[ CHAPTER – PART 11 ] COUPLE OR TROUBLE ?

COT2(3)

Tittle : Couple Or Trouble ?

Author : gazasinta

Main Cast :

– Kim Myungsoo as Myungsoo
– Park Jiyeon as Jiyeon
– Kim Jongin as Jongin
– Jung Soojung as Krystal

Additional Cast :

– Lee Taemin as Taemin
– Park Luna as Luna

Genre : Romance, Married Life, Little Bit Comedy

Rating : PG-17

Poster created by @olivemoon2

 

Author’s note :

Pertama-tama sebelum yang kedua, author mau ucapkan Taqabalallahu Mina Wa Minkum, Shiyamana Wa Shiyamakum. Hepi Ied Mubarak ya chingudeul yang merayakan  semoga kita kembali fitrah, Aamiin.

Kedua sebelum ketiga. Mianhae jika author semakin hari semakin lama aja nge-post ff. Tapi yakinlah, jika author terus kepikiran, pengennya setiap minggu post, tapi lebaran kemaren sibuk binggo. Biasalah, ibu-ibu pejabat sibuk masukin lembaran-lembaran rupiah kedalam angpao….wkwkwkwkw ngibulnye ketinggian* Padahal sibuk kesana kemari nyari angpao.

Dan ketiga sebelum keempat, sepertinya udah saatnya author mau ngucapin gomawo sangat untuk nama-nama dibawah ini :

indahpark, hara91, iindri, shinahrin43, park fitry, dyah babydino, idws, Ifahsiwonest, djeany, Isti, tiya, icha, iiney, Risni Abidin, titi, sunghami22, khunniayuni, yulisa, bluesky, nissa, beyyera, kriswulan, Riska, rina septiani, lkimpjy, windy_pjy, lira hafidah, bonita nazlia, 97queeny, anonymous, Quessthy97, Devi Jiyeonnie Wu 921028 , queen/kimmy, BebyPanda, baby.dino, lilianprastisa1, mrslim91, mumu, chacha, niajoe, yongshwa, yenniez mys, miss rara panda, dhezy_pjy94, irmairiana, mkdJY, Lisa Sasmita, heol~, aichanie, ira kim, kim ira, yuli, regina, agatha1004, nanda, hana, yuliatka, yeonsoo, adriannalian, Keeya, pipit, Jessie, diann, lovemryookim, tryana, zulfa, jiyeon always, myungyeon, HennyLestari, Pinkanmys, Yumi Kim, myungah99, Yeojachingu kim myungsoo, Mrs.Yehet, yeonie, Mulka_Libra, Yeonia, ririn, Hidra, jans08, yetci, chocolateela, nova, novii, latifahfahmi, L~Jiyi, Cia, , elma ingga, Baby^_^dino~bininya_L, is ice, novitasiichanchan, Haeril Jjang, kyeon, RM, Areum ‘o’, pacarnya bo-bo-ho, amalina park, olivemoon, JullieHimchan, lisa, yulie yeonli, nitha, Rasma, komalasari776, myungie, keyzichen17, jihyunssi, indri PJY

Untuk yang ga kesebut diatas, bukannya aku mengecilkan atau ga menghargai kalian, tapi nama-nama diataslah yang nyangkut diotak author yang cuma 1 kbps ini, meskipun sebenarnya beberapa nama diatas juga timbul tenggelam dan bahkan baru mampir. Kekekekee.

Keempat sebelum kelima  bersiap-siap untuk readers AMOH, nextnya adalah ff itu yang aku post.

Kelima sebelum keenam *readerssiap2asahgolok-kebanyakan cingcong nih author.

Hehehe, Mian aku mau curhat sedikit. Tiap ngepost ada aje curhataennye Aku harus mengatakannya, walau sebenarnya ini menyakitkan hatiku  Aku sempet kesel waktu kemarin ada yang bilang kalo ff ku terlalu mendramatisir, dan kesannya dipaksa supaya seru, karena itulah aku sempet ga napsu untuk ngapa-ngapain, ga napsu makan kalo bayar, ga napsu mandi kalo lagi bobo, ga napsu ngecengin cowo kalo lagi dipengajian *Mama Dedeh ampuni muridmu yang satu ini 

Intinya semua author punya gaya masing-masing dalam membuat ff, jadi tolong jangan bandingkan kami. Jika suka silahkan baca, ga suka awas aja silahkan baca yang kalian suka. Untung masih suasana Lebaran, jadi keselnya udah ilang sekarang 

Terakhir keenam ga pake ketujuh. Okeh udah sesi cuap2nya, sekarang monggo silahkan dinikmati yah,dan aku tetap butuh dukungan kalian. jangan lupa RCL nya yah. GOMAWO !!!!!

Previous part

“ Waeyo ? kau tidak terima jika istrimu bersamaku ? “

“ Apa kau gila ? pria mana yang membiarkan istrinya bersama dengan pria lain ? “

“ Bahkan jika dia hanya bekerja untuk membayar hutang ? “

“ Mwo ? Hutang ? “

Myungsoo menatap Jongin intimidatif, bagaimana mungkin yeoja bodoh itu memiliki hutang pada oranglain.
Yang ditatap sinis hanya mengendikkan bahu, dan menyusul Jiyeon yang mungkin masih menangis ditoilet.

Myungsoo mencengkeram jemarinya kuat, dan pergi meninggalkan resaturant dengan hati yang masih membara. Myungsoo tak peduli bagaimana setelah ini, menghadapi halmeoni, Jongin, Krystal, ataupun dirinya sendiri…ia juga tak peduli kemana allien itu akan pulang malam ini. Ia benar-benar kecewa.

Part 11 ~ Couple or Trouble

Author’s POV

Jiyeon mendongakkan wajahnya ketika seseorang membuka pintu toilet, buru-buru ia mengusap wajahnya yang basah dengan airmata dan tersenyum mengira jika Myungsoo datang kembali. Senyumnya memudar dan tubuh Jiyeon kembali lunglai mengetahui jika ternyata itu pria Kim lainnya.

“ Aku harus menjelaskannya “ Ucap Jiyeon dan dengan cepat keluar dari toilet meninggalkan Jongin yang kini menjadi tatapan penghuni toilet lainnya.

“ Tuan…..ini toilet wanita “ Ucap seorang wanita mengingatkan.

“ Ehem “ Jongin berdeham seraya berpura-pura matanya berkeliling, membuat dirinya tetap berwibawa, dan kemudian keluar dengan langkah kaku menahan malu.

“ Ahjussiiiiiii !!!! “ Jiyeon berlari dan berteriak memanggil Myungsoo yang sudah berada cukup jauh “ Ahjusiiiiiiii, kau tidak bisa begitu saja meninggalkanku “ Teriaknya kemudian terdengar marah.

Myungsoo menahan tangannya untuk membuka pintu mobil dan menoleh untuk menatap tajam kearah Jiyeon. Perasaannya masih terlalu sakit mendapati Jiyeon membohonginya.

“ Aku dan Kim Jongin sama sekali tidak ada apa-apa, aku hanya berusaha untuk …..”

“ Keumanhe !!! aku tak mau mendengarkan penjelasanmu tentangnya “

“ Tapi dia memang….”

“ APA KAU TULI ? SUDAH KUBILANG AKU TAK MAU MENDENGARKAN APAPUN PENJELASAN TENTANGNYA !!! “

Jiyeon sontak terdiam, tubuhnya bergetar hebat, sekuat tenaga ia menahan tangis. Myungsoo yang ada dihadapannya, Jiyeon benar-benar seperti tak mengenalnya.

“ Ahjussi….kau tak pernah berusaha untuk mendengarkan penjelasan orang lain, meskipun kau tahu kebenarannya, kau selalu ingin bersikap egois “ Ucap Jiyeon menunduk dan sudah menangis “ Jika ahjussi menginginkanku untuk pergi, aku akan pergi, tapi aku berharap kau tidak akan menyesalinya…hiks….hiks “ Dada Jiyeon bergerak naik turun karena terisak, ia mengatakannya hanya dengan menunduk tak sanggup menatap Myungsoo.

“ Mwo ? Menyesal ? Tch…waeyo ? apa kau wanita yang berharga dalam hidupku ? apa tidak ada dirimu maka aku tak bisa hidup ? kau siapa ? kau bahkan bukan siapa-siapa untukku “ Ucapnya mengecilkan siapa Jiyeon untuknya dengan gaya seolah tak butuh.

PLAKKKK !!!!

Tepat setelah Myungsoo menyelesaikan kalimatnya tangan Jiyeon melayang begitu saja, ia tak bisa lagi mengontrol emosinya, wanita yang haus belaian laki-laki dan kini tak berarti apa-apa dimata Myungsoo. Cukup ! bahkan ketika mengenal Myungsoo ia mengabaikan kebahagiannya, itu sangat menyakitinya.

Jiyeon tak lagi berkata apa-apa, ia kemudian berbalik meninggalkan Myungsoo yang sedang memegangi pipinya. Jiyeon menyerah untuk menjelaskan dan menerima keputusan Myungsoo. Mengakhiri sisa kontraknya lebih cepat dari yang mereka sepakati.

Myungsoo tersenyum pahit, dan menggusak kasar rambutnya “ SIALLLL !! “

Jongin membiarkanMyungsoo dan Jiyeon berbincang, ia hanya mengamati mereka dari kejauhan. Ia sempat berniat akan menghampiri ketika dilihatnya Jiyeon menampar pipi Myungsoo, tapi akhirnya ia memilih untuk mereka menyelesaikannya berdua saja.

Dan kini ia melihat Jiyeon berjalan seperti tak tentu arah, yeoja itu terlihat begitu rapuh karena Myungsoo. Jongin bergerak cepat untuk menghampiri yeoja itu.

“ Kita pulang “ Jongin meraih tangan Jiyeon.

Jiyeon mendongakkan kepalanya dan menatap datar Jongin. Melihat wajah pria ini, entah mengapa ia menjadi sangat kesal. Sebenarnya ia tak ingin menyalahkan Jongin, tapi pada kenyataannya, pria inilah yang menyebabkan hubungannya dengan Myungsoo menjadi buruk.

Jika saja Jongin tak menyentuh bibirnya tadi….atau,

Jika saja Jongin tak mentraktirnya karena mengira dirinya berulang tahun…bahkan,

Jika saja Jongin tak pernah masuk dalam kehidupannya,

Tentu hal ini tidak akan terjadi.

Terlambat, Jiyeon tak lagi bisa menyesalinya dan menghibur diri dengan kalimat “ Jika saja…..”

“ Jangan menyentuhku !! “ Cegah Jiyeon menepis tangan Jongin.

Jongin menatap Jiyeon dengan pandangan menusuk, niatnya untuk melindungi gadis ini ternyata tak mendapat sambutan baik. Senyum sinis terukir dibibir Jongin, menertawai perubahan sikap Jiyeon padanya.

“ Kau tahu? kau telah membuat segalanya menjadi rumit, keberadaanmu didekatku membuat segalanya menjadi rumit !! “ Kesal Jiyeon mengatakannya dengan hanya satu tarikan nafas.

Gadis ini sedang dikuasai emosi, jadi dibutuhkan sikap sedikit lebih keras untuk menyelesaikannya. Tanpa peduli lagi penolakan, Jongin menggendong tubuh Jiyeon dibahunya, membuat tak saja mulut yeoja itu yang memberontak tetapi tangannya memukul-mukul punggung Jongin.

“ Turunkan aku !!!! kau tidak boleh memperlakukanku seperti ini !!! “ Jiyeon meronta namun Jongin telah berhasil membawanya.

Brugh

Jongin menutup kencang pintu mobilnya setelah berhasil memaksa Jiyeon masuk dan duduk didalamnya. Ia kemudian berjalan menuju kursi kemudi, dan mendapati wajah basah Jiyeon yang menatapnya kesal. Jongin berusaha untuk tak peduli, dengan santai ia masuk dan mulai menyalakan mesin mobilnya.

Jiyeon membuang pandangan keluar jendela dan hanya pasrah kemana Jongin akan membawanya.

“ Tidak perlu, sepertinya kau benar-benar haus belaian laki-laki. Tch….pilihanmu tepat, kau akan mendapatkannya dari pria brengsek itu “

“ Mwo ? Menyesal ? Tch…waeyo ? apa kau wanita yang berharga dalam hidupku ? apa tidak ada dirimu maka aku tak bisa hidup ? kau siapa ? kau bahkan bukan siapa-siapa untukku “

Kalimat menyakitkan itu kembali terngiang, bahkan masih jelas dalam ingatan Jiyeon wajah jijik Myungsoo ketika mengatakan kalimat itu. Seperti dihantam godam tepat didadanya, Jiyeon bahkan sulit meski hanya sekali menarik nafasnya. Ia telah kehilangan Kim Myungsoo, sesaat setelah pria itu memintanya untuk bertahan lebih lama, sesaat setelah pria itu mengukir kenangan indah dihatinya kemarin di Everland. Sesaat setelah ia merasa sikap Myungsoo sedikit berubah padanya. Rasanya Jiyeon tak rela kehilangan ahjussinya dengan cara seperti ini. Menyesakkan.

“ Hu…hu…hu…hu “

Jiyeon kembali menangis dengan memukul-mukul dadanya yang terasa sangat sesak, ia tak peduli ada oranglain disampingnya yang bisa melihat wajah jeleknya karena menangis, ia benar-benar tak peduli. Hanya berpikir tentang Kim Myungsoo.

Jongin menghela nafasnya yang entah mengapa tiba-tiba terasa berat. Bayangan Soojung yang teramat kesal ketika ia mengabaikannya, serta wajah merah membara Myungsoo yang tadi dilihatnya memberikan kepuasan yang diinginkannya. Seharusnya ia bersorak senang merayakan awal kemenangannya, semuanya berjalan sesuai dengan apa yang ia bayangkan, bahkan ia belum melangkah terlalu jauh untuk membalaskan dendamnya.

Tapi, sesuatu seolah mengusik perasaannya, hanya karena melihat setetes air yang keluar dari mata indah Jiyeon. Harus Jongin akui jika ia salah sasaran, ternyata bukan dua orang – Kim Myungsoo dan Jung Soojung – itu yang ia lihat terluka sangat dalam. Melainkan gadis mungil yang duduk disampingnya, yang kini menangis terisak meratapi hubungan rumah tangganya. Sekuat apapun Jongin mengabaikan untuk tak peduli siapa yang paling terluka, asal itu ada kaitannya dengan Kim Myungsoo ataupun Jung Soojung, ia akan bersorak gembira, nyatanya ia tak bisa mengabaikannya.

Airmata Park Jiyeon membuat hatinya goyah, bahkan Jongin berani menyalahkan jika dirinyalah yang membuat gadis polos ini menangis…

Bukan Kim Myungsoo,

Meski pria itu, adalah alasan sebenarnya airmata Park Jiyeon mengalir deras.

Hari sudah gelap, namun Myungsoo masih berada diluar. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, membelah jalan lurus gelap dan panjang Seoul. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia tak tahu apa yang harus dilakukan ketika hatinya sedang marah.
Dikehidupannya yang telah lalu, jika Krystal alasan ia marahpun, Myungsoo masih bisa menampakkan dirinya dihadapan wanita itu, memeluknya erat maka amarahnya bisa mudah menghilang. Namun dengan Jiyeon, mulutnya bahkan dengan mudah meminta yeoja itu pergi dan menghilang dari hidupnya.

Myungsoo seolah lupa jika Jiyeon tak berhak untuk disakitinya hingga sedalam itu. Ia lupa jika ia tak berhak memaki dengan kalimat pedas, tak berhak melarang yeoja itu berhubungan dengan siapapun, bahkan dengan Jongin, seseorang yang dianggap sebagai musuhnya sekalipun, tapi nyatanya Myungsoo larut dengan perjanjian yang mengikat mereka, tanpa bisa memberi batasan antara kehidupan bebas yeoja itu dengan perjanjian bodohnya. Ia tega membuat yeoja itu menderita dengan menanggung masa lalunya yang dipenuhi dendam.

Mungkin saat ini alasan apapun tak mampu membuat hati Myungsoo terketuk untuk menyadari kesalahannya, ia membiarkan saja hatinya dikuasai oleh amarah dan…entahlah ia menyebut apa perasaan bencinya yang datang ketika ia melihat allien itu dengan pria lain.

Kini berputar diotaknya kapan mereka saling mengenal, di pesta launching perusahaan ayah angkat Jonginkah atau jauh sebelum itu ? Myungsoo tidak tahu, yeoja itu terlalu asing ketika datang ke kehidupannya.

“ Kalian benar-benar bermain-main dibelakangku, brengsek !!! “

Krystal baru akan turun dari mobilnya menuju rumah Jongin dengan membawa makan malam untuk pria itu, ia bertekad untuk tetap berusaha memperbaiki hubungannya, namun sebuah mobil datang dan berhenti tepat didepannya. Krystal tersenyum ketika Jongin keluar dari dalamnya, tangan yang sudah meraih knop mobil ia urungkan kembali ketika dilihatnya Jongin melangkah menuju pintu sebelah.

Krystal terhenyak ketika Jongin membawa tubuh seseorang dari dalam sana, tak menyangka jika Jongin telah memiliki kekasih baru, pengganti dirinya. Keterkejutannya belum usai, ia mengenali sosok yang dibawa Jongin dalam gendongannya. Krystal sontak menutup mulut dan menggeleng tak percaya.

“ Park Jiyeon !!! “ Pekiknya terkejut.

Krystal sulit untuk percaya, ia bahkan mencubit lengannya dan merasakan sakit. Bukan mimpi, apa yang dilihatnya sama sekali bukan mimpi. Krystal berusaha untuk membuat tenang pikirannya, ia tak mau gegabah dengan muncul begitu saja dihadapan Jongin dan memberondongnya dengan banyak pertanyaan seputar hubungan keduanya. Benar, ia tak boleh segegabah itu , ia harus memikirkan cara yang tepat untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Park Jiyeon istri sah Kim Myungsoo bersama dengan Kim Jongin, bagaimana hal ini bisa terjadi ? Ada rahasia apa antara Kim Jongin, Myungsoo serta yeoja itu yang tidak ia ketahui.

Myungsoo menutup hidung dan mengambil banyak udara sebelum menenggelamkan sempurna tubuhnya di bathub, berharap perasaan kesal, sedih, kecewa, marah atau apapun yang ia rasakan luruh bersama air yang menenggelamkannya.

Hingga beberapa detik lamanya,

“ Fiuhhhh……uhuk…uhuk “

Myungsoo mengusap wajahnya yang memerah, nafasnya memburu tajam. Rasanya sesak, tak mendapatkan oksigen didalam sana rasanya begitu sesak. Apakah seperti itu kedudukan allien itu dihatinya saat ini ? hingga yeoja itu tak berada lagi didekatnya. Myungsoo merasa begitu sesak.

Kringggg !!!!

Ia menoleh cepat ke arah ponsel yang berbunyi, meski masih menyimpan kemarahan, ia berharap jika yeoja itu yang menghubunginya.

“ Nde “ Ucap Myungsoo dengan suara lemah menjawab panggilan yang ternyata dari Krystal.

“ Myungsoo-ah, apa yang sebenarnya terjadi ? apa yang kalian rahasiakan dibelakangku ? “

Myungsoo menjauhkan ponselnya, meyakinkan dirinya jika yang menelpon adalah seseorang yang ia kenal, meski yang dibicarakan wanita diseberang sana tak ia mengerti.

Myungsoo kembali menaruh ponsel ditelinganya. Krystal, benar wanita itu yang menghubunginya.

“ Aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan ? “

“ Aku melihatnya. Jongin, dia membawa istrimu kedalam rumahnya. Sebenarnya apa yang terjadi ? “

Myungsoo menegakkan tubuhnya. Apa yang Krystal katakan membuat darah yang belum sepenuhnya berhenti bergejolak kembali mendidih. Jadi Jongin benar-benar ingin mengibarkan bendera perang dengannya, dan Jiyeon ? apa yeoja itu benar-benar memiliki hubungan dengan Kim Jongin.

“ Hahaha…..kau mungkin hanya salah melihat saja “ Myungsoo memaksa dirinya untuk tertawa.

“ Tidak. Mereka hanya berjarak kurang dari 10 meter dihadapanku “ Yakin Krystal.

Myungsoo terdiam, ia memang tak mungkin berbohong jika telah terjadi sesuatu, namun ia juga tak ingin jika akhirnya harus bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi. Jika seperti itu, maka ia pasti harus mengakui tentang pernikahan pura-puranya dengan Jiyeon.

“ Tch…pengecut ! “ Lirih Myungsoo.

“ Mwo ? kau berkata apa ? “ Tanya Krystal seperti mendengar Myungsoo bersumpah serapah.

“ Ahniya, hanya tentang diriku “ Ucap Myungsoo tersenyum sinis, menertawai dirinya sendiri.

Lagi-lagi Myungsoo menganggap ia tak konsisten dengan kemarahannya, hari bahkan masih sama dan bisa menjadi saksi ketika Myungsoo berkata bahwa ia tak lagi peduli bagaimana setelah kemarahannya pada Jiyeon tadi, menghadapi halmeoni, Jongin, Krystal serta dirinya sendiri. Nyatanya sekarang, ia masih tak ingin oranglain mengetahui rahasianya.

“ Mianhae, aku begitu lelah hari ini, yang tadi kau katakan…. anggap saja kau tidak pernah melihatnya, annyeong !! “

“ Changka….”

Myungsoo menutup pertama kali ponselnya, ia mencengkeram kuat jantungnya yang terasa seperti ditusuk-tusuk benda tumpul, menyakitkan seolah ia akan terbunuh dengan perlahan.

“ Arrgkkk “ Myungsoo menjambak rambutnya kesal, ia memukul air meski ia tau tak ada gunanya, dadanya terasa amat sesak.

Setelah banyak perjuangan untuk mempertahankan sandiwaranya, haruskah berakhir seperti ini ?

Keesokkan paginya,

Jongin duduk disamping Jiyeon, yeoja itu terus menatap ponsel ditangannya. Meskipun kesedihan masih terlihat jelas, setidaknya yeoja itu sedikit lebih tenang dibandingkan semalam yang Jongin lihat. Sepanjang malam yeoja itu menangis, hingga Jongin tak bisa tertidur. Untuk mengajaknya berbicarapun tak Jongin lakukan, karena Jongin tahu, yeoja itu menganggap dirinyalah penyebab retaknya hubungan rumahtangganya dengan Kim Myungsoo.

“ Mianhae “ Ucap Jongin meminta maaf.

Jiyeon menatap Jongin sekilas, tak lama ia kembali menatap kedepan dengan pandangan kosong.

Jongin menghela nafasnya, ia kemudian berpikir cara yang tepat untuk membuat yeoja itu tak lagi marah “ Semalam kau menangis hingga hampir menenggelamkan rumahku “ Ujar Jongin akhirnya, mencoba membuat suasana mencair.

“ Sama sekali tidak lucu “ Sungut Jiyeon tanpa menoleh.

Jongin tersenyum, kemarahan Jiyeon ternyata sudah mereda. Ia kemudian menghembuskan nafas dan memikirkan kalimat apa yang bisa menghibur Jiyeon. Jongin ingin sekali menghibur Jiyeon.

“ Apa aku terlihat konyol ? “ Tiba-tiba Jiyeon mengatakan hal itu.

Jongin tersenyum tenang, ternyata Jiyeon sudah mau berbicara padanya. Ditatapnya seluruh penampilan Jiyeon. Yeoja itu sudah membersihkan tubuhnya pagi-pagi sekali, tapi wajah sembabnya masih jelas terlihat.

Yang ditatap menatap balik, dan memajukan dagu lancipnya seolah bertanya mengapa-kau-menatapku-seperti-itu ?

“ Wajar untuk seseorang yang sedang patah hati ? “ Ucap Jongin seraya tersenyum tipis.

Jiyeon mengernyit heran, pria ini belakangan sering ia lihat tersenyum.

“ Apa aku terlihat seperti orang yang patah hati ? mengapa kau tidak mengatakan jika aku seperti wanita yang dicampakkan seorang pria ? “

Setelah mengatakannya, hati Jiyeon kembali tersayat. Ahjussi-nya, ia teringat kembali pria itu, Rasanya Jiyeon ingin kembali menangis kencang.

“ Jangan menangis lagi, percuma saja….dia tak akan pernah tau atau mendengar tangisanmu “ Ucap Jongin mencibir.

Jiyeon memandang tajam Jongin, pria ini sudah terlalu banyak mencampuri urusannya dengan Myungsoo, tapi jika dipikir memang hanya pria ini yang mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

“ Aku ingin sekali pulang, tapi…..”

“ Kau itu seorang wanita, dan dia seorang pria, seharusnya kau hanya boleh kembali jika ia menjemputmu “ Ucap Jongin memotong kalimat Jiyeon.

Jiyeon menatap Jongin pesimis. Ia bukanlah istri sungguhan, jadi tentu Myungsoo tak akan pernah menjemputnya. Membayangkan itu, tiba-tiba Jiyeon kembali bersedih. Sedih sekali rasanya tak melihat wajah galak itu hari ini. Ahni, mungkin bukan hari ini saja, melainkan hari-hari selanjutnya. Bagaimana ini ? Sepertinya Jiyeon tidak sanggup membayangkannya.

“ Hiks…hiks….hiks “ Jiyeon menggunakan jarinya, mengusap airmatanya yang tiba-tiba menetes kembali tanpa ia harapkan.

“ Percayalah, jika ia laki-laki sejati, ia akan datang untuk menjemput dan meminta istrinya kembali “ Ucap Jongin menyentuh lembut kepala Jiyeon.

“ Hiks…hiks….biasanya, jam segini aku sedang sibuk didapur untuk menyiapkan sarapannya “ Ucap Jiyeon sambil terisak.

Jongin memandang sedih Jiyeon, yeoja ini benar-benar seorang istri yang baik, disaat terlukapun ia masih memikirkan kewajibannya. Ada perasaan iri yang hinggap dihati Jongin. Myungsoo, sebenarnya pria itu beruntung sekali, bodoh sekali ia tak menyadarinya. Jongin membuang wajahnya yang tiba-tiba meringis jijik, lalu menggunakan tangannya seolah memberikan kode pada Jiyeon yang hanya bengong tak paham.

“ Apa ? “ Tanya Jiyeon.

“ Bersihkan wajahmu “ Ucap Jongin masih tak mau melihat Jiyeon.

Jiyeon mengusap kedua matanya, membersihkan sisa airmatanya untuk Kim Myungsoo “ Sudah “
Jongin menoleh dan tak lama kembali memalingkan wajahnya “ Apanya yang sudah ? kau ini benar-benar ceroboh “ Ucap Jongin berdecak kesal.

“ Apa ? “ Jiyeon kemudian menggunakan layar ponsel untuk melihat wajahnya.

“ Dihidungmu, kau meninggalkan sesuatu disana “ Ucap Jongin benar-benar jijik melihatnya.

“ Oh ini “ Jiyeon membersihkan kotoran yang keluar dari hidungnya hanya menggunakan tangannya “ Sudah “

Jongin menggelengkan kepalanya, tapi sebenarnya ia merasa takjub dengan sikap cuek Jiyeon. Tak sadar ada perasaan yang menyenangkan yang menyelimutinya. Rasanya hatinya begitu tenang melihat yeoja ini sudah bisa seperti dirinya sendiri.

“ Eum…aku akan berusaha untuk tak terlalu lama menyusahkanmu “ Ucap Jiyeon membuat Jongin menatapnya “Keunde, aku memang tak boleh lama-lama tinggal disini “

“ Siapa bilang ? kau bisa melakukannya sampai kapanpun “ Ucap Jongin membuat Jiyeon terdiam, karena menatapnya aneh “ Jangan bersedih lagi, semuanya akan baik-baik saja, aku akan membantumu “ Ucap Jongin, tak tahu apa tawaran itu ikhlas dari hatinya atau sekedar menghibur Jiyeon.

“ Apa ? kau bilang apa ? Ba-bagaimana hal i-tu terjadi ? “ Luna yang sedang merangkai bunga meletakkan begitu saja gunting dan segera menghampiri Krystal ketika sepupunya itu menceritakan apa yang dilihatnya semalam, tentang Jongin dan Jiyeon.

Krystalpun sedang berpikir dan tak menemukan jawaban. Bagaimana Jongin dan Jiyeon bisa sampai sedekat itu. “ Aku juga tidak tahu, Myungsoopun tidak memberikan penjelasan apapun “

Bola mata Luna membesar “ Jj-adi, kau juga sudah bercerita padanya ? La-lu baagaimana reaksinya ? “

“ Tentu saja biasa saja, bukankah kau juga tahu mereka menikah tanpa cinta “ Ucap Krystal enteng.

Luna memaksa otaknya untuk mengerti, namun sebenarnya terdengar janggal. Meski Myungsoo tak mencintai yeoja itu, melihat musuhnya bersama pasti akan terjadi sesuatu. Luna menatap Krystal, yang ditatap ternyata juga sedang menatapnya sejak tadi. Seperti ada sesuatu yang mereka berdua pahami.

“ Kau merasakan keanehan ? “ Tanya Krystal.

Luna mengendikkan bahu tak yakin.

“ Luna-ah, aku jadi teringat sesuatu “ Ucap Krystal penuh selidik.

“ Apa ? cepat ceritakan jangan setengah-setengah “

Krystal memicingkan matanya tak menyangka Luna menjadi begitu penasaran, tidak biasanya sepupunya ini antusias mendengarkan ceritanya, terlebih jika seputar pria bermarga Kim.

“ Apa kau percaya sebuah drama televisi ada didunia nyata ? “

“ Mwo ? tch…. “ Luna menggelengkan kepalanya “ Kukira apa. Tidak !!! “ Ucapnya yakin.

“ Tapi…..sepertinya ini benar-benar terjadi, sebelumnya aku dan Myungsoo bertemu, tapi setelah aku menceritakan sesuatu ia terlihat aneh “ Ucap Krystal kembali mengingat pertemuannya dengan Myungsoo kemarin malam.

“ Cepat ceritakan “ Paksa Luna.

“ Waktu itu….”

Krieettt

Myungsoo membuka pintu kamarnya, dan melangkah hendak menuju ruangan bawah untuk segera membuat sarapan. Ketika melewati kamar Jiyeon, ia berhenti dan menatapnya cukup lama. Bayangan Jiyeon ada disana, membuka pintu dengan wajahnya yang dipenuhi masker.

“ Kyaaaa !!!! Yya!!!! Mengapa kau selalu memasang topeng itu ketika tidur eoh ? Apa wajahmu tidak merasa gatal ? “

Biasanya ia akan berjengkit kaget dan memaki allien yang wajahnya menyeramkan karena tertutup masker, tapi sepertinya mulai hari ini ia tidak bisa melakukannya lagi. Kamar itu akan selalu tertutup, karena tak ada lagi penghuni didalamnya.
Kaki Myungsoo bergerak ragu, tapi akhirnya ia membuka pintu kamar Jiyeon. Kosong. Keadaan disana membuat perasaan Myungsoo campur aduk.

Brukk

Tak mau hatinya semakin gusar, Myungsoo menutup kencang pintu kamar Jiyeon dan melanjutkan kembali langkahnya.
Tiba di dapur, bayangan yeoja itu kembali muncul. Dilihatnya yeoja itu sedang sibuk membuatkan sarapan untuknya sebelum berangkat kekantor.

“ Ahjussi, aku akan membuatkan omelet sayur untukmu “

Sudut bibir Myungsoo membentuk sebuah senyuman, namun memudar ketika menyadari itu hanyalah sebuah ilusi “ Huh “ Myungsoo menghembuskan nafasnya kasar, ia sadar jika tak boleh larut dengan bayangan yeoja itu, bisa-bisa ia akan gila di usia muda.

Namun ternyata, sekeras apapun Myungsoo berusaha tak memikirkannya, yeoja itu selalu ada disetiap sudut ruangan. Tawanya, tangisnya, cengiran konyolnya, sifat bodohnya, semuanya seperti tak akan pernah bisa hilang. Apa yang harus ia lakukan ?

Merasa kesal dengan dirinya sendiri, Myungsoo akhirnya memilih untuk menonton televisi. Tubuhnya tiba-tiba terasa sangat lemah dan enggan untuk segera bersiap kekantor, ia memutuskan untuk berada dirumah saja sambil menenangkan pikirannya, meski ia tak yakin dirinya akan mendapatkannya -Ketenangan.

Ternyata channel yang ia pilih sedang menayangkan sebuah drama, meski bukan alur cerita yang sama tapi membuat tiba-tiba Myungsoo teringat sesuatu….

Flashback On

“ Jadi kalian menghabiskan seharian ini bersama ? woahhh syukurlah kau sudah bisa menerimanya “ Krystal nampak takjub dan bertepuk tangan senang ketika Myungsoo mengatakan jika ia dan Jiyeon pergi bersama ke Everland.

Myungsoo tersenyum hambar, dan kemudian menatap Krystal lemah “ Bagaimana hubunganmu ? apa kalian sudah bersama ? “ Tanya Myungsoo tak ingin membicarakan lebih jauh tentang apa yang ia lakukan bersama Jiyeon.

Krystal mendengus dan menundukkan wajahnya sedih “ Sepertinya sulit, ia benar-benar sudah mengabaikanku “ Bibir Krystal mengerucut kecewa.

Myungsoo memandang sedih Krystal, tak tega mendapati kenyataan bahwa wanita yang masih dicintainya terabaikan, namun ia juga tak bisa berbuat apapun karena Krystal tak memilihnya. Myungsoo kemudian menggenggam erat tangan Krystal. Ia tak ingin wanita ini lebih bersedih jika ia pun mengabaikannya.

“ Apa kau tahu ? sampai saat ini, aku percaya tidak ada wanita yang bisa menggantikanku di hatimu “ Krystal malah membicarakan hubungan mereka, membuat Myungsoo harus berpura-pura tersenyum mendengarnya.

Krystal mendongak menatap langit “ Jika kenyataannya seperti itu aku senang sekali, sampai-sampai aku pernah berpikir, usia pernikahan kalian hanya tinggal menunggu waktu “

Myungsoo menoleh dan menatap serius kearah Krystal, membuat yeoja itu sadar jika kalimatnya ada yang salah “ Ahh ini pasti karena aku kebanyakan melihat drama ditelevisi “ Krystal menepuk lembut bahu Myungsoo.

“ Memangnya drama seperti apa ? “ Tanya Myungsoo penasaran.

Krystal terdiam sejenak, kemudian kembali tersenyum “ Disana, ada pasangan yang menjalani pernikahan kontrak “

Raut wajah Myungsoo berubah tak enak mendengar cerita awal Krystal.

“ Ha..ha..ha, kau jangan menganggapnya serius, itu hanya sebuah drama, lagipula pernikahan kontrak itu menyedihkan, terlebih disisi wanitanya “ Krystal bangkit dari duduknya dan berdiri membelakangi Myungsoo.

Entah mengapa jantung Myungsoo tiba-tiba seperti tak terkontrol, dipenuhi rasa gelisah menunggu Krystal melanjutkan ceritanya. Apakah Krystal sudah mengetahui sesuatu ?

“ Kau tahu, seiring kebersamaan mereka muncul benih-benih cinta, tapi sayangnya hanya wanita itu saja. Cintanya bertepuk sebelah tangan, karena si pria sudah memiliki wanita lain yang benar-benar dicintainya “ Ucap Krystal menceritakan kisah drama melankolis.

Myungsoo tak sadar jika kini Krystal sedang menatapnya. Ia hanya diam saja, tapi sebenarnya hatinya sedang bergumul dengan banyak keresahan. Apa benar Krystal hanya bercerita tentang sebuah drama ? atau ada sesuatu yang wanita ini tahu dan ia tidak ketahui ? Memangnya ada drama yang seperti itu terjadi dikehidupan nyata ? Tapi, rasa-rasanya Krystal memang hanya bercerita tentang alur sebuah drama, bukan kisahnya. Hanya dirinya dan Jiyeon yang tahu, tidak ada yang lain.

“ Dan akhirnya, mereka benar-benar berpisah tanpa pernah bertemu lagi “

“ Eoh “

Deg….

Tangan Myungsoo merosot, hingga membuat tubuhnya tak memiliki penyanggah dan hampir terjatuh.

“ Kau kenapa ? “ Tanya Krystal nampak curiga dengan perubahan sikap Myungsoo.

“ Eoh…gwenchana, eum…..sepertinya ini sudah malam, aku…..harus segera pulang “ Myungsoo sontak berdiri meninggalkan Krystal

yang hanya mampu terbengong karena tak bisa menghentikan langkah Myungsoo.

Flashback Off

“ Dan akhirnya, mereka benar-benar berpisah tanpa pernah bertemu lagi “

Percaya atau tidak setelah Krystal menceritakan akhir dari kisah drama itu, Myungsoo menjadi seperti orang linglung. Ia tak ingin sandiwaranya berakhir sama. Jiyeon memang akan pergi dari sisinya, cepat ataupun lambat. Tapi untuk tidak bertemu lagi, sama sekali tak ia pikirkan dan harapkan. Berpikir tentang yeoja itu akan kembali pada kekasihnya dan meninggalkan rumahnya saja tak membuatnya ketakutan hingga gemetar seperti ia mendengar kalimat itu.

Kekalutannya membuat Myungsoo benar-benar seperti orang bodoh. Ia memikirkan hal itu semalaman, hingga tak sadar akhirnya tertidur dihalaman rumahnya sendiri, membawa serta ketakutannya dalam mimpi. Ketika terbangun dan mendapati hari sudah berganti, Myungsoo semakin resah, itu berarti kebersamaan mereka semakin singkat.

Myungsoo tahu ia tak bisa melakukan apa-apa untuk menahan yeoja itu pergi selain keegoisannya. Hanya memikirkan perasaannya, ia pun akhirnya meminta yeoja itu memperpanjang ikatan kebersamaan mereka, yang mungkin akan terus ia ulur sampai ia merasa siap. Entah kata “ Siap “ apa yang ia maksud. Siap KEHILANGAN atau memilih MEMILIKI ?

Terhitung sudah dua hari berlalu dari peristiwa itu, tapi tidak ada dari pihak Myungsoo ataupun Jiyeon yang memulai untuk meluruskan kesalahpahaman. Masing-masing dari mereka sibuk dengan pikiran dan ketakutannya.

Myungsoo memilih bergelut dengan dugaan-dugaannya tentang apa saja yang Jiyeon lakukan bersama Jongin ketika mereka tinggal bersama, yang justru membuatnya jadi uring-uringan tidak hanya dirumah, melainkan juga dikantor. Ia bersikeras menganggap harga dirinya ada diatas segalanya dan dengan ke percayaan diri yang tinggi merasa yakin Jiyeon akan datang untuk meminta maaf padanya.

Sementara Jiyeon, meski yeoja itu bersedih setiap harinya tapi akhirnya memutuskan untuk mengikuti apa yang Jongin sarankan. Bahwa ia adalah seorang wanita yang diusir, jadi tidak mungkin ia kembali dan memohon-mohon pada pria yang mengusirnya. Selama ini ia selalu mengalah dan membiarkan dirinya menjadi yang paling menderita, jadi tidak untuk kali ini.

Tidak hanya Myungsoo dan Jiyeon,

Krystal bahkan ikut disibukkan dengan pengungkapan kasus mereka. Saking penasarannya ia meminta Luna membantunya untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi dengan ketiganya. Karena apapun yang terjadi pada mereka berkaitan dengan usahanya memperbaiki hubungannya dengan Jongin.

Seperti sore hari ini, Krystal mengajak Myungsoo untuk menemaninya berbelanja, meski ia harus sedikit memaksa pria itu. Sebenarnya ia tidak benar-benar berniat untuk berbelanja, menurut Luna yang menjadi mata-matanya, Jongin dan Jiyeon sedang bersama di sebuah pasar swalayan.

“ Sebenarnya apa yang ingin kau masak ? mengapa hanya berputar-putar disini ? “ Tanya Myungsoo mulai merasa jenuh karena sudah dua puluh menit berlalu keranjang belanjanya masih kosong.

Krystal menghentikan kegiatan celingak-celinguknya “ Eoh…eumm….ahhh ini!! “ Serunya “ Aku ingin memasak ini “ Ucap Krystal berusaha menyembunyikan kegugupannya dengan mengambil banyak ramen dan menaruhnya dikeranjang.

“ Hanya ramen saja, mengapa harus ke tempat sejauh ini ? “ Heran Myungsoo.

Krystal menggaruk tengkuknya, ia tak ingin Myungsoo curiga dengan apa yang dilakukannya.

“ Aku menunggumu disana saja “ Ucap Myungsoo menunjuk pojok ruangan yang menyediakan makanan siap saji beserta tempat duduk.

Krystal berpikir cepat, ia harus memastikan jika rencana mempertemukan ketiganya yang seolah tak sengaja berhasil “ Baiklah, aku tidak akan lama “ Ucap Krystal tersenyum lembut.

Myungsoo mengangguk dan meninggalkan Krystal, ia pun memilih sebuah kursi dan memainkan ponselnya untuk membunuh rasa bosan. Tak sengaja ia melihat cincin yang masih melingkar dijarinya. Myungsoo teringat allien-nya.

“ Sedang apa kau sekarang eoh ? aku benar-benar merindukanmu hingga rasanya ingin melompat dari gedung yang tinggi, apa…..kau tidak merindukanku ? Pulanglah. Aku yakin kau pasti merindukanku, apa aku harus menjemputmu ? “ Myungsoo berbicara dengan cincinnya, seolah itu adalah Jiyeon. Ia kemudian teringat ketika Jiyeon memilih dan memakaikan dengan senang cincin itu dijarinya, dan mengingat itu membuatnya tersenyum.

Jiyeon memperlambat langkahnya, membiarkan Jongin berjalan didepannya. Ketika melihat Jongin dari arah belakang ia teringat dengan Myungsoo, dari arah belakang pria ini mirip sekali seperti ahjussinya. Jiyeon kemudian memiringkan kepalanya dan tersenyum membayangkan jika ia melihat Myungsoo “ Aishh michigeuta…aku bisa gila “ Ucap Jiyeon mengetuk kepala dengan tangannya sendiri.

“ Kau sedang apa ? “ Jongin menoleh dan memergoki sikap aneh Jiyeon.’

“ Eummm…ahniyo “ Jiyeon menegakkan kepala dan tersenyum kikuk “ Setelah ini kita akan kemana ? “ Ucapnya mengalihkan kecurigaan Jongin.

“ Memasak, bukankah rencana awalnya seperti itu ? “ Ucap Jongin santai

“ Eoh “ Jiyeon hanya manggut lemah “ Jongin-ssi, aku kesebelah sana yah ? ada yang ingin kucari “ Ucap Jiyeon dan tanpa menunggu

Jongin mengijinkannya ia sudah melesat pergi.

“ Dimana letak telur ya ? “ Ucap Jiyeon sambil celingak celinguk, ia ingin membuat omelet “ Ah itu dia “ Jiyeon melangkah menuju tempat telur.

Tanpa ia sadari, diujung sana….

Myungsoo membeku ditempatnya ketika melihat sosok yang memenuhi pikirannya, yang membuat malam-malamnya resah dan tak bisa tidur dengan nyenyak, yang membuatnya seperti akan menjadi gila, serta semangatnya terjun ketitik terendah. Park Jiyeon, tapi ia tak sama sekali melihat yeoja itu memiliki keadaan yang sama dengan dirinya, kacau dan berantakan. Park Jiyeon terlihat baik-baik saja, dan itu terasa amat menyakitkan.

“ Jadi kalian benar-benar bersama ? “ Sindir Myungsoo begitu sinis seraya bangkit dan mendekat kearah Jiyeon.

Jiyeon reflek menoleh dan terkejut mendapati Myungsoo ada didekatnya, akhirnya khayalannya untuk melihat Myungsoo hari ini terkabul. Jiyeon sangat merindukannya, rasanya ia ingin memeluk erat tubuh ahjussi-nya itu.

“ Apa kau sudah membuat kontrak baru dengan pria baru ? “ Ucap Myungsoo dengan wajah tengil dan meraih satu butir telur yang kemudian ia putar-putar.

Perasaan rindu Jiyeon terusik, kalimat Myungsoo benar-benar mengganggu telinganya. Tidak tahukah Myungsoo jika dirinya seperti orang gila berharap ia datang menjemputnya, agar mereka bisa lagi tinggal bersama ? meskipun hanya untuk menghabiskan sisa kontraknya. Dan ketika bertemu, mengapa justru sikapnya sama sekali tak berubah. Jiyeon mengambil plastik dan mulai memasukkan telur,berpura-pura mengabaikan Myungsoo.

Myungsoo yang merasa diacuhkan tak tahu harus membicarakan apalagi, ia pun mengambil plastik dan memilih telur untuk dimasukkan kedalamnya. Dasar mencari gara-gara, telur yang Jiyeon ambil, Myungsoo pun mengambilnya.

Satu kali…

Dua kali…

Tiga kali…

Jiyeon menghela nafasnya lelah namun masih mencoba bersabar. Ia kemudian pindah kesisi lain agar Myungsoo tak mengganggu dan merebut telur yang ia pilih, namun pria itu benar-benar ingin berperang dengannya. Dari posisi yang berseberangan, tangan pria itu masih saja mampu untuk merebut telurnya. Akhirnya terjadilah aksi berebut telur.

“ Ahjussi, sebenarnya apa maksudmu, itu telurku “ Kesal Jiyeon.

Myungsoo berpura-pura tak mendengar, dan hanya memasang wajah tanpa dosa membuat Jiyeon semakin kesal.

Jiyeon kembali memilih telur dan kali ini ia tak lagi bisa bersabar ketika Myungsoo kembali merebutnya. Jiyeon dengan kesal merebut plastik Myungsoo dan membantingnya hingga hancur.

Krakkkkk

“ Yyaaa !! kau menghancurkan semua telur milikku !!! “ Geram Myungsoo

“ Itu telur yang ku pilih, kau sengaja mengambilnya !!! “ Jiyeon tak kalah singit.

“ Aish jinjja…..rasakan ini !!! “

Srekk

Krakkkk

“ Ommo !! “

Jiyeon melotot tajam, Myungsoo membanting telurnya. Akhirnya kini lantai menjadi kotor. Tak terima Jiyeonpun mengambil sebutir telur kemudian memecahkannya diatas kepala Myungsoo.

“ Yya!!! apa yang kau lakukan ? “ Myungsoo marah ia tak terima kemudian membalas apa yang Jiyeon lakukan.

Terjadi aksi saling memecahkan telur ke kepala lawan, mereka bahkan tidak peduli hampir semua pengunjung memperhatikan mereka.

“ Mereka itu kenapa ? “

“ Kampungan sekali “

“ Mungkin sepasang kekasih yang sedang bertengkar “

“ Bukan, seperti paman yang tak terima keponakannya kurang ajar terhadapnya “

Bla….bla…bla……..

Myungsoo dan Jiyeon benar-benar seperti anak kecil yang berkelahi memperebutkan sesuatu dan tak ada satupun yang mengalah. Tubuh keduanya sudah tak berwujud, bau dan kotor, sampai akhirnya semua pegawai swalayan dan keamanan datang untuk memisahkan, mereka masih saja saling melempar telur.

Jongin menuntun Jiyeon keluar dari kantor pemasaran dengan wajah malu dan kecewa, disusul dibelakangnya Krystal dan Myungsoo yang menatap mereka sinis dari arah belakang.

Didalam tadi pun Myungsoo dan Jiyeon masih saja beradu mulut, membuat akhirnya Jongin yang merasa waras mengalah untuk mengganti semua kerugian, tapi ternyata Myungsoo masih saja tak membuat niat baik Jongin terasa mudah. Terlalu gengsi membiarkan Jongin memamerkan kekayaannya, Myungsoo mengambil alih untuk mengganti kerugian. Suasana menjadi kacau balau karena lagi-lagi tidak ada yang mengalah tentang kewajiban siapa yang membayar. Jongin yang awalnya waras, ikut-ikutan menjadi gila seperti Myungsoo, membuat rasanya kepala botak milik sang manager swalayan rasanya mau pecah. Akhirnya keduanya diminta membagi adil kewajiban membayar, dan keempatnyapun diusir secara tidak hormat.

Insiden telur ternyata tidaklah satu-satunya yang memalukan ketika mereka bertemu. Sepertinya dunia akan menjadi buruk ketika mereka bersama.

Seperti hari ini. Myungsoo hanya pasrah ketika Krystal menarik-narik tangannya. Ia tak bisa menolak ketika yeoja itu mengajaknya untuk menonton baseball. Myungsoo tak suka baseball, ia jijik dengan baju kotor dan terik matahari ditambah harus berlari. Tapi wajah Krystal yang memelas ditambah dengan sikap manjanya membuat Myungsoo mau tak mau harus mengikutinya.

“ Disini saja “ Krystal memilih kursi dibagian pinggir.

“ The Devil hwaitingggg !!!!!!!! “

Myungsoo menutup telinga ketika Krystal berteriak kencang memberikan semangat entah kepada kubu yang mana. Merah atau biru ? Myungsoo tidak tahu apapun tentang mereka.

“ Kau membela yang mana ? “ Tanya Myungsoo dengan popcorn ditangannya ketika Krystal duduk disampingnya dan mulai serius menatap ke arah lapangan.

“ Merah, mereka adalah tim favoritku, mereka sangat hebat, sudah tak terhitung banyaknya kepingan emas dan piala yang mereka bawa, mereka adalah kebanggaan Korea Selatan. Dan yang biru itu adalah musuh besarnya, tak mudah mengalahkannya, mereka juga hebat. Mereka saling bergantian menempati posisi pertama, dan sekarang ini adalah partai final, kajja !!! kau juga harus membantuku menyemangatinya “ Ucap Krystal berapi-api.

Myungsoo yang sedang memasukkan popcorn bahkan tidak diberi kesempatan mengunyah karena mendengarkan penjelasan Krystal tentang baseball. Myungsoo tak tahu kapan tepatnya Krystal mengetahui tentang baseball. Dan hasilnya ? Myungsoo tetap tidak mengerti meski Krystal telah berkata panjang lebar.

Pertandingan pun dimulai, tiba-tiba suasana menjadi sangat bising karena semua yang hadir berteriak-teriak. Tak terkecuali Krystal, Myungsoo melihat ada yang aneh dengan Krystal. Sebenarnya bukan baru-baru ini saja, tapi sejak wanita itu tahu hubungan buruknya dengan Jiyeon. Yeoja itu bersikap lebih kekanak-kanakan, tak ada lagi Krystal yang anggun yang ia kenal. Krystal seolah menjelma seperti Jiyeon.

Myungsoo menyandarkan tubuhnya malas dikursi, benar-benar tak ada selera menikmati pertandingan yang sama sekali tak ia mengerti, hingga tiba-tiba…

“ The Blues….The Blues…The Blues…..ajja…..ajja hwaiting !!!! “

Myungsoo menarik bahunya dari sandaran ketika mendengar suara begitu heboh seorang yeoja, mungkin tidak hanya Myungsoo tapi semua penonton lainnya menoleh kearah sumber suara. Tepat diseberang kanannya, terpisah oleh lorong masuk. Seorang yeoja berteriak-teriak seraya mengibarkan dua buah bendera kecil berwarna biru ditangannya. Park Jiyeon, ia yakin yeoja itu pasti bersama Kim Jongin. Pria itu sekarang seperti jamur yang selalu menempel dikulit Park Jiyeon.

“ Mereka juga menonton ? “ Tanya Myungsoo tak senang kepada Krystal yang ternyata juga sedang menatap kearahnya.

Krystal hanya mengendikkan bahu, sama tak mengertinya dengan Myungsoo. Mood Myungsoo sukses anjlok terlebih yeoja itu terlihat begitu bahagia datang bersama dengan musuh besarnya.

Jiyeon melompat-lompat senang, sudah lama ia tak berteriak seheboh ini. Di Jepang, ia dan Taemin adalah penggemar fanatik baseball. Wajah keduanya tak pernah absen disetiap pertandingan, namun sialnya keduanya memiliki jagoan berbeda yang membuat acara menonton mereka kerap diwarnai keributan.

Kelakuan keduanya bahkan pernah sangat merepotkan, dari sekedar saling mengejek team favorit lawan sampai membuat penonton tersulut dan merasa terprovokatori. Alhasil, pertengkaranpun merembet tidak hanya melibatkan keduanya, melainkan seluruh penonton yang ikut membela team kesayangannya. Akhirnya Jiyeon dan Taemin diusir dari lapangan, dan di blakclist untuk menonton beberapa pertandingan.

“ The Blues….The Blues…The Blues…..ajja…..ajja hwaiting !!!! “

Sebenarnya ia tak benar-benar semangat kali ini, moodnya sedang buruk karena terus teringat Myungsoo. Begitu Jongin menawarkannya untuk keluar, Jiyeon memilih tempat yang membebaskannya untuk berteriak. Ia ingin menumpahkan semua perasaannya.

Srettt

“ Ommo !! “ Jiyeon sudah terduduk disebelah Jongin yang menatapnya tak percaya.

“ Waeyo ? “ Tanya Jiyeon sedikit kesal dengan apa yang Jongin lakukan.

“ Kau teriak seperti orang yang kesurupan, duduklah “ Jongin bahkan hanya berani berbisik dan berusaha tak menoleh kekanan ataupun kiri, terlalu malu dengan ulah Jiyeon.

Jiyeon merengut “ Aku minta kau membawaku ke tempat yang membebaskan untuk berteriak, tapi sekarang kau melarangku “

“ The Devil….The Devil…..bersemangatlah !!!!!!! “

Tiba-tiba suara seseorang yang ia kenal terdengar. Jiyeon dan Jongin menoleh kompak kearah datangnya suara, dan saling bertatapan ketika menyadari siapa pria yang berteriak.

“ Kim Myungsoo ? dan Soojung ? “ Ucap Jongin dan menyadari jika wajah Jiyeon berubah murung.

“ Pantas dia mencampakkanku, ternyata ahjumma itu memilih bersamanya “ Ucap Jiyeon dalam hati.

Jongin dan Krystal hanya menatap tanpa ekspresi Myungsoo dan Jiyeon yang kini saling berlomba untuk berteriak, keduanya – Myungsoo dan Jiyeon – bahkan maju kedepan meninggalkan kursi masing-masing. Mereka berteriak lebih semangat dari penggemar fanatik, anggota keluarga si pemain, staff pelatih, manager bahkan si pemegang saham team sendiri. Beruntung suara mereka bisa teredam karena teriakan penonton lainnya.

“ The Devil….The Devil…The Devil !!!! “

“ The Blues……The Blues…The Blues !!! “

Teriakan keduanya semakin kencang dan saling jual beli tatapan sinis, sepertinya teriakan mereka tidak lagi tentang memberikan semangat dan dukugan, melainkan luapan emosi dan pembalasan dendam. Myungsoo melotot kearah Jiyeon yang dibalas dengan kacak pinggang yeoja itu.

“ The Devil, kalian adalah yang terhebat hancurkan lawanmu !!! siapa ? The Blues atau The Beast ? ah team yang tidak jelas “ Teriak Myungsoo penuh emosi, tak lupa ia melirik sinis ke arah Jiyeon.

Jiyeon melotot tajam dan berkacak pinggang, teriakan Myungsoo membuat panas telinganya, ia benar-benar tak terima team yang dibelanya dihina seperti itu.

“ Yya !!! The Blues hajar satu persatu setan-setan itu eoh, buat wajah mereka membiru dan enyahkan mereka semua dari muka bumi !!!! “ Teriak Jiyeon tak kalah singit.

Myungsoo tertawa geli, Jiyeon seperti seorang pahlawan bertopeng yang ada difilm Sinchan yang akan berubah “ Kau pikir ini pertandingan tinju eoh ? membuat biru ? huahahhahaha…..”

Tangan Jiyeon mengepal kuat, ia tak peduli dan kembali berteriak “ Homerun…homerun…homerun !! “

Myungsoo mengernyit heran, istilah apa yang diteriakan allien itu ia tidak mengerti. Myungsoo kembali menyiapkan suaranya.

“ The Devil…..buat si biru tak berdaya, mereka sama sekali tidak ada apa-apanya, mereka payah, dan seperti team pesakitan !!! hancurkannnnn !!!!!! “ Teriak Myungsoo heboh seperti seorang jenderal yang sedang memerintahkan anak buahnya untuk berperang.

Tiba-tiba suasana berubah hening….

Myungsoo menoleh kebelakang, ke arah bangku penonton. Tak ada lagi yang berteriak menyemangati, semua pasang mata menatapnya tajam dari bangku mereka masing-masing. Bulu kuduk Myungsoo berdiri, ia merasakan tatapan mereka tak bersahabat. Myungsoo kemudian mengedarkan pandangan dan terhenyak ketika mendapati semua penonton didekatnya berbaju biru. Sial. Krystal salah memilih tempat duduk dan ia tak sadar sama sekali.

“ Huuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu….!!!!! ”

Pluk….pluk…pluk…..tuk…tuk…tuk

Puluhan bahkan hampir ratusan botol serta kaleng minuman sudah melayang diudara dan siap menghujani dirinya. Myungsoo panik, namun tangan seseorang menyadarkan ia dari sikap hanya diam saja. Myungsoo pun lari keluar lapangan bersama seseorang yang membawanya berlari tunggang langgang menghindari amukan massa.

Hosh…hosh…hosh

Myungsoo memegang dadanya, nafasnya memburu tajam dan wajahnya memerah. Ia berhasil keluar dari stadion yang berubah seperti neraka untuknya. Syukurlah Krystal menarik tangannya, menyadarkannya jika ia harus menyelematkan diri.

“ Pabbo !!! “

Myungsoo mendongak untuk menatap seseorang yang berbicara padanya. Ia berjengkit kaget, ternyata Park Jiyeon yang sedang bersamanya. Ia pikir Krystal.

“ Lain kali hati-hati dengan mulutmu ahjussi, lihatlah jika tidak ada aku mungkin kini kau sudah jadi dendeng untuk makanan kucing “ Ucap Jiyeon disela-sela nafasnya yang memburu.

Myungsoo terlihat kikuk. Namun ia adalah Myungsoo, Kim Myungsoo !!! orang yang sulit mengatakan terimakasih ataupun meminta maaf.

“ Tch…tidak perlu kau menarikku pun aku juga pasti akan berlari “ Ucapnya kembali berusaha terlihat dirinya keren.

Jiyeon memutar bola matanya malas, sudah ia duga. Lalu keduanya terdiam, tidak tahu harus membicarakan apa. Jongin dan Krystal, pasti mereka masih didalam.

“ Eum…..bagaimana kabar….”

“ U un-ntuk apa kau menanyakan itu ? “ Myungsoo memotong kalimat Jiyeon, terlihat sekali ia tergagap. Ia masih mencoba bersikap tak butuh, padahal hatinya senang sekali Jiyeon masih peduli padanya.

“ Tch percaya diri sekali, yang aku tanya kabar myungji bukan kabar ahjussi, mengatakan dendeng aku jadi teringat padanya….aigoo “ Jiyeon mencoba mengelak, ia terlanjur malu. Beruntung otaknya cepat mencari alasan.

Wajah Myungsoo memerah seperti udang rebus, merasa malu mengira Jiyeon menanyakan kabarnya.

Tak berapa lama Jongin dan Krystal muncul, keduanya berdiri disamping masing-masing orang yang mereka ajak menonton baseball.
Jongin meminta Jiyeon menunggunya dimobil, dan ia pun mengajak Myungsoo untuk membicarakan sesuatu. Myungsoo awalnya tidak mau berbicara dengan Jongin, namun Krystal membujuknya agar semua masalahnya menjadi selesai. Meski sebenarnya ada alasan lain yang dimaksud Krystal, ia ingin sekali tahu ada masalah apa dengan ketiganya setelah rencananya kemarin gagal. Tapi sayangnya Myungsoo dan Jongin tak ingin Krystal ikut dalam pembicaraan mereka.

“ Sial “ Kesal Krystal dalam hati dan melangkah meninggalkan mereka dengan berat.

Myungsoo’s POV

“ Kapan kau akan menjemputnya ? “

Pria bodoh dengan pertanyaan bodoh. Aku tahu dia sangat senang jika allien pabbo itu tinggal dengannya dalam waktu yang lama, terlihat dari apa yang sekarang mereka lakukan dan wajah liciknya. Aku mengedarkan pandanganku ke arah lain, bersikap sama sepertinya, munafik.

Ku kira dia akan merasa kesal dengan sikapku, tapi nyatanya aku yang dibuatnya penasaran dengan senyumannya, yang tch….terlihat menyebalkan dimataku.

“ Kau akan menjemputnya atau tidak ? “ Tanyanya kali ini sedikit menghentak membuat beberapa orang yang lalu lalang menatap kami, dan semakin heran menyadari keadaanku.

Aku memberikan senyum sinisku “ Ada apa ? apa kau sudah merasakan betapa repotnya ada yeoja itu dirumahmu ? “ Ucapku dan kulihat ia mengernyit heran mendengar kalimatku.

“ Setiap malam ia hanya menangisimu, dan kau tega berkata seperti itu, kau ini manusia atau bukan ? “

Mwo ? aku tak percaya dia mengatakan hal yang jujur, aku tak melihat keadaan allien seperti itu. Bersedih karena memikirkanku. Dan apa ? Gigiku bergemeletuk kesal, lancang sekali dia berani meragukan wujudku sebagai seorang manusia. Apa dia sudah sempurna hingga dengan entengnya dia berkata seperti itu eoh ? Kim Jongin sialan!!!

“ Kelihatannya kau peduli sekali dengan istri orang lain yah ? atau memang hobimu menyukai milik orang eoh ? “ Ucapku tak kalah tengil dengan dirinya.

Pria bodoh ini melotot tajam seolah ingin membunuhku. Tersinggung ? untuk apa ? bukankah itu kenyataan.

“ Jangan mengatakan hal yang sembarangan, dan aku ! bukan perebut milik orang, kau lupa jika kau lah yang sebenarnya merebut milikku ? “

Benar-benar tak tahu diri. Siapa yang merebut siapa ? apa pria ini tak sadar. Aku yang mengenal Krystal lebih dulu sebelum kehadirannya. Ia hanya menang karena mengucapkan perasaannya pada Krystal pertama kali. Apa aku bisa dikatakan sebagai perebut kekasihnya ?

Sadar ini akan jadi pertengkaran masa lalu, aku berniat menyudahi pembicaraan ini. Tidak ada gunanya “ Terserah padanya saja, dia kembali aku terima, tidakpun itu tak merugikanku “ Ucapku berbohong dan pergi seolah tak peduli.

Aku tak suka orang lain tahu kelemahanku, terlebih Kim Jongin pria bodoh ini. Dia tak boleh tahu apa yang sebenarnya aku rasakan, ia tak boleh tahu jika karena allien aku menjadi rapuh.

“ Apa kau benar suaminya ? Aku ragu, aku merasa kau tidak mempedulikannya ? apa ada suami yang seperti itu ? “

Langkahku terhenti “ Ada, dan itu aku. Kau menginginkannya ? ambil saja “ Ucapku enteng dan kembali melangkah.

Namun, aku terhenyak ketika mendapati allien sudah ada dihadapanku. Ia menggelengkan kepalanya dengan mulut yang terbuka lebar. Dia……sepertinya mendengar semuanya.

“ Nappeun ! Pabbo ! kau pikir aku sebuah barang yang bisa seenaknya kau lempar setelah tak terpakai ? “ Ucapnya dan mendapati ia tersenyum pahit.

Tiba-tiba aku menjadi kikuk, tak tahu harus melakukan apa.

“ Jangan pernah datang dalam hidupku lagi, meski itu hanya dalam pikiranku “ Ucapnya lirih yang membuatku tersadar jika aku sudah benar-benar keterlaluan.

Dan allienpun berlari begitu saja….

Meninggalkanku yang kini seolah linglung. Tuhan kumohon gerakkan kakiku, aku ingin mengejarnya. Arrggkk kaki keparat !!! kenapa disaat seperti ini terasa berat. Bagaimana ini ? aku tak sungguh-sungguh mengatakannya.

“ Mulai saat ini, kau tak berhak lagi melindunginya, aku yang akan melakukannya “ Ucap Jongin berbisik tepat ditelingaku dan ia pun pergi meninggalkanku.

Aku tak mampu berkata apapun. Hanya berusaha mengendalikan rasa sakitku karena ucapannya. Seseorang menyentuh lembut bahuku, dan ketika mendongak aku baru sadar jika Krystal sedang bersamaku. Ia pun terlihat syok dengan apa yang ia lihat. Akhirnya, ia tahu apa yang terjadi.

Sejak saat itu, aku tak pernah lagi melihatnya. Satu minggu tersisa dari perjanjian itu, secara tak langsung kami sudah benar-benar berpisah. Ternyata caranya seperti ini, tak ada perayaan apapun dengan perpisahan kami. Aku memandang sedih selembar kertas berisikan tulisan tanganku ketika pertama kami saling mengikat janji. Tidak, bukan kami, tapi aku yang memaksanya.

Hari-hariku kembali seperti biasa, sebelum kehadirannya. Setiap malam Krsytal datang untuk menemaniku. Dia bilang, tak akan membiarku sendiri, ia akan bersamaku seperti aku menemaninya ketika Kim Jongin pergi.

Rasanya tidak sama, tak ada getaran apapun ketika ia mengatakan itu. Aku sudah tak lagi memiliki perasaan apapun padanya, selain seorang chingu.

Next day,

Aku hampir saja tersedak dengan roti ditanganku, ketika halmeoni tiba-tiba datang dan marah-marah seperti yang biasa ia lakukan jika sudah bertemu denganku. Celaka !!! aku belum sempat menyusun rencana untuk memberitahunya tentang hubunganku dengan allien. Dan sekarang wujudnya sudah ada dihadapanku.

“ Kim Myungsoo cucu kurang ajar, kau ini jinjja !!! aku bilang jangan mengunjungiku kau benar-benar tidak datang, sebenarnya apa isi otakmu itu eoh ?

Baiklah, tenangkan dirimu Kim Myungsoo, semua akan baik-baik saja, akan ada penyelesaian yang baik disetiap masalah yang kau hadapi.

“ Halmeoni !!! ak-ku baru saja ingin mengunjungimu ….. woooahhh hebat kita memiliki ikatan batin yag baik “ Ucapku meletakkan tanganku di bahunya, menggandeng tubuh besarnya untuk duduk.

Aku membuatkan setangkap roti dan menuangkan segelas susu untuk meredamkan emosinya “ Caaaa, halmeoni pasti belum sarapankan ? makanlah “

Wajah galak halmeoni sedikit melunak, namun tatapannya berubah heran membuatku menjadi gugup “ Dimana istrimu ? “ Tanyanya seraya mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan.

“ Eoh…Jiyeon ? Park Jiyeon ? “

“ K-I-M J-I-Y-E-O-N, kau pikir istrimu ada berapa eoh ? “

Aku memilih diam sebelum menemukan jawaban untuk pertanyaan halmeoni. Ku paksa otakku untuk berpikir, jika sekarang aku mengatakan yang sebenarnya akan sangat buruk. Aku harus bertemu klien dipagi hari, jangan sampai semuanya berantakan hanya karena masalah ini.

“ Eoh, d-ddia….dia sedang kursus menyetir mobil, iya…..ah aku lupa memberitahukan padamu ya ? “ Entengku dengan wajah tanpa dosa dan terdengar konyol.

Halmeoni memicingkan matanya. YaTuhan, buatlah halmeoni percaya padaku, untuk kali ini saja lagi.

“ Jeongmal ? sepagi ini ? “ Tanyanya nampak curiga.

“ Halmeoni, semua jalan-jalan di Seoul sekarang begitu padat, jika sedikit saja terlambat akan parah akibatnya, nah seperti sekarang, halmeoni tahu ? Minhwa’s group akan datang ke kantor membicarakan proyek di China, aku harus segera berangkat “ Ucapku dan dengan cekatan membereskan piring dan gelas.

Aku melirik dengan ekor mataku, syukurlah halmeoni sepertinya akan segera pulang.

“ Bawa istrimu kerumah akhir minggu ini, aku mengundang kalian makan malam bersama “

Dan kalimat halmeoni  sukses membuat banyak bintang-bintang yang berputar-putar dikepalaku, Eoh otthokae ?

Author’s POV

Jiyeon dan Jongin menghabiskan malam yang terasa bosan ini dengan duduk diteras halaman depan rumah Jongin seraya menikmati minuman kaleng dan beberapa cemilan. Ber-alasakan rumput dan ber-atapkan langit yang cerah. Dari sekedar bersenda gurau hingga pembicaraan serius tentang hubungan selanjutnya Jiyeon dengan Kim Myungsoo.

Jiyeon merasa Jongin begitu menghargainya, berbeda dengan Myungsoo yang selalu memarahinya. Jiyeon bahkan tak pernah sekalipun berbincang setenang ini jika dengan Myungsoo.

“ Tapi bagaimana akhirnya kalian menikah ? “ Tanya Jongin tiba-tiba.

Jiyeon memandang Jongin ragu, tapi sepertinya ia butuh teman untuk berbagi.

“ Aku dan Kim Myungsoo……tidak pernah memiliki hubungan apa-apa “

“ Apa ? hah kau ini bercanda ya ? “ Jongin menoleh dan mengernyitkan dahi, ia mengira jika Jiyeon sedang bercanda.

“ Selamat datang tuan, silahkan kau ingin bunga yang seperti apa ? “

Myungsoo yang sedang berpikir untuk memilih bunga menolehkan kepala untuk melihat si penjual, ia terbengong beberapa detik menatap wajah pria itu.

Yang ditatap merasa aneh dengan cara pandang si pria padanya, mencurigakan. Tetapi tak berapa lama ia pun seperti teringat sesuatu ketika mengamati dengan seksama wajah si pria.

Akhirnya dua pria itu saling bertatapan. Cukup lama bahkan.

“ Apa kita pernah bertemu sebelumnya ? wajahmu kelihatannya familiar “ Ucap Myungsoo ragu.

Si pria yang ternyata adalah Taemin masih terus menatap wajah Myungsoo. Binggo !!! ia mengingatnya pria ini, adalah si pemilik suara dahsyat yang memakinya. Pria yang galaknya melebihi monster, dia juga suami pura-pura Park Jiyeon, celaka !!!

“ Kenapa ? kenapa kau menatapku seperti itu ? “ Tanya Myungsoo heran.

“ Ahniyo, ti-tidak !! ah kita belum pernah bertemu sebelumnya, a-kku aku baru kemarin datang dari Jepang, jadi tidak mungkin kita pernah bertemu “ Ucap Taemin takut.

“ Jepang ? kau berasal dari Jepang ? tapi bahasa yang kau gunakan…. “ Myungsoo jadi teringat Park Jiyeon.

“ Oh anda akan memilih bunga yang mana tuan ? katakan saja untuk keperluan apa, maka aku akan membantumu mencarinya “ Ucap

Taemin mengalihkan pembicaraan tentang dirinya, ia kini berusaha membunyikan wajahnya tidak memberikan Myungsoo kesempatan untuk mengingatnya.

Myungsoo tak lagi berpikir tentang siapa Taemin “ Untuk seorang wanita, kira-kira wanita itu suka bunga yang seperti apa ya ? “ Tanyanya seraya matanya beredar menatap satu-persatu bunga yang tersedia disana.

Taemin tersenyum, meski ia tak tahu bunga itu untuk siapa, ia mengira saja bunga itu untuk Jiyeon. Cukup lama Taemin memberikan masukan, ia tak tahu Jiyeon menyukai bunga apa, setahunya Jiyeon tidak suka bunga, namun sahabatnya itu menyukai warna kuning, jadi Taemin menyarankan bunga matahari untuk Myungsoo beli.

“ Wanita itu seperti matahari, bersinar dan menenangkan, istrimu pasti suka tuan “ Ucap Taemin.

Myungsoo hanya menatap heran Taemin, siapa bilang ia akan memberikan bunga itu untuk istrinya ? ia akan memberikan bunga untuk halmeoninya “ Baiklah, berikan aku bunga matahari “

“ Apa halmeoni Kim tahu ? “

Jiyeon menggelengkan kepalanya, ia kemudian menunduk dan tersenyum masam. Kim Jongin sangat terkejut dengan pengakuannya tentang hubungan yang ia jalani bersama Myungsoo. Jiyeon tak tahu lagi bagaimana harus menyembunyikannya, Jongin terlalu pintar untuk ia bohongi. Lagipula Jiyeon berpikir semuanya tidak perlu disembunyikannya lagi, mereka sudah berpisah, dan Myungsoo sama sekali tak memikirkan perasaannya, jadi rasanya lelah jika ia harus selalu menutupinya.

“ Tch jinjja, ini benar-benar gila “ Jongin tak menyangka “ Sebenarnya aku sudah menangkap hal yang aneh dari hubungan kalian, beberapa kali aku mendengar kau memanggilnya ahjussi…tch ternyata seperti ini “ Jongin menggelengkan kepalanya.

Terkejut pasti, tapi ada perasaan lain yang tiba-tiba hadir. Menyadarinya membuat Jongin ingin selalu tersenyum. Tiba-tiba ponsel Jongin berbunyi, dilihatnya nama Krystal ada disana. Jongin menatap Jiyeon sejenak, ia ingin meminta ijin pada Jiyeon untuk mengangkat ponselnya, tapi tiba-tiba ada rasa tak ingin meninggalkan gadis ini demi wanita lain.

“ Ada apa ? siapa yang menelponmu ? “ Tanya Jiyeon ketika ia menoleh mendapati Jongin sedang menatapnya.

Jongin tersenyum kaku. Wajah Jiyeon terlihat berbeda malam ini. Sebenarnya ia juga tak mengerti perasaan apa yang tiba-tiba datang ketika ia berada didekat gadis ini. Jongin berusaha menepisnya, karena menyadari jika Jiyeon adalah istri sahabatnya, namun pengakuan Jiyeon barusan seperti mendobrak perasaan bersalahnya. Sepertinya ia memiliki perasaan khusus pada yeoja ini.

Myungsoo memandang ragu bunga ditangannya, awalnya ia bertekad untuk merayu halmeoni saja, tapi sepertinya itu bukan jalan keluar yang lebih baik. Akhirnya kakinya menggiringnya untuk berada disini, didepan rumah Kim Jongin. Tak ada kalimat yang ia siapkan jika bertemu Jiyeon, karena memang awalnya ia tak berniat bertemu.

Myungsoo meletakkan bunga di depan pagar rumah Jongin “ Matahari dimalam hari, ku harap kau menyukainya “ Ucap Myungsoo “ Aaarrgghkkk !!! ini namanya menjilat ludah sendiri “ Gusarnya “ Biarlah, mudah-mudah ia tahu siapa pengirimnya, dan kemudian begitu merindukanku, lalu datang menemuiku, mudah sekali kedengarannya untuk dia kembali…tch “

Ia kemudian berbalik, namun entah mengapa ia penasaran dengan suasana sunyi didalam. Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang dan tangannya terkepal membayangkan hal-hal aneh diantara keduanya “ Tidak, tidak mungkin, mereka tidak mungkin melakukannya “ Ucapnya membuang jauh-jauh pikiran buruknya.

Myungsoo hendak meningglkan rumah Jongin, namun ia kembali “ Apa aku harus melakukannya ? “ Rasa penasaran Myungsoo sangat besar, akhirnya Myungsoo mengintip dari celah pintu pagar rumah Jongin. Pagar Rumah Jongin sangat tinggi, dan sekitarnya begitu rapat, Myungsoo kesulitan untuk mengetahui apa yang terjadi didalam. Ia seperti seorang stalker sekarang.

Wajah Jiyeon memerah, Jongin terus menatapnya dan ia merasa jarak dirinya menjadi begitu dekat “ Jongin-ssi, kk-kau kenapa ? “ Tanya Jiyeon mulai sedikit takut.

Jongin tak menjawab, ia semakin mendekatkan wajahnya.

Jiyeon yang merasa tersudut tak bisa melakukan apa-apa. Jiyeon terpaksa memejamkan matanya. Tepat ketika bibir Jongin akan menyentuh bibirnya.

Tetttttttttttttttttttttttt

Jiyeon langsung bangkit karena terkejut dengan suara bel yang berbunyi, namun lutunya beradu dengan dagu Jongin hingga pria itu terjungkal kesakitan.

“ Ommo !!! Jongin-ssi, mianhae “

“ Gwenchana, tidak apa-apa “ Jongin memegang dagunya yang tak sengaja ditendang Jiyeon.

Jiyeon merasa tidak enak karena telah mencelakai Jongin, wajahnya kini terlihat sedikit pucat dengan jantung yang berdebar kencang. Syukurlah bunyi bel menyelamatkannya.

Jongin bangkit masih memegang dagunya dan kemudian menoleh ke arah pintu pagarnya yang belnya berbunyi begitu panjang dan kencang.

Tubuh Myungsoo terjatuh dari pagar rumah Jongin, ia menjadi panik karena kakinya tak sengaja menyentuh bel yang ada disana. Dengan cepat Myungsoo berusaha bangkit, terlebih ia mendengar suara pagar yang seperti dibuka seseorang dari dalam.

Myungsoo berlari mencari tempat persembunyian “ Ah otthokae ? dimana aku bisa bersembunyi “ Ucapnya panik dan putus asa karena tak menemukan tempat persembunyian. Dengan terpaksa Myungsoo hanya merapatkan tubuhnya pada dinding pagar rumah tetangga Jongin, menempel seperti seekor cicak. Ia memejamkan matanya seraya berdoa agar tak ada yang menyadari apa yang dilakukannya. Tentunya akan sangat memalukan jika Jongin dan Jiyeon tahu

“ Bunga ? dari siapa ? “

Jiyeon berjongkok untuk meraih bunga itu, tak tertera nama si pengirim, namun tertulis jelas itu ditujukan untuknya.

Sementara Jongin terus berjalan, ia penasaran siapa yang malam-malam datang, terlebih menaruh bunga didepan pagarnya. Hanya ada satu nama sebenarnya, namun ia ragu apakah benar pria yang gengsinya begitu tinggi itu ?

Tap…tap…tap

Myungsoo semakin panik, langkah kaki seseorang semakin dekat dari tempatnya berada. Dalam hati Myungsoo mengutuk dirinya yang melakukan hal bodoh ini, jika Jongin memergokinya tamatlah sudah riwayatnya. Jongin akan menertawakan dirinya habis-habisan. Dan ia tak bisa lagi bersikap sok dihadapan pria itu.

“ Ya Tuhan jangan biarkan pria bodoh itu melihatku “

To Be Continued

192 responses to “[ CHAPTER – PART 11 ] COUPLE OR TROUBLE ?

  1. wahh.. kerenn ffnya.. hubungan mereka makin complicated. jongin pula kek ada perasaan kusus bt jiyeon.. myung hrus usaha lebih bt dptin jiyi kembali..

  2. Kyaaaa ngakak bgt tingkah myung skrg bener2 kocak astaga skrg apa lagi? Jongin suka jg ama jiyi? Kok jd makin rumit aja semoga jongin ga ember ke neneknya myung
    Lanjut ya thor ><

  3. penasarsn bgt mggu kelanjutan ff ini…
    gmna hub myung sm jiyeon akhirnya…
    trus jongin yg mulai tertarik sama jiyeon,,.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s