[CHAPTER-PART 6] My Love, My Brother’s Enemy : END

req-47-copy1[CHAPTER-PART 6] My Love, My Brother’s Enemy || aeyoungiedo
Romance, Sad, Friendship || PG-15
Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Choi Minho, Choi Sulli, Park Chanyeol

Sebelum baca part ini, aku saranin baca :
Teaser  || 1 || 2 || 3 || 4 || 5

 Be a good reader please.

.

.

—kita tidak berbicara sebelumnya, tapi, hal yang paling menyedihkan adalah ketika kita mencoba untuk saling berbicara.

.

.

“Kim Myungsoo!”

Sulli berlarian dengan senyuman yang terpasang di wajah cantiknya. Myungsoo mengalihkan pandangannya ke ombak. Jiyeon melakukan hal yang sama. Sulli menarik tangan Myungsoo kemudian meloncat-loncat gembira. Myungsoo mengerutkan keningnya.

Sulli memeluk Myungsoo.

“aku hamil,”

Myungsoo menangkupkan kedua tangan di wajahnya. Haruskah ia bahagia? Jiyeon beranjak dari kursinya, dan menepuk singkat bahu Sulli. “selamat, ya.”. Sulli mengangguk. Kedua kucirnya bergoyangan, diiringi semburat di pipinya. Jiyeon menoleh kepada Myungsoo. Gadis dengan kelopak mata lebar itu menyulurkan tangannya, memberi selamat. Pemuda yang ditunggunya itu kini menjadi appa, dan tanggung jawabnya lebih besar.

Jiyeon melangkahkan kakinya lebar meninggalkan pantai suasana tropis.

ketika kapal kehilangan nahkodanya, dimana lagi ia harus berlabuh?

Minho menyesap frappucinonya yang masih mengepul. Pandangannya bertemu dengan sosok yang kini berada di depannya. Terus melihat taman, tanpa menyentuh martininya sedikit pun. Minho mengambil sebungkus kotak Marlboro di saku jaketnya. Alih-alih menerima, gadis itu tak bergeming ; Minho melenguh singkat.

“Jadi?” Minho mengeluarkan asap rokok melalui cupingnya.

Jiyeon merengut. Membuka internet, barangkali menghilangkan rasa jenuhnya yang amat.

“Aku tidak tahu, intinya. Jangan beritahu dia dimana aku tinggal.”ucap gadis itu singkat. Minho menggelengkan kepalanya pelan. Sesuatu mengalir di benaknya, ya meskipun ia tidak tahu itu.

“baiklah aku akan pergi.”Jiyeon mengangkat tubuhnya dari sofa di kafe dingin itu. Minho menggenggam tangan Jiyeon. “tunggu.”

“apalagi?daritadi kamu hanya diam, eoh.”Jiyeon mendengus kesal. Minho tertawa, berusaha mencairkan atmosfer yang daritadi membeku. Minho menarik napasnya. Panjang. Tatapannya bersirobok dengan Jiyeon. Gadis itu masih menatapnya penasaran. Oh God.

“kamu sudah dengar ceritanya, Minho?”susah payah gadis itu menahan air matanya agar tidak keluar.

“sudah. dan aku tahu, kamu pasti menangis.”

Jiyeon mengangguk pelan. Interior me caffe sangat indah. Serba Yunani Kuno. Dengan patung Zeus di dalamnya ; juga air mancur. Musim semi di Amerika. Martini yang dingin. Dan, hatinya yang makin beku.

“Myungsoo, he still love you.”

Bukannya terhibur, Jiyeon semakin menekuk. Jari lentiknya mengirimkan sebuah isyarat pada waitress. Memesan sebuah minuman. Keunikan ketiga dari kafe ini.

“aku tidak mencintainya lagi.”
“oh, kau tak pandai berbohong, nona.”

Jiyeon tertawa hambar. Minho, enggan mengeluarkan kata kata sedikitpun. Memilih mendengarkan musik klasik yang di putar ; Beethoven. Patung Monalisa itu, Minho selalu melihatnya. Detail yang indah. Ia tahu ini bukan karya asli Leonardo Da Vinci tapi merupakan sebuah tiruan yang menarik.

Jiyeon memakan tenderloinnya yang baru datang. Steak. Martininya masih menganggur diatas meja cokelat itu.

“kapan ia kembali ke Korea? bodoh, aku sudah tidak ingin melihatnya lagi.”

Gadis keras kepala.

“Sulli hamil, kau tahu? aku tidak ingin merusak hubungan mereka, cukup aku dan ibunya saja yang berurusan. Anak itu masih tak bersalah. Lagipula aku–“

Minho tahu kelanjutannya ; gadis itu mengumpulkan napas.

“–sama sekali tak tertarik.”

****

“ini pekerjaan sampingmu, Jiyeon-ah?”tanyanya, saat membuka knop pintu. Diikuti tembang kasmaran tahun 80-90 an. Jiyeon berdehem keras. Ck. Gadis itu menjinjing sebuah koper pollo, menempati kamar Jiyeon selama beberapa hari. Tangannya membuka gorden di sudut kamar. Pantai. Berhadapan langsung dengan pantai, mungkin membuat pemikirannya sedikit fresh.

Jiyeon terkikik singkat. Temannya menyentuh naskah novel yang tempo hari akan Jiyeon kirimkan pada salah satu penerbit lokal. Bukan novel romance, tapi novel bergenre suspense-thriller-phsycology. Tiga dari genre yang dibenci Jiyeon.

“kamu sudah berani rupanya, dan, bagaimana Kim Myungsoo?”

Pertanyaan yang sudah Jiyeon tebak. Jung Eunji dihadapannya masih sekedar mengamati kumpulan cerpen. Tak menyangka sahabatnya berbakat menjadi novelis atau bahkan scriptwriter. Setahunya, Park Jiyeon bukanlah penggemar sinetron kacang yang biasa ditampilkan di televisi. Dengan cerita perempuan dan laki-laki yang saling mencintai, lalu laki-laki akan meninggalkannya. Kisah yang tragis.

Jiyeon mengeluarkan pak Dunhill dari saku jaketnya. Eunji mengangkat tangannya singkat, menolak halus. “Aku sudah pesan mocktail.”

“dasar wanita manja.”gerutu Jiyeon, Eunji menilik ke arahnya. Dengan wajah yang ditekuk, dan air mata yang membengkak. Gadis itu kini ringkih rupanya.

“siapa yang manja?”

Jiyeon segan menjawab. Menyudut rokoknya. Kakinya disilakan ; menikmati acara kartun di televisi nasional.

“besok kami akan pulang ke Korea, tapi aku akan tinggal. Aku ada tawaran modelling disini.”Eunji tertawa singkat. Eunji menambah profesi menjadi seorang model, karirnya cepat sekali melesat. Pandangannya menyisir sudut-demi sudut kamar Jiyeon.

“lalu?”pernyataan singkat dari Park Jiyeon. Bahu Eunji mengendik dan tangannya menyentuh nakas Jiyeon. Sebuah cokelat Belgia. Dan juga kartu ucapan berwarna pink, dihias motif hati.

Jiyeon merebut cokelat dari tangan Eunji.

aku harap kau mau menemaniku, besok aku akan kembali. Kim Myungsoo

Ck. Berlebihan. Jiyeon melengus. Punggungnya mendarat di sofa empuknya. Mengambil sebotol greentea dan kripik. Eunji mengalihkan channel. Channel fashion.

“kau mau datang, Ji?”

Jiyeon menggeleng singkat.

hei. nanti malam, aku mungkin clubbing. mau ikut?”

*******

 Night Club Festival, 2008

Jiyeon meneguk vodka habis. Suara stereo khas club lamat lamat terdengar di kupingnya. Dentuman musik yang membuat setiap orang berdansa, menikmati gemerlapnya dunia. Eunji mendaratkan punggungnya di samping Jiyeon. Di samping Eunji, ada seorang warga lokal bernama Jean. Duh.

“tumben gak pesan martini.”

Jiyeon menilik sekitar. Sindiran dari Kim Myungsoo. Jiyeon mengangkat gelas vodkanya kemudian tertawa hambar. Bagaimana Myungsoo bisa ada disini?

“kamu mengikuti aku, ya? sudah ku bilang, jangan ikut. jaga saja istrimu itu. cih.”

Myungsoo memasukkan tangan dalam saku jasnya. Wanita-wanita berpakaian minim mulai mendekati Myungsoo. Jiyeon tak menganggap eksistensi mereka.

wanna dance with me?”sebuah tangan menarik lengan Jiyeon. Mengajak berdansa. Mengikuti musik yang di setel oleh disc joke. Jiyeon mengangguk, dan mengalungkan tangannya di leher pria itu. Yeah, meskipun tanpa sebuah perkenalan.

“hei. she’s my girlfriend.”Myungsoo berniat menjauhkan tubuh pria itu dari Jiyeon yang sedang berdansa. Tapi terlambat. Mereka sudah larut dalam aliran musik. Dan, Myungsoo hanya bisa menatap nanar.

********

“Myungsoo, aku ingin makan es krim.”rengek Sulli manja. Myungsoo melenguh pendek. Samar samar terdengar di telinga Sulli. Sulli tampak acuh, sembari membuka kulkas. Barangkali menemukan sebuah es cup. Myungsoo mengambil remote berusaha mengacuhkan istrinya yang terus merengek. Manja.

“memangnya ada es krim malam-malam begini? yang benar saja.”usai clubbing, Myungsoo harusnya bisa beristirahat. Dan tak mendengar permintaan istrinya yang cenderung aneh-aneh. Sulli menggeleng.

“ayolah, ini demi bayi kita.”Sulli mengelus perutnya. Oh Tuhan. Tatapan melas dari Choi Sulli yang biasanya menatapnya dengan penuh keangkuhan. Myungsoo mengangguk, lekas mengambil kunci mobil.

********

New York City, 2009

Jiyeon menarik selimut putihnya. Usai mencuci kaki, ia memutuskan untuk segera tidur. Tak peduli keadaan Eunji yang sampai saat ini masih disana. Mungkin berkencan dengan pria. Jean. Acara spongebob tampil di televisinya. Jiyeon terbahak, menikmati humor acara tersebut.

“Park Jiyeon.”teriaknya ; diikuti derik pintu. Jiyeon melenguh malas. Suara serak berat khas Kim Myungsoo. Jiyeon memutuskan untuk acuh sebelum akhirnya Kim Myungsoo masuk ke kamar bercat biru.

Myungsoo menarik tubuh Jiyeon ; memeluknya intens. Sementara Jiyeon tampak tidak nyaman. Entah kenapa, ia kini tidak merasa mencintai Myungsoo lagi. Hanya sekedar menyukai, tidak lebih. Kejadian di pantai kemarin menamparnya. Tak seharusnya ia mengganggu seorang pria.

terakhir, menjadi malam yang sangat panjang untuk mereka.

“ini menjadi bukti kau masih mencintaiku.”ucap Myungsoo sambil mencium pundak Jiyeon. Jiyeon menggeleng pelan. Hatinya, sama sekali tak menyukainya. Hanya saja ada hal yang teramat membuat Jiyeon berat. Rasa rindu yang berlebih. Terhadap Kim Myungsoo yang seorang pria beristri.

“aku berjanji, aku akan menikahimu.”

Jiyeon mendecih. Mengambil pakaian yang tercecer di lantai marmer. Ingin menghilangkan penatnya di kamar mandi, atau menikmati softdrink di pagi hari.

“jangan terlalu banyak berjanji ; ingat istri dan anakmu.”

Myungsoo tak bergeming. Tangannya menarik pergelangan milik Jiyeon. Pandangan mereka bersirobok. Tatapan mata penuh amarah, mengandung hasrat, dan cinta yang tulus sekaligus. Myungsoo menarik napas. Mengamati manik indah Jiyeon. Terlalu banyak kata-kata yang harus di ungkap.

“kim myungsoo–“denguh Jiyeon pendek. Tak sanggup menguasai hatinya; karena Kim Myungsoo-lah yang kini menjadi rajanya. Myungsoo tersenyum manis. Pintu terbuka. Menampakkan sesosok Choi Sulli yang menggendong anak mereka. Kim Jinsoo. Bayi berumur lima bulan. Sulli meletakkan Jinsoo di kasur kingsize milik Jiyeon. Tatapan cemburu terlihat dari matanya. Barangkali ia menyaksikan sedari tadi, hanya saja tak sanggup. Terlebih melihat Jiyeon–Myungsoo yang berpelukan tanpa sehelai kain pun. Jiyeon hanya memakai jas milik Myungsoo yang tampak kebesaran di tubuhnya. Cih.

“kamu –pengganggu suami orang!”teriak Sulli. Isakan terdengar dari bibir merah milik Sulli. Jiyeon menggigit bibirnya. Myungsoo terdiam kaku.

“aku pikir kamu sudah mencintaiku, tapi ternyata malah berkhianat dengan perempuan ini.”jari Sulli menunjuk tepat di depan mata Jiyeon. Myungsoo menggaruk tengkuknya. Sulli yang biasanya tenang, kini tampak marah melihat Jiyeon. Tapi Jiyeon justru sebaliknya. Terlihat tenang, seolah tanpa beban sedikit pun.

“oh ya? aku pikir, justru kamu yang mengganggu kami. dasar perempuan manja!”rambut Sulli ditarik oleh Jiyeon. Sulli tampak meringis kesakitan. Dan, diikuti tangisan panjang milik Jinsoo. Myungsoo mengambil Jinsoo kemudian memindahkannya ke kamar Shinhye. Situasi yang tidak nyaman, dan tidak boleh dilihat oleh anak di bawah umur.

Jiyeon menghentikan aksinya. Kemudian menatap Sulli dari atas, hingga bawah. Tergopoh gopoh ; terlihat dari pakaian Sulli yang masih mengenakan baby doll. Tas bayi juga tak tampak.

“kamu tidak lihat? kami sudah memiliki bayi, dan kamu masih ingin mengganggu?”Sulli menatap Jiyeon seolah hendak mengulitinya. Jiyeon menghela napas. “dia yang menemuiku, bodoh.”

Sulli tertawa hambar. Bulir air matanya mulai menetes. Ia ingin berlari, menjauhi apartemen Jiyeon. Jiyeon berusaha menyusulnya, khawatir akan terjadi hal yang tidak diinginkan.

bruk

Choi Sulli tergeletak di jalan, berlumuran darah.

Jiyeon menangis menatap Sulli yang kini tergeletak di kasur pesakitan. Mesin EKG tak menyampaikan berita baik, harusnya ia tadi menyelamatkan Sulli. Rasa bersalah terlihat dari paras cantiknya. Ditambah lagi Myungsoo yang terus terdiam.

“Ji-jiyeon..”

Sulli menyunggingkan senyum terbaik yang dimilikinya. Jiyeon membelai rambut cokelat Sulli, juga berusaha tersenyum meski menangis. Sulli menghapus air mata Jiyeon. Mengalihkan tatapannya pada Myungsoo yang menggendong Jinsoo.

“maafkan aku; aku mengganggu hubungan kalian. maafkan aku, telah bersikap buruk pada kalian. maafkan aku, tak menjadi istri yang baik meski aku sudah berusaha. Jiyeon-ah jagalah Myungsoo dan Jinsoo. se-la-mat..”

Sulli menutup matanya. Tangisan mereka mulai pecah.

*******

“Jinsoo-ya, ayo makan.”Jiyeon menyodorkan bubur pada Jinsoo yang masih bermain bola bersama adiknya, Nayeon. Jiyeon telah menikah dengan Myungsoo dua tahun yang lalu. Semenjak Choi Sulli meninggalkan dunia, dan juga suami yang sangat dicintainya.

Myungsoo memeluk Jiyeon dari belakang.

“dia sedang aktif, yeobo. Biarkan saja.”

Jiyeon menggeleng, tapi senyuman terpahat di wajah cantiknya.

“kau tahu? aku senang mendapatkanmu kembali, Jiyeon.”
“tapi, aku merasa bersalah, bodoh!”rutuk Jiyeon. Myungsoo terkekeh pelan. Menikmati kebersamaan dengan keluarga kecilnya yang baru.

cinta sejati perlahan akan kembali, tanpa kau sadari, mungkin ketika kau sudah memiliki hati yang lain.

karena happy ending hanya ada dalam telenovela, juga kisah tragis berakhir di kisah Romeo dan Juliet. ini kisah milik Jiyeon dan juga Myungsoo, bagaimana mereka merasakan cinta yang tulus dari hati mereka.

“mencintaimu awalnya merupakan hal yang buruk, tapi kini mencintaimu adalah anugerah. tetaplah bersama.”–Park Jiyeon.

end

whoaaaa sudah selesai. part ini sengaja aku buat pendek. semoga suka ya dengan kisah Myungyeon yang berakhir bahagia xD btw nama penanya aku ganti aeyoungiedo. semoga kalian gak bingung😀

Salam,

aeyoungiedo.

20 responses to “[CHAPTER-PART 6] My Love, My Brother’s Enemy : END

  1. Ujung2nya myungyeon bersatu juga wwkwk
    Tapi diceritanya kya agak kurang jelas kaya keburu”

  2. aku kurang suka deh sama sikapnya myung dia tuh kurang berjuang buat jiyeon malah lebih terkesan diem aja gitu kayak ikan yang ngikutin arus…. eh tp jinsoo beneran anak sulli ma myungsoo ya?
    #HappyEnding🙂
    #MyungyeonReal❤

  3. Aku pkr jiyi udh ga cinta n mau sm minho aja udh di ikhlasin eeh tau3x sulli mati.. kekeke.. hm myungyeon happy fotever ya.. anak2x udh dua.. next myungyeon lg dong

  4. akhr’y myungyeon bsa brsma hdp bhgia yuach mskpun ksian jg siech nglyt sulli…yg pntg myungyeon forever…kkkk

  5. Agak kecepetan sch sbnr x,,,
    Tp gk ppa, yg pnting end x tch mugyeon, haha.
    D tnggu ff myungyeon lain x..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s