[CHAPTER-PART 2] High School OF Love

HOL

Author : amaliachimo

Title : High School OF Love

Main cast : Park Jiyeon, Jung Sojung (Krystal), Kim Jongin, Kim Myungsoo 

 Genre : mix (?)._.  

Length : Chaptered  

Rating: PG-17

 Prolog | Chapter-Part 1 

Jongin turun dari bus dengan terburu-buru sambil memegangi perut, yang rasa sakitnya semangkin menyiksa itu.

Aishh, baru kali ini aku memakan takoyaki isinya lada semua.”gumam Jongin sambil sesekali menoleh ke belakang—waspada kalau-kalau Jiyeon mengikutinya turun.

Sesampainya di rumah, Jongin langsung bergegas ke toilet. Kakak iparnya yang berada di dapur dengan dua kantung barang belanjaan di tangan melihat tingkah Jongin terheran-heran. Bahkan Jongin sama sekali tidak memberi salam atau sekedar menyapa Seungyeon—kakak iparnya itu. Ada apa dengannya? Bati Seungyeon dengan ekspresi  yang berubah khawatir, saat mendengar suara aneh dan mencium bau busuk dari dalam sana.

***

Mondar-mandir di sekitar tempat tidur. Hanya itu kegiatan Jiyeon sejak pulang sekolah tadi, bahkan ia sampai tidak terpikirkan untuk melepas seluruh atribut sekolahnya, kecuali sepatu yang sudah menghiasi rak sepatu. Pikirannya terus-menerus dihantui dengan segala macam imajinasi buruk tentang kondisi Jongin saat ini, tidak seharusnya ia membiarkan lelaki itu turun dari bus dan berjalan pulang sendirian. Jiyeon sangat menyesal.

Di dalam imajinasinya kini Jongin tergeletak tidak berdaya di jalan dan tidak ada satu orang pun yang menolong. Kemudian berganti lagi dengan Jongin yang tergeletak di tempat tidurnya dengan keadaan sekarat sambil meremas perutnya sendiri, lalu semua orang terlihat menangis setelah Jongin memberikan pesan-pesan terakhir.

Ani..ani aku tidak mau Jongin sampai mati, katanya dalam hati sambil menggelengkan kepalanya cepat. Ah, Krystal aku minta tolong padanya saja. Pikir Jiyeon akhirnya.

Jiyeon cepat-cepat merogoh saku kemejanya yang berbalut blazer coklat ala sekolahnya. Di dapatlah handphone dari dalam sana. Ia menggeser dan menekan layar sentuh handphone tersebut, lalu meletakkannya di samping telinga. Tidak butuh waktu lama tersambunglah dengan Krystal yang etah sedang berada di mana.

Yeobseo, Jiyeon-aa ada apa?’

“Bagaimana dengan pengarahan untuk olimpiademu? Sudah selesai?”

‘Hmm, sudah kok, sekarang aku dalam perjalanan pulang ke rumah.’

“Apa sudah melewati halte komplek rumah Jongin?”

‘Belum, Wae—‘

“Huh, untunglah. Krysie, tolong mampir ke rumah Jongin!”tanpa Jiyeon ketahui, kini Krystal yang sedang duduk di dalam bus mengerutkan keningnya sambil bergumam ‘Mwo?’,”Aku sangat khawatir padanya, sepertinya ada sesuatu yang menggangu perutnya. Sejak pulang tadi, dia terus saja menekan perutnya dengan berkeringat, seperti menahan sakit. Aku hanya ingin kau memastikan kalau dia baik-baik saja, Jongin kan sahabatmu sejak kecil, pasti kau juga tidak mau kan sesuatu yang buruk terjadi padanya.”tutur Jiyeon dengan tampang memohonya,”Tolonglah! aku takut dia pingsan di tengah jalan atau mungkin diculik para pereman.”dan penuturanya terhenti saat kata-kata ‘diculik para pereman’ ikut terucap. Jiyeon sadar akan ucapan terakhirnya yang sebenarnya tidak ada hubungannya.

Dengusan Krystal sampai ke telinga Jiyeon,’Kenapa tidak kau telepon saja?’itu yang terdengar selanjutnya.

“Akan lebih tenang jika ada yang memastikannya langsung.”

‘Kalau gitu, kau saja yang memastikan.’

“Jongin pasti tidak akan mengizinkanku masuk ke rumahnya. Ku mohon Krysie.”

Krysatal menghembuskan nafas berat lalu berkata,’Baiklah, akan ku kabari nanti. Annyeong.’sambungan terputus.Tut. Tut. Tut. Setelah mendengar itu, kini Jiyeon bisa bernafas lega dan duduk bersandar di tempat tidur cantiknya.

***

Yaa, tidak bisakah kau berhenti menggangu hidupku sehari saja.”bentak Krystal yang masuk ke dalam kamar Jongin begitu saja dengan melipat tangan di atas dada.

Wajah Jongin mengkerut, melihat Krystal yang sudah berdiri di pinggir tempat tidurnya,”Berhenti, menatapku seperti itu! Kau mengerikan.”katanya setelah dengan reflek menyilangkan kedua tangan di atas dadanya yang polos.  Saat ini, Jongin tengah berbaring dengan bertelanjang dada dengan kantung hangat di atas perutnya.

Aishh, kau bukan tipeku kerempeng.”ejek Krystal sambil memalingkan wajah ke arah lain,”bahkan tubuhmu tidak lebih baik dari Lee Kwangsoo.”

Mwo?”Jongin menepuk-nepuk dadanya tidak habis pikir dengan ucapan Krystal barusan,”Kau terlihat baik-baik saja.”duga Krystal tiba-tiba, tanpa peduli dengan Jongin, yang masih tidak terima dengan ejekannya tadi.

“Apa maksudmu?”

“Kau pikir untuk apa aku ke sini?”Jongin memberikan tatapan heran setelah pertanyaannya justru ditimpali lagi dengan pertannyaan yang sebenarnya hanya bisa dijawab oleh Krystal sediri,”Jiyeon mengkhawatirkanmu, dia bilang kau berkeringat dan terus menekan perutmu. Jadi, aku disuruhnya ke sini untuk memastikan keadaanmu. Kau baik-baik saja kan?”

“Tentu saja tidak, kau tidak lihat kantung hangat di atas perutku ini?”

“Kau terlihat seperti remaja yang sedang datang bulan.”jawab Krystal dengan sangat santai.

Yaa, perutku ini sakit karena lada, araseo!”bentak Jongin jengah melihat sikap acuh sahabatnya itu.

Mwo? Pabo, sudah tahu tidak kuat pedas, masih saja berani memakan lada.”

“Aku tidak memakan lada, tapi—“Jongin menggantung kalimatnya, menimbang pembelaan tentang kenyataan yang terjadi,”Apa? Memakan makanan yang berbahan dasar lada? Sama saja.”sela Krystal tidak sabar.

“Bukan seperti itu, aku rasa dia salah menaburkan bumbu ke dalam takoya—‘tepat pada saat ini mata Krystal yang menyipit penuh selidik bertemu dengan pancaran ragu dari mata Jongin,”—akh, sudahlah.”

Krystal berdecah,”Intinya sekarang kau sudah baik-baik saja kan?”tanyanya memastikan lagi keadaan Jongin yang menjadi tujuan awalnya itu.

Nde, lebih baik dari sebelumnya.”

“Sukurlah, aku akan mengabari Jiyeon, dan lain kali kau harus lebih pintarlah dalam memilih makanan!”

Usai memberi peringatan di akhir kalimatnya, Krystal berbalik dan beranjak dari tempatnya berdiri—di samping tempat tidur Jongin. Namun, langkahnya tertahan oleh gengaman tangan Jongin di tangan kirinya.

Wae?”tanyanya malas, tanpa berbalik.

“Bantu aku mengerjakan soal matematika Sojung-aa!”pinta Jongin sambil menyingkirkan bantalan hangat dari atas perutnya lalu mendudukan diri di atas tempat tidur.

”Lupakan!”tolak Krystal lalu menghempaskan tangan Jongin yang masih menggenggamnya.

“Ayolah! Kau tidak pernah menolakku sebelumnya.”bujuk Jongin memohon dengan kembali menahan tangannya.

“Mengertilah! kali ini aku punya saingan.”lemahnya lalu mendudukan diri di pinggir tempat tidur Jongin,”aku perlu menyusun strategi dan banyak belajar.”

“Kang Minhyuk maksudmu?”Jongin memberikan kesimpulan sambil berpikir sejenak dan ketika itu pula Krystal menganguk dengan wajah muram,”Seharusnya kau bersukur, aku ini sedang membantumu. Ketika kau mengajari teman maka kau akan menjadi semakin pintar. Kau pernah dengar tidak, quote semacam itu?”

Lirikan mata tajam kini di dapat oleh Jongin yang tengah menyengir, Krystal tahu dibalik penjelasan pemuda itu sesungguhnya tujuan Jongin hanya satu yaitu membujuknya.

“Dasar licik.”Krystal mendorong Jongin dengan kakinya, lalu bangkit dari duduknya,”Pali, pakai bajumu!”

Jongin yang terdorong akibat ulah kaki Krystal tersenyum penuh kemenangan kini, ia tidak seperi orang yang habis di tendang.

***

Beberapa bulan terakhir ini Jiyeon semakin rajin untuk belajar masak di dapur bersama Song Minjung—wanita tua yang sudah sangat lama bekerja sebagai asisten rumah tangga untuk keluarganya. Satu-persatu bawang diiris dengan tidak rapih olehnya, namun ia tetap berusaha walau pikirannya menginap pada Jongin.

Omo? ladanya habis nona—”Jiyeon menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengiris itu, lalu menoleh pada Minjung di sebelah kanannya,”—padahal kemarin masih terisi setengah.”benar saja tempat lada yang besarnya dua kali jempol orang dewasa itu terlihat kosong.

Jiyeon tidak merespon lagi, ia hanya memandangi tangan keriput Minjung yang masih memegangi tempat lada yang terbuat dari kaca. Sampai, handphone yang berada di dalam saku celananya dirasakan bergetar. Dengan cepat ia mengambil handphone itu lalu dihadapkan ke wajahnya, terlihat satu notifikasi dari layar handphone.

“Nona, saya pamit membeli lada dulu, di mini market.”pamit Minjung,”Ye, Pelayan Song.”respon Jiyeon akhirnya tanpa beralih dari layar handpone yang kini mendapat tekanan dari jempolnya.

From : Krystal

Tadi Jongin hanya sakit perut karena lada. Tapi, kau tidak perlu khawatir lagi Ji, sekarang dia sudah baik-baik saja.

Ternyata satu pesan masuk dari Krystal itu mampu membuat Jiyeon tersenyum lega. Namun, sesuatu menggangu pikirannya lagi. Jiyeon kembali mengalihkan padangan pada tempat lada yang kini tidak lagi berada di tangan Minjung, tapi di atas meja dapur.

Omo?”mata dan mulut Jiyeon membulat sempurna,”Apa mungkin tadi pagi yang aku tabur di atas takoyaki bukan nori bubuk tapi lada bubuk.”duganya lalu mengigit bibir bawahnya,”Aish, pabo. Mianhae Jongin-aa.”

***

Pagi-pagi sekali Jiyeon sudah berlari menuju kelas Jongin. Namun, belum sampai ia ke tempat tujuan Kyungsoo dan Chunji sudah menahan langkahnya.

Annyeong.”sapa kedua teman terdekat Jongin itu sambil tersenyum ramah.

Jiyeon mengerut—bingung. Namun, setelah Chunji menyodorkan tangannya yang memegang kotak makan berwarna kuning, Jiyeon baru mengerti.

Yaa,”Kyungsoo dan Chunji menunduk seakan merasa bersalah karena teriakan Jiyeon itu,”Jongin sama sekali tidak mencicipi takoyaki buatanku?”nada suara gadis itu pun langsung melemah setelah sebelumnya mengembuskan nafas berat.

“Nde,”jawab Kyungsoo dan Chunji lalu menganguk.

“Sukurlah, berarti yang kemarin itu bukan karena aku.”Jiyeon tersenyum setelah mengatakannya, yang langsung membuat Kyungsoo dan Chunji secara bersamaan berkedip-kedip bingung padanya,”Omo? Tapi perut kalian tidak apa-apakan?”

Ani.”jawab keduanya masih dalam kebingungan.

Jinja?”kali ini mereka hanya menganguk menghadapi wajah tidak menyangka Jiyeon.

“Lalu, bagaimana rasanya?”ekspresi wajah Jiyeon berubah sangat penasaran dan makin penasaran, menunggu jawaban dari kedua sahabat Jongin yang terlihat sangat berpikir keras hanya untuk menjawap pertanyaan sesederhana itu.

“Enak sekali.”jawab mereka, lagi-lagi bersamaan. Bahkan cara tertawa dan mengacungkan jempol mereka pun sama. Benar-benar kompak, hingga membuat Jiyeon tertawa.

“Berarti tidak ada masalah dengan takoyakiku hehe..”

Jiyeon langsung berbalik dan pergi meninggalkan kedua pemuda yang kini bertatapan di ambang pintu kelasnya itu.

“Tumben rubah itu tidak menyerang?”tanya Chunji, lalu dilanjutkan dengan kedua bahu Kyungsoo yang naik. Mereka sama-sama tidak mengerti.

***

Kegiatan baru Krystal. Dengan topi bebek berwarna kuning yang menutupi sebagain dari wajahnya, Krystal mengintai Kang Myinhyuk—sangingan barunya. Sampai-sampai di istirahat kali ini, perut rampingnya terpaksa harus puas hanya dengan roti coklat yang berukuran tidak lebih dari telapak tangannya sendiri. Krystal memegangi perutnya yang terus berbunyi, sepertinya kini cacing-cacing di dalam perut itu telah berhasil membentuk kelompok paduan suara. Terdengar nyaring dan kompak sekali.

Aishh, kenapa dia lama sekali. Waktu istirahat tinggal tiga puluh menit lagi, apa dia tidak lapar?”keluh Krystal sambil melihat jam tangan merahnya.

Di saat seperti ini, Krystal baru menyadari betapa penting posisi Jongin sebagai sahabatnya. Kalau saja, pemuda menyusahkan itu tidak memberinya roti coklat tadi pagi. Mungkin, sekarang ia sudah ditemukan pingsan di area dekat toilet. Menyedihkan. Lain kali, ia harus memiliki persiapan lebih matang lagi untuk kegiatan barunya ini. Ia pun mengerti, menjadi mata-mata Si-Mata-Empat-Kang-Minhyuk lebih menyusahkan ketimbang menjadi sahabat Si-Hitam-Kim-Jongin.

Akhirnya pintu toilet pun terbuka dengan menampilkan sosok Minyuk yang keluar dari dalam sana. Seketika rasa laparnya sirna, ia kembali menegakan tubuhnya dan mulai menggunakan teropong yang terkalung di lehernya. Kemudian Krystal keluar dari balik tembok persembunyiannya, lalu mengikuti Minhyuk dari belakang. Tentunya dengan mindik-mindik.

***

“Membosankan sekali, istirahat tanpa Krysie—“sesaat Jiyeon merengutkan bibirnya,”—Jongin pun entah berada di mana, bagaimana bisa semua temannya tidak tahu. Kalau tidak ada jadwal latihan Football, mereka kan pasti berkumpul bersama—“lalu gadis itu membuang nafas panjang, ia tiba-tiba teringat seseorang yang selalu menemaninya dan sangat menyukai tempat yang ia datangi ini,”—seandainya Myungsoo di sini. Aku merindukanya.”

Buk. Buk. Suara dribble itu membuat Jiyeon semangkin mengingat Myungsoo, bahkan kini ia seperti bisa membayangkan Myungsoo yang sedang bermain basket di lapangan in dor ini. Dum. Sekarang bola berwarna biru tua itu berhasil masuk ke dalam ringnya, setelah melewati kepala Jiyeon.

“Myungsoo..”gumam Jiyeon yang tertegun penuh harap melihat bola itu, memantul di bawah ring. Tidak lama, terdengar suara gesekan sepatu dari belakangnya. Sesosok pemuda berlari menuju ring, setelah melewatinya. Pemuda itu, langsung mengambil bola yang memantul hanya dengan satu tangan.

“Jongin?”

Jiyeon terkejut melihat bukan Myungsoo yang ia lihat, melainkan Pangeran Jonginnya. Ada sedikit perasaan kecewa, karena tidak sesuai harapan. Akan tetapi, ini sepertinya malah jauh lebih baik. Mata Jiyeon tampak langsung berbinar, melupakan rasa kecewa sesaat itu.

“Jongin, kau juga bisa bermain basket?”tanya Jiyeon sambil berlari menghampiri Jongin.

Ne.”jawab Jongin acuh tak acuh.

Daebak,”Jiyeon memberikan dua ibu jarinya ke hadapan wajah Jongin sambil tersenyum,”kenapa kau hanya sendiri, Jongin-aa?”

“Apa kau itu hantu?”tanya Jongin acuh tak acuh, sambil terus men-dribble bola basketnya.

Aku? Hantu? Batin Jiyeon dengan ekspresi bingungnya. Tanpa menunggu jawaban dari pertanyaan asalnya, Jongin melempar bola basket ke arah Jiyeon. Reflek gadis itu menangkap bola basketnya.

“Lempar bola itu mengarah pada ring! Jika bolanya tidak masuk, kau bisa menjadi lawan mainku.”

Mendengar ucapan Jongin yang terkesan memerintah itu, membuat Jiyeon menepis kebingungannya. Lebih baik ia fokus dengan bola basket di tangannya ini, ketimbang memikirkan pertanyaan membingungkan Jongin. Karena ia tidak mau membuang-buang kesempatannya untuk bersama Jongin.

Jiyeon mengambil ancang-ancang. Tidak masuk, batin Jiyeon lalu melempar bola basket di tangannya mengarah pada ring. Benar saja, bolanya tidak masuk. Jiyeon menarik sikunya ke bawah sambil berkata ‘yes’ dalam hati.

Rasanya Jongin ingin sekali tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Jiyeon, yang menurutnya bodoh. Akan tetapi, image-nya yang cool sayang sekali untuk ia tinggalkan, terkecuali dihadapan Krystal. Jadi, dengan usaha keras ia berusaha biasa saja.

Pertandingan satu lawan satu di mulai. Jongin dan Jiyeon berdiri dengan posisi berhadapan. Di tengah-tengah mereka ada garis lurus berwarna putih yang memisah kawasan masing-masing. Bola dipantulkan ke atas. Keduanya sama-sama lopat untuk meraih bola yang mulai jatuh lagi. Melihat tinggi Jongin yang jauh di atas Jiyeon. Sudah bisa dipastikan bola jatuh ke tangan Jongin, apalagi Jiyeon memang tidak mahir bermain basket.

Jongin men-dribble bola, menembus pertahanan Jiyeon. Pemuda itu melakukannya dengan karisma yang terpancar terus-menerus. Jiyeon sudah pasti terpikat. Dari pada menghalangi pergerakan Jongin, nyatanya Jiyeon lebih memilih menjadi lawan tak berdaya, yang justru mengangumi lawannya sendiri.

“Yeaahh, berhasil!”teriaknya sambil bertepuk tangan melihat kemenangan Jongin. Padahal bola yang di-dribble pemuda itu, berhasil masuk dengan mulus ke dalam ringnya. Jiyeon menggeleng kepalanya cepat-cepat. Sepertinya ia mulai sadar akan kebodohannya sendiri. Aku tidak boleh lengah hanya karena ketampanan Jongin, pikirnya. Jiyeon berlari menuju Jongin yang kini menggiring bola dengan santai.

Bola itu berhasil tertangkap tangan munggil Jiyeon. Tapi sayangnya, Jongin pun berhasil menahan bolanya. Jiyeon menarik bola itu sekuat tenaga sambil menepis segala rasa kagumnya pada Jongin. Biar bagaimaapun, saat ini ia dan Jongin adalah lawan. Dan tampaknya seluruh energi yang Jiyeon keluarkan sia-sia saja, karena Jongin tak berminat untuk berebut bola dengannya. Jongin melepaskan bola itu. Pada akhirnya, Jiyeon terjatuh bersama bola itu dengan kekuatannya sendiri.

“Kalau seperti ini, kau tidak akan berhasil. Aku perlu mengajarimu beberapa tehnik.”

Jongin mengambil bola dari Jiyeon yang tak berdaya di atas lapangan, lalu membawa bola itu ke tengah lapangan.

“Kemarilah!”ajak Jongin. Tanpa berpikir banyak hal yang rumit, Jiyeon mengikuti ajakan Jongin. Meski sebenarnya Jiyeon saat ini, tengah berkelut dengan rasa sakit dan malu yang bercampur menjadi satu.

***

Yaa Kang Minyuk, kenapa kau lama sekali?”tanya Lee Joon dengan tampang sok berkuasanya.

Mian, tadi aku ke toilet dulu.”

Tiga sapu lidi langsung terlempar ke hadapan Minhyuk. Tak banyak yang bisa Minhyuk lakukan, selain memunguti satu-persatu sapu lidi ini dan mengikuti perintah ketiga pentolan sekolah ini. Sebagai pemimpin Lee joon lah yang paling banyak bicara, sementara dua lainnya hanya terus menertawai Minhyuk.

“Lanjutkan tugas kami! Ingat, jangan sampai ketahuan!”

Krystal dari posisi mengintipnya di balik pohon, dibuat terkejut. Ada masalah apa Minhyuk dengan gank berandal Lee Joo, yang terkenal sok keren itu, pikirnya. Bahkan, sebelum ketiga mahluk pembuat onar itu pergi, Minhyuk sempat mendapat kekerasan fisik. Meski hanya sebuah tempeleng, aksi itu hampir membuat Minhyuk terjatuh. Krystal jadi kesal sendiri melihatnya.

***

Ruang kelas yang kosong. Suzy masuk ke dalamnya dengan wajah panik luar biasa. Dengan tergesa-gesa Suzy meneliti seisi ruangan, mencari dari sudut ke sudut, cela ke cela, kolong ke kolong, dan seterusnya. Hingga keringat mengucur ke seluruh tubuhnya, Suzy tetap tidak menemukan apapun. Tapi, ini baru setengah jalan ia tidak boleh menyerah.

Tap. Tap. Suara langkah kaki, mengusik pergerakan Suzy di bawah meja. Duk. Kepalanya terbentur langit-langit meja.

“Sedang apa kau di mejaku?”

Aishh.”

Suzy mengelus kepalanya sendiri, lalu bangkit dari posisi jongkoknya perlahan. Kenapa harus alien sok pintar ini yang memergokinya? Pikir Suzy. Ia sangat hafal suara cempreng Krystal, karena sebelas-duabelas dengan suaranya.

“Bukan urusanmu.”

Rambut kusut. Wajah berdebu. Bau keringat. Kacau itu kesimpulan Krystal melihat keadaan Suzy yang baru saja melewatinya itu. Ada apa dengannya? Batin Krystal tak habis pikir. Untuk beberapa saat ia membeku dengan mata super besar seperti habis melihat hantu.

Krystal menaruh tas di mejanya, lalu bergegas menjalankan piket. Hari ini Krystal lagi-lagi harus ikut kelas tambahan bersma Minhyuk setelah jam sekolah selesai, jadi mau tidak mau ia harus piket sendirian. Sisi baiknya, gadis ini hanya akan membereskan sisanya. Toh, kelas sudah terlihat bersih, meski masih tampak berantakan. Usut punya usut, keadaan ini disebabkan oleh ratu sejagat yang kacau tadi—Suzy. Krystal mengupat untuk gadis itu habis-habisan, sambil merapihkan kelasnya dengan telaten.

“Apa itu?”

Krystal meraih sesuatu di bawah mejanya. Saat ini, giliran mejanya sendiri yang ia bereskan. Gadis itu menemukan selembar foto yang membuatnya tercengang.

“Myungsoo? Suzy?”

TBC

23 responses to “[CHAPTER-PART 2] High School OF Love

  1. aigoo jadi jongin makan bekal makan siang dari jiyeon? jangan2 selama ini sebenernya jongin yg makan terus cuma dia gengsi buat ngakuin haduuuh jongin-ah gengsimu terlalu besar hahaha
    krysie semangat jafi mata2 minhyuk ya hahahaa
    ada hubungan apa myungsoo sama suzy? apa jangan2 mereka pacaran? lanjut baca ya

  2. haha jongin pasti makan punya jiyeon trus nukar yg baru buat temen nya wkwk buat nyelamatin jiyeon jg mgkin gk diledek temen2
    krys jd kasian k minhyuk nih ..
    kerenn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s