[CHAPTER-3] 18 Years Old.

18-years-old_2

poster credit by missfishyjazz@artfantasy

Author : MJS.

Title : 18 Years Old.

Main cast : T-Ara’s Jiyeon – INFINITE’s Myungsoo – Red Velvet’s Irene.

Other cast : more than 12~

Genre : school-life, friendship, romance, sad.

Lenght : Chaptered.

Rating : T.

-inspired by drama who are you : school 2015. there will be some scenes taken from this drama, so please understandable.-

-•-

[CHAPTER-3] 18 Years Old.

.

.

Previous

Tanpa sadar, begitu Mark menyalakan dan mulai menjalankan motornya perlahan, Soojung langsung memeluk pinggang Mark dan menyandarkan kepalanya pada punggung Mark dan tersenyum.

Sementara Mark baru saja menjalankan motornya begitu terkejut dengan sikap spontan Soojung yang langsung memeluknya. Bahkan Eunji pun tak pernah melakukannya langsung. Mark perlu mempercepat dahulu laju motornya supaya Eunji berpegangan padanya.

Seketika Mark langsung merasa bersalah pada Eunji dengan apa yang saat ini terjadi. Setelah ini Ia berjanji akan langsung menghubungi Eunji.

.

.

Author Pov

Entah kenapa sekarang ini yang ada dipikirannya hanyalah bagaimana reaksi Eunji jika Ia mengetahui kejadian tadi siang. Oh, Mark dalam bahaya jika Eunji melihatnya. Dan untungnya tak ada Eunji, juga tak ada orang lain yang mengetahui hal tadi selain dirinya dan Soojung.

Mark mengacak-acak rambutnya bingung. Sedaritadi Eunji tak mengangkat panggilannya. Apa Ia mengetahui hal tadi? Bagaimana?

Ah, jangan berpikir yang tidak-tidak, pikirnya.

Mark memutuskan pergi keluar berhubung peralatan mandinya tak dapat dipakai lagi, dan eommanya sama sekali tak peduli dengan itu. Ny. Tuan hanya mengatakan kalau Mark harus mandiri dan membelinya sendiri.

“Kau mau kemana?” tanya eommanya. Mark hanya menjawab singkat lalu berjalan menuju minimarket yang dekat dengan toko sepatu yang selalu dikunjungi Eunji.

Setelah membeli peralatannya, Mark mengadah keatas dan mendapati rintik-rintik hujan mulai turun. Ia segera berjalan berlindung dibawah halte dan mendapati Eunji juga tengah berada disana.

“Eunji?” Yeoja itu menoleh dan tersenyum melihat Mark. Mark menghela nafasnya lega, Eunji sama sekali tak mengetahuinya dilihat dari raut wajahnya yang terlihat biasa saja.

“Ponselmu kenapa tak aktif? Aku berusaha menghubungimu.” Eunji hanya terkekeh, “Low-battery. Kenapa kau menelepon?”

Tak berniat berbohong atau membuat alasan bodoh, Mark memutuskan mengalihkan pembicaraan, “Apa yang kau lakukan disini?” Eunji tersenyum lebar dan menunjukkan kantong belanjaannya. Dan benar saja, sepatu.

“Aku melihat mereka sudah memiliki yang baru, jadi aku mengambil uang dan membelinya.” Mark menyerngit heran menatap Eunji, “Kau jelas-jelas memintaku menemanimu bulan lalu ke toko sepatu itu.”

“Ada model baru.” jawab Eunji menyengir. Eunji sudah sangat sering mendengar Mark mengatainya yeoja yang boros. Yang membuat Mark merasa tak percaya lagi begitu Eunji datang ke sekolah dengan tas barunya.

Kalian tahu? Eunji memesannya langsung dari Australia. Terkadang Mark sungguh bingung dengan pola pikir yeojanya.

“Geurae, aku pulang.” ujar Mark kemudian mengeratkan mantel tebalnya pada tubuhnya tanpa memperdulikan Eunji.

“Ya! Bagaimana denganku?” Mark hanya mengangkat bahu acuh tak acuh.

“Mau ikut denganku? Tapi aku takkan membagi jaket ini.” Eunji memandang Mark kesal. Namja itu memang sering seperti ini. Namun sepertinya Eunji perlu bersyukur karena namja itu mengenakan mantel darinya.

Dengan terpaksa Eunji hanya dapat menutupi tubuhnya dengan tangannya yang memegang plastik. Mark hanya menatapnya sambil tersenyum.

-•-

“Ige mwoya?” Jiyeon menyerngitkan dahinya heran begitu melihat terdapat bungkusan kado yang cukup besar disamping mejanya. Mungkin tepatnya dimeja milik Eunji.

“Untukku?” tanya Eunji. Jiyeon hanya mengangkat bahunya tak tahu. Eunji pun membuka bungkusan tersebut dan mendapati sebuah mantel putih beserta surat.

‘Jangan hanya membeli barang yang tak penting, apa kau tak punya mantel, huh? Kau merepotkan kalau sakit.    -MT.’

“Perhatian sekali.” sahut Jiyeon menatap Eunji iri. Sementara yeoja itu hanya menatap Jiyeon gemas.

“Aku juga perhatian.” Tiba-tiba saja Myungsoo datang dan mencubit pipi Jiyeon. Sontak Jiyeon menatapnya aneh.

“Bluff.” ledeknya sambil menjulurkan lidahnya. Myungsoo langsung menatap Jiyeon malas. Yeoja itu tak pernah mengindahkan rayuannya. Bukan! Jiyeon memang sudah sangat bisa menghadapi Myungsoo.

“Ah, Myungsoo-ya. Igeo.” sahutnya sambil memberikan sebuah surat yang dibungkus amplop putih dengan hiasan yang agak.. memalukan?

“Kau memberikanku surat cinta?” tanya Myungsoo jahil. Sontak Jiyeon segera menjitak dahi Myungsoo sebelum namja itu melontarkan hal yang aneh-aneh lagi.

Myungsoo membukanya sambil tersenyum puas setelah menggoda Jiyeon. Namun senyumannya memudar begitu mengetahui kalau surat itu dari Suzy.

“Kenapa kau harus memberikannya padaku?”

“Suzy yang memintanya. Katanya kau menolak surat itu, jadi aku yang disuruh memberikan.” jawabnya ringan. Myungsoo menghela nafasnya kasar.

“Sudah tau kalau aku menolaknya, kenapa kau juga masih memberikannya?” tanya Myungsoo ketus. Sontak Jiyeon menjadi heran dengan perubahan sikap Myungsoo barusan.

“Kau kenapa? Apa itu salahku?” Myungsoo tak menjawab.

“Apa kau begitu tak menyukai Suzy?”

Jiyeon menghela nafas melihat Myungsoo yang masih tak memperdulikannya, “Dia menyukaimu! Apa itu salahku memberikan ini padamu?!”

“Bagaimana ka-” Hampir saja Myungsoo membentak Jiyeon. Ya, namja itu marah. Marah karena Jiyeon yang tak peka. Marah karena Jiyeon tak pernah menyadari perasaannya.

Apakah selama ini Jiyeon masih menganggap semua sikap yang Myungsoo berikan padanya hanyalah lantaran Myungsoo bersahabat dengan Jiyeon.

“Terserah. Aku takkan menerimanya.” balas Myungsoo masih ketus dan meninggalkan Jiyeon yang masih terheran-heran. Eunji hanya menggelengkan kepalanya. Ia sudah biasa melihat kejadian ini.

“Cukup minta maaf saja kalau kau merasa tak nyaman.” keluh Eunji mulai gusar dengan Jiyeon yang masih mengomel-omel sendiri.

“Shireo! Namja itu tiba-tiba marah denganku!” teriaknya. Eunji memutuskan keluar kelas dibanding telinganya rusak mendengar teriakan Jiyeon.

-•-

Begitu waktunya istirahat, seperti biasa. Mereka berlima berkumpul pada meja yang sama. Hanya saja kali ini suasananya sangat berbeda.

Soojung dan Mark yang masih canggung akibat kejadian kemarin, juga Jiyeon dan Myungsoo yang masi bertengkar karena sebuah surat.

“Aissh, kenapa suasananya mencekam sekali?” seru Eunji mulai kesal. Soojung dan Mark semakin bingung. Bagaimana jika Eunji sadar dengan sikap mereka?

“Kalian juga kenapa? Takut dengan mereka?” tanyanya pada Soojung dan Mark. Sontak keduanya langsung terkejut namun langsung menghela nafas lega. Eunji hanya menatapnya aneh.

Myungsoo dan Jiyeon masih memilih makan tanpa mengatakan sepatah katapun.

“Oh ayolah, kenapa tak ada yang meminta maaf..” ujar Eunji menatap mereka memohon. Sungguh, Ia tak pernah suka dengan suasana seperti ini.

“Bukan salahku.” jawab keduanya dingin. Ketiga dari mereka seolah tersedak kemudian sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing sambil berusaha mencuri pandang kearah mereka.

Kini Jiyeon dan Myungsoo saling bertatapan tajam. Ketiganya yang tak ingin dijadikan pelampiasan pun hanya menunduk saja. Jiyeon dan Myungsoo memang sudah sering bertengkar hanya karena masalah sepele.

“Kau tiba-tiba marah.”

“Sudah kukatakan untuk tak pernah melakukan hal itu lagi.” jawab Myungsoo tak kalah tajam. Biasanya Ia selalu mengalah dengan Jiyeon, namun kali ini Myungsoo tak dapat membohongi perasaannya kalau Ia marah dengan Jiyeon.

Keduanya memukul meja cukup keras sehingga menimbulkan perhatian dari murid lain. Kemudian keduanya langsung berpisah meja.

“Hey, ayolah. Kalian membuatku tak nyaman.” Kali ini Soojung yang berbicara namun keduanya masih tak memperdulikan.

-•-

Jiyeon tengah membasuh wajahnya dalam wastafel hingga sebuah suara membuatnya menoleh.

“Bertengkar dengan Myungsoo?” tanyanya sinis. Jiyeon menghela mafas malas. Kenapa disaat seperti ini Ia malah harus berhubungan dengan Irene.

“Bukan urusanmu.” balasnya ketus. Irene menghalangi Jiyeon yang berniat keluar kemudian menutup pintu toilet.

“Kau berniat mengunciku lagi?”

“Itu sudah kuno, Park Jiyeon.”

“Lalu ada urusan apa? Aku rasa kita tak punya hal yang perlu dibicarakan lagi.”

“Aku hanya ingin mengatakan kalau kau sebaiknya berhati-hati–”

“-karena aku menyukai Myungsoo.” Jiyeon menatap Irene terdiam. Entah kenapa, pernyataan Irene barusan begitu membuatnya sakit. Ada apa ini?

Ia mencoba terlihat seperti biasa, “Kesukaanmu pada Myungsoo tak ada urusannya denganku.”

“Kau sahabatnya. Dan kau bisa saja akan melindunginya setelah aku mengatakan hal tadi. Tapi asal kau tahu–”

“-ketika aku sudah menginginkan sesuatu, aku harus mendapatkannya bagaimanapun caranya.” Irene pun menyeringai dan meninggalkan Jiyeon sendiri. Jiyeon seakan tertarik ke belakang, hatinya merasa tak kuat dengan perkataan Irene.

“Kenapa?”

“Kenapa harus Myungsoo?” Tanpa sadar Ia malah terisak didalam sana.

Jiyeon sama sekali tak mengerti dengan sikapnya sekarang. Kenapa Ia harus bersikap seperti ini? Apa karena Ia tahu Irene hanya bermain-main dengan perasaannya pada Myungsoo? Apa karena Ia menyadari seberapa pentingnya Myungsoo dalam hidupnya?

Kenapa baru saat ini Jiyeon menyadari…

kalau dirinya membutuhkan Myungsoo.

-•-

Jiyeon Pov

Aku menyelusuri koridor-koridor sekolah dengan gontai. Perkataan Irene masih terus terngiang-ngiang dalam benakku. Bagaimana yeoja itu ingin mendapatkan Myungsoo. Aku sudah tahu, Irene harus mendapatkan yang Ia inginkan bagaimanapun caranya tetapi kemudian membuangnya begitu saja begitu Ia merasa bosan.

Aku tak ingin membuat namja itu terluka. Aku baru sadar kenapa aku bisa bersikap seperti ini. Aku mencintai Myungsoo, dan takkan membiarkan Irene mendapatkan Myungsoo.

Aku menyadari diriku berada disamping lapangan dan menatap Myungsoo yang baru saja memulai latihannya untuk perlombaan basket yang entah kapan akan dilakukan.

Namun tiba-tiba aku melihat sosok Irene mendekati Myungsoo lalu memberinya minumannya seraya mengobrol. Aku merasakan hatiku panas melihatnya namun tak dapat berbuat apa-apa.

Aku memutuskan untuk berjalan pulang daripada memperhatikan mereka yang hanya membuatku kesal. Baru beberapa langkah..

BUKK

Aku merasakan pandanganku kabur, tubuhku pun merasa tak bisa mengangkat beratku lalu terjatuh. Setelah itu aku tak ingat lagi apa yang terjadi.

-•-

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku perlahan dan melihat kesekeliling. Aku ada di ruang kesehatan. Ya, jangan kalian pikir aku langsung amnesia setelah dilempari bola basket. Hanya saja pertahananku yang tak cukup kuat.

“Hey, kau sudah sadar?” Suara cukup berat itu membuatku tertegun. Aku yakin kalau pendengarannya tak salah. Dengan cepat aku menoleh ke sisi kiri ranjangku.

Myungsoo tengah menatapku khawatir. Apa ini? Dia yang melempariku bola basket?

“Mian,” jawabnya menyesal. Oh, aku sama sekali tak mempermasalahkan Myungsoo yang tak sengaja melemparkan bola basket kearahku. Hanya saja, aku kembali teringat kami yang tengah bertengkar.

“untuk semuanya. Harusnya aku lebih berhati-hati, harusnya aku tak cepat marah, mian.” lanjutnya tersenyum tipis.

“Aku juga minta maaf.” Myungsoo kini tersenyum senang menatapku. Ini yang kusuka darinya. Melihat senyumannya.

“Kalau begitu kita pulang sekarang!” Myungsoo menarik tanganku perlahan. Aku hanya mengikutinya sambil tersenyum, setidaknya untuk saat ini tolong biarkan aku bersama dengannya setiap saat.

-•-

Author Pov

‘Kau harus datang, perlombaannya dimulai sebentar lagi.’

Jiyeon tersenyum melihat pesan dari Myungsoo yang baru sampai. Dengan cepat Ia mengetik membalas pesan namja itu.

‘Hanya kau saja yang mewakili sekolah kita?’

‘Park Jiyeon! Harus sampai kapan kukatakan kalau Mark dan Irene juga mengikutinya. Kami bertiga yang lolos.’

Jiyeon hanya tersenyum tipis melihat nama Irene tertera.

‘Maaf kalau kau tersinggung.’

Tak berniat membuat kesalahpahaman diantara mereka, Jiyeon segera membalas.

‘Aku tak tersinggung, Myungsoo-ya. Bukankah kau tahu kalau aku memiliki hati yang sangat baik? :p.’

‘Hey! Sudahlah, cepat kesini. 5 menit lagi dimulai. Bahkan Eunji dan Soojung sudah sampai. Kau harusnya pergi bersama mereka saja tadi.’

‘Arraseo, mian. Jangan banyak bicara, aku akan berangkat sekarang.’

Jiyeon tersenyum kemudian mengambil tasnha dan sedikit berlari supaya tak telat. Sebenarnya Jiyeon sudah siap dari 30 menit yang lalu. Hanya saja sedikit permasalahan membuatnya ragu.

FLASHBACK ON.

“Kau mau melihat penampilan Myungsoo? Atau..”

“penampilanku?” Irene tersenyum sinis begitu Ia melihat Jiyeon baru keluar dari rumahnya. Yeoja itu ternyata menunggu Jiyeon keluar.

“Bikyeo.” Irene tak semudah itu melepaskannya. Ia sedikit mendorong tubuh Jiyeon sambil mengatakan, “Tidakkah kau merasa sedih?”

“Tidak sama sekali, Irene-ssi. Aku minta kau minggir sekarang.”

“Benarkah? Setelah kau tidak jadi mengikuti perlombaan itu dua tahun lalu, mana mungkin kau tak sedih.” Jiyeon terdiam.

Irene benar, bagaimana bisa Jiyeon datang pada perlombaan yang membuatnya sempat putus asa.

Tunggu, semuanya terjadi dibalik Irene kan? Kenapa Ia harus mempercayai yeoja sepertinya?

“Semua itu terjadi karenamu!” Irene tertawa mengejek.

“Apa kau punya bukti?” Jiyeon kembali terdiam. Tak berapa lama Ia pun menjawab, “Apapun yang kau katakan takkan membuatku menyerah untuk datang dalam perlombaan Myungsoo.”

Kini giliran Irene yang terdiam. Ia merenung sejenak kemudian tersenyum puas.

“Kau tahu kan kalau aku harus mendapatkan yang kuinginkan? Bagaimana kalau keinginanku sekarang untuk membuat Myungsoo gugur dalam babak ini?”

“Keuntungan juga untukku supaya bisa menjadi pemenang akhir.” Rahang Jiyeon mengeras, Ia mengepal tangannya kuat-kuat menahan marah. Bagaimana bisa Irene memiliki ide bodoh seperti ini?

“Bukankah kau mengatakan kau menyukai Myungsoo? Harusnya kau memberikan yang terbaik untuknya!” serunya putus asa.

“Yang terbaik untuknya hanyalah ketidakhadiranmu.” Irene melongos pergi begitu saja setelah mengatakan hal itu.

FLASHBACK OFF.

Namun begitu Jiyeon memikirkannya kembali, Ia cukup yakin ada tidaknya Jiyeon dalam perlombaan Myungsoo hanya berakibat kegagalan pada Myungsoo.

Jika Jiyeon datang, maka Irene akan merusak penampilan Myungsoo. Namun jika Jiyeon tak datang, Myungsoo sudah mengancamnya. Myungsoo mengatakan takkan tampil dengan baik tanpa adanya Jiyeon.

Jiyeon juga sadar, ketika Ia tahu Ia mencintai Myungsoo, Ia harusnya berjuang untuk cintanya. Bukan menyerah hanya karena kata-kata Irene yang belum dipastikan kebenarannya.

Jiyeon melirik arlojinya dan melihat bahwa perlombaan sudah dimulai pun langsung berlari menuju tempat tersebut.

-•-

Myungsoo masih duduk dibackstage dengan Mark sembari menunggu Jiyeon datang. Bahkan Ia sudah menyuruh Eunji dan Soojung mengabarinya begitu Jiyeon sampai. Namun saat ini yeoja itu masih tak sampai.

“Kau serius Ia mengatakan untuk datang?” Myungsoo mengangguk dan tetap melirik kesekelilingnya.

“Kau harus melakukan yang terbaik, Myungsoo-ya.” Myungsoo menggeleng frustasi, “Untuk apa? Aku melakukan ini demi Jiyeon.”

“Jika yeoja itu tak datang, untuk apa aku melakukannya dengan serius.” Mark hanya membiarkannya. Ia merasa Myungsoo terlalu berlebihan, jika Ia sungguh melakukannya untuk Jiyeon, kenapa Ia harus seperti ini?

Ia berprinsip, selama Jiyeon tak melihatnya, untuk apa dirinya menjadi yang terbaik?

“Myungsoo! Kau kenapa?” Tiba-tiba Irene datang dan bertanya pada Myungsoo begitu dirinya menyapa Myungsoo dan Mark.

“Jiyeon belum datang.” Irene tersenyum dalam hati. Apa yeoja itu mempercayai ancamannya yang palsu? Dasar bodoh, pikirnya.

“Mungkin dia telat.” Mark dapat melihat senyuman Irene yang terkesan diam-diam pun membuat dirinya menyipitkan matanya heran.

“Kau tersenyum?” Suara berat Mark membuat Irene merasa tegang. Ia kemudian tersenyum canggung pada Mark.

“Heh? Aku hanya tak sabar untuk tampil. Aku sudah mempersiapkannya dengan sempurna. Maaf kalau membuatmu tak nyaman.”

Mark tahu Irene berbohong, namun Ia lebih memilih tak mengatakan apapun. Yang pasti Ia curiga, Irene telah mengatakan sesuatu pada Jiyeon.

Irene mungkin bodoh karena tak menyadari tatapan curiga Mark. Mungkin salah satu kebodohannya karena mendekati Myungsoo yang memiliki sahabat yang merupakan putra seorang jaksa.

-•-

Jiyeon sampai ditempat dan mendengar musik yang Myungsoo gunakan untuk menari. Ia segera berlari dan melihat Myungsoo menari.

Senyumannya yang tadi mengembang kini mulai memudar dan menatap Myungsoo sedih. Namja itu sungguh-sungguh dengan ucapannya.

Jika Jiyeon tak datang, Ia takkan tampil dengan baik. Itu benar, Myungsoo tak menaruh perasaannya saat menari. Ia hanya sekedar menari. Jiyeon pun duduk meskipun Myungsoo masih tak menyadari kehadirannya.

Pada 1 menit terakhir, tiba-tiba Myungsoo menari dengan baik. Namja itu langsung membuat para penonton tercengang dalam diam. Bahkan Jiyeon bisa merasakan emosi yang Myungsoo taruh pada tarian itu.

Namun hal yang lebih mengagetkan Jiyeon, namja itu masih tak menyadari kehadirannya tetapi dapat menari dengan baik. Tanpa sadar Jiyeon mengeluarkan airmata bahagia melihat Myungsoo.

Melihat Myungsoo mau berusaha. Melihat Myungsoo yang saat ini tak selalu bergantung pada kehadirannya. Ia menyukai Myungsoo yang seperti ini.

Begitu musik selesai, Myungsoo kembali kebelakang panggung tanpa mencari Jiyeon. Wajahnya pun terlihat muram. Dengan cepat Jiyeon langsung berlari menemui Myungsoo dibackstage.

Ia melihat Myungsoo berjalan lemah, sontak Ia langsung memanggil namja itu.

“Jiyeon? Kau datang?” tanyanya ketus. Jiyeon hanya tersenyum, Ia tahu namja itu marah pada Jiyeon.

“Maaf, tadi aku ada masalah-”

“Hmm.” jawabnya dingin kemudian meninggalkan Jiyeon. Yeoja itu menghela nafasnya kasar kemudian melihat Irene berjalan kearahnya. Sekarang Mark tampil, mungkin sehabis ini Irene.

“Bertengkar lagi? Sudah kukatakan tak usah datang.” ujarnya tersenyum puas.

“Setidaknya aku bersyukur. Aku bersyukur tak percaya dengan ide gilamu. Aku juga bersyukur-”

“-karena Myungsoo melakukannya atas keinginannya. Bukan atas dirinya yang ingin mencoba merendahkan orang lain.” Irene yang merasa Jiyeon tengah menyindirnya langsung menatap Jiyeon tajam kemudian menabrak tubuhnya begitu saja.

“Aku serius. Aku bahagia.” ujarnya tersenyum kemudian kembali mencari Myungsoo yang pergi.

-•-

“Myungsoo! Aku minta maaf. Aku-” Jiyeon tak melanjutkan perkataannya begitu Myungsoo menatapnya datar.

Jiyeon menghela nafas, “Aku tahu aku salah.”

Jiyeon kembali mengangkat kepalanya dan menatap Myungsoo yang kini sudah tersenyum. Namja itu mengatakan, “Tak apa. Karenamu, aku mau berusaha sekalipun aku tak dapat melanjutkan ke babak selanjutnya.”

Jiyeon tersenyum dan menepuk-nepuk lengan Myungsoo pelan, “Kau sudah melakukan yang terbaik, Myungsoo.”

“Hey, kalian tak mau pulang?” tanya Soojung langsung. Mereka memang mengamati Jiyeon dan Myungsoo sedaritadi.

“Siapa yang membawa mobil?” tanya Jiyeon. Ketiga dari mereka langsung menatap Mark. Jiyeon kemudian mengangguk dan mengikuti mereka.

“Kau sungguh tak apa? Bagaimanapun kau gagal karena aku.” sahut Jiyeon pelan. Myungsoo menggelengkan kepalanya dan tersenyum.

“Aku mengingat janjimu yang pasti akan datang. Aku mengingat kau mengatakan padaku bahwa apapun yang terjadi, harus melakukan yang terbaik.”

“Gomawo Jiyeon-ah.” Jiyeon tersenyum mengiyakan.

Satu hari ini, Ia begitu mengalami banyak hal yang membuatnya terganggu. Tapi Jiyeon rasa, maaf dari Myungsoo dapat membuatnya tenang kembali.

.

.

TBC.

gimana? Apa masih kurang panjang juga? tolong saran dan kritiknya yaaa~

kalau masi kurang panjang, dichapter selanjtnya akan aku usahakan buat jadi lebih panjang.

sebelumnya, jujur sekarang ini aku jadi males buat update ff ini pas aku tahu hubungan jiyeon sama yang baru itu-,-

myungyeon feelnya tiba-tiba agak gimana gitu. nyesek juga sih.

tapi okelah, semoga jiyeon juga bahagia dengan pilihannya.

56 responses to “[CHAPTER-3] 18 Years Old.

  1. iya masih kurang panjang nih kak kekeke and keep writing for myungyeon shipper ya😉 soalnya menurutku feel myungyeon itu kuat banget gaada yg bisa ngerusakin =)) kekeke
    anyway aku suka banget sama persahabatan 5 orang ini tapi sayangnya soojung…..😦 minhyuk tolong segera bertindak ya buat soojung biar persahabatan 5 orang ini ga ancur😦
    ditungggu banget lanjutannya kak😉

  2. Suka momen myungyeon plus kurang panjang kkkk
    Lebih panjang lagi deh part selanjutnyaaa

    Hah ak ga bisa move on dari myungyeon jd still writing for myungyeon shipper please chingu-ah ^^

  3. Ayo rhor semangat jangan sampe berpengaruh k.ff mu yah cuma karna berita dating jiyi sama ahjussi itu ..
    Mereka cuma pacaran blm nikah jadi ayolah semangat, aku pun galau tapi coba fikirin kalo suatu saat myungyeon bisa real jadi semangat lagi deh 😀
    Yeah part selanjytx mau lebih di panjangin lagih yah 😀 asik bisa lebih puas lagi bacax😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s