High School (Chapter 8)

FF High School

This story belongs to brownpills.

Romance, Schoollife, Friendship I Chaptered I PG-14

Cast by Kim Myungsoo, Park Jiyeon, Jeon Jungkook, Bae Suzy, Jung Krystal

Pure of mymind. Inspired of some problems.

Let me see~

.

 

Itu terus datang berentetan, kenapa aku tetap kembali?

Aku terus sakit dan sakit, pada titik ini, aku hanya orang bodoh.

Apapun yang ku lakukan, itu tidak bisa menghentikannya.

Itu pasti hatiku, perasaanku tapi kenapa mereka tidak ingin mendengarku?

High School

 

Suzy’s PoV

 

SRET~

 

Pintu dengan papan yang menuliskan nama Jeon Jungkook menimbulkan suara bergeser ketika tanganku menyentuh ganggangnya. Penghangat ruangan menyapa wajahku saat diriku sudah berada di dalamnya. Denting jarum jam mengisi kekosongan.

Aku mengerutkan dahi mendapati tempat tidur yang kosong, menyisakan diriku seorang. Ragu-ragu kedua kakiku mendekati ranjang itu. Cairan infuse yang digantungkan pada tiang di sisi ranjang jarumnya terlihat lepas bergelantungan. Indera penglihatanku mulai menyusuri kamar inap itu. Dan berhenti tepat pada ponsel yang tergeletak di atas ranjang.

Dengan enggan aku meraih benda mungil yang ternyata sedari tadi menyala. Sepertinya Jungkook sengaja tidak mengaktifkan kunci layar. Kedua mataku mulai mengamati monitor, lebih tepatnya membaca pesan singkat yang tertera di layarnya.

 

                    Lee Hongbin

                     Pacarmu tidak akan selamat hari ini di Cheongsando.

 

Mataku terbelalak dengan satu tarikan nafas terhenyak. Irama jantungku berdetak kencang. Kemungkinan-kemungkinan buruk menggelayuti pikiranku.

Sambil berusaha mengatur nafas, aku merogoh isi tas kecilku, mencari ponsel berwarna tosca milikku. Begitu menemukannya jemariku segera menekan beberapa digit angka. Nada sambung terdengar saat ponsel itu sudah menempel di dekat telinga.

Yoboseyo.”

Aku menarik nafas panjang dan akhirnya menjawab, “Myungsoo-ya…”

***

Kira-kira setengah jam berlalu –tepatnya- selesai menerima telepon dariku, Myungsoo segera menuju ke rumah sakit dengan mobil pribadinya. Guratan cemas terlihat pada wajah pria itu. Mulutnya terkatup rapat. Rahang kokohnya gemeretak. Sementara pandangannya lurus mencoba konsentrasi di balik kemudinya.

Sedari tadi aku yang duduk di sampingnya tidak berani membuka suara. Terlalu sibuk dengan pikiran yang melayang entah kemana. Jeon Jungkook, kau ada di mana?

Ponsel dengan karet hijau muda yang menutupi simbol apple bergetar dalam genggamanku. Buru-buru aku menekan sandi untuk membuka kunci layar.

 

                         Krystal Jung

                        Ini sulit dipercaya. Cheongsando, tempat kelahiran Jungkook. Lihat berita yang kukirim!

 

Memang aku sempat menghubungi Krystal, meminta bantuan padanya di mana lokasi Cheongsando –tempat yang disebutkan oleh Lee Hongbin-. Ibu jariku men-scrolldown pesan Line dari Krystal. Ketika menemukan lampiran berita, jariku menekannya.

 

Siswi SMP di Cheongsando Bunuh Diri Akibat Dari Pembullyan dan Diputuskan Oleh Kekasihnya.

 

Judul tulisan itu tertera besar dan lebar di kepala halaman artikel. Keterangan waktunya menunjukan diunggah satu tahun yang lalu. Bahuku merosot selesai membaca isi berita yang lumayan panjang itu. Dan sebuah jawaban sudah mewakili segala perasaan heranku.

Wae?” tanya Myungsoo membuat kepalaku menoleh. Pria itu masih fokus ke jalan di depannya.

“Cheongsando.”

Jawaban singkatku cukup membuat Myungsoo mengerti. Tangan kanannya ia gunakan untuk menyentuh ponsel yang sudah diletakkan di tempat khusus di samping stir mobil. Pria itu membuka aplikasi maps dan mengaktifkan GPS. Ketikan Cheongsando tertera di ponselnya. Kemudian ia kembali menaikan kecepatan mobil karena tadi ia sempat memperlambatnya.

Jemariku saling bertautan, meremas celana jeans yang kukenakan. Hingga dering ponsel mengacaukan pikiranku seraya dengan sedikit tergagap aku menjawab panggilan itu.

Yoboseyo,” ujarku memberi salam pada lawan bicaraku.

Sooji-ya—“ suara Ibu Jiyeon terdengar di ujung sambungan telepon, “—apa kau sedang bersama Jiyeon?”

Aniyeyo.”

Ini aneh,” gumamnya, “Sudah dari jam 11 pagi ia belum kembali.

Ekor mataku melirik jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tanganku. Jarum pendek menunjukan angka dua. Tunggu dulu! Jam 11? Itu adalah waktu pulang sekolah selama ujian kenaikan kelas.

“Kemana gadis itu? Sebentar lagi ia harus mengikuti kursus,” nada bicara wanita yang sebaya dengan ibuku itu terlihat cemas.

Seperti berhasil memecahkan teka-teki aku teringat akan suatu hal. Tanganku bergerak cepat mencari ponsel milik Jungkook yang sengaja kubawa. Setelah mendapatkannya aku kembali membaca pesan yang dikirim oleh Lee Hongbin. Keterangan waktu yang tertera di sudut pesan menunjukan pukul 11.35 AM, hal ini semakin membuat segalanya lebih jelas.

Ahjumma tidak perlu khawatir. Sehabis ini aku akan menemui Jiyeon,” simpulku.

Keure—,” beliau menghembuskan nafas lega, “Jika ia bersamamu aku tidak akan khawatir. Gomawo, Sooji-ya.”

Nde.”

Sambungan telepon terputus. Seiring denyut nadiku yang meningkat. Detak jantungku di atas ambang normal. Nafasku sedikit memburu.

Nugu?” tanya Myungsoo sambil sesekali menolehkan kepalanya padaku.

“Jiyeon eomma.”

Mendengarnya membuat Myungsoo melambatkan laju kendaraan.

“Apa yang terjadi?” herannya.

Pandangan lurusku berubah ke arah Myungsoo hingga pria itu menyadari akan air mukaku. Ia hanya menaikan kedua alisnya.

Lirih aku berkata, “Aku rasa Jungkook bersama Jiyeon.”

Tepat disaat aku mengatakannya, Myungsoo membawa mobil ini melaju di atas kecepatan normal. Kakinya tampak menginjak pedal gas kencang. Wajahnya mengeras dengan kedua tangannya yang meremat stir mobil. Kini ia tidak peduli sudah berapa banyak klakson mobil lain yang terdengar.

.

.

Matahari mulai menyingsing di ufuk barat. Sekumpulan burung berwarna hitam berterbangan di angkasa. Langit yang terhampar luas berwarna jingga.

Setelah melewati beberapa kendala lalu lintas, dari mobil kami yang ditilang polisi, kehabisan bahan bakar, hingga jalanan terjal yang sempat kami lewati, kini kami sudah berada di wilayah Cheongsando. Sekitar lima jam dari Seoul.

Pemandangan hijau terbentang di kedua sisi jalan menyambut kedatangan kami. Sekumpulan bunga rapeseed berada di antara hijaunya alam, seperti lautan bunga berwarna kuning yang segar di mata. Jalanan berlapiskan tanah kecokelatan ini menanjak sekaligus tidak berliku. Sedikit sempit membuat Myungsoo melambatkan mobilnya.

Tidak ada obrolan selama perjalanan. Kami terbungkam masing-masing. Sibuk bergelut dengan pikiran sendiri.

Aku melempar pandangan ke luar jendela. Sedikit mencari celah untuk bernafas. Tepat disaat itu kedua mataku menangkap sesosok yang familiar dengan membopong gadis di punggungnya.

“Jungkook,” mungkin yang ini tidak terdengar oleh Myungsoo, “Jiyeon-a…

Lirihan menyebut nama gadis itu baru dapat menghentikan mobil yang kami tumpangi. Badanku sedikit ke depan karena rem mendadak dari Myungsoo. Pria itu membenarkan posisi tubuhnya sembari mengikuti arah pandanganku.

Setelah beberapa detik, waktu untuk memastikan apa yang ia lihat, Myungsoo melepas sabuk pengaman dan menarik hand rem mobil seraya keluar dari mobil berwarna putih tulang ini.

Dari dalam mobil, pria itu terlihat memunggungiku. Ia berhadapan dengan Jungkook. Akupun segera melepas sabuk pengaman sambil membuka pintu mobil.

Ketika sepatu heels yang kukenakan sudah menapaki tanah, Myungsoo tampak mengambil alih tubuh Jiyeon. Pria itu membopongnya seraya membawanya berjalan ke dalam mobil. Saat itulah aku merasakan segalanya terhenti. Pandanganku dibutakan. Pendengaranku ditulikan. Haruskah aku merasakan kemarahan disaat seperti ini?

Tidak berbeda denganku, Jungkook masih diam di sana. Tubuhnya hendak terjatuh sebelum aku berlari untuk menahan bahunya.

Dari dekat barulah terlihat luka memar di wajah Jungkook. Sebercak darah menodai pakaian rumah sakitnya. Bibirnya berwarna biru. Wajahnya pucat pasi. Aku bahkan tidak mengedipkan mata untuk beberapa saat.

“Kau mau kita ditinggal Myungsoo?” hingga ucapannya menyadarkanku.

Membuatku berdehem sejenak sambil mengalungkan tangan di bahunya. Menuntunnya menuju mobil dan menyanggah kedua kakinya yang terasa lemah.

.

.

Bulan sabit berada di atas kepala saat kami tiba di Seoul. Meskipun hampir tengah malam, kota metropolitan ini seolah tidak pernah tidur. Myungsoo mengabaikan kehadiranku saat Jiyeon sudah berada di dalam mobil ini dalam kondisi tidak sadarkan diri. Ia bahkan tidak menolehkan kepala dari jalan di depannya.

Ia menghentikan mobil begitu sampai di lobby rumah sakit. Secepat mungkin ia keluar dari mobil seraya membuka pintu mobil belakang untuk membawa tubuh Jiyeon di punggungnya. Ia tidak melirik pada Jungkook yang juga tergeletak lemah di belakang, mengharuskanku kembali menuntun pria itu.

Sedikit berat memang, bahkan jalanku sangat lambat karena aku berusaha menahan berat tubuhnya yang lebih besar dariku. Sesekali Jungkook meringis tanpa suara. Mungkin ia menahan rasa nyeri. Langkahku berusaha menyamai langkah lebar Myungsoo.

Sayangnya pria itu terlalu cepat dalam pandanganku. Dengan membopong tubuh gadis itu, ia berteriak memanggil perawat ataupun dokter. Semakin lama semakin menjauh lalu lenyap ditelan belokan dalam koridor lobby.

.

.

Aku menggeser pintu kamar lebar yang memiliki satu jendela kaca itu. Sedikit mengejutkan seseorang di dalamnya. Sambil menundukan kepala aku menghampirinya yang tengah duduk di ranjangnya.

“Mengapa kau di sini?” itulah sapaannya, “Seharusnya kau berada di kamar temanmu.”

Dengusan pelan dari mulutku ke luar. Kini Jungkook terlihat lebih rapi dengan baju berwarna biru kotak-kotak yang baru, selang infuse yang sudah terhubung, dan perban yang membalut luka lebamnya.

“Aku baru saja dari kamar Jiyeon,” jelasku memang benar, “Di sana sudah ada ibunya, Krystal, dan Myungsoo.”

Pria itu hanya mengangkat bahu. Aku mulai mendudukan diri di tepi ranjangnya. Membuat jarak kami lebih dekat. Sedikit ragu aku menyerahkan ponsel milik Jungkook yang sedari tadi kugenggam. Meski ada tanda tanya di wajahnya, ia hanya menerima ponsel itu seraya meletakkannya di meja.

“Apa—“ tanyaku hati-hati, “—Hongbin benar-benar tidak akan muncul lagi?”

Lee Hongbin. Satu nama yang tidak kukenal telah membuat kekacauan. Kurasa dia perlu mendapatkan hukuman.

“Aku rasa begitu.”

“Siapa sebenarnya dia?” beginilah diriku, tidak mampu membiarkan rasa penasaran menggerogoti otakku.

Jungkook tidak langsung menjawab. Namun aku tetap diam hingga dia membuka suara, “Kakak dari mantan yeojachingu-ku.”

“Lee Jieun?”

“Dari mana kau tau?”

“Aku sudah membaca artikel beritanya.”

Ia membisu mendengar ungkapanku. Bahkan ia terlihat membuang muka.

“Kita semua pernah membuat kesalahan, memiliki perjuangan dan penyesalan di masa lalu—“ ujarku sedikit menarik perhatiannya.

“—Tetapi kau bukan kesalahannya, kau bukan perjuangan atau penyesalannya. Kau di sini sekarang dengan kekuatan untuk membentuk hari baru dan masa depan—“

Tidak seperti biasanya, Jungkook tidak menyela ucapanku.

“—Memaafkan diri sendiri, tumbuh dari itu, dan kemudian membiarkannya pergi.”

Aku dan Jungkook memang tidak dekat. Tetapi seiring berjalannya waktu, entah sejak kapan jarak itu semakin sempit. Sebuah simpati muncul sebagai seorang teman. Aku bukan tipe orang yang membiarkan temanku akan hancur karena masa lalu. Selain itu—

Gomawo, Bae Suzy.”

—aku belajar banyak dari Jungkook. Bahwa membuat kesalahan lebih baik daripada berpura-pura hidup pintar dan sempurna.

*

Hari yang melelahkan. Setibanya di hadapan rumah yang lumayan besar, aku menghela nafas panjang. Jemariku menekan empat angka pada papan kecil di sebelah pintu lebar yang terbuat dari kayu jati itu. Nada singkat berbunyi selesai memasukan angka yang merupakan kode kunci rumah.

Pintu itu tertutup otomatis ketika aku sudah berada di dalamnya. Aku melepaskan heels seraya menggantikannya dengan sandal beludru yang nyaman pada telapak kakiku.

Lampu berbentuk daun yang berakar pada tengah ruangan dibiarkan tidak menyala. Membuat kegelapan menyelimuti. Baru setengah jalan, lampu yang kubicarakan itu menyilaukan pandanganku. Memberikan cahaya setelah seorang pria paruh baya menekan sakelar-nya.

Appa,” ujarku terbata-bata.

Aku sudah menyiapkan diri untuk semua kemungkinan buruk yang terjadi padaku. Pria dengan garis keriput di wajahnya itu mengerutkan alis. Bukan heran, tetapi emosi? Sambil berkacak pinggang ia duduk di sofa yang paling lebar.

“Apa kau seorang gadis?!”

Gertakannya melonjakan tubuhku. Membuatku segera menyusulnya, duduk di seberangnya sambil menundukan kepala.

“Kau tau sekarang jam berapa?!” lanjutnya sembari melirik jam dinding yang tertempel di dinding. Jarum jam itu menunjukan angka dua, itu artinya dua jam lebih dari tengah malam.

Mianhae, appa,” bahkan aku tidak bisa menatap mata ayahku sendiri, “Aku—tadi sedang membantu temanku, dia masuk rumah sakit.”

“Apakah teman menjadi prioritas selama kau ujian?!—“

Buku-buku jemariku saling meremas, semakin erat bertautan.

“—kau harus fokus pada belajarmu! Agar tidak ada nilai ujian kenaikan kelas yang berada di atasmu!”

Nde.”

Ayahku seorang yang terhormat. Ia adalah pendiri firma hukum ternama di Seoul. Begitulah hingga tidak ada yang berani mencicit di hadapannya, termasuk putri tunggalnya sendiri—Bae Suzy.

“Aaa keurigo—“ nada bicaranya lebih rendah, “—apa kau mengikuti osn?”

Masih tidak mampu untuk mengangkat kepalaku, aku menjawab pelan, sangat pelan, “Nde.”

“Undurkan dirimu!”

Sakit. Ya. Menderita sekali seperti kematian. Suram seperti neraka.

“—besok appa akan bicara dengan wali kelasmu.”

OSN Fisika adalah satu-satunya hal yang kulakukan tanpa perintah ayahku, “Appa—“

“Piagam osn fisika tidak ada gunanya untuk menjadi seorang jaksa!”

Bahkan ia tidak pernah memberikanku kesempatan untuk menanggapi ucapannya. Ia akan selalu menyela dengan bentakan keras yang meruntuhkan kedua kakiku. Mematahkan sayap lebarku. Jaksa—salah satu keinginan terbesar dari ayahku. Dan akulah yang harus mewujudkannya.

“Kembalilah ke kamarmu. Kali ini appa membiarkanmu yang pulang menjelang pagi hari.”

Dadaku sedikit demi sedikit terasa pedih, sedikit demi sedikit diriku menjadi bodoh, dapatkah kau mengerti?

Hatiku sedikit demi sedikit semakin membesar, sedikit demi sedikit air mata tumbuh, dapatkah kau mengerti?

Akankah kau mengerti hatiku, walaupun sedikit saja?

.

.

Terlahir sebagai seorang putri penguasa firma hukum bagaikan mayat yang tidak dapat mati.  Bagaikan mayat yang berjalan dalam kebimbangan dan di atas puing-puing kaca yang pecah. Menembus telapak kaki dan membuatnya berdarah. Tak sedikitpun yang menyeru serta mencela. Dan tak ada orang yang mau peduli.  Bahkan aku tidak menyadari sejak kapan aku menyandarkan diri lemas pada pintu kamarku. Kamar yang terlalu lebar hingga angin selalu berhembus dan membuat air mataku berair.

Aku menyeret kedua kakiku menuju meja belajar. Kuhempaskan tubuhku pada kursi seraya membuka lap top di atas meja. Jemariku mulai menari di atas keyboard. Seperti biasa, aku menjalankan rutinitasku. Belajar.

Tidak peduli kantung mata tebal yang terbentuk, aku tidak merasakan jika sering kali aku tidak terlelap dalam tidur atau memimpikan hal-hal indah seperti remaja lainnya.

Gerakanku terhenti ketika ada sebuah e-mail masuk. Aku menekan tombol enter untuk membuka surat elektronik itu.

 

To: My Love Daughter

From: Your Mother

 

Wajahku tertegun, bibirku bergetar, air mata tidak dapat menetes, mungkin sudah habis tiap kali aku membaca e-mail darinya.

 

Bagaimana kabarmu, sayang? Ini adalah adik-adikmu, lucu bukan? Eomma selalu menantikan ini. Berlibur bersama.Yihyun, Yihwa, eomma, Suzy, dan Minki. Telepon eomma jika kau menginginkannya.”

 

Surat itu dilengkapi foto dua orang balita yang tengah tersenyum lebar di pangkuan seorang wanita berbalut dress putih. Wajah kedua anak kecil itu tanpa dosa. Dan tidak ada perbedaan di antara keduanya. Dengan kata lain, mereka memiliki wajah yang sama.

Kupejamkan mata, mencari lagi sosokmu dalam kenangan. Kau terlalu indah, sampai membuatku sulit mendapat pengganti.

Tanpa topeng wajahku penuh dengan derita kehidupan anak remaja. Wajahku penuh dengan luka. Wajahku begitu buruk. Sampai-sampai tak ada orang yang mau menemaniku.

Tanganku kasar menutup lap top. Menghempaskan tubuh ke kasur empuk yang begitu besar untuk satu orang. Langit-langit kamar memenuhi pandanganku.

Eomma…”

Tepatnya kapan aku terakhir kali menyebut kata itu, aku sudah tidak ingat. Mungkin empat tahun yang lalu? Ketika ia menceraikan ayah demi seorang pria yang lebih muda darinya. Ia menjalankan hidup baru bersama pria bernama Minki itu dan melahirkan anak kembar bernama Yihyun dan Yihwa.

“Aku rasa kau hidup dengan baik eomma,” gumamku.

Aku bisa saja melarikan diri dari rumah besar yang seperti penjara bagiku. Lalu melangkah ke dalam pelukan ibuku. Tetapi—

—apakah aku sanggup melihat wajah lelaki yang sudah menghancurkan rumah tangga orang tuaku?

Aku tahu itu akan lebih menyakitkan. Dan meski aku tahu itu lebih menyakitkan aku selalu bertanya, ‘Akankah datang padaku seorang ibu yang tampak seperti kebohongan? Aku merindukanmu, eomma.”

Suara yang tak terdengar berputar di bibir. Hanya berputar lalu menghilang.

**

“Jiyi~~ aku senang kau selamat dari kecelakaan.”

Begitulah kalimat bahagia yang terucap dari bibir Krystal saat berada di dalam ruangan yang dipenuhi aroma injeksi ini. Meski sudah dapat duduk sambil menyandarkan punggungnya, wajah Jiyeon masih terlihat pucat.

“Kecalakaan apa,” desis Jiyeon tidak suka dengan kalimat Krystal yang menyebutnya berlebihan.

Sedangkan aku hanya terkekeh melihat tingkah laku kedua sahabatku sembari mengupas kulit buah apel yang berwarna merah.

“Kau tidak perlu khawatir, Jiyi. Pria bernama Lee Hongbin itu sudah aman di penjara.”

“Kau ini bicara apa?”

Krystal tampak membusungkan dadanya bangga sambil menjawab, “Aku menyuruh kenalan ayahku untuk menangkap Lee Hongbin.”

Pisau yang cukup tajam bergesekan dengan daging buah yang tampak segar. Yakin kulit ari-ari buah itu sudah mengelupas, aku mengirisnya menjadi potongan yang lebih kecil. Meletakkan buah yang sedikit mengeluarkan air itu pada piring porselen.

Melihat kepercayaan diri Krystal membuat Jiyeon bergidik ngeri seraya meraih potongan apel itu dan menyumpalkannya dalam mulut Krystal, mengharuskanku menahan tawa melihat Krystal dengan mulut yang penuh apel merah.

 

SRET~

 

Suara pintu bergeser meredakan tawa kami yang sempat meledak dan memenuhi ruangan. Seorang wanita paruh baya tampak menjinjing dua bungkusan di masing-masing tangannya. Wajahnya terlihat lelah, sepertinya wanita ini baru saja menyelesaikan pekerjaannya.

Anyeonghaseyo, ahjumma,” sapa Krystal tersenyum hangat.

Anyeonghaseyo,” aku sendiri tidak mau kalah.

Masing-masing dari kami mengucapkan salam sembari membungkukkan badan kepada wanita yang kini sudah meletakkan barang bawaannya sambil melepaskan syal yang melilit pada lehernya. Wanita itu membalas sapaan kami dengan senyuman lembutnya yang khas. Setiap anak kecil yang melihatnya pasti akan langsung menempel padanya.

“Pas sekali kalian berada di sini,” ujarnya, “Bibi membawakan bulgogi. Jiyeon merengek minta dibelikan.”

“Aku tidak merengek,” ujar Jiyeon men-klarifikasi ucapan ibunya.

Wanita itu tampak tidak peduli dengan koreksi putrinya. Kini ia sibuk menyajikan daging sapi itu. Kedua tangannya menekan salah satu tombol di sisi ranjang Jiyeo,n membuat meja kecil muncul secara otomatis di atas paha Jiyeon. Meja dengan bentuk kecil itu sengaja didesain untuk tempat makan pasien.

“Uwa~ sudah lama aku tidak makan bulgogi,” kata Krystal sedikit manja sambil membantu Ibu Jiyeon membuka bungkusan makanan itu dan menatanya di atas meja. Jiyeon hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Krystal yang sukanya menempel pada ibunya itu.

“Sooji-ya, kemarilah. Ini makanan kesukaanmu,” titah wanita itu lembut.

“Jika kau tidak mau, aku dan Jiyeon akan menghabiskannya,” celoteh Krystal.

Lantas aku segera membantu mereka. Jiyeon meraih pan untuk memanggang daging sapi itu. Sebelum dimasak, lembaran-lembaran daging itu diolesi bumbu yang telah disiapkan oleh Ibu Jiyeon. Asap mengepul ketika Jiyeon meletakkan salah satu potongan daging di atas pan. Kami semua tertawa sambil mengibas-ngibaskan asap itu.

Bagaimana kami tidak menertawakannya? Kami baru tau ada manusia yang memasak bulgogi di kamar inap rumah sakit. Itulah kami. Sederhana tetapi mampu membuat diriku tertawa lepas.

Keunde,” ujarku sambil mengunyah tekstur daging yang terasa lembut di mulut, “Bagaimana keadaan Jiyeon? Apa ada yang parah?”

“Bahkan Jiyeon tidak pernah menanyakan keadaan tubuhnya sendiri,” bukannya menjawab, beliau justru berkata seperti itu sambil mengelus helaian rambut putrinya yang mendengus pelan.

“Nanti sore Jiyeon sudah boleh pulang,” lanjutnya.

“Tentu saja!” sela Krystal dengan mulut penuh daging, “Uri Jiyi adalah gadis yang tangguh, keutchi?”

Jiyeon menimpukan sumpit pada dahi Krystal, membuat Krystal mengelus dahinya yang tidak berdosa.

“Aku boleh pulang nanti sore? Jeongmal?” tanya Jiyeon memandangi ibunya yang mengangguk yakin, “Kurom. Besok aku akan masuk.”

Begitu menelan daging sapi itu dan merasakan kelezatannya di tenggorokan, tanganku kembali menyumpit potongan daging tipis yang lainnya.

“Aku benar-benar bosan di sini,” keluh Jiyeon, “Dan rasanya tidak nyaman meninggalkan ujian.”

Ah benar! Kami masih ujian. Tersisa satu hari, besok adalah hari terakhir kami ujian.

“Gakpapa, kok. Kau kan bisa ikut test susulan,” ujarku.

“Test susulan?” malah Krystal yang menyahut, “Aku benar-benar tidak suka itu.”

Gadis dengan wajah tirus itu menggelengkan kepalanya sambil menyudahi suapan bulgogi-nya itu.

“Mengerjakan soal. Sendirian. Di dalam ruangan yang dipenuhi oleh para guru,” ujar Krystal menunjukan gayanya yang hiperbola, “Aku tidak mau membayangkannya.”

“Lebih baik melakukannya daripada tidak mendapatkan nilai,” sahut Jiyeon membenarkan.

“Aku setuju dengan Jiyeon,” kataku.

Heol,” Krystal menghela nafas memandang kami dengan mata bulatnya, “Ahjumma~ aku akan gila jika berteman dengan mereka~” rengeknya sembari menggoyang-goyangkan lengan Ibu Jiyeon yang terkikik akan tingkah kami.

Bagiku hal yang paling menyenangkan—   berada di dekat mereka.

.

.

“Sooji-ya, odieya?” tanyanya, “Arah kamar Jungkook sebelah sana.”

Sambil mengatakannya, gadis itu menunjukan tangan ke arah yang berlawanan denganku. Kini aku dengannya sudah berada di luar kamar Jiyeon. Koridor yang menghubungkan kamar kelas vip ini hanya berisi aku dan Krystal.

Mian, aku harus pulang sekarang,” sahutku.

Mwo? Kau tidak menjenguk Jungkook?”

“Kau saja. Aku sedang terburu-buru.”

Wae?”

“Ayahku sudah menunggu di depan rumah sakit sekarang.”

.

.

Atsmosfer canggung menyelimuti celah antara diriku dan ayah. Tidak ada suara kecuali bunyi mesin mobil yang menyala. Seorang paman tua seolah terabaikan keberadaannya yang memegang kemudi mobil di depan. Sementara ayahku duduk di belakangnya, begitu pula denganku.

Kedua pandangan kulempar jauh-jauh ke luar jendela mobil. Aku tidak berniat bicara hingga ayahku memulai percakapan dengan nada suaranya yang tegas.

“Bagaimana keadaan teman-temanmu itu?”

“Mereka sudah baikan,” sahutku tanpa mengalihkan pandangan.

Appa sudah bicara dengan wali kelasmu—“

Pelan namun pasti dan entah mengapa semuanya terdengar semu dalam pendengaranku.

“—kau tidak perlu ikut OSN Fisika. Yang kau lakukan sekarang hanya fokus pada belajarmu saja.”

Bahkan bibirku tidak mampu berucap. Membisu dalam keheningan.

Lelaki tua berbingkai kacamata itu tampak menghela nafas lalu masih berkata hal lain. Hal yang tanpa dia ketahui, mampu melukai hatiku, “Appa meminta bantuan pada Hakim Lee. Selesai sekolah kau bisa langsung menjadi jaksa. Saat kau bertemu dengannya, kau harus berterima kasih.”

Secarik senyuman kecut terpampang di wajahku mendengar kelicikan ayahku sendiri.

Appa—“

Aku mohon kali ini biarkan aku berbicara.

“—aku baru tahun pertama di sekolah. Masih ada dua tahun untuk SMA dan empat tahun untuk kuliah. Tidakkah masih ada banyak waktu?”

Mwosun suriya?!” gertaknya langsung membuat kepalaku menunduk, “Persiapan lebih dini lebih matang!”

Tidak peduli harus sesakit apa, ayahku tetaplah ayahku yang seperti ini.

**

Selembar kertas putih lebar tertempel pada papan pengumuman. Hampir semua murid berlarian menghampiri papan kayu yang berada di tembok gedung itu. Kebanyakan dari mereka menghela nafas kasar melampiaskan kekecewaan mereka sambil berjingkrak menjauhi lokasi itu. Namun tidak sedikit pula yang bersorak bangga akan prestasinya.

Aku dan Jiyeon salah satu murid yang berada dalam kerumunan itu. Senyuman tipis terbentuk jelas di wajahku. Nama lengkapku tertera di posisi pertama pada lembaran itu dengan nilai rata-rata yang hampir mendekati kata sempurna.

Ekspresi Jiyeon tidak berbeda denganku. Setelah melewati test susulannya, Jiyeon berhasil meningkatkan peringkatnya menjadi di posisi kedua, berada tepat di bawahku. Bahkan selisih nilai kami sebatas 0,1 saja.

Aku memandang sahabatku itu yang berada di sebelahku. Senyumannya mengembang lebar. Aku pula membalas senyuman manis itu. Sepertinya ia mulai menerima posisi peringkat antara kami. Jadi aku bersyukur.

“Ya, daebak!” hingga kalimat dari bibir Hyorin mengalihkan perhatian kami.

“Ada apa?” tanya Eunji yang juga berada di dekat kami.

“Jeon Jungkook peringkat empat,” seru Hyorin.

“Memangnya kenapa?” acuh Eunji karena Jungkook sudah biasa memegang posisi itu.

“Itu hebat,” puji Hyorin, “Dia hanya mengikuti test susulan. Bahkan dia tidak datang di empat hari pertama dan juga dia sering membuat masalah. Tapi apa ini? Ranking empat?”

“Kau benar. Jika Jungkook lebih rajin, aku yakin dia dapat menyingkirkan Bae Suzy dan menjadi yang pertama.”

Pendengaranku terasa mendengung setelah mendengar obrolan asyik mereka yang diselingi cekikikan.

Ya! Sebenarnya apa yang kalian tau!” bentak Krystal. Gadis itu baru saja datang sembari menarik ikat rambut milik Eunji.

“Kembalikan!”

“Kalian berdua cepat menyingkir dari hadapanku! Aku tidak tahan melihat kalian menghalangi jalanku,” ancamnya.

Eunji segera menyaut tali rambutnya kasar dari tangan Krystal seraya menarik lengan Hyorin menjauhi papan pengumuman. Sementara Krystal mendecakkan lidah sinis sambil mendekatkan diri pada papan pengumuman. Gadis itu berdiri di antara diriku dan Jiyeon.

“WOW! Aku naik 2 peringkat!” kekesalannya seketika berubah menjadi seruan bahagia begitu ia mulai membaca daftar prestasi itu.

“Jiyeon-a! Sooji-ya! Apakah kalian tidak lihat?! Aku naik 2 peringkat,” ulangnya kini sembari merangkul kami berdua.

Chukkae, Jung Krystal,” ucap Jiyeon.

“Berada dalam 20 besar adalah rekorku,” bangganya membaca namanya yang tertera pada nomor delapan belas.

“Ckck,” aku hanya mendecakkan lidah.

“Aku berjanji pada kalian, jika aku berhasil ranking 10 besar di tahun depan, akan kutraktir kalian.”

“Tidak terlalu buruk,” jawab Jiyeon.

“Bae Suzy!” panggil seorang pria membuatku melepaskan rangkulan Krystal sambil membalikan badan.

“Kau dipanggil Guru Kim,” lanjut pria bernama Sehun yang merupakan ketua kelas 1-5.

.

.

“Kau yakin dengan keputusanmu?”

Ruang bimbingan konseling hanya berisi satu meja dengan dua kursi yang saling berhadapan. Pria berusia sekitar tiga puluh tahun itu duduk di hadapanku sembari menyingkap kedua tangannya pada meja.

“Suzy, aku tidak memaksamu untuk mengikuti OSN. Tetapi kau tau bukan? Jika kau meninggalkan kesempatan ini, semuanya akan hilang dalam sekejap—“

Guru bernama Daniel Kim yang memiliki wajah terbilang cukup tampan diusianya yang seperti itu sedikit memajukan tubuhnya.

“—piagam osn—“ gumamnya, “—kau tidak akan bisa memilikinya.”

Seperti yang kuketahui, ayahku sudah mengurus pengunduran diriku mengikuti osn fisika.

“Aku sudah tidak tertarik pada piagam itu,” dustaku.

“Bae Suzy—“

“Itu adalah keinginan ayahku,” potongku cepat membuat Guru Daniel Kim mengatupkan rahangnya keras, “—tidak ada yang bisa kulakukan selain menurutinya.”

Guru Daniel Kim memandangiku dengan tatapannya yang khas. Seolah ingin meninvestigasi kebenaran dalam manik mataku. Lama kami saling bertukar pandang, akhirnya ia menghembuskan nafas menyerah.

“Baiklah. Kau bisa kembali ke kelas sekarang.”

Tubuhku beranjak berdiri seraya membungkukkan badan hormat mengambil langkah meninggalkan ruangan kecil ini.

Padahal koridor sekolah tanpa atap ini dipenuhi oleh anak-anak yang sebaya denganku, tetapi hatiku terasa kosong. Saat ini aku terdampar dalam lamunan. Rasa sakitnya melejit sampai ke sumsum tulangku. Lambaian angin membuatku gelisah. Tatapan sang mentari membuatku ragu. Ingin rasanya aku menutup cepat hari-hari di dunia.

Lalu langkahku berhenti di ujung koridor yang bersebelahan dengan lapangan. Mungkin aku tidak mampu untuk berjalan.

 

BUGH!

 

Tubrukan seseorang dari belakangku mengembalikan pikiranku ke tempat semula. Gadis yang berseragam sama denganku itu tampak meminta maaf karena telah menyenggol bahuku secara tidak sengaja.

Aku melemparnya dengan tatapan dingin sedikit membuatnya menunduk seraya menjauhiku. Aku hendak melanjutkan langkahku, tetapi suatu kericuhan menghalanginya.

Beberapa orang siswa tampak mengerumuni sesuatu di tengah lapangan. Sepasang mataku menyipit melihat lebih jelas apa yang menarik perhatian mereka. Sekujur tubuhku terhenyak mendapati seseorang bersikap menggila di antara kerumunan itu.

“Jiyeon-a!”

Tanpa basa basi aku menerobos teman-temanku. Ternyata benar, seseorang itu adalah Jiyeon. Gadis itu kini tampak kacau. Kedua tangannya menjambaki rambutnya sendiri sambil menutup kupingnya. Matanya terpejam, mulutnya berteriak keras, tiap seseorang mencoba menyentuhnya ia akan memberontak.

Wae keure?” tanyaku.

“Aku tidak sengaja menyentuh tangannya,” jelas Kai tidak tau apa-apa, “Tetapi dia bersikap seperti ini.”

Aniya! Aniya!” erang Jiyeon beruntutan.

“Jiyeon-a, wae?!” aku mencengkram erat kedua bahu sahabatku itu, “Ada apa denganmu?!”

Getaran tubuh Jiyeon menyalur melalui cengkramanku. Membuat bahuku melemah. Kedua mata yang dipoles eyeliner itu terlihat berair. Nafasnya terputus-putus. Yang berada di hadapanku bukanlah Jiyeon yang biasanya.

 

“Jiyeon-a…

 

To be continued—

Fyuh… chapter ini bener bener paannjjjjaaaaannnggggg, wkwk. Spesial buat readers tercinta dibikin panjjjaaanngggg. Atau jangan jangan kurang oanjang? (Readers:YA!!!!) *gubrak* . Skip, masalah jungkook udh kelar, giliran masalah murid bae suzy ne, hehehohoho *evillaugh*. Sampai jumpa, readersss~~~

40 responses to “High School (Chapter 8)

  1. yaah jiyi kenapaaaa?
    jungkook mana nih setelah sakit gak ada kabarnya? cuma dapet peringjat 4 ajah. myungsoo mana myungsoo?
    aduh jiyi trauma kayaknya yaa

  2. laah.. kayaknya jiyi trauma krna kejadian hongbin itu ya..
    mana jungkook ? aku lebih srek jiyi sama jungkook ya ketimbang myung..
    next next ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s