[CHAPTER] IT’S CRAZY #2

itscrazy

( Poster by :HRa@HighSchoolGraphics (thanks ^^)

Author : Park Eun Ji
Main Cast:
Bae Suzy (MISS A)
Kim Myung Soo (INFINITE)
Yook Sung Jae (BTOB)
Yoo Young Jae (B.A.P)
Cameo:
Suprise for you 😉
Rating : PG-13
Genre : Romance, School-life
Disclaimer : All cast belong to God and his/herself 🙂 Plot?Mine! 🙂
Previous :  #BREAKUP

Enjoy~

CHAPTER 2 #CRAZYDAY

Aku mengunci pintu rumahku lalu pergi menuju sekolah adikku. Kedua orang tuaku sedang ke luar kota untuk tugas dinas yang diberikan perusahaan mereka masing-masing. Sementara adikku satu-satunya Seorin sedang bersekolah. Setelah aku mengantarnya tadi, aku kembali ke rumah untuk mengambil tas ranselku dan beristirahat sebentar. Jarak sekolah dengan rumah cukup dekat, hanya 500 meter.

Saat berjalan menuju sekolah Seorin aku melihat dua orang anak sekolah sedang tertawa-tawa dengan akrab. Itu membuatku jadi teringat dengan Seolhyun. Ia juga sahabatku sejak SMP. Seminggu yang lalu, dia memberitahuku bahwa ia melihat Myungsoo bermesraan dengan wanita lain. Saat itu, aku tidak percaya dengan perkataannya. Kami terus berdebat hingga akhirnya tak bicara sampai sekarang. Sungguh, aku menyesal karena bertengkar dengannya. Sudah saatnya aku meminta maaf kepadanya. Aku hendak menekan nomor Seolhyun ketika aku melihatnya dari kejauhan. Gadis ramping itu juga sedang memandangku dan langsung melambai riang, aku menengok ke kanan dan ke kiri. Siapa tahu dia tidak menyapaku, kami kan masih bertengkar. Namun, tidak ada siapa-siapa selain aku dan dia di jalan ini.

” Hei, aku menyapamu tahu.” Seolhyun langsung merangkulku dan berkata dengan riang. Sementara aku masih bingung harus berkata apa. Sudah seminggu aku bertengkar dengannya, aku senang bisa mendengar suara gadis cerewet ini lagi.
” Oh, hai. ” Akhirnya aku membalas sapaannya walaupun terlambat. Seolhyun mendengus lalu melepas rangkulannya dan berdiri di hadapanku sambil berjalan mundur.
” Suzy! Kau sudah mengakhiri hubunganmu dengannya? Bagus sekali! Aku menunggumu melakukan ini.” Suara Seonra yang penuh semangat langsung memenuhi jalanan sepi ini dan membuat telingaku berdenging sesaat. Seonra pasti mengetahuinya dari Youngjae. Kemudian aku teringat suatu hal, aku harus minta maaf kepadanya.
” Itu keputusan yang terbaik yang pernah kubuat. Maaf ya, aku tidak mempercayai perkataanmu waktu itu. “‘Aku menundukkan kepalaku dengan penuh sesal. Seharusnya aku lebih mempercayai sahabatku, bukan si brengsek itu.
Gadis berambut sebahu itu malah tertawa ringan, sepertinya ia sudah tak marah lagi padaku. Syukurlah.” Sudahlah lupakan saja. Aku juga pasti akan begitu jika aku berada di posisimu. Maafkan aku juga karena bersikap sangat keras kepala waktu itu, aku tak mau melihatmu terluka lebih dalam.” Seonra menghentikan langkahnya berkata dengan serius, membuatku mengangkat kepalaku dan tersenyum pahit. Teringat dengan diriku yang dulu dengan bodohnya mempercayai Myungsoo, sehingga aku membelanya dan malah memarahi Seolhyun karena berkata yang tidak-tidak.
” Sekarang kau baik-baik saja? ” Seolhyun kembali berjalan di sampingku. Aku mengalihkan pandanganku ke pohon-pohon yang ditanam rapi di sisi jalan yang kami lewati. Membiarkan pertanyaan Seonra menggantung. Walaupun aku terlihat baik-baik saja sebenarnya aku tidak baik-baik saja. Myungsoo menjadi orang yang cukup berarti bagiku, sakit rasanya melihat orang yang berarti bagiku mengkhianatiku begitu saja.
” Ah pokoknya kau harus bisa melewati semua ini. Kau orang yang kuat Suzy, jangan biarkan orang seperti Myungsoo menghancurkan hidupmu.” Seolhyun kembali berkata memberi dukungan untukku. Gadis berambut hitam itu pasti sudah tahu jawabannya, makanya ia memilih untuk tidak mendengarnya karena ia pasti tidak akan menyukai jawaban yang kuberikan.
” Terima kasih Seolhyun. ” Aku mengucapkan dua kata itu dengan tulus.
Seolhyun tersenyum lebar sambil menggamit lenganku. ” Ah manis sekali. Kau selalu merepotkanku tapi baru kali ini kau berterima kasih padaku.”
Aku mencibir mendengar perkataan Seonra. Aku tidak merepotkannya, yah kecuali menjadi tempat keluhanku tentang Myungsoo dan banyak lagi.
Seolhyun melanjutkan perkataannya lagi. ” Hei, kau mau ke mana? Mau kencan buta ya?”
Kucubit tangannya yang ada di lenganku karena sembarangan bicara. ” Apa?Aku hanya bertanya.”
” Aku mau menjemput Seorin tahu. Kau sendiri mau ke mana?” Aku balik bertanya.
Seolhyun menghela napas. ” Setelah menemuimu, aku tidak ada kegiatan apapun. Aku rasa aku akan seharian di kamarku menonton drama.”
Aku merespon perkataan Seolhyun dengan anggukan. Musim panas kali ini memang benar-benar panas sehingga membuat orang malas untuk keluar rumah.

Saat di pertigaan, aku berhenti. Seolhyun juga melakukan hal yang sama dan menatapku dengan pandangan bertanya.
” Kau mau ikut ke sekolah Seorin?” Aku bertanya.
Seolhyun menggeleng-geleng. ” Tidak tidak tidak. Aku mau pulang saja, kalau begitu sampai jumpa. Oh ya, hati-hati. Jangan sampai menginjak kotoran anjing karena terus memikirkan Myungsoo.”
Aku langsung sewot ” Heol, siapa juga yang memikirkan orang itu? Sudah pergi sana. Bismu sudah datang tuh. ” Aku mengedikkan daguku ke arah bis yang hendak berhenti di halte bus tak jauh dari kami. Seolhyun berseru panik lalu segera pergi, aku tersenyum kecil lalu berbelok ke sekolah Seorin.

Aku menyukai sekolah Seorin, gedung sekolahnya memiliki tiga tingkat dan setiap tingkat di cat dengan warna pastel manis yang berbeda. Di depan bangunan, terdapat pohon- pohon yang ditanam dengan rapi lengkap dengan tempat bermain yang memiliki alat-alat permainan berwarna cerah. Beberapa orang tua tampak menemani anaknya bermain di sana. Aku melirik jam tanganku, rupanya aku datang 10 menit lebih awal. Kuputuskan untuk pergi ke tempat khusus menunggu di samping tempat bermain. Aku memberikan senyum canggung kepada para ibu yang memandangku, beberapa membalas senyumku sisanya kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Setelah itu, aku duduk di salah satu kursi di pojokan sambil menatap anak-anak yang sedang bermain jungkat jungkit.

” Hei, guru baru itu terlihat sangat menarik ya?” Aku mendengar ahjumma di depanku berkata kepada ahjumma yang sedang memoles bedak di sebelahnya. Beginilah kalau ‘bergabung’ dengan ahjumma, pasti tidak jauh dari gosip.

Ahjumma yang memoles bedaknya berhenti sebentar untuk mengangguk kemudian mematut dirinya di tampilan kaca. ” Dia bisa menjadi foto model kalau dia mau. Ah tapi jangan, aku tidak bisa melihatnya lagi di sini.” Ahjumma itu kemudian merogoh tas super besarnya untuk mengambil lipstik merah.
Ahjumma di depanku kembali berkomentar. “Anakku diajar olehnya. Cara mengajarnya pun sangat baik dan dia sangat sopan sekali saat aku bertemu dengannya. Benar-benar tipe menantu ideal, coba saja aku punya anak yang lebih besar pasti aku akan menikahkan anakku dengannya. ” Aku mendengus mendengar perkataan konyol Ahjumma itu. Mereka ini, lebih mementingkan seorang guru baru yang katanya sangat menarik sampai-sampai tidak menghiraukan anak-anaknya yang mungkin sebentar lagi akan keluar. Tunggu, sepertinya dengusanku terdengar karena sekarang mereka menoleh ke arahku dan memberi tatapan tajam. Aku hanya tersenyum kaku lalu pergi dari tempat itu karena kulihat sudah banyak anak-anak yang keluar. Seorin bisa saja berada di antara anak-anak itu.
Aku bangkit berdiri dan melambai kepada Seorin yang tengah dituntun oleh seorang guru yang wajahnya baru kulihat. Guru muda itu tersenyum formal ketika melihatku. Sebelum aku sempat membalasnya, mendadak segerombolan ahjumma langsung mengerubuti guru muda itu. Sebelum Seorin terjebak, aku menariknya dari genggaman guru itu dan segera membawa Seorin pergi. Astaga, ini benar-benar mengerikan. Apa ini terjadi setiap hari?

” Seorin, kau tidak apa-apa kan?” Setelah agak jauh dari gerombolan ahjumma mengerikan itu, aku berjongkok dan mengecek keadaan Seorin.
Seorin mengangguk-angguk, membuat pipi tembamnya terlihat makin menggemaskan. ” kak Sungjae tampan kan?”
” Kak Sungjae?” Aku mengerutkan dahi mendengar pertanyaan tidak relevan dari Seorin.
” Iya, guruku, yang menuntunku barusan. Kakak melihatnya kan?” Dengan tatapan polosnya Seorin bertanya padaku.
Hah? Kenapa dia mengajukan pertanyaan seperti itu. Memang sih lesung pipi yang dia punya menarik, tapi aku tidak benar-benar menganggapnya tampan. Aku masih sakit hati dengan Myungsoo jadi aku sedang sebal dengan semua pria di muka bumi ini. Kecuali Ayah dan Youngjae.
Aku memandang Seorin yang masih menunggu jawabanku lalu tertawa kaku. ” Kau ini bicara apa? Ayo kita ke rumah Paman Song.” Aku berdiri dan menuntun tangan Seorin, tapi Seorin menahannya.
” Ada apa?”Aku membalikkan badanku dan menatap Seorin yang kini sudah mengerucutkan bibirnya.
” Aku tidak mau di rumah Song Ahjussi, aku bosan. Aku ingin ikut kakak saja.” Seorin berkata. Aku menghela napas, tidak biasanya dia rewel seperti ini. Biasanya dia anak yang penurut.
” Tapi Seorin, kakak harus bekerja. Kakak tidak bisa menjagamu Seorin. “Aku mengelus lembut kepalanya. Seorin menggeleng keras-keras.
” Aku bisa jaga diriku sendiri. Pokoknya aku ingin ikut kakak.” Seorin mulai merengek dan hampir menangis. Akan repot untuk mendiamkannya jika dia sudah menangis.
Jadi aku kembali menghela napas dan berkata ” Baik-baik, kau ikut dengan kakak. Tapi kau harus berbuat baik ok?” Ia mengangguk walaupun masih cemberut. Setidaknya ini jauh lebih baik.

Setelah 15 menit menaiki bis, kami sampai di minimarket tempatku bekerja. Aku mendudukkan Seorin di salah satu kursi dan merapikan ikatan rambutnya yang agak berantakan. ” Seorin kau diam disini ya, jangan bicara pada orang asing dan kau perlu apa-apa cepat panggil kakak ya.”
Seorin mengangguk-angguk sambil memakan es krim vanilla kesukaannya sementara aku selesai mengikat rambut Seorin. Aku mencari-cari Youngjae, dia bekerja paruh waktu di sini juga. Astaga ceroboh sekali dia membiarkan minimarket tanpa pengawasan seperti ini.
Baru saja aku selesai berpikir, pintu minimarket terbuka dan aku melihat Youngjae dengan rambut yang agak berantakan. Aku hendak membuka mulut untuk menegur Youngjae, tapi ia sudah keburu berkata “Aku habis mengembalikan dompet seseorang yang tertinggal. Tadi ada Jackson, kurasa dia sudah pergi duluan.”
Aku menutup mulutku. Lupakan pikiran negatifku tentang Youngjae yang ceroboh, aku salah. Aku lupa Youngjae selalu melakukan pekerjaannya dengan baik dan tidak melepas tanggung jawab yang diberikan.
” Ah, syukurlah kau sudah datang. Tolong gantikan aku ya, aku harus pergi. Sampai jumpa. ” Youngjae berkata dengan cepat sambil menepuk-nepuk bahuku kemudian bergegas mengambil tas ranselnya di dalam ruangan penyimpanan lalu segera pergi begitu saja. Orang itu, sibuk sekali sepertinya hari ini. Pasti ia pergi ke tempat paruh waktu yang lain. Terkadang aku khawatir melihatnya yang bekerja keras seperti itu.

Tersadar dari lamunan, aku pergi ke ruang penyimpanan untuk mengambil beberapa jenis minuman dingin untuk ditaruh di rak pendingin. Musim panas membuat banyak orang membeli minuman dingin untuk menyegarkan mereka.
” Loh, Suzy. Tidak biasanya kau mengajak adikmu.” Hani, rekan kerjaku yang juga teman sekelasku baru datang sambil menaruh tasnya di ruang penyimpanan.
” Adikku tidak mau dititipkan di rumah pamanku, jadi aku membawanya ke sini.” Jelasku sambil melirik ke arah Seorin, yang kini sudah menghabiskan es krimnya dan mulai membuat origami walaupun lipatannya masih agak berantakan.
Hani mengangguk-angguk kecil. Aku menghampirinya dan menggamit lengannya ” Hani, tolong bantu aku menjaga Seorin ya? Kau kan berjaga di kasir jadi kau lebih bisa mengawasinya. ” Aku berkata sambil menampilkan cengiran lebar dan menampilkan puppy eyes, Hani mengangkat alisnya melihat kelakuanku dan melepaskan tanganku dari lengannya.
” Baiklah, tidak usah berlebihan seperti tadi. Kau terlihat mengerikan tahu. ” Hani memberiku tatapan setengah ngeri.
Aku terkekeh pelan dan menepuk-nepuk bahunya. ” Ya sudah, masih banyak yang harus kukerjakan. Terima kasih ya sudah menolongku.”
Hani membentuk gestur ok dengan tangannya lalu beranjak pergi. Aku sendiri mulai memasukkan botol-botol minuman ke rak.

” Menurutmu lebih baik air mineral atau jus jeruk? ”
Seseorang bertanya ketika aku masih sibuk memasukkan botol ke rak pendingin. Tanpa menatapnya aku berkata. ” Kata temanku, musim panas hari ini mencapai suhu tertinggi dan membuat kita lebih cepat dehidrasi. Kurasa lebih baik kau memilih air putih karena itu akan lebih efektif untuk menghilangkan dehidrasi dibandingkan dengan jus jeruk.”
” Kau selalu memberikan pilihan yang bagus untukku Suzy.”
Tanganku yang hendak menaruh botol di rak pendingin terambang di udara. Intonasi dan setiap kata yang diucapkannya, sangat persis dengan Myungsoo. Aku mengalihkan pandanganku dari botol-botol ke orang di sebelahku ini. Mataku melebar begitu melihat Myungsoo benar-benar ada di hadapanku. Ia tersenyum lemah begitu pandangan kami bertemu. Kartu pengenal repoter masih tergantung di lehernya. Kemejanya tampak berantakan, mungkin habis berdesak-desakan untuk meminta keterangan dari pejabat atau apa. Rambutnya kini sudah di cat cokelat tua dan dipotong lebih pendek. Lingkaran hitam tampak terlihat jelas di bawah kedua matanya, membuktikan bahwa ia kurang tidur selama beberapa hari ini. Yang tidak berubah dari Myungsoo adalah aroma parfum mangga bercampur aroma rerumputan yang selalu aku suka. Bahkan hingga saat ini.

Tunggu, untuk apa aku memperhatikan pria bodoh ini?

” Apa kabar, Suzy?” Myungsoo kembali bersuara. Kalau saja aku menyadarinya lebih awal, aku tak perlu berbaik hati memberikan saran untuknya.
Aku segera membalikkan badanku. Berada lebih lama dengannya hanya akan membuatku merasa sakit dan sedih. Pada akhirnya, aku hanya akan terlihat lemah di hadapannya. Aku menghentikan langkahku begitu melihat sepatu converse cokelat milik Myungsoo yang sudah usang, selanjutnya aku melihat kalung pemberian Myungsoo di hadapanku. Aku terpaku melihat kalung itu. Bagaimana bisa ia mendapatkannya?
” Maafkan aku. ” Myungsoo bersuara, membuatku mengangkat kepalaku. Aku masih terdiam dan mencengkram erat keranjang kosong bekas botol minuman untuk mengendalikan emosiku.
” Hei, Myungsoo! Kita mendapat panggilan mendadak. Ayo cepat! ” Seorang laki-laki pertengahan tiga puluhan dengan kamera perekam tahu-tahu menghampiri Myungsoo dan menariknya untuk segera pergi.
” Tunggu dulu, aku-”
” Jangan mengulur-ulur waktu. Kita harus bergegas karena kita yang paling dekat dengan tempat kejadian.” Lelaki itu berkata tegas lalu segera pergi tanpa menunggu Myungsoo.
” Kita bicara lagi nanti. “Myungsoo berkata lalu segera menyusul lelaki itu sambil memasukkan kalung ke dalam saku bajunya. Apa katanya? Kita bicara lagi nanti? Yang benar saja, aku bahkan tidak sudi untuk bertemu dengannya lagi.

Aku menghela napas sambil memegang kepalaku yang mendadak terasa berat. Kedatangan Myungsoo tadi benar-benar tidak terduga. Myungsoo memang sempat menelepon dan mengirimkan pesan beberapa kali kepadaku, namun aku tidak menggubrisnya. Aku tidak menyangka Myungsoo akan datang ke sini, ke tempat kerjaku. Aku melongok ke depan minimarket untuk melihat Seorin. Hani sedang tertawa bersama Seorin, entah menertawakan apa. Baguslah Seorin sementara waktu ada yang menjaga, aku ingin menyendiri sebentar untuk menenangkan pikiranku. Selama beberapa menit di toilet, aku akhirnya keluar. Bagaimanapun aku harus bekerja, masih ada beberapa jam lagi sebelum shiftku berakhir.

IT’S CRAZY

Aku meregangkan badanku, akhirnya shiftku berakhir juga. Selama aku bekerja, ajaibnya Seorin tidak bosan dan malah memandang setiap orang yang lewat di depan minimarket dengan penuh minat. Padahal di rumah Paman Song, ia bisa bermain dengan Happy, anjing jenis poddle berwarna putih yang baru beberapa bulan dipelihara. Aku tidak tahu, mungkin Seorin ingin suasana baru.
” Hani, tolong jaga Seorin sebentar ya. Aku ingin bersiap-siap dulu. ” Aku langsung bergegas pergi ke ruang penyimpanan tanpa menunggu jawaban Hani. Hani menghela napas melihat tingkahku seperti orang yang mendapat liburan selama 2 bulan.
Setelah memakai jaket dan mengambil ranselku, aku pergi ke tempat Seorin. Hani sudah tidak ada, ponselku bergetar. Aku membaca pesan masuk dari Hani bahwa pacarnya sudah menjemput dan ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi kalau tidak ia akan terlambat ke acara ulang tahun teman pacarnya. Ya sudah lah, lagi pula ada sudah ada Jimin, orang yang bertugas setelahku.
” Kau sendirian?” Aku bertanya kepada lelaki itu, yang sedang sibuk mengatur susunan kardus susu. Padahal susunannya sudah sempurna, ia memang perfeksionis….atau kurang kerjaan.
” Ada Chansung. Orang itu, selalu saja terlambat masuk. Tidak siang, tidak malam, pasti saja begitu. ” Gerutuan Jimin berhenti bertepatan dengan tangannya yang berhenti menyusun kardus susu dan menatapku dan Seorin bergantian.
” Kau sudah punya anak? Padahal kau masih muda. ” Jimin berkomentar, sementara aku membelalakkan mataku. Kalau saja tidak ada Seorin, aku sudah memukul kepalanya saat ini juga. Ada apa sih yang di ada otaknya? Gumpalan kertas? Bicara sembarangan seperti itu.
” Hei, ini adikku tahu. Sudahlah aku pulang dulu. “Aku segera menggendong Seorin kemudian pergi dari minimarket itu. Sayup-sayup aku mendengar Jimin menggumamkan kata ‘hati-hati’ dan Seorin yang ada di gendonganku melambai riang kepada Jimin.
Di dalam bus, aku melepas kunciran Seorin yang sudah berantakan, aku memandang Seorin yang sedang menguap lalu menyisir rambutnya dengan jariku. ” Lihat, kau terlihat lelah. Sudah kakak bilang kan lebih baik di rumah Paman Song?”
Seorin mengangguk-angguk. ” Tapi ikut bersama kakak juga menyenangkan, aku bisa melihat banyak orang yang lewat di depan minimarket.”
Aku tersenyum kecil mendengar jawaban polos Seorin, lalu ia berkata lagi, kali ini dengan mata setengah terpejam dan suara yang lebih pelan. ” Besok, titip aku ke rumah paman Song saja ya, aku sudah rindu dengan Happy.” Setelah ia mengatakan itu, matanya benar-benar terpejam. Aku tersenyum melihat Seorin yang sudah tertidur lalu memandang ke bangunan-bangunan yang tertimpa cahaya matahari terbenam.

Aku sedang membaringkan Seorin di tempat tidurnya ketika perutku mendadak berbunyi nyaring dan aku merasa haus sekali. Tadi siang, aku hanya minum sebotol kecil air mineral dan memakan sedikit kimbab yang tidak Seorin habiskan. Setelah berganti baju dengan kaus dan celana training, aku menuju kulkas dan tertawa kaku begitu melihat tidak ada apa-apa di kulkas. Aku lupa bahwa sebelum pergi ibu berkata untuk mengisi persediaan di kulkas, dan aku belum melakukannya hingga sekarang. Sambil memegang perutku yang terasa sangat kosong, aku meraih jaket yang tersampir di sofa ruang tamu untuk membeli kimbab dan beberapa makanan ringan di minimarket dekat rumahku. Untuk bahan makanan di kulkas, besok aku akan membelinya. Seorin tidak akan terbangun ketika aku pergi, lagipula aku hanya pergi sebentar saja. Jadi dengan terpaksa aku harus meninggalkan Seorin di rumah. Itu jauh lebih baik daripada aku di rumah saja lalu keesokan harinya ditemukan oleh Seorin dengan keadaan seperti zombie karena tidak makan dan dehidrasi. Membayangkannya saja sudah membuatku bergidik. Itu sangat tidak bagus.

Saat membuka pintu rumah, aku terpaku. Myungsoo, ada di hadapanku saat ini. Ia menatapku nanar dan menurunkan tangannya yang hendak memencet bel rumahku. Tampilan Myungsoo masih sama seperti aku melihatnya tadi siang, hanya saja kini kemejanya lebih kusut dan wajahnya terlihat sangat lelah.

Sial, aku kembali memperhatikan Myungsoo. Untuk apa aku melakukannya?

” Bisa kita bicara?” Myungsoo mengeluarkan suara.
” Terserah.”Aku mengunci pintu rumahku dan berjalan tanpa menunggu Myungsoo. Walaupun tidak ada gunanya bicara dengan Myungsoo, aku ingin membiarkan dia bicara agar tidak perlu lagi menghubungi dan berusaha untuk menemuiku.
” Aku sudah putus dengan Sora. ” Myungsoo berkata saat kami baru beberapa langkah berjalan, langkahku sesaat berhenti. Myungsoo juga ikut menghentikan langkahnya dan menunggu reaksiku. Memangnya kenapa kalau dia putus? Aku harus melempar konfeti dan menggelar karpet merah untuk merayakannya?
Aku melanjutkan langkahku, tapi Myungsoo segera berdiri di hadapanku. Mendadak, bayangan ia berciuman dengan Sora muncul di benakku, membuat hatiku semakin terluka. Selama berpacaran, dia tidak pernah menciumku. Bahkan mengecup dahi pun tidak.
” Kau tahu, sebenarnya aku ingin sekali meMmu. Tapi aku tidak melakukannya, aku terlalu sakit hati sampai tidak bisa menamparmu.” Aku berkata dengan suara bergetar, tanganku mengepal kuat. Setengah mati aku berusaha agar aku tidak lepas kendali. Bagaimanapun harus menghadapi ini, aku harus menyelesaikannya.
” Apakah kau menganggap hubungan kita selama ini hanya sebuah permainan?” Ini menyebalkan, air mata mulai mengalir di pipiku. Myungsoo hendak mengulurkan tangan untuk menghapus air mataku, tapi dengan cepat kutepis tangannya. Aku menghapus air mataku, tapi percuma karena mataku mengeluarkan lebih banyak air mata lagi.
” Aku minta maaf, aku benar-benar menyesali perbuatanku. ” Myungsoo tampak benar-benar bersalah. ” Sungguh, tidak sekalipun aku menganggap hubungan kita ini hanyalah sebuah permainan.” Myungsoo melanjutkan kata-katanya lagi.
Aku menarik napas dan melepasnya untuk menenangkan diri. Setelah itu aku menghapus sisa-sisa air mata di wajahku.” Lalu kenapa kau berselingkuh? Itu berarti kau tidak menganggap hubungan kita serius. Kau hanya bermain-main selama ini. ” Tandasku, Myungsoo terdiam. Seperti membenarkan perkataanku.
” Aku bisa berubah Suzy, bisakah kau memberiku kesempatan? ” Pinta Myungsoo sementara aku mendengus keras.
” Tentu saja semua orang bisa berubah termasuk aku. Aku bukanlah wanita naif seperti dulu, aku tidak akan memberimu kesempatan. ” Aku menatap iris hitam milik Myungsoo dengan penuh keyakinan. Myungsoo hendak berkata sesuatu, tetapi aku langsung melanjutkan kalimatku. ” Sekarang, tolong jangan ganggu aku lagi. Kau urus hidupmu dan aku urus hidupku. ” Aku bergeser ke kanan agar bisa melewati Myungsoo.
” Suzy, aku tidak akan menyerah. ” Myungsoo bicara, membuatku menghentikan langkahku sesaat.
” Aku akan menyimpan kalung ini sampai kau mau untuk menerimanya lagi. Aku akan membuatmu yakin padaku.” Ucap Myungsoo penuh keyakinan, yang terdengar seperti bualan bagiku. Dia sudah menghancurkan kepercayaan yang telah kuberikan, bodoh sekali aku jika mau percaya lagi dengannya. Kulanjutkan langkahku tanpa mempedulikan keberadaan Myungsoo lagi. Memangnya aku percaya begitu saja dengan kata-kata dari orang seperti dia?

Selama menyusuri jalan menurun menuju minimarket, aku hanya menatap kosong jalan yang kujejaki. Aku begitu kelaparan dan kehausan sehingga tidak sanggup untuk memikirkan apapun. Ditambah lagi dengan percakapanku dengan Myungsoo yang semakin menguras tenagaku. 5 menit berjalan kaki sama dengan berjalan 5 tahun jika dalam kondisi menyedihkan seperti ini. Kudorong pintu minimarket dengan lemas, sampai-sampai pegawai minimarket membukakan pintu untukku. Aku benar-benar terlihat menyedihkan.

Saat melihat kimbab yang aku sukai tinggal satu, dengan semangat aku berlari menuju kimbab itu dan mengambilnya seperti menemukan harta karun terpendam. Tunggu, kenapa ada tangan yang ikut memegang kimbab yang sedang kupegang saat ini?

Aku menengok untuk melihat pemilik tangan itu dan menemukan guru Seorin yang tadi sedang menatapku tajam. Aku membalas tatapannya dengan tatapan yang jauh lebih tajam. Kami sama-sama tidak mau mengalah selama beberapa saat. Sungjae, nama guru itu tetap mempertahankan pegangannya pada kimbab, seolah-olah ia sedang mempertahankan harga dirinya. Sementara aku menatapnya sengit, aku yang lebih dulu melihat kimbab itu. Enak saja dia main ambil begitu saja.
Sungjae mendesah berat, lalu melepaskan pegangannya pada kimbab. Aku segera mengambilnya dengan cepat, takut-takut kalau dia berubah pikiran. Selanjutnya aku mengambil 2 air mineral di lemari pendingin lalu membayar semuanya dan duduk di salah satu kursi dan menenggak air mineral sampai tersisa setengahnya.
Gwenchana?” Sungjae bertanya dengan hati-hati. Sementara aku mengangkat alis.
” Ah maaf, namaku Sungjae. Masih ingat padaku? Kau ini kakaknya Seorin kan?” Sungjae langsung duduk di kursi sebelahku tanpa izin dan bertanya dengan santai. Aku mengangguk-angguk sambil membuka kimbabku. Kemudian aku tersadar jika ada orang di sebelahku, dengan berat hati aku menawarkan kimbabku kepadanya.
” Aku Suzy, kau mau?” Aku bertanya sambil menggeser sedikit kimbabku ke arahnya. Sungjae hanya mengambil sekaleng minuman ringan saja. Aku jadi merasa sedikit bersalah karena itu. Sungjae terkekeh pelan melihat tingkahku. Biarkan saja, aku benar-benar kelaparan saat ini. Aku tidak rela jika sepotong kimbab saja diambil dariku. Aku menawarkannya hanya untuk formalitas saja.
” Tidak, aku sudah makan tadi. Sepertinya kau membutuhkan kimbab itu daripada aku. Lagipula sepertinya kau tidak ikhlas menawariku?” Sungjae tersenyum, menampilkan lesung pipinya lagi.
Aku hanya menyeringai kaku mendengar pertanyaan Sungjae lalu tanpa basa-basi lagi melahap kimbab di hadapanku yang terlihat sangat menggiurkan. Aku bisa merasakan Sungjae melongo begitu melihat cara makanku yang seperti orang tidak makan selama berbulan-bulan. Biarkan saja, tiap orang kan punya cara makan masing-masing. Ini caraku menikmati makananku.
Kimbabnya sangat enak bukan? Aku suka memakannya sebagai cemilan.” Sungjae berkomentar, membuatku mengangguk setuju. Isi dari kimbab ini sangat pas dan bumbunya sangat meresap. Aku tidak keberatan jika harus memakan kimbab ini selama 3 hari berturut-turut.
Teringat dengan lesung pipi, aku teringat dengan kejadian di sekolah Seorin tadi. Setelah menelan makananku aku menatap Sungjae yang sudah memandang ke luar minimarket. ” Kau sangat populer di kalangan ahjumma ya. ” Aku berkomentar sambil memasukkan potongan terakhir kimbab ke dalam mulutku.
” Tidak juga. ” Balas Sungjae, aku menatapnya tak percaya. Tadi dia dikerubuti lebih dari 10 orang ahjumma dan sekarang dia bilang ‘tidak juga’? Dia pasti berusaha merendah sekarang.
” Kau sudah terbiasa dengan itu semua ya. Maksudnya, dikerubuti, dipuji-puji dan sebagainya?” Aku bertanya lagi.
” Aku baru pertama kali mengalaminya, karena….” Pandangan Sungjae sesaat meredup lalu ia kembali tersenyum dan melanjutkan kalimatnya lagi. ” Kehidupanku yang dulu sangat berbeda dengan kehidupanku yang sekarang.”
Aku mengangkat alis, berusaha mencerna jawaban Sungjae. Kemudian aku meminum air mineralku, tidak mau bertanya lebih lanjut lagi. Sepertinya aku mulai sedikit membuka privasinya.
Sungjae menatapku yang sedang membuka botol air kedua dan berkata ” Kau terlihat kacau. Kalau mau kau bisa menceritakannya padaku.”
Aku menatapnya datar, Sungjae malah menatapku ngeri tapi ia berusaha menjaga ekspresinya. Biarkan saja, siapa suruh bertingkah sok akrab begitu padaku.
” Jika kau tidak mau bercerita tidak apa. Jangan hiraukan tawaran orang asing sepertiku.” Sungjae menyeringai kaku.
Aku memainkan botol minumku, sepertinya aku berubah pikiran. Tidak ada salahnya bercerita sedikit.” Aku baru saja berbicara dengan mantan pacarku. ” Sungjae yang tadinya hendak pergi kembali membetulkan posisi duduknya. Ia menatapku dan menunggu perkataanku selanjutnya.
” Dia memintaku untuk memberinya kesempatan. Tapi aku menolaknya, dia sudah melakukan hal yang paling tidak bisa kumaafkan. Berselingkuh. ”
” Kau masih mencintai orang itu bukan?” Sungjae melontarkan pertanyaan yang membuat mataku melebar.
Aku mendengus, mengalihkan pandanganku dari mata tanpa kelopak ganda milik Sungjae. Sebelum aku berkata, Sungjae berkata lagi. ” Jangan mengelak, tatapanmu saat menceritakan dia sangat jelas. Kau masih mencintainya. ”
Aku terdiam sesaat mendengar perkataan Sungjae. Dia benar, walaupun aku membencinya sekarang sejujurnya aku masih mencintainya. Sedikit.
” Lihat, wajahmu jauh lebih kusut sekarang. ” Sungjae terkekeh pelan.
Aku segera bangkit berdiri. Apa-apaan dia? Membuatku jadi terlihat semakin menyedihkan seperti ini? ” Sudahlah, bicara denganmu hanya akan membuatku semakin menjatuhkan imejku. ” Aku berkata, kemudian memberi senyum tipis untuknya. ” Tapi, terima kasih sudah menemaniku.”
Sungjae menyeringai ” Kimbab tadi, kau berutang padaku karena aku memberikannya. Itu kesukaanku tahu.”
Aku meleletkan lidah ” Aku tidak peduli.” Lalu pergi meninggalkan Sungjae. Sedetik kemudian, aku mengetuk dahiku sendiri karena bersikap tidak sopan pada guru Seorin. Tapi biarkan saja, dia pantas mendapatkannya. Berutang? Enak saja, dia sendiri yang memberikannya secara sukarela.

Baru beberapa langkah aku keluar dari minimarket, seorang pria yang tampak kemayu datang dari arah yang berlawanan. Ia berhenti setengah meter dariku dan menunjukku dengan gaya yang sangat gemulai.
” Kau. ” Pria itu berkata kepadaku. Oh, bahkan aku tak yakin orang di hadapanku ini pria atau bukan.
” Apa?” Agak ketus, aku membalas perkataan pria itu. Moodku sedang tidak bagus hari ini, mau apa dia? Tiba-tiba menunjukku dan memberiku tatapan yang mengintimidasi.
Sebelum pria itu sempat berkata, Sungjae berdiri di hadapanku seperti berusaha untuk melindungiku. ” Jangan ganggu dia.”
” Tapi aku ini pacarmu.” Pria itu bertanya dengan nada menuntut yang dramatis. Aku mengerutkan dahi dan mengangkat sebelah alisku melihat kelakuan pria ini.

Pacar? Sebentar, jadi Sungjae?

-TBC-
A/N: HALO!\^^/ maaf baru muncul lagi. Seperti biasa, aku sibuk mengutak-atik FF ini sehingga layak dan patut untuk dilihat /?/ Gimana?Gimana?Gimana tanggapan kalian tentang FF ini? Semoga kalian suka ya dengan FF ini ㅋㅋㅋ Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca ya ^^ Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakan (telat banget ya aku 😦 ) ^^ Mohon maaf lahir dan batin ya ^^ *BOW* #haveaniceday

p.s:Sorry for typo(s) ^^v

23 responses to “[CHAPTER] IT’S CRAZY #2

  1. Pingback: [CHAPTER] IT’S CRAZY #10 | High School Fanfiction·

  2. Pingback: [CHAPTER] IT’S CRAZY #9 | High School Fanfiction·

  3. Pingback: [CHAPTER] IT’S CRAZY #8 | High School Fanfiction·

  4. Pingback: [CHAPTER] IT’S CRAZY #5 | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s