[VIGNETTE] Delivery Girl

delivery girl el

natadecocoo presents…

| Delivery Girl |

Kim Myungsoo & Park Jiyeon  |

| subcast: Park Chanyeol & Byun Baekhyun |

| romance, slice of life, fluff |

| 2223 words |

Teen |


Kadang jatuh cinta memang membuatmu melakukan hal-hal yang kurang wajar.


Myungsoo tahu apa yang dilakukannya sekarang terdengar konyol. Meski begitu, ia tidak peduli dan terus saja mengetikkan nomor yang entah mengapa ia bisa hafal. Setelah selesai mengetikkan nomor, dan didahului oleh sebuah doa singkat, Myungsoo menekan tombol hijau.

Harapan demi harapan lolos dari mulutnya—berharap seseorang yang mengangkat panggilannya adalah seseorang yang ia harapkan.

Wajahnya mendadak sumringah tepat setelah panggilannya terjawab. His hope apparently comes true. Ia bahagia akhirnya bisa mendengarkan suara itu lagi.

Myungsoo segera memencet hidungnya “Yoboseyo” Ia sengaja melakukannya agar suara yang keluar dari mulutnya bukan suara aslinya melainkan suara yang ia buat-buat.

Yoboseyo. Park Jajjangmyun Imnida. Nuguseyo?” suara dari seberang menjawab, memperkenalkan nama tokonya.

“Ah ndae. Kim Moonsoo imnida. Saya ingin pesan 5 jjajangmyun! Apakah itu memungkinkan?”

“5? Ah ndae saya akan—“

“Jaggaman. Sepertinya saya akan memesan 6 bukan 5.”

“Ah..baiklah Sir saya akan segera mengirimkannya. Kemana saya harus mengirimnya?”

“Jaggaman..” Myungsoo lalu berlari menuju ke kamar dongsaengnya—Kim Moonsoo yang kebetulan hanya di seberang kamarnya saja dan mendapati adik laki-lakinya itu sedang bermain video games. “Ah..Mian saya tadi sedang menanyakan alamat rumah saya ke keluarga saya.” Ia berbohong “Distrik xxxx Jalan xxxx Nomor xx Seoul” Myungsoo menyebutkan alamat rumahnya.

“Baiklah. Pesanan akan datang beberapa menit lagi.”

Tet. Panggilan tertutup.

Ia berdiam diri di sana selama beberapa menit. Kurva itu tercetak di bibir Myungsoo. Walaupun hanya mendengar suaranya dari sebuah panggilan telepon, Myungsoo sudah sangat senang. Melebihi ia menikmati penampilan dari penyanyi favoritnya.

Walaupun panggilan telah terputus, suara halus itu masih menggaung di kepalanya.

Lalu lamunannya terpecah.

Ia harus lanjut ke langkah selanjutnya.

Segera, Myungsoo mengambil lensa binokularnya dan berlari ke arah balkon kamar. Kebetulan kamarnya berada di lantai dua sehingga balkon kamarnya merupakan tempat yang sangat nyaman jika digunakan untuk mengamati orang yang lewat. Pada kasus ini, Myungsoo ingin mengamati seseorang yang beberapa menit lagi akan mengantar jjajangmyun ke rumahnya.

Semuanya berawal ketika Myungsoo tak sengaja mampir ke sebuah toko jjajangmyun di jalan sepanjang perjalanannya ke rumah. Sebuah toko jjajangmyun baru yang kata temannya rasanya lumayan enak.

Oh, c’mon guys. Myungsoo tidak sedang memanfaatkan enaknya jjangmyun saat ini. Awalnya ia hanya makan sore biasa  di sana dan ketika ia sedang asik memakan jjajangmyunnya saat itu, ia melihat sang pemilik toko memiliki seorang anak perempuan yang selalu ditugaskan untuk mengirim makanan. Jantungnya seakan berhenti berdegup saat itu. Cukup satu kata. Cantik. Meski hanya dibalut kaos panjang biasa dan celana jeans ¾, serta rambut yang diikat seadanya, Myungsoo sudah bisa mendapatkan arti kecantikan sesungguhnya dari yeoja itu.

Ekspektasi demi ekspektasi bermunculan di kepala Myungsoo. Memikirkan kemungkinan baju yang akan dikenakan oleh yeoja yang ia kagum-kagumi itu. Terakhir kali, ia dapat melihat yeoja yang ia kagumi itu memakai baju sweater peach yang bagi Myungsoo sangat cocok di tubuh S-line nya itu.

Ini sudah pesananan ke-7 dalam seminggu ini dan Myungsoo tak juga jengah. Myungsoo tahu ia pengecut, selalu memanfaatkan orang lain ketika memesan makanan dari toko sang yeoja sementara dirinya bersembunyi dari suatu tempat dan melihat sang yeoja dari kejauhan. Namun ia merasa bahwa mendengar suaranya melalui telpon dan melihat sosoknya sudah cukup baginya.

Kadang jatuh cinta memang membuatmu melakukan hal-hal yang kurang wajar.

Termasuk ketika Myungsoo tersenyum mengingat ia akan melihat seseorang yang baru ia lihat kemarin akan datang ke rumahnya.

Bagaimana bisa ia membeli banyak jjajangmyun demi melihat seseorang yang ia idolakan dari kejauhan?

Myungsoo terus menunggu dan menunggu.

Menit demi menit berlalu.

Pada akhirnya, mata Myungsoo melebar tatkala sebuah motor bebek datang dari arah barat. Laju kendaraan itu terlihat semakin pelan ketika mendekati rumahnya. Semakin pelan dan berhenti. Ia terheran, karena biasanya sang yeoja memakai sepeda untuk mengantar pesanan.Namun ia merasakan hal itu tak butuh untuk dipikirkan sehingga ia melanjutkan mengamati yeoja itu dari kejauhan.

Myungsoo segera mendekatkan jarak antara lensa binokular itu ke sepasang matanya. Tak ingin kehilangan kesempatan untuk melihat wajahnya sedetikpun.

Langkah sang yeoja yang anggun walaupun menenteng dua kresek besar berisi kardus makanan…Myungsoo terus mengikuti langkah yeoja itu, dengan matanya.

            Myungsoo terus menikmati waktu-waktu itu.

Mungkin itulah definisi quality-time baginya, mengamati yeoja pujaannya dari tempat yang yeoja itu sendiri tidak menyadarinya.

Ketika bayangan sang yeoja terlihat semakin menghilang di matanya, Myungsoo berhenti dan menghela nafas. Ia kecewa. Mengapa waktu bisa berlalu secepat itu. Seandainya saja ia bisa menghentikan waktu.

Suara ding dong yang cukup keras pun terdengar. Rupanya yeoja itu telah sampai di depan pintunya dan menekan bel rumahnya.

“Yaa! Kim Moonsoo!!” Myungsoo memanggil adiknya.

Namun adiknya tak kunjung datang. Ia mulai panik dan berjalan cepat ke kamar adiknya. “YA Moonsoo-a” Ia menggedor pintu kamar adiknya itu namun adiknya tak kunjung datang sehingga ia membuka pintu adiknya. Terlihat di matanya adiknya—Kim Moonsoo—sedang terlelap di depan laptop yang masih menyala di kasurnya.

“Moonsoo-ya” Myungsoo terus memanggil—suara panggilannya seirama dengan suara bel pintu yang terus berbunyi.

Badan adiknya itu akhirnya ia goyang-goyangkan agar adiknya itu bangun. Tapi tetap saja adiknya tak kunjung terbangun. Myungsoo mendesis. Ia merasa ia tak seharusnya membiarkan yeoja pengantar pesan itu menunggu lama-lama. Setelah usaha terakhir membangunkan adiknya gagal, ia akhirnya memberanikan diri. Untuk yang pertama kalinya menampakkan sosoknya di depan yeoja pujaannya itu. Mau bagaimana lagi, ia sudah terlanjur memesan dan tak ingin jika yeoja pengantar pesan itu menunggu lama. Lagipula, ia tahu persis jika adiknya sudah tertidur maka butuh waktu lama untuk membangunkannya. Pukulan dan guncangan ke tubuhnya tak akan mempan. Hasil terbaik yang keluar hanyalah erangan lalu adiknya akan kembali tidur lagi.

Dengan tidak santai, Myungsoo mulai menuruni anak tangga. Dengan segenap niat, ia mengumpulkan semua serpihan keberanian dari dalam dirinya.

Doa terus ia panjatkan dan doanya berakhir ketika ia memutar kenop pintunya, membuka pintu dan tampaklah sosok seperti bidadari itu berada di depannya.

Persendian Myungsoo terasa lemas—baru kali pertama ini Myungsoo melihat yeoja itu dalam jarak dekat dan live.

Kecantikan yang biasanya terlihat dari jarak jauh, kini terlihat begitu HD—High Definition.

Jantungnya tidak santai, ia bahkan lupa untuk berkedip.

Yeoja yang biasanya menggunakan kaos dan jeans belel saja sudah cantik kini ia menggunakan baju kodok yang menunjukkan lekuk tubuhnya.

(gambaran baju yang dipakai Jiyeon)

Oh,semoga aku tidak pipis di celana. batin Myungsoo.

“Kim Moonsoo?”

suara lembut itu menerpa gendang telinga Myungsoo—suara yang ia idolakan selama seminggu ini.

Pada akhirnya, Myungsoo berkedip “Ah ndae!”

“Enam jjajangmyun?” tanya sang yeoja.

Lagi-lagi Myungsoo hanya bisa mengangguk seperti orang bodoh. “Ndae.” Segera Myungsoo menerima dua tas kresek yang yeoja itu operkan padanya.

“Kau..tidak mengendarai sepeda seperti biasanya?”

Cinta memang dapat membuatmu terlihat bodoh.

Entah mengapa Myungsoo menanyakannya, mungkin ia ingin melakukan sebuah percakapan dengan yeoja itu?

Yeoja itu tampak bingung. Pasalnya baru hari ini ia tidak menggunakan sepedanya dan baru kali ini ia bertemu dengan Myungsoo bagaimana Myungsoo bisa tahu…

“Ah. Aboeji memiliki beberapa keuntungan dengan usaha jjajangmyunnya sehingga dia menggunakannya untuk itu.”

Myungsoo hanya bisa mengangguk seraya mengutuki dirinya bodoh. “Ah”

Bodohnya lagi…

Bagaimana Kim Myungsoo bisa lupa membayar ketika membeli sesuatu?
Yeoja itu menunggu lama—tak enak jika harus menagih sesuatu yang sudah menjadi haknya.

Myungsoo entah mengapa hanya bisa berdiam diri membatu di sana melihat ke dalam pesanannya itu, berpura mengecek jumlahnya apakah sudah genap enam atau belum padahal sesungguhnya ia tidak peduli sama sekali jika memang pesanananya mungkin saja kurang.

“Baiklah. G-gomawo, agaesshi.” tangan Myungsoo bergerak untuk menutup pintu.

Yeoja di depannya itu tidak bisa tinggal diam, ia menahan tangan Myungsoo—membuat darah Myungsoo berdesir semakin kencang.

“Jaggaman! Apakah Anda mungkin melupakan sesuatu?”

Myungsoo memasang wajah bingung, sebelum akhirnya ia meringis, menunjukkan deretan putih giginya. Segera, ia memancing dompet yang berada dalam saku celananya.

– – –    D e l i v e r y   G i r l    – – –

Chanyeol dan Baekhyun tertawa dengan keras—sementara Myungsoo hanya bisa diam dan menggerutu akan nasibnya hari ini.

“Berhentilah tertawa. Bukankah aku sudah mentraktir kalian jjajangmyun? Aigooo.” Myungsoo mendesis kesal. Pasalnya, kedua temannya itu telah tertawa selama hampir 15 menit setelah ia menceritakan kejadian tadi kepada mereka.

Mereka berdua sebagai tetangga terdekat Myungsoo tentu sudah tahu kebiasaan Myungsoo selama seminggu ini ketika liburan.

Bahkan Chanyeol dan Baekhyun selalu merasakan menjadi korban Myungsoo sebelum ini—selain adik Myungsoo, Kim Moonsoo. Hari pertama, Myungsoo memesan atas nama Chanyeol, hari kedua atas nama Baekhyun, hari ketiga, kembali ke Chanyeol lalu Baekhyun lalu kemarin ia memesan atas nama adiknya Kim Moonsoo selama tiga hari.

“Hei jantanlah sedikit kawan. Langsung saja utarakan pada yeoja itu akan perasaanmu.” celetuk Chanyeol—menepuk pundak Myungsoo yang sedang melahap jjajangmyun kardus keduanya.

“Bwo?” Ia lalu tersedak, bukan karena tepukan pundak yang Chanyeol lakukan, melainkan karena kalimat Chanyeol yang baru saja ia dengar. “Tak semudah itu, Park Chanyeol.” Ia lalu meraih sebotol air mineral lalu meneguknya tidak santai. “Bagaimana dengan dirimu sendiri, Chanyeol-a? Kamu bahkan mendadak menjadi pendiam jika berada di depan Choi Hana.” ejek Myungsoo lagi.

Kini Baekhyun tertawa keras. Lalu membuka kardus jjajangmyun yang Myungsoo bawa. Ya begitulah kegiatan Myungsoo selama liburan akhir semester ini. Memesan banyak jajangmyun, menyisakan 3 untuk keluarganya lalu memakan tiga yang lain dengan temannya.

Hanya Chanyeol yang kali ini tidak makan karena ia merasa masih kenyang.

“Sepertinya aku setuju dengan Chanyeol. Ya. Sampai kapan kau akan seperti ini. Aigooo…”

Myungsoo terus saja diam. Meskipun ia sedang kesal dengan dirinya sendiri, ia merasa bahagia sudah bertemu dengan yeoja itu. Bahkan dalam jarak yang sangat dekat.

Aku ingin menanyakan namanya…batin Myungsoo namun segera pikiran itu ia enyahkan dan ia terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia merasa keberaniannya untuk melakukannya belum cukup banyak.

Setelah selesai melahap jjajangmyun, Chanyeol, Baekhyun dan Myungsoo kembali meraih stick dan memainkan playstation mereka. Memangnya apa yang kau harapkan dari para namja yang sedang liburan? Game tentu akan menjadi pelarian mereka.

“Ya Kim Myungsoo! Baru kali ini kau kalah bermain game ini..Aigoo ada apa denganmu?” tanya Chanyeol—yang seharusnya bahagia ia bisa mengalahkan Myungsoo.

Myungsoo hanya terkekeh kecil. “Aku mengalah Chanyeol-a.Agar kamu senang akhirnya bisa mengalahkanmu.” Ia lalu mengoper sticknya itu ke Baekhyun “Giliranmu Baekhyun-a. Sepertinya aku mulai bosan bermain game ini.”

Setelah itu ia melemparkan tubuhnya ke bed empuk milik Chanyeol sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya.

Baekhyun dan Chanyeol menatap satu sama lain. Tiba-tiba sebuah senyuman yang sulit diartikan tercetak di wajah mereka.

– – –    D e l i v e r y   G i r l    – – –

Ding dong.

Suara itu terus terdengar. Myungsoo melepaskan perhatiannya dari ponsel. “Chanyeol-a sepertinya ada ta—“ Ucapannya terhenti tatkala ia tak melihat siapapun di kamar, kecuali bayangan dirinya bangun dari bed yang terpantul oleh cermin. “Kemana mereka berdua..”

Ding dong.

Bel rumah Chanyeol terdengar lagi.

Ding dong.

Dan lagi.

Mau tak mau, Myungsoo akhirnya turun ke bawah dan memutuskan untuk menggantikan Chanyeol dalam menerima tamu.

Dengan malas, Myungsoo memutar kenop pintu dan membukanya.

Badan Myungsoo tegap seketika. Ia terkejut namun senang. Ia mencubit pipinya untuk memastikan bahwa dirinya sedang tidak bermimpi.

“Tiga jjajangmyun?” suara familiar itu kembali menerpa gendang telinganya setelah sebelumnya Myungsoo tak kunjung menjawab.

“Ah ndae?” Ia terlihat bingung.

Sosok jelita itu kembali hadir di depannya bagaimana bisa ia tenang.

“Bukankah kau yang tadi?” tanya yeoja itu.

“Ndae…” Myungsoo mengangguk pelan, lalu terkekeh.

“Kau pasti benar-benar menyukai jjajangmyun bukan?” yeoja itu terkekeh, menunjukkan Myungsoo sederetan gigi putihnya dan kurva yang terlihat sangat indah di mata Myungsoo.

“Ah.. Sepertinya iya..” Myungsoo terkekeh sambil menggosok lehernya.

Dalam hati, ia sedang menyumpahi Baekhyun dan Chanyeol atas apa yang telah mereka lakukan padanya saat ini. Aku akan benar-benar mencincangmu, Byun Baekhyun, Park Chanyeol!

Tak ingin mengulangi kesalahan yang sama, Myungsoo segera mengeluarkan dompetnya dan membayar dua kardus jjajangmyun yang ada di dalam tas kresek. Padahal tas kresek itu sendiri masih berada di tangan sang yeoja namun Myungsoo takut jika ia lupa lagi sehingga ia memilih untuk membayar terlebih dahulu lalu menerimanya.

“Aku tak ingin terlupa lagi.”

Yeoja itu terkekeh.

Myungsoo memang malu namu  sepertinya ia rela malu dan terlihat bodoh seperti ini jika nantinya bisa melihat wajah yeoja di depannya ini yang terlihat bertambah manis ketika sedang tertawa.

Tak lama, suara derap langkah datang dari belakang.

“Aigoo…Kim Myungsoo! Kau memesan jjajangmyun lagi, eoh? Aigooo kali ini kau menggunakan namaku lagi bukan?”

Tanpa perlu menengok lagi, Myungsoo sudah tahu bahwa itu suara Baekhyun. Tak ingin kalah, Chanyeol ikut membongkarkan aksi seminggu yang dilakukan oleh sahabatnya itu “Hari ini dia memakai baju kodok, cantik sekali.” Chanyeol menirukan suara Myungsoo.

“YAAA!” Myungsoo berjalan berusaha membungkam mulut sahabatnya namun sahabatnya itu dua sehingga usaha membungkam Chanyeol dan Baekhyunnya gagal. Mereka malah mengunci kedua tangan Myungsoo dan mendorongnya kembali ke depan sang yeoja yang terlihat sangat merah wajahnya.

“Orang pengecut ini memesan banyak jjajangmyun hanya untuk melihatmu, yeoja pengantar pesanan.” ujar Baekhyun lagi, memperjelas semuanya.

“Tapi dia baik sekali, selalu berbagi jjajangmyun. Walaupun kadang ia meminta ganti 50%.” tambah Chanyeol.

Myungsoo akhirnya hanya bisa pasrah dan berhenti memberontak, apalagi ketika ia mendengar yeoja di depannya itu terkekeh kecil.

Ia sudah terlanjut dikuliti habis-habisan saat ini. Sehingga tak ada jalan baginya untuk mengelak.

Mungkin sudah saatnya bagiku untuk mengakuinya. batin Myungsoo.

Baekhyun dan Chanyeol tersenyum satu sama lain. Senyum puas karena mereka merasa keisengan mereka akan berbuah hasil. Sebuah pajak jadian di sebuah cafe sudah terimajinasi di kepala mereka.

Myungsoo pun ikut terkekeh . Ia malu yeoja itu akhirnya mengetahuinya. Tapi herannya, di saat yang sama, ia merasa lega, akhirnya yeoja itu mengetahuinya.

“Jadi itu mengapa kau menyadari diriku menggunakan sepeda motor hari ini?” tanya sang yeoja pada akhirnya.

Myungsoo mengangguk. Ia menggaruk-garuk lehernya yang tidak terasa gatal sama sekali.

Yeoja itu kembali terkekeh.

Kekehannya itu akhirnya terhenti, tatkala Myungsoo bertanya akan pertanyaan yang selalu ingin ia tanyakan.

“Jadi—siapa namamu?”

Myungsoo memang tidak tahu apakah yeoja itu menjawab pertanyaannya atau tidak karena ia terus menundukkan kepalanya. Tapi wajah khawatirnya jika saja pertanyaannya tidak dibalas berubah menjadi sumringah tatkala ia mendengar yeoja itu mengucapkan sebuah nama dan dapat terlihat sebuah tangan terulur ke arahnya.

“Park Jiyeon imnida. Bangapseumnida.”

–END–

A.N:

Hye~ Everyone~ Akhirnya kembali nulis di sini. Awww kangen nulis di sini. Readersnya seneng kasih feedback jadi author ga perlu nangis di pojokan kamar karena merasa ffnya gaada yang baca ><

Maafkan jika ff pendek ini terlalu pendek dan kurang memuaskan. Apalagi kalo sampe genrenya tertulis fluff tapi kurang sweet /ngomongin diri sendiri/ Daaaaan gatau kenapa ane masih belum bisa menghapus kebiasaan nulis partikel –nya di hampir setiap kata /eugh /someonehelpme /someonehelpmywriting.

Anyway, siapa yang udah liat So Crazy? Awww cantiks semua kan ya unnie-unnieku❤

Semoga suka yaa sama ffnya~  Kalo pengen nambah ff Myungyeon lagi komen di bawah ya mumpung akunya masih libur *wahaaa sombong nih author : P

Btw ada yang udah beli novel bbmgg di Gramedia?

41 responses to “[VIGNETTE] Delivery Girl

  1. Aaa lucu banget wkwk si myungsoo malu malu kucing tapi akhirnya kepergok juga😄 iseng banget si baekyeol wkwkwk… Aa suka suka😄

    Haahh bbmgg apaannn?? Yampun maapin aku kudetttt… Udah lama ato baru? Aaa pengen kalo covernya jiyeon DX

  2. Ceritanya manis banget, saya suka..saya suka.. 😃😁😍hahaha.. feelnya dapet banget, kerenlah pokoknya.. 👍FF MyungYeon lagi dong Thor, kalau bisa yang chapter.. 🙇(reader gak tau diri) #plak hehehe
    Fighting Authornim..💋👌

  3. aiihh gantung belum jadiaaann, tapi lucu wkwkwk myung ogeb sangat ahahah lalu chanbaek usil banget tapi berbuah manis/?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s