[CHAPTER 8] School Rush!! Season 2

POSTER

Author : sprinkaan29

Genre : School Life, Family, Friendship, Romance, etc.

Rating : PG15+

Note : Kayaknya ini FF udah g dilanjutin selama hampir 4 bulan, ini seua karena authornya udh naik ke kelas 3 SMA. Maaf banget buat yang nunggu.

Chorong POV

“Chanyeol-ah, apa kau tahu bagaimana kabar Jiyeon saat ini?” Aku mengigiti ujung jari telunjukku dengan panik. Sejak tiga minggu yang lalu, aku sudah berulang kali mencoba untuk menghubungi ponsel Jiyeon, akan tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa ponselnya sedang aktif. Sehingga, saat ini dengan mempertaruhkan segala egoku, aku menelepon Chanyeol.

Noona? Eumh, Jiyeon-”

“Ahh, ya, bagaimana kau akan tahu dengan kabarnya, kau tidak pernah peduli-” Sebenarnya, aku agak sedikit terkejut ketika adik kurang ajar ini memanggilku noona. Ini pertama kalinya setelah bertahun-tahun.

Noona, aku belum selesai bicara. Keundae, aku minta pada noona untuk mencoba menenangkan diri setelah mendengar keadaan Jiyeon.” ujar Chanyeol dengan nada bicara yang lembut. Ada apa dengan anak ini? Kenapa sikapnya menjadi lembut padaku?

“Jiyeon mengalami kecelakaan dan mengakibatkan kebutaan permanen padanya”

Mworago?” Tubuhku jatuh terduduk di ranjang holtelku.

“Ini bukan candaan bukan?” Aku menunggu suara mengejek dan kekehan dari Chanyeol. Karena aku berharap setidaknya dia hanya sedang membohongiku. Tapi tidak ada tawa remeh ataupun tanda-tanda dari Chanyeol bahwa dia hanya bercanda.

Noona, jangan berpikir untuk pulang ke Korea. Aku sudah mengatakan pada Jiyeon, bahwa noona sedang mengadakan pameran lukisan di Paris. Jika kau pulang, Jiyeon akan merasa bersalah padamu. Jadi selesaikan dulu pameranmu, barulah kembali ke Korea.”

Keundae, aku baru akan pulang 2 minggu lagi. Dan juga, disini ada Minseok. Penyelenggara pameran mengundangnya sebagai bintang tamu, tiga lukisan terbarunya di pajang di sini” Sebelumnya aku sama sekali tidak tahu bahwa dia ikut serta dalam pameran ini. Dia datang lebih awal dariku. Tapi, ada sesuatu yang aneh dari auranya. Minseok menjadi lebih dingin dan menjauh, dia jarang bicara dan selalu mengurung dirinya di kamar hotel.

“Chanyeol-ah, apakah keadaan disana baik-baik saja? Karena aku merasa bahwa ada hal yang aneh dengan Minseok belakangan ini.” Disebrang sana aku mendengarnya menghela napas berat.

“Terlalu banyak hal yang terjadi, noona. Aku akan menjelaskannya padamu ketika kau dan Jiyeon sudah bertemu di Korea. Untuk saat ini, noona sebaiknya jangan panik dan jalani pemeranmu dengan baik.” Lagi, Chanyeol menghela napas berat.

“Dan, tolong jangan beritahu Minseok tentang keadaan Jiyeon. Karena aku agak khawatir dengannya juga.” Chanyeol terdengar tidak seperti dirinya yang menyebalkan lagi bagiku. Sepertinya, sudah sangat banyak hal yang terjadi selama aku pergi dari Korea.

Arraseo. Channie-ah, kumohon jaga Jiyeon baik-baik sampai aku kembali ke Korea. Dan aku sangat bersyukur karena kau sudah kembali menjadi namdongsaengku yang manis seperti dulu.” Aku segera memutuskan sambungan telepon, segera setelah aku mengatakan hal tersebut. Mungkin saat ini, aku memang harus memberikan waktu kepada kedua saudara kandung itu untuk menjadi dekat kembali.

Get well soon, Jiyeon-ah.”

~o~

Suzy POV

“Jiyeon-ah, apa yang sedang kau lakukan? Diluar sangat dingin, masuklah kedalam, eoh.”

“Aku sedang mendengar suara angin. Membayangkan keindahan desa ini di kepalaku.” Saat ini aku dan Jiyeon sedang berada di bawah pohon rindang di belakang rumah. Kami sudah kembali beberapa saat yang lalu, segera setelah mengantarkan Chen kembali ke rumahnya.

“Akan kubantu. Saat ini kita sedang berada di bawah sebuah pohon di belakang rumahku. Kita langsung menghadap ke arah Gunung Jiri. Dan saat ini bintang terlihat sangat cerah di langit.” Aku berusaha menjelaskannya dengan detail. Akan tetapi, sepertinya Jiyeon tidak mendengar penjelasanku barusan, matanya tidak lagi berbinar seperti tadi siang.

“Suzy-ah, sepertinya baru kemarin kita semua memakan jjajjangmyeon bersama-sama. Kita semua tersenyum dan bergembira bersama, dan aku dapat melihatnya dengan mataku. Tapi, kenapa sekarang semuanya menjadi seperti ini. Seperti sudah bertahun-tahun rasanya aku tidak bersama dengan kalian lagi.” Mendengar Jiyeon berkata seperti ini, membuatku tidak percaya bahwa dia adalah Jiyeon yang kukenal.

“Jiyeon-ah, jangan berbicara seperti itu. Kita semua masih ada disisimu. Tidak akan pernah ada yang meninggalkanmu, aku, Jinri, Sohee dan-”

“Dan?” Aku tidak mampu melanjutkan kata-kataku. Apalagi setelah Jiyeon terlihat kembali mengingat kejadian itu.

“Semuanya tidak akan lagi sama tanpa kehadiran ‘orang’ itu. Tidak akan sama lagi, Suzy-ah.”

“Eum. Tidak ada lagi yang akan berlarian di dalam kelas yang sempit, meloncati meja demi meja, tidur dengan nyenyak di lantai ataupun mengambil makanan Sohee secara diam-diam. Kita tidak akan melihat hal-hal konyol itu lagi.” Aku menghela napas panjang. Benar yang dikatakan Jiyeon. Setelah ‘orang’ itu pergi, semuanya tidak akan sama lagi.

“Kau tahu? Aku percaya padanya lebih dari aku percaya pada Chanyeol oppa. Aku menyayanginya lebih dari aku menyayangi appaku sendiri. Dan saat ini, aku sangat merindukan kehadirannya disekelilingku jauh daripada aku merindukan omma kandungku sendiri. Dia sangat berarti untukku.” Untuk sesaat, aku kembali teringat pada pertemuan pertamaku dengan ‘orang’ itu. Dia yang tersenyum bodoh dan memperhatikanku yang sedang terdiam seperti patung. Dia yang berlarian di kelas untuk merebut cookies buatan Sohee.

I miss him too, Jiyeon-ah. Aku bisa mengerti apa yang kau rasakan saat ini. Dia terlihat sangat polos dan konyol pada saat aku pertama bertemu dengan kalian. Tapi semakin lama, aku merasa bahwa dia seperti sosok seorang kakak bagiku. Dia yang selalu berhasil membuat kelas selalu gembira dan hidup. Aku juga sangat merindukannya.” Keheningan melingkupi kami berdua. Sangat hening sampai aku dapat mendengar detak jangtungku sendiri.

“Jiyeon-ah, aku masih ingin percaya padanya. Kata-kata terakhirnya terdengar sangat tulus di telingaku. Kau masih mengingatnya, kan?”

“Kalian adalah hadiah terindah dalam hidupku. Gomawo, karena kalian telah mengisi hidupku dengan saat-saat yang sangat berharga. Gomawo”

Jiyeon tetap tidak mengeluarkan suaranya. Dari raut wajahnya, dia terlihat seperti sedang berpikir. “Sudahlah, Suzy-ah. Aku harus segera masuk kedalam karena oppa pasti sedang menungguku.” Aku melihat punggung Jiyeon mulai menjauhiku.

“Minseok-ah, aku percaya bahwa kau benar-benar menyayangi kami. Karena dimatamu, aku tidak melihat kebohongan itu. Seyum dan tatapanmu, hanya ada ketulusan disana”

~o~

Myungsoo POV

Beberapa hari ini, aku merasa khawatir tanpa sebab yang jelas. Tidak, mungkin ini cukup jelas. Aku mengkhawatirkan yeoja itu, Park Jiyeon. Entah kenapa pikiranku selalu berakhir kearah yeoja itu. Dimana dia saat ini? Apakah dia baik-baik saja dengan keadaannya? Apakah Chanyeol dapat menjaganya dengan baik?

“Arghh! Park Jiyeon, apa yang telah kaulakukan padaku?” Aku mengerang putus asa dengan keadaan ini. Keadaan dimana aku tidak tahu apa yang sedang terjadi pada diriku sendiri. Sebelumnya, tidak pernah ada satu orangpun di dunia ini yang ku khawatirkan kecuali keluargaku sendiri. Tapi, yeoja ini hanya dalam waktu kurang dari 6 bulan dapat membuatku merasakan kekhawatiran yang tidak biasa.

“Serketaris Ahn, aku ingin kau mencari keberadaan seseorang. Park Jiyeon, anak bungsu keluarga Park. Akan kukirimkan fotonya padamu segera setelah aku menutup sambungan ini.” Park Jiyeon, aku pasti akan menemuimu!

Minseok POV

Yeoboseyo?”

“Tuan muda Myungsoo baru saja meminta saya untuk melakukan sesuatu yang cukup aneh.”

Aku menkerutkan keningku bingung. Aneh? Apa yang anak itu lakukan lagi?

“Tuan Myungsoo memintaku untuk mencari keberadaan seorang yang bernama Park Jiyeon, anak bungsu keluarga Park.” Jiyeon? Untuk apa Myungsoo mencari Jiyeon? Apakah terjadi sesuatu pada Jiyeon? Perasaanku yang beberapa minggu ini memang sedang tidak mengenakkan kembali di perburuk dengan ini.

Hyung, beritahukan keberadaan Jiyeon kepadaku terlebih dahulu sebelum Myungsoo.” Sambungan terputus. Tapi aku yakin serketaris Ahn pasti akan melakukannya untukku.

“Jiyeon-ah, apa yang sedang terjadi padamu?” Ah! Aku mengetikkan sebuah nomor di ponselku.

“Oh! Ada apa?”

“Jinri, aku ingin kau menjelaskan sesuatu padaku.”

“Menjelaskan apa?”

“Apa yang terjadi pada Jiyeon? Apakah dia menghilang?”

“….”

“Jinri, jawab aku. Jika kau diam seperti ini, itu berarti benar bahwa sesuatu memang sedang terjadi pada Jiyeon.”

You’re right. She’s hiding from everyone. And I know where she is.”

“Kalau begitu, katakan padaku dimana dia.”

“Kembalilah ke Seoul. Besok lusa aku dan Sohee akan pergi mengunjungi Jiyeon. Tapi, sebelumnya apa kau tahu bagaimana kondisi Jiyeon sejak kau pergi?”

“Bagaimana aku bi-”

“Dia buta. Dihari yang sama ketika kau mengakui semuanya, dia menyelamatkan adik Woohyun dari papan reklame. Papan reklame itu akhirnya jatuh tepat mengenai kepala dan tubuh Jiyeon. Saraf optik di otak Jiyeon rusak, sehingga menyebabkan kebutaan permanen padanya.”

“….” PIP.

Tanganku yang masih menggengam ponsel, terkulai lemas setelah mendengar penjelasan dari Jinri. Aku berjalan pelan kearah jendela besar yang menampilkan pemandangan pagi kota Paris yang sangat indah dimata orang-orang jika berada di posisiku saat ini. Tapi tidak denganku. Aku jatuh terduduk dengan punggungku yang bersandar pada jendela besar itu. Perlahan airmataku mulai menggenang di pelupuk mataku, semakin banyak sampai aku tidka dapat menahannya lagi.

“Mianhae, mianhae, mianhae, mianhae, mianhae.”

I have wings

But I don’t fly

It’s scary and it hurts to be alone

The days when we would stand together in the sun,

Your arm over my shoulder, are gone,

And we’re walking towards lonely dreams

Jinri POV

PIP!

Kuputuskan sambungan telepon ketika Minseok tidak mengeluarkan suara lagi. Aku tahu bahwa saat ini dia sedang sangat terpukul mendengar kabar Jiyeon. Selain itu, aku punya masalah lain disampingku.

Nuguji?” Aku tidak menanggapi pertanyaan tidak penting namja di sampingku.

“Ya! CHOI Jinri-ssi, geu saram nuguji?” Dia tampak kesal karena sikapku.

“Bukan urusanmu, Lee Howon-ssi. Dan tolong jangan gunakan marga itu padaku! Aku tidak menyukainya!” ujarku kesal.

“Kalau begitu, akan kupanggil kau ‘Lee Jinri’. Karena mungkin kita akan menikah suatu hari nanti.” Aku menatap matanya tajam. Namja ini benar-benar membuat nafsu sarapanku menghilang. Aku bangkit berdiri dari kursiku.

“Menikah? Bertunangan denganmu saja, aku tidak akan pernah melakukannya. Perjodohan bodoh ini tidak akan pernah kulakukan. Lebih baik aku hidup miskin dari pada menikah denganmu, Lee Howon-ssi.”

Sebuah tangan menahanku ketika aku hendak beranjak meninggalkan meja.

“Jinri-ssi, aku ingin mengajukan penawaran padamu. Perjodohan ini, anggap saja seperti simbiosis mutualisme. Kau tahu, dengan menerima perjodohan ini, ommaku tidak akan lagi mengawasiku. Itulah kenapa aku sangat ingin melakukan perjodohan ini. Dan untukmu, aku dapat membuatmu terbebas dari keluargamu. Kau bisa tinggal di manapun atau dengan siapapun, tapi keluargamu akan mengira kau tinggal bersamaku, tunanganmu.” Mendengar penawaran yang dikatakannya, aku mulai tertarik pada perjodohan ini. Dia melepaskan genggamannya dari tanganku.

“Aku. . . terima penawaranmu, tapi dengan satu kondisi yaitu diantara kita berdua tidak boleh ada yang mencampuri urusan masing dan tidak ada skinship. Hubungan kita tetap adalah rival. Kau mengerti?” Jantungku berdegup sangat kencang saat ini. Aku khawatir pada suatu hal yang sangat abstrak menurutku. “Dan, tidak boleh ada perasaan pada satu sama lain.” Namja di hadapanku ini tampak sedang berpikir karena saat ini ia sedang memejamkan matanya dengan kening yang sedikit berkerut. Dan, aku memperhatikannya.

“Hm, okay. Biar kutambahkan satu hal yang akan membuat perjodohan ini semakin menarik. Siapapun, yang melanggar peraturan yang baru saja kau sebutkan, maka dia dianggap kalah.” Dia menyunggingkan senyumnya yang menurutku. . . menarik. Tidak! Apa yang kupikirkan? Senyumnya menyebalkan. Sangat menyebalkan.

~o~

Sohee POV

Saat ini aku sedang berada di apartemen Luhan. Sendirian. Aku terduduk di lantai dapur dengan memeluk kedua kakiku sendiri. Kutenggelamkan kepalaku diantara kedua lututku. Mengapa aku bisa seperti ini? Jawabannya adalah karena 5 jam yang lalu Luhan menyuruhku untuk datang ke apartemennya dan memasak makan malam untuknya. Tapi, sampai saat ini namja itu masih belum pulang. Aku sedang menunggunya. Karena dia akan marah jika aku meninggalkan makanan yang sudah dingin untuknya, aku tahu dia benci makanan yang sudah dingin.

Pip!Pip!Pip! Cklek.

Aku mendengar suara pintu yang terbuka dan beberapa langkah kaki memasuki apartemen. Beberapa? Itu berarti Luhan tidak pulang sendirian. Mungkin dia membawa yeoja lagi, dan kurasa saat ini lebih dari satu.

Baby Luhan~ ada banyak makanan di meja makanmu, tapi ini sudah dingin. Sepertinya pelayanmu yang baru melakukan tugasnya dengan tidak baik.”

Itu suara yeoja yang belum pernah kudengar, dia membawa yeoja yang berbeda dari yang kemarin. Aku tahu bahwa sebentar lagi, untuk kesekian kalinya, Luhan akan kembali membuat hatiku merasakan sakit.

“Ahn Sohee! Untuk apa kau duduk di lantai dapurku?” ujar Luhan dingin.

Luhan POV

Sohee berdiri dari posisi duduknya. Kepalanya terus tertunduk. Selalu seperti ini, dia tidak pernah menegakkan kepalanya lagi dihadapanku. Dan ini membuatku merindukan wajahnya.

“Hey, pelayan dengan wajah seperti gisaeng, cepat kau panaskan makanan di meja makan itu! Benar-benar tidak becus!” Yeoja jalang ini menyebut Sohee gisaeng? Aku menatap tajam yeoja yang saat ini sedang berjalan kearahku.

“Kau . . .” Tidak, Luhan! Jangan biarkan topengmu lepas hanya karena amarah. Yeoja ini jauh lebih penting dari Sohee. Ya, ‘Ahn Sohee is nothing to you, Xi Luhan’ kau harus selalu mengingat itu. Tanganku terkepal erat sampai mungkin telapak tanganku akan memutih.

“Kau. . . Ahn Sohee, aku sudah sangat lapar. Kuberi kau waktu 5 menit untuk memanaskan makananku.” Kualihkan amarahku pada Sohee. Aku, benci ketika aku memarahinya. Karena dadaku terasa sangat sesak ketika aku melakukannya.

Aku menarik tangan yeoja jalang ini ke arah ruang tamu untuk mencumbunya disana. Yeoja jalang ini adalah anak dari pemilik SBC, stasiun TV paling berpengaruh di Korea. Aku tahu dia sangat memujaku, karena itu dia mendekatiku. Dan tentu saja aku menerimanya, karena dia orang penting. Dari sudut mataku, kulihat Sohee sudah mulai menyalakan kompor di dapur. Dia sudah menungguku selama lebih dari 5 jam. Aku tahu itu. Sohee terlihat sedikit pucat dari biasanya. Kenapa dia tidak duduk diatas sofa?

“Lu-” Sohee melihat kearahku yang sedang bercumbu dengan yeoja jalang ini. Posisiku yang menghadap kearahnya terhalang oleh tubuh yeoja jalang ini, tapi aku tidak menutup mataku ketika sedang mencium bibir yeoja ini. Pandangan kami bertemu. Dia seperti mematung di tempatnya. Aku dapat melihat setetes air bening jatuh dari matanya. Mata itu menyiratkan kesedihan yang mendalam. Aku segera melepaskan tautan bibirku dengan yeoja jalang ini.

“Lu-Luhan-ssi, aku sudah memanaskan makanannya.” Dia menundukkan kepalanya. “Ini sudah larut malam, aku harus segera pulang. Permisi, Luhan-ssi.”

Punggung Sohee mulai menjauh dari pandanganku. Dan tanpa kusadari, kakiku berjalan untuk pergi menemuinya andai saja tidak ada yeoja jalang ini yang menahan lenganku dan menyadarkanku.

Baby, kau akan pergi kemana?” Tapi saat ini, akal sehatku sedang sedikit bermasalah.

“Pulanglah. Ini sudah malam, aku butuh istirahat dan harus makan. Aku akan membukakan pintu untukmu.” Yeoja jalang disampingku menganggukan kepalanya tanda mengerti. Mungkin dia sudah mempelajari sifatku yang tidak ingin diganggu jika sedang beristirahat. Seperginya yeoja itu dari hadapanku, aku menyusul Sohee.

Sohee POV

Langkah kakiku menjadi gontai setibanya aku diluar gedung apartemen Luhan. Kekuatan yang kugunakan untuk berlari tadi sekarang sudah hilang. Aku memandang kosong entah kemana. Terlalu banyak masalah yang kuhadapi saat ini. Minseok yang membohongiku selama 9 tahun, Jiyeon yang mengalami kebutaan, pekerjaanku di cafe yang terancam hilang karena ulah Luhan, uang sewa kamar yang belum aku bayar selama 2 bulan, dan sekarang Luhan yang memang selalu membuatku hancur. Jika saat ini aku tiba-tiba mengalami amnesia, aku akan menerimanya dengan senang hati.

“Lu, aku ingin melupakanmu. Aku sangat ingin melakukannya. Tapi kenapa dengan bodohnya, aku menerima tawaranmu untuk menjadi koki pribadimu? Kenapa kau melakukan ini padaku?” Lagi-lagi air mata jatuh dari mataku. Aku mendongak keatas saat sebuah layar raksasa di lingkungan ini menampilkan sebuah iklan dengan Luhan sebagai ambassadornya. Luhan terlihat tampan dan manis di dalam iklan itu. Dia tersenyum dan menunjukkan aegyonya yang mampu membuat semua yeoja luluh. Aku jadi teringat pada Luhan ketika berusia 4 tahun, saat itu dia memohon padaku untuk menjadi putri dalam drama yang akan dipentaskan di ulang tahun Ibu Panti. Tapi melihatnya di dalam iklan itu, sekali lagi menamparku dengan sebuah kenyataan pahit yang menyesakkan.

“Dulu atau sekarang, kau benar-benar membuat orang lain tertipu dengan aktingmu. Kau aktor yang sangat hebat, Luhan-ssi.” Teman masa kecilku yang manis, hanyalah salah satu topeng yang dimilikinya.

Flashback

“Lu, apa kau benar-benar akan pergi? Kau akan mengunjungiku setiap minggu kan?” Aku menatap Luhan yang sedang membereskan barang-barangnya dan memasukkannya kedalam sebuah koper kecil ukuran anak-anak. Dia tidak terlihat sedih ataupun senang karena akhirnya orangtuanya menemukannya di panti ini. Sudah 2 tahun Luhan menghilang dari rumah karena sebuah kecelakaan yang dialaminya. Saat pertama kali Luhan datang di panti ini, dia selalu menjauh dari semua orang dan sangat ingin pulang. Kata Luhan rumahnya seperti istana dan dia hidup layaknya seorang pangeran. Tapi, aku yang pada saat itu dijauhi oleh teman panti yang lain karena mereka menganggapku anak pembawa malapetaka, entah mengapa sangat ingin berteman dengan Luhan. Dan lama-kelamaan, kami menjadi sepasang sahabat yang tidak bisa dipisahkan. Kami tidur dikamar yang sama, berbagi pakaian dan makanan, bermain bersama, bahkan mandi bersama.

Luhan menatap mataku datar. Belum pernah aku melihat Luhan seperti ini, terasa begitu jauh dan dingin. “Kau bodoh, Ahn Sohee.” Aku tersentak mendengar perkataannya. Caranya mengucapkannya membuatku ingin menangis.

“Apa kau tidak pernah sadar bahwa selama 2 tahun ini, aku hanya berakting menjadi teman baikmu karena aku merasa bosan? Aku sangat bosan sampai aku ingin bermain-main denganmu, berpura-pura menjadi teman baikmu. Untuk apa aku berteman denganmu yang sama sekali tidak berguna untukku? Hanya untuk membuang-buang waktu dan hiburan semata. Aku adalah aktor yang sangat hebat bukan? Peran pertamaku adalah menjadi teman baikmu, dan itu adalah peran yang sangat mudah.” Aku berpikir bahwa jika aku menangis aku akan terlihat sangat lemah. Tapi usiaku masih 6 tahun dan aku belum bisa menahan tangisku sendiri.

“Ya, kau adalah aktor utama yang sangat hebat, Lu. Aku percaya pada peranmu, sangat percaya akan semua dialog yang kau ucapkan. Sampai-sampai aku tak bisa melihat kenyataan. Kau memang terlalu jauh.”

“Terima kasih atas pujianmu, Sohee. Aku merasa tersanjung. Tapi, aktingku belum sempurna, ini semua karena kau yang terlalu mudah dibodohi. Tapi, karena kau adalah fans pertamaku, aku akan mengajukan sebuah tawaran untukmu. Kau ingin aku mengucapkan salam perpisahan dengan peran yang mana? Peran antagonisku saat ini atau peran protagonisku selama ini? Mana yang kau mau?” Aku yakin saat ini mataku sudah memerah karena menangis. Sulit untukku percaya pada semua perkataan Luhan. Aku tidak pernah merasa dia sedang membohongiku, karena senyuman Luhan terlihat sangat tulus bagiku. Ataukah mungkin benar yang Luhan katakan bahwa aku hanya terlalu bodoh?

“Aku ingin salam perpisahan dari dirimu yang sebenarnya, Luhan.” ujarku lemah. Aku ingin melihat dirimu yang sebenarnya, Lu. Seperti apa dirimu yang sebenarnya? Seperti apa jika kau tersenyum dengan tulus?

“Aku tidak tahu caranya. Jadi, akan kusimpan salam perpisahanku sampai aku tahu caranya.” Dan aku akan menunggu salam perpisahan darimu, Lu. Sampai kapan pun itu.

Flashback off

“Aku masih tetap menunggunya, Lu. Salam perpisahan darimu.” ujarku pelan.

Aku merasakan tanganku ditarik oleh seseorang segera setelah aku mendengar bunyi suara klakson mobil dari arah kiriku. Kejadiannya terjadi terlalu cepat ketika orang yang menarik tanganku, sekarang mendekapku dengan erat. Aku tidak tahu siapa orang ini, tapi mengenal aroma tubuhnya.

“Apa kau ingin mati, huh?” Suara dan aroma ini, Xi Luhan.

“Lu-Luhan-ssi­?” Aku dapat mendengar detak jantungnya yang cepat dan merasakan napasnya yang memburu. Dia menjauhkan tubuhnya dan menatapku dengan cemas.

“Kau demam, Ahn Sohee.” Aku tidak begitu mendengar apa yang diucapkannya. Kepalaku terasa pening dan berat. Dan selanjutnya, aku tidak tahu apa lagi yang terjadi pada diriku karena pandanganku menjadi gelap.

~o~

“Tuan Minseok, saya sudah menemukan keberadaan gadis bernama Jiyeon itu. Gadis itu berada di Jeollanam-do Provinsi Gokseong-eup Daepyong-ri, pemukiman di sekitar gunung Jiri.”

Serketaris Ahn benar-benar melakukan pekerjaannya dengan cepat. Baru pagi ini aku mendengar bahwa Myungsoo memintanya untuk mencari keberadaan Jiyeon lalu menyuruhnya untuk memberitahuku terlebih dahulu sebelum pada Myungsoo, dan malam ini dia sudah mendapatkan keberadaan Jiyeon. Dia benar-benar setia kepadaku. Ya, Serketaris Ahn ditunjuk oleh appa untuk menjadi serketaris pribadi sekaligus bodyguardku, dan aku bersyukur mendapatkannya. Usia serketaris Ahn hanya terpaut 5 tahun dariku, jadi aku memutuskan untuk memanggilnya hyung. Aku sudah memintanya untuk memanggiku dengan nama saja, tapi menurutnya itu tidak sopan.

Kamsahamnida, hyung. Oh, hyung, tolong siapkan keberangkatan dari Paris ke Seoul malam ini juga. Dan besok pagi-pagi sekali, siapkan mobil untukku. Aku akan mengendarainya sendiri, karena ini bersifat personal.”

“Baiklah, akan saya siapkan. Tunggulah paling lama 30 menit dari sekarang dan semuanya akan siap untuk tuan.” Dia memutuskan sambungan teleponnya. Dia pasti sudah mulai melaksanakan apa yang kuminta. Dan sekarang, tugasku hanya tersisa satu, menghubungi Jinri, Sohee dan Suzy. Menghubungi Jinri adalah hal yang mudah bagiku. Tapi Sohee, dia mungkin masih marah padaku. Aku hanya bisa meminta bantuan Luhan saat ini. Kalau begitu, aku akan menghubungi Suzy terlebih dahulu.

“Suzy-ah, tolong angkat panggilanku.”

“. . .” Suzy mengangakat panggilanku, tapi tidak ada suara disebrang sana. Mungkin Suzy juga marah padaku.

“Suzy-ah . . .”

“. . .” tetap tidak ada jawaban.

“Suzy-ah­, mianhae. . .” ujurku lembut.

“Kau menyakitinya, Minseok-ah. Dia sangat hancur saat ini. Firasatku mengatakan bahwa kau tidak sepenuhnya berbohong pada mereka. Aku tidak melihat kepalsuan dimatamu. Bisakah kau menjelaskannya padaku?” Aku menghela napas pelan.

“Aku hanya ingin jujur tentang identitasku dihadapan mereka. Tidak mudah untukku berbohong tentang identatasku sendiri selama 9 tahun. Aku tidak pernah menipu mereka selain tentang identitasku. Kehidupanku selama 9 tahun, benar-benar seperti apa yang Sohee dan Jiyeon lihat. Pada dasarnya, aku adalah orang yang sangat sederhana dan mencintai kebebasan. Karena itulah aku kabur dari rumah saat usiaku 8 tahun. Persahabatanku dengan kalian bukanlah sebuah kebohongan. Aku benar-benar menyayangi kalian. Persahabataan dengan kalian adalah hediah terindah untukku. Apalagi aku sangat menyayangi Myungsoo. Aku sudah meninggalkannya selama 9 tahun, disaat dia masih berumur 7 tahun. Aku ingin bersahabat dengan kalian, tanpa lagi harus menutupi identitasku sendiri dan meninggalkan Myungsoo.” Aku harap, Suzy bisa mengerti tindakkanku ini.

“Benar firasatku. Yang lainnya hanya perlu mendengar penjelasanmu. Lalu, kita bisa kembali seperti dulu.” Ujarnya senang.

“Sebelumnya, Jinri sudah tahu akan hal ini. Dia menemaniku saat aku mabuk didekat sungai Han.”

“Kalau begitu, kau harus datang kemari besok lusa. Jinri dan Sohee akan datang untuk menjenguk Jiyeon disini.” Aku sedikit heran dengan perkataannya.

“Kemari? Hoksi, kau sedang bersama dengan Jiyeon saat ini?”

Ne. Jiyeon mengalami kecelakaan yang membuatnya buta, dia butuh istirahat sekaligus membiasakan dan menenangkan diri. Jadi aku pikir, suasana desa akan membuatnya jauh lebih baik. Dia kemari bersama dengan Chanyeol-ssi dan aku. Aku sangat kaget ketika mengetahui bahwa mereka berdua adalah kakak-beradik. Apa kau juga mengetahui ini, Minseok-ah?” Jadi Chanyeol sudah berada disamping Jiyeon saat ini? Baguslah kalau begitu.

“Hm, aku sudah mengetahuinya sejak dulu. Chanyeol adalah salah satu sahabatku. Aku akan kesana besok sore. Malam ini juga aku pulang ke Seoul.” Aku lega bahwa sekarang aku sudah bisa berbicara pada Suzy.

“Desa ini adalah kampung halamanku, Minseok-ah. Ah! Kau tidak memanggil Chanyeol-ssi dengan sebutan ‘hyung’, itu berarti kau seusia dengannya. Apa aku harus memanggilmu dengan sebutan ‘oppa’?” Bahkan dia sudah menggodaku sekarang.

“Ya! Aku ini baby-face, aku akan terlihat tua jika kau memanggilku ‘oppa’! Keundae, gwenchana. Jika kau memanggilku ‘oppa’, Chanyeol akan cemburu padaku. Suzy-ah, kenapa kau masih memanggil bocah itu dengan sebutan ‘-ssi’?” Aku balik menggoda Suzy. Ah, betapa rindunya aku padanya.

“I-Ini sudah malam, Minseok-ah. Aku takut Jiyeon akan bangun dan mendengar aku berbicara padamu. Dia bisa teringat lagi pda kejadian itu. Jaljayeo, Minseok-oppa. Dia memutuskan sambungan telepon dengan cepat. Sepertinya dia malu karena godaanku. Aku kembali menghela napas pelan.

“Aku harap, semuanya akan kembali seperti semula.”

 

20 responses to “[CHAPTER 8] School Rush!! Season 2

  1. daebak… sedikit kupa sih sama cerita sebelumnya tapi ini sukses buat mataku berair karena sikap Luhan…
    wait berarti yang akan bertemu dengan Jiyeon dulu minseok dong? dan bukan myung…
    oke di tunggu part selanjutnya thor…
    kalau boleh panjangan dikit ya😀

  2. Makin seru thor tapi kurang panjang….stlh sekian lama menunggu berharap panjang trus ada myungyeon momentx tp sdkit kcewa hehehe next part semoga bsa lbh pnjg nd moment myungyeon dibanyakin ya…dsini jiyeon jg cm nongol bntr pdhal dia pemeran utamax….mian byk cincong…heee hwaiting thor….semoga sekolahnya lancar

  3. Aku harap kesalahpahaman antara minseok sohee sma jiyeon dapat cepat terselesaikan ^.^
    aaaa kirain bkalan ada moment myungyeonnya, eh ternyata ga ada😦
    ga ngerti sebenernya apa sih yg luhan mau?
    Ditunggu next chapternya ya😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s