka benar-benar sahabatku. Itu yang membuatku masih tak yakin untuk mendekati Mark.” jawab Soojung tegas.

“Bagaimana kalau kau hanya dianggap teman biasa? Bisa jadi kan. Kapan kau merasa dipuaskan dengan mereka?” Soojung terdiam. Irene benar, selalu Soojung yang selalu dirugikan. Mereka seolah-olah tak melihat Soojung disisi mereka.

Tiba-tiba saja amarah Soojung memuncak, dengan dingin Ia mengatakan, “Aku membenci mereka.” Irene tersenyum. Tepat sekali. Ini memang yang diharapkannya. Menyingkirkan teman Jiyeon satu persatu.

“Maka mulai sekarang beradalah dipihakku. Kita sama, kita orang yang terbuang–tidak. Mereka yang membuang kita begitu saja.”

“Maka kau juga harus tanpa ragu mendapatkan Mark kalau kau menyukainya.” Soojung mengangguk yakin. Apapun yang terjadi, Ia akan memiliki Mark.

Soojung hanya tak sadar kalau dirinya hanya dimanfaatkan Irene. Irene hanya sedang membutuhkannya sekarang. Begitu semua masalahnya selesai, Soojung akan merasa kesepian.

FLASHBACK OFF.

-•-

“Hey! Kau tak cemburu? Soojung dengan Mark~” goda Myungsoo sembari menatap Eunji jahil. Eunji hanya tertawa kecil.

Tak ada yang menyadari kalau Eunji sempat bergumam tak jelas sambil tersenyum tipis.

“Berhenti, bodoh! Kalau Ia marah kau bisa mati.” balas Jiyeon. Myungsoo berpura-pura terkejut kemudian melanjutkan, “Mana mungkin Ia bisa membunuh namja tampan sepertiku.”

“Aku akan sangat antusias jika tiba-tiba saja bentuk wajahmu tak lagi proporsional.” jawab Jiyeon cuek. Memang sewaktu Myungsoo masuk dalam sekolah menengah pertama kali, ketampanannya sudah banyak diakui karena bentuk wajahnya yang terlihat sempurna.

“Aku akan menunggunya. Wajahku memang sudah terlalu sempurna.” 

Jiyeon memandang Myungsoo tak percaya, sepercaya itukah dirinya? Dengan cepat Jiyeon membalas, “Aku tak sabar untuk mencobanya dengan tendangan taekwondo-ku.”

Myungsoo memandang Jiyeon sambil tersenyum terpaksa kemudian menggelengkan kepalanya, “Tak usah repot-repot.”

Tiba-tiba Jiyeon merasakan kepala Eunji bersandar pada bahunya. Rupanya sedaritadi yeoja itu tertidur ketika mereka bercengkrama. Pantas Ia tak bersuara sama sekali. Biasanya bahkan Mark bisa menoleh kebelakang bila mendengar suara Eunji.

“Apa aku boleh bersandar padamu juga?” tanya Myungsoo polos namun itu membuat wajah Jiyeon merona. Dengan cepat Ia membalas, “B-bodoh! Kau kira aku eommamu?”

Dengan cepat Jiyeon memalingkan wajahnya dan menatap Eunji yang tertidur. Sekalipun Myungsoo hanya bercanda, hatinya berdegup kencang.

Ditengah mereka berbincang kembali, Mark datang menuju arah tempat mereka, atau mungkin ingin ketoilet. Sejenak Ia menatap Eunji yang tengah tertidur.

Jiyeon menatap Mark seolah mengatakan ‘Kekasihmu lucu kan saat tidur?’ Sementara Mark hanya tersenyum dan mengangguk kemudian menuju ke toilet dibelakang.

“Aku jamin mereka akan terus bertahan sampai mereka menikah. Daebak!” seru Jiyeon menatap Myungsoo.

Myungsoo mengangguk sambil membalas, “Aku heran kenapa Mark bisa menyukai yeoja urak-urakkan itu.” Jiyeon hanya tertawa kemudian kembali menatap Eunji yang masih tidur.

Pipinya yang masih chubby membuat terlihat seperti anak kecil ketika tidur. Apalagi ditambah tingkah kekanakkannya terkadang yang begitu menggemaskan.

-•-

“Kita menginap dimana?”

“Resort Art Villas.” jawab Eunji sembari menarik satu koper miliknya. Ia menoleh kebelakang dan mendapati Krystal terlihat kesulitan dengan dua koper besar yang dimilikinya.

“Soojung-ah, neo gwenchana?” tanya Eunji sambil menatap Soojung yang tersenyum.

“Daebak. Kukira Ia diusir dari rumah.” jawab Myungsoo membuat yang lainnya tertawa. Jiyeon menyerngit heran, “Apa yang kau bawa?”

“Hanya pakaian dan alat make up.” jawabnya sambil tersenyum. Irene hanya menatap Soojung tak percaya, ‘Bahkan kau terlihat lebih muna.’

“Hey, salah satu namja bantu Soojung.” usul Irene yang langsung disertai tatapan malas dari Mark dan Myungsoo. Mau tak mau, selalu Mark yang dijadikan sasaran.

Kemudian keempatnya berjalan lebih dulu meninggalkan Mark yang membawa koper miliknya juga milik Soojung juga Eunji yang disampingnya.

“Susah ya?” tanya Eunji ragu. Mark menatap Eunji datar kemudian membalas, “Mau membawa berdua?”

“Shireo.” jawabnya cuek. 

“Kalau begitu tak usah bertanya.” Eunji mendesis pada Mark kemudian tersenyum.

“Lagipula aku sudah membawa satu tas lagi.” Mark melirik Eunji malas, “Apa yang kau bawa? Kita hanya sekitar seminggu disana.”

“Keperluan yeoja itu lebih banyak daripada namja.” 

“Aku penasaran.” Sontak Eunji langsung memukul kepala Mark yang mulai berpikir aneh-aneh. Mark hanya tertawa kecil melihat tingkah Eunji.

-•-

“Oh, gomawo Mark.” sahut Soojung tersenyum begitu melihat Mark berjalan kearah kamarnya dengan Irene. Memang tadi mereka sempat menentukan pembagian kamar karena appa Eunji hanya memesan tiga buah kamar.

Melihat Eunji dan Jiyeon yang tak bisa cocok dengan Irene, maka Soojung mengalah dan memilih satu ruangan dengan Irene.

Soojung pun mengambil kopernya yang dipegangnya Mark begitu namja itu sampai didepan pintunya. Ia menyahut, “Aku pergi.” Soojung hanya menatap kepergian Mark sambil menghela nafas.

Sepertinya perjuangannya akan semakin sulit.

 

-EunYeon room-

Mark membuka pintu tanpa mengetuknya kemudian menatap Eunji yang baru saja hendak mengeluarkan barang-barangnya.

“Jiyeon kemana?” tanya Mark sembari menutup pintunya. Ia tahu kebiasaan Eunji yang tak suka jika pintu kamarnya-dimanapun- selalu terbuka. Katanya itu mengganggunya.

“Ia sudah membereskan semuanya dibantu Myungsoo tadi kemudian mereka keluar bersama.” Mark tak berniat membantu yeojanya, hanya memperhatikan sedaritadi.

Begitu Ia selesai menaruh seluruh perlengkapannya dalam lemari, Ia melupakan hairdryer yang masih terletak dilantai. Tak sengaja, tubuhnya tak seimbang karena menabrak benda tersebut.

Dengan cepat Mark menangkap tubuh Eunji, namun namja itu juga terkejut sehingga tak dapat menyeimbangkan dirinya. Keduanya pun terjatuh dikasur dengan posisi Mark menindih Eunji dengan tangan Mark menahan agar Ia tak benar-benar jatuh diatas tubuh yeoja kecil itu.

Keduanya terdiam saling menatap. Larut dalam pikiran masing-masing. Mark mulai mendekatkan dirinya pada Eunji, membuat yeoja itu ragu dan menutup matanya perlahan.

KREKK.

“Jiyeon-” Keduanya tersentak kaget sehingga Mark benar-benar terjatuh diatas tubuh Eunji.

“Ah!” Dengan cepat Eunji mendorong tubuh Mark dengan wajahnya yang memerah. Ia menatap Soojung canggung, “Mian, aku mengganggu. Hanya saja tadi aku mencari Jiyeon. Ternyata Ia tak ada disini. Aku akan keluar.”

“Tunggu-” Eunji berniat menyusul Soojung namun Mark menarik tangannya cepat membuatnya hampir kehilangan keseimbangan lagi.

“Kita belum selesai.” Eunji menatap Mark tak percaya, “Apa maksudmu?! Tadi aku benar-benar tak melihat ada hairdryer.” balasnya kemudian mengerucutkan bibirnya kesal.

“Lalu kenapa? Bukankah kau menyukainya? Bahkan tadi kau menutup matamu.” 

“I-itu karena–ani, keuge-” Eunji menggaruk kepalanya yang tak gatal bingung. Bagaimana Ia mengatakannya? Habisnya tadi Mark tiba-tiba mendekatinya. Mark hanya tertawa melihat tingkah Eunji.

“Soojung bisa salah paham.”

“Itu bagus. Dengan begitu, Ia semakin sadar kalau kita sudah berpacaran.” Eunji menyerngit heran, “Apa maksudmu?”

“Selama ini, dia–” Mark menghentikan perkataannya dan menatap Eunji. Yeoja itu masih menunggu jawabannya, “Tak ada.” 

Ia menghela nafas kasar. Sampai kapanpun Ia tak bisa memberitahukan hal ini. Namun tanpa Ia sadari, Eunji tersenyum tipis saat menundukkan kepalanya.

.

 

.

TBC.

hohoho~ maaf ya karena udh sebulan ga update ini. ga ada kata-kata yang pengen aku ucapin lagi. so,happyreading dan leave a comment!^^

26 responses to “[CHAPTER-4] 18 Years Old.

    • iyaa maaf ya, karena filenya hilang, jadi aku harus buat dari awal lagi dan itu yang buat aku males. sebelumnya sudah kubat sampe chapter 6. but, thanks for reading!^^

  1. seru pasti kalo liburan ke pulau jeju,,
    mungkin kalo gk ada irene semuanya bakalan baik2 aja..
    next next
    mudahan irene gk banyak tingkah

  2. aishh irene pdhal pengen punya sahabat juga kan , knapaa harus ngerusak persahabtan org juga sih
    itu eunji baik bgt , pdhal dia udah ngasih percayaan k soojung . eh soojung nya malah kpengaruh ma irene aapa2an
    pnsaran gmna liburan mrekaa , oke next nya dtunggu ne fighting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s