Ficlet [Lovin’You]

Bianglala_by_chilittlegirl

Tittle : Lovin’You | Author : ~Evangel~ | Main Cast : Kim Myungsoo dan Bae Suzy | Other Cast : Choi Minho | Genre : Sad, Friendship, Romance and School Life | Rating : Teen | Desclaimer : Cerita ini hanya milikku, sedangkan cast hanya milik Tuhan YME

“Jika kau bahagia, aku juga akan bahagia”- Lovin’ You

***

Seorang lelaki tampan berambut hitam dengan tinggi badan sekitar 178 cm berada di sebuah ruangan yang dindingnya berwarna biru. Dilihat sekali saja, ruangan itu adalah kamar tidur karena di ruangan itu ada sebuah ranjang besar, meja belajar, rak buku, lemari pakaian dan sebuah rak berisi boneka. Lelaki itu menggelengkan kepalanya. Iris mata hitam jernihnya melihat sesosok gadis dengan rambut cokelat sedang tertidur dengan nyamannya di atas tempat tidurnya.

Lelaki itu menghela napas, kemudian berteriak, “BANGUN!”

Gadis rambut cokelat yang tertidur itu langsung terbangun dan mengerjapkan matanya. Iris mata cokelat milik gadis tersebut memandang tajam kepada lelaki yang berdiri di sisi kanan tempat tidurnya sambil melipat kedua tangannya. Ia mengucek kedua matanya kemudian beranjak dari tempat tidurnya.

“Myungsoo~ya, aku tahu kau sahabatku tapi kau sangat tidak sopan,” kata si gadis itu sambil berkacak pinggang. “Kau itu lelaki, tidak seharusnya kau masuk ke kamar seorang gadis tanpa izin.”

Lelaki itu tertawa geli mendengar kata-kata gadis yang menatapnya dengan tajam. “Suzy~ah, aku rasa aku sudah diberi izin untuk masuk ke kamarmu oleh eomma-mu. Bahkan eomma-mu sendiri yang menyuruhku masuk ke kamarmu karena kau tidak bisa dibangunkan.”

“Eh!?”

“Cepat mandi dan pakai seragam sekolahmu!” perintah Myungsoo. “Ini sudah pukul setengah tujuh pagi.”

“Mwo!?”

Suzy segera pergi menuju ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Myungsoo tertawa kecil melihat tingkah laku Suzy. Ia segera pergi keluar dari kamar gadis itu.

***

Jam di dinding menunjuk pukul delapan pagi. Di ruangan kelas, Myungsoo yang duduk di bangku barisan keempat meja nomor tiga sedang fokus memandang guru yang menjelaskan tentang rumus fisika. Ia mencatat setiap tulisan yang ditulis oleh guru di papan tulis, sesekali ia memandang buku besar fisikanya. Sementara itu, Suzy yang menjadi teman sebangkunya sedang menatap jendela. Iris mata gadis itu memperhatikan sosok lelaki tampan dengan yang sedang bermain basket di lapangan bersama dengan yang lain.

“Suzy~ah, sebaiknya kau fokus dengan pelajaran sebelum kau diberi teguran,” bisik Myungsoo pelan.

“Tolong jangan ganggu aku untuk sebentar saja,” pinta Suzy sambil memandang sosok lelaki yang ia pandang dengan mata berbinar-binar. “Ah, Minho memang keren! Bergabung dengan ekskul basket terkenal, pintar olahraga dan matematika, baik dan yang terpenting tampan.”

“Dia terlihat biasa saja,” ujar Myungsoo sambil memandang kembali buku fisikanya.

“Kau hanya iri,” cibir Suzy sambil kembali memperhatikan buku fisikanya. Sesekali matanya melirik lelaki bernama Minho yang sedang tertawa gembira bersama teman-temannya.

Myungsoo hanya menggelengkan kepalanya mendengar cibiran Suzy tadi. Yah, ia memang sangat iri dengan Minho. Tapi ia tidak iri dengan Minho hanya karena pintar olahraga dan matematika, anggota ekskul basket, baik ataupun tampan. Menurut Myungsoo, hal semacam itu sudah biasa dan bisa ditemukan di mana saja. Yang membuat Myungsoo iri adalah Minho dapat membuat sahabatnya jatuh cinta kepadanya. Membuat sosok sahabatnya hanya memperhatikan lelaki itu seorang. Itu sangat membuat Myungsoo iri karena Myungsoo juga….

sangat mencintai sahabatnya.

***

Myungsoo menghela napas kesal melihat tingkah laku sahabatnya ini. Seperti biasa, sepulang sekolah Suzy selalu datang ke lapangan basket hanya untuk melihat Minho berlatih basket bersama dengan teman-temannya. Ia bisa saja segera pulang ke rumah agar tidak melihat pemandangan itu, tapi ia tidak mau melakukannya.

“Hebat!” sorak Suzy begitu melihat sosok Minho berhasil memasukkan bola basket ke ring lawan. Wajahnya memerah saat Minho menatap gadis itu dan tersenyum.

“Kau terlalu berlebihan,” cibir Myungsoo tidak suka.

Suzy pura-pura tidak mendengar dan asyik menyoraki nama Minho dengan gembira. Tangannya kembali bertepuk tangan saat Minhi berhasil memasukkan bola ke ring lawan. Mata Suzy berbinar-binar ketika lagi-lagi mata Minho dan Suzy bertemu. Wajah Suzy kembali memerah, tanpa tahu jika sahabatnya memperhatikan pemandangan itu dengan kesal dan sedih.

***

Hari berikutnya, Suzy sedang menuliskan sesuatu di kertas ketika seorang guru mengajarkan pelajaran matematika di kelas. Myungsoo fokus memperhatikan buku matematinya sambil sesekali menatap Suzy yang sedang menulis sesuatu. Yang jelas, Suzy tidak mungkin mencatat pelajaran. Myungsoo sangat mengenal Suzy lebih dari siapapun. Suzy bukanlah orang yang suka mencatat apapun yang dijelaskan guru, gadis itu lebih memilih mendengarkan saja dikarenakan daya ingat gadis itu sangat kuat.

Myungsoo berusaha untuk fokus dengan pelajarannya dan tidak mempedulikan apa yang ditulis Suzy. Tapi, entah kenapa matanya terus melirik Suzy yang sedang menuliskan sesuatu di kertas itu. Pada akhirnya, Myungsoo menyerah dan lebih memilih mengetahui apa yang sedang ditulis oleh gadis berambut cokelat tersebut.

“Apa yang sedang kau tulis? Rumus matematika?” bisik Myungsoo pelan kepada Suzy.

Suzy menggelengkan kepalanya. “Tentu saja bukan, aku sedang menulis surat cinta.”

“Untuk siapa?” tanya Myungsoo. Perasaannya tiba-tiba terasa tidak enak.

“Tentu saja untuk Minho,” jawab Suzy dengan wajah sumringah. “Hari ini Minho tidak ada latihan basket. Jadi, sepulang sekolah ini aku akan langsung memberikan surat cinta ini kepadanya.”

Hati Myungsoo terasa ditusuk jarum ketika Suzy mengatakan hal seperti itu. Ingin sekali mengatakan jika Suzy tidak boleh melakukan hal itu, atau langsung mengatakan bahwa ia mencintai Suzy melebihi siapapun. Tapi, mulut Myungsoo kelu untuk mengatakannya. Bibirnya seakan dilem dengan lem super kuat dan dipakaiankan dua gembok sekaligus.

Myungsoo menghela napas. “Berarti aku harus pulang sendirian hari ini. Semoga kau berhasil memberikan surat cinta itu kepada Minho.”

“Terima kasih,” ucap Suzy senang. “Kau memang sahabat baikku, Myungsoo~ya.”

Sahabat? Ah, benar Suzy selalu menganggap dirinya sebagai sahabat baiknya. Tidak mungkin Suzy akan menganggap dirinya sebagai lelaki yang ia cintai. Perasaan cinta Suzy bahkan sudah diberikan dan itu bukan untuknya.

***

Myungsoo sedang mengerjakan tugas matematika di dalam kamarnya. Ruangan kamar Myungsoo tidak berantakan seperti lelaki pada umumnya. Tidak ada sampah dan buku-buku yang berantakan. Semuanya tertata rapi di tempatnya masing-masing. Myungsoo bukanlah tipe pemalas, ia selalu membereskan tempat tidurnya setiap pagi agar nyaman saat dipakai tidur.

Myungsoo menghentikkan kegiatannya dan meraih ponsel yang ada di sisi kirinya. Ia melihat layar ponselnya kemudian tersenyum. Ia kemudian mengklik pesan tersebut dan membacanya. Seketika ponsel yang ia pegang terjatuh ke lantai.

~~~~~~~~~~
From : Suzy
Myungsoo~ya. Ini benar-benar keajaiban. Aku tadi menemui Minho dan memberikan surat cintaku kepadanya. Minho kemudian membacanya kemudian ia membalas cintaku. Ia bilang, ia selalu memperhatikanku yang sering menonton latihannya.

Besok kan hari libur. Jadi, ayo kita rayakan ini. Aku tunggu di taman bermain belakang rumahku pukul 9 pagi. Jangan sampai terlambat datang atau tidak datang.

~~~~~~~~~~

Myungsoo menundukkan wajahnya ke bawah lalu memukulkan tangannya ke meja belajarnya. Ia kesal dan membenci kisah cintanya ini. Kenapa kisah cintanya harus berakhir sedih seperti ini? Kenapa ia harus mencintai sahabatnya? Kenapa sahabatnya tidak peka terhadapnya? Dan terakhir, kenapa sahabatnya harus mencintai lelaki lain?

***

Jam telah menunjukkan pukul 9 pagi. Suzy sedang menunggu kedatangan Myungsoo di taman bermain. Ia meremas ujung gaun dress biru selututnya sambil sesekali melihat arlojinya. Suzy juga melihat beberapa orang yang berlalu lalang di hadapannya. Tidak lama setelah itu, senyumnya mengembang saat melihat sosok Myungsoo yang mengenakan kemeja biru dan celana panjang hitam menghampirinya.

“Wow, kau sangat cantik!” puji Myungsoo ketika melihat sosok Suzy.

“Seharusnya kau mengatakan ‘maaf aku terlambat’ bukannya malah memujiku,” cibir Suzy. Ia segera menarik tangan Myungsoo untuk masuk ke dalam taman bermain.

“Kita akan memainkan wahana apa?” Myungsoo bertanya kepada Suzy dengan suara keras. Tentu saja suaranya harus keras karena taman bermainnya dipenuhi oleh banyak orang. Berbicara dengan suara pelan tidak akan membuat suaramu terdengar.

“Ikuti saja!” perintah Suzy sambil menarik lengan Myungsoo dengan wajah gembira.

Mereka berdua menghabiskan waktu berdua di sana. Mereka menaiki berbagai macam wahana seperti roller coaster, komidi putar, rumah hantu, lempar gelang, dan banyak lagi wahana yang mereka coba. Kini waktu telah beranjak sore. Mereka berdua sedang berada di wahana bianglala. Semua pemandangan terlihat indah ketika melihat pemandangan dari bianglala.

“Wow, pemandangannya keren!” seru Suzy gembira. “Lihat, kedai es krim bahkan terlihat dari sini.”

Myungsoo memandangi Suzy yang melihat pemandangan dari bianglala. Pemandangan semakin indah saat tempat mereka semakin ke atas. Myungsoo tiba-tiba saja menunduk. Ia berharap semua ini tidak akan berakhir. Ia ingin hari esok di mana hari ia akan melihat Suzy bersama Minho tidak datang. Tapi, hal itu mustahil itu diwujudkan karena waktu terus berjalan. Meskipun tidak ingin hari esok akan datang, tapi hari esok pasti akan muncul juga.

“Myungsoo~ya, kau sakit?” tanya Suzy saat melihat Myungsoo yang menunduk.

Suzy menatap Myungsoo, menunggu jawaban yang keluar dari mulut lelaki. Tapi tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Myungsoo. Waktu terus berjalan maju, dan tempat mereka kini kembali ke tempat yang pertama lalu beranjak kembali ke atas.

“Hei, ada apa denganmu?” tanya Suzy khawatir. “Ah, sepertinya kau sakit karena bermain wahana roller coaster.”

“Nan gwachenna,” jawab Myungsoo.

Tempat mereka kini berada di puncak bianglala lagi. Myungsoo menghela napas sejenak lalu memandang iris mata Suzy. Kemudian, Myungsoo menggenggam tangan Suzy erat hingga membuat Suzy terkejut. Suzy semakin bertambah terkejut ketika Myungsoo memeluknya dengan erat seolah-olah tidak melepaskannya.

“Aku bahagia jika kau bahagia, Suzy~ah,” bisik Myungsoo di telinga Suzy. “Aku berharap kau bahagia bersama dengan Minho. Berjanjilah kau akan bahagia bila hari esok tiba.”

“Baiklah, aku berjanji,” balas Suzy.

“Baguslah, aku bahagia sekarang,” kata Myungsoo sambil melepaskan pelukannya. “Aku merelakanmu bersama dengan Minho.”

“Merelakan? Bicara apa kau ini?”

Myungsoo mendekatkan wajahnya ke telinga Suzy. “Saranghae.”

Myungsoo menjauhkan wajahnya dari telinga Suzy dan tersenyum saat melihat wajah gadis itu terkejut. Bianglala itu terus berputar tanpa tahu kapan ia akan berhenti. Selama itu juga, mereka hanya berdiam diri. Myungsoo tidak akan menyesal karena telah mengungkapkan perasaannya. Ia tidak tahu hari esok akan seperti apa jadinya, tapi ia senang karena telah mengungkapkan perasaannya.

THE END

11 responses to “Ficlet [Lovin’You]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s