High School (Chapter 7)

FF High School

This story belongs to brownpills.

Romance, Schoollife, Friendship I Chaptered I PG-14

Cast by Kim Myungsoo, Park Jiyeon, Jeon Jungkook, Bae Suzy, Jung Krystal

Pure of mymind. Inspired of some problems.

Let me see~

.

.

Kau tidak bisa melakukan ini padaku lagi.

Semua hal yang kau katakan padaku seperti topeng.

Menyembunyikan yang sebenarnya dan merobekku.

Itu menusukku, aku mulai gila, aku benci ini.

Bawalah itu semua, aku membencimu.

-High School

Jiyeon’s PoV

 

Bintang kejora menghiasi langit malam yang kelam. Sekumpulan bintang itu membentuk rasi bintang dan bersinar terang. Rasa aman menyelimutiku walaupun waktu hampir tengah malam. Lelaki itu seolah perisai yang mengikutiku dari belakang.

“Sudah sampai,” ucapku sambil berhadapan dengannya.

Gerakan kakinya berhenti. Kepalanya mendongak mengamati rumah berlapiskan warna hijau muda dengan satu garasi di depannya.

Keure, masuklah,” titahnya.

Aku menganggukan kepala. Dengan sedikit berdebar aku membalas senyuman yang berkharisma itu. Sebelum akhirnya benar-benar lenyap saat aku menutup pintu rumahku. –Senyuman milik Kim Myungsoo—

“Kau sudah di rumah?”

Tubuhku melonjak mendengar suara eomma yang ternyata sedang menonton televisi di ruang tengah.

Nde,” sahutku segera menghilangkan wajah tersipu malu yang sempat kupasang ketika memasuki rumah.

“Apa tadi sangat menyenangkan?”

“Eum.”

Eomma tersenyum lembut. Ia menekan salah satu tombol remote untuk mematikan televisi seraya menghampiriku sambil mengusap rambutku pelan.

“Cuci wajahmu sebelum tidur. Lusa kau akan ada ujian, persiapkan dengan baik,” kata-katanya begitu hangat.

“Eum, eomma.”

***

Bunyi bel memantul pada seluruh penjuru gedung. Menandakan semua murid harus siap di ruangan yang telah ditentukan masing-masing. Termasuk diriku yang mendapat kartu test dalam ruang 108.

Dua pria berseragam masuk ke dalam ruangan. Mampu mengheningkan suasana. Pria dengan bingkai kacamata membuka map berwarna cokelat yang tadi ia peluk lalu membagikannya. Sedangkan pria tua lainnya berjalan di sudut belakang mengawasi kondisi dalam ruangan ini.

Selesai berdoa aku menerima lembaran soal itu dari temanku yang duduk di bangku depan. Kertas buram itu aku teliti secara rinci seraya aku menyalurkan lembar soal lainnya kepada bangku belakangku.

Saat itulah aku mendapati sebuah bangku kosong. Lama aku memandangi bangku itu. Memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak ada dalam benakku ketika ujian. Aku hanya mendesah pelan seraya mengumpulkan konsentrasi. Mulai membaca soal pilihan ganda dan menyilangkan jawaban paling tepat pada kolom lembar jawab kertas dengan bolpoin.

.

.

Kedua lenganku kulentangkan untuk meregangkan otot yang terasa pegal. Aku menganyunkan kaki lebih ringan karena hari ini semua pertanyaan tidak membuat kepalaku puyeng. Waktu mengerjakan soal masih tersisa sepuluh menit tetapi aku sudah ke luar ruangan.

Beberapa murid yang menginjaki ranking atas juga sudah menyelesaikannya dan bergegas pulang.

Untuk ujian kenaikan kelas kali ini aku tidak satu ruangan dengan Suzy dan Krystal. Karena itu kini aku berjalan pulang sendirian.

 

PING!

                +8201068712725

                  Park Jiyeon, aku mengincarmu.

 

Bola mataku membesar. Jantungku hampir terkuak. Tanganku sedikit gemetar menggenggam ponsel yang menampilkan pesan singkat anonym.

Kepalaku menoleh ke kanan ke kiri mengamati sekitarku. Tidak ada yang mencurigakan. Hanya sedikit siswa yang melintas halaman depan sekolah yang kini kupijaki.

Dahiku membentuk tiga garis horizontal. Tidak mau ambil pikiran panjang aku kembali meneruskan langkahku sedikit lebih cepat meninggalkan sekolah.

***

Aroma cokelat yang kuat menusuk hidung bangir milikku. Kepulan asap mengambang dari atas cangkir porselen. Cafe yang pernah dijadikan tempat syuting beberapa drama ini dikenal dengan nama Mango Six Café. Design café yang cozy membuat aku, Suzy, dan Krystal sering menjadikan café ini sebagai basecamp.

“Aaa jinjja~ Aku membenci soal matematika~” keluh Krystal sambil mengerucutkan bibirnya.

Telapak tanganku melingkar pada secangkir dark panna cotta latte yang sempat aku pesan.

“Tapi—“ Krystal menggantungkan kalimatnya, “—kalian tau apa?”

Mwoga?” tanyaku.

Sedangkan Suzy yang duduk di sebelah Krystal sibuk menghirup aroma kopi kental dalam cangkirnya seraya menyeruput nuttela coffee latte itu.

“Aku sangat senang bisa berkumpul dengan kalian setelah pulang sekolah,” seru Krystal tersenyum lebar.

“Apa-apaan,” aku menggelengkan kepala sambil merasakan kenikmatan ketika cokelat hangat memasuki tenggorokanku.

“Sangat sulit bagiku mengajak kalian nongkrong selama ujian kenaikan kelas,” jelas Krystal, “Kalian biasanya akan menolak dan mengatakan ada kursus. Apa orang tua kalian sudah mengeluarkan kalian dari kursus sekarang?”

“Habis ini aku ada kursus,” sahutku membuat kerutan kecewa di wajah Krystal.

Krystal menolehkan kepala pada jejernya. Berharap dengan mata puppy eyes.

Disayangkan Suzy menyahut, “Habis ini aku ke perpustakaan kota.”

Mulut tipis milik Krystal terbuka lebar mendesah keras membuat diriku dan Suzy tertawa kecil.

Keunde, Sooji-ya,” panggil Krystal, “Bagaimana seleksi osn kemarin? Aku merasa bersalah karena mengajakmu main sebelum hari seleksimu.”

Pertanyaan itu mampu mengalihkan perhatianku dari mengaduk-aduk cokelat yang harum pada Suzy yang tersenyum tipis.

Gwenchana. Aku bisa lolos seleksi. Sehabis test kenaikan kelas, aku maju di tingkat kota.”

Jawaban yang terucap itu membuat Krystal mencubit gemas pipi Suzy. Kali ini aku bisa tersenyum dan mengucapkan selamat untuk Suzy.

How about Jungkook?” ingat Krystal.

Aneh, Suzy seketika melenyapkan senyumannya. By the way, ini sudah hari ke empat dari ujian kenaikan kelas dan Jungkook tidak pernah menghadirkan diri, membuat satu bangku kosong di dalam ruangan yang kutempati.

“Dia mengundurkan diri dari osn.”

Mwo?!” pekik Krystal. Sementara aku tersedak.

Tanganku mengusap tenggorokan yang terasa gatal, berusaha menghentikan batukku. Lantas aku bertanya, “Mengapa dia melakukannya?”

“Guru Daniel Kim mengatakan Jungkook dirawat di rumah sakit—“

Kedua mataku terbelalak mendengarkan penuturan Suzy.

“—aku sempat mengunjungi rumahnya. Ahjumma –Ibu Jungkook- mengatakan Jungkook sudah babak belur setelah pulang bermain bersama kita.”

“Apa yang terjadi? Bukankah saat itu kau pulang bersamanya?” tanya Krystal.

“Itu benar. Tetapi—“ Suzy tampak menimang pikirannya, “—ketika sampai di depan rumahku, dia kembali pergi.”

“Apa dia berkelahi lagi,” dengus Krystal. “Dia baik dan lembut pada yeoja. Mengapa harus menghabiskan tenaga sering berkelahi dengan pria—“ gumamnya. “—dasar nappeun saeki.”

Kepalaku menunduk. Dengan keras aku memutar otakku. Seolah berada di jalan yang berliku, aku tersesat di dalamnya.

 

PING!

               +8201068712725

                Kau harus merasakan apa yang dirasakan oleh adikku.

 

Untuk yang kedua kalinya aku menerima pesan aneh. Bola mataku terpaku membaca tiap ketikan kalimat yang tertera. Tenggorokanku tercekat, air liur sulit ditelan.

“Jiyeon-a, wae kurae?”

Dunia bak tak berpenghuni dalam sudut pandangku. Tatapan kosong yang lurus ke depan. Urat nadi yang berdenyut melambat.

“Jiyeon-a! Jiyi!” ulang Krystal mendapati diriku yang terpengkur setelah membuka ponsel.

“Eoh?”

Wae? Mengapa kau memasang ekspresi seperti itu?” tanyanya.

I don’t tell them yet.

Eobseo.”

***

Semilir angin musim gugur menusuk tulang-tulang. Membawa jauh dedaunan kering yang menutupi jalanan. Hanya suara jangkrik yang mengisi hening malam. Kemerlap bintang menjadi penerangan.

Jalur pulang dari tempat les menuju rumahku selalu sepi di malam hari. Tas yang berada di punggungku bergoyang seiring langkah kakiku.

 

Tap. Tap. Tap.

 

Ada suara ketukan sepatu yang menahan tubuhku untuk berhenti.

 

Tap.Tap. Tap.

 

Semakin mendekat mempercepat denyut nadi di seluruh pembuluh darah. Bulu kuduk terasa berdiri. Kepalaku tidak mampu menoleh. Sekujur tubuhku gemetar.

Air liur kutelan susah payah seraya aku meneruskan langkahku lebih cepat. Dan derap kaki di belakang masih dapat tertangkap dalam indera pendengaranku. Mataku mulai berair terkena angin saat berlari. Pernafasanku menderu mengeluarkan kepulan putih di sekitar mulutku.

Bahkan ketika aku sudah belok di jalanan sempit, derap langkah itu masih bisa terdengar. Rumah hijau muda sudah terjangkau dalam pandanganku yang kabur. Namun kedua kakiku sudah tidak mampu bergerak.

 

BUGH!

 

Terlalu cepat hingga tubuhku menabrak dada bidang seseorang di hadapanku. Rasanya tidak kuasa aku menahan berat tubuhku. Kepalaku mendongak perlahan.

“Jiyeon-a,” bisikannya melegakan hati.

“Apa yang terjadi?” ucapnya –lagi- melihatku basah kuyup oleh keringat.

Tangan kokohnya masih menggenggam siku lenganku. Menahanku agar tidak ambruk begitu saja. Udara sangat sulit masuk ke dalam paru-paru. Dadaku terasa sesak.

“Myungsoo-ya,” lirihku, “Aku takut…”

Mulutnya membisu. Nampaknya Myungsoo sengaja menunggu di depan rumahku malam ini. Namun ia tidak menyangka malah mendapatiku pulang dengan keadaan yang berantakan.

Pria itu tidak berani melontarkan pertanyaan. Yang dia lakukan sekarang merengkuh tubuhku yang masih bergetar. Menyandarkan kepalaku pada bahu lebarnya. Memberikan kehangatan dan menghapus ketakutan ini.

***

Bau septik menyengat indera penciumanku. Tidak jarang seorang wanita yang memakai seragam berwarna biru muda melewatiku. Kebanyakan rambut mereka tersanggul apik. Kedua lengan mereka mendekap berkas lembaran putih. Atau dua di antara mereka mengikuti pria berjas yang dikenal sebagai dokter.

Sesekali aku menangkap pasien di kursi roda. Ada pula pasien yang berjalan dengan mendorong infuse-nya sendiri. Aku menelan ludah pelan sambil tetap melangkah dalam lorong itu.

Langkahku semakin cepat menyadari lift sudah berada di depanku. Tanganku menekan tombol enam pada sisi lift ketika aku sudah di dalamnya. Membiarkan lift membawaku naik ke lantai tujuanku.

Tiga orang yang bersamaku berhenti di lantai tiga, menyisakan diriku seorang. Setelah memastikan tidak ada yang masuk, aku menekan tanda panah untuk menutup pintu lift. Dentingan bunyi terdengar saat monitor di atas lift menunjukan angka enam. Begitu pintu lift terbuka secara otomatis, aku mulai mengambil langkah.

Berbeda dengan lobby rumah sakit yang dipenuhi manusia, lantai ini terlihat kosong. Hanya satu dua perawat yang sempat lewat.

Aku berhenti di depan salah satu kamar bertuliskan nomor 604. Tertera nama Jeon Jungkook pada sisi pintu yang lumayan lebar. Dingin rasanya saat aku menyentuh ganggang pintu itu yang terbuat dari besi.

Keraguan menguasaiku sembari memikirkan pria yang mungkin sedang beristirahat di dalam sana.

Belum sempat aku menggeser pintunya, seseorang muncul tiba-tiba. Telapak tangan lebarnya membekap mulutku dengan sapu tangan. Membuatku menjerit tanpa suara. Aku meronta memukuli lengan yang besar dengan otot-ototnya yang terlihat.

Lama-kelamaan semuanya terasa berputar dalam pandanganku. Gaya gravitasi pun seolah tidak dapat kurasakan. Aku rasa sapu tangan itu terkontaminasi oleh obat bius.

.

.

Kayu-kayu kering ditumpuk membentuk gunungan segitiga. Itu menjadi abu ketika api melahap batang kayu itu. Kehangatan dari sepercik api merah itu membangunkan diriku. Memaksa kelopak mataku untuk membuka.

Sekali dua kali aku mengerjapkan mataku, mengatur intensitas cahaya yang masuk. Rasa pegal menjalari seluruh persendian tulangku. Badanku terasa kaku untuk digerakan.

Api yang membakar tumpukan kayu sebentar lagi padam. Api unggun itu berada tiga meter dari sisi tubuhku.

Dengan pandangan sayu aku melihat keadaan di sekitarku. Beberapa sofa yang sudah lapuk berada di pojok ruangan. Bingkai foto yang tertempel di tembok terlihat miring dan usang. Lumut hijau hampir memenuhi seluruh dinding. Televisi kuno ambruk di sebelah sofa. Beberapa benda lainnya tertutupi kain putih yang lusuh. Benda-benda itu sepertinya sengaja disusun melingkar sehingga mengosongkan bagian tengah ruangan ini yang cukup lebar.

Telapak tanganku membentuk kepalan yang berusaha menahan gemetar. Tubuhku beranjak berdiri. Incaranku adalah pintu lebar yang terletak tepat di hadapanku.

Baru beberapa langkah dari tempatku terduduk, seorang pria menghadangku. Membuat jantungku hampir copot.

Nugu?” lidahku kelu mengucapkannya.

Pria di hadapanku sepertinya lebih tua sedikit dariku. Wajahnya masih muda dengan rambut hitamnya yang menyisakan poni menutupi dahinya. Dengan berani telapak tangan itu menyentuh pipi di wajahku. Sepasang mata kelamnya menyusuri tiap inci bentuk wajahku.

“Park Jiyeon,” mataku membulat mendengarnya mengetahui namaku, “—kau sangat cantik.”

Dengan kasar aku menepis tangan kotornya yang mudah menyentuh diriku. Tepat disaat itu, sekelebat bayangan melintasi benakku. Bayangan sosok yang mengikutiku pada malam hari. Dan juga pesan-pesan aneh yang kuterima akhir-akhir ini.

“Apa kau—“ tanpa takut aku menusuk manik mata orang asing di hadapanku ini, “—orang yang menggangguku?”

Sebuah seringai licik terbentuk di sana. Hal itu cukup menjadi jawaban dari pertanyaanku.

“Mengapa kau melakukannya?”

Pria muda yang nampaknya masih bersekolah di tahun ketiga menjawab, “Karena kau yeojachingu Jungkook.”

Nama Jungkook terasa menggema dalam gendang telinga. Lantas perilaku Jungkook yang aneh berputar dalam pikiranku. Dimulai dari dirinya yang menyela keasyikan kami saat di Insadong. Dirinya yang menyeretku menuju Miss Lee Café. Ia yang mengundurkan diri dari osn. Atau empat hari ia absen selama ujian kenaikan kelas. Lalu kini ia yang dirawat di rumah sakit.

Tunggu dulu! Rumah sakit—

“Apa yang kau lakukan pada Jungkook?” tanyaku.

Lagi, ia memamerkan senyuman licik itu sambil berkata dengan enteng, “Apa kau marah? Aku menghajarnya hingga dia masuk rumah sakit.”

Pria ini pintar merangkai kata-kata yang membuat orang menjadi gila. Dilihat dari penampilannya, ia bisa dikategorikan dalam siswa teladan di sekolah. Kernyitan jelas terbentuk di dahiku. Butuh waktu lama untuk mencerna ucapannya.

“Tidakkah kau ingin tau alasannya?” tawar pria itu.

Otakku hampir pecah jika terus memikirkan situasi ini. Yang kuinginkan sekarang adalah, “Keluarkan aku dari sini.”

Ia tertawa terbahak-bahak sambil berucap, “Ya… Wajahmu jelas sangat penasaran.”

Tungkai kakinya melangkah maju. Ketika dirinya mendekatiku, aku memundurkan langkah. Seiring ia berjalan ke depan, seiring kakiku mundur perlahan. Hingga kurasakan tubuhku bersandar pada dinding ruangan.

Kepalaku kudu mendongak berhubung ia memilik proporsi tubuh jangkung. Mungkin hanya beberapa centi jarak wajahku dengannya, menyadariku ada tattoo yang terjahit di lehernya. Tattoo kecil bertuliskan nama Lee Hongbin.

“Seseorang meninggal karena namjachingu-mu—“ desisnya sambil meletakkan lengannya di kedua sisi kepalaku seperti ingin mengunci gerakanku, “—kau tidak habis pikir aku hanya diam saja.”

 

PLAK!

 

Tamparan itu melayang begitu cepat tanpa aku sadari. Perih dirasakan oleh pipi di wajahku. Bekas memerah tangan Hongbin tertinggal di sana.

Mataku terasa pedas. Aku menatapnya nanar seraya melayangkan lenganku hendak membalas tamparannya. Namun tangannya yang lebih besar dariku menahan dengan mencengkram keras pergelangan tanganku.

“Siapa sebenarnya kau?” tanyaku mulai menggeram.

“Seorang gadis meninggal karena di-bully oleh teman-temannya—” bukannya menjawab Hongbin malah berkata hal lain, “Kekasihnya malah meninggalkannya dan menjauhinya. Dia bahkan tidak menoleh sekalipun ketika gadisnya meminta tolong. Bagaimana bisa ia terus hidup sementara gadisnya meninggal.”

Rentetan kalimat terakhir itu diucapkan dengan nada tinggi. Sedikit melonjakan tubuhku. Urat nadiku kini berjalan di atas ambang batas normal.

“Aku tidak mengerti,” sahutku terang-terangan.

Kobaran api nampak pada kedua mata Hongbin. Ia melepas cengkramannya seraya menarik rambut ikalku.

Hongbin berkata sambil menggertakan gigi gerahamnya, “Gadis itu adalah Lee Jieun—“

Mulutku meringis mendapat jambakan itu. Rasanya rambutku hampir lepas.

“—adikku yang meninggal setahun lalu saat di bangku smp. Kau… ingin tau siapa kekasihnya?”

Kukatupkan mulut yang dipoles lipgloss tidak berniat menanggapi perkataan gilanya.

“… kekasihnya adalah Jeon Jungkook.”

Sambil menyebut nama Jungkook ia menatapkan kepalaku pada tembok. Menimbulkan suara berdebum. Menyebabkan duniaku terasa berputar. Luka lembam menghiasi kening kepalaku.

Sedikit demi sedikit aku mampu memahami apa yang ia katakan. Berhasil melukaiku ia membuat jarak denganku sambil tersenyum puas. Sementara wajahku mulai menggeretak. Sepasang mataku terlihat seperti iblis. Rasa takut dan sakit dalam diriku dikalahkan oleh emosi yang menguasaiku.

“Dendam akan membuat sebuah masalah menjadi semakin rumit. Setiap suatu dendam terbalas akan muncul suatu dendam dendam lainnya.”

Kalimat itu begitu lancar terukir dari bibirku. Mengubah tawa Hongbin menjadi kemarahan. Dia kembali mendekatiku. Kali ini kepalan tangannya meninju perutku.

“Kesalahan di masa lalu— tidak ada yang dapat dilakukan untuk mengubahnya,” ujarnya. “Segitu mudahnya bagi Jungkook menggantikan Jieun di hatinya dengan gadis angkuh sepertimu!”

Tidak puas satu pukulan, ia menghajar lambungku kembali. Hingga kurasakan setetes darah di sudut bibirku dan bagian perutku terasa terbakar.

“Sayang sekali kau salah akan satu hal—“ diwaktu begini aku masih mampu berucap, “—aku bukan yeojachingu Jungkook.”

 

PLAK!

 

Untuk kedua kalinya, tamparannya mendarat di wajahku. Bukan merah lagi, tetapi ungu sudah pipi pucatku.

“Setidaknya kau gadis yang dicintai oleh Jungkook.”

Sambil berkata begitu, Hongbin mulai melepaskan jaket yang kukenakan. Melempar jaket itu ke sembarang arah.

Sontak perbuatannya membuat diriku memukuli kepalanya. Aku terlihat memberontak. Sekuat tenaga aku ingin melepaskan diri dari pria yang mungkin sudah dikuasai oleh monster jahanam.

Satu per satu ia mulai membuka kancing kemejaku. Dan aku masih mencoba melakukan perlawanan yang jelas tidak mempan. Hatiku hancur berkeping-keping. Dadaku seperti tertusuk. Diriku seolah terlempar di dasar jurang. Air mataku mulai meleleh.

 

 

Tap! Tap! Tap!

 

BRAK!

 

 

Terhitung dua kancing yang terbuka. Gerakannya terhenti mendengar suara dobrakan pintu lebar ruangan itu.

Sesosok wajah kusut tampak di ambang pintu. Nafasnya terlihat memburu. Plester melekat di punggung tangannya. Bahkan pria yang kini berdiri di ambang pintu itu masih memakai seragam rumah sakit.

Saat ini ingin sekali aku menutupi diriku dengan apapun. Melarangnya melihat rasa malu yang menguasaiku.

Namun sepertinya lelaki itu tidak peduli. Karena yang ia lakukan adalah menyeret Hongbin menjauh dari tubuhku seraya membanting tubuh Hongbin dalam sekali hentakan.

 

“Lee Hongbin—“

 

“—berhenti melepaskan dendammu pada orang yang tidak bersalah.”

 

Tanganku meremas kemeja yang kukenakan. Berusaha menutupi kancing yang mulai terbuka. Aku yang entah sejak kapan terkulai di lantai, kini memperhatikannya— Jeon Jungkook.

 

to be continued–

Entah mengapa ini ff jadi kekerasan gini T__T. Padahal lagi bulan ramadhan huhuhuhikshiks *SKIP*.Mango Six Cafe -basecamp jiyi krystal sooji- itu lokasi syuting drakor The Heirs lo wkwk, cafe tempat kerja paruh waktunya cha eun sang ^^. Just info, biar mudah dibayangin wkwk.

Udah Chapter 7 aja, tapi belum semua masalah remaja sama kehidupan sekolahnya ada di sini. Banyak banget problems menyerang masa muda, saking banyaknya Hara bingung gimana cara ngeringkesnya terus dijadiin satu cerita dalam ff huft. Yang jelas Hara berusaha biar ff nya punya alur yang gak acak acakan T_T. Semoga kalian suka🙂 Have a nice day🙂

47 responses to “High School (Chapter 7)

  1. ommo unting jungkook cepet dtng klo engga, aku ga tw nasib jiyeon bakaalan kaya gmna,,
    next penasaran bggt niie…

  2. Udh ga sbr buat tau apa yg akan trjdi dgn jiyeon+jungkook+hongbin??? Kira2 stlh kejadian itu jiyeon bkln benci ga yah sma jungkook??? Ya ampun…. Lanjut aja dech…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s