High School (Chapter 10)

FF High School,

This story belongs to brownpills.

Romance, Schoollife, Friendship I Chaptered I PG-14

Cast by Kim Myungsoo, Park Jiyeon, Jeon Jungkook, Bae Suzy, Jung Krystal

Family Cast by

Yoon Ye Hee as Jiyeon’s mother

Jeon No Min as Bae No Min (Suzy’s father)

Lee Il Hwa as Suzy’s mother

Jo Yi Hyun & Jo Yi Hwa as Suzy’s step brother

Jo Min Ki as Suzy’s stepfather

Kim So Hyun as Myungsoo’s stepsister

Jo Deok Hyun as Kim Deok Hyun (Myungsoo’s father or So Hyun’s stepfather)

Jeon Mi Seon as Myungsoo’s stepmother or Sohyun’s mother

NEW Cast by Jung Yunho

Pure of mymind. Inspired of some problems.

Let me see~

 

Tahun Ajaran Baru. Kelas 2-4. Musim gugur telah berakhir. Cerita tentang kami masih akan berlanjut dengan tema musim dingin yang akan menyelimuti kisah ini.

.

.

Meskipun musim berganti,
aku tak dapat menghitung sebanyak apapun mencoba.
Seperti hujan yang menghantam kenanganku yang mengering.
Karena orang itu adalah dirimu.

-High School

 

Jiyeon’s PoV

 

Akhir musim gugur,

Ganghwa High School, Seoul

 

Jelas-jelas pintu dengan papan 2-4 yang digantungkan di sisi atasnya ini terbuka lebar. Namun sekujur tubuhku bagaikan tertancap tanah. Tidak selangkah pun aku melangkah masuk. Kepalaku menunduk menatap sepasang sepatu berwarna putih yang kukenakan, membuat sebagian helaian rambutku menutupi wajah.

 

“Setidaknya kau gadis yang dicintai oleh Jungkook.”

 

Pernah aku berpikir untuk bersembunyi menghindari gejolak di dalam hati.

 

“Jiyeon-a—“

“—jangan pernah kau mengampuniku.”

 

Namun semakin aku berlari, siluet itu pun terus mengikuti.

 

“Jiyeon-a, wae?! Ada apa denganmu?!”

 

Bayangannya semakin menjeratku menawarkan segala kemunafikan.

 

“Jika kau benar-benar tersakiti kau tidak boleh menahan perasaanmu.”

 

Pernah aku singgahi di dalam rongga jiwa dimana aku semakin terpanah olehnya. Entah apa yang harus aku lakukan untuk dapat lepas dari pesonanya.

 

“Kau benar! Aku berkengkar karena dirimu! Karena dirimu aku menjadi terluka!”

 

Seolah menggunggah hasrat dalam diriku, suara berat miliknya menggema dalam benakku. Mengembalikanku kembali ke dunia nyata. Mengangkat kepalaku dengan sedikit menaikan dagu. Aku mengepalkan tangan kuat seraya mulai memasuki ruangan yang akan menjadi tempat baruku menuntut ilmu.

Aroma lavender terhirup menyapa rongga hidungku. Mesin penghangat ruangan tidak kalah suaranya oleh keramain para anak muda. Ruang kelas dilengkapi komputer yang terhubung ke salah satu sistem proyektor atau layar datar LCD ini terlihat bersih tak ada debu seincipun.

“Jiyeon-a!” seru Krystal.

Suzy dan Krystal tampak anggun dengan seragam musim dingin mereka. Syal melilit manis pada leher Krystal yang duduk di atas meja, sementara Suzy duduk di bangku belakangnya mengharuskan Krystal menghadap ke arah belakang.

Melihat wajah mereka adalah vitamin tersendiri. Karena itu aku berlari ke dalam pelukan keduanya. Tubuhku merasakan sambutan hangat dari Krystal. Berbeda dengan Suzy yang merasa agak risih.

Gwenchana, Jiyeon-a?” tanya Suzy.

“Kau yakin tak apa Jiyeon, kau mau kuantar ke psikiater?” tawar Krystal dengan innoncent-nya.

“Hish, gwenchana,” sahutku sembari menoyor dahi Krystal, “Hal seperti itu tidak akan membuatku takut.”

Kurae, yang seperti itu lebih mirip Jiyeon sebenarnya,” yakin Suzy.

Sonsaengnim datang!” seru Hyorin yang memiliki bangku di dekat pintu.

Seruan gadis betubuh seksi itu membuat seisi kelas bergegas duduk pada tempatnya masing-masing. Keramaian yang sempat mengisi ruangan ludes seketika saat lelaki hampir berumur kepala tiga mulai memasuki ruangan lalu berhenti di mimbar bagian depan kelas.

Ia lebih dulu meletakkan tumpukan buku yang sempat ia bawa pada sisi atas mimbar itu. Sepasang mata sipitnya tampak mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Perawakannya tegap dengan dagu yang lancip dan rahang yang kokoh.

Good morning, everybody,” bisa ditebak ia adalah guru Bahasa Inggris sekaligus wali kelas kami, “Ini pertama kalinya kita bertemu. Saya meminta bantuan kalian untuk ke depannya.”

Jika diberi skala rasio satu hingga sepuluh untuk ketampanan wajahnya di umurnya yang sudah tidak muda itu, aku akan memberikan angka delapan. Guru dengan marga Jung itu mulai memperkenalkan dirinya sambil sesekali tertawa. Tidak heran beberapa murid perempuan meleleh dengan senyuman menawannya.

Omo~ bagaimana wajah seperti itu menjadi guru kita~”

Meski sebatas bisikan aku mampu mendengarnya. Kepalaku menoleh pada Krystal yang berada di sebelahku, kedua tangan gadis itu tampak menopang dagunya dengan sepasang matanya yang terus melekat pada pria itu sambil senyam senyum sendiri.

Aku mendecakan lidah sembari mengangkat bahu. Sedangkan Suzy yang berada di belakang Krystal hanya terkekeh pelan.

.

.

Air mengucur melalui lubang cran washtaffel ketika aku memutar kepalanya. Aku kembali menutup cran washtaffel itu begitu selesai membasuh kedua tanganku. Terlihat pantulan diriku pada kaca lebar yang sengaja dipasang satu paket dengan washtaffel.

Sirheo!”

Teriakan yang berasal dari salah satu bilik toilet sedikit memudarkan senyumanku yang terpatri pada cermin datar itu.

Appa, aku melakukan semua yang kau inginkan. Tetapi sekolah di luar negeri?”

Niatku hendak meninggalkan kamar mandi, tetapi entah mengapa indera pendengaranku semakin tajam mendengar suara familiar itu –mungkin- sedang menelpon?

“Aku tidak mau!”

 

BRAK!

 

Seorang gadis dengan ponsel yang masih berada di genggamannya mendobrak pintu bilik toilet yang berada tepat di hadapanku. Tidak beda jauh denganku, bola matanya membesar mendapati diriku yang hanya tercenung dengan mulut sedikit terbuka.

Gadis itu segera menghapus kekesalan di wajahnya sambil menyembunyikan ponselnya di dalam saku jas kemeja yang ia kenakan seraya berjalan mendekatiku. Ia menyalakan cran washtaffel sehingga air mengaliri tangannya.

“Sooji-ya,” hati-hati aku bertanya, “Ada apa?”

Aku menatap bayangannya pada cermin datar. Ia mematikan cran washtaffel sembari membalas pandanganku melalui kaca lebar itu pula.

Eobseo,” sahutnya segera meninggalkanku seolah sikapnya menghindari pertanyaanku.

Entah mengapa perasaanku sedikit tidak enak.

.

.

Embun bersembunyi di balik dedaunan. Bulir salju sedikit mencair akibat sinar matahari yang tidak terlalu panas. Gerakan lincah pria itu ketika memasukan bola ke dalam ring mengundang sorakan sekumpulan gadis yang sengaja menontonnya. Tubuh proposionalnya gesit untuk mengambil alih bola berwarna oranye.

Dinginnya hawa tidak memusnahkan keramaian lapangan yang beratapkan langit berlukiskan awan. Kini sosoknya kembali berlari sambil merentangkan tangan menunjukan bahwa ia tengah high five bersama rekan satu team-nya setelah berhasil men-shooting untuk kesekian kalinya.

Kim Myungsoo. Seperti biasa ia mampu mencuri seluruh perhatianku saat ia mulai bermain basket atau seperti terakhir kali di awal musim gugur saat ia bermain sepak bola (read:chapter 1).

 

“Aku tidak sengaja menendang bola itu. Aku ingin memasukannya ke gawang tetapi malah keluar lapangan mengenaimu. Jika kepalamu masih terasa pusing, katakan saja padaku.”

 

Tanpa sadar aku tertawa singkat mengingat kejadian dimana tendangan bola Myungsoo yang cukup keras hingga membuatku pingsan. Sayangnya kini aku tidak satu lapangan dengannya, karena saat ini aku berada di balkon lantai dua dimana aku dapat melihat segala aktivitas yang terjadi di sekitar lapangan out door.

 

“Kesalahan di masa lalu— tidak ada yang dapat dilakukan untuk mengubahnya,” ujarnya. “Segitu mudahnya bagi Jungkook menggantikan Jieun di hatinya dengan gadis angkuh sepertimu!”

 

Diam-diam itu menjadi belenggu kepedihan tersendiri jauh di dalam hatiku. Sakit memang dan aku berusaha melepaskannya.

 

“…sekolah di luar negeri? Aku tidak mau!”

 

Kemudian suara lantang milik Suzy yang tak sengaja kudengar di dalam toilet memudarkan ke-nostalgia-an yang menyerangku. Wajahnya yang dihiasi senyuman miris. Tatapan matanya yang sulit diartikan. Jelas sekali ia tampak tidak nyaman dengan lawan bicaranya saat itu.

“Apa yang sedang kau pikirkan?”

Suara berat itu hampir membuat jantungku lepas. Salah satu tanganku memegang dada menahan nafas.

“Aku tidak akan menyakitimu,” ujar Jungkook sambil menggeser tubunya menjauhiku.

Semenjak kejadian penculikan itu, aku sedikit menjaga jarak dengannya. Bertegur sapa saja tidak kami lakukan. Aku akan selalu membuang muka lebih dulu. Entahlah, melihat wajahnya membuat hatiku sakit.

Seperti saat ini, aku bahkan tidak melirik padanya. Pandanganku lurus ke depan masih mengacu pada pria yang energik bermain basket.

“Tidak baik melamun sendirian,” ujarnya menyandarkan tubuh pada pembatas balkon.

Mulutku tidak mampu untuk membalasnya. Keheningan mulai menyergapi kami. Ah, tidak! Riuh ramai murid lainnya membiarkan menghapus keheningan itu.

“Kau sepertinya sibuk mengamati Myungsoo.”

Sontak kalimatnya mengalihkan perhatianku. Mengharuskanku menatapnya dengan tajam.

Ya, jangan membuat wajah seperti itu,” lanjut Jungkook, “Itu semakin membuat segalanya terlihat jelas.”

Secara alami aku memukul tengkuk kepalanya. Ia meringis pelan sambil menggosokan tangannya barangkali dapat mengurangi rasa sakit atas pukulanku.

“Myungsoo itu—“ gumam Jungkook sudah mengikuti arah pandanganku –ia juga memperhatikan Myungsoo yang seolah tidak pernah lengah berolahraga-, “—seperti black knight Park Jiyeon.”

Black knight?”

“Laki-laki yang memecahkan situasi sulit bagi perempuan.”

 

Apakah terlihat begitu?

 

“Saat itu—“ Jungkook tampak ragu dengan ucapannya, “—yang menyelamatkanmu adalah Myungsoo.”

Lantas pikiranku memutar kembali yang dimaksud ‘saat itu’ oleh Jungkook.

“Dia menemukan kita di Cheongsando—“ ujarnya tersenyum kecut, “—cih, dengan wajah panik dia langsung membawamu ke rumah sakit.”

Tidak seharusnya ia memberitauku hal itu.

“Sedangkan aku—“

Lagi, ia menggantungkan kalimatnya seolah berpikir akankah ia melanjutkan perkataannya atau tidak.

“—pembawa sial Park Jiyeon.”

Jujur saja itu melumpuhkan semua nafasku. Menghujam tepat di jantungku. Rumit sekali hingga aku tidak dapat membedakan apakah yang kurasakan ini benci atau cinta.

“Menurutmu begitu?” tanyaku tanpa menatap mukanya.

“Eoh.”

“Saat itu aku juga sempat berpikir seperti itu—“

Sorot mataku tidak berniat lepas dari sosoknya yang kini tampak menyudahi permainan bola besarnya.

“—Myungsoo adalah penyelamatku. Dan Jungkook—“

Gerak geriknya di bawah sana memberikan kesan maskulin.

“—adalah penghancurku.”

Aku tau itu akan melukai perasaan pria di sebelahku. Namun aku tidak ingin membiarkannya hidup dengan rasa bersalah.

“Tetapi,” bisikku, “kedua hal itu tidak ada artinya dalam hidupku.”

Mwosun suriya?”

“Setelah mengalami banyak kesulitan di tahun pertama, aku merenungkan banyak hal. Keserakahan selalu menjadi masalah. Mengapa aku tidak menyadarinya?”

Tidak peduli aku menginginkannya atau tidak, beberapa hal harus terjadi. Orang-orang menyebutnya sebagai takdir.

 

“Karena itu—“

 

“— aku meluangkan waktu untuk memikirkan mimpiku.”

 

Suara lembut milikku tulus mengiringi kalimat yang akhirnya terucap dari bibirku. Hidup ini seperti menulis dengan pena . Aku bisa menyebrang keluar untuk melewatinya, tetapi aku tidak bisa menghapusnya. Semua yang harus kulakukan adalah melanjutkannya.

“Park Jiyeon—“

Untuk saat ini aku mampu menolehkan kepala menatap manik mata redup di hadapanku. Mungkin lebih tepatnya aku sedang berusaha.

“—kau keren.”

***

“Bae Suzy tidak hadir. Ada yang tau apa alasannya?” tanya Guru Jung Yunho.

Tidak ada jawaban yang terdengar, membuat guru berpakaian rapi itu menghela nafas sambil mencentang buku kehadiran yang ia bawa. Lantas dirinya mulai menuliskan beberapa kosa kata Bahasa Inggris pada papan tulis yang cukup lebar.

Penjelasan lantang dari mulut Guru Jung terdengar samar dalam pendengaranku. Diriku terlalu fokus pada salah satu bangku yang kosong. Pandanganku sayu menatapnya. Pikiranku melayang entah kemana. Di mana kau, Bae Suzy?

.

.

Bel menggema di seluruh penjuru gedung sekolah. Suara nyaring itu bagaikan panggilan surga bagi beberapa murid yang sudah kelaparan. Mereka segera berhamburan meninggalkan kelas. Menjadikan ruangan ini kosong atau hanya berisi segelintir orang, rata-rata murid yang rajin.

“Jiyeon-a, ayo makan!” ajak Krystal.

“Aku tidak nafsu makan. Kau saja.”

Bibir mungil Krystal mengerucut mendengar penolakan itu. Ia hanya mendengus pelan seraya menyusul yang lainnya menuju foodcourt.

Masih sama seperti beberapa saat lalu, sambil bertopang dagu aku mengamati tempat duduk yang terletak di seberangku, satu-satunya bangku yang kosong.

 

PLUK!

 

Seorang namja menimpukan jajanan daging yang ditusuk ke puncak kepalaku. Membuyarkan lamunanku yang sempat tersesat. Bukannya minta maaf, namja dengan kancing jas terbuka itu memamerkan lesung pipinya seraya duduk di sebelahku.

“Kau tidak makan siang?” tanyanya acuh dengan wajahku yang memberengut.

“Ini, makanlah,” lanjutnya sambil menyerahkan jajanannya itu, “Tokkebi adalah cemilan yang pas ketika tidak nafsu makan.”

Tokkebi sejenis hot dog yang dilapisi french fries dan diselimuti adonan tepung lalu digoreng. Seperti jajanan lainnya, tokkebi hot dog biasa dinikmati bersama saus atau mustard.

Tangan kananku menggenggam tusukan daging hot dog itu sembari menatapnya dengan mulut terkatup rapat. Padahal namja bernama Myungsoo hampir melahap habis tokkebi miliknya.

Wae? Kau tidak mau?” tanya Myungsoo menyadari sikapku.

“Aku paling benci makanan yang banyak minyak gorengnya.”

Sedikit sebal aku mengembalikan makanan itu ke tangan Myungsoo. Terpaksa ia menghabisi tokkebi-nya seorang diri. Pipinya menggembung dipenuhi oleh daging tokkebi. Bibirnya sedikit mengkilap terkena minyak yang tersisa pada daging itu.

Sebisa mungkin aku tidak meledakkan tawaku. Menyibukkan diri kembali memperhatikan bangku yang tidak berpenghuni. Bersamaan dengan itu, aku memaksa otakku untuk berpikir mencari sebuah jawaban dari beribu pertanyaan yang memenuhi pikiranku.

Selesai menelan jajanannya, Myungsoo melemparkan tusuk berbentuk silinder itu ke arah pojok kelas dan hebatnya kedua tusuk daging itu tepat masuk ke dalam tong sampah. Lantas sepasang matanya mengikuti arah pandanganku.

“Apa kau memiliki pemikiran yang sama denganku?” ujar Myungsoo beragumen.

Mwo?”

“Murid peringkat satu tidak hadir tanpa keterangan—“ katanya sambil mengalihkan pandangan dari tempat duduk tanpa pemiliknya itu, “—kau berpikir itu hal aneh, keutchi?”

Tatapan Myungsoo seolah memberikan makna berusaha membaca isi pikiranku. Membuat sepasang mataku menghindari kedua mata kelam yang masih menatapku.

“Hanya saja—“ ragu aku mulai berkata, “—tingkahnya berbeda akhir-akhir ini.”

“Akhir-akhir ini…” ulang Myungsoo bergumam pada dirinya sendiri.

Mwo? Katakan.”

Myungsoo tidak langsung menjawabnya, ia menghela nafas sejenak, “Akhir-akhir ini aku sering mendapati Suzy berada di atap sekolah.”

“Atap?”

.

.

Langit yang terhampar luas segera berwarna kekuningan begitu sebagian tubuh matahri terbenam di ujung cakrawala. Menyudahi aktivitas di gedung bernama sekolah ini. Membuat gedung tua ini terlihat seperti kuburan, dimana saat ini aku tengah berjalan di sisi lapangan out door.

Karena mengambil pelajaran tambahan, jam pulang sekolahku lebih malam daripada yang lainnya. Sesekali aku menguap lebar sambil menutupi mulutku dengan telapak tangan. Angin nakal terkadang menghembuskan ujung-ujung rok bermotif kotak-kotak.

Sebuah mainan kertas melayang ke arahku. Jatuh tepat di depan kedua sepatuku yang menapak di atas tanah. Aku menghentikan langkah seraya meraih kertas berbentuk pesawat terbang itu.

Jantungku seolah terkuak lebar. Pupil mataku membesar. Tenggorokanku tercekat begitu meluruskan kertas yang sedikit kucel itu. Hanya lembaran putih berisi formulir pindahan ke luar negeri, tetapi mampu membuat nafasku memburu.

Ketidakpastian perasaan mengangkat kepalaku ke atas, asalnya pesawat kertas ini dilayangkan. Di sanalah ia berada. Pada lantai lima, berdiri seakan ingin menembus butiran-butiran kecil berwarna putih.

Hatiku menjerit keras menyebut namanya seraya mengayunkan kaki dengan cepat. Tidak kehabisan akal, aku segera mendekatkan ponsel milikku begitu sudah menyambungkan telepon.

 

Tuut~ Tuut~ Tuut~

 

Bersama gelapnya malam, aku menembus dinginnya salju yang menusuk tulangku hingga ke sendi-sendinya.

 

Tuut~ Tuut~ Tuut~

 

Nada sambungan itu seolah malaikat pencabut nyawa. Memekakan telingaku dan memaksa kedua kakiku berlari lebih cepat. Pandanganku mulai kabur. Kepulan asap terlihat melalui mulutku. Udara bersih tidak bisa teratur masuk ke dalam sistem pernafasanku.

 

BRAK!

 

Bunyi yang begitu menyakitkan telingaku. Spontan menghentikan kedua kakiku secara paksa. Seiring dengan itu, nada sambungan itu sudah tidak terdengar lagi. Sekujur tubuhku gemetar menoleh ke arah samping. Sebuah ponsel dengan stiker nama Suzy tergeletak di atas tanah. Layarnya pecah dengan casing terbuka dan baterainya yang terlepas.

Getaran hebat semakin menyerang badanku, menghancurkan usaha tungkai kakiku untuk menopang tubuh agar tetap berdiri. Sebisa mungkin aku menggerakan kedua kaki yang sudah terasa kaku. Terus berlari bersama pekatnya malam. Hingga—

 

BUGH!

 

Tubuhku yang bergetar hebat menghantam sosok yang sedang berjalan di hadapanku. Tidak peduli dengan bentuk acak-acakan ini, aku mengangkat kepalaku. Membiarkan pria yang tengah menahan siku lenganku ini, melihat air mata yang entah sejak kapan membanjiri wajahku.

“Jiyeon-a, wae?”

Tetesan air mata terus meleleh di pipiku bahkan tanpa sadar aku berisak meminta agar waktu berhenti sekarang juga.

“Su—zy—“ suaraku terdengar tercekik, “—Bae Suzy—“

Wae?”

Dowaju (bantu aku), Myungsoo…”

.

.

Mengapa hanya duniaku yang terasa berhenti? Aku yakin sosok Myungsoo berada di hadapanku. Siluetnya terlihat samar dalam penglihatanku. Dirinya yang secepat kilat menaiki tangga darurat. Menyulitkan langkah kakiku untuk menyamai langkah lebarnya.

Semakin jauh dan jauh sampai membuatku mati rasa. Namun sosok Suzy yang tersenyum cerah terus mengiang di benakku. Seakan menyemangatiku untuk meniti tiap anak tangga dengan sisa tenaga yang kumiliki.

Secercah cahaya temaram menyilaukan pandanganku saat hampir mencapai lantai paling atas di dalam gedung ini. Sebuah pintu dari besi itu terbuka lebar begitu Myungsoo mendorongnya kasar.

Tubuhku terpontal ketika tiba pada tempat yang terlihat begitu dekat dengan langit malam. Myungsoo yang lebih dulu tiba, kini mematung di tempatnya. Tidak dengan diriku.

Sosok perempuan itu jelas masih ada. Ia menaikan kedua alisnya dengan bibirnya yang pucat pasi. Waktu berjalan melambat saat aku berlari mendekatinya. Memeluk erat tubuhnya seolah memastikan ini adalah nyata.

Hajima, Sooji-ya, hajima,” isak tangisku memecah keheningan.

Gadis dengan mulut yang sedikit terbuka membalas pelukanku. Lantas ia melepaskan tubuhku darinya sambil berkata, “Mengapa kau menangis?”

“Aku takut kehilanganmu.”

Ne?”

“Aku melihatmu berdiri di pinggir atap—“ ujarku tersendat-sendat, “—aku sangat takut.”

Padahal aku tau ini bukanlah mimpi. Bahwa Suzy masih ada di hadapanku, tetapi air mataku terus mengalir bak tidak dapat berhenti.

Kerutan di dahi Suzy memudar. Bibirnya perlahan membentuk senyuman kecil. Namun terasa hangat ketika aku memandangnya.

“Aku pikir kau salah paham.”

Kalimat yang diucapkannya meghentikan isak tangisku dan mengundang beribu pertanyaan.

Lagi, Suzy mengembangkan senyumannya lembut, “Aku tidak akan bunuh diri, Jiyeon-a.”

Keunde—“ kataku terbata-bata, “—kau menjatuhkan ponselmu saat aku menghubungimu.”

“Itu karena ketika aku hendak mengangkatnya, tidak sengaja aku menjatuhkan ponselku.”

Jawabannya bagaikan pukulan telak. Mengeringkan air mata yang meleleh. Membuat bahuku merosot.

“Bagaimana dengan ini?” tanyaku menunjukan lembaran putih yang kuremas sedari tadi dalam genggaman tanganku.

Wajahnya sedikit terkejut melihatnya.

“Mengapa kau membuangnya?” lanjutku masih tidak percaya.

Ketenangan yang tergores di lekuk wajahnya sirna tergantikan oleh kemurungan.

“Sooji-ya,” lirihku.

“Bae Suzy—“

“Karena aku membenci ayahku,” selanya mengangkat suara sambil menyembunyikan wajahnya, “Aku hanya ingin berhenti membencinya.”

Tubuhnya sayup-sayup terduduk perlahan. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Nadinya seakan tak sanggup berdenyut.

Posisi Suzy yang berada di depanku meruntuhkan asa dan harapan dalam jiwaku. Seperti ada magnet dalam tubuh Suzy, kedua kakiku mulai terasa lumpuh. Aku terkulai di lantai yang terasa dingin seraya mengulurkan tangan ingin menyentuh rambut milik Suzy yang terasa halus.

“Mengapa kau tidak menceritakannya padaku?” ini kekecewaan terbesar karena membiarkan sahabatku memendam masalahnya seorang diri.

Gadis yang merupakan teman lamaku ini mengangkat kepalanya. Kini aku bisa melihatnya lebih jelas. Bentuk wajahnya yang mengurus. Kerutan di alisnya. Kantung mata yang melingkar. Hidungnya yang memerah. Bibirnya yang kebiruan menahan dingin.

“Karena dia adalah ayahku. Aku membencinya—“

Pemandangan ini sangat mengerikan.

“—tetapi dia adalah ayahku,” lagi dan lagi, ia terus mengulang kalimatnya, “— tiap kali aku berpikir aku membenci ayah, yang kuinginkan hanyalah merengek sambil menangis dalam pelukan ibuku—“

 

Jalan ini terlalu rapuh, bukan?

 

“—tapi—“

 

Perasaan ini terlalu ringan, bukan?

 

“—ibuku memiliki keluarga baru.”

 

Karena terlalu rapuh dan ringan mebuat kita menjadi lemah. Karena kebenaran yang tersembunyi di bekas luka membuat segalanya terasa hancur.

“Aku—“ ia masih meneruskan kalimatnya dengan suara bergetar, “—tercipta untuk selalu sendiri.”

Kata ‘baik-baik lah’ begitu menyedihkan. Sehingga cairan bening mengisi celah mataku. Dan aku mencoba menutupinya dengan tanganku.

Uljima (jangan menangis).”

Ada suara barrington yang mengajak pergi meninggalkan kepekatan malam. Kim Myungsoo yang sedari tadi menatap nanar aku dan Suzy, kini ia bergerak mendekati kami. Tanpa rasa malu ia berjongkok sembari menyunggingkan senyuman untukku. Kemudian senyuman itu beralih ke wajah Suzy.

Uljima,” ulangnya dengan sorot mata tulus membalas tatapan Suzy yang berkaca-kaca, “Meskipun kau kesepian, jangan menunjukannya. Jangan merasa takut dan bertahanlah. Berhentilah menjadi yang pertama kali mendapatkan luka.”

Mataku tidak berkedip mendengarnya mengatakan pernyataan seperti itu.

Neo (kau)—“ Suzy menelan air liurnya, “— mengatakannya seolah kau juga mengalaminya.”

Aku menarik kembali tatapanku dari Bae Suzy, aku melempar pandangan pada Myungsoo yang terdiam mendengar sahutan dari Suzy. Terlihat jakunnya yang menonjol naik turun. Padahal salju menyelimuti kami, tetapi keringat menetes melalui pelipis matanya.

“Tiga tahun yang lalu—“ akhirnya pria itu berkata, “—orang tuaku bercerai.”

Tidak hanya Suzy, aliran nadiku seolah tersumbat setelah pengakuan itu terdengar.

Sementara Myungsoo memasang wajah tanpa ekspresi, “Ayahku menikahi wanita lain yang sudah memiliki anak. Aku tidak begitu ingat bagaimana menyakitkannya saat itu— ketika menyadari bahwa ibuku sudah tidak ada di sisiku lagi. Karena itu—“

Ia melantunkan kalimatnya seperti sebuah syair yang memecah belenggu fatamorgana. Aku dan Suzy seperti terhanyut lebur bersama aliran darahnya.

“—sudah terlalu lama.”

Air mata yang jatuh. Senyuman yang menghilang semakin banyak dan banyak. Apakah langit tahu perasaan kami? Aku tak ingin lebih tersakiti dan berhenti melihatmu. Dan aku menutup mataku.

Begitu pula dengan Suzy. Gadis itu mengatupkan matanya membuat cairan bening semakin mengaliri pipinya dengan deras. Ia membenamkan wajahnya sambil memeluk lutut. Ia tak mampu membendung isak tangisannya.

“Tidak apa-apa, tolong hentikan,” hanya Myungsoo dengan mata yang tidak berair, “Jangan berusaha terlalu keras. Jangan memaksakan dirimu sendiri. Kau melakukan semua yang kau bisa.”

Namun tangisan Suzy semakin pecah dan tidak dapat ditahan. Rupanya telah banyak kepedihan yang menjalarinya. Yang bisa kulakukan hanyalah merengkuh Suzy ke dalam pelukanku, seolah berusaha menyalurkan ketegaran. Lihat, aku yang kecil ini bahkan tidak sanggup berkata—

‘Suatu hari nanti, kita pasti bisa menjadi kuat dan menghadapinya dengan senyuman. Percayalah.’

.

.

Seperti ada gelombang ombak di depanku yang mengaum keras dan seolah lautan akan membelah memberiku jalan. Tetapi semua itu bukan hal besar yang harus kutakutkan. Aku tidak ingin kehilangannya. Sampai hari itu tiba, ketika sinar mampu menghapus awan gelap, aku percaya aku bisa berjalan bersamanya menghadapi semua kesulitan.

Tetapi—

“Aku merasa tidak berguna,” ucapku mengakui dan berhenti berjalan, membuat lelaki yang memiliki tubuh lebih tinggi dariku juga menghentikan langkahnya, “Aku terlalu mementingkan diri sendiri.”

Walaupun aku mengerti ia sedari tadi mengikuti langkah lunglaiku sepanjang jalan setapak ini, aku tetap tidak bisa menyalahkannya untuk saat ini.

“Penderitaan Bae Suzy, kesedihan, dan masalahnya…” terlalu rapuh untuk berkata, “Aku tidak sadar tentang itu. Aku sangat tidak berguna. Tidak berguna. Aku tidak berguna.”

“Kau tidak—“

“Aku!” pada langit kelam aku memekik keras, “Aku tidak berguna. Aku tidak bisa membantunya!” bahkan aku tidak mampu merasakan dinginnya salju yang mulai turun sebagai hujan, “Saat aku kesulitan, Suzy selalu mengulurkan tangannya untukku. Bae Suzy— Sooji-yauri Suzy— adalah—“

“… penyelamat, bukan?” dengan suara tenang ia melanjutkan kalimatku sembari mengalungkan syal tebal miliknya yang berwarna merah hati pada leher jenjangku. Membuat diriku mengangkat kepala yang sempat tertunduk seraya menyentuh syal tebal yang begitu lembut. Rongga hidungku menghirup aroma mint yang berasal dari parfumnya. Lantas ia kembali membuka suara sembari tetap berada di belakangku.

“Jiyeon-a, lihat itu. Itu adalah bintang utara. Orion.”

Aku lebih mendongakan kepalaku. Terlihat sekumpulan bintang menyebar di atas sana. Menemani sang rembulan yang tampak indah dengan bentuk sabitnya.

“Orion? Mana?” gumamku.

“Lihat, bintang-bintang yang paling terang itu.”

“Oh, aku lihat. Bintang itu terlihat saling berdekatan, tetapi sebenarnya sangat jauh sekali bukan?”

“Kita belajar itu di sekolah dasar.”

“Itu seperti aku dan Suzy,” meski aku sudah mendongak namun mulutku tetap terbenam dalam syal hangat miliknya, “Sesuatu yang kita lihat tidak selalu benar. Aku harus berusaha sekeras apa untuk mengerti sesuatu yang tidak terlihat itu? Kini seberapa jauh jarak antara aku dengan Suzy?”

“Kau ingin mengerti dia karena dia sahabatmu. Kau harus mengulurkan tanganmu dengan begitu kau akan memahaminya.”

Lantas bulir-bulir salju menghujani kami. Indah bentuk kristalnya berwarna putih. Terasa dingin ketika bertemu dengan kulit ari-ari di tubuh kami. Seperti es yang seolah membekukan air mata.

Sejuk wangi tubuhnya tersenyum lembut bersama belaian angin. Bayangan tubuhnya terlihat gagah dan tampan. Kata-katanya seperti menuntun setiap langkahku.

 

Gomawo, Myungsoo-ya…”

 

Orion— akan menjadi bukti kebersamaan kita.

 

to be continued~~

Anyeong~~ Hara bentar lagi masuk school *gak nanya*. Tapi masih awal awal masuk sih biasanya Hara longgar, jadi bisa deh nerusin ff ini secara rutin *insyaAllah*. Di chapter ini banyak flashbacknya yaa jadi agak bingungin mungkin, maapin Hara yang selalu men-confuse-kan kalian readers T_T. Ada Yunho oppa kyaaaa *skip*. Okey, terus ngikutin ‘High School’ ne, pai pai🙂

 

48 responses to “High School (Chapter 10)

  1. wahhh trnyata dibalik sikap myungsoo yg brandal, tp pemikiran dia dewasa bbgt yya,,
    lebih dibanyakin lagi donk myungyeon moment’y, dan ending’y nnti juga jiyeon hrus sma myungsoo nee,,,
    next

  2. Pingback: [FF] High School (Chapter 11 ‘Special’) | Fanfiction Studio·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s