[Ch.7] You’re My

You're My2You’re My
@Kethychan Present
Cast:
Kim Myungsoo||Park Jiyeon
Other cast:
Choi Minho||Jung Soojung
Genre:
Fantasy –Romance||Sadness –AU
Disclammer:
Hohoho… Kethy balik egen dengan membawa fanfic genre Fantasi yang main castnya Myungyeon egen. Mau gimana lagi kethy dah jatuh cinta dengan couple ini :V. Gk banyak cuap –cuap sihh, happy reading ajh dehh…
Plot is mine, Don’t plagiat
Mulai saat ini kita telah terhubung oleh takdir, jadi aku minta jangan pernah tinggalkan aku

Jiyeon P.O.V

“Jiyeon!” | “Minho –ya!” seruan yang nyaris saja bersamaan. Mendengar panggilan tersebut membuatku sontak saja kembali kealam nyata. Kuperhatikan kedua sosok yang tengah berada dihadapanku, mereka sangat mesra sekali. Myungsoo membiarkan gadis penipu itu bergelayut manja dilengannya. Sedangkan jika aku yang melakukan hal itu dia pasti sudah cepat –cepat menepisnya. Cih! Tak adil. Myungsoo sama sekali tak berreaksi hanya tatapan dingin yang terpancar dengan jelas diraut wajahnya. Menyebalkan!

“Minho –ya! Sejak kapan kau kenal dengan sepupu Myung?” terdengar jelas dia tengah berusaha mencairkan suasana yang hening ini.

“Baru –baru ini. Kalian sedang apa disini?” tanya Minho balik. Terlihat guratan tak senang dari wajahnya manakala ia melihat Myungsoo dekat dengan Soojung. Apakah Minho juga tak menyukai Myungsoo dekat dengan Soojung atau malah Minho diam –diam suka dengan gadis penipu ini. Haist! Kenapa ekspresi wajah Minho sangat sulit sekali terbaca. Semoga saja dugaan kedua ku itu tak benar.

“Hanya sekedar bernostalgia saja, kan Myung?” gadis penipu itu menatap penuh manja kearah Myungsoo –ku. Dan parahnya lagi pria itu malah menangapinya dengan tatapan yang hangat, tatapan yang sama sekali tak pernah kudapatkan dari pria itu sekalipun.

Ok! Aku sudah cukup muak dan gerah dengan sikap manipulasi gadis penipu ini. Ekspresi wajahnya dapat terbaca dengan jelas sekali, hal tersebut membuat ku dapat melihat dengan jelas segala susunan rencana gadis menyebalkan itu.

“CUKUP!!!” pekikku tak tertahankan lagi. Batas kesabaranku sudah diambang batas, aku tak tahan lagi melihat perlakuan manis Myungsoo –ku pada gadis penipu itu. Cukup hentikan senyuman manis itu, hentikan belaian lembut dipipi itu, hentikan tatapan teduh itu Myung! Gadis itu sangat tak pantas. Sama sekali tak pantas mendapatkan perlakuan itu dari mu.

Aku rasa aku akan meledak lagi. Dan dia pasti akan semakin membenciku…

“KAU! Jung Soojung, bisakah kau berhenti untuk memanfaatkan perasaan tulus Myungsoo?! Bagaimana perasaan mu jika kau berada diposisi sebaliknya? Jika kau hanya mendekatinya dan membuatnya semakin mencintaimu hanya untuk keuntungan pribadi, lebih baik tinggalkan dia dan cari MANGSA yang lainnya saja!!” nafasku terengah –engah saat mengatakan hal tersebut hanya dengan satu tarikkan nafas saja. Terlihat jelas raut keterkejutan mereka saat mendengar ucapanku, terlebih lagi Soojung –gadis itu menunjukkan ekspresi seperti terkejut yang sangat teramat karena merasa pikirannya terbaca begitu saja.

Seperkian detik kemudian, terdengar sebuah isak tangis yang begitu memilukan dari gadis itu. Sial! Dia sangat licik sekali, untuk menutupi kebohonganya yang sudah terbongkar dia menunjukkan air mata buayanya. Dengan cepat saja Myungsoo mendekap gadis itu, menepuk –nepuk pelan punggung gadis itu. Myungsoo melemparkan tatapan dingin nan menusuknya padaku. Rasanya ditatap seperti itu, seperti tertikam. Sakit sekali.

“Aku harap kau tak kembali lagi setelah kejadian ini, aku membencimu! Sangat membencimu” hujatnya tajam. Ia berlalu begitu saja membawa Soojung yang masih sesegukan didekapan Myungsoo. Sekilas tampak gadis itu tersenyum miring penuh kemenangan. Air mataku luruh begitu saja saat mendengar ucapan tajam Myungsoo.

Aku jatuh terduduk, tangisku terlepas begitu saja. Sesak sangat menyiksa. Rasa sakitnya jauh lebih menyakitkan dari rasa sakit saat Myungsoo meninggalkan ku waktu itu. Mulutku yang selalu menjadi bomerang ini selalu saja menjadi bom waktu untukku. Aku tak terkendali lagi sama seperti waktu itu dan aku sama sekali tak dapat berubah dari dulu. Pantas saja dewa langit mengurungku. Inikah yang ia takutkan, ternyata pria tua bangka itu sangat mengkhawatirkan ku rupanya.

Jiyeon P.O.V end

Melihat gadis bermata kucing itu jatuh terduduk dengan tatapan yang penuh luka. Segera saja Minho merengkuh tubuh gadis itu, ia merasa ada sedikit keganjalan manakala setelah melihat kejadian barusan. Namun, segera saja ia menepis pikiran tersebut untuk sementara, yang harus ia fokuskan sekarang bagaimana cara membuat gadis dalam dekapannya ini tak menangis lagi.

“Minho, bagaimana ini? Myung –ie membenciku, sekarang dia pasti sangat membenciku karena melukai perasaan gadis itu, aku harus bagaimana Minho?!” pekik histeris gadis itu dalam dekapannya.

“Dia tak mungkin membencimu, Myungsoo tadi hanya emosi saja. Aku yakin dia akan kembali seperti biasa, kau tenang saja. Kau tak salah, gadis itu pantas mendapatkannya,”decak pria itu berusaha untuk menenangkan Jiyeon, tangisnya mulai sedikit mereda. Di tatapnya teduh gadis bermata kucing tersebut.

“Tenang saja, aku ada disini. Selama aku disini semua akan baik –baik saja” hiburnya disertai senyuman teduhnya. Seketika saja tubuh Jiyeon menegang manakala melihat senyuman tersebut, melihat senyuman itu mengingatkannya pada seseorang yang berada dimasa lalunya.

“Pangeran MinHyo!” desisnya begitu saja. Seketika saja semuanya menjadi gelap. Gadis bersurai gelombang tersebut pingsan.

Di tempat yang berbeda…

Myungsoo masih saja berusaha menenangkan Soojung diapartementnya. Gadis itu terus saja menangis, hal itu membuat nya merasa kesal sekaligus sedih dengan bersamaan. Ia kesal dengan sikap lancang Jiyeon tadi dan ia merasa sedih saat melihat gadis yang dicintainya menangis pilu seperti ini. Namun, kalimat Jiyeon tadi kembali mengusik benaknya. Hal itu seketika saja membuatnya menjadi terganggung.

“KAU! Jung Soojung, bisakah kau berhenti untuk memanfaatkan perasaan tulus Myungsoo?! Bagaimana perasaan mu jika kau berada diposisi sebaliknya? Jika kau hanya mendekatinya dan membuatnya semakin mencintaimu hanya untuk keuntungan pribadi, lebih baik tinggalkan dia dan cari MANGSA yang lainnya saja!!” kalimat itu terus saja terngiang –ngiang dibenaknya. Membuatnya semakin terusik.

“Kau tahu, aku ini makluk suci. Mana mungkin aku akan membohongimu. Kata –kata ku semuanya tadi adalah kejujuran, aku sama sekali tak berbohong! Aku dapat membaca pikirannya dengan aku melihat wajahnya, apa kau lupa dengan kelebihan ku itu Myungsoo -shi?!” Myungsoo kembali teringat kalimat itu, kalimat yang terlontar saat gadis itu berusaha mengingatkannya tentang kelebihan yang gadis itu miliki.

Seketika saja Myungsoo merasa mulai ragu dengan gadis yang tengah berada dalam dekapannya ini. Ada sesuatu yang membuatnya mau tak mau harus mempercayai ucapan Jiyeon, namun ada sebagaian dari dirinya yang memintanya untuk tetap mempercayai gadis ini.

“Ini membuatku gila!” rutuknya dalam hati.

*

*

*

Di sebuah apartement dengan design interior yang simple namun berkelas itu. Nampak seorang pria yang tengah menggenggam erat jemari gadis yang tengah tertidur diatas ranjangnya. Gadis tersebut terlihat sangat damai sekali, namun masih dapat terlihat juga guratan kesedihan yang begitu mendalam dalam wajahnya. Pria tersebut sangat khawatir sekali karena sudah terhitung hampir 6jam lebih gadis tersebut tak kunjung bangun, ia sangat mengkhawatirkan gadis tersebut. Ada dalam benaknya memiliki niatan untuk membawa gadis itu ke rumah sakit, namun untuk kesekian kalinya ia merasa ragu dan merasa hal tersebut tak perlu dilakukannya.

“Kau pasti baik –baik saja kan? Cepatlah bangun, ini membuatku khawatir” paraunya yang meremas posesif jemari gadis tersebut.

Di sisi alam bawah sadar Jiyeon…

Tampak disebuah taman tersebunyi kerajaan seorang gadis dengan rambut yang tergerai bebas tengah meringkuk sambil menundukkan kepalanya. Sesekali gadis itu menggerutu kesal namun juga tak dapat dipungkiri ada helaan nafas berat nan pasrah.

Terdengar sebuah derap langkah yang kian mendekat kearahnya. Suara derap langkah yang sangat familiar dalam indra pendengarannya. Sontak saja gadis itu segera mengalihkan pandangannya kearah sosok tersebut, namun masih dengan ekspresi wajah sedihnya.

“Kau kenapa lagi tuan putri Jiyi?” panggilan khas dari sosok tersebut. Di dalam kerajaan ini hanya sosok itulah yang memanggilnya dengan sebutan seperti itu.

“Para orang tua bangka itu semakin mengekangku dan bertindak semau mereka tanpa memikirkan perasaan ku dan unnie” desisnya pasrah, tetapi terlihat jelas guratan penuh kesal.

“Apa yang mereka lakukan?” tanya pria tersebut penuh rasa penarasan dan tertarik dengan pembicaraan ini.

“Mereka memutuskan untuk menikahkan ku dengan pangeran SeungHoo yang nyata –nyata nya tunangan unnie ku sendiri. Mereka sudah gila! Hanya karena unnie yang sakit –sakitan dan tak memungkinkan untuk mendapingi pangeran SeungHoo jadi mereka memutuskan aku untuk mejadi penggantinya. Ini membuatku kesal, aku tak bisa merebut orang begitu berharga bagi unnie. Terlebih lagi keduanya saling mencintai, aku tak bisa melakukan ini. Apa yang harus aku lakukan pangeran MinHyo?!” isak tangis itu pecah. Dengan gerakan gesit pangeran tersebut merengkuh tubuh gadis bersurai gelombang itu. Menepuk –nepuk pelan punggung gadis itu, berharap dengan hal itu bisa sedikit menenangkannya.

“Tenang saja, selama aku disini. Semua akan baik –baik saja.” Ucapnya dengan senyuman teduh. Yang seketika saja membuat gadis bersurai gelombang tersebut mendongkak dengan menunjukkan tatapan penuh harapnya.

“Benarkah itu? Bisakah aku mempercayaimu pangeran MinHyo?” melihat tatapan penuh harap tersebut, seketika saja dibalas dengan anggukkan mantap. Senyuman manis terlukis dengan jelas diwajah gadis tersebut.

“Kau terlihat lebih cantik jika tersenyum, putri Jiyi”

Seketika saja gadis bersurai gelombang tersebut tersentak, dengan nafas yang masih terengah –engah ia mengusap peluh yang memenuhi dahinya. Minho yang sejak tadi masih setia berada disisinya, seketika saja dengan gerakan cepat merengkuh tubuh gadis itu.

“Syukurlah kau sadar. Aku sangat mengkhawatirkan mu” sentaknya penuh haru. Senyuman manis terkembang diwajah Jiyeon saat mendengar ucapan dari Minho.

“Sikapmu mengingatkan ku pada seseorang dimasa lalu. Apakah sosok yang berada dihadapanku saat ini adalah renkarnasi mu, pangeran MinHyo?”

“Tenang saja, nan gwenchanayo. Ehm, Myung –ie ada menghubungimu?” kini tatapan penuh harap terlihat dengan jelas diwajah pucat Jiyeon. Setidaknya ia ingin memastikan bahwa mungkin saja pria itu berubah pikiran.

“Tidak, sama sekali tidak” sahut pria itu dengan dingin.

Uhk! Uhk!
Jiyeon kembali terbatuk mengeluarkan darah seperti saat itu. Kini pun hidungnya sudah mengeluarkan banyak darah. Ia kembali merasakan rasa sesak yang seperti terhimpit. Ia tahu ini sudah batasnya ia menggunakan kekuatannya untuk menahan sakit akibat berjauhan dari Myungsoo. Energinya sudah benar –benar diambang batas, ia tak mampu lebih lama lagi untuk berjauhan dengan Myungsoo. Ia membutuhkan Myungsoo sekarang. Minho yang melihat keadaan gadis itu yang kian kembali memburuk menjadi kalut.

“Kita kedokter sekarang!” sentak pria tersebut yang kini telah menggendong tubuh lemah Jiyeon.

“Tidak, kita tak butuh kesana. Aku hanya membutuhkan …”

Myungsoo P.O.V

Selepas Soojung meninggalkan apartement, pandangan ini kini menerawang jauh keatas langit –langit kamar. Kembali serentetan kalimat yang diucapkan oleh Jiyeon kembali mengusikku dan membuatku semakin meragukan sosok Soojung yang kini kian mendekat padaku.

“Siapa yang harus aku percaya?” lirihnya.

Tubuh ku seketika saja menegang manakala aku tak dapat bernafas dengan baik. Aku merasa seperti pasokkan oksigen disekitarnya mulai menipis sampai –sampai membuatku terasa seperti tercekik.
Jiyeon. Seketika saja nama sosok gadis itu terlintas dengan jelas dalam benak ini. Astaga! Aku lupa nyaris hampir satu hari ini dia jauh dariku. Bagaimana dengan keadaannya sekarang?!

“Dia pasti bersama dengan Minho sekarang!” segera saja aku menuju apartement Minho. Tsk! Jika seperti ini terus bagaimana aku bisa menjalani kehidupanku jika kami terus terhubung seperti ini.

Myungsoo P.O.V end

“ –Myungsoo, cukup dia Minho –ya”lirih Jiyeon yang kini menggegam erat kerah baju Minho. Entah mengapa seketika saja tubuh Minho menegang manakala mendengar nama itu meluncur dengan bebasnya dari bibir gadis yang baru beberapa hari ini dikenalnya. Ia merasa tak begitu senang gadis tersebut begitu membutuhkan Myungsoo –sahabat karibnya sedangkan dirinya disini mungkin bisa menolong nya.

“Myungsoo bukan dokter, Jiyeon! Yang kau butuhkan sekarang adalah dokter” pekiknya panic karena darah yang keluar dari mulut dan hidung Jiyeon kian membanyak. Wajah gadis tersebut sangat pucat dan tersiksa. Ekspresi yang sama seperti pertemuan pertama mereka waktu itu. Minho tak bisa membiarkan hal ini terjadi.

“Tidak Minho, kumohon jangan kedokter. Aku benci…” lirihnya parau.

Seberapa banyak lagi aku mengatakan semua kebohongan ini. Minho kau terlalu baik, kau tak pantas mendapatkan semua kebohongan ini. Maafkan aku, jika waktu sudah tepat aku akan memberitahukan semuanya. Sekali lagi, maafkan aku.
Jiyeon terisak dalam rasa sakitnya. Rasa sakit didadanya jauh lebih menyakitkan dari rasa sakit fisik yang ia terima saat ini. Ia merasa sangat jahat karena telah membohongi orang sebaik seperti Minho.

“Minho, mian –“ kalimat Jiyeon terhenti sejenak manakala ia mendapati Myungsoo kini telah berdiri mematung tepat dibelakang tubuh Minho. Tatapannya begitu dingin sekali manakala melihat jarak yang begitu dekat antara dirinya dan Minho. Namja yang tengah menggengam tangannya posesif itu, sama sekali tak menyadari keberadaan Myungsoo yang nafasnya kini terengah –engah.

Sret…

Dengan gerakkan cepat Jiyeon kini sudah berada didalam dekapan Myungsoo. Entah mengapa tatapan tak suka terpancar sangat jelas diwajah namja tersebut manakala melihat Minho menatapnya tajam. Di dekapnya posesif tubuh lemah Jiyeon.

“Kau meninggalkan aku lagi…” lirihnya parau.

“Tsk! Kau lebih mementingkan gadis lain sedangkan kau mengacuhkan sepupu mu sendiri yang sedang sakit –sakitan. Harusnya kau menjaganya dirumah bukan nya berkencan dengan wanita lain, saudara macam apa kau ini,” desis Minho tajam.

“Kau tak tahu apa –apa, jadi –“ kalimat Myungsoo terhenti manakala ia merasakan sebuah cengkraman kuat dibajunya. Mata sayu itu menatapnya dalam.

“Cukup Myung –ie, Minho sudah banyak menolongku.” Bela gadis tersebut, kemudian ia alihkan pandangannya kearah Minho seulas senyuman manis tergambar jelas diwajahnya.

“Minho –ya gomawo… Kau benar –benar mengingatkanku dengan sosoknya”

To Be Continue…

*Cuap2 Author*

Hohohooh ane is back…
adakah yang nunggu kehadiran epep ini?
Gmna rsanya setelah bca epep ini?
Makin gregetan? Kesel? Trus masih penasaran kga dengan siapa sebenernya Jiyi dlu sebelum mnjadi makluk legenda?
hoho klo gtuh karena ane lgi sangat berbaik hati ane ksih sdikit bcoran dehh buat next chap..
Pokoknya di next chap bkal lebih banyak mungkin hampir setngah certa bkal menceritakan tentang flashback kehidupan Jiyeon dlu dan semua nya bkal kejawab. Dan bang Myung juga bkal mulai curiga sma mvok soojung -_-v dan yang terakhirr bkal ada deklarasi perang antar duo sobat
ngehehe sekian dulu yehhh semoga ajeh bkal cepet sooonya

Kethy sedih bnget nihh respon di Ch. yg kmrin dkit bnget T.T truun drastis gtuh, sedihnya.
Ane hrap dch. ini respon mningkat lgi yehhh, jan lupa tinggalkan jejak lohh jan asal kbur T.T
annyeong~

70 responses to “[Ch.7] You’re My

  1. aaaaaaaaaaaaaaaaaa gereget banget nih sama myungsoo iiiiiiiii><
    eemm jadi penasaran sama sipangeran minhyo dan kehidupan masa lalu nya jiyi sampe dia dikurung sama dewa langit
    anyway dewa langit siapanya jiyeon? kok perhatian banget sih hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s