[CHAPTER-PART 1] Pain

paincopyright, @aeyoungiedo

Pain –part 1|| Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Park Yejin, Choi Minho
Family, Friendship, Romance, Angst, Sad

Cover by : Queenbyxx @HSG

.

Warn : plot twist

.

Las Vegas, 2010.

Dinginnya musim gugur tak menyurutkan langkah gadis itu. Berpostur tegap dan nampak tergesa gesa. Tangannya membawa setumpuk map dan juga komputer jinjing. Rambutnya yang cokelat lurus tertiup angin.

Kini sang gadis –Park Jiyeon– tampak berkutat dengan laptop di depannya. Sesekali ia membuka album mengenang masa kecilnya yang tidak berlalu dengan baik.

Seoul, 1997.
    “eomma, aku mendapatkan nilai sepuluh.”ujar Jiyeon kecil menyodorkan hasil ulangan pada ibunya yang tengah merajut. Tanpa menoleh, wanita dengan rahang kukuh itu hanya mengangguk singkat. Jiyeon menarik kembali hasil ulangannya lalu menatap kecewa. Setidaknya ia berharap ibunya akan mengucapkan kata-kata bangga.
    “eomma..”suara rengekan terdengar dari teras depan. Ibu Jiyeon tadi –Park Hara– menghentikan aktivitasnya demi melihat si sumber suara. Park Yejin. Adik dari Jiyeon hanya selisih 7 tahun. Anak manis berkucir dua itu menangis. Di tangannya terdapat hasil ulangan. Ibu Jiyeon mengambil hasil ulangan itu. Kemudian ia tersenyum. Tubuhnya menunduk berusaha mensejajarkan tingginya dengan Yejin. “Sayang, lihatlah. Kau pintar sekali, kau mendapatkan nilai delapan. Eomma bangga padamu, nak.”Ibu Jiyeon mengelus kepala Yejin.
Jauh di dalam, Jiyeon menyimak percakapan ibu dan adiknya. Matanya memerah. Menahan kecewa yang teramat sangat. Jiyeon adalah juara kelas, mengapa eomma tidak bangga dengannya?

Seoul, 1998.
“eomma, kita mau kemana?”
Ibu tidak menggubris pertanyaan yang terlontar dari bibir mungil anaknya. Pikirannya tertuju pada sesosok yang tengah menderita di balik pintu
ICU. Park Jiyeon terus terdiam menyamai langkah eommanya yang seperti terburu-buru. Dua minggu lagi ia akan mengikuti ujian kelulusan sekolah tingkat dasar. Seharusnya ia berkonsentrasi belajar.
“Jiyeon-ah.”
Ibu Jiyeon menatap Jiyeon intens ketika mereka berada di depan pintu
ICU. Gadis berusia dua belas tahun itu menautkan alisnya. Halmoni dan haraboji tampak terisak memandangi Yejin yang sekarang sedang ditangani oleh dokter. “Eomma harap kamu mau mendonorkan darahmu pada Yejin.”
Jiyeon memandangi eommanya. Darah? Halmoni melepaskan tubuh Jiyeon dari cengkraman eomma. Tatapannya tampak menghunus manik anak kesayangannya itu. Wajah yang biasanya menampakkan suka, kini tampak dirundung duka.
“tidakkah kau terlalu tega?”tanya halmoni. Ibu Jiyeon terus menunduk. Haraboji sibuk berdoa untuk Yejin yang saat ini terbaring.
“Anakmu masih kecil, Hara-ya. Tidakkah yang seharusnya mendonorkan darah adalah suamimu? Kemana dia? Kenapa dia tidak bertanggung jawab?”
Ibu Jiyeon kini berani menatap halmoni. Tidak menampakkan ketakutan. “Lalu apa urusan eomma? Ini urusanku, eomma. Berhenti mencampuri. Yejin dan Jiyeon adalah anakku!”
Halmoni menggelengkan kepala. Haraboji menarik Jiyeon. Merengkuh tubuh mungil seorang Park Jiyeon. “Kau katakan Jiyeon itu anakmu? Kenapa kamu justru menyiksanya? Aku tahu golongan darah Yejin memang langka, tapi haruskah kau menyuruh anakmu yang masih dibawah umur, Hara-ya?”
Jiyeon menangis. Menatap ibunya yang tengah di marahi halmoni. Ibu Jiyeon tersenyum pahit. Jiyeon menundukkan kepalanya.
PLAK!
Sebuah bilur lebam terpampang di pipi ibu Jiyeon. Halmoni tampak terengah-engah. Emosinya sudah habis. Hara –anaknya– menyiksa Jiyeon. Memaksa untuk mendonorkan darah, dan tanpa acuh. Bahkan ia jarang memasak untuk Jiyeon di rumah. Jiyeon selalu membuat sereal sendiri ketika sarapan.
“halmoni, hentikan–“Jiyeon berlari memeluk kaki neneknya.
“Aku, bersedia. Tapi tolong jangan tampar eomma..”Jiyeon menitikkan air matanya. Halmoni menggeleng cepat. Jiyeon terlalu banyak berkorban. Sementara ibu Jiyeon menatap Jiyeon tanpa ekspresi.
“Apa kau yakin, Jiyeon-ah? Setahuku kau takut jarum suntik.”Jiyeon mengangguk. Ini semua demi Yejin. Demi eomma yang sangat disayanginya.

.
.
.
“Jiyeon-ah, apa kau begitu yakin? Mengapa?”tanya dokter Kim. Jiyeon mengangguk. Matanya masih membengkak. Pipinya membiru setelah tadi menerima tamparan dari ibunya sendiri. Dokter Kim menggeleng pelan. Jiyeon adalah sahabat dari cucu kesayangannya, dan dokter Kim menyayangi Jiyeon. Anak itu sangat ceria walaupun kerap mendapatkan perlakuan buruk dari ibu kandungnya.
“sayang, ini kenapa?”
“tadi eomma memukulku, dokter.”Jiyeon meringis saat dokter Kim menyentuh pergelangan tangan Jiyeon yang memar. Dokter Kim tersenyum manis. “Ya, nanti dokter usahakan untuk mencari pengganti pendonor untuk Yejin.”

“apa kau sudah tahu, cucumu mendonorkan darah untuk Yejin?”
Haraboji mengangguk saat dokter Kim memanggilnya. Dokter Kim melanjutkan risetnya kembali. “Ia menerima begitu banyak siksaan. Tapi dia tetap tersenyum. Meskipun aku bukan seorang psikolog, tapi ini sangat tidak baik untuk kondisi psikologisnya. Lebih baik ia dipisahkan dari ibunya.”
Haraboji menatap dokter Kim sebentar. Kemudian tersenyum. Tangannya menepuk pundak dokter Kim.
“kau masih seperti dulu, Joonmyeon-ah. aku mengerti. akan segera ku usahakan.”

Dua minggu kemudian…
“Jiyeon-ah, ini apa?”tanya sahabat laki laki Jiyeon, Kim Myungsoo. Kim Myungsoo dua tahun lebih muda dari Jiyeon. Dan juga, Myungsoo merupakan cucu tunggal dari dokter Kim. Dokter yang merawat Yejin. Jiyeon menepis tangan Myungsoo yang hendak memegang bekas lukanya. Itu masih terasa sakit.
“Mau bermain apa?”tanya Jiyeon polos. Myungsoo mengajaknya bermain. Biasanya mereka akan bermain remote control ataupun boneka sampai larut. Hingga Jiyeon di marahi oleh ibunya. Kalau sudah begini, Jiyeon biasanya menginap di rumah halmoni.
Myungsoo menyodorkan kartu game terbaru. Jiyeon mengangguk bersemangat. Sesaat kemudian mereka tampak larut dalam permainan. Beberapa kali mereka bertengkar, namun akhirnya Myungsoo yang mengalah.
“oppa, eonnie, Yejin mau bermain.”sapa Yejin yang memeluk boneka teddy bearnya. Jiyeon menghela nafas. Myungsoo menoleh kepada Jiyeon. Tampaknya mereka berdua tampak enggan bermain bersama Yejin yang lemah. Yejin tanpa permisi duduk di karpet sebelah Jiyeon.
“Bagaimana Jiyeon-ah?”tanya Myungsoo. Jiyeon mengendikkan bahunya. Menatap Yejin dengan pandangan tidak suka sekalipun ia adalah adiknya. Jiyeon beranjak pergi. Meninggalkan Yejin yang tengah tersenyum pada Myungsoo ; Myungsoo menatap kepergian Jiyeon.
Yejin menarik tangan Jiyeon dari belakang. Masih memeluk boneka teddy bear. Jiyeon merengut.
“unnie, kenapa pergi? aku juga ingin bermain denganmu.”
1.
2.
3.
Yejin yang terus bertanya dan Park Jiyeon yang membisu. Membiarkan dinginnya malam merengkuh tubuh mungilnya. Tak ada niat melontarkan kata apapun. Yejin terisak. Merasakan Jiyeon begitu membencinya.
“unnie, apa salahku?”
Jiyeon membalikkan badannya. Menatap Yejin yang menutupi wajahnya. Jiyeon melenguh.
“Kau bilang apa salahmu?”
Yejin mengangguk. Jiyeon mendekatkan tubuhnya pada Yejin.
“Aku membencimu, Park Yejin! Kau mengalihkan semua perhatian eomma padaku!
Kau selalu merepotkanku! Kau hanya bisa menangis dan menangis. Apa kau ingin aku tidak di perhatikan, eoh?”
Yejin kian terisak. Tatapan Jiyeon begitu berkilat.
“Aku tidak mau menganggapmu sebagai adikku lagi! Jauhi aku!”
Suara Jiyeon begitu menggema.

Besoknya..
“Park Jiyeon! Anak bodoh! Dimana kau?”
Jiyeon yang sedang dibacakan dongeng oleh haraboji menemui eommanya yang berteriak kasar. Halmoni menemui eomma Jiyeon. Tidak ingin menatap Hara lagi yang notabennya adalah anak kandungnya.
“ada apa?”tanya halmoni berusaha tenang. Hara tersenyum kecut. Park Jiyeon sedang memeluk ayahnya –haraboji–. Hara menarik tangan Jiyeon. Menggoyang-goyangkan pundaknya. Cengkraman eomma begitu keras sehingga membuat Jiyeon meringis kesakitan.
“Apa yang kau perbuat pada adikmu, anak bodoh?”
Jiyeon menatap eommanya lekat. Rasa takutnya sudah hilang. Jiyeon dengan berani melepaskan tubuhnya dari cengkraman eommanya.
“eomma! apa yang membuatmu begitu membenciku? aku selalu mengalah pada Yejin. Tapi apa? kau selalu mengacuhkanku!”
Ibu Jiyeon tergelak. Jiyeon yang biasanya tenang kini menahan amarah. Tatapannya tetap sama, namun. Ada atmosfer yang mengatakan putrinya ini lelah. Lelah menahan derita yang bertumpukan.

“eomma.”panggil seseorang. Jiyeon menghentikan lamunannya. Lauren Park. Putri kesayangannya tampak membawa bekal di tangannya. Jiyeon terkekeh. Mengusap rambut lembut Lauren kemudian melanjutkan aktivitasnya ; melamun.

Halmoni menangis. Bahkan Shinhye imo kini menampar ibu Jiyeon. Jiyeon tidak melarang siapapun menampar eomma kali ini.
“unnie. Jika kau membenci Jiyeon, serahkan padaku. Aku yakin aku akan bisa membahagiakan Jiyeon seperti anakku sendiri. Jangan ganggu kehidupannya lagi; fokus terhadap Yejin. Jangan sampai kau membuat Yejin bernasib sama seperti unnienya. Jangan terus terpuruk menunggu kehadiran Minseok oppa. Kau tahu? Ia tidak akan kembali lagi, unnie–”
Hara menangis. Menatap putrinya yang berlari ke dalam.
‘–maafkan eomma, sayang.’

Seoul, 2003.
Jiyeon tersenyum mendengar penjelasan dari Song ahjussi. Jiyeon mendapat tawaran melanjutkan beasiswa di Amerika. Karena Jiyeon tertarik di dunia fashion, ia memutuskan akan mengambil jurusan fotografi ataupun yang berkaitan dengan fashion. Setelah selesai, Jiyeon pamit.
Soojung, sahabat Jiyeon menarik lengan Jiyeon. Mereka terkenal sebagai most-wanted-girl di sekolah. Park Jiyeon. Seorang ketua osis cantik namun arogan. Hanya mampu berteman dengan Jung Soojung. Wanita yang juga cantik, banyak yang menyatakan cinta padanya namun ia hanya menyukai seseorang. Kim Myungsoo.
“pengkhianat.”
Jiyeon menoleh.
“apa kamu tidak tahu, aku menyukai Myungsoo? tapi kenapa kamu terus mendekatinya? kau melukai perasaanku, tahu! lebih baik kita tidak usah berteman lagi!”Soojung mendorong tubuh Jiyeon. Berhimpitan dengan dinding toilet yang dingin.
“aku tidak menyukainya, Soojung-ah.”ucap Jiyeon tenang. Tatapannya tidak menunjukkan ketakutan sama sekali. Penderitaannya di masa lampau menjadikannya ia sesosok gadis yang kuat namun dingin.
“kalau begitu, kamu harus menjauhinya. arra?”tanya Soojung. Jiyeon mengangguk pasti.

“oppa. Pasti sandwich ini buat aku, iya kan?”Yejin mengambil kursi di sebelah Myungsoo. Myungsoo menghela nafas. Sandwich ini seharusnya untuk Jiyeon. Sunbae dua tingkat diatasnya. Sementara Yejin, ia sekolah di SMP yang kebetulan berada satu kompleks dengan SMA-nya. Yejin mewarisi kepandaian Jiyeon, tetapi ia masih sangat lemah.
“ini untuk Jiyeon, tahu. Aku sudah menunggunya sejak istirahat pertama tadi.”Yejin cemberut. Menjauhkan tubuhnya dari Myungsoo. Myungsoo tampak acuh. Ia tidak menyukai Yejin, tapi gadis cengeng itu terus menerus mengejarnya.
“untuk Yejin saja. Aku benci sandwich, aku benci dirimu, dan aku benci gadis lemah itu.”kata sebuah suara. Myungsoo dan Yejin sama-sama tergelak. Perkataan menghunus yang di lontarkan oleh sang ketua osis, Park Jiyeon.
“unnie–”
“aku tidak mengenal dirimu, nona.”Jiyeon menyeringai kearah Yejin. Soojung disebelah Jiyeon mengeluarkan tatapan genit untuk Myungsoo tapi Myungsoo tidak menanggapi.
“apa maksdmu, Jiyeon-ah? aku tidak mengerti. Katakan, ini bukan dirimu!”teriak Kim Myungsoo frustasi. Membuat para siswa yang sedang memegang nampan menoleh. Siswa baru tengah membentak seorang ketua osis yang paling arogan, juga –bengis. Seorang sunbae yang masuk ke dalam kelompok anti-social. Hanya berteman dengan orang-orang tertentu. Jung Soojung, Jung Yookyung, Kim Hyerim, dan Seo Joo Hyun misalnya. Melarang anggota mereka untuk berteman dengan murid yang lain.
“maksudku? aku membencimu, adik kecil.”Jiyeon membelai pipi Myungsoo kemudian tertawa jahat. Myungsoo menatap Jiyeon. Penuh amarah, kebencian, tapi juga ada rasa yang tersimpan. Yang sampai saat ini tidak disadari gadis itu.

‘hei, dia berani sekali membentak Park Jiyeon.’
‘heol. aku tidak peduli siapa Park Jiyeon, tapi ia kali ini berbicara dengan seorang murid biasa. benar-benar kemajuan pesat.’
‘mengapa gadis itu menangis?’
bisik-bisik terdengar di belakang Jiyeon. Jiyeon tak perduli. Yejin menangis tersedu. Mungkin sebentar lagi asma-nya akan kambuh.
“kenapa tiba-tiba? kamu bilang, kita ini sahabat selamanya.”ujar Myungsoo. Tubuhnya bangkit. Menatap Jiyeon intens. Mendekatkan tubuhnya dengan Jiyeon. Hingga punggung Jiyeon menyentuh dinding kantin. Myungsoo berusaha menemukan kejujuran di manik mata Jiyeon. Bibirnya menyeringai.
“ini yang kamu inginkan, bukan?”Jiyeon membelalakkan mata. Myungsoo menciumnya, di depan murid-murid? Sebagai kelompok anti sosial, tentu saja Jiyeon merasa direndahkan.
“Berhenti menemuiku, Kim Myungsoo. Aku membencimu!”

“Jiyeon-ah, kenapa saat ini kamu belum punya pacar, eoh?”tanya Sunny –anak kandung Shinhye– saat Jiyeon sudah pulang sekolah. Jiyeon mengerucutkan bibirnya. Sunny unnie selalu berusaha menggodanya. Jiyeon menutup novel yang ia baca. Kemudian tertidur di pundak Sunny. Sudah menjadi kebiasaan Jiyeon, ia manja dengan Sunny.
“Aku ingin menggendong cucu darimu, Jiyeon-ah.”kikik Shinhye. Jiyeon menimpuk tubuh eomma-nya itu dengan bantal. Bahkan appa pun ikut tertawa.
Jiyeon sudah menganggap Sunny adalah unnie kandungnya, eomma dan appanya saat ini adalah Shinhye dan Jonghyun. Mereka menyayangi Jiyeon sepenuh hati. Tentang Hara dan Yejin, mereka kini memutuskan untuk meninggalkan rumah lama mereka. Rupanya Yoochun –appa kandung Jiyeon– terlilit banyak hutang sehingga rumah itu disita oleh bank. Hara eomma bahkan tidak pernah mengunjungi Jiyeon.

“eomma bangga kau menjadi anak sukses, Jiyeon-ah.”puji Shinhye. Jiyeon tersenyum manis. Dibandingkan Hara yang selalu berkata kasar, Jiyeon lebih memilih tinggal bersama Shinhye. Walaupun kadang-kadang di benaknya terbesit rasa rindu.
“Jiyeon eonnie!”suara cempreng khas Yejin diikuti derik pintu. Jiyeon menghela nafas. Park Yejin, lagi dan lagi. Yejin membawakan sebuket bunga untuk Jiyeon. Rupanya ia mendengar kabar beasiswa itu.
“Aku baru saja dari rumah halmoni.”cerita Yejin. Sunny mengambil majalahnya. “lalu?”
“Ya! Setidaknya Sunkyu unnie bisa mendengarkanku!”cemberut Yejin. Sunkyu –nama asli Sunny– mengacak rambut Yejin gemas.
“oh iya, dimana Jiyeon unnie?”tanya Yejin celingukan mencari Jiyeon. Sunny menoleh pada Yejin. Senyuman terpatri di bibirnya. Meskipun Jiyeon tidak menanggapi, tapi Yejin tetap menyayangi Jiyeon.
“memangnya kenapa?”
“Hara eomma merindukannya. Bahkan dia terlalu memikirkan unnie. Aku tahu kesalahan eomma di masa lalu, tapi aku berharap Jiyeon unnie akan menemuinya. Setidaknya, sebelum keberangkatan.”
Jiyeon mendengar percakapan Sunny dan Yejin. Sesungguhnya Jiyeon sangat merindukan Hara eomma, tapi ia masih terlampau takut. Rasa trauma yang begitu mendalam.

“ada apa?”tanya Jiyeon. Seperti biasa ; dingin dan menusuk. Yejin menggaruk tengkuknya. Sunny memutuskan masuk ke kamar. Tak ingin mencampuri urusan kakak beradik ini. Yejin merangkul Jiyeon. Jiyeon memeluk Yejin. Diam diam Yejin tersenyum di pelukan unnienya.
“kau jangan senang dulu, ini peluk perpisahan. Sampaikan salamku pada eomma, maaf aku harus pergi.”

Di Pesta Prom..
“Jiyeon-ah, kamu tidak mau minum martini?”tanya Seohyun dalam keadaan setengah mabuk. Jiyeon menggeleng. Jiyeon sudah menghabiskan dua gelas vodka. Yookyung sedang mengobrol dengan Hyerim. Sementara Soojung masih asyik mendengarkan lagu yang dimainkan oleh disc joke yang sudah dipesan.
“wanna dance with me, nona?”
Choi Minho. Salah satu namja playboy di SMA Jiyeon. Jiyeon menoleh pada kelompoknya, meminta persetujuan. Mereka semua mengangguk dengan mata yang berbinar.
Jiyeon berdansa dengan Minho. Jiyeon berusaha menahan tubuhnya agar tidak mabuk, tapi tetap saja. Jiyeon tahu. Seharusnya ia tidak meminum apapun tadi, ia adalah peminum yang payah.

BRUK!
Park Jiyeon terjatuh. Seseorang menggendongnya, dan malam diluar semakin dingin. Sirna dengan gemerlapnya dunia saat ini.

tbc

Prev chap :
.
.
“apa yang kamu lakukan?”
.
.
“aku kecewa padamu. Siapa yang melakukannya?”

akhirnya selesai juga chap 1. hehee. maaf ya, Jiyeon aku buat bad girl disini. sebenernya kemarin ff ini udh mau aku publish tapi….biasalah human & laptop sama sama error hehe. Semoga gak membingungkan ya, kalau ada diantara kalian yang masih bingung maafkan aku. Semoga part 1 gak mengecwakan.
Oh iya, FF ini masih mau lanjut gak? Kalau lanjut, aku akan lanjut. Kalau kalian gak komen, ya aku anggep kalian gak minat ya. Jadi aku terpaksa stay disini, dan gak akan publish part 2. Gimana?
LUANGKAN WAKTU UNTUK SEKEDAR BERKOMENTAR.
Regards,
aeyoungiedo.

82 responses to “[CHAPTER-PART 1] Pain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s