[CHAPTER-PART 5] My Love, My Brother’s Enemy

req-47-copy1

My Love, My Brother’s Enemy –Part 5 || @alifahsone

PG-15 || Romance, Sad, Family, Friendship

Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Choi Sulli, Choi Minho

.

.

“aku menghindar bukan berarti aku tak mencintaimu, hanya saja aku ingin menjauhi hal yang tidak semestinya.”

.

Kicauan burung senja menambah sepi hari ini. Langit berwarna biru, di atas daratan rerumputan. Mereka semua tak bersorak riuh. Di bawahnya sesosok gadis berambut panjang terduduk diam. Ia terus memainkan jarinya, bahkan bersiul memecah keheningan. Wajahnya teduh, namun tak tampak rasa penyesalan yang amat di wajah cantiknya. Ia menunggu. Terus menunggu.

Gaunnya yang berwarna pink pastel terbang tertiup angin. Matanya mengedar mencari sesosok yang sangat dinantinya. Dari kemarin. Jam arlojinya menunjukkan pukul delapan pagi. Ia harus meninggalkan negeri sejuta kenangan ini.

Ia berdiri. Menatap semua yang harus di tinggalkan. Bangunan megah berwarna putih tak luput. Bangunan yang mungkin lebih pantas menjadi mall daripada rumah sakit.

“Myungsoo-ya, nae-ttal annyeonghi.

————–

Pemuda berambut cepak itu terus menunggu. Masih berpakaian putih khas rumah sakit. Pikirannya terpatri pada seorang gadis yang sebentar lagi akan meninggalkan Korea. Meninggalkannya. Myungsoo menghela nafas. Kepalanya mendongak. Berusaha menahan bulir yang akan menetes dari pelupuk matanya. Dua hari lagi adalah pernikahannya. Haruskah ia bahagia?

Langkah kakinya berjalan menuju arah bandara. Tak peduli klakson, ataupun kubangan air. Ketika ia sampai di bandara, matanya mengedar mencari gadis yang harusnya masih berada di ruang tunggu. Ia tak tahu marganya, hanya saja namanya Jiyeon. Sosok yang telah singgah di hatinya, belakangan ini. Myungsoo mengelap air matanya.

“Jiyeon-ah!”

Beberapa pandangan sinis ditujukan untuk Myungsoo. Myungsoo acuh. Matanya menangkap sesuatu. Ya, gadisnya sedang menyeret koper lalu dengan wajah yang sembab!

“Jiyeon-ah, don’t go please.“Myungsoo menghirup aroma citrus yang menguar dari aroma tubuh Jiyeon. Jiyeon menitikkan air matanya. Memeluk laki-laki yang sangat dicintainya. Mereka sempat berpelukan beberapa lama, lalu..

“Jiyeon, mianhae. Aku harus menikah dengannya.”

Jiyeon mengusap air matanya. Kemudian dipaksakannya tersenyum dan mengangguk singkat.

“Jangan lupakan aku. Berbahagialah. Saranghae.

***********

welcome to our home, Jiyeon-ah.”Shinhye memeluk Jiyeon. Jiyeon terlonjak gembira. Di apartemen mewah ini, Shinhye telah mengadakan pesta kecil-kecilan untuk menyambut Jiyeon. Tentu saja bersama Chanyeol dan Sandara. Shinhye adalah sepupu Jiyeon yang tinggal di Amerika.

wow, unnie. i’m so amazed.“tangan Jiyeon membuka knop pintu kamar. Kamar berwarna pink pastel. Tempat tidur extra-large dan foto album Jiyeon. Tak lupa, mini bioskop dan kamar mandi di dalam. Jiyeon memeluk Shinhye senang. Unnienya yang sekarang bekerja di perusahaan mobil swasta, berusaha mewujudkan impian Jiyeon.

“Jiyeon, pakai bahasa Korea saja.”canda Shinhye. Jiyeon tergelak. Shinhye mengelus kepala Jiyeon, “kau tidur dulu. besok kau harus sekolah.”

#

Jiyeon merentangkan tangannya. Menghirup udara segar di apartemen ini. Apartemen Shinhye letaknya strategis. Yaitu berada di depan laut yang masih jarang pengunjungnya. Jiyeon turun ke dapur karena Shinhye sudah memanggil.

“Kau makan oatmeal dulu, supaya segar.”Shinhye menuangkan susu pada mangkuk oatmeal Shinhye. Jiyeon mendadak teringat Myungsoo. Besok hari pernikahannya. Dan ia yakin, Myungsoo telah mengurus ini-itu untuk pernikahannya dengan Sulli. Juga bulan madu. Jiyeon menatap oatmealnya tak semangat. Memikirkan Myungsoo, membuatnya ingin mengunjungi Korea langsung.

why?”pertanyaan Shinhye menghentikan aktivitas Jiyeon. Jiyeon menoleh kepada Shinhye lalu tersenyum tipis. Shinhye menghela nafas. “Kau sedang memikirkan pacarmu, ya?”tanya Shinhye. Jiyeon menaikkan kedua bahunya. Pacar? Bisa dibilang tidak. Bahkan mereka belum pernah mengungkapkan status. Hanya mengungkapkan cinta saja.

“tinggalkan pacarmu sebentar, sayang. kau bisa mendapatkan yang–“

Jiyeon mendengus. Apa? Lebih baik dari Myungsoo? Selama ini Myungsoo-lah yang terbaik. Jiyeon beranjak dari kursi makannya. “Aku pergi.”

Shinhye menatap punggung Jiyeon yang meninggalkan apartemennya. Tangannya bergerak mengambil sesuatu di tas merk Gucci. “halo? Choi Minho?”

“Park Jiyeon?”
Jiyeon menoleh. Sesosok tubuh tinggi tegap menatapnya. Mata tajam itu mengingatkan Jiyeon pada artis idolanya. Choi Minho? Jiyeon menjabat tangan Minho kemudian tersenyum. Minho merangkul pundak Jiyeon. “Kau mau kemana?”

Jiyeon merapihkan rambut cokelatnya yang berantakan. Mungkin ia lupa menyisirnya, tadi.

“Aku akan berangkat ke sekolah. Kau sendiri?”
“aku ‘kan, ada fanmeet. Biar ku antar. Kau tak keberatan, kan?”

Jiyeon mengangguk. Kedatangan Minho seolah menjadi moodboaster baginya. Mereka melewati toko pernak pernik. Minho menggenggam tangan Jiyeon kemudian membawanya masuk ke dalam toko itu. Jiyeon menatap Minho seolah mengatakan –apaan kau ini– namun hanya dibalas senyuman oleh Minho.

“tidak keburu, kan?”Jiyeon menggeleng. Tentu saja. Jam masuknya masih sekitar satu jam lagi. Artinya, ia masih bisa bersantai. “Jiyeon, aku akan membelikan beberapa scarf untuk fansku. Bisa membantu?”

Jiyeon mengangguk. Matanya tak lepas memandangi sebuah scarf bermotif etnik. Ini bagus sekali..”beli saja kalau kau mau.”bisik Minho. Jiyeon mengambil scarf itu lalu memberikannya pada kasir.

“Jiyeon-ah, mmm aku boleh menanyakan sesuatu padamu?”tanya Minho sambil menggaruk lehernya. Saat itu mereka sedang berada di kafe. Minho yang menjemput Jiyeon. Dan, ketika Jiyeon menanyakan alasannya. Minho hanya menjawab, “kau harus ikut fanmeetku.”

Jiyeon menatap Minho. Capuccino di depannya masih terlihat hangat. Asapnya pun mengepul. Jiyeon menyeruput capuccinonya pelan. Di depannya Minho sedang menghela nafas.

“Apa benar –kau pacaran dengan Myungsoo?”

Uhuk! Jiyeon mengambil air putihnya. Kenapa bisa-bisanya Minho menanyakan ini, sih?

err– kalau tak mau menjawab, juga tak apa.”

Jiyeon menggeleng. Ia mengambil nafas panjang sebelum akhirnya menjawab, “iya.”
Minho menganga tak percaya. Jiyeon mengalihkan pandangannya pada pohon ek di luar kafe. “aku sepupunya.”kata Minho. Jiyeon hanya tersenyum pasi. Ia rindu.Pada Myungsoo yang memotretnya diam diam ketika ia melukis di bawah pohon ek. Biasanya, sepulang sekolah, Myungsoo akan mentraktirnya. Ralat. Bukan mentraktir, tapi ia yang minta di traktir. Atau mereka berdua tertidur di atap sekolah.

“maaf, aku–”
“tak apa.”potong Jiyeon. Ia melanjutkan ‘lamunannya’ dengan pohon ek. Besok Myungsoo dan Sulli menikah. Dan, Jiyeon diundang. Bukannya ia takut menangis, hanya saja studi di Amerika jauh lebih penting. Jiyeon menduga, Sohee ingin mengundangnya karena ingin melihat reaksi Jiyeon saat Myungsoo menikah nanti.

“Besok hari pernikahannya, apa kau akan datang?”tanya Minho.

“Aku? Buat apa datang?”

Minho menggeleng cepat. Wanita dihadapannya ini tampak kuat, justru ia rapuh. Jiyeon bahkan sempat tertawa kala ia menceritakan semua kenangannya dengan Myungsoo pada Minho.

“Jiyeon-ah, ke mall yuk. Aku ingin membelikanmu sesuatu.”

MWO?”Jiyeon menganga lebar ketika Minho menunjukkan beberapa tumpuk gaun. Minho ingin membelikannya gaun? Mimpi apa dia semalam? Oh God. Jiyeon mencoba baju itu di fitting room, kemudian Minho akan mengomentari setiap gaun yang ia kenakan. dasar pria aneh.

“Bagaimana?”tanya Minho setelah mereka berada di mobil.
“Bagaimana apanya?”ulang Jiyeon. Ia memutar playlist lagu western. Tak lupa penyanyi favoritnya ; Avril Lavigne.
“Gaunnya ,kau suka bukan?”
“Lumayan juga sih.”

Minho menatap Jiyeon yang sedang menikmati musik itu lekat. Jiyeon memang cantik, tapi terlalu galak untuk di dekati. Jiyeon-nya tertidur sehabis menghadiri acara fanmeetnya. Bagaimana bisa, Jiyeon berada di kumpulan gadis yang membawa lightstick lalu berteriak genit? Akting Jiyeon benar-benar sampai.

saranghae.”bisik Minho ke telinga Jiyeon. Jiyeon mengucek matanya.”apa? maaf aku tidak dengar.”

Minho menggeleng cepat. “Yeoja babo. Sana turun dulu. Besok kau harus sekolah.”. Jiyeon mencibir. Sebenarnya ia mendengar apa yang Minho katakan. Tapi ia pura-pura tidak mendengarnya. Hehe..

Jiyeon berjalan ke kamar tidurnya sambil menenteng tas belanjaan.

Hari ini benar benar melelahkan, namun…

mengesankan.

———————

Seoul

Myungsoo menatap Sulli yang sedang berdiri di depan cermin. Cantik. Pengantinnya sangat cantik. Tapi, takkan ada yang mengalahkan Jiyeon. Cintanya itu bagaikan goddess. Cantik, baik, memikat, dan juga pintar. Sekalipun supermodel Sulli yang jadi rebutan para aktor ternama.

Sohee memeluk Myungsoo erat. Sebentar lagi putranya akan bersanding dengan wanita yang tepat. Ani, bukan tepat tapi yang Sohee inginkan. Sulli tersenyum puas. Dari tadi senyuman terpasang di wajahnya.

tiba-tiba, ia merasa pusing.

Sulli mengoleskan aromatherapy di kepalanya. Berharap rasa sakitnya sedikit berkurang.

Myungsoo melihat Sulli dengan gaun putihnya berjalan menuju altar. Entah kenapa, ia merasa deg-degan. Bukan tak ingin pernikahannya gagal, hanya saja ia takut kalau pernikahannya akan berhasil. Ia tak ingin bersama dengan wanita yang tidak ia cintai.

“Bagi pengantin, silakan berciuman.”

Ucapan dari pastor menohok batin Myungsoo. Di hadapannya Sulli tersenyum puas sambil memejamkan matanya. Menanti ciuman Myungsoo mungkin. Myungsoo menggeleng. Tapi, ia tetap harus mencium Sulli.

chu.

Myungsoo mengecup pipi Sulli. Perlahan senyuman menghilang dari wajah Sulli. Myungsoo mencium di pipi, bukan di bibir. Yang selama ini menjadi fantasi dari seorang Choi Sulli. Kim Taeyeon tampak berusaha menghubungi Jiyeon melalui skype. Namun, Jiyeon tak menjawabnya. Taeyeon menghela nafas. Yang penting ia sudah berusaha menghubungi Jiyeon.

cinta itu, ia tidak memilikinya

Myungsoo menatap Sulli yang sedang tertidur disampingnya. Bukan Sulli yang ia inginkan. Hanya Jiyeon. Myungsoo berjalan menuju jendela di kamarnya. Pas sekali. View yang menghadap taman.

eungg….oppa?Kau sudah bangun?”Sulli membuka kelopak matanya. Myungsoo hanya menoleh kemudian tersenyum singkat. Sulli merentangkan kedua tangannya kemudian berjalan ke arah Myungsoo. Ia menyandarkan dagunya di pundak Myungsoo. Myungsoo hanya mendengus.

Sulli menatap wajah tampan Myungsoo. “oppa, aku ingin memasak untukmu.”

“Bagaimana?”tanya Sulli penuh harap ketika mereka berada di dapur. “Enak.”jawab Myungsoo. Bukan terdengar seperti pujian. Sulli menatap sup tofunya. Myungsoo tidak menyukai masakannya. Artinya, Sulli harus memasak lebih baik lagi.

“Maladewa?”
Myungsoo membaca singkat brosur yang dibawa Sulli pagi itu. Sebenarnya ia ingin. Tapi, Myungsoo tidak ingin bersama Sulli.

“Los Angeles?”
Myungsoo masih menggeleng.

“Jeju saja.”kata Myungsoo singkat. Sulli mengangguk dengan senyuman di wajah cantiknya, “baiklah oppa. aku yang mempersiapkan semuanya.”

“Myungsoo-ya, eomma harap kau bisa segera memberikan eomma cucu.”harap Sohee. Myungsoo melotot. Cucu? Dengan Sulli? Ide buruk. Myungsoo saja tidak tidur seranjang dengan Sulli. Untunglah di kamarnya sudah disediakan dua tempat tidur dengan ukuran king size. Sulli menatap Myungsoo penuh harap.

“maaf, eomma aku belum siap.”Myungsoo meletakkan garpunya. Ia berdiri. Entah kenapa, ia malas sekali hari ini. Sulli.  Choi Sulli. Harusnya Myungsoo merasa beruntung mempunyai istri se perfect Sulli.

—-

“Jiyeon-ah!
ne, Minho-ya?”

Minho menunjukkan percakapannya dengan Myungsoo melalui SNS. Jiyeon malas sekali. Ia harus melupakan Myungsoo, sesegera mungkin. Myungsoo sudah menjadi milik Choi Sulli. Jiyeon menatap Minho khawatir, “oppa?apa benar? entahlah, aku tidak mau.”

Minho menghela nafas. Ia sudah menduga kalau Jiyeon tidak mau. Tapi, Kim Myungsoo memaksanya. Bahkan Kim Myungsoo telah menyewa sebuah tiket penerbangan ke Amerika, bersama Eunji, Krystal, dan Suzy. Tentu saja rencana itu tidak diketahui oleh Sohee. Sohee sedang sibuk dengan bisnisnya di Busan.

“itu kenyataan, Jiyeon. ia masih mencintai–”
“berhenti. berhenti membuatku tersiksa. kau tahu? aku selalu menangis memikirkan perjodohan itu. tapi apa? apa ia memperdulikanku, eoh?”
“kau selalu mengatakan seperti itu. bahkan kau pun tak menyadari. dalam hal ini, sepupuku yang paling terluka!”

Minho mengepalkan tangannya meredam emosi. Kilat amarah terlihat dari amarah mereka berdua. Minho memilih menyalurkan emosinya dengan memukul dinding. Sementara Jiyeon? Ia masih bergulat dengan pikirannya.

“kenapa harus aku? kenapa ia harus mencintaiku?”

Pertanyaan sarkastik terlontar dari mulut Jiyeon. Minho mengatur nafasnya. Kisah antara Myungsoo dan Jiyeon terlalu manis untuk diakhiri, dan juga terlalu pahit untuk dilanjutkan. Minho memukul kepalanya sendiri.

“apa sebegitu sulitnya untukmu menemuinya? kau tahu, ini bisa jadi yang terakhir.”

Oh. Mata Jiyeon memanas. terakhir. Perkataan Minho yang paling menohok hatinya.

“ini bukan kemauannya menerima perjodohan itu. bahkan ia lebih memilih mati daripada menikah.”lanjut Minho. Jiyeon menutup wajahnya. Menutupi wajahnya yang kini memerah menahan tangisan. Minho tak berkata lagi. Mendengarkan kicauan burung di taman sore itu.

“sebelum ia mengalami kecelakaan, ia selalu menceritakan hubungan kalian yang penuh pertentangan. khususnya kakakmu. ia bahkan selalu menangis sepanjang hari!”

Myungsoo. Cinta. Kecelakaan. Amnesia. Oh God. Jiyeon frustasi kali ini.

“lalu apa yang bisa aku perbuat, Minho-ya? ini sulit bagiku!”teriak Jiyeon. Minho menepuk pundak wanita disampingnya itu. “Temui dia.”

Jiyeon menatap matahari yang mulai bersembunyi. Sore hari. Waktu yang disukainya. Biasanya ia akan lari keliling kompleks bersama Eunji, Suzy, dan Krystal. Tapi, sekarang–ia dihadapkan pada suatu kenyataan yang pahit.

Pernikahan Myungsoo dan Sulli.

Shinhye menatap tubuh Jiyeon yang sedang terlelap. Penuh penderitaan. Sejak sore itu, Jiyeon selalu mengurung dirinya. Ia enggan keluar dari kamar selain untuk sekolah. Bahkan sarapan pun Shinhye yang mengantarnya. Shinhye membelai rambut lembut Jiyeon. Shinhye menyayangi sepupunya, sepenuh hati. Ditambah lagi riwayat penyakit jantung Jiyeon. Setidaknya Shinhye harus merawat Jiyeon selama di Amerika, begitu pesan Chanyeol sebelum pergi ke Beijing.

sepupunya terluka. karena cinta. maka dari itu, Shinhye tak akan pernah percaya cinta.

Kelopak mata Jiyeon lamat lamat membuka. Syukurlah. Kamar menjadi tempat pertamanya seusai sadar. Jiyeon baru sadar. Semalaman Shinhye merawatnya. Mungkin, Jiyeon demam. Saat ini sepupu Jiyeon itu masih tertidur, memeluk Jiyeon. Jiyeon bangkit. Ucapan Minho semalam ada benarnya juga. Ia harus menemui Myungsoo, sebelum mencari yang lain.

Jiyeon memakai alas kakinya, berjalan ke luar kompleks. Taman. Tempat terfavorit Jiyeon. Bahkan selama di Amerika, Jiyeon selalu menyempatkan waktu untuk sekedar membagi cokelat untuk anak kecil disana.

“Park Jiyeon. What’s up ya?”sapa Michelle, sahabat Jiyeon. Jiyeon menatap wanita berambut pirang tersebut. Michelle masih menatap Jiyeon dengan raut penasaran. Jiyeon tertawa kecil. Meskipun baru berkenalan beberapa jam, tapi Michelle adalah gadis yang baik.

I’m okay.“Jiyeon kembali mengamati sepasang anak kecil –tentu saja laki-laki dan perempuan–yang sedang bermain balon bersama. Entah apa yang mereka ucapkan, tapi membuat Jiyeon terhibur karena ke’romantis’an mereka berdua. Michelle mengangguk. Mungkin saat ini Jiyeon tidak ingin membahas masalahnya.

Her name is Joy Park. And, his name is Yuan Kim.”terang Michelle.

Park? Kim? Sebuah kebetulan yang buruk. Lihatlah. Yang bernama Joy percis sekali dengan Jiyeon cilik. Sementara Yuan, kemungkinan mirip Myungsoo jika dilihat dari sikap dinginnya –namun hangat-. Jiyeon menarik tangan Michelle menghampiri kedua anak tersebut. Michelle juga suka anak-anak. Yuan dan Joy bersembunyi di balik pohon ek setelah mengetahui kedatangan Michelle-Jiyeon.

“tenang, sayang. eonnie tidak jahat.”Jiyeon berbicara menggunakan aksen Korea. Michelle mengangguk setuju. Michelle juga fasih berbicara Korea. Joy menatap Jiyeon lekat. “you can speak Korea?

Jiyeon mengangguk senang.

“Ayo, Yuan. Ku rasa mereka orang baik.”seru Joy sambil tersenyum. Yuan mengeluarkan dirinya dari balik pohon itu.

My name is Michelle. and, her name is Park Jiyeon.”
whoa! Park!”teriak Joy senang. Joy sangat senang, menemukan orang Korea di kompleks ini. Setahunya, yang warga asli Korea hanya Park Shinhye. Itu pun Shinhye jarang keluar rumah kecuali untuk bekerja. Benar-benar tertutup.

they remember me with someone.
who’s that? your boyfriend?
not yet, Michelle. we are still friend. and, he got married yesterday. With Korean actress, Choi Sulli.”

Michelle menatap Jiyeon penuh kasihan. Tapi sayang. Jiyeon paling benci dikasihani. Jiyeon kembali melihat Joy dan Yuan yang gembira memakan cokelat pemberian Jiyeon. Suatu kesenangan sendiri, apabila kita membahagiakan anak kecil. Begitu prinsip hidup Jiyeon.

~o~

hey, man!“sapa Minho begitu Myungsoo tiba di bandara John F. Kennedy. Myungsoo tersenyum. Myungsoo berangkat bersama Eunji, Suzy, Krystal, dan juga –Sulli. Istrinya bahkan merasa cemburu. Benar-benar menggelikan.

“Perjalanannya lancar? Kalian ingin bulan madu? Tenang saja, aku mempunyai beberapa tempat indah.”goda Minho. Myungsoo kikuk. Sulli hanya tersenyum manis pada mantan pacarnya itu.

“Minho-ssi, bisakah kau tunjukkan kepada kami sebuah hotel? Kami lelah.”keluh Eunji. Minho mengangguk senang.

.

“apa? kau sudah tiba?”Jiyeon mendekatkan iPhone di telinganya. Hari ini Krystal membawa kabar mengejutkan ; ia sudah tiba di Amerika. Sekitar dua minggu setelah pertengkarannya dengan Minho.

“bagaimana bisa?”

“baiklah. aku akan kesana.”

.

“Jiyeon-ah! Welcome!”
Jiyeon dan Michelle masuk ke sebuah kamar hotel mewah. Bahkan sangat mewah. Eunji dan Suzy memeluknya bergantian. Jiyeon menghempaskan dirinya di sofa empuk.

Jiyeon mengambil minuman soda di kulkas. Teman-temannya masih meng’gosip’ ria di kamar tidur, bahkan Michelle bergabung. Jiyeon akui. Michelle mudah berbaur. Sebuah tangan menggenggam tangan Jiyeon. Jiyeon berdehem, memintanya melepaskan.

“Park Jiyeon.”suara Myungsoo. Jiyeon akan menangis, tapi ia berusaha tahan.
“apa?”
“tatap aku.”

Manik elang Myungsoo langsung menatap intens mata Jiyeon. Jiyeon merindukan tatapan itu, merindukan suara berat Myungsoo, merindukan parfum maskulin Myungsoo. Harus ia sadari, ini begitu berat.

“maaf. aku harus mengantar ini.”Jiyeon menunjuk minuman soda di tangannya. Myungsoo mengangguk kecewa.

akan ku buktikan padamu, cintaku cuma kamu.

——–

Jiyeon melihat teman-temannya yang sedang berkejaran di pantai. Jiyeon tak antusias. Hanya karena satu nama ; Myungsoo. Tanpa Jiyeon sadari, di belakangnya ada Kim Myungsoo. Myungsoo memerhatikan Jiyeon, termasuk saat Jiyeon menangis karenanya. Myungsoo juga rindu pada Jiyeon. Myungsoo menyodorkan selembar tisu pada Jiyeon.

Jiyeon menoleh.

Sosok Kim Myungsoo. Jiyeon berusaha acuh.

“apa kabar? ini sudah lama, bukan.”sapa Myungsoo riang, tapi terkesan dibuat-buat. Jiyeon tersenyum nanar.

“aku? selamanya tidak akan pernah baik, Kim Myungsoo.”
“perubahanmu begitu drastis.”
“benarkah? aku rasa aku kurang tidur.”

Jiyeon pembohong handal. Jiyeon menangis semalaman.

“apakah aku terlambat?”
“terlambat untuk apa, Jiyeon-ah?”
“terlambat untuk mendapatkanmu.”

Myungsoo berdehem. Berusaha mencairkan suasana.

“selamanya tidak akan terlambat.”

Myungsoo memeluk Jiyeon. Jiyeon beku. “Jiyeon, aku rindu.”. Jiyeon menangis. Ia tidak bisa berkata-kata. Kedatangan Myungsoo merupakan kesenangan dan kesedihan yang datang bersamaan.

“maaf, Myungsoo. Kita tak bisa–”
“tak bisa apa? karena aku sudah punya istri, hm?”

Jiyeon tak menjawab. Ia lebih memilih mendongak. Menatap langit biru, melupakan semuanya termasuk Kim Myungsoo. Tapi, Kim Myungsoo sudah mempunyai tempat tersendiri. Yang tidak bisa disinggahi orang lain.

“aku mencintaimu, Jiyeon. Bukankah cukup kita saling mencintai, Jiyeon?”

Myungsoo mengecup kening Jiyeon. Menunggu jawaban keluar dari mulut gadisnya.

“aku tahu, Myungsoo. Tapi tolong, jauhi aku. Aku tersiksa bersamamu.”isak Jiyeon. Myungsoo tak menjawab.

“Aku akan menceraikan Sulli. Bukankah itu yang kamu inginkan?”
“Aku tak bisa, Myungsoo!”

Myungsoo menjambak rambutnya. Frustasi. Myungsoo menarik tengkuk Jiyeon, menciumnya kasar. Jiyeon membalas ciuman itu. Mereka berciuman dibawah langit senja, bersama desiran ombak yang mulai surut.

“Kim Myungsoo!”

Previous chapt :

“bisakah kau tinggalkan dia?”
.
.
“Park Jiyeon! Hati-hati!”
.
.
“AAAA!”
.
.
“aku mencintaimu, sungguh. jangan pergi.”

tbc.

hai…gak kerasa besok udah ending xD. Semoga kalian suka ya. Kira-kira, endingnya gimana yah? hehehe. btw Sulli kasian juga disini, tapi MyungYeon lebih kasian :p
Jadi, aku butuh komen dari kalian supaya lebih semangat ngelanjutin FF nya. oke? Buat yang nunggu Pain chapter 1, masih dalam proses ya. Prioritas aku nyelesaiin FF ini.

Salam,

alifahsone.

30 responses to “[CHAPTER-PART 5] My Love, My Brother’s Enemy

  1. huaaa sedih bggt baca’y,, ga bisa kah myungyeon bersatuuuu,,,
    aku harap dd ending mreka berdua bisa bersatuuu,,,
    next^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s