[CHAPTER-PART 2] Pain : Tears?

pain

author : Aeyoungiedo

cast : Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Park Yejin, Choi Minho

genre : Sad, Angst, Romance, Family

rating : PG-15

warn : plot twist

check it out, guys.

—–

2003

Jiyeon mengerjap-erjapkan matanya. Sinar matahari yang menyilaukan membuatnya terpaksa bangun. Ketika ia sudah bisa menangkap cahaya sepenuhnya, ia tersadar. Mulutnya menganga kaget, dengan mata yang agak dibesarkan. Eh, dimana ini? Seingatnya, Jiyeon tadi malam pergi ke pesta prom untuk merayakan kelulusan, dan…ia berdansa kemudian mabuk. Jiyeon memutuskan untuk menge-cek di bawah selimutnya. Ia telanjang. Dan,, orang disampingnya adalah Choi Minho. Eh, apa yang ia lakukan semalam? Bahkan pakaian mereka pun berserakan. Minho masih tertidur dengan lelapnya tanpa menyadari sesuatu telah terjadi.

“Choi Minho-ssi..apa yang kau lakukakan padaku eoh..”isak Jiyeon sembari menangkupkan wajah diantara kedua lengannya. Jiyeon tak perduli selimut telah tersibak menampakkan tubuhnya yang polos. Toh Minho sudah melihat semuanya.

Minho mengucek matanya.

YA! Eomma kau berisik.”Minho masih dalam keadaan setengah sadar. Jiyeon menampar Minho. Matanya memerah. Sebentar lagi ia harus pergi ke Amerika, mengapa semua ini terjadi?

“laki-laki sialan! brengsek! apa yang kau lakukan?!”Jiyeon menampar Minho kemudian mencakar kulitnya. Minho terbelalak. Jiyeon dalam keadaan polos disampingnya. Minho pun dalam keadaan yang sama. Jadi..

“a-aku sungguh tak mengerti mengapa ini semua terjadi, Park Jiyeon. Maafkan aku..”Minho membungkuk meminta maaf. Jiyeon acuh. Masih terus menangis. Minho hendak menghibur Jiyeon dengan mengelus bahunya tetapi Jiyeon menepis.

“kau tak mengerti, aku sebentar lagi ke Amerika dan kau..melakukan ini semua.”Jiyeon masih terus menyalahkan Minho. Minho menunduk. Jiyeon mengambil kasar gaunnya yang telah terkoyak di beberapa bagian kemudian memakainya. Matanya masih menangis meskipun tubuhnya telah tertutupi.

eottokhae? aku harus pulang sekarang. eomma pasti menunggu, eoh.”ucap Jiyeon. Pandangannya kosong. Minho menarik rambutnya. Frustasi. Ia telah mencemarkan nama keluarga Choi, lalu pasti ia akan di usir oleh appanya. Meninggalkan semua fasilitas mewah yang telah diberikan selama 17 tahun lamanya. Jiyeon melenguh panjang.

“Apa? Kau pasti tak menyesal, bukan? Dasar lelaki! Tidak bisa mengerti perasaan wanita. Lihat saja. Kalau aku mengandung pasti kau tak akan bertanggung jawab! Lelaki macam apa itu!”

Minho berjalan panik. Setelah berdansa, kemudian Jiyeon mabuk, Minho memutuskan membawanya pulang tapi Minho rupanya juga mabuk. Setelah itu Minho tidak merasakan apa-apa, dan kemudian semuanya telah terjadi..

Jiyeon mengambil tas tangannya.

“aku pulang! lupakan semua yang terjadi, kita tidak pernah saling mengenal.”

Minho menatap punggung Jiyeon yang berangsur menjauh.

“Jiyeon-ah aku akan bertanggung jawab padamu,,”

Jiyeon membuka pintu rumahnya. Seisi rumah ; appa, eomma, dan Sunny eonnie sudah menunggu harap cemas di ruang keluarga. Jiyeon menghembuskan nafasnya pelan. Ketika tatapannya bersirobok dengan Shinhye eomma Jiyeon hanya bisa menunduk.

“kau kemana saja, Jiyeon-ah?”

Tidak biasanya eomma begini. Pertanyaan yang dilontarkan terasa begitu dingin. Sedingin malam kemarin. Jiyeon merasakan aura panas di sekitarnya. Sunny unnie memainkan handphone sementara appa memilih membaca koran pagi yang setiap hari diantar.

“jawab aku, Park Jiyeon.”Shinhye mendekatkan diri pada Jiyeon.

PLAK!!

Tangannya mendarat di pipi Jiyeon. Jiyeon meringis. Selama ini Shinhye eomma selalu memperlakukannya dengan lembut. Jiyeon akui ini semua adalah salahnya. Sunny beranjak dan melewatinya dengan tatapan datar.

“apa aku salah dalam mendidikmu, hah? kenapa kau pulang hingga pagi? dan gaunmu terkoyak, Park Jiyeon!”isak eomma. Jiyeon menangis tersedu. Eomma tampak memegangi kepalanya. Sementara appa sibuk mengelus bahu eomma untuk menyalurkan kekuatan. Eomma tidak boleh terlalu stress, karena eomma mempunyai penyakit yang disebut vertigo.

yeobo aku rasa aku salah mendidiknya, omo…ya tuhan, kepalaku pusing sekali.”Shinhye memegangi kepalanya yang berkunang-kunang. Jiyeon masih menangis menatap eommanya yang kesakitan. Appa mengoleskan minyak gosok di kepala eomma sedangkan eomma tampak mengerjap-erjap.

Appa berangsur mendekati Jiyeon lalu menyuruhnya duduk.

“katakan pada appa, siapa ayahnya Jiyeon-ah?”tanya appa lembut. Jiyeon tak menjawab.

Appa tampak bersabar menunggu jawaban Jiyeon. Ia tahu putrinya sedang tidak siap saat ini, oleh karena itu ia harus terus menunggu.

“Saya appanya.”

Eomma membuka matanya. Mata eomma masih di selimuti kemarahan. Appa menarik tangan eomma untuk menyuruhnya duduk kembali. Wajah eomma masih terlihat pasi. Tampak guratan hitam di sekitar matanya. Rupanya eomma telah menunggu semalaman tanpa tertidur barang sedikitpun.

Jiyeon menatap sesosok yang berada di ambang pintu. Kim Myungsoo. Kim Myungsoo masih disana lalu tersenyum pada Jiyeon yang termangu. Eomma berusaha menampik genggaman appa. Memandangi wajah Myungsoo lalu menamparnya. Dada eomma tampak naik turun seiring dengan kemarahannya yang kian menggebu.

“apa yang kau lakukan pada putriku sehingga ia pulang dalam keadaan seperti ini?”tanya eomma.

“sabarlah, yeobo.Dengarlah penjelasannya dahulu.”

“tidak bisa yeobo. Dia merusak putriku, dia merusak harapanku, dia merusak–ah..”isak eomma. Myungsoo hanya menatap datar tanpa ekspresi. Pikiran Myungsoo masih bergelut dengan perasaannya sendiri. Melakukan sesuatu yang seharusnya tak boleh ia lakukan, karena bukan dia.

Mianhamnida eommonim. Saya Kim Myungsoo meminta maaf sebesar-besarnya atas perbuatan saya kepada putri anda, Park Jiyeon. Saya akui itu memang saya.  Saya melakukannya di atas kemampuan saya, eommonim. Saya bahkan tak menyangka kejadian itu akan terjadi, saya menyesal sebesar-besarnya. Maafkan saya.”

Eomma bergeming. Masih terisak. Sementara Jiyeon ia menangkupkan wajahnya. Tidak, ini bukan kesalahan Myungsoo. Ini murni kecerobohan Jiyeon. Jiyeon bukan pemabuk yang baik. Karena ia sedang depresi ia memutuskan untuk meminum cairan vodka dan sedikit bloody mary.Ia tak menyangka efeknya begitu luar biasa.

“buktikan kalau memang kau bertanggung jawab, Myungsoo-ssi.”

“kenapa kau harus mengaku, sih?”tanya Jiyeon pada Myungsoo ketika mereka berada di halaman belakang rumah Jiyeon. Eomma sudah bisa mengatasi kesedihannya tapi Sunny masih ingin menyendiri di kamar. Barangkali ia terpukul. Jemari lentik Jiyeon membelai lembut pipi Myungsoo yang masih membiru akibat tamparan dari eomma. Myungsoo sedikit meringis saat Jiyeon mengoleskan cairan antiseptik pada kulitnya yang berdarah. Tadi kulit Myungsoo sedikit terkoyak saat menjelaskan semua yang terjadi pada eomma Jiyeon.

“memangnya kau pikir Choi Minho itu akan bertanggung jawab denganmu? memalukan.”desis Myungsoo. Jiyeon menggeleng. Ucapan Myungsoo ada benarnya.

“bukankah sudah ku bilang jangan dekati aku lagi? dasar keras kepala.”geram Jiyeon. Myungsoo terkekeh kemudian mengusap pucuk kepala Jiyeon. Jiyeon tersenyum singkat. Gawat. Reputasinya bisa hancur kalau seisi sekolah mengetahui ini. Untung saja appa kenal baik dengan ketua komite sekolah dan juga kepala sekolah, sehingga ini bisa di rahasiakan.

“kenapa kau melarang aku untuk mendekatimu? setelah semua yang kita lalui, ku pikir kita ini sahabat.”decih Myungsoo.

“itu terpaksa, bodoh. Soojung menyukaimu, dan aku tahu itu. Dia sahabatku jadi aku putuskan untuk membantunya. Dan juga, kau lebih terlihat seperti homoseksual.”

Myungsoo mengangkat tangannya bermaksud untuk memukul Jiyeon. Jiyeon menghindarinya lalu tertawa. Jiyeon tahu Myungsoo hanya bergurau saja. Setelah sekian lama, akhirnya mereka bisa bergurau kembali. Tanpa ada apapun, tanpa ada halangan apapun. Eomma Park menyuruh Myungsoo untuk bertanggung jawab. Dan Myungsoo menyanggupinya. Nanti malam mereka akan pergi ke rumah Myungsoo. Untuk meminta restu dari kedua orang tua Myungsoo. Setelah itu mereka akan menikah dan hidup di Amerika. Myungsoo akan menyiapkan kepindahannya. Sementara Jiyeon masih melanjutkan program beasiswa.

“Kau tahu? Selama ini begitu sulit untukku menemuimu.”

Jiyeon berdehem. Myungsoo tengah menyindirnya. Tetapi Jiyeon sama sekali tidak jengah sedikitpun.

“aku ingin mengucapkan terima kasih padamu, aku tahu ini sama sekali bukan salahmu. Tapi kau menyanggupi itu semua bahkan mendapat tamparan dari eomma bahkan unnie pun mencibirmu. terima kasih sahabatku yang sebentar lagi akan menjadi suamiku.”

Myungsoo tertawa. Lihatlah. Tawa mereka seiring dengan matahari yang kian menghilang, tanpa mereka sadari. Banyak halangan yang terus menanti.

-~-

“Kim Myungsoo, kau–“appa Kim memegangi jantungnya. Eomma Kim masih menganga tak percaya. Bahkan dokter Kim –kakek Myungsoo– menangis. Eomma Kim menyukai Jiyeon sebagai putri, tapi haruskah ini terjadi? Di sisi Myungsoo tampak Jiyeon sedang meremas roknya, tapi eomma Park menatap appa Kim gamang. Berharap cemas dengan keputusan appa Kim.

“Oleh karena itu Myungsoo meminta restu dari appa, karena aku akan menikah dengan Jiyeon suatu hari nanti. Maafkan Myungsoo jika Myungsoo menjadi anak yang pembangkang, cerewet, dan menjengkelkan appa. Tapi Myungsoo menyayangi appa sepenuhnya.”sederet kata dari Myungsoo mampu membuat air mata appa Myungsoo yang dikenal memiliki hati baja ini menetes. Eomma Kim menatap appa berharap suaminya itu akan merestui. Ia sudah kenal dekat dengan Jiyeon. Ia tahu, Jiyeon anak yang baik-baik.

“kau mengecewakan appa nak. Appa berharap kau kelak menjadi hakim seperti appa tapi lihatlah yang kau lakukan.”

Appa Kim mengacak rambutnya frustasi. Tubuh tua yang terbalutkan kemeja itu kini mengaduh kesakitan. Mungkin penyakit jantungnya sebentar lagi akan kambuh.

yeobo aku tahu ini berat untukmu, tapi tolonglah, biarkan Myungsoo mempertanggung jawabkan kewajibannya, ingat satu nyawa bergantung padanya saat ini. Ku mohon yeobo…”isak eomma Kim di bawah kaki appa seraya memohon. Appa tidak bisa berkata apapun lagi. Mulutnya yang biasa memancarkan senyum kini tengah meringis. Eomma Park menangis, mungkin luka hatinya masih belum sembuh.

“Kim Myungsoo…”

Appa terjatuh di lantai marmer dingin. Memegangi dadanya yang sakit. Dengan cepat, eomma membawakan obat untuk appa. Berharap appa berangsur pulih. Dokter Kim tak bisa berkata apapun lagi.

“kakek, eomma, aku mohon, jebalyo.”

Eomma Kim hanya tersenyum sedih lalu memalingkan pandangannya. Menatap suami yang saat ini tergolek lemah. Dokter Kim tersenyum, kemudian memeluk Jiyeon dan Myungsoo.

“kakek tahu ini berat, lakukan apa yang harusnya kau lakukan, Myungsoo-ya.”dokter Kim menepuk pundak Myungsoo. Jiyeon mengusap air mata dokter Kim. Ia sudah menganggap dokter Kim seperti kakeknya sendiri, mengingat dulu saat ia kecil dokter Kim selalu membelanya dari Hara eomma.

eomma merestui kalian. tapi eomma harap, kalian akan menjadi anak yang membahagiakan kami nantinya.”

Pagi setelah insiden itu. Myungsoo merapihkan seragamnya kemudian turun dari kamarnya yang kebetulan terletak di lantai dua. Appa tampak berbicara dengan seseorang asing yang mengenakan jas. Tapi Myungsoo memutuskan tak peduli. Myungsoo mengecup singkat pipi eomma yang sedang mengoleskan selai di roti tawarnya. Eomma tersenyum singkat.

Dihadapannya Kim Myungsoo berdiri termangu. Semua barang telah dimasukkan ke dalam kardus,  apa mereka akan pindah? Bukankah ini terlalu cepat mengingat pernikahannya yang akan diadakan seminggu kemudian?

Eomma menatap anaknya tersenyum gamang. Bingung ingin mengatakan apa pada Myungsoo. Selesai berbicara appa mendekati Myungsoo. Kemudian tersenyum. Ini tidak biasanya.

“Myungsoo-ya, tiga hari kita akan pindah. Harabojimu yang ada di Swiss menyuruh kita untuk pindah kesana. Appa tahu ini terkesan tiba-tiba untukmu. Tadi pagi haraboji menelepon appa katanya kau-lah yang harus meneruskan perusahaannya di Swiss. Jadi appa dan eomma memutuskan untuk pindah kesana. Mengenai sekolahmu, appa pastikan akan mengurus secepatnya. Jangan khawatir putraku. Kau selalu membanggakanku.”

Myungsoo menganga. Ia masih diambang janji dengan Jiyeon untuk mempertanggungjawabkannya, padahal itu bukan kesalahan Myungsoo sama sekali. Eomma Kim tidak menjawab. Memilih menonton acara yang disajikan di televisi ; Running Man.

Myungsoo memiliki harabojiyang tinggal di Swiss. Eomma Myungsoo merupakan blasteran Korea-Swiss. Myungsoo hanya mempunyai saudara yang berasal dari Swiss. Sementara dari pihak appanya ia tidak memiliki saudara. Karena appa Myungsoo adalah putra tunggal dokter Kim. Appa Myungsoo terbilang sukses sebagai seorang pengacara ternama Korea. Sementara dulu, eomma bekerja sebagai CEO salah satu perusahaan cabang milik haraboji Myungsoo. Setelah menikah, eomma memutuskan untuk resign.

eomma, apa benar?”tanya Myungsoo. Eomma Kim mengangguk singkat.

appa aku kecewa padamu. Kau mengingkari janjimu, appa.”geram Myungsoo. Tangannya mengepal. Appa Kim tampak santai seolah tak ada sesuatu terjadi. Meskipun begitu, sinar matanya tetap memancarkan ketegasan.

“Kim Myungsoo, duduk.”

Myungsoo bergeming.

“DUDUKLAH KALAU SEDANG BERBICARA DENGAN APPAMU!!!”mata appa Kim sedikit berkilat pagi ini, sedang Myungsoo hanya duduk tanpa mengatakan apapun. Eomma mengambil air dingin untuk meredam emosinya. Myungsoo tahu karena eomma selalu melakukan itu setiap kali ia tersulut.

Appa berdehem. Sekedar mencairkan atmosfer yang kian memanas. Alis Myungsoo berjungkit dengan dahi yang mengerut. Ekspresi terburuk yang pernah ditampilkan oleh seorang Kim Myungsoo pada parasnya yang rupawan.

Appa tahu, ini sulit. Laki-laki memang harus bertanggung jawab atas apapun yang ia lakukan, tapi ini berbeda. Kau bisa bertanggung jawab dengan gadismu itu, nantinya. Setelah kau sukses nak. Ingat, jalanmu masih panjang. Tak seharusnya kau terbelenggu oleh sebuah status pernikahan.”jelas appa Kim panjang lebar.

Dan Myungsoo merasa ucapan appa kali ini ada benarnya…

“Jiyeon-ah, keumanhe.”panggil Sunny. Jiyeon tersenyum lalu berlari kecil menuju Sunny yang sedang duduk di kursi ayunan. Sunny terkekeh. Jiyeon duduk di kursi depan unnienya. Sunny memang sudah 30 tahun, tapi wajahnya menyerupai anak berusia 17 tahun. Sunny sedang mempersiapkan pernikahannya dengan seorang pengusaha asal China yaitu Henry.

Sunny menghela nafas panjang. Obrolan pertama dengan Jiyeon setelah insiden itu.

“bagaimana rasanya?”

Jiyeon masih tersenyum. “Awalnya aku mual mual, tapi aku sudah terbiasa. Bahkan tadi malam aku meminta appa untuk membelikan pizza.”

Sunny mengangguk.

“Jiyeon-ah, aku senang mengenalmu sebagai adikku. Hanya saja ada fase fase sulit setelah kau menjadi adikku bukan? Dimulai dengan perusahaan appa yang bangkrut, lalu aku sempat menjauhimu saat awal-awal kita bertemu. Tapi kau terus tumbuh menjadi Park Jiyeon yang membanggakan, bahkan kau membanggakan Korea dengan memenangkan Olimpiade Sains Internasional. Aku senang menjadi kakakmu,”

Jiyeon mengangguk menatap Sunny. Entahlah. Sunny mungkin sedih karena beberapa minggu kemudian, ia akan berpisah dengan rumah ini. Sementara Jiyeon akan berangkat beberapa hari kemudian. Angin menerpa wajah mereka, lalu mereka berdua tertawa bersama.

“Aku menyayangimu, saengie.”Sunny mendekap tubuh Jiyeon. Pelukan terakhir. Karena saat Jiyeon pergi ke bandara, Sunny melakukan fitting gaun setelah itu proses foto pre-wedding. Sesungguhnya Sunny menyesal tapi apa mau dikata, toh Sunny sebentar lagi akan menikah.

unnie jangan lupakan adikmu yang cantik jelita ini, nde.”pesan Jiyeon narsis. Sunny terkekeh. Jiyeon mengambil handphone dari saku bajunya berinisiatif untuk menelepon Myungsoo. Mengabari bahwa tiga hari lagi ia akan berangkat, jadi ia memutuskan untuk menikah di Amerika saja. Sunny melepaskan dekapannya.

tut..tut..

hanya nada sambung dan suara operator yang terdengar di telinga Jiyeon. Jiyeon mengaduh kesal. Myungsoo tidak menjawab panggilannya, dan itu bukanlah hal yang biasa terjadi.

Jiyeon kembali memasukkan handphonenya, kesal.

Now, 2010

Jiyeon tertawa melihat putri kecilnya yang asyik melahap sandwich milik Kate, sementara Kate –asistennya– tampak merengut. Tapi Lauren tetap acuh.

“Lauren, that sandwich is mine.“terang Kate. Lauren menjulurkan lidahnya kemudian memakan sandwich milik Kate kembali. Kate memutuskan untuk mengalah karena tidak ingin mendapat omelan panjang dari Jiyeon.

“Park Jiyeon, sudah lama tidak berjumpa.”

Suara yang familiar. Sosok tinggi disebelahnya tampak keren menggunakan pakaian casual dan kacamata hitam. Eh tunggu–apa tadi? keren? Jiyeon mendengus kesal sementara Lauren menatap Myungsoo kagum. Myungsoo akhirnya memilih meninggalkan bisnis walaupun mendapat sedikit pertentangan dari haraboji dan appanya. Myungsoo kini sukses menjadi aktor papan atas Hollywood dengan nama panggilan L.

Kebetulan, Jiyeon adalah seorang fotografer dan reporter –pengganti– yang ditugaskan untuk mewawancara Myungsoo. Meskipun awalnya Jiyeon menolak. Toh akhirnya ia dan Myungsoo kembali bekerja sama. Tapi yang membuat Jiyeon heran adalah, Lauren bisa secepat itu menerima Myungsoo. Minho kini antah berantah, sedangkan Yejin meneruskan kuliahnya di universitas ternama Amerika. Jurusan tata negara.

“paman tampan.”gumam Lauren. Myungsoo tertawa singkat kemudian mengecup pipi Lauren seolah anak kandungnya sendiri. Kate tidak menjawab, ia hanya mengagumi ketampanan Myungsoo. Maklumlah, Myungsoo adalah aktor yang sedang naik daun di kancah perfilm-an Hollywood.

“Bagaimana sekolahmu, sayang?”tanya Myungsoo. Myungsoo duduk di sebelah Jiyeon. Jiyeon sebenarnya jengah tapi Myungsoo acuh.

“Baik. Lauren punya banyak teman, tapi ada satu orang yang mengatakan suka pada Lauren.”ucap Lauren polos. Myungsoo terbahak. Dasar anak jaman sekarang. Baru menginjak middle school pun sudah berani menyatakan cinta. “lalu, Lauren terima?”

eum. karena orangnya tampan, jadi Lauren terima.”angguk Lauren. Jiyeon hanya menganga. Anaknya –Lauren– tak pernah bercerita sejauh ini pada Jiyeon. Tapi, pada Myungsoo yang baru dua kali kenal, Lauren bisa bercerita.

Jiyeon mengaduk punchnya yang terasa dingin untuk musim semi yang hangat seperti ini. Perubahan cuaca sangat ekstrim jadi pemerintah menyuruh warga untuk berhati hati, dan memperhatikan ramalan cuaca.

“Lauren, dan juga siapa–Kate. Bisakah kalian pulang terlebih dahulu? Ada hal yang perlu aku bicarakan berdua dengan wanita di sebelahku.”Myungsoo melirik Jiyeon. Jiyeon mendesah pasrah. Lauren tampak menurut. Sedangkan Kate mengerling genit pada Myungsoo.

Anything for you, boy.”Kate mengecup singkat pipi Myungsoo. Bahkan Myungsoo tanpa penolakan atau risih sedikitpun. Hal yang membuat mood Jiyeon tambah memburuk untuk saat ini.

“Jadi? Jangan bertele-tele.”ucap Jiyeon tajam ketika punggung Kate sudah menghilang dari kafe. Myungsoo menggenggam tangan Jiyeon. Menatapnya berusaha mencari apa yang seharusnya ia dapatkan saat ini. Cinta itu, masih tersembunyi di balik pelupuk mata Jiyeon. Jiyeon menepis genggaman Myungsoo.

“Kau tahu? Aku menunggumu, bahkan aku melahirkan Lauren tanpa ada ayah. Tapi apa yang kau lakukan? Aku sudah mendengar kabarmu setahun sejak aku pindah ke Amerika, dan kau rupanya bersenang-senang dengan gadis di Swiss. Sementara aku terus menunggu kau yang menghilang tiba-tiba, dan juga menanggung malu karena Lauren terus menanyakan ayahnya.”

Myungsoo menatap Jiyeon datar. Ini semua salahnya. Myungsoo tidak mengangkan missed call dari Jiyeon yang terhitung tiga puluh kali, dan tidak mengantar Jiyeon ke bandara. Tapi –hei– bukankah sudah Myungsoo jelaskan di awal pertemuan mereka, ini semua bukan kemauan Myungsoo?

Mengenai bersenang-senang dengan gadis, Myungsoo akui. Ia sempat memacari gadis dari kalangan selebriti disana, tapi hatinya masih untuk wanita yang sama di tahun 2002.

“dan kau, kini. Muncul tiba tiba dan mengatakan kau menyukaiku sejak dulu. Bahkan kau mendekati anakku secara perlahan. Apa kau mau mengacaukan hatiku kembali?”teriak Jiyeon frustasi. Myungsoo masih menahan tangan Jiyeon. Kali ini sedikit lebih keras agar Jiyeon mau membalikkan badannya.

“aku menunggumu, bodoh. Aku menyukaimu sejak kita kecil.”

“lalu? buat apa kau memacari gadis lain? itu membuatku terlihat murahan!”

Jiyeon meringis.

“AKU MENUNGGUMU! Dan kau tidak menyadarinya, kau bergabung dengan kelompok anti sosial itu. Kau mengatakan kau membenciku dan juga adikmu tiba-tiba. Adikmu menangis bahkan penyakitnya kambuh!”

Jiyeon tersenyum kecut.

“Jadi? Kau repot menemuiku karena Yejin? Oh iya, satu lagi–”
“–aku bukan orang yang tepat untuk membicarakan Park Yejin.”

-~-

Jiyeon menggeletakkan tas hitamnya di sembarang tempat. Rasa kantuk, kesal, amarahnya sudah memuncak. Lauren sudah tertidur di kamarnya, begitu pula Kate. Sementara Yejin, anak itu tidak tau dimana.

Sejak Yejin kuliah di Amerika, Hara eomma menitipkan Yejin di apartemen Jiyeon. Dengan alasan lebih murah, lebih aman pastinya. Jiyeon tersenyum kecut. Hara eomma masih membeda-bedakan dirinya dengan Yejin. Selalu seperti itu.

Jiyeon membuka pintu kamarnya.

Park Yejin tampak sedang tidur di kasur berukuran king size dan mengenakan piyama ungu. Sosok yang sedang dibenci Jiyeon, kini tertidur di kasurnya. Setelah Jiyeon selesai mengganti pakaiannya, baru Yejin membuka mata.

unnie?”
“hm.”

Yejin memeluk Jiyeon dari belakang. Jiyeon tidak menggubris. Hanya terdiam.

“Yejin ingin sekali tidur bersama unnie, bolehkah?”
“terserah kau saja. unnie capek. unnie ingin tidur.”

Jiyeon berjalan menuju kasur empuknya, kemudian tertidur memunggungi Yejin. Dapat Jiyeon rasakan, Yejin saat ini sedih. Sudah beberapa bulan mereka tinggal bersama tapi es dalam hati Jiyeon tak kunjung mencair.

unnie, terserah kau mendengarkanku atau tidak. tapi, aku rasa aku menyukainya. Kim Myungsoo. ini sudah berlangsung sekian lama. Sejak kita kecil, unnie.”

Jiyeon tersentak. Yejin, menyukai Myungsoo? Tanpa terasa air mata Jiyeon meleleh. Walaupun Jiyeon tidak mengerti apa penyebabnya. Yejin yang merasa Jiyeon tertidur, tersenyum kecil.

“–aku mencintainya, unnie.”
“baiklah, kau sudah tidur bukan? have a nice dream, aku menyayangimu unnie.”

tbc

Prev next chap :

“kau baru muncul setelah sekian lama, apa itu laki-laki?”

.

“aku tahu kau menyukainya, tapi–bisakah kau lihat diriku?”

.

“jauhi dirinya. ia tersiksa olehmu!”

hola..aku muncul bawa part duanya. Aku harap kalian suka ya.
Btw kemarin ada yang protes sama aku,
mengenai alurnya. Yah aku akuin, aku teledor kalau masalah itu.
aku berusaha lebih baik / improve dalam hal menulis,
oleh karenanya aku butuh saran dari kalian.
kalau kalian cepet ngasih respon-nya, jadi,
kemungkinan besar aku akan cepet juga bawa nextnya. 
gimana? 
semoga suka ya^^

63 responses to “[CHAPTER-PART 2] Pain : Tears?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s