[CHAPTER – PART 8] MY PRINCESS

© High School Graphics by: xilvermist

Title : My Princess | Author : dindareginaa | Main Cast : Bae Sooji, Kim Myungsoo | Additional Cast : Find by yourself! | Genre : Comedy – Romance | Rating : Teen

DISCLAIMER :

Inspired by Taiwanese Drama

Sooji mengepalkan tangannya kuat begitu Minho mencium bibirnya lembut. Beberapa detik kemudian, setelah merasa pasokan udaranya habis, Minho menjauhkan wajahnya dari Sooji. Ia tersenyum hangat.

“Aku mencintaimu.”

Sooji masih tak percaya dengan apa yang dialaminya tadi. Minho menyatakan cinta padanya! Harusnya ia senang. Ya, harusnya begitu. Berarti permintaannya saat melihat bintang jatuh – ia berharap bahwa kehidupannya kembali seperti semula, termasuk Choi Minho – benar-benar terkabul. Tapi, entah kenapa Sooji merasa menyesal dengan permohonannya itu.

Sooji membuka kamar hotelnya. Ia mengernyit heran melihat ranjang Myungsoo tertata rapi. Lelaki itu bahkan tak ada disana. Kemana…

Sooji segera meraih ponsel dari sakunya lalu mencari kontak Myungsoo. Sooji mendengus kesal begitu operator yang menjawab panggilannya. Tunggu dulu! Sooji tersentak begitu melihat koper Myungsoo sudah tak berada ditempatnya lagi. Ia pun segera membuka lemari dan ia cukup terkejut begitu melihat tak sehelaipun baju Myungsoo tertinggal disana. Apa Myungsoo sudah pulang? Semalam ini… dan tanpa dirinya? Kenapa?

“Ibu… aku pulang!”

Nyonya Kim yang sedang asik memasak mengernyit bingung mendengar suara anak tunggalnya itu. Bukankah seharusnya sekarang Myungsoo masih bersama Sooji di Jeju? Apa ia salah dengar? Tak ingin tambah penasaran, wanita paruh baya itu segera menghampiri si sumber suara. Ia cukup terkejut begitu mendapati Myungsoo kini terduduk lemas disamping kopernya.

“Apa yang terjadi?” tanya Nyonya Kim khawatir melihat sikap anak tunggalnya itu.

Mungsoo tersenyum simpul. Ia menatap sayu ibunya. “Aku jatuh cinta.”

Nyonya Kim masih melongo tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari Myungsoo. Dari Sooji yang ternyata adalah anak konglongmerat, kemudian keluarganya yang bangkrut hingga membuat Sooji hampir tinggal dijalanan, lalu pangeran berkuda putihnya yang harus meninggalkan Sooji disaat gadis itu membutuhkannya hingga akhirnya Myungsoo harus mengarang cerita bahwa mereka berkencan hanya untuk mendapatkan izin Nyonya Kim agar Sooji diperbolehkan tinggal bersama mereka dan kemudian barulah Myungsoo sadari bahwa ia benar-benar menyukai gadis itu. Tidak. Ini cinta.

“Kalau boleh jujur…” Nyonya Kim mulai membuka suara setelah terdiam cukup lama. “… aku menyukai Sooji. Dia gadis yang baik walau terkadang sifatnya sangat kasar. Sekarang pertanyaannya adalah, apakah dia juga menyukaimu?”

Myungsoo terdiam. Sebenarnya ia tak tahu harus menjawab apa pertanyaan ibunya ini. Ia tak pernah tahu bagaimana perasaan Sooji terhadapnya. Mereka memang pernah berciuman. Sekali… Tidak! Mereka bahkan sudah berciuman sebanyak 2 kali! Tapi bagaimana kalau hal itu hanyalah hiburan untuk Sooji? Tanpa rasa?

Nyonya Kim menatap Myungsoo lekat lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Biar kutebak, kau belum mengatakan apa-apa padanya?” Wanita paruh baya itu kemudian menghembuskan nafasnya perlahan. “Kau tidak akan pernah tahu bagaimana perasaannya padamu sebelum kau mengatakan bagaimana perasaanmu terhadapnya.”

Myungsoo hanya diam tak bergeming mendengar perkataan ibunya. Apa ia harus menyatakan cintanya pada Sooji?

Sooji dan Minho baru saja keluar dari airport. Ya, mereka memang memutuskan untuk pulang ke Seoul bersama. Tentang Jiyeon, Minho sendiri juga tak tahu dimana keberadaan gadis itu. Yang Minho tahu, saat ia pergi ke kamar gadis itu, gadis itu sudah tak ada.

“Yakin tak ingin kuantarkan pulang?”

Sooji tersenyum lalu mengangguk. “Tidak usah. Aku bisa naik taxi dari sini.” Sooji kemudian melambaikan tangannya begitu melihat taxi bergerak kearahnya. Setelah sang supir memasukkan barang bawaan Sooji kedalam bagasi, Sooji menoleh pada Minho. “Sampai jumpa.” Setelah itu, barulah Sooji masuk kedalam taxi-nya.

Didalam taxi, Sooji hanya diam termenung. Ia masih memikirkan apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia memang meminta waktu beberapa hari pada Minho, setelah sebelumnya gadis itu mengaku bahwa ia dan Myungsoo tak ada hubungan apa-apa. Jujur saja, Sooji senang Minho masih mencintainya. Tapi… Sooji bahkan ragu sekarang hatinya untuk siapa. Yang ada dipikiran Sooji sekarang hanyalah Myungsoo! Lelaki itu bahkan tak mengangkat teleponnya sejak kemarin. Ada apa dengannya sebenarnya?!

“Ibu! Ibu!”

Sooji masuk terburu-buru kedalam rumah Myungsoo. Nyonya Kim yang saat itu sedang asik menjemur kain sontak langsung berjalan menuju sumber suara.

“Oh, kau sudah pulang?” tanya Nyonya Kim melihat kedatangan Sooji

“Ibu, Myungsoo dimana?” tanya Sooji tanpa memperdulikan pertanyaan Nyonya Kim sebelumnya.

“Myungsoo? Tentu saja kerja. Ada apa memangnya?”

“Apa… dia mengatakan sesuatu padamu?”

“Sesuatu? Tidak. Kenapa kau bertanya seperti itu?” Nyonya Kim berpura-pura tak mengerti arah pembicaraan Sooji.

Sooji memaksakan seulas senyumnya. “Tidak Tidak ada. Kalau begitu aku ke kamar dulu, bu,” pamit Sooji. Ia kemudian meninggalkan Nyonya Kim yang kini memandangi punggungnya yang mulai menjauh.

Myungsoo mendorong sepedanya lemas. Ia baru saja selesai bekerja. Tapi, entah kenapa ia tak bersemangat begini. Tadi ibunya menelepon dan mengatakan bahwa Sooji sudah pulang. Gadis itu sempat bertanya mengenai Myungsoo yang tiba-tiba saja pulang tanpa mengatakan padanya terlebih dahulu. Apa gadis itu khawatir padanya? Myungsoo sontak menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin!

Saat Myungsoo menatap lurus kedepan, ia mengernyit melihat seorang gadis tengah duduk di halte bis. Gadis itu kini sedang asik memainkan kuku-kukunya. Myungsoo mendengus. “Bae Sooji.”

Gadis itu – Bae Sooji – sontak menoleh kearah Myungsoo. Ia tersenyum lalu segera beranjak berdiri. “Ya! Kim Myungsoo! Kenapa lama sekali?Aku sudah menunggumu dari tadi!”

Myungsoo terdiam. Ditatapnya Sooji lekat. Sedetik kemudian, lelaki itu melengos, melewati Sooji begitu saja. Melihat itu, mata Sooji membulat tak percaya. Myungsoo mengabaikannya?! Tapi, kenapa?

Ya! Ada apa denganmu sebenarnya?!” teriak Sooji. Ia berlari kecil menghampiri Myungsoo yang sudah berjalan mendahuluinya. Tapi, karena menggunakan sepatu bertumit tinggi, tentu saja membuat Sooji kesulitan menyusul Myungsoo.

PLETAK.

Sooji meringis kesakitan begitu kehilangan keseimbangannya. Oh, sepatunya rusak! Tumitnya kini telah patah.

Mendengar keributan tersebut, Myungsoo segera menoleh kebelakang. Melihat Sooji yang kini sedang duduk dilantai, Myungsoo segera menghampiri gadis itu.

“Kenapa?”

Sooji menatap kesal kearah Myungsoo. Ia kemudian menunjukkan sepatunya yang telah rusak. “Lihat! Sepatuku rusak karena mengejarmu! Ini sepatu kesayanganku dan didesain oleh designer terkenal, Alexander Wang! Kau tidak tahu bagaimana perjuanganku mendapatkan sepatu edisi terbatas ini?” dengus Sooji.

“Bisa berdiri?” tanya Myungsoo tanpa memperdulikan ocehan Sooji. Ia mengulurkan tangannya.

Sooji mengangguk lalu menyambut uluran tangan Myungsoo. Gadis itu kembali meringis begitu merasakan nyeri di pergelangan kakinya. Sepertinya kakinya terkilir.

“Naiklah,” ujar Myungsoo akhirnya.

“Hah?”

“Kubilang naik,” suruh Myungsoo lagi seraya menunjuk kearah sepedanya.

Sooji mengangguk mengerti. Ia segera duduk dibelakang Myungsoo dan memeluk erat pinggang Myungsoo. Sooji tersenyum simpul lalu semakin mengeratkan pelukannya. Sooji kemudian memegang dadanya. Jantungnya kini berdetak tak stabil. Kenapa ia deg-degan seperti ini? Apa ia mulai menyukai Myungsoo? Oh, sadarlah Bae Sooji!

“Sudah sampai,” ujar Myungsoo.

“Oh,” gumam Sooji. Ia segera turun dari sepeda Myungsoo. “Kalau begitu, aku masuk dulu,” ujar Sooji. Ia buru-buru memalingkan wajahnya untuk menutupi wajahnya yang mulai memerah.

“Tunggu.”

Sooji menghentikan langkahnya begitu Myungsoo menahan lengannya. “Ya?” Sooji berbalik menghadap Myungsoo.

“Sebenarnya, ada yang ingin kukatakan padamu.” Myungsoo menatap Sooji lekat. Baru kali ini ia melihat Myungsoo seserius ini. Apa ia ingin menyatakan cintanya? Oh, tidak mungkin, Bae Sooji! Tapi, bagaimana jika ternyata benar? Sooji berjanji, jika Myungsoo menyatakan cintanya sekarang pada Sooji, Sooji akan segera menolak Minho. Sungguh!

“Aku…”

Sooji mengepalkan kedua tangannya. Ayo, katakan, Kim Myungsoo!

“Aku…”

Cepatlah!

“Bae Sooji!”

Myungsoo dan Sooji tersentak kaget begitu mendengar suara berat seorang lelaki memanggil nama Sooji. Sooji membulat tak percaya melihat Choi Minho sudah berada diantara mereka.

“Bagaimana kau tahu aku tinggal disini?” tanya Sooji tanpa sadar.

Kening Minho berkerut mendengar pertanyaan Sooji. Kenapa pertanyaan gadis itu seolah-olah mengatakan bahwa ia tak suka dengan kehadiran Minho? Namun, Minho berusaha untuk tak ambil pusing. “Aku tadi ke tempat kerjamu. Katanya kau belum masuk kerja hari ini. Makanya aku minta alamatmu.” Ia kemudian menoleh pada Myungsoo. “Oh, kita bertemu lagi, Kim Myungsoo. Sooji sudah bercerita padaku. Kalian hanya berpura-pura berkencan untuk mencemburuiku bukan?”

Myungsoo tersenyum miris. Harusnya ia tahu bahwa dari dulu tak pernah terbersit dipikiran Sooji bahwa gadis itu akan menyukai dirinya. “Sepertinya kalian ingin berbicara. Kalau begitu, aku masuk dulu.”

Sooji menatap punggung Myungsoo yang mula menjauh. Kenapa jadi begini? Ia lalu kembali menoleh pada Minho. “Oppa, apa yang kau lakukan disini?”

“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu. Ayo.” Lelaki tampan itu menarik lengan Sooji agar berjalan mengikutinya.

“Apa yang kita lakukan disini?” tanya Sooji heran begitu Minho membawanya ke salah satu restaurant yang menjadi salah satu tempat kencan favorit mereka saat berkencan dulu. Restaurant ini tampak sepi. Sepertinya Minho memang sengaja menyewa tempat ini agar bisa berdua dengan Sooji.

“Sooji-ah!”

Mata indah Sooji membulat tak percaya melihat siapa yang ada dihadapannya kini. Ini… ayah dan ibunya!

“Ayah! Ibu!” Sooji lalu menghambur kepelukan orangtuanya. “Aku merindukan kalian!” Sooji mulai menangis.

“Kami juga merindukanmu.”

Setelah puas melepas rindu, Sooji melepaskan pelukannya. “Kemana saja kalian selama ini?”

“Aku dan ibumu memutuskan untuk memulai semuanya dari awal. Kami memutuskan untuk tidak membawamu karena kami tidak ingin kau ikut menanggung beban kami. Kami akhirnya mulai membuka bisinis kami kembali. Dan akhirnya kami berhasil. Bisinis kita sudah kembali seperti semula. Dan sekarang kita bisa berkumpul lagi, Sooji-ah. Kau, aku dan ibumu. Kita bertiga!”

“Benarkah?”

Nyonya Bae mengangguk. “Semua ini berkat Minho. Tak lama setelah Minho bertunangan dengan anak Tuan Park, kami tak sengaja bertemu dengan Minho. Dia menceritakan semuanya pada kami. Dia mengatakan bahwa dia sangat menyesal dengan apa yang terjadi padamu. Maka dari itu dia memutuskan untuk membantu kami. Kau benar-benar beruntung, nak.” Nyonya Bae menepuk pelan pundak Sooji.

Sooji menatap Minho dengan mata berkaca-kaca. “Oppa, terimakasih.”

Minho hanya tersenyum lalu mengangguk.

“Maka dari itu, Sooji-ah, tujuan utama kita bertemu disini adalah untuk membicarakan pernikahanmu dengan Minho.”

Sooji sontak membulatkan matanya. APA? MENIKAH?!

TO BE CONTINUED

Mungkin – mungkin loh ya – next chapter bakalan tamat. Jadi, kalo kalian mau minta pw, taulah ya nyari aku dimana. Ke twitter @authordinda jangan ke twitter lama aku. Oke? Thankseu!

87 responses to “[CHAPTER – PART 8] MY PRINCESS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s