[CHAPTER — PART 3] Gone With The Wind

gwtw

prllnrhmwt’s present

MAIN CAST :

Kim Myungsoo

Park Jiyeon

SUPPORTING CAST :

Song Jaera

Lee Minhyuk

Kang Risae

GENRE :

Fluff || Romance || Friendship || School-life

LENGTH :

Chaptered

WARNING :

AU, OOC

CREDIT POSTER :

Big thanks to blacksphinx@artfantasy ^^

DISLCAIMER :

All the stories belongs to God, their parents and themselves. But, this story is mine.

PREVIOUS CHAPTER :

Prolog+Introducing Cast || Chapter 1 || Chapter 2

***

“Nae ireumi..”

Jiyeon menggantungkan kalimatnya—lagi. Ia masih terpaku pada sosok yang dipandangnya kini, sosok Myungsoo yang menatapnya dengan kebingungan dan kecurigaan. Sama halnya dengan Jaera yang berada di tepat di sebelah kanan Myungsoo, namun Jaera tak terlalu memperlihatkan itu semua.
Tanpa sadar, gadis bermanik coklat itu menghela napas dan mengalihkan pandangannya ke penjuru kelas, membalas tatapan para murid kelas 3 ini.

“Nae ireumi.. Park Jiyeon–irago hamnida,”

Seisi kelas terdiam cukup lama sampai sang wali kelas mengeluarkan suaranya—menyuruh Jiyeon untuk duduk. Sekali lagi Jiyeon hanya menghela napas saat wali kelas bermarga Ahn ini menyebutkan nama Myungsoo. Meskipun hanya untuk angkat tangan agar Jiyeon tahu tempat duduknya, di depan Myungsoo.

“Nah baiklah sebelum saya memulai pelajaran hari ini, ulangan fisika ketiga akan diadakan minggu depan, hari senin. Dan saat itu saya akan mengumumkan partner lab biologi yang seharusnya diumumkan hari ini, namun karena ada murid baru jadi kita kocok ulang,” Ahn Seonsaengnim menjelaskan panjang lebar.

“Haaaahh” Lagi dan lagi Jiyeon hanya mampu menghela napasnya. Ah entahlah, akhir-akhir ini ia sering sekali menghela napasnya.

“Oke kar—”

“Ahn Seonsaengnim! Saya tidak setuju! Oh ayolah, sekarang saja umumkan partner lab biologinya! Ini sudah keempat kalinya kau mengundur waktu dengan bermacam-macam alasan! Ah kalau perlu si anak baru itu tidak usah ikut saja” Usul seorang siswi berambut coklat sebahu dengan sinisnya.

[JIYEON POV]

Cih, apa-apaan gadis itu. Tidak menghargai seorang guru sama sekali. Bahkan seenaknya memanggil gurunya dengan sebutan ‘kau’ yang menurutku kurang sopan untuk orang yang lebih tua, apalagi dengan nada sinisnya yang membuatku—err mual.

Kurasa dia adalah gadis yang nakal, diliihat dari bagaimana caranya berbicara seenaknya begitu. Ah lagipula sepertinya gadis itu tidak menyukaiku, ayolah bahkan seisi kelas—aah aku malas mengakui ini, termasuk—emm Myungsoo diam tanda menyetujui—mungkin. Lalu tiba-tiba gadis yang kulihat dari name-tagnya bernama ‘Kang Ri Sae’ berdiri dan berbicara seperti itu.

‘Itu benar, dia tidak menyukaimu karena saat kau memasuki kelas kau memandang Myungsoo sampai kau menggantungkan kalimatmu’ Inner-ku berbicara.

Ugh, darimana kau tahu itu?
‘Feeling.. Mungkin?’
Oh, ayolah aku serius.
‘Gadis itu menyukai Myungsoo’
Haah pantas saja!
Haah sudahlah, tak usah dibahas lagi.

“Maaf Risae–ssi. Ini keputusan final, senin depan partner lab biologi akan diumumkan dan juga ulangan fisika ketiga” Ujar Ahn Seonsaengnim.

“Baiklah pelajaran hari ini akan kita mulai,”

Kulihat Ahn Seonsaengnim mengambil sebuah kapur untuk menulis diblackboard dan para murid beralih ke ransel mereka—mengambil buku,mungkin? Sedangkan aku masih setia menangkup daguku dengan tangan kiri dan memandang bosan ke depan.

Ah ya aku bahkan lupa dengan kakakku yang sudah berbohong. Istirahat nanti akan kutanya dia.

“…yeon–ssi?”
“PARK JIYEON!”

Ucapan—ah teriakan tadi berhasil membuyarkan lamunanku. Kulihat Ahn Seonsaengnim menatap murka ke arahku. Well, tatapannya seakan-akan mengatakan ‘Murid baru sudah berani melamun!’. Grrrr.. Menyeramkan.

“Joesonghamnida,” kataku pelan.

Ahn Seonsaengnim mengalihkan pandangannya ke blackboard lagi. Kulihat gadis berambut coklat sebahu yang bernama Kang Ri Sae itu tersenyum sinis. Yah, meskipun dia menatap lurus tapi aku tahu senyum sinis itu ditunjukkan padaku!
Ah, sialan.

[NORMAL]

Istirahat telah tiba. Ahn Seonsaengnim mengakhiri pelajaran sedangkan para murid merapihkan buku-buku yang tadi berserakan, tak terkecuali dengan Jiyeon dan Myungsoo.

Jiyeon masih merasakan tatapan sinis dari Myungsoo saat pria itu hendak keluar kelas bersama Jaera.
Di kelas sekarang, hanya ada Jiyeon, perempuan bernama Risae dengan teman-temannya. Risae dan dua orang temannya yang bername-tag ‘Han Ta Ri’ dan ‘Jung Baek Young’ menghampiri Jiyeon yang masih kerepotan merapihkan buku-bukunya.

Risae menggebrak meja Jiyeon membuat Jiyeon menolehkan kepalanya dan menatap Risae seolah bertanya ‘apa yang kau lakukan?’

Risae menyunggingkan senyuman sinisnya. Tangannya beralih ke rambut panjang Jiyeon, namun Jiyeon langsung menepisnya. “Oow oww.. Anak pindahan ini sepertinya garang juga ya?” sindirnya.

“Apa maumu?!” Balas Jiyeon.

“Aku hanya ingin bertanya… Apa kau menyukai Myungsoo?”

‘Haah? Menyukai Myungsoo? Yang benar saja!’ Inner Jiyeon menggerutu.

“Jawab sialan!” Risae menarik rambut Jiyeon ke belakang. Jiyeon mengaduh lirih. “Aku tak menyukai Myungsoo! Lepaskan brengsek!”

Bukannya dilepas, Risae malah semakin menarik rambut Jiyeon ke belakang membuat Jiyeon hampir jatuh jika ia tak memegang meja Myungsoo yang tepat berada di belakangnya.

“Beraninya kau mengataiku brengsek!”

Jiyeon dapat menghela napas lega saat Risae melepaskan tangannya dari rambut coklatnya. Namun tangan seputih susu itu berbalik menamparnya

Jiyeon memegang pipinya yang tadi ditampar oleh Risae. Perih, itu rasanya. “Jauhi Myungsoo” kata Risae tiba-tiba.

“Jangan dekati dia, jangan menatapnya, pokoknya jauhi Myungsoo!”

‘Jauhi Myungsoo? Yang benar saja! Bahkan aku tinggal seatap dengannya’

“Jika kau tak mematuhi perkataanku, jangan harap hidupmu akan tenang bersekolah di sini!”

Setelah mengatakan hal itu, Risae pergi meninggalkan Jiyeon yang menatap punggungnya dengan tangan yang masih memegang pipinya. Rasa perih akibat tamparan Risae belum hilang sepertinya.

***

“Hei, kau ini ingin berbicara apasih? Lepaskan! Jangan asal tarik saja!”

“Aaww sakit bodoh!”

Seorang perempuan mengaduh kesakitan karena lengannya yang sedari tadi dicengkram erat oleh seorang laki-laki. Rasa sakit itu bertambah saat laki-laki tersebut membenturkan tubuhnya ke dinding koridor perpustakaan yang terbilang sepi ini.

“Kau yang mendaftarkan Jiyeon?”

Jaera—perempuan tadi mendongak menatap Myungsoo. “Apa katamu?! Aku bahkan tak tahu kalau Jiyeon akan bersekolah di sini, ku kira kau yang mendaftarkannya!”

Myungsoo mengernyitkan dahinya. Lalu kalau bukan Jaera siapa lagi? Orang tuanya? Hei yang benar saja! Kedua orang tuanya bahkan belum kembali dari luar negeri, lagipula mereka tak tahu kalau Jiyeon berada di mansion mereka.

“Lalu siapa?” Jaera mengidikkan bahunya tanda tak tahu.
“Daripada kau bertanya padaku, lebih baik kita tanya orangnya langsung. Bagaimana?”
“Hei sialan! Tunggu aku!”

Jaera menjerit saat Myungsoo berlari meninggalkannya. Tak ingin membuang waktu, Jaera pun mengejar laki-laki itu.

***

Jiyeon kini tak berada di bumi melainkan di kediaman para angel, istana Firdaus yang letaknya berada di atas awan.
Jiyeon menghampiri kakaknya yang sedang duduk di tempat favoritnya. Ia menepuk bahu kakaknya itu dan kemudian perempuan tadi menolehkan kepalanya. Jiyeon dapat melihat wajah kakaknya yang terkejut. Namun hebatnya sang kakak langsung menutupinya dengan senyuman yang merekah.

“Ne, nae babo dongsaeng. Ada apa kemari?”

Jiyeon tak langsung menjawab melainkan duduk di sebelah kakaknya. Ia mengayunkan kakinya—memainkan air di sungai susu ini. “Kenapa kau berbohong?”

“Ne?”
“Tak usah berpura-pura tidak tahu! Kau bilang aku tidak akan satu sekolah dengan Myungsoo, tapi di sekolah tadi jelas-jelas Myungsoo dan Jaera bersekolah di sana,”
“Haah maafkan aku. Aku hanya ingin tugasmu berjalan secepatnya. Hanya itu”
“Tapi kau tak harus berbohong. Kau tahu ‘kan aku benci orang yang berbohong? Ku mohon jangan ulangi lagi. Mulai sekarang katakan apapun yang sejujurnya. Aku pergi,” Jiyeon menghilang dalam kepulan asap meninggalkan sang kakak yang masih diam.

Tak lama seringaian sinis muncul dibibir tipis sang kakak.

***

Jiyeon muncul di suatu tempat yang berada di sekolahnya. Jika melihat sekeliling, Jiyeon yakin ini adalah toilet.
Jiyeon membuka salah satu bilik yang berada di toilet itu, ia ingin menyegarkan pikirannya dengan menyendiri. Namun, betapa kagetnya ia saat melihat seorang pria dalam bilik itu.

“KYAAAAAAAAAA!”
“WUAAAAAAAAAA!”

Jiyeon dan laki-laki yang berada dalam bilik itu menjerit. Jiyeon berulang kali mengucaokan kata maaf sebelum menutup pintu itu.

Ia mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Ia berdiri di depan pintu bilik yang sudah di tutup kembali. ‘Bodoh!’
Ia hendak keluar dari toilet pria itu, namun sebuah tangan menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan membulatkan kedua bola matanya saat melihat pria yang memegang lengannya adalah Myungsoo. “Ikut aku!”

Myungsoo menarik Jiyeon secara paksa untuk keluar dari tempat tersebut. Lengannya merasakan perih seperti pipinya yang tadi ditampar oleh Risae—yang bahkan masih membekas sampai sekarang. Ia yakin lengannya akan memerah saat dilepas oleh Myungsoo nanti.

“Myungsoo, s-sakit..”

Myungsoo tak menghiraukan Jiyeon yang terus mengaduh kesakitan karena cengkramannya di lengan kecil Jiyeon. Ia tetap menarik Jiyeon tak memperdulikan tatapan para adik kelas atau teman sekelasnya.

Dan di sinilah mereka sekarang, atap sekolah.

Myungsoo melepas cengkramannya pada lengan Jiyeon secara kasar membuat Jiyeon mengaduh lagi. Jiyeon mengusap-usap pergelangan tangannya yang tampak memerah.

Beberapa menit berlalu, waktu istirahatpun semakin terkikis. Lima menit lagi, bel tanda istirahat telah usai akan berbunyi.

“A-ano.. K-kalau tak ada yang ingin dibicarakan l-lebih baik a-aku pergi saja,” Jiyeon tergagap. Situasi seperti ini membuatnya canggung.
“Tidak. Jangan pergi,”

Tiga kata itu mampu membuat tubuh Jiyeon seketika menegang. Matanya membulat sempurna. Bibir kecilnya sedikit terbuka. ‘Yosh! Sepertinya tugasku akan berjalan lancar’

‘Jangan kepedean dulu’
‘hah? Apa maksudmu? Jelas-jelas dia memintaku untuk jangan pergi, itu artinya dia memintaku untuk menemaninya! Kau itu bodoh atau apasih?’
‘Hei! Kurang ajar kau! Aku ini masih bagian dalam dirimu, bodoh!‘
’kau yang kur—’

“Ada yang ingin kutanyakan padamu,”

Perdebatan antara innerself Jiyeon terhenti saat Myungsoo membuka suara. Tubuh Jiyeon yang tadi menegang semakin menegang dibuatnya. Ia tahu, tahu betul ke mana arah percakapan sekarang ini.

“Siapa yang mendaftarkanmu ke sini?” tanya Myungsoo.

Jantung Jiyeon berdegup kencang. Matanya membulat sempurna dengan bibir yang terkatup rapat. Ia tak tahu. Ia tak tahu akan menjawab apa. Otaknya seakan-akan telah buntu.

Waktu semakin berlalu. Bel tanda istirahat telah usaipun sudah dibunyikan. Namun kedua insan yang berada di atap sekolah masih setia berdiri berhadapan ditengah keheningan menyelimuti, hanya semilir angin serta kicauan burung gereja yang sedari tadi menemani keheningan mereka.

Merasa lelah dengan situasi ini sang pria mencoba untuk membuka suara, “Kau mendengarku ’kan?”
Sang gadis tersadar dari lamunannya. Ia masih terdiam, mencari-cari alasan yang tidak akan dicurigai oleh sang pria. “T-tentu saja!”

Gadis itu menarik napas sejenak sebelum menjawab pertanyaan pria itu. Ia menatap ke arah awan yang berseliweran di langit sana. “Ibuku.”

Satu kata itu dapat membuat Myungsoo—pria itu membulatkan matanya. Heh? Ibunya? Apa maksudnya? Batinnya berseru. “Ibumu? Memangnya kau masih mempunyai orang tua?”

Pertanyaan sekaligus pernyataan itu mampu membuat Jiyeon terdiam. Sadar kalau ia sudah menyinggung perasaan gadis tersebut, Myungsoo meminta maaf.

“Tapi kalau orang tuamu masih ada, kenapa kau tinggal di rumahku? Sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan?” Nada bicara Myungsoo meninggi.

Jiyeon menunduk. Ia harus mencari jawaban yang tepat! Ya harus! Kalau tidak Myungsoo semakin curiga dengannya.

“Ibuku tinggal di Eropa. Aku kabur dari sana. Saat itu ada orang baik yang membantuku hingga aku sampai di sini,” karangnya.
“Kenapa tampangmu itu tak ada tampang Eropa sama sekali?”
“Sudah kubilang ibuku tinggal di sana. Hanya tinggal di sana bukan berarti aku keturunan Eropa”
“Kau bilang kau kabur kan? Ibumu tahu dari mana kalau kau kabur dan berada di Korea? Hn? Kenapa ibumu tidak membawamu kembali ke Eropa? KENAPA?!” Diakhir kalimatnya nada bicara Myungsoo semakin meninggi hingga membuat Jiyeon tersentak.

Diberi beberapa pertanyaan seperti itu sama saja menyudutkannya. Ia tak punya waktu untuk berpikir. Pupus sudah harapan menjalankan tugasnya dengan lancar tanpa hambatan, ia yakin Myungsoo akan semakin menjauh darinya setelah ini. Atau parahnya ia akan mengusir dirinya ini.

Ini semua salah Jiyeon yang seenaknya saja berkata seperti tadi. Yang ada dipikirannya tadi hanya menjawab pertanyaan Myungsoo tanpa membuat Myungsoo sendiri curiga. Namun ia tak sadar kalau jawabannya membuat kecurigaan Myungsoo semakin bertambah.

Lama terdiam menunggu jawaban dari gadis di hadapannya ini, akhirnya Myungsoo memilih pergi. Ia langkahkan kakinya menuju pintu keluar dari atap. Saat hendak memutar kenop pintu, ia berucap, “Terlalu banyak kejanggalan yang tak wajar dalam dirimu, aku sempat berpikir kalau kau bukan manusia, namun gelagat anehmu semakin memperkuat pikiran itu. Yah bagaimanapun juga aku berharap pikiranku itu salah besar.”

Setelah mengatakan hal itu, Myungsoo meninggalkan Jiyeon sendiri yang masih setia menunduk menatap sepatu putihnya. Bukan, ia memperhatikan sepatunya bukan karena ada hal yang menarik di sepatu itu. Ia tak tahu harus bagaimana. Meskipun ia tahu Myungsoo sudah tak ada di sekitarnya lagi.

“Sayangnya itu semua benar. Aku bukan manusia sepertimu. Tapi percayalah, aku bukan makhluk jahat“ gumamnya.
Tanpa sadar, setetes air mata keluar dari pelupuk mata Jiyeon. Membasahi pipi mulusnya yang tidak chubby itu lalu turun membasahi sepatunya.

[JIYEON POV]

Kini aku sedang duduk di kantin sembari menikmati ramen instan yang tadi ku beli. Kantin ini tampak sepi hanya ada beberapa orang saja, dapat ku tebak orang-orang itu bolos kelas. Sama sepertiku, yaah benar. Aki membolos pelajaran kedua di hari pertama sekolah. Hebat bukan?

Tanganku kembaki mengaduk-aduk isi cup ramen itu. Pikiranku kembali melayang saat Myungsoo membawaku ke atas atau tepatnya tiga jam yang lalu.

Bagaimana menjalankan tugasnya?
Bagaimana kalau aku tidak dapat melakukan hal itu?
Bagaimana kalau aku dibawa ke tempat pelatihan para angel untuk yang ke dua kalinya?

Ah atau lebih parahnya aku dibawa ke tempat para angel yang melakukan kesalahan?
Pertanyaan itu berputar-pitar di kepalaku. Ugh aku tak sanggup membayangkan hal itu.
Selesai memakan ramen cup ini, aku menyeruput cappuccino yang tadi kupesan. Setelah itu aku beranjak dari kantin.

KRIIINGG

Ah bel istirahat sudah berbunyi rupanya.

Untuk saat ini aku masih tak ingin ke kelas. Masih takut untuk bertemu dengan Myungsoo dan Jaera. Yah walaupun Jaera tak menanyakan secara terang-terangan seperti Myungsoo tadi, ia pasti juga curiga padaku.

Aku melangkahkan kaki jenjangku menelusuri tiap-tiap koridor di gedung ini. Sejujurnya aku masih tak tahu ingin ke mana selain ke kelas, atap dan ke kantin.

Ah, bagaimana kalau ke perpustakaan?

Tidak buruk bukan?

Aku berlari kecil mendatangi seorang pria berambut coklat berantakkan. Kulirik sekilas name-tagnya, disana tertulis ‘Lee Min Hyuk’. “A-ano.. Lee Minhyuk–ssi,”

Pria itu mengernyitkan dahinya heran. Bingung dengan sikapku, mungkin? Ia menatap mataku seolah mengatakan ‘ada apa?’.

Aku menggaruk tengkukku sejenak padahal tak ada rasa gatal yang menjalari tempat itu. Yah itu kulakukan agar tidak terlalu canggung. Menarik napas panjang kemudian menghembuskannya perlahan, aku berdehem kecil sebelum bertanya kepada Minhyuk.

“Apa kau tahu letak perpustakaan?”

Beberapa menit berlalu. Bukannya menjawab, Minhyuk malah menatapku dari ujung kaki hingga ujung rambut membuatku mengerutkan kedua alis coklatku. Hei ada apa dengannya?
Penampilanku bahkan baik-baik saja. Sepatu oke, rok sekolah oke, jas sekolah oke, kemeja sekolah oke, dasi sekolah oke, bahkan kaus kaki putihku kunaikkan sampai ke lutut. Lalu apa yang salah?

“Kau anak baru tadi ya?” tanyanya. Eh? Dari mana dia tahu? Tak ingin memusingkan hal itu, aku mengangguk sekilas.
“Hah pantas saja. Aku sekelas denganmu, lho. Memangnya kau tak melihatku?”
“E-eh? Benarkah? U-um..”
“Ya ya, tak apa. Lagipula aku duduk dipojok kelas jadi wajar saja kalau kau tak melihatku. Ah dari pada itu, kau ingin ke perpustakaan bukan? Lebih baik aku antar saja,”

Aku terdiam sesaat sebelun menganggukkan kepalaku antusias. Minhyuk pun menarik lenganku membawaku berlari menerobos orang-orang yang berada di sekitar koridor ini. Dan hal itu membuat mereka menatap kesal ke arah kami.
Hah. Sialan.

***

[NORMAL]

Sepanjang perjalanan menuju perpustakaan, dua insan itu berbicara satu sama lain. Yah meskipun tadi mereka sempat berlari.

Hingga sekarang mereka—atau lebih tepatnya sang pria menghentikan langkahnya saat ia merasakan ponselnya bergetar di saku kemejanya. Sang perempuan yang kebingungan karena pria itu memberhentikan langkahnyapun bertanya, “Ada apa?”

Minhyuk—pria tersebut menoleh dan tersenyum simpul. “Errr.. sahabatku menyuruhku ke kantin. Menemaninya, katanya. Emm tak apa kalau kau ku tinggal di sini?”

“Siapa?”
“Hn? Sahabatku? Ahh itu Myungsoo. Sekelas dengan kita. Hn, baiklah kau kutinggal dulu ya! Ah ya, dari sini kau tinggal lurus kemudian belok kanan nah kau berhenti tepat di depan pintu pertama yang berada di sebelah kiri, di situ perpustakaannya. Sudah dulu ya, Myungsoo marah-marah. Ingin curhat katanya. Sampai jumpa, Jiyeon–ah!”
Usai mengatakan hal itu Minhyuk meninggalkan Jiyeon sembari melambaikan tangannya dengan senyuman yang masih merekah dibibir pria itu.

Sedangkan Jiyeon sendiri membalas perlakuan Minhyuk dengan tersenyum kecil. Ia masih memikirkan kata-kata Minhyuk tadi. Myungsoo? Sahabat pria itu? Lalu tadi katanya ingin curhat ya?

DEG!

Jantung Jiyeon berpacu lebih cepat dari biasanya. Matanya membulat. Mungkinkah? Mungkinkah Myungsoo akan menceritakan tentang dirinya kepada Minhyuk? Oh bahkan ia baru saja mendapat teman.

Tak ingin terpengaruh pikiran itu, ia menggelengkan kepalanya cepat. Ayolah, masalah dalam hidup Myungsoo tak mungkin hanya soal dirinya ’kan? Bisa saja ada itu masalah lain, bukan tentang dirinya, pikir Jiyeon sekali lagi.
Tak ingin berlama-lama berdiam diri di sana—karena banyak sepasang mata yang menatapnya iapun melangkahkan kakinya menyusuri koridor ini, mengikuti kata-kata Minhyuk tadi.

Empat menit berlalu. Dan sekarang Jiyeon sudah berada di pojok perpustakaan, tepatnya di depan rak buku khusus novel-novel bermacam genre dan rating—kecuali rate M.

Ia mengambil sebuah buku yang berjudul “Fallen in Love” karya Lauren Kate. Ia membuka lembaran-lembaran buku itu, setelah menurutnya cukup menarik dan membuatnya penasaran tingkat tinggi. Ia pun mengambil buku itu dan membawanya ke meja yang berada di dekat jendela perpustakaan.

Baru beberapa langkah berjalan, Jiyeon dikejutkan dengan kehadiran sosok Risae. Kali ini ia sendiri, tak bersama dua temannya yang menurut cerita Minhyuk tadi selalu mengikutinya kemanapun.

Risae mencengkram lengan Jiyeon dan menariknya ke luar perpustakaan sehingga membuat buku yang dipegang Jiyeon tadi terjatuh. Sialnya Risae sama sekali tak mengijinkannya untuk mengambil buku itu.

Risae membawa Jiyeon ke belakang sekolah yang sepi—seperti biasanya. Tangannya yang tadi mengcengkram lengan Jiyeon beralih ke bahu kecil Jiyeon. Kali ini Jiyeon tak mengaduh karena ia hanya memegangnya saja, bukan mencengkram.

“Apa yang kau lakukan saat pelajaran Bahasa Inggris di mulai?” tanyanya pelan namun penuh penekanan.
“Di kantin. Kenapa?” jujur Jiyeon. Toh, memangnya untuk apa berbohong?
“Sebelum itu, sialan! Kau pasti bersama Myungsoo ’kan? Kau pasti tahu kalau Myungsoo telat ke kelas tadi! Dan kau sengaja tak ke kelas agar mereka tidak curiga. Tapi sayangnya aku tak sebodoh itu. Aku tahu kau BERSAMA Myungsoo! Aah tadi aku juga sempat melihat kau bersama Minhyuk. Beginikah sifatmu? JALANG?!”

PLAAKK

Jiyeon menampar pipi Risae dengan keras. Ia tak terima dengan perkataan Risae yang mengatainya ’jalang’. “Jaga bicaramu!”

“Cih! Beraninya kau!!”

Risae menjambak rambut Jiyeon kasar. Sebelah tangannya ia gunakan untuk menahan tangan Jiyeon agar gadis itu tak bisa bergerak. “Bukankah sudah kubilang? Jauhi Myungsoo! Lalu sekarang apa yang kau lakukan? Kau benar-benar menantangku rupanya”

Ia semakin menarik rambut Jiyeon ke bawah. Jiyeon jatuh tersungkur. Ia terus mengaduh lirih. Rasanya ia ingin menggunting rambutnya agar bisa terlepas dari jambakan Risae. Namun dewi fortuna tak berpihak padanya. Di sekitar sini tak ada gunting atau benda semacamnya. Sama sekali tak ada.

“Well.. Kalau ini memang maumu.. Aku terima,”

Perlahan Risae mendekatkan tubuhnya ke tubuh Jiyeon. Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Jiyeon. Dapat Jiyeon rasakan hembusan napas Risae di sana. Risae menyeringai sebelum memulai kalimatnya.

“Selamat datang di neraka, Park Jiyeon.”

Jiyeon melangkahkah kakinya ke kelas dengan langkah gontai. Kepalanya masih sakit akibat jambakkan Risae. Rambutnya pun tak sepenuhnya rapih.

Ia kemudian duduk di tempat duduknya. Ia menenggelamkan kepalanya ke dua tangannya. “Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana memulai tugas itu?” gumamnya lirih.

Jiyeon merasakan ada seseorang yang duduk di hadapannya. Ia mengangkat kepalanya lalu membulatkan kedua matanya saat mengetahui siapa orang itu. “J-Jaera?!”

Jaera tersenyum tipis melihat Jiyeon membulatkan matanya. Ia memang menaruh kecurigaan pada Jiyeon—sama seperti Myungsoo. Tapi menjauhinya bukanlah cara yang benar. Lagipula tak ada untungnya ’kan ia menjauhi Jiyeon? Teman-temannya lagi sibuk di ruang OSIS—semua teman Jaera adalah anggota OSIS, hanya ia yang bukan anggota OSIS.
Jaera merasakan keanehan dalam diri Jiyeon. Rambutnya yang sedikit berantakkan, pipinya yang sedikit memerah dan matanya yang basah—akibat menangis.

Ia memegang pipi Jiyeon, “Kau kenapa?”

Jiyeon menggeleng. Ia melepas tangan Jaera yang berada di pipinya.

“Aku baik-baik saja,”

Namun Jaera tetap tak percaya. Ia memicingkan matanya ke arah Jiyeon yang membuat Jiyeon terkekeh pelan. Ia tahu. Ia tahu siapa yang membuat ini semua pada Jiyeon. Siapa lagi kalau bukan Risae? Hanya Risae seorang lah yang berani melakukan hal sekeji ini—itupun jika menyangkut Myungsoo.

Risae sama sekali tak menyukai seseorang yang mendekati Myungsoo—kecuali Jaera. Gadis itu tahu kalau Jaera adalah saudara Myungsoo jadi ia memakluminya, apalagi setelah mengetahui kalau Jaera adalah yatim piatu.

Tapi jika gadis itu adalah gadis lain. Ia tak segan-segan melakukan pembully-an terhadap gadis itu. Obsesinya terhadap Myungsoo benar-benar besar. Ambisi gadis itu untuk mendapatkan Myungsoo juga tak kalah besar.
Memalukan memang.

Hal itu membuat semua siswi kelas 3 di Seoul Of Arts Performing School takut terhadapnya. Tak ada yang berani mendekati Myungsoo, mereka hanya bisa mengagumi Myungsoo dari jauh, tak bisa secara terang-terangan memuja-muja Myungsoo. Terakhir kali Risae melakukan pembully-an—menurut Jaera adalah lima bulan yang lalu. Saat itu ada seorang gadis yang ditolong oleh Myungsoo dan gadis itu menyukai Myungsoo. Sering kali gadis itu menaruh sepucuk surat di loker milik pria berambut klimis itu. Hingga suatu hari perbuatannya ketahuan oleh Risae.

Gadis itu dilabrak habis-habisan. Rambutnya yang panjang sepinggang digunting acak-acakkan sampai ke pundak. Hari pertama diperlakukan seperti itu, gadis itu bersikap biasa. Ia pikir perbuatan itu hanya berlaku satu hari saja. Namun itu semua salah. Mereka—Risae dan teman-temnnya memperbudak, membully, mempermalukan gadis itu. Hingga akhirnya gadis itupun pindah sekolah karena mengalami trauma mental maupun fisik.

Hal itu diketahui oleh pihak sekolah. Saat itu pihak sekolah memberikan skors dua minggu pada Risae. Entahlah, menurut Jaera itu tak seimbang dengan perbuatannya terhadap gadis itu.

“Apa yang ia lakukan padamu?”
Jiyeon menaikkan sebelah alisnya. “Hn?”
“Risae. Kang Risae.”
“D-dia… dia.. dia tak melakukan apapun. Ah bel sudah berbunyi,” Jiyeon mengelak. Untungnya bel istirahat telah usai berbunyi jadi itu dapat menghindari Jiyeon dari pertanyaan-pertanyaan Jaera.

Dan benar saja, Jaera menghela napas pendek sebelum beranjak dari hadapan Jiyeon dan kembali ke tempat duduknya semula.

[JIYEON POV]

Sudah seminggu sejak kejadian di mana dia menghampiriku dan menanyaiku siapa yang mendaftarkanku, sudah seminggu pula sejak kejadian Risae melabrakku—untungnya ia tak melakukan hal itu lagi karena dia menjauhiku.
Hubunganku dengan dia semakin lama semakin memburuk. Kemarin—hari Minggu saat para maid, aku, Jaera maupun dia bermain di lantai tiga seperti biasanya. Dia sama sekali tak menyapaku, menatap mataku saja enggan seakan-akan aku adalah serangga kecil yang harus dibasmi. Yah meskipun terkadang aku yang terkesan menjauhinya, tapi tetap saja!
Berbeda dengan dia, Jaera masih menyapaku meskipun tidak sesering dulu saat pertama aku berada di sini. Namun itu lebih baik daripada tak menyapaku atau menemaniku sama sekali. Jujur saja, aku kesepian.

Dan soal Risae, seperti yang kubilang tadi, ia tak melabrakku lagi karena memang aku dan dia saling menjauh. Meskipun begitu aku bersyukur, ancaman ‘selamat datang di neraka’ hanya sebatas gertakan saja. Sekali lagi itu karena aku menjauh darinya, pria itu…

…Myungsoo.

Sekarang aku berada di kelas. Menunggu Ahn Seonsaengnim datang untuk mengumumkan partner lab biologi atau kelompok sampai ujian sekolah nanti. Yah jujur saja aku berharap partnerku atau teman kelompokku itu adalah Myungsoo. Bukan apa-apa, aku hanya ingin hubunganku lebih baik dengannya dan juga, bukankah hal itu dapat membantu jalannya tugasku?

Aku melirik sekilas ke arah pintu. Tak ada tanda-tanda seseorang akan masuk sama sekali. Menghela napas sejenak, aku menaruh kepalaku di atas tanganku yang berada di atas meja. Kebiasaan telatnya Ahn Seonsaengnim tidak bisa hilang sepertinya. Meskipun baru beberapa hari bersekolah di sini, setiap pelajarannya atau sekedar memberikan pengumuman, guru itu selalu saja telat. Paling lama tiga hari yang lalu, ia telat satu jam tiga puluh menit dan hal itu membuat seisi kelas menjadi berisik. Sangat berisik. Yah jujur saja, aku terganggu. Dan biasanya saat guru tersebut telat, aku hanya diam atau menulis-nulis di buku tulisku.

SREEKK

Dapat kudengar suara pintu yang digeser. Sudah pasti itu adalah guru yang tak mengenal kedisiplinan gitu—ups. Masih dengan posisi sama, aku melirik sekilas ke arah guru itu, menunggunya membuka suara.

“Maaf telat”

Selalu itu yang ia ucapkan. SELALU.

“Oke, bapak akan mengumumkan partner lab biologi dan kelompok sampai ujian nasional nanti,”

Dan mulailah pria yang berumur tiga puluh tahunan itu berbicara. Namaku belum disebut-sebut sedari tadi. Begitu pula dengan nama Myungsoo. Ugh ayolah cepat! Jangan bikin aku penasaran.

“Kim Myungsoo dan…”

Nama Myungsoo sudah diucapkan. Ugh siapa yang akan menjadi partner lab biologinya? Akukah? Atau Jaera? Atau mungkin Risae? Ugh aku tidak bisa membayangkan betapa girangnya Risae saat mengetahui kalau partner lab biologinya adalah Myungsoo. Membayangkannya membuatku mual. Err…

“Kim Myungsoo dan Park Jiyeon”

Eh? Benarkah? Aku partner lab biologi Myungsoo? Sungguh? Yosh! Akhirnya aku mendapat kesempatan untuk memperbaiki hubunganku dengan pria itu. Dengan begitu tugasku akan semakin mudah dijalankan.
Aku mendengar seseorang menggebrak meja dengan cukup kencang. Aku saja kaget dibuatnya. Dengan gerakan slow-motion aku mengangkat kepalaku. Walaupun aku tahu siapa yang menggebrak meja itu, ya siapa lagi kalau bukan Risae.

“Saya tid–”
“Maaf Nona Kang, tidak akan ada yang dirubah. Ini keputusan akhir.” Ahn Seonsaengnim dengan cepaf menyela ucapan Risae.

Dapat kulihat wajahnya yang frustasi atau kesal lebih tepatnya. Aku mengidikkan kedua bahuku, tak peduli dengannya. Aku mempunyai firasat kalau setelah ini ia akan melabrakku, dan aku tak peduli. Aku tak akan diam saja seperti hari pertama di sini, yang dengan tololnya hanga diam saja diperlakukan seperti itu.

“Kang Risae dengan Lee Minhyuk dan yang terakhir Song Jaera dengan Lee Bamee”

“Untuk kelompoknya…”

Ahn Seonsaengnim mulai mengumumkan nama-nama muridnya lagi. Entah kenapa aku berharap dapat satu kelompok dengan Myungsoo. Tentunya agar tugasku dapat berjalan lancar! Ugh aku bosan di sini, ingin kembali ke sana saja. Di sini tak ada yang menyenangkan.

“Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Song Jaera, Yoo Minsuk”

Hampir saja aku berdiri dan berteriak karena kegirangan kalau saja tak ingat kalau sekarang ada di kelas. Jika itu terjadi, entahlah mau taruh di mana wajahku ini nanti.

“Ulangan Fisika akan di mulai sebentar lagi. Berdoalah”

Para murid menundukkan kepalanya dengan khidmat. Begitupun denganku. Beberapa menit kemudian mereka serempak mengangkat kepalanya saat sang ketua kelas mengatakan ‘selesai’ dan setelah itu kertas ulangan serta lembar jawaban dibagikan.

[NORMAL]

Dua jam berlalu, beberapa murid sudah berada di luar kelas karena sudah selesai mengerjakan ulangan Fisika. Hanya tinggal beberapa murid saja yang berada di kelas, dengan Ahn Seonsaengnim yang duduk dibangkunya.

Gadis bersurai coklat masih setia dibangkunya, seperti ada yang menaruh lem dibenda yang terbuat dari kayu itu. Tangannya memutar-mutar pensil.  Mulutnya mengemut permen mint yang entah kenapa ada ditasnya. Matanya menerawang keluar jendela.

Jika ditanya sudah selesai mengerjakan atau belum, jawabannya adalah sudah. Bahkan lima menit setelah lembar jawaban dibagi setelah soal, ia sudah selesai menegerjakan. Tapi entah kenapa ia masih tak beranjak dari bangkunya. Setiap Ahn Seonsaengnim berkeliling kelas, ia akan menghapus beberapa jawaban lalu berpura-pura berpikir.

Satu setengah jam kemudian, seluruh murid yang tersisa mengumpulkan lembar jawaban beserta kertas soalnya. Selesai ataupun tidak, begitu kata Ahn Seonsaengnim. Gadis bersurai coklat itu melangkahkan kakinya keluar kelas. Seminggu bersekolah di sini tentunya ia sudah hapal letak-letak tempat seperti perpustakaan, lapangan indoor, kantin, toilet, dan sebagainya.

Namun hari ini entah kenapa ia bingung ingin ke mana. Ke kantin? Ia masih tak lapar. Perpustakaan? Matanya baru saja dijejalkan sekitar dua-tiga puluh soal, meskipun itu tak sulit tapi tetap membuatnya pusing. Jari-jemarinya meraba kantung jas sekolahnya. Ah ia lupa.

Jiyeon—nama gadis itu mempercepat langkah kakinya. Namun baru beberapa langkah ia kembali berhenti karena ada yang menghalangi jalannya. Sebenarnya ia bisa saja menyuruh orang itu untuk menyingkir, tapi ia sudah tahu siapa orang itu dan apa yang akan dilakukannya maka dari itu ia memilih berhenti. Well, firasatnya saat di kelas tadi benar. Dia akan melabraknya. Lagi.

Kepalanya yang sedari tadi menunduk kini mulai mengadah karena tangannya ditarik secara paksa oleh seseorang itu. Ia tak berontak, memang. Dan kini mereka telah sampai di atap, sekali lagi dugaan Jiyeon benar. Orang itu melepas tangannya secara kasar. Meninggalkan bekas merah ditangan Jiyeon yang putih bak porselen.

Meski sebenarnya ia merasa sakit, tapi wajahnya tetap datar seolah tak terjadi apa-apa. Mata coklatnya balik menatap orang itu. “Jauhi Myungsoo”. Risae—orang itu mulai berbicara.

Jiyeon masih terdiam. Matanya tetap memandang Risae meski gadis itu telah berbalik memunggungi Jiyeon. Kedua tangan Risae bersedekap di dada. “Kau itu tuli, ya? Jauhi. Myungsoo.” Katanya sekali lagi. Jelas sekali ada nada perintah dikalimatnya barusan.

Jari telunjuk Jiyeon ditaruh dibawah dagunya, berpose seolah-olah sedang berpikir, seperti saat ulangan Fisika tadi. Beberapa menit terdiam dengan pose yang jika Risae lihat pasti gadis berambut sebahu itu akan bilang ‘menyebalkan’ akhirnya Jiyeon mengeluarkan suara, “Tidak bisa”. Katanya singkat.

“Well… kau benar-benar ingin ke neraka yah? KUBILANG JAUHI MYUNGSOO!”

“Jauhi Myungsoo ya? Bagaimana mungkin? Kau tahu sendiri ‘kan kalau ia satu kelompok denganku? Dan kau pasti tahu kalau dia adalah partner lab biologi-ku. Kurasa kau tak terlalu bodoh untuk memahami hal itu dilihat dari saat ulangan tadi kau mengumpulkan lembar jawaban empat puluh dua menit setelah lembar jawaban dibagi, ya kurang lebih sih.”

“Aku tak peduli! Bagaimanapun juga jauhi Myungsoo! Bagaimanapun caranya! Apapun caranya! Karena dia MILIKKU!” Risae berteriak kali ini. Kedua tangan yang tadi bersedekap jatuh begitu saja berganti dengan kepalan menahan amarah. Sesekali giginya bergemeletuk menahan amarah yang sudah diubun-ubun. Cih, memangnya dia siapa? Berani sekali menentangku! Pikirnya.

“Well sejujurnya aku bingung. Kenapa kau begitu terobsesi dengan Myungsoo? Sampai-sampai mengklaim kalau dia itu adalah milikmu? Menjauhi setiap perempuan yang dekat dengan Myungsoo dengan cara membully-nya? Kau tidak tahu kalau itu dapat menyebabkan gangguan psikis bagi orang yang kau bully? Lagipula, tak tahukah kau kalau kau terlihat murahan karena hal itu?”

Suara geraman terdengar. Kepalan tangan Risae semakin mengencang hingga membuat buku-buku jarinya memutih. Ia berbalik dan hendak melayangkan tamparan kepada Jiyeon yang sudah berani mengatainya murahan. Namun sayangnya kali ini ia kalah cepat, Jiyeon sudah punya firasat kalau Risae akan menamparnya dan itu benar. Untung kali ini ia dapat menahan tangan Risae, membuatnya menggantung di udara.

Keduanya terdiam. Ah tidak, sesekali Risae berkata ‘lepaskan’ sambil berontak. Tapi sayang itu semua sia-sia, bagaimanapun juga tenaga Jiyeon jauh lebih besar daripada dirinya. Hingga akhirnya Jiyeon menjatuhkan tangan Risae kasar membuat suara ‘aduh’ terdengar dari mulut Risae.

“Maaf saja. Kali ini dan seterusnya aku tak akan tinggal diam kalau kau hendak membully-ku. Aku tak akan jatuh dilubang yang sama dua kali, Kang Risae.”

Setelah mengatakan hal itu, Jiyeon berbalik dan meninggalkan Risae yang masih berdiri mematung di tempatnya. Sekali lagi tangan Risae terkepal dan ia menggeram. Kesal. Ia sangat kesal dengan Jiyeon!

Saat Jiyeon sampai di depan pintu, gadis itu menghentikan langkahnya. Kemudian ia berkata tanpa berbalik, “Bagaimana rasanya diejek murahan?”Setelah itu debuman pintu terdengar cukup kencang.

Risae masih menggeram. Wajahnya memerah menandakan ia benar-benar marah sekarang. Heh tak tahukah Jiyeon kalau gadis itu sedang ingin membully seseorang? Beberapa bulan terakhir ia tak mendapat ‘mangsa’ dan begitu mengetahui Jiyeon terlihat menyukai Myungsoo tentunya ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia rindu membully seseorang. Heh? Itu gila.

TO BE CONTINUED

Weh selesai juga >.< Ini jauh bngt dr perkiraan yg bakal dipost tgl 12-15 :’v ini jauh bngt kan kyaaaaaaa >.< btw Minal Aidin Walfaidzin ^^ Selamat Lebaran😀 /telaaaaaat/. btw yg perdebatan innerself itu, aku sering lho kek gitu :3 entah itu disebut apa yg jelas aku sering kek gitu/? abaikan. oya skli lg maaf bngt atas keterlambatan postnya T^T dan chapter dpn jmungkin akan lama jg berhubung aku udh mulai msk sekolah :’) /huaaa ga relaT.T/ Udah ah, ditunggu komentarnya ^u^. Jaa ne!

16 responses to “[CHAPTER — PART 3] Gone With The Wind

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s