[CHAPTER – PART 3] Pain : Suddenly Not Ended

pain

author : Aeyoungiedo

main cast : Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Park Yejin (OC), Choi Minho

additional cast : Lauren Park

rating : PG-15

genre : sad, romance, family

Copyright ©Aeyoungiedo

aku menyukai Kim Myungsoo..Aku mencintainya
Ucapan Yejin semalam terus menghantui pikiran Jiyeon. Sebenarnya Jiyeon tadi malam menangis, tapi ia sendiri tidak mengerti hal yang ia tangisi. Jiyeon sedang berada di kantor untuk menyusun konsep interviewnya dengan Bae Suzy aktris yang sekaligus sahabatnya. Mendengar suara pintu di ketuk, Jiyeon membukakan pintu. Melihat siapa yang datang Jiyeon mendengus kesal.

“Kau harusnya senang, sahabatmu yang cantik ini datang ke sini.”Suzy mempoutkan bibirnya setelah mengetahui reaksi Jiyeon.

arasseo arasseo.”timpal Jiyeon. Suzy duduk di sofa merah yang terletak di depan meja televisi ruangan Jiyeon. Suzy terus memindahkan channel televisi dan itu membuat Jiyeon kesal. Waktunya tersita gara-gara Suzy. “oh apa tidak ada acara yang bagus pada jam segini?”keluh Suzy sebelum mematikan televisi.

Jiyeon tidak menjawab pertanyaan konyol Suzy. Suzy mengambil puntung rokoknya kemudian menghisapnya perlahan. Asapnya dicuarkan melalui cuping hidungnya. Jiyeon menutup hidungnya. “Ya, bisakah kau tidak merokok disini? Aku membenci asap rokok, huh.”seru Jiyeon. Suzy mematikan rokoknya kemudian menatap Jiyeon intens.

“kau ini menggelikan sekali, jangan pernah menatapku seperti itu.”jijik Jiyeon.

Suzy mengangguk kemudian mengalihkan tatapannya.

“Choi Minho, kau masih mengingatnya? Aku bisa meminta tolong pada suamiku untuk mencarinya.”kata Suzy. Jiyeon mengangguk kemudian menggeleng. Suami Suzy yaitu Sehun adalah seorang polisi di Korea. Jarak tidak akan memisahkan cinta Suzy dan Sehun yang notabennya adalah teman kampus. Romantis dan setia sekali. Meskipun Oh Sehun terkenal ramah dengan semua orang, tetapi Suzy bisa mempercayakan hatinya pada Sehun.

“tidak perlu, kau ini repot sekali.”
“seharusnya kau berterima kasih padaku, bagaimanapun juga Minho adalah ayah kandung Lauren. suatu saat nanti kau akan membutuhkannya, kau juga jangan memisahkan ayah dan anak.”ceramah Suzy panjang lebar. Jiyeon tidak menanggapi. Pikirannya masih bergelut dengan pernyataan cinta Yejin semalam.

aish molla.”kata Suzy akhirnya, ia bingung dengan reaksi Jiyeon.

“mm..Jiyeon-ah apa kau tidak akan keberatan jika aku menanyakannya padamu?”Jiyeon mengangguk. Suzy menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. Keringat dingin mencuar dari wajahnya. Jari-jarinya saling bertautan. Jiyeon tampak menunggu Suzy tidak sabar.

“kau ini seperti akan berorasi saja, eoh.”canda Jiyeon. Suzy terdiam. Matanya berbinar-binar menatap Jiyeon.

“apa kau menyukai Kim Myungsoo?”
“dia menyukaimu, bodoh. Aku rasa adikmu juga menyukainya.”
“apa kau dalam hubungan yang tidak baik dengan adikmu?”
Sederet pertanyaan dilontarkan oleh Suzy. Jiyeon awalnya terkejut kemudian ia mengontrol nafasnya. Seutas senyuman terpasang di wajahnya.
“mana dulu yang harus aku jawab?”
Suzy mengangguk pelan. “Terserah kau saja.”

“Aku tidak tau aku menyukai Myungsoo atau tidak, kami bersahabat sejak kecil. Saat aku masih disiksa oleh Hara eomma. Ku rasa kau sudah mendengarnya, bukan?”Suzy mengangguk. Jiyeon menarik napas,

“Yejin menaruh perhatian dengan Myungsoo. Tapi laki-laki itu tidak menanggapi. Dia selalu memberiku cokelat, dan semua perhatian kecil termasuk mengirimiku pesan-pesan bodoh setiap harinya.. Aku menghindarinya bukan tanpa alasan, karena Soojung sahabatku itu menyukai Myungsoo. Meskipun aku menangis pada awalnya tetapi aku tetap menjauhi Myungsoo. Dia tidak menyerah. Ketika aku hamil Lauren, Myungsoo dengan gentlenya mengakui ke keluargaku dan keluarganya, dia akan bertanggung jawab meski dia tidak melakukan. Aku sedikit bersimpatik, tetapi kemudian dia meninggalkanku tanpa sebab. Aku sudah terbiasa tanpanya, dia akhirnya muncul dan mengatakan kepadaku, kalau dia masih menyukaiku. Sampai akhirnya Yejin mengatakan dia menyukai Myungsoo.”

Suzy menunduk mendengar penuturan Jiyeon. Hal yang sulit, dan Jiyeon masih sabar meskipun ia selalu bersikap angkuh pada semua orang kecuali keluarganya dan Suzy. Jiyeon tampak kuat. Tidak disangka penderitaan yang dulu dialaminya membuat Jiyeon tumbuh menjadi gadis kukuh dan tidak mudah goyah. Jiyeon tidak senang dikasihani, dan tidak butuh belas kasihan.

“aku tahu yang kau rasakan, Jiyeon-ah. Lalu apa perasaanmu saat itu?”
“Entah kenapa, rasanya jantungku berdesir. Otakku seperti meleleh, kemudian air mata bodoh ini meluncur begitu saja. Aku,….aku tak mengerti.”

Jiyeon mengacak rambutnya frustasi. Suzy mengerti, ini adalah cinta pertama Jiyeon, tapi gadis itu terlalu bodoh untuk menyadari semua yang dirasakannya.

“aku rasa kau jatuh cinta padanya,”ucap Suzy pelan. Meskipun pelan tapi Jiyeon masih bisa mendengarnya. Apa ini cinta? Terlalu datar dirasa Jiyeon. Tapi Jiyeon selalu memikirkan ini, perkataan Yejin terngiang-ngiang dibenaknya. Ada rasa tidak suka ketika Yejin tertawa bersama Myungsoo. Jiyeon harap ini belum terlambat.

mollayo. terima kasih, Suzy-ah.”

oppa.”teriak Yejin cempreng diikuti derik pintu. Myungsoo asyik berkutat dengan laptopnya tidak mempedulikan Yejin. Karena merasa tidak dipedulikan Yejin menaruh bekal yang sengaja ia siapkan untuk Myungsoo di meja. Myungsoo sedikit menoleh kemudian mematikan laptopnya.

“ah sudah jam makan siang.”gumam Myungsoo. Yejin tersenyum sehingga mencetak lesung pipi di pipinya. “kau harus makan siang bersamaku oppa!”kata Yejin riang sambil menggoyang-goyangkan pergelangan tangan Myungsoo. Myungsoo menoleh singkat. “Maaf, tapi aku ada janji bersama eonniemu. Mungkin lain kali, aku harus pergi. Annyeong.”

Myungsoo berjalan ke arah pintu. Saat ia akan membuka kenop.

unnie tidak akan mau bersamamu, oppa.”

Myungsoo menoleh, “apa maksudmu?”

Yejin mendekati Myungsoo sambil menyeringai. “Maksudku, dia tidak akan mungkin mau bersamamu. Kau tidak mempertanggung jawabkan eonnie, kau sudah menyakiti hatinya oppa. Dia tidak mencintaimu, bahkan dia terobsesi dengan Choi Minho.”

Myungsoo memilih tidak menanggapi. Terdengar isakan Yejin sambil berkata, “chankamman.”

Myungsoo terdiam di posisi tempatnya semula. Tidak tergerak tangannya untuk menghapus isakan Yejin. Ya, meskipun Myungsoo benci melihat yeoja menangis. Ada rasa untuk menahan itu, dan Myungsoo tidak mengerti. Jujur saja perkataan Yejin tadi menohok hatinya.

oppa, aku mencintaimu.”
“maafkan aku, kau harus mencari namja lain yang lebih dariku.”

Yejin mengencangkan isakannya. Myungsoo tidak khawatir isakan Yejin akan terdengar sebab ruangannya terdapat dinding pengedap suara. Yejin memohon belas kasih Myungsoo, anak manja itu terus memohon Myungsoo akan memerhatikannya.

wae?”

Pertanyaan retoris terdengar dari mulut Yejin.

“kenapa kau selalu menunggu unnieku, tanpa tahu sebenarnya ada orang yang jauh mencintaimu lebih dari unnie menyayangimu, kau tidak mempedulikanku oppa! Kau penyemangatku saat melalui masa kritis, dan berkat kau-lah sampai saat ini aku masih bisa bertahan! Yang kau pikirkan hanya unnie, unnie, unnie saja. Apa kau tidak menyadari, aku disini terluka hanya karenamu oppa!”teriak Yejin kesal. Myungsoo tidak menyangka Yejin akan sesakit hati itu, kalau saja ia dulu tidak mendekati Yejin pasti tidak akan terjadi hal seperti ini.

“bukankah sudah ku peringati sejak dulu agar kau tidak mencintaiku terlalu dalam? aku tidak yakin akan bisa mencintaimu, kecuali kau mau terus-terusan menahan tangisan.”kata Myungsoo tanpa menoleh sedikitpun pada Yejin.

“aku tahu kau mencintainya, tetapi–bisakah kau lihat aku?”

Myungsoo melenggang pergi. Meninggalkan Yejin yang masih membawa sejuta rasa cintanya pada Myungsoo yang mungkin hatinya kini telah mati.

aku tahu, cinta itu. ia tak akan berpihak padaku.

“Park Jiyeon, this is a new makeup artist. His name is Ellise Choi. Aku harap kau bisa bekerja sama dengannya, mengingat kalian memiliki status kewarganegaraan yang sama. Dia makeup artist profesional, jika kau tidak bisa bekerja sama dengannya aku yakin proyek kita akan gagal nantinya.”ucap Michelle sang produser panjang lebar. Jiyeon hanya tersenyum tipis kemudian membungkuk pada Ellise dihadapannya. Ellise melakukan hal yang sama pada Jiyeon yaitu membungkuk sebagai tanda penghormatan. Michelle tersenyum kemudian permisi meninggalkan mereka berdua.

Matanya, hidungnya, bibirnya, serta tubuhnya yang tinggi tegap itu mengingatkannya pada seseorang. Dulu, sekali…Jiyeon menepis anggapannya. Wajah seperti itu tak hanya satu, dan marga tidak hanya satu. Pasti ini sosok Choi yang lain. Lagipula Ellise terlihat lebih tenang daripada Minho.

“Jiyeon are you okay?”Ellise memainkan tangannya di depan wajah Jiyeon yang sedang melamun. Jiyeon kaget sebentar kemudian tersenyum manis pada Ellise.

“Ellise, you can speak Korea with me. Kau dapat mendandaninya sekarang.”Jiyeon melirik pada Suzy yang masih membaca majalah. Ellise terkekeh kemudian melaksanakan tugasnya yaitu mendandani setiap artis yang akan menjadi model majalah mereka.

Saat istirahat, Jiyeon mengajak Ellise dan Suzy untuk makan siang bersama. Suzy setiap hari mengajak Jiyeon makan siang bersama, namun mereka ingin berkenalan dengan Ellise yang terlihat mengagumkan –bagi mereka–.

“jadi, agassi disini berasal dari Korea juga?”tanya Ellise sambil memotong daging steaknya. Suzy mendadak melotot marah. Melihatnya Ellise menjadi takut. Sesaat kemudian, Suzy tertawa puas.

“kau tak baik seperti itu Suzy-ah.”bisik Jiyeon. Suzy tidak menanggapi kemudian meminum punch mereka.

“eum Ellise apa kau tinggal seorang diri disini? Kau seorang wanita apa tidak takut tinggal sendirian?”tanya Jiyeon. Ellise menggeleng kemudian menjawab. “Tidak, aku tinggal bersama kakak laki-lakiku. Dia tampan sekali, dia seorang model. Aku rasa dia cocok denganmu.”jawab Ellise polos.

Jiyeon dan Suzy terbatuk. Dahi Ellise mengerut sesaat kemudian ia tersenyum.

“apa oppamu orang Korea juga?”Ellise mengangguk.

“mau mampir ke rumah?”tawar Ellise sopan sebelum undur diri, ya mungkin karena oppa Elise sudah menjemput. Jiyeon menggeleng.

***

Sore ini hujan turun deras. Membuat para mahasiswa yang masih berada di sekitar kampus terpaksa menghentikan aktifitas masing-masing untuk sekedar berteduh. Termasuk yeoja berambut cokelat gelap ini. Setelah memakai poncho ia kemudian menangkupkan payungnya. Menyandarkan punggungnya di kursi halte.

Matanya daritadi terus menilik di arlojinya yang berwarna silver itu. Memastikan tidak terlambat sampai rumah, jika tidak, mereka akan kehabisan bahan untuk makan malam nanti. Ditambah lagi keponakannya dirumah sendirian. Pengasuhnya sedang berlibur ke Hawaii.

“kenapa tidak pulang?”

Yejin mengulum senyum. Disebelahnya ada sesosok yeoja yang menunggu jemputan sama sepertinya. Namanya Ellise, ia pindahan dari Korea. Untuk membiayai hidupnya disini Ellise memilih kerja sambilan sebagai makeup artist. Ellise tinggal disini bersama oppanya. Yejin mengenal baik oppa Ellise, karena ia adalah sunbae waktu Yejin SMP.

“Ellise, bagaimana tadi pekerjaanmu?”
“baik, menyenangkan. bahkan tadi aku ditraktir oleh seniorku. Namanya, Ji-ji..”Ellise berusaha mengingat senior baik yang mentraktirnya tadi. Yejin terus menunggu perkataan Ellise selanjutnya.

Suara klakson mobil menghentikan obrolan singkat mereka. Yejin dan Ellise sama-sama menoleh. Mobil milik oppa Ellise. Di balik kaca jendela oppa Ellise tersenyum hangat pada Yejin. Kemudian ia melemparkan payung pada Ellise. Ellise mempoutkan bibirnya. Ia merasa, oppanya bersikap kasar. Tapi tidak ada waktu lagi untuk sekedar marah-marah karena hujan akan semakin deras.

“Yejin mau pulang bersama?”tanya Ellise setelah masuk mobil. Yejin yang masih menunggu taksi tersenyum kemudian menggeleng.

“Tidak apa, kami memaksamu.”timpal oppa Ellise. Yejin kemudian masuk dan duduk di jok belakang setelah menepuk pantatnya. Memastikan agar bajunya tidak membasahi jok milik oppa Ellise.

Oppa Ellise memilih memutarkan tembang-tembang milik Shinhwa, barangkali ia ingin flashback waktu ia masih tinggal di Korea. Yejin menggoyangkan tubuhnya sesuai irama lagu yang agak nge beat. Oppa Ellise mengintip Yejin yang asyik menari melalui cermin yang terdapat di dalam mobil.

Gadis itu, ia unik. Ia berbeda dari yang lain.

“Oppa, Ellise, terima kasih atas tumpangannya. Sekali lagi aku tidak tahu jika kalian tidak pulang bersamaku, eoh.”Yejin membungkuk seraya berterima kasih. Ellise melambaikan tangannya kemudian menutup kaca mobil karena suhu semakin dingin. Yejin pun masuk ke dalam rumah. Di rumah, sedang ada Jiyeon yang bersama Lauren dan juga teman Jiyeon –Suzy–. Mengingat jadwal sibuk Suzy, Yejin tersenyum senang. Yejin sudah lama mengidolakan Suzy yang kini menjadi aktris di perfilman Hollywood.

“Suzy unnie!“peluk Yejin setelah melihat Suzy. Suzy terkikik senang. “Merindukanku, eoh?”goda Suzy. Yejin menggaruk tengkuknya kemudian tersenyum malu.

“Yejin-ah. Ku lihat kau tadi bersama pria dan gadis. Siapa itu?”tanya Jiyeon menginterupsi. Yejin menghela nafasnya. Sifat asli Jiyeon kambuh. Bahkan Yejin ragu, Jiyeon menyayanginya atau tidak. Mereka selalu dalam kecanggungan bahkan mereka tidak nampak seperti kakak adik.

“Itu temanku unnie.”jawab Yejin pelan kemudian membelai rambut lurus Lauren. Jiyeon mengangguk singkat kemudian membaca majalah kembali.

“Makanlah. Aku memasak mie instant untukmu.”suruh Jiyeon. Yejin terperangah kaget. Jiyeon memasak untuknya? Ini kemajuan pesat dari Park Jiyeon. Bahkan Jiyeon tidak pernah menanyakan kabarnya, kakaknya itu akan berbicara pada Yejin jika ada keperluan penting saja. Itupun menggunakan bahasa Inggris. Jiyeon berbicara pada Yejin seperti orang yang baru di kenal.

Yejin melangkah pergi meninggalkan ruang tamu. Jiyeon menangkupkan wajah dengan tangannya.

Minho-ya, dimana kamu? Apa tadi itu kau? Kau baru muncul setelah sekian lama, apa itu lelaki?pikir Jiyeon. Jiyeon terisak. Lauren memeluk ibunya ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Jiyeon. Suzy menggeleng. Bahkan saat seperti ini Jiyeon masih memikirkan Minho. Suzy juga seperti melihat Minho tadi hanya saja ia tidak yakin.

“Sudahlah Jiyeon-ah wajah seperti itu banyak lagipula tadi kau tidak memakai kacamatamu kan, pasti kau salah lihat.”hibur Suzy. Jiyeon menggeleng. Meskipun Lauren tidak mengerti arah pembicaraan Suzy dan Jiyeon ia tetap menenangkan Jiyeon.

Jiyeon memegangi kepalanya. Dunia terasa berputar-putar. Vertigo-nya kambuh. Suzy dan Yejin segera menggendong Jiyeon ke kamar sementara Lauren membawakan obat untuk Jiyeon. Jika sudah seperti ini Jiyeon tidak bisa turun dari tempat tidur selama beberapa hari.

Yejin menautkan jari lentiknya diantara jari Jiyeon. Ia menatap wajah unnienya itu. Penuh ketegasan hanya saja seolah menyimpan kesedihan yang berlangsung lama dan begitu besar. Air matanya menetes mengenai bedcover berwarna putih milik Jiyeon. Kepalanya menggeleng mengusir kemungkinan buruk yang terus menghantui pikirannya. Lauren memeluk Suzy orang yang ia sudah anggap bibi sendiri. Jiyeon eomma…Lauren tidak kuasa menghentikan tangisannya, meskipun sudah beberapa kali penyakit Jiyeon kambuh tapi ia merasa akan kehilangan Jiyeon saat ini.

brengsek kau Kim Myungsoo..”igau Jiyeon. Suzy melirik Yejin. Yejin agak tersentak tapi bibirnya masih memaksakan untuk tersenyum. Jari Yejin menghapus kerutan yang tampak pada dahi Jiyeon, pertanda Jiyeon sangat kelelahan.

“Choi Minho…”igauan Jiyeon semakin lemah. Yejin semakin menangis. Berdoa kepada Tuhan untuk menghindari semua kemungkinan buruk. Dokter langganan sudah di telepon. Dan sialnya ia terjebak kemacetan. Yejin berharap kondisi Jiyeon berangsur pulih.

eonnie-ya, bangun, ppali ireona…Aku menyayangimu meski aku tahu kau tak menunjukkan bahwa kau juga menyayangiku..tapi aku yakin aku akan membuatmu tersenyum seperti dulu lagi…neomu saranghaeyo eonnie-ya.”

Kata-kata Yejin mampu membuat hati Suzy mencelos lebih dalam. Meski Jiyeon terkesan tidak menyukai Yejin, tapi Suzy yakin Jiyeon akan mencegah siapapun dan apapun menyakiti hati Yejin. Hanya saja Jiyeon tidak tahu bagaimana mengungkapkannya.

“Myungsoo-ya…neo eoddiga?”tanya Jiyeon cemas di sebuah padang bunga yang tampak tenang. Meskipun tempat ini indah Jiyeon merasa tidak menemukan siapapun. Hanya dirinya sendiri yang memakai pakaian serba putih. Sosok laki-laki jangkung datang padanya. Tersenyum kemudian menggenggam jari Jiyeon erat. Jiyeon tenang jika bersandar dengannya, karena hanya pada laki laki itu Jiyeon merasakan kehangatan. Jiyeon tidak mengerti rasa apa ini…
“Jiyeon-ah aku disini, kau harus tenang nde.”ucap Myungsoo menenangkan Jiyeon. Jiyeon memeluk lengan Myungsoo erat seolah tidak membiarkan Myungsoo pergi. Mereka tampak begitu serasi bersama, Jiyeon tersenyum memandangi wajah Myungsoo begitu juga dengan Myungsoo.
“Jiyeon-ah tunggu aku akan bertanggung jawab padamu.”ucap seseorang membuat Jiyeon melepaskan genggamannya pada Myungsoo. Orang itu mendekati Jiyeon lalu mengusap pucuk kepala Jiyeon. Jiyeon berlari kearah belakang Myungsoo saat ini Jiyeon merasa sangat takut.
“Aku akan bertanggung jawab…”

ANDWAE!”Jiyeon meremas seprai putihnya kemudian tersengal seperti habis berlari. Ini sudah jam empat subuh dan Jiyeon sudah terbangun. Jiyeon menatap sekelilingnya tak percaya. Pagi ini lebih gelap dan dingin dari yang Jiyeon kira. Jiyeon berjalan menuju pemanas ruangan bermaksud untuk sedikit menghangatkan suhu didalam kamarnya tetapi terlambat..kakinya tidak kuat untuk menopang beban tubuhnya, dan kepalanya semakin berkunang..

Jiyeon semakin menangis saat mengetahui kakinya mengeluarkan darah..tidak ini tidak boleh terjadi, Jiyeon akan sulit menghentikan darahnya. Jiyeon ingin membangunkan orang orang dirumahnya tetapi tidak ingin membangunkan tidur Lauren. Jiyeon mengambil ponselnya dengan susah payah, ia menekan nomor di ponselnya.

“Halo?”

Suzy mematikan teleponnya setelah mendengar isakan Jiyeon. Kamar mereka hanya berjarak dua ruang, itupun terpisahkan oleh ruang main Lauren dan juga kamar Yejin. Suzy malam ini menginap di rumah Jiyeon untuk menjaganya takut kalau sesuatu akan terjadi pada sahabatnya itu. Suzy dengan pelan –agar tidak membangunkan Lauren– dan juga gesit menuju kamar Jiyeon. Jiyeon sedang terduduk di lantai dengan posisi menyedihkan, setahu Suzy, Jiyeon adalah gadis yang tegar..Bahkan kaki Jiyeon mengeluarkan banyak darah. Sahabatnya hanya tersenyum yang dipaksakan tanpa menangis, Suzy meringis.

Ia sudah menghubungi Myungsoo tadi agar membawa Jiyeon ke rumah sakit dan sial Myungsoo terjebak macet karena terjadi kecelakaan di sepanjang jalan menuju rumah Jiyeon. Suzy hanya menunggu sambil melakukan pertolongan pertama yang ia pelajari waktu menjadi anggota kesehatan.

Pipi Jiyeon tampak tirus. Kakinya berdarah mungkin terkoyak paku. Yejin dan Lauren belum sadar. Jika Yejin mengetahui ini pasti ia tidak bisa tertidur tenang sementara besok ada ujian praktikum di kampus Yejin.

“kenapa kau menatapku seperti itu?”tanya Jiyeon terbata-bata mengusik lamunan Suzy. Jiyeon tidak suka dikasihani oleh semua orang, siapapun itu. Penderitaannya membuatnya menjadi gadis yang dingin dan tertutup, bahkan Jiyeon terlalu bodoh menyadari perasaannya sendiri..Adalah kepada namja yang selalu membawakan makan siang pada Jiyeon dan menjemput Jiyeon, memberikan perhatian kecil pada Jiyeon walaupun sahabatnya tidak menanggapi. Diam-diam Suzy iri dengan Jiyeon, karena sampai saat ini Suzy belum mempunyai namjachingu.

“nan gwenchanayo.”kata Jiyeon tipis. Ditatapnya pintu berwarna gold itu, berharap seorang namja akan membawanya ke rumah sakit dan dengan wajah penuh ke khawatiran, tanda orang itu mempedulikan Jiyeon. Sebelum Jiyeon berpikiran macam macam, ia hanya berdoa memohon keselamatan pada Tuhan.

“Jiyeon-ah? Suzy noona?”Myungsoo mendobrak pintu kamar milik Jiyeon. Jiyeon terkejut kemudian ia mengulum senyum. Myungsoo tampak terkejut dengan senyuman Jiyeon setelah sekian lama tapi ia memutuskan untuk tidak mempermasalahkannya, ia tau ini akan memperuncing masalah. Suzy menepuk bahu Myungsoo. “kau angkatlah dia eoh, sementara aku akan memesan kamar di rumah sakit. arra?”

Myungsoo mengangguk singkat. Tangannya mengangkat tubuh Jiyeon perlahan..Tidak nampak merasa berat akibat berat badan Jiyeon yang naik drastis sebesar 10 kg setelah melahirkan. Meskipun begitu keringat mengucur dari wajah tampan Myungsoo. Jiyeon merasa simpatik namun ia merasa tidak harus menunjukannya.

“Jiyeon-ah eum maksudku Jiyeon noona kau harus cepat pulih arraseo? aku menunggumu selalu,”Myungsoo mengecup pelan pipi Jiyeon. Jiyeon memang meminta Myungsoo memanggilnya dengan embel embel noona karena tidak enak dengan teman kantornya yang menganggap Jiyeon memiliki hubungan spesial dengan Myungsoo. Myungsoo memasukkan Jiyeon pada mobilnya. Mobil Myungsoo melenggang menembus jalanan Seoul menuju ke rumah sakit. Saat ini pikiran Myungsoo hanya Jiyeon, Jiyeon, dan Jiyeon.

“uisa…bawa dia sekarang juga, tangani dia yang terbaik arra..”Myungsoo dengan panik berteriak kesana kemari membuat semua perawat disana berkerut keheranan. Myungsoo terlihat seperti membawa istrinya yang akan melahirkan. Namun Myungsoo tidak peduli dengan tatapan heran orang di sekitarnya.

Yejin mengucek matanya. Ini sudah jam enam pagi, biasanya Lauren akan menangis ketika dibangunkan oleh Jiyeon. Tapi rumah kali ini begitu sepi. Karena penasaran Yejin memutuskan untuk mengecek kondisi kamar kakaknya, ya meskipun ia tahu ia akan mendapat respon tidak menyenangkan dari Jiyeon. Yejin menepis semua pikiran buruk yang bergelayut di otaknya, ya mengingat kejadian Jiyeon tadi malam. Alangkah terkejutnya gadis itu ketika menemukan ranjang Jiyeon yang kosong juga terdapat bercak darah di lantai marmer kamar Jiyeon.

Yejin berlari ke kamar Lauren berharap Jiyeon sedang menidurkan Lauren disana. Tetapi kosong. Hanya terdengar suara Lauren yang sedang mandi. Yejin menghubungi Suzy.

unnie, neo eoddiga?”tanya Yejin cemas. Suzy menghela nafasnya kemudian menatap Jiyeon yang sedang ditangani Jiyeon. Karena tak mendengar jawaban apapun dari Suzy, Yejin mengulang kembali pertanyaannya.

unniemu dia berada dirumah sakit..”ucap Suzy dengan isak yang ditahan. Yejin menutup mulutnya kemudian berusaha bersikap biasa, meskipun ada sesuatu yang mengganjal hatinya.

“apa bisa aku kesana?”tanya Yejin hati hati.
“eoh kau urusi saja ujian praktikmu, baru kau boleh kesini, arra? jangan macam macam anak bandel.”Yejin mempoutkan bibirnya mendengar ejekan Suzy pada dua kata terakhir. Tapi Yejin memang mengakui, ia sering membolos kuliah demi bekerja sambilan dengan alasan tidak ingin merepotkan Jiyeon. Tapi apadaya Jiyeon malah semakin memarahi Yejin.

Yejin menatap Lauren yang tengah bersiap dengan seragam merah putihnya itu.

Lauren sayang, maafkan imomu yang cantik ini, imo belum bisa mendapatkan informasi mengenai ayahmu, tapi imo berjanji akan menemukannya secepatnya.

Myungsoo memilih absen dari kantor demi menjaga Jiyeon hari ini. Dokter menyatakan Jiyeon mengidap hemofilia, berarti jika terjadi pendarahan padanya, itu akan sulit sekali dihentikan. Myungsoo mengecup setiap inci wajah Jiyeon, pandangannya tidak lepas dari sosok Jiyeon. Myungsoo rindu sikap dinginnya, walaupun hanya satu malam saja tapi ini seperti berlangsung lama.

Tidak ada kemajuan dari kondisi Jiyeon. Tidak kritis, hanya saja Jiyeon shock dengan darahnya yang sukar dihentikan. Mungkin butuh beberapa lama bagi gadis itu untuk sadar, tapi dokter menjamin Jiyeon bisa ditangani. Mengingat hemofilia Jiyeon yang baru memasuki tahap awal itu membuat dokter semakin mudah menanganinya. Tapi masalah vertigo..

Jiyeon sudah akut dengan penyakitnya yang satu itu. Ia tidak boleh lelah, stress, ataupun yang lain karena itu akan bisa membahayakan kesehatan Jiyeon. Myungsoo tersenyum memandangi mata Jiyeon, salah satu bagian dari wajah Jiyeon yang paling ia sukai. Myungsoo teringat dulu waktu ia masih kecil ia suka sekali mengecup mata Jiyeon tiba-tiba lalu pipi Jiyeon bersemu merah.

“Jiyeon-ah cepatlah sadar..kami menunggumu, aku mencintaimu. aku akan bertanggung jawab atas Lauren..”bisik Myungsoo tepat di telinga Jiyeon. Merasa tidak mendapatkan respon apapun dari Jiyeon, Myungsoo memilih tidur. Sebelum tidur ia tidak lupa menatap wajah Jiyeon. Wajah Jiyeon seperti candu untuknya.

Tanpa Myungsoo sadari, ketika tertidur. Jiyeon terbangun perlahan. Jiyeon merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan kesehatannya, ia terkejut dengan keberadaan Myungsoo yang menjaganya. Bahkan Myungsoo rela absen dari kantornya, demi Jiyeon. Jiyeon tanpa sadar menggerakkan tangannya dan tersenyum tipis. Ada perasaan ingin memeluk Myungsoo saat itu juga, apakah Jiyeon sudah perlahan menerima Myungsoo?

Jiyeon teringat perkataan Yejin kembali. Adiknya itu, ya, Jiyeon tidak sempat membahagiakan Yejin. Ia harus membahagiakannya, walaupun tidak menunjukkan rasa sayangnya secara langsung. Jiyeon memalingkan wajahnya dari Myungsoo.

Kim Myungsoo maafkan aku.

“Lauren Park, where’s your dad?”pertanyaan Kelly disambut gelak tawa oleh semua teman sekelas Lauren. Tidak biasanya Lauren semalu ini. Tadi bu guru meminta masing masing murid untuk menceritakan ayahnya, dan Lauren hanya menceritakan ia rindu sosok ayah apakah itu salah?

Lauren meremas rompi yang ia kenakan. Senyum yang biasa ia pasang perlahan sirna. Wajahnya menunduk kemudian tangisannya pecah. Bu Guru hanya menggeleng melihat tingkah murid didiknya yang keterlaluan itu.

“apakah dia tidak mempunyai ayah?”timpal Jack itu membuat Lauren semakin dirundung emosi. Tidak kuat menahan semua ejekan, Lauren menghentakkan kakinya keluar kelas. Kelas mendadak sunyi tapi kemudian bisik bisik terdengar.

“apa dia benar tidak punya ayah?”
“aku tidak pernah melihat ayahnya, hanya nona cantik itu yang selalu mengantar Lauren.”

Sebelum kelas semakin ricuh, bu guru memutuskan untuk melanjutkan pelajarannya.

**

“ini Lauren, tisu untukmu.”seorang namja menyalurkan tisu pada Lauren yang sedang menangis sesegukan di taman sekolah. Lauren tetap terdiam dan mengencangkan isakannya. Sang namja hanya menggaruk tengkuknya kemudian duduk disamping Lauren.

“aku akan selalu bersamamu, Lauren.”celoteh namja itu. Lauren menghentikan tangisannya kemudian mengambil tisu yang ada di tangan temannya itu untuk mengelap ingusnya. Sang namja menggeleng kemudian tertawa kecil.

“jangan menangis,”ucapnya sambil menyanyikan sebuah lagu dari boyband Korea ternama, EXO yang berjudul Baby Don’t Cry. Lauren tampak terhanyut dengan suara merdu Jackson. Mereka berdua kemudian tertawa bersama.

ayah, aku rindu sosokmu.

tbc

Maafkan aku ya atas feel yg gadapet, alur membingungkan, dan alur yang terkesan kecepetan. Aku berusaha memperbaiki tapi aku mohon kritik dari kalian, agar aku bisa lebih baik nantinya. Aku posting ff ini sesuai feel, biar alurnya gak terkesan dipaksakan. Aku akan kehilangan feel dan akhirnya hiatus panjang (bahkan resign) kalau banyak yang gak antusias sama aku lagi. Aku hanya butuh respon dari kalian. Sesuai yang pernah aku bilang, aku akan posting ff ini tergantung respon kalian gimana. Aku menganggap kemarin pada kurang antusias sama FF aku, tapi aku mengapresiasi readers yang tetep komen. Tapi ya itu tadi, bagaimana dengan karya yang harus diapresiasi. Dan aku merasa aku kurang berhasil dengan semua FF aku, ceritanya ancur dan alurnya gak karuan dll. Kalau kalian gak mau cerita ini lanjut, aku gak maksa kok.
TAPI AKU MOHON MAAF SAMA KALIAN KALAU CERITANYA MEMBINGUNGKAN DAN GAK KARUAN.
*deepbow*

41 responses to “[CHAPTER – PART 3] Pain : Suddenly Not Ended

  1. Ommo.. Kesian sekali jiyeon Berpenyakit. Dan jgn serahkn myungsoo ke yejin. Bahagiakn dirimu dahulu. Lagi2 myungsoo sudah lambat mencintainya. 🙂

  2. jiyeon ibaratkan cahaya di dalam es. dia dingin diluar tapi dia tetep nyayangin yejin. buat myung sabar yah kayaknya kamu harus nunggu sedikit lebih lama buat jiyeon. jiyeon kayaknya tipe yang lebih memikirkan orang lain

    #MyungyeonReal❤

  3. oh ya itu juga ada typo pas.kaki.jiyeon berdarah myung ngangkat jiyeon tu kok knpa ada tulisan jiyeon baru selesai melahirkan jadi sempat ngira lauren masih bayi,eh tapi bayi kok bisa mandi sendiri..
    saran aja saeng mungkin typo itu seharusnya buat flasback tapi malah kecampur..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s