High School (Chapter 7.5)

FF High School

This story belongs to brownpills.

Romance, Schoollife, Friendship I Chaptered I PG-14

Cast by Kim Myungsoo, Park Jiyeon, Jeon Jungkook, Bae Suzy, Jung Krystal

NEW CAST : Lee Hongbin vixx, Lee Jieu(IU)

Pure of mymind. Inspired of some problems.

Let me see~

.

Aku membutuhkanmu.

Kenapa aku jatuh cinta sendiri? Kenapa aku tersakiti?

Aku membutuhkanmu.

Kenapa aku tetap membutuhkanmu meski aku tahu aku akan terluka.

-High School

Jungkook’s PoV

Langit berlukiskan awan biru terlihat dari jendela lebar yang terletak di sisi ranjang. Tirai beludru bergoyang akibat udara yang melewati celah jendela. Menyapa wajah pucat pasi milikku.

Perban kecokelatan melingkari kening kepalaku. Selang infuse tergantung di tiang samping kanan ranjang. Jarumnya menusuk punggung tanganku. Membuatku sedikit sulit untuk bergerak.

Beberapa tulang punggungku retak. Namun tidak separah yang kubayangkan karena rasa sakitnya menjalar luar biasa. Aku mencoba untuk menyandarkan diri pada kepala kasur rumah sakit. Terasa empuk saat aku duduk.

Bunyi ponsel berdering memecah keheningan dalam ruangan ini. Aku menjulurkan tangan meraih ponsel yang berada pada meja. Begitu membaca nama ‘eomma’ pada layar ponsel aku tersenyum singkat sembari menggeser tombol hijau di monitor ponsel.

Yoboseyo.”

“Jungki-ya, obatnya sudah diminum?” suara lembut wanita tua menggelitik telingaku.

“Sudah, eomma.”

“Mianhae hari ini eomma dan appa tidak bisa menemanimu di rumah sakit. Ada sedikit masalah di kantor.”

Gwenchana~ Lagipula eomma, aku bukan anak tk lagi sekarang,” sejujurnya aku sedikit kesal pada sikap overprotective-nya.

“Eomma malu pada diri eomma sendiri. Disaat kau sedang sakit, eomma dan appa malah berada di luar kota sekarang.”

Eomma,” desisku, “Nan gwenchana! Ini bukan luka serius.”

“Bukan luka serius bagaimana?!” dengusnya, “Wajahmu terlihat kesakitan saat pulang kemarin. Ya! Jika appa tau kau bertengkar, dia tidak segan segan menghukummu.”

“Aish.”

“Jangan suka berkelahi, Jungki-ya. Jaga sikapmu.”

Neee, eomma,” ucapku dengan nada yang dibuat-buat.

Setelah itu sambungan telepon terputus. Aku menghela nafas pelan. Lantas aku mengedarkan pandangan. Menyadari betapa kosongnya di dalam sini.

 

PING!

 

Ponsel yang masih dalam genggamanku kembali bergetar. Simbol pesan masuk tertera dalam ponsel. Aku menekan layar ponsel membuka kuncinya. Sontak kedua mataku membulat begitu membaca isi pesan masuk itu.

 

                 Lee Hongbin

                 Pacarmu tidak akan selamat hari ini di Cheongsando.

 

Tanpa babibu, aku melepaskan tusukan jarum infuse. Perih rasanya hingga terlupakan. Meninggalkan perban cokelat di punggung tanganku. Masih tertatih-tatih aku segera menggerakan kaki dengan cepat.

***

 

Cheongsando, pulau yang cukup jauh di selatan.

 

Tap! Tap! Tap!

 

BRAK!

 

“Lee Hongbin—“

 

“—berhenti melepaskan dendammu pada orang yang tidak bersalah.”

 

Pria berparas keji itu tersungkur di lantai. Bola matanya memperlihatkan kegelapan yang mengerikan. Tubuhnya perlahan beranjak berdiri sembari menepuk tangannya pada baju yang ia kenakan seolah membersihkan debu pada baju itu.

“Kau datang, Jeon Jungkook.”

Tiap kali aku mendengar suaranya itu membuat bulu kuduk merinding.

“Kukira kau sudah lupa dengan tempat ini—“

Kurasakan amarah membakar habis kesabaranku.

“—Cheong-san-do,” ucapnya dengan penekanan di setiap kata. “Rumah kosong ini ternyata masih ada—“

Kalimat itu membuatku meneliti ruangan ini dalam lirikanku.

“—kau dulu sering bermain di sini, Jungkook. Ini rumah kami, rumah Lee Jieun.”

Hatiku seketika goyah. Remuk jantungku mendengar namanya. Namun sekuat mungkin aku membiarkan tubuhku agar tidak bergetar. Karena aku harus melindungi gadis lain.

Lantas kepalaku menoleh. Mendapati seorang gadis terduduk dengan wajah antara hidup dan mati. Melihatnya dengan kondisi seperti itu lebih mengenaskan.

Sepenuhnya kesabaranku musnah. Tanpa ampun aku melayangkan pukulan pada perut Hongbin membuat pria itu mundur beberapa langkah.

Hongbin yang tidak menyangka pada reaksiku, ia mengembalikan tinjuan pada mukaku. Tidak puas satu pukulan, ia membogem perut dan dadaku, tidak peduli wajahku sudah sempat babak bunyak olehnya. Luka memar semakin bertambah. Menjalar di sekujur tubuhku.

 

“Jungkook…”

 

Deg!

 

Lirihan Jiyeon seolah membangunkanku. Membawa tenaga spiritual yang secara diam mampu mendorongku.

Aku yang sudah terjatuh menyentuh lantai segera bangkit. Tidak ingin membiarkan Hongbin tertawa penuh kemenangan. Kepalan tanganku meninju wajahnya. Lebih keras dari sebelumnya. Kakiku menendang perutnya. Sedetikpun aku tidak memberikan kesempatan padanya.

Darah mulai berceceran. Hongbin menghapus cairan merah segar di bibirnya dengan pergelangan tangannya. Ia meringis diselingi seringai. Ketika ia hendak meninju, aku menahan tangannya. Memuntir hingga terdengar bunyi retakan.

“Argh,” Hongbin mengerang kesakitan, mengharuskanku melepaskannya.

Aku sudah tidak peduli seperti apa aku sekarang. Yang jelas tatapan milik Jiyeon menumbuhkan monster dalam tubuhku.

 

BUGH!

 

Pukulan terakhir membuat Hongbin tersungkur kembali. Terlalu keras hingga membuat kepalan tanganku berlumuran darah. Aku meraih sisa kayu dari pembakaran.

Tidak tahan melihat diriku yang menghabisi Hongbin—bukan! Lebih tepatnya aku membuat diriku sendiri terluka, Jiyeon memeluk salah satu lenganku. Ia menarikku seolah menyuruhku untuk menghentikannya.

Ya, Jungkook,” suaranya bergetar.

“Lepas!” bentakku sambil mengangkat kayu itu tinggi-tinggi, hendak melemparkannya pada Hongbin yang sudah kehabisan tenaga.

Hajima,” isak Jiyeon.

“Lepaskan!”

 

BUGH!

 

“Argh!”

Gadis itulah yang merintih saat kepalanya lebih dulu menyentuh lantai kaca ini. Darah segar mengucur melalui pelipisnya. Setelah itu, ia kehilangan kesadaran. Terpejam lemah meringkuk pada lantai menerima tepisan tanganku yang terlalu keras mengenainya.

Sebongkah kayu sontak lepas dari genggaman tanganku. Dunia serasa berhenti. Pisau yang tajam seperti menusuk tepat di jantungku.

Wae? Kau tidak akan membunuhku?” tanya Hongbin kecut, “Apa kau takut? Atau—“

Sembari menggantungkan kalimatnya, Hongbin sengaja mengarahkan pandangan pada Jiyeon yang sudah tidak sadarkan diri.

“—hal ini mengingatkanmu pada adikku?”

Sekelebat wajah seorang gadis menghantuiku. Berputar seperti film dalam bioskop. Rangkaian peristiwa disaat aku dengannya bersama. Wajah tirusnya yang selalu berseri. Senyum manisnya yang mengembang. Rambut hitamnya yang tertiup angin. Semuanya bercampur aduk menyesaki pikiranku.

 

“Jungkook!”

 

Suara lembutnya bahkan memantul mencoba menyeruak indera pendengaranku.

 

“Jeon Jungkook!”

 

Rasanya aku ingin menyumpal lubang telingaku. Ingin menghapus segalanya.

 

“Jieun-a…”

 

Aliran darahku terasa berhenti. Udara seperti tidak bisa masuk dalam rongga dada.

Itu suara berat milik diriku sendiri. Menggema dalam gendang telinga. Menyebut nama seorang gadis itu. Menyeretku ke dalam belenggu kepedihan.

“Jieun sangat mencintaimu—”

Samar aku dapat mendengar Hongbin mulai berbicara.

“—Setiap pulang sekolah, dia selalu menceritakan tentang dirimu—”

Hanya tersisa sebagian jiwa dalam ragaku.

“—Bagaimana bisa kau mengkhianatinya disaat ia membutuhkanmu?”

Seperti gempa bumi yang dahsyat menggetarkan hatiku. Meretakkan, menghancurkan, dan meluluhlantakkan keutuhan pikiranku. Melemahkan otot-otot dan semua persendianku. Bayangan wajah polos Jieun seperti hantu yang siap membunuhku.

“Lee Hongbin,” getir suaraku terdengar, “—apa yang terjadi pada adikmu—tidak ada hubungannya dengan Jiyeon—“

Perlahan Hongbin beranjak beridiri. Tubuhnya sedikit linglung.

“—kau yang tidak bisa memaafkanku di masa lalu— sekarang—“ aku menggantungkan kalimat menarik nafas.

Sepasang mataku lekang menusuk manik mata kelam milik Hongbin.

“—aku tidak bisa membiarkanmu di masa depan.”

Itu karena pria itu telah menyakiti Jiyeon dan melibatkan gadis itu ke dalam masalah ini. Aku membencinya.

Langkahku mengayun lambat mempersempit jarak di antara diriku dan Hongbin. Masing-masing dari kami menggertakan gigi geraham. Menahan kepalan tangan. Dan memasang tatapan setajam pisau.

“Tatkala kita memiliki sesuatu yang sebenarnya ada pada diri kita. Kita memangis dalam bayang-bayang dendam—“ ujarku, “—dan apabila kita menyesal dan mengikhlaskannya kita akan menemukan apa yang menjadi hak kita dan kita akan menyesali dendam tersebut.”

Sepertinya kalimat itu mampu mencairkan es yang membeku dalam hati Hongbin. Pria itu terpengkur. Tidak bisa berkata apapun.

“Saat itu, Jieun dan aku masih smp. Kami masih terlalu muda untuk memahami apa itu cinta. Aku— belum bisa berpikir yang lebih dewasa—“

Ujarku menarik nafas sejenak.

“—aku memutuskannya itu memang benar. Karena aku merasa belum cukup umur untuk merasakan hal-hal seperti itu. Tetapi—“

Sepasang mataku redup menatap pria yang memiliki bentuk mata yang sama dengan Jieun.

 

“—aku tidak kepikiran Jieun akan bunuh diri—“

 

“—meski aku meminta maaf sekarang, aku yakin kau tidak akan memaafkanku—“

 

“—tapi jika berlarut dalam dendam itu hanya merusak dirimu sendiri.”

 

Jadi .. Aku akan berpura-pura seperti tidak pernah terjadi dan menjauhkan diri dari kenangan itu.

 

Hongbin tampak berusaha menyimpan kemarahannya. Sepertinya lelaki ini tidak berniat untuk memukuli kembali. Namun kedua matanya memerah dan berkaca-kaca.

“Hentikan ini—“ pintaku, “—Apakah Jieun pernah memintamu untuk membalas dendam?”

Sekujur tubuhnya terpana. Bibirnya bergetar, alisnya berkerut, dahinya mengernyit.

“Aku yakin saat ini jika Jieun melihatnya, dia akan kecewa—“

 

“—pada kakaknya sendiri.”

Perlahan aku menghampiri tubuh mungil Jiyeon dengan langkah yang tersendat-sendat. Kesadaran tubuhku belum pulih sepenuhnya. Pandanganku sedikit kabur akibat beberapa pukulan. Dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku membopong tubuh ringkih gadis itu. Meletakkannya di punggungku. Dan mengalungkan lengannya di leherku.

Tungkai kaki yang masih kuat menahan berat tubuhku dan juga Jiyeon, aku bawa menuju pintu lebar yang sudah rusak. Ketika aku melewati Hongbin dan berada dijejernya aku berbisik,

“Balas dendam hanya akan membuat luka di hatimu semakin lebar. Aku harap kau mengerti—– hyong.”

Tubuh Hongbin merosot mendengarnya. Kedua lututnya lebih dulu menyentuh lantai. Telapak tangannya menutupi muka. Kemudian hanya isak tangis seorang pria itu yang terdengar. Entah menyesali atau memaafkan.

.

.

hs cheongsandong

Senja memang tak lagi indah. Ketika matahari mulai menenggelamkan diri di ujung cakrawala. Sekumpulan burung hitam menghiasi langit. Awan kelabu mulai terlihat.

Pasir menjadi alas tempat berpijak. Jalanan lurus tak bercabang seolah tak akan habis ujungnya. Berbagai tanaman tumbuh di sepanjang sisi jalan. Lebih banyaknya bunga berwarna kuning yang membentuk segerombolan.

Keringat menetes melalui pelipisku. Rambut hitamku berantakan dan sedikit basah. Pakaian rumah sakit yang kukenakan ternodai cairan merah kental.

Sambil menahan rasa perih aku terus menyeret kaki menyusuri jalanan yang gersang. Kedua lenganku menahan beban gadis yang berada di punggung belakangku. Kepalanya bersandar pada bahuku, membuat nafasnya berhembus di wajahku terasa hangat. Membuat rintihannya terdengar jelas dalam telingaku.

Mungkin sudah beribu kata maaf aku ucapkan dalam hati. Lidahku terlalu kelu untuk melantunkannya.

Kemudian ada pemandangan yang menyurutkan langkahku. Seorang gadis tampak berlari-lari kecil menuju arah berlawanan denganku. Di belakangnya ada pria kecil tampak mengejarnya. Tawa keduanya memantul di langit. Mereka berlari melewatiku secepat kilat seperti bayangan samar yang bergerak.

Hatiku serasa terhantam menyadari siapa gadis dan pria itu. Itu adalah aku. Cerminan diriku saat SMP. Dan gadis yang tersenyum cerah itu Lee Jieun.

 

“Jungkook!”

“Mwoga?”

“Aku gadis yang paling bahagia di dunia ini.”

 

Seperti kereta ekpress yang berjalan sangat cepat, kenangan itu kembali menyeruak. Menghancurkan dinding kokoh yang selama ini kujadikan benteng darinya.

 

“Mencintai bukan bagaimana kau melihat tapi bagaimana kau merasakan. Bukan bagaimana kau mendengar tapi bagaimana kau mengerti.”

 

Sekelebat suara beningnya mengusikku. Memaksa diriku menengok sekali lagi ke belakang.

 

“Sadarlah, Jieun-a! Tidak ada cinta pertama dan terakhir dalam hidupmu!”

“Wae? Mengapa kau membuat hubungan kita menjadi goyah?”

“Aku sudah tidak suka padamu!”

 

Senyuman berubah menjadi air mata. Canda tawa berubah menjadi tangisan. Sinar di wajahnya meredup perlahan.

 

“Jungkook… hajima! Hajimalago!”

“Kau dan aku masih belum paham apa itu cinta. Lebih baik kita akhiri saja sekarang.”

 

Jeritan kesakitan miliknya begitu menyiksa. Kupejamkan mata mencoba menghentikan pencarian sosok bayanganmu. Kau menjadikanku seperti elang yang telah lupa caranya untuk terbang.

Kemudian genggaman erat menyadarkanku. Mengembalikan diriku dari kenangan itu. Memudarkan sosok Jieun dan diriku di masa lampau. Jiyeon dengan erat melingkarkan tangannya di leherku. Semakin menenggelamkan wajahnya di bahuku.

“Jiyeon? Kau sudah sadar?”

“Diamlah, kumohon diamlah,” bisiknya kehabisan suara.

Tidak ada hal yang bisa kulakukan selain menutup mulutku. Melanjutkan langkah membelah kesunyian jalan.

“Apa kita sudah aman?” tanyanya.

“Tidak ada lagi pria itu bukan?” itu lebih tepat seperti keyakinannya.

“Eoh, semuanya sudah tidak apa-apa,” ujarku dengan tenggorokan tercekat.

“Syukurlah.”

Itu berhasil mematahkan sayapku. Melumpuhkan persendianku. Dan seperti tulang yang menghilang dari tubuhku.

 

“Jiyeon-a—“

 

“—jangan pernah kau mengampuniku.”

 

Di luar sana akan ada kesepian yang memelukmu erat-erat. Untuk itu— bertahanlah Jiyeon, dalam pelukan dan genggamanku. Biarlah masa lalu dijadikan buku sebagai pelajaran.

 

to be continued–

Sebenernya chapter ini gabungan dari chapter sebelumnya, akhirnya Hara pisah deh biar bikin readers penasaran HOHOHO *dikeroyok seketika*. Chapter ini juga cuma membahas masa lalu Jungkie. InsyaAllah the next chapter bakalan ada masalah lain *doh nambah aja tuh masalah–“* Yaa karena kehidupan remaja dipenuhi berbagai macam masalah, hehe. Yauda sampai di sini dulu, dilarang kangen *plak*, sampai jumpa di next chapter🙂 baybay~

44 responses to “High School (Chapter 7.5)

  1. fiuh akhir’y permasalahan jungkook sma hongbin selesai,,, dan untung’y jg jiyeon sma jungkook gpp,,
    next^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s