High School (Chapter 9)

FF High School

This story belongs to brownpills.

Romance, Schoollife, Friendship I Chaptered I PG-14

Cast by Kim Myungsoo, Park Jiyeon, Jeon Jungkook, Bae Suzy, Jung Krystal

Family Cast by

Yoon Ye Hee as Jiyeon’s mother

Jeon No Min as Bae No Min (Suzy’s father)

Lee Il Hwa as Suzy’s mother

Jo Yi Hyun & Jo Yi Hwa as Suzy’s step brother

Jo Min Ki as Suzy’s stepfather

Kim So Hyun as Myungsoo’s stepsister

Jo Deok Hyun as Kim Deok Hyun (Myungsoo’s father or So Hyun’s stepfather)

Jeon Mi Seon as Myungsoo’s stepmother or Sohyun’s mother

Pure of mymind. Inspired of some problems.

Let me see~

.

Karena kau, aku mulai rusak.

Aku ingin berhenti, aku tidak menginginkanmu lagi.

Tetapi, aku tidak bisa melakukannya, sial.

Tolong jangan beri aku alasan lagi.

-High School

 

Myungsoo’s PoV

 

Matahari mulai memunculkan tubuhnya menyirami bumi dengan sinar kekuningannya. Berkas-berkas mentari masuk melalui kaca mobil berwarna putih tulang. Seorang wanita berumur hampir setengah abad masih terlihat cantik dengan make up naturalnya. Wanita itu memegang kemudi mobil. Dan aku berada di jok mobil sebelahnya.

“Mau menyalakan musik?” tawarnya.

“Tidak,” singkatku.

Suasana dalam mobil kembali sunyi. Hingga wanita itu menghentikan mobilnya di depan gerbang sebuah gedung yang lumayan besar. Aku mengaitkan tas berwarna hitam ke masing-masing bahuku seraya membuka pintu mobil.

“Myungsoo-ya,” panggilnya membuat tanganku menahan pintu mobil untuk tetap terbuka, “Kau tidak mengucapkan salam?”

Anyeong.”

“Myungsoo-ya!” tahannya lagi, “Have a nice day.”

“Kalimatmu membuatku merinding. Daripada berangkat bersama denganmu, lebih baik diantar seperti biasa oleh sopirku.”

Pernyataanku begitu lancar terucap. Tanpa menunggu responnya, aku segera turun dari mobil seraya menutup pintu mobil sedikit keras dan melanjutkan langkah mulai memasuki gedung yang berumur tua tetapi memiliki arsitektur yang modern.

Kedua kakiku berhenti sejenak ketika berada tidak jauh dari papan pengumuman yang dikerubungi oleh para siswa. Senyumanku mengembang melihat salah seorang gadis di antara mereka. Wajahnya mulai terlihat bahagia. Itu sedikit menjernihkan pikiranku. Park Jiyeon— mungkin ia bangga akan hasil test-nya.

Sehun sebagai ketua kelas mendekatinya. Bukan berbicara pada Jiyeon, tetapi pada temannya yang berada di sebelahnya, yaitu Suzy. Ketika Suzy melenggang menjauhi Jiyeon dan Krystal, Krystal melompat kesenangan ke arah kelas. Sementara Jiyeon berjalan menuju lapangan.

Ekor mataku terus mengunci gerakannya. Mengamati tiap langkah yang ia buat dari kejauhan. Lantas sesosok pria berpostur tubuh atletis menghalangi pandanganku. Pria itu berlari-lari kecil mendekatiku.

“Myungsoo!” sapanya.

Mwo?”

“Akan ada perlombaan basket antarsekolah minggu depan. Haruskah kita ikut?”

Joa.”

“Tapi—“ Minho menimang perkataannya, sementara aku tidak terlalu memperhatikan ucapan pria di hadapanku ini.

Pandanganku masih melekat pada gadis berkaki jenjang. Kronologisnya seperti apa aku tidak begitu mengerti. Yang jelas kini gadis itu sudah dikelilingi oleh murid lainnya.

“Myungsoo!”

Aku mengerjapkan mata dua kali. Dikagetkan oleh bentakan Minho yang merasa diacuhkan.

Ya, aku sedang berbicara denganmu,” protesnya.

 

“Jiyeon-a!”

 

Tidak hanya diriku, Minho pun menolehkan kepala kepada gadis yang berteriak memanggil nama Jiyeon itu. Suzy tampak berlari menerobos kerumunan itu. Membuatnya mencengkram erat bahu Jiyeon yang bertindak seperti memberontak dan berusaha melepaskan dirinya sendiri.

“Ada apa itu?” gumam Minho persis seperti yang kutanyakan dalam hati.

Reflek tungkai kakiku mengambil langkah. Segera mendekati lapangan yang disinari matahari pagi. Baru setengah jalan, Jiyeon dalam keadaan kacau melarikan diri dari kerumunan manusia yang membuatnya terlihat ketakutan.

Dengan wajah dipenuhi air mata, gadis itu berlari kencang. Kedua tangannya masih menutupi rapat telinganya. Bahkan ia melangkah cepat tanpa melihat jalan di depannya. Hingga—

 

BUGH!

 

Ada yang kurasakan di sebelah dadaku. Sebuah hantaman yang cukup keras membekukan sekujur tubuhku. Nafas hangatnya berhembus menyapa wajahku. Pita rambut yang menghiasi poninya terlepas. Lantas kedua tanganku menggenggam bahunya. Tepat disaat itu kurasakan tubuhnya melemah dalam pelukanku.

Irama jantungku berdegub di atas ambang normal. Denyut nadiku berdetak secepat kereta api. Sebagai naluri seorang pria aku mengangkat tubuhnya yang terasa begitu ringan. Membopongnya dengan kedua tangan sembari melangkah tanpa mempedulikan sorakan dari sekitarku. Kebanyakan dari mereka mencibir atau lebih banyak lagi mengangkat bahu tidak peduli.

Yang jelas kini aku membawa tubuhnya menuju ke ruang uks.

.

.

Mata yang dipoles cairan hitam tertutup rapat. Terpejam damai dengan kedua tangan di atas selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Rambut kecokelatannya tergerai menghiasi bantal dengan sarung berwarna putih. Bibirnya sedikit pecah-pecah. Pipinya bersemu merah.

“Suster,” lirih suara gadis lain sedikit mengalihkan pandanganku. “Sebenarnya apa yang terjadi pada Jiyeon?” hati-hati Suzy mengajukan pertanyaannya, “Mengapa dia terlihat sangat ketakutan?”

Seorang wanita dengan rambutnya yang tersanggul menyisakan helaian rambut di sekitar kuping telinganya itu menghembuskan nafas. Wanita berjas putih itu merupakan penjaga uks sekolah.

“Apa sesuatu buruk terjadi pada Jiyeon?” perawat bernama Lee Yubi memandangi wajah tirus Jiyeon, “Dia mengalami trauma—“

Trauma? Lantas bayangan wajah sesosok pria melintasi benakku.

“— Trauma wajar saja terjadi jika mengalami kejadian buruk.”

Suzy yang juga menyaksikan sendiri bagaiman keadaan tadi, menunduk sembari meremas ujung-ujung rok-nya.

Gwenchana, Sooji-ya. Jiyeon dikenal sebagai gadis yang tangguh. Traumanya pasti akan menghilang dengan cepat,” ucap Lee Yubi tersenyum lembut sambil mengelus puncak kepala Suzy.

Perawat yang masih muda itu lantas keluar dari ruang uks ini dengan beberapa dokumen dalam pelukannya. Menyisakan diriku, Suzy, dan Jiyeon yang terbaring di atas kasur.

Dalam satu hentakan kasar aku menghambur ke luar ruangan. Tanpa mempedulikan panggilan dari mulut Suzy, aku menghentakan kaki. Lalu berhenti tepat di depan sebuah pintu dengan papan bertuliskan angka 1-5 yang digantungkan di atas pintu ruangan itu.

Indera penglihatanku menyusuri setiap sudut dalam ruangan itu. Siswa yang pintar bersikap egois tidak mempedulikan kondisi di sekitarnya, mereka terlalu fokus pada apa yang sedang mereka kerjakan. Siswa nakal bermain bola di bagian belakang kelas. Siswa perempuan menggosip hal yang belum tentu benar. Sisanya tertidur dalam telungkupan tangan mereka.

Sepasang mataku tajam menusuk salah satu siswa yang tengah tertidur. Aku menghampiri bangkunya yang terletak di dekat jendela paling belakang. Kutarik kerah kemejanya membuatnya tersentak kaget. Dengan amarah aku membanting tubuhnya ke arah deretan loker.

YA!” bentaknya tidak terima mungkin atas perlakuan semena-mena dariku.

Kesabaranku sudah terbakar habis melihat wajahnya. Kepalan tanganku meninju pipinya yang masih memperlihatkan luka lebam. Membuat keseimbangan tubuhnya sedikit terganggu.

“Myungsoo! Kau ini kenapa?!” bentak Hyorin.

Sayangnya leraian dari sekitarku sudah terabaikan. Emosiku sudah mencapai puncaknya. Trauma? Jiyeon mengalami trauma? Dan yang menjadi tanggung jawabnya kini berada di hadapanku. Meminta penjelasan dengan kedua alisnya yang terangkat.

 

BUGH!

 

Tinjuan yang kedua menghasilkan cairan merah segar di sudut bibirnya. Coba lihat, pria ini bahkan tidak bisa membalas pukulanku. Padahal kobaran api di dalam manik mataku terkesan memberikannya tantangan.

“Brengsek!” umpatku kembali melayangkan pukulan.

Tidak terima dengan tinjuanku kali ini, pria itu membalasnya. Kepalan tangannya mengenai pipiku. Membuat rahangku sedikit retak. Lantas aku mencengkram kerah kemejanya lagi. Membuat jarak wajah antara diriku dengannya terpaut beberapa centi.

YA! Geumanhae!” teriak seorang gadis melepaskan cengkramanku. Gadis itu berada di tengah-tengah kami. Wajahnya tampak memerah muak dengan tontonan perkelahian di pagi hari.

“Ada apa denganmu sih?!” aku tau itu ditujukan padaku. Tetapi ekor mataku masih mengarah pada pria yang tertutupi oleh tubuh kurus gadis ini, “Ya, Kim Myungsoo! Apa kau tidak lihat Jungkook masih terluka? Lagipula menghukum sesuatu dengan kekerasan bukanlah dirimu.”

Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Krystal membuat bahuku melemah. Sedikit melenyapkan emosi. Kepalan tangan eratku sudah tidak bergetar lagi. Dalam satu kali gerakan, aku membalikan tubuh. Meninggalkan ruangan yang merupakan kelasku selama satu tahun.

***

Sudah kesekian kalinya ponsel di dalam kantongan bergetar. Layar ponsel itu menampilkan nama yang sama tiap kali ada panggilan masuk. Kesal aku menonaktifkan ponselku. Karena aku sudah tau wanita itu menghubungiku untuk menjemputku sekolah.

Aku menyeka darah berwarna merah menggunakan punggung tanganku. Sesekali aku mendesis, akibat luka dari tinjuan Jungkook.

Sesosok gadis yang mengenakan seragam sama denganku berdiri di halte bus. Kedua tangannya menyedekap di depan dada. Sepasang matanya menatap datar. Wajahku sumringah mendapatinya.

“Jiyeon-a, gwenchana?” tanyaku begitu sudah berada di dekatnya.

Ia memalingkan wajahnya padaku sambil kembali menatap jalanan di depannya, “Um.”

Melalui lirikan mata, aku mengamati wajah tirusnya. Bola mata berwarna abu-abu, hidung bangir, dilengkapi bibir tipis berwarna merah muda. Aku menelan ludah susah payah.

Ya, Myungsoo,” katanya tanpa menolehkan kepalanya.

“Mm?”

“Kau habis bertengkar?”

Aku mengaangkat alisku meski aku mengerti dia tidak akan memperhatikanku.

“Aku benar. Kau dan Jungkook habis bertengkar.”

“Bagaimana bisa kau tau?” tanyaku tanpa dosa.

“Krystal menceritakannya padaku.”

Sedikit aku memiringkan kepala seolah sedang memikirkan sesuatu.

Wae? Apa kau bertengkar karena aku?” kali ini Jiyeon bertanya sembari melihatku dengan tatapan khas-nya.

“Kim Myungsoo, aku benar-benar tidak menyukainya. Kau bukanlah tipe orang yang menggunakan kekerasan dan menghajar temanmu sendiri. Dan alasannya adalah aku?”

Mataku sampai tidak berkedip disetiap kalimat yang diucapkan oleh gadis di hadapanku.

“Jangan libatkan aku di dalam pertengkaran kalian. Untuk saat ini aku hanya ingin hidup tenang.”

Tepat ketika ia mengakhiri kalimatnya, bus berwarna hijau muda berhenti. Pintu kendaraan besar itu membuka otomatis. Setiap murid yang sudah menunggu sedari tadi, melenggang masuk sembari menempelkan dompetnya ke suatu papan sentuh. Termasuk Jiyeon.

Seperti ada sebuah tarikan, aku menahan siku lengannya. Tubuh gadis itu sedikit melonjak saat ia masih berada di tangga masuk bus. Bola matanya membulat meminta penjelasan.

“Apa kau baru saja mencemarahiku?!” gertakku, “Kau benar! Aku berkengkar karena dirimu! Karena dirimu aku menjadi terluka!”

Jiyeon menghembuskan nafasnya kasar sembari menepis genggamanku dan berkata, “Siapa suruh kau melakukannya.”

Setelah itu, gadis itu melangkah masuk ke dalam bus. Ia memilih tempat duduk paling belakang. Pandanganku nanar tidak percaya atas apa yang baru saja masuk dalam telingaku. Segera aku menyusulnya. Menyentuhkan dompet berwarna abu-abu ke papan seraya memilih duduk di sebelahnya.

Ya, apa yang kau lakukan?” tanyanya.

“Apa yang kulakukan? Tentu saja pulang,” acuhku.

Gadis itu tampak menahan kebiasaannya untuk memukulku sebagai pelampiasan kekesalannya. Ia hanya mendengus pelan sambil melemparkan pandangan ke luar jendela.

“Jiyeon-a.”

Mwo?”

“Jika kau benar-benar tersakiti kau tidak boleh menahan perasaanmu,” aku mengatakannya dengan tulus.

“Tentu saja. Aku akan menangis jika aku benar-benar tersakiti.”

Nada bicaranya yang terkesan judes itu malah membuatku gemas. Aku mencubit pipi kemerahannya. Terasa halus ketika jemariku menyentuhnya. Aku suka.

***

Kamar seluas lima kali lima meter ini berisikan satu tempat tidur, televisi lengkap dengan play station, meja belajar dengan komputernya, dan satu lemari baju yang memenuhi salah satu sisi tembok berlapiskan keramik berwarna gelap.

Aku menghempaskan tubuh ke kasur yang bersampulkan selimut tebal berwarna biru laut. Ponsel yang berada dalam genggamanku menyala. Jemariku menekan beberapa kata. Hendak mengirim suatu teks pesan kepada gadis bernama Jiyeon.

Sekelebat rupa gadis itu menyesaki pikiranku. Membuat diriku seolah berjalan di atas awan. Lebay mungkin, tetapi beginikah yang dirasakan ketika kita mulai menyukai seseorang?

Layaknya pasien rumah sakit jiwa, aku menyengir memamerkan sederetan gigi rapiku pada benda-benda antik yang menghiasi kamarku.

 

PRANG!

 

Suara pecahan suatu benda menghenyakan diriku. Menggagalkan niatku untuk mengirimkan pesan. Reflek membuatku beranjak dari kasur seraya membuka pintu kamar. Kedua tanganku menyandar pada pembatas balkon. Balkon yang mengarah langsung ke ruang tamu, balkon yang sengaja di buat di dalam rumah dan mengelilingi ruang tengah yang begitu lebar.

“Tidak seharusnya pernikahan ini terjadi!” jerit seorang wanita -wanita yang sempat mengantarku sekolah-.

“Pelankan suaramu!” balas seorang pria yang lebih tua darinya.

Wae? Kau takut Myungsoo akan mendengarnya?”

 

PRANG!

 

Suara kedua. Pria yang memakai jas kantoran itu melempar vas bunga seharga barang branded. Kini vas itu sia-sia pecah. Kepinganya berserakan di dekat wanita bernama Miseon.

Genggaman eratku pada pembatas balkon terlepas. Aku segera mengambil tindakan. Melangkah cepat menuruni anak tangga. Namun gerakan kakiku terhenti. Karena sesosok gadis tengah berdiri terpaku di tangga.

“Apa yang kuberikan padamu dan Sohyun masih kurang?!” gertak pria itu, “Mobil, rumah, perhiasan, dan bahkan aku memasukan putrimu ke sekolah yang terbaik di Seoul. Apa itu belum cukup?!”

Dari posisi gadis itu mungkin semuanya dapat dilihat dengan jelas.

“Putrimu?” ulang Miseon, “Benar, kau tidak pernah menganggap Sohyun sebagai anakmu—“

Gadis yang kini berada di hadapanku mengepalkan tangannya erat.

“—bagimu Kim Myungsoo adalah satu-satunya anakmu.”

 

PLAK!

 

Tepatnya kapan, tamparan milik pria bernama Deokhyun sudah mendarat pada wajah wanita itu. Membuatnya menyentuh pipi dengan mata berkaca-kaca.

Miseon seakan tidak percaya pada apa yang baru saja dilakukan oleh suami sah-ya sambil berkata, “Kim Deokhyun, aku rasa aku salah tentangmu.”

Penantian sepanjang hidup. Penantian sebuah jawaban. Semuanya terbalas ketika wanita itu melantunkan kalimatnya. Membuat gadis yang masih muda di hadapanku membalikan badan. Dengan gemetaran ia menaiki tangga. Kepalanya terangkat saat mendapati diriku.

Bola mata bulatnya berair. Hidungnya memerah. Bibirnya bergetar. Gadis itu melirikku seraya menyenggol kasar bahuku dan kembali meneruskan langkahnya untuk meniti tiap anak tangga.

“Kim Sohyun!” panggilku saat kami sudah berada di atas, lantai yang sengaja dibuat khusus untuk kamarku dan kamarnya.

Langkahnya terhenti sehingga membuatku berhadapan dengan punggungnya yang tertutupi oleh rambut lurusnya.

“Kim Sohyun,” ulangku.

Terpaksa ia membalikan tubuh, membiarkan diriku melihat keadaannya yang kacau.

Mwo? Apa kau ingin memberitau padaku bahwa kau sedang senang sekarang?” todongnya, “Semua berjalan sesuai keinginanmu. Ayah kandungmu dan ibu kandungku akan segera berakhir.”

“Bagaimana bisa aku senang melihat ayah kandungku menyiksa seorang wanita dan putrinya,” jawabku dengan lidah yang terasa ngilu.

Perlahan aku mendekati gadis yang jauh lebih muda dariku. Menghapus air matanya yang terasa hangat sembari melirihkan kata, “Mianhae.”

“Itu membuatku terlihat lebih jahat,” ujarnya. “Sekarang kau pasti merasa kasihan padaku. Karena aku masih mengingatnya dengan jelas, ketika pertama kali kita bertemu. Kau memalingkan wajahmu dan mengatakan dengan keras bahwa kau tidak mau menjadi oppa-ku. Kau bahkan tanpa takut di depan ayahmu menentang pernikahan ini—“

Rangkaian kata-katanya mengembalikanku pada kejadian itu.

“—ada di mana Kim Myungsoo yang seperti itu sekarang?”

Egoisme hanya membuatnya tertekan. Ambisi hanya membuatnya tersiksa. Siapa sebenarnya peran antagonis di sini, kami tidak tau pasti.

“Sohyun-a, kau mau ikut bersamaku?”

“Huh?”

“Latihan basket.”

Mwo?!”

Ya~” gemasku mencairkan kebekuan yang menyelimuti, “Suasana hatimu membaik setelah melihatku bermain basket, keutchi?”

Aniy,” sanggahnya cepat.

Aku berusaha memasang wajah cekikikan begitu melihatnya mengerucutkan bibirnya manis.

Aigoo,” aku mengacak-acak rambutnya seraya mengalungkan tanganku ke bahunya, “Kajja!”

.

.

Gedung yang lumayan luas beralaskan lantai khusus olahraga itu tampak ramai meski sudah larut malam. Dua ring menjulang tinggi di sudut kanan dan kiri. Kursi penonton yang melingkar ke atas tampak tidak berpenghuni.

“Myungsoo-ya!” sapa Kai begitu melihatku memasuki lapangan in door.

“Hey,” sahutku membalas high five darinya.

“Eoh, adik tiri Myungsoo!” serunya menyadari seorang gadis yang berada di sebelahku, “Kau semakin cantik.”

Sohyun hanya mengangkat bahu. Mungkin ia sudah terbiasa dengan sikap Kai yang seperti itu. Lantas gadis itu berjalan menuju sisi lapangan. Ia duduk bersila di lantai lapangan. Menonton setiap gerak gerik sekumpulan namja yang rata-rata memiliki postur tubuh tinggi.

Sementara aku yang sudah berbalut kaos bernomorkan dua segera berbaur bersama sohibku. Mencoba merebut bola berwarna oranye.

“Apa sesuatu terjadi?” tanya Minho tanpa mengalihkan kefokusannya pada bola besar yang kini dikuasai oleh Kai.

Mwoga?”

Minho mengarahkan dagunya pada Sohyun yang masih mengamati kegiatan latihan kami, “Biasanya kau mengajaknya ke mari jika terjadi sesuatu buruk di rumah.”

“Mungkin.”

Saat aku memberikan jawaban singkat itu, Kai mengoperkan bolanya. Bola itu melambung ke arahku dan juga Minho. Dengan tangkas aku menerima bola itu lebih dulu daripada Minho seraya melangkah cepat. Melompat dua kali sebelum akhirnya men-shooting bola ke dalam ring.

.

.

Sekitar satu jam berlalu, aku dan team mengakhiri latihan rutin ini. Kaos olahraga yang kukenakan sudah dibanjiri keringat. Rambut hitamku sedikit kusut. Wajahku mulai berminyak. Lantas aku berlari-lari kecil mendekati Sohyun.

“Sudah selesai?” tanyanya sambil menyerahkan handuk berwarna kuning.

“Um,” aku menerima handuk itu dan kugunakan untuk menyeka wajahku, “Bagaimana style-ku tadi?”

“Tidak ada yang berbeda.”

Ya!”

Sohyun tertawa kecil, “Baiklah baiklah~ Oppa yang paling keren.”

Ia mengacungkan kedua jempolnya. Syukurlah jika senyumannya sudah kembali. Lagi, aku mengacak-acak poninya.

Sebotol air mineral ludes aku teguk. Dengan asal aku membuang botolnya seraya mencangklongkan tas olahragaku ke pundak.

Kajja!” ajakku dituruti oleh Sohyun.

Bunyi dentingan kecil terdengar ketika aku mengunci pintu lapangan. Memastikan sudah tertutup rapat dan dalam keadaan aman, aku meninggalkan tempat yang merupakan basecamp tim basket sekolah.

Sohyun menyamai langkah kakiku dengan tungkai kakinya yang panjang di umur semuda dirinya. Gadis itu selalu manis dengan berbagai dress yang menjadi ciri khasnya. Semilir angin menyapa wajah ketika tiba di lapangan yang mengarah pada gerbang sekolah.

Langit kelam mulai menutupi awan kelabu. Sekelompok rasi bintang indah terlukis di sana. Secara tidak sengaja pandanganku menangkap sesosok gadis tengah berdiri di atap sekolah.

“Sohyun-a,” ujarku menghentikan langkahnya.

Wae?”

“Kau lebih dulu ke mobil. Aku akan menyusulmu.”

Untuk beberapa detik Sohyun menelengkan kepalanya sebelum akhirnya ia mengangguk menuruti ucapanku.

Sedangkan kedua mataku masih memperhatikan gadis itu. Kepalaku diharuskan mendongak untuk mengamatinya yang berdiri di lantai lima. Ia tidak bergerak seolah merasakan hembusan angin yang menerpa tubuhnya.

Tanpa mengalihkan perhatian, aku meraih ponsel dalam saku celana. Menekan beberapa angka seraya menempelkan benda mungil itu ke dekat telinga.

“Lagi ngapain?”

“Myungsoo?”

Seiring lawan bicara dalam teleponku terdengar, gadis itu juga tengah mengangkat teleponnya.

“Kau sedang apa malam-malam di atap sekolah?”

Begitu pertanyaanku terlontar, terlihat kepala gadis itu celingak celinguk.

“Ya, Myungsoo—“

“Bae Suzy,” selaku, “Kau tidak berniat untuk melompat dari lantai lima, bukan?”

Tidak ada jawaban yang terdengar. Hanya suara jangkrik yang memecah kesunyian. Angin kembali berhembus lebih kencang. Menerbangkan helaian rambutnya. Membawa pergi air matanya. Membuat dirinya turun dari pembatas besi.

 

“Babo-ya, aku tidak akan melakukannya. Aku—“

 

Lihatlah. Dulu ia menampakkan mahkota kembangnya. Kini, ia hanya sebuah pupus.

 

“—tidak ingin mati. Yang kuinginkan hanyalah—“

 

Dulu ia akan menuliskan sebuah cerita yang akan ia bacakan di hadapan alam. Kini, ia tak mampu memandang jagat.

 

“—menghilang untuk beberapa saat.”

 

Kini dirinya bagaikan bunga-bunga yang tak kunjung mekar disaat kemarau panjang. Mata air seolah tak pernah habis untuknya. Kegagalan dalam hidupnya membuat harapan semakin tenggelam dan—terbenam.

Seperti itulah gambaran untuk seseorang yang selalu berada di peringkat atas.

“Bae Suzy, ini sudah larut malam. Pulanglah ke rumah.”

“Rumah? Aku bahkan tidak tau di mana rumahku yang sebenarnya.”

Aku benci hal ini. Prestasi bagus selalu membuat beban dalam hidup seseorang –stress.

“Kau mau kuantar pulang?”

“Kim Myungsoo, kau pasti disenangi banyak orang.”

Mwo?”

“Kehangatanmu. Kau selalu memberikannya kepada setiap orang.”

“Suzy—“

“Gwenchana, Myungsoo,” ucapnya memotong kalimatku, “Aku tidak akan melakukan hal gila seperti itu. Mungkin beberapa hari aku hanya ingin mati. Tetapi masih banyak hal yang belum sempat kucapai.”

“Baiklah. Jika kau melakukannya—“

Aku menarik nafas untuk beberapa saat.

“—aku tidak akan memaafkanmu.”

Dan juga— aku tidak bisa membiarkan dirimu mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri.

***

Tahun Ajaran Baru,

Kelas 2-4, Ganghwa High School.

 

Tidak terhitung berapa kali aku menguap lebar. Kedua tanganku bersedekap di depan dada. Sesekali aku mengayunkan bangku yang kududuki dengan mendorongnya menggunakan tulang belakangku. Kai yang berada di sebelahku tampak berbinar-binar.

“Myungsoo-ya! Kita berada di kelas yang sama lagi!” serunya seperti mendapat doorprize baru.

Sementara aku mendengus sembari menolak rangkulannya yang jujur saja membuatku sedikit risih.

“Minho! Kau di kelas ini juga?!” kini yang menjadi sasaran Kai adalah Choi Minho yang memilih tempat duduk di dekat pintu kelas, “Senangnya~”

Kepalaku hanya menggeleng-geleng melihat tingkah pria berkulit kecokelatan itu. Lantas keseruan para gadis yang berada di bagian depan kelas menyita perhatianku. Gadis dengan rambut ikalnya menjerit senang sembari memeluk temannya itu.

“Sooji-ya, Kita satu kelas!” ujar Krystal melepaskan pelukannya.

“Aku kan sudah bilang. Kelas 2 memang diacak sesuai lintas minat dan urutan mengacaknya pasti tidak jauh beda dengan kelas 1.”

Omo~ Bae Suzy tidak hanya pintar di akademis,” gumam Krystal mencubit pipi tembam Suzy, “Uri Suzy pintar memprediksi pula,” tambahnya.

Satu pertanyaan yang timbul dalam benakku melihat guyonan di antara kedua gadis itu—dimana Park Jiyeon?

Justru sesosok pria yang mewakili pertanyaan itu. Jeon Jungkook, pria itu melangkah ringan. Menghampiri tempat duduk yang menjadi favoritnya (dekat jendela paling belakang). Mengaitkan tas nya di sisi meja. Lirikan pedasnya sempat ia lempar kepadaku sebelum dirinya membenamkan kepala dalam dekapan tangannya di atas meja.

Bibirku mendengus dengan kedua tanganku yang terlihat hendak memukulnya.

Kemudian sosok yang ku nantikan kini memunculkan batang hidungnya. Rambutnya yang bergelombang tergerai indah. Sepasang mata yang tajam dipoles eyeliner. Aksesoris yang selalu mempercantik tubuhnya. Tas berwarna ungu dengan merk jansport. Sepatu wedges bertali berwarna putih menambah tinggi tumbuhnya. Gadis itu berdiri di ambang pintu dengan papan 2-4 yang digantung di atasnya.

Ia mengangkat senyuman tipisnya seraya menghamburkan diri ke dalam pelukan kedua sahabatnya, Krystal dan Suzy.

 

/

.

Tahun Ajaran Baru. Kelas 2-4. Musim gugur telah berakhir. Cerita tentang kami masih akan berlanjut dengan tema musim dingin yang akan menyelimuti kisah ini.

.

/

to be continued–

Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakan ^^ Mohon maaf lahir dan batin, semuanya. Ujian kenaikan kelas udah dilalui tuh, pindah ke tingkat di atasnya, tahun kedua di SMA *yeay!*. Kira kira bakalan gimana ya~~? *sok sok an bikin kepo (plak)*. Kopelnya juga Hara masih bingung T_T. Huhuhu, semakin ke sini makin banyak cast-nya aja. Ada Kim Sohyun juga T_T.  Dibaca juga ya ada tambahan ‘Family cast‘ loo. Kalo pada mau tau wajah wajah ortu bisa search di google ne😉 *wink*. Okeey, bay bay~~ Hara mau lanjut next chapter dulu *peluk hangat dari jauh*.

41 responses to “High School (Chapter 9)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s