[CHAPTER – PART 9] Skinny Love

litlethief-order-skinny-love

poster credit: zhyagaem06 @ Poster Order

Skinny Love by Little Thief

Cast: Park Jiyeon, Kim Myungsoo

Other cast: Park Sooyoung (Joy), Choi Minho and Lee Jieun (IU)

Genre: romance, little bit angst

Rating: PG-13

Length: Chaptered

Saat ia menginjakkan kaki di halaman belakang Myungsoo yang luas, Jiyeon tak mencari tuan rumah. Dia mencari playdate-nya sekarang, Jongin. Matanya menyipit, menelusuri dengan liar. Hingga akhirnya ia menemukan Jongin sedang asyik bercengkrama dengan Jieun, Yerin, Minho dan beberapa teman satu kerjanya. Jiyeon segera menghampiri mereka dengan langkah lebar.

“Hei!” serunya ceria, dengan raut sedikit kesal karena pertemuan kikuknya dengan Soojung barusan.

“Lama betul!” Jongin mencerocos. “Jangan bilang kau tak tahu jalan.”

“Tahu, aku tahu!” Jiyeon mendengus kesal. “Aku malas saja datang ke sini.”

Mendadak, lengan Jieun menyelip di sisinya, kemudian temannya itu melingkarkan lengannya. “Di sini banyak hidangan yang enak. Kau mau?”

Jiyeon menatap Jieun ragu, sebelum ia kemudian menatap ke arah Myungsoo yang tertutupi kerumunan, sedang sibuk menyalami para undangan yang memberinya ucapan selamat.

“Aku mau mengucapkan selamat ulangtahun buat si Bos Besar dulu,” gumam Jiyeon, menolak halus.

“Eh, ikut!” pekik Jongin. “Aku juga belum mengucapkan selamat padanya. Aku langsung menuju hidangan. Lapar, tahu.”

Minho menoyor kepala Jongin. Jiyeon memberi isyarat agar Jongin mengikuti langkahnya. Lelaki itu dengan ceria berjalan di sisinya sebelum mulutnya menggumamkan sesuatu. “Wah, wah, wah. Sepertinya ada sesuatu yang seru.”

Jiyeon menoleh. “Apa?”

Kemudian langkah Jongin terhenti, tangannya menunjuk ke kejauhan, dan matanya menatap Jiyeon. “Ada kau, Soojung, dan Myungsoo. Ada aku.

“Lalu?” Jiyeon mengangkat sebelah alisnya.

“Lingkarkan lenganmu padaku.”

“Apa?” tanya Jiyeon bingung, berusaha meyakinkan ucapan Jongin barusan.

Jongin mendecak gemas. Dia tak mengulangi ucapannya, melainkan langsung melakukan aksinya. Dia menarik lengan Jiyeon paksa, kemudian melingkarkan lengan perempuan mungil itu ke lengannya yang kokoh berbalut toksedo hitam.

“Apa-apaan, sih, kau ini?!” bentak Jiyeon keras, berusaha melepas lengannya. Pipinya memerah malu. Tapi Jongin hanya nyengir lebar.

“Sudah, ikuti saja aku. Setelah mengucapkan selamat pada Myungsoo, kau boleh lepas lenganmu. Tapi tidak untuk sekarang, oke?”

Jiyeon hanya memutar bola mata, pasrah. Maka ia mengikuti langkah Jongin yang menuntunnya ke arah Myungsoo yang berdiri di sebelah wanita yang tadi ikut berjalan bersamanya ke sini. Siapa lagi kalau bukan…

Soojung.

Gadis itu mendengus keras. Kemudian, ia merasa bahwa ide Jongin ini bagus juga. Reflek, karena pikiran licik di kepalanya, dia malah mempererat pelukannya pada lengan kiri Jongin.

Myungsoo menyalami undangan dan Soojung menambahkan senyuman manis pada mereka, seolah berkata “terima kasih sudah datang”. Jongin dan Jiyeon mengantri di belakang, saat Jongin mendekatkan mulutnya ke telinga Jiyeon.

“Kau, dan aku. J & J couple,” bisiknya, kemudian tertawa keras atas perkataannya sendiri tadi.

Saat giliran mereka yang mengucapkan selamat, Myungsoo nyaris terjungkal melihat mereka melekatkan lengan masing-masing. Dia langsung berubah canggung dan kikuk, tersenyum paksa. Ada sesuatu yang panas di dadanya.

“Eh, kalian datang juga.” Gumamnya.

“Iya, Jiyeon ini jadi teman playdate-ku sekarang,” tambah Jongin dengan nada dibanggakan. “Eh, selamat ulangtahun, ya, Bos. Aku senang kau masih hidup di hadapanku sekarang. Berapa tahun umurmu sekarang?”

“Terimakasih, aku bersyukur bisa melihatmu saat umurku menginjak dua puluh empat hari ini,” jawab Myungsoo setengah niat, ekor matanya kemudian melirik Jiyeon.

“Selamat ulangtahun, Bos.” Jiyeon juga ikut mengucapkan, tersenyum lebar. Myungsoo mengangguk, kali ini terasa lebih tulus.

“Ngomong-ngomong, ini rumah keduamu, ya?” Jiyeon langsung menimpali.

Mendengarnya, ekspresi tulus Myungsoo berubah menjadi ekspresi terkejut, seolah ia baru disengat listrik. Rahangnya jatuh ke bawah, matanya bergerak liar, seolah mencari jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan barusan.

Skak mat.

“Itu…” Myungsoo terbata, tak berani menatap matanya.

Jiyeon langsung tergelak-gelak memegangi perutnya, kemudian menghela napas. “Hm, aku tahu. Tidak masalah, kok. Terimakasih sudah berbaik hati memutar jalan seperti itu, ya.”

Setelah mengucapkan kalimat yang membuat Myungsoo bergeming itu, Jiyeon dan Jongin dengan ceria keluar dari antrean dan menghilang entah ke mana. Masih saling melingkarkan lengan. Punggung mereka berdua ditatap oleh Myungsoo sampai kejauhan. Dia baru sadar ke alam nyata ketika Soojung menyikut lengannya halus.

“Hei! Antreannya masih menunggu,” bisiknya lembut. Myungsoo langsung mengerjap, menyalami para undangan dengan kikuk dan meringis bersalah kepada Soojung.

Setelah beberapa menit menyalami para hadirin yang ia undang, Myungsoo merasa tubuhnya seolah sedang menyusut. Ia merasa terpojok dengan semua ini. Dia ingin kabur saja dari orang-orang yang ia undang beberapa hari lalu ke sini. Lalu berlari mengejar Jiyeon, dan menjelaskan semua yang terjadi.

Duh, ia merasa malu sekali.

Setelah tak ada lagi undangan yang tampaknya tersisa, Myungsoo menghela napas lega. Ia mengibas-ngibaskan tangannya yang luar biasa pegal sampai mau lepas. Soojung pergi sebentar, dan tiba beberapa saat kemudian dengan dua gelas kecil sampanye di tangannya.

Gadis itu menjulurkan salah satunya ke arah Myungsoo.

“Aku tahu gadis itu,” gumam Soojung pelan, mendekatkan tepi gelas sampanye ke bibirnya.

“Gadis yang mana?” pikiran Myungsoo berkelebat.

“Gadis rambut pendek yang datang dengan pria berjas. Yang berkata, ‘ini rumah keduamu, ya?’ ”

Myungsoo nyaris menjatuhkan gelasnya. “Serius? Kau kenal dengannya? Apa kau berteman lama?”

Soojung langsung terbahak seolah Myungsoo orang paling bodoh yang bisa melontarkan kalimat tadi. “Bukan, Myungie. Kami bahkan baru berkenalan beberapa jam lalu. Aku berjalan bersamanya saat menuju ke pekarangan ini. Hanya sekedar tahu nama. Tampaknya dia tak begitu menyukaiku.”

“Oh, begitu,” gumam Myungsoo kecewa. Kenapa juga Jiyeon bisa tak menyukai teman lama sekaligus mantan kekasihnya itu?

“Maksud perkataannya tadi itu apa?” tanya Soojung lagi.

Myungsoo langsung menepuk punggung Soojung lembut, kebiasaannya dari dulu kalau gadis itu membuatnya malu. “Sudahlah, tak usah dibicarakan.”

Namun matanya mencari-cari ke seluruh pekarangan rumah. Tak ada lagi tubuh kurus Jiyeon dengan wajahnya yang manis. Dia sudah pulang kembali ke rumah. Mungkin berbahagia dengan Jongin.

***

Tak dipungkiri, Jiyeon begitu senang dengan acara di rumah Myungsoo semalam. Meskipun tadinya ia berharap banyak pada Myungsoo, namun teman-teman satu kafenya itu membuatnya jauh lebih semangat dan bahagia. Mereka memang benar-benar teman baginya.

Ketika Myungsoo dengan tangan yang pegal, menyalami para hadirin   Jiyeon dan temannya makan hidangan sampai kenyang, asyik bernyanyi di atas panggung, atau menari dan berdansa sesuai irama. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Jiyeon melupakan Myungsoo dari pikirannya, hanya untuk malam itu.

Tapi tak dipungkiri juga, keseruan itu membuatnya terus tertidur lelap hingga matahari sudah bersinar.

Jiyeon masih asyik memejamkan mata ketika ia merasakan tubuhnya sedikit hangat. Ia bergerak-gerak, mengerang, mengeluh, kemudian membuka matanya. Kelopaknya terbuka lebar ketika menyadari sinar matahari dengan nakal masuk ke dalam kamarnya lewat jendela kaca.

Dia langsung terduduk tegak, menatap jam dinding yang terpasang di atas lemarinya dan rahangnya langsung jatuh ke bawah. Jarum jamnya menunjukkan angka sembilan pagi. Waktu yang sangat tak wajar baginya untuk bangun tidur. Dan untuk bekerja.

Teriakannya langsung menggema ke seluruh rumah.

“PARK SOOYOUNG! KENAPA KAU TAK MEMBANGUNKANKAN AKU?!”

***

Setelah mengirim pesan bahwa dia mendadak sakit kepada Jieun melalui telepon umum, Jiyeon hanya duduk malas-malasan di rumah karena alasannya tadi. Ia menonton televisi, membersihkan rumah, menemani Ayahnya tertidur, dan juga membuang seluruh buku-buku kuliahnya dulu.

Tentu saja, dia tak butuh lagi persoalan tentang kuliahnya. Tak penting juga baginya. Bukankah seluruh hidupnya hanya diisi untuk bekerja? Selepas merapikan buku-buku teks yang membosankan itu, dia berjalan menuju Ayahnya yang terus menerus tergolek selama nyaris bertahun-tahun.

“Ayah, kau mau makan apa? Aku belikan makan siang,” sapanya, berlutut di sebelah Ayahnya.

“Apa saja,” jawab pria tersebut dengan singkat, seolah masih tenggelam dalam masa lalunya dengan Ibu Jiyeon. Mendengarnya, Jiyeon hanya menghela napas panjang dan berjalan menuju toko ramen di dekat rumah.

Setelah memesan tiga bungkus ramen, ia menunggu di sebuah kursi panjang. Ia menatap isi dompet kecil miliknya yang berwarna cokelat tua. Tak ada apapun di situ selain beberapa lembar uang. Tak ada kartu apapun, selain kartu pelajarnya dulu dan tanda kependudukan. Ada juga sebuah foto usang. Foto saat kebahagiaan Jiyeon masih begitu lengkap. Foto saat Ibunya masih ada, Ayahnya masih kekar dan tangguh. Kedua orangtuanya tertawa bahagia, sementara Jiyeon kecil berada dalam pelukan Ayahnya, ikut tersenyum. Dengan Sooyoung yang baru beberapa bulan berada di gendongan Ibunya.

Airmatanya mau jatuh dari tempatnya ketika pemilik toko itu mengagetkannya. “Ini ramen pesananmu, Nona.”

“Oh?” Jiyeon tersadar, langsung buru-buru mengusap airmatanya. Ia menerima kantong plastik tersebut dan membuka dompetnya, menyerahkan beberapa lembar uang. “Ini uangnya.”

“Terimakasih,” pemuda itu tersenyum hangat, “Semoga menikmati.”

Jiyeon mengangguk sopan. Ia keluar dari toko yang cukup ramai itu, kembali ke rumahnya. Ia kembali membuka dompetnya. Ia tersenyum. Dulu, sebelum bekerja di Moong, dompetnya hanya benda kosong tak berarti. Namun beberapa minggu lalu ia menerima gaji pertamanya. Lumayan besar untuk seorang pegawai kafe sepertinya. Kini dompetnya terisi beberapa.

Jiyeon tak sadar waktu berjalan begitu cepat. Ia akan menerima gaji keduanya sebentar lagi. Benar-benar tak sadar, bahwa dia sudah dua bulan bekerja di kafe Moong. Dua bulan dia bekerja bersama Myungsoo, Minho, Jieun dan yang lain.

Bahkan dia tak sadar sikap Minho yang begitu drastis padanya. Minho yang dulu begitu tak peduli padanya, sinis dan angkuh, berubah menjadi teman baik yang menyenangkan. Pria itu selalu ada, siap menjadi pendengar cerita yang baik. Jiyeon bahkan tak menyadari proses pertemanannya dengan si Bos Kedua. Juga dengan teman-temannya yang lain, yang dirasanya sudah seperti keluarga kedua.

Ia berpikir gaji keduanya akan dia pakai untuk apa. Ah, tentu saja. Membeli pengobatan kepada Ayahnya. Dia tak mau melihat Ayahnya terus menerus seperti itu. Bagaimanapun, dia harus bisa membuat beliau sembuh dan bangkit. Siapa tahu hidup mereka bisa jadi jauh lebih baik.

Ketika sampai rumah, ia meletakkan ramennya ke mangkuk miliknya, dan ramen satu lagi ke mangkuk Ayahnya. Setelah mengantarkan ramen tersebut kepada appa-nya, Jiyeon terduduk diam di meja makan. Sibuk melahap ramennya sampai bunyi mengunyahnya terdengar ke penjuru rumah.

Saat sedang sibuk mengorek sisa ramen di mangkuk, pintu menjeblak terbuka. Membuat Jiyeon nyaris terjungkal. Dia menggerutu begitu melihat Sooyoung dengan langkah lebar berjalan menghampirinya di meja makan. Membawa sebuah lembaran di tangan.

“UNNIE!” pekiknya begitu duduk di depan Jiyeon.

“Iya, aku di sini, tak usah teriak-teriak,” sahut Jiyeon datar, dia masih begitu kesal dengan kejadian tadi yang membuatnya tak bisa bekerja hari ini.

Unnie! Aku baru sadar bahwa aku tak membangunkanmu untuk bekerja saat jam sepuluh pagi tadi. Oke, tapi itu tak penting untukku. Ada sesuatu yang lebih penting, untuk kita.”

Jiyeon mengangkat sebelah alis. “Aku ini tak penting, katamu? Dan, sesuatu yang penting itulah yang membuatmu sudah pulang jam satu siang begini dan langsung menghampiriku?”

“IYA!” pekik Sooyoung tanpa bisa ditahan. “Aku langsung ingin memberitahukannya padamu.”

“Apa? Beritahu aku!”

Sooyoung menyerahkan kertas yang ada di genggamannya tadi. Jiyeon menatap Sooyoung ragu sebelum membukanya, dan membaca satu per satu kalimat. Di tiap kata, keningnya langsung berkerut-kerut. Tanpa sadar, dia bahkan menahan napas membacanya. Setelah membaca, dia langsung meletakkan surat itu ke meja makan dengan kasar.

Jiyeon menatap Sooyoung yang tiba-tiba kini sudah berlutut di sebelahnya, dengan kedua telapak tangan ditempelkan dan ekspresi wajah memelas. Tatapannya begitu penuh permohonan. Jiyeon menatap mata itu dalam.

“Kau serius, Park Sooyoung?”



1. Jadi, sebetulnya, part ini sudah selesai beberapa hari sebelum Lebaran. Cuma karena authornya agak lama pulang kampungnya, jadi baru bisa dipost sekarang.

2. Aku tahu part ini pendek banget. Gak selaras sama readers yang mungkin sudah menunggu lama. Tapi serius, selanjutnya, karena sesuatu dari Sooyoung tadi, konflik sesungguhnya bakalan muncul.

3. Cerita ini nggak kugantung, karena semua outlinenya sudah disiapkan. Tinggal bagaimana aku mengetik ceritanya aja.

4. Mungkin selanjutnya, aku akan usahakan jadi panjang untuk bbrp part. Tapi aku juga butuh saran dan kritiknya. Kadang aku suka agak sebal sama readers yang komennya cuma ngeluh ‘partnya pendek banget’. Ya gils. Ngetik itu cape, tau.

5. Sekali lagi, biar gak bingung, disaranin baca dari part-part sebelumnya.

Have a nice day!🙂

29 responses to “[CHAPTER – PART 9] Skinny Love

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s