[CHAPTER – PART 4] Pain : Ibu

painthe story is mine

Pain #4 || ©Aeyoungiedo
PG-17 || Hurt, Comfort, Drama, Family
Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Park Yejin, Lauren Park
ibu..kau sosok terhebat dalam hidupku.

Yejin hampir tercekat ketika melihat Myungsoo mencium Jiyeon. Tangannya menggendong Lauren yang sedaritadi enggan membuka kelopak matanya. Mulutnya menganga mengucap sepatah kata yang bahkan ia tidak mengerti maksudnya. Tangan Yejin bergetar membuka kenop pintu bercat putih. Bukannya enggan tetapi ia tidak sanggup.

Suhu dingin. Nyaris membekukan hati Yejin yang kini berkeping. Yejin meringis. Merasakan kesakitan pada jantungnya. Tidak. Tidak boleh terjadi. Diam diam ia menangis merutuki perasaannya yang bodoh.
sesungguhnya cinta tidak bodoh, semua tergantung persepsimu ketika memandangnya.Yejin mengusap air matanya. Harus kuat. Untuk Lauren, untuk Jiyeon, bahkan untuk Myungsoo sekalipun. Diam diam bayangan Myungsoo mulai terpahat di hati gadis bermata sipit itu, tak bisa mengelaknya. Cinta tidak akan salah memilih. Tergantung hati yang ditinggali.

“Jangan menyimpan bebanmu sendirian.”
Demi Tuhan. Yejin ingin menyumpal orang yang mengatakan itu padanya. Yejin tersenyum kecut menatap pria berkulit sedikit tan disebelahnya.

“tidak, aku–”
“ini. Simpan sapu tanganku. Barangkali kau butuh.”tangannya menyulurkan sebuah sapu tangan berwarna soft cream pada Yejin yang sekarang termenung. Yejin tak mengindahkan bisik dari orang orang disekitarnya. Matanya membengkak, hidungnya memerah. Akibat terus menerus menggali perasaannya pada Kim Myungsoo.

“terima kasih.”
“Namaku Kim Jong In, kau bisa memanggilku Kai.”jelasnya acuh. Yejin mengangguk mendengar ucapan seorang pemuda bernama Kai. Jarang sekali ia menemukan orang Korea disini, hanya saja kehadiran Kai benar-benar mengejutkannya.

“aku sering melihatmu. Aku teman satu kampus denganmu, hanya saja kita berada di fakultas yang berbeda. Kau itu terkenal sekali sih.”cerocos Kai. Yejin tersenyum tipis. Yejin tidak merasa terkenal, lagipula Yejin orang yang supel pada setiap orang yang ia kenal.

“oh iya, kakakku sudah selesai check up. Aku pulang dulu ya, permisi. Satu lagi, kamu jangan pernah menangis arra?”Kai mengacak pelan rambut bergelombang Yejin. Yejin memandangi sapu tangan Kai. Perlahan lahan, seutas senyum mengembang di wajah Yejin.

unnie baik baik saja, kan?”tanya Yejin setelah menaruh parsel yang ia bawa di atas nakas. Jiyeon mengangguk sambil terus mengunyah apel yang tadi dikupaskan Myungsoo. Yejin tersenyum senang, untuk pertama kalinya sorot dingin tidak terpancar dari sorot mata kakaknya itu.

“bagaimana ujian praktikum-mu?”
“eh?”

Yejin yang sedang memindahkan channel televisi mendadak terkejut dengan pertanyaan kakaknya tadi. Bukan sedih, melainkan rasa gembira yang terus meluap-luap. Seharian ini Jiyeon menjadi manja pada Yejin.

“mama..”

Tenggorokan Jiyeon tercekat dengan suara parau dari Lauren. Jemari Jiyeon menjentik dahi putrinya. Membuat Lauren sedikit meringis, tapi lama-lama menangis. Jiyeon hanya membisu menatap putrinya yang menangis dihadapannya.

“aku rindu ayah.”

aku rindu ayah.
aku rindu ayah.
aku rindu ayah.

Tiga patah kata mampu membuat aliran darah Jiyeon seakan berhenti, menatap mata Lauren yang sedikit berkaca-kaca. Bibir mungilnya yang semula berwarna merah merona kini mendadak pucat pasi. Harus Jiyeon sadari. Lauren butuh ayah.

“Lauren–”
“Mana ayah, ibu? Aku rindu ayah! Apa ayahku seorang kriminal sehingga kau menyembunyikannya padaku?”tanya Lauren setengah menjerit. Jiyeon sedikit tersentak. Pertama kali Lauren membentaknya seperti itu.

“Sayang–“ucapan Jiyeon terhenti. Kata-katanya hanya sebatas hingga tenggorokan saja tidak lebih. Lauren memberontak. Jiyeon benar-benar kehilangan kata kata. Ada kalanya ia ingin menerangkan tentang Minho, termasuk awal kejadian itu. Tapi…kata kata itu menguap entah kemana.

Air mata Lauren terus mengucur dari mata bulatnya. Ingin menghapus air mata itu, tapi–Jiyeon merasa tidak pantas.

“Lauren sayang, ikut paman.”Myungsoo yang tiba-tiba muncul menyeret Lauren. Ke taman, tempat faforit Lauren untuk menghabiskan waktu dengan Myungsoo. Lauren mengeratkan syal yang ia pakai. Menatap butiran salju yang turun…Tak ada orang yang lalu lalang disini selain Lauren dan Myungsoo.

“Sayang, apa Lauren tidak tahu betapa hebatnya mama Lauren.”Myungsoo berjongkok. Lauren menunduk. Hatinya menyayangi Jiyeon, terlampau sangat. Tapi kali ini–Lauren benar benar benci. Jiyeon yang terus menerus menyembunyikan identitas ayah Jiyeon.

“Mama Lauren adalah ibu yang paling hebat, ia berjuang diantara rasa sakitnya untuk membahagiakan Lauren. Meskipun ia tersiksa, ia tetap menyayangi Lauren sepenuh hati. Walaupun Lauren tidak punya ayah sekalipun, tapi Lauren harus tetap ingat. Ada empat orang yang menyayangi dan menjaga Lauren. Ada Jiyeon eomma, Myungsoo samchon, Yejin imo dan juga Kate. Harusnya Lauren bersyukur.”tangan Myungsoo beralih mencubit hidung bangir Lauren dihadapannya.

Tangan Myungsoo yang satunya lagi mengambil alih Lauren dari bench, kemudian beralih menyusuri jalanan padat nan dingin kota New York.

Mata elangnya menyusuri Brooklyn. Setelah berjalan kaki dari Staten Island yang dihubungkan dengan Brooklyn borough melalui Jembatan Verrazano-Narrows, ia sampai pada sebuah bangunan apik bernuansa klasik. Hanya papan plang di dekat gerbang yang menunjukkan bahwa bangunan tersebut adalah panti asuhan. Tidak terlihat seperti itu, tapi lebih menyerupai sebuah hotel. Lauren melangkahkan kakinya. Disambut dengan wajah seorang perempuan berambut pirang yang sudah kusam, dan juga –baju yang compang-camping. Berbanding terbalik dengan apa yang Lauren kenakan.

“Myungsoo Kim, and who is the beauty child here?”sapa Franklin ramah pada Myungsoo sembari menatap Lauren lekat. “She is Lauren.”jelas Myungsoo pada Franklin. Lauren menatap anak sebayanya miris. Harusnya mereka bisa merasakan kasih sayang kedua orang tua. Tapi..mereka kehilangan orang tua sejak kecil. Ada yang orang tuanya meninggal, bahkan ada yang sengaja dibuang karena alasan malu pada tetangga.

“Lauren-ah seharusnya kamu bersyukur, masih ada Jiyeon eomma yang menyayangimu sepenuh hati..Meskipun kau tidak mengenal siapa ayahmu, tapi Jiyeon eomma adalah ibu yang baik. Ia mempertaruhkan nyawanya saat melahirkanmu, dia bahkan bekerja hingga larut demi memenuhi kebutuhanmu. Seharusnya kau bersyukur, arra?”

Lauren mengangguk mendengar penjelasan Myungsoo. Harusnya saat ini Lauren bersyukur. Lauren memang tidak tahu ayahnya siapa, hanya saja sosok Jiyeon sudah cukup. Jiyeon bisa merangkap menjadi ibu, ayah, bahkan teman untuk Lauren. Terlebih ada Yejin, Myungsoo, dan Kate yang selalu menyayangi dan melindungi Lauren sepenuh hati.

“Seharusnya kau bersyukur akan hal itu, Lauren-ah. Kau beruntung daripada mereka. Kau disekolahkan di tempat yang terbaik, di beri makanan yang lezat, dan kesehatanmu selalu dijaga sayang.”ujar Myungsoo pelan. Lauren mengangguk. Kasih sayang Jiyeon lebih dari semuanya, ia hanya butuh Jiyeon disampingnya. Tapi Lauren tidak memungkiri, ia kehilangan figur seorang ayah yang bahkan kini entah dimana rimbanya.

Setelah puas bermain dengan anak panti, Lauren dan Myungsoo pamit. Kembali melewati jembatan megah itu, lalu pergi menuju rumah sakit yang terletak di kawasan State Island. Laure n berharap Jiyeon cepat sembuh agar bisa menemani Lauren bermain lagi.

“Mama…”Lauren memeluk Jiyeon erat setelah tiba. Jiyeon yang sedang mengobrol dengan Suzy dan Yejin terkejut. Sesaat kemudian ia tersenyum. Jiyeon mengisap aroma mint yang menguar dari rambut anaknya. Tangan Jiyeon yang satunya mengusap punggung Lauren.

“Lauren janji gak akan mengecewakan mama lagi, Lauren sayang mama..”isak Lauren. Jiyeon tersedu. Tangisan mereka menggema hingga ruangan itu. Untungnya ruangan yang dipesan Jiyeon adalah ruangan kedap suara.

“Mama Jiyeon akan berusaha mencari appa Lauren.”janji Jiyeon. Meskipun begitu tak ada kata-kata yang sukses terucap dari bibir mungil Jiyeon. Lauren mengendurkan pelukannya. Menatap ibunya lekat. Jiyeon selalu menatap Lauren lembut, lalu memeluk Lauren penuh kasih sayang setelah ia pulang dari sekolah.

Lauren sayang mama Jiyeon, Lauren harap mama Jiyeon tidak akan meninggalkan Lauren seperti ayah meninggalkan Lauren dan mama disini.

“ayo semua, buat puisi untuk orang yang berpengaruh di kehidupan kalian masing-masing.”ucap bu guru dalam pelajaran bahasa. Lauren mengangguk kemudian berpikir. Lauren memikirkan sosok terhebat dalam hidupnya, yaitu..

Lauren memasang senyum manisnya. Jackson yang kebetulan mendapat giliran duduk di sebelah Lauren mengernyit. Tetapi Jackson memutuskan untuk melanjutkan tugasnya kembali.

“Baiklah, karena ibu lihat kalian sudah selesai, ibu akan menyuruh satu dari kalian untuk membacakan puisi esai di depan. Dan, giliran pertama adalah Lauren.”

Lauren menarik napas. Ditatapnya seluruh isi kelas. Mereka menatap Lauren dengan pandangan seolah mengejek. Lauren menatap kertas lusuh yang kini ada di tangannya.

“Untuk ibuku. Park Jiyeon.
Aku bangga menjadi anakmu, mama. Kau wanita kuat, cerdas, dan tangguh.
Kau selalu bersabar padaku.
Kau melengkapi sosok ayah dalam hidupku, sehingga kehadirannya ku rasa tidak terlalu penting.
Kau wanita tercantik di dunia yang pernah aku lihat.
Kau menguatkan aku, akan semua ejekan yang pernah aku dapat.”ketika Lauren membaca kalimat tersebut, ekor matanya menilik ke Jane yang terbungkam.

“Kau mengusap punggungku lembut ketika aku merasa kedinginan.
Aku..
Maafkan aku ibu, aku pernah tidak bersyukur atas ayahku.
Tapi aku tahu,
Kau merasa sama tetapi kau tidak pernah menunjukkannya padamu.
Aku mencintaimu ibuku, Park Jiyeon.”

Lauren menyelesaikan puisi yang ia buat. Semua teman-temannya di kelas menatapnya berkaca-kaca. Bahkan Giant, laki-laki yang dikenal tidak pernah menangis di kelasnya itu menangis tersedu. Ibu guru menitikkan air matanya. Bahasa Lauren sangat sederhana, tapi maknanya bisa ia resap. Ibu guru bisa merasakan perasaan Lauren selama ini, yang ia tidak pernah ketahui.

Lauren membungkuk disambut tepuk tangan meriah dari teman-temannya.

ibu, puisi ini aku dedikasikan untukmu ibuku, cepatlah sembuh.

“Baiklah. Giliran selanjutnya Jackson Wang.”

Jackson tersenyum membacakan gilirannya. Ia berharap Lauren akan melihatnya saat ini. Tapi sayang gadis itu memilih melihat ke luar jendela. Jackson akhirnya membacakan puisinya.

Lauren tidak menyimak puisi yang Jackson bacakan, tapi ia terperangah saat mendengar kata-kata dalam puisi Jackson yang terakhir.

“Untuk Lauren Park yang cantik.”

Lauren merasakan pipinya bersemu merah seiring dengan Jackson yang kembali ke tempat duduk. Ini aneh. Lauren tidak pernah merasa segugup ini pada Jackson.

tbc

maaf ya, part ini menceritakan Lauren-Jiyeon tapi lebih banyak ke kisah Laurennya. Selanjutnya, aku ga tau apa yang terjadi xD
Aku harap kalian suka ya, dan jangan berhenti koreksi kalau ada yang salah.

51 responses to “[CHAPTER – PART 4] Pain : Ibu

  1. Sejujurnya ceritanya menarik sangat menarik, hanya saja alurnya dibuat terlalu cepat. Mungkin authornya memang hanya menceritakan point2 nya aja. Tapi alangkah lebih seru dan bikin greget penuh emosi jika alurnya dibuat lebih panjang. *tapi jangan kepanjangan takurt bosen juga* hehhe maaf hanya masukan^^ diluar itu semua ceritanya menarik bgt kok author^^ kereen^^

  2. woah myung daebak, aku rasa kau mengajari lauren lebih dari seorang ayah yang mengajari anaknya kkk… aku bangga padamu myung lanjutkan kkk…
    next thor di tunggu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s